• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

World Health Organization (WHO) menyatakan secara global, setidaknya 2,2 miliar orang memiliki gangguan penglihatan jarak dekat atau jauh. Setidaknya dalam 1 miliar atau hampir setengah dari kasus-kasus ini, gangguan penglihatan yang bisa dicegah atau belum ditangani. Penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan adalah kelainan refraksi yang tidak dikoreksi. Mayoritas orang dengan gangguan penglihatan dan kebutaan berusia di atas 50 tahun, tetapi hilangannya penglihatan dapat mempengaruhi orang-orang dari segala usia (WHO, 2021). Ada tiga kelainan refraksi, yaitu miopia, hipermetropia, astigmatisma, atau campuran kelainan-kelainan tersebut. Diantara kelainan refraksi tersebut, miopia adalah yang paling sering dijumpai, kedua adalah hipermetropia dan yang ketiga adalah astigmatisme (WHO, 2021).

Tentunya angka tersebut dapat ditekan bila tiap individu tahu dan mengerti apa yang harus dilakukan yang dapat mencegah terjadinya penyakit mata atau kelainan refraksi, tetapi dalam hal ini masih banyak masyarakat yang masih awam akan kesehatan mata dan banyak faktor yang mempengaruhinya. Status kesehatan seseorang atau suatu komunitas masyarakat sendiri, merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal

(2)

terdiri dari faktor fisik dan psikis, sedangkan faktor eksternal terdiri dari berbagai faktor, antara lain sosial, budaya masyarakat, lingkungan fisik, politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya (Blum MD. Hendrik L, 1974).

Salah satu contoh yang dapat mempengaruhi kesehatan mata adalah gaya hidup yang cepat berubah serta dibarengi dengan bertambahnya kebutuhan penggunaan teknologi seperti handphone, laptop/computer dan alat elektronik lainnya juga berdampak pada kesehatan mata bilamana penggunaannya tidak dibarengi dengan edukasi yang diperlukan, lebih dari 90% pengguna computer mengalami gejala penglihatan seperti mata lelah, penglihatan buram, penglihatan ganda, pusing, mata kering, serta ketidak nyamanan okuler saat melihat dari jarak dekat ataupun jauh setelah penggunaan computer jangka lama (Derry & Agency, 2017). Hal ini dapat dicegah salah satunya dengan menerapkan Rumus 20-20-20, yakni istirahat setiap 20 menit sekali dengan melihat objek sejauh 20 kaki (6 meter) selama 20 detik (KEMENKES, 2019).

Terdapat 5 penyebab kebutaan tertinggi di Indonesia, yaitu: katarak, glaucoma, gangguan refraksi, gangguan retina, dan abnormalitas kornea (PERDAMI dalam Vision 2020 di Indonesia), alasan penderita katarak belum dioperasi bervariasi, antara lain disebabkan tidak mengetahui jika menderita katarak dan tidak tahu katarak bisa disembuhkan (KEMENKES, 2020). Dapat asumsikan bahwa pengetahuan mengenai kesehatan mata yang diterima masyarakat masih belum cukup.

(3)

Sesuai dengan data hasil uji pendahuluan oleh peneliti setelah melakukan wawancara dan melakukan pemeriksaan visus dasar di Komplek Cimindi Raya Jl.

Budi Baru Kelurahan Pasirkaliki, dari 50 orang yang di wawancara dan diperiksa terdapat 23 orang mengalami kelainan refraksi, 7 orang suspect kelainan organik, dan 20 orang memiliki lapang pandang normal. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa 60% dari warganya mengalami gangguan penglihatan.

Dalam penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mata di wilayah Kota Cimahi khususnya di Komplek Cimindi Raya Jl. Budi Baru Kelurahan Pasirkaliki.

B. Identifikasi Masalah

1. Bagaimana gambaran tingkat pengetehuan warga kompleks Cimindi Raya mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata.

2. Dari mana warga mendapatkan sumber informasi mengenai menjaga kesehatan mata tersebut.

(4)

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Secara umum bertujuan untuk melihat gambaran tingkat pengetahuan warga Komplek Cimindi Raya Jl. Budi Baru Kelurahan Pasirkaliki mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan warga Komplek Cimindi Raya Jl. Budi Baru Kelurahan Pasirkaliki mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata.

b. Untuk mengetahui dari mana warga Komplek Cimindi Raya Jl. Budi Baru Kelurahan Pasirkaliki mendapatkan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat baik secara langsung maupun tidak langsung, manfaat tersebut yaitu:

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini dapat menjadi pengembangan untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

(5)

b. Dapat menjadi bahan kajian oleh PUSKESMAS terkait untuk memahami permasalahan terkait.

2. Manfaat Praktis.

a. Bagi Penulis

Dapat menambah pengetahuan penulis tentang sejauh mana pemahaman masyarakat sekitar mengenai pengetahuan menjaga kesehatan mata.

b. Bagi Warga

Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai pengetahuan kesehatan mata serta dapat menjawab pertanyaan mengenai kesehatan mata sesuai dengan kebutuhannya sendiri.

c. Bagi Perguruan Tinggi

Dapat menjadi salah satu gambaran sejauh mana edukasi yang diterima dilingkungan sekitar.

E. Ruang Lingkup

1. Ruang Lingkup Masalah.

Masalah pokok yang dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai tingkatan pengetahuan warga Komplek Cimindi Raya Jl. Budi Baru Kelurahan Pasirkaliki mengenai kesehatan mata.

(6)

2. Ruang Lingkup Metode.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan cara kuesioner serta pemeriksaan visus dasar secara langsung terhadap warga terkait.

3. Ruang Lingkup Keilmuan.

Penyusunan karya tulis ilmiah ini merupakan bidang keilmuan Optometri dan IKM, Patologi dan Fisiologi Mata, Promkes, Refraksi Klinik.

4. Ruang Lingkup Tempat dan Waktu.

Penelitian ini dilakukan pada warga Komplek Ciminci Raya Jl. Budi Baru Kelurahan Pasirkaliki Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi pada bulan Maret 2021 sampai Juni 2021.

Referensi

Dokumen terkait

Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah dengan menggunakan data primer yaitu memberikan perlakuan inhalasi aromaterapi lavender maupun aromaterapi lemon pada hari ke 2-6