A. Latar Belakang
Salah satu penyakit yang terus meningkat persentasenya saat ini dan menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat adalah penyakit ginjal.
Kekhawatiran masyarakat muncul karena dalam perjalanan penyakit ginjal, pada tahap awal pasien tidak merasakan keluhan apapun. Penyakit ini akan terus berproses secara bertahap selama bertahun-tahun hingga pada akhimya pasien telah mengalami gagal ginjal pada tahap terminal dan harus menjalani terapi hemodialisa seumur hidup. Pasien yang menjalani terapi hemodialisa menghadapi masalah-masalah dalam menjalani hidupnya karena membawa beberapa dampak pada individu, diantaranya adalah dampak fisik, dampak sosial dan dampak psikologis. Dari dampak psikologis tersebut, kecemasan meningkat di ruang hemodialisa terjadi selama proses tindakan hemodialisa, pasien hemodialisa mengatakan takut dan cemas akan tindakan yang akan dilakukan karena melihat begitu banyak mesin yang mengeluarkan bunyi nyaring serta dengan banyaknya selang dan kabel yang dihubungkan antara mesin dan tubuhnya (PERNEFRI, 2016).
Estimasi badan kesehatan dunia (WHO) menyebutkan pertumbuhan jumlah penderita gagal ginjal pada tahun 2016 telah meningkat 50% dari tahun sebelumnya. Di Amerika Serikat, kejadian dan prevalensi gagal ginjal meningkat 50%.
Data menunjukkan bahwa setiap tahun 200.000 orang Amerika menjalani hemodialisis karena gangguan ginjal kronis, yang artinya 1.140 dalam satu juta orang Amerika adalah pasien dialisis (Kemenkes, 2016).
Peningkatan tersebut juga terjadi di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2018 di Indonesia, pasien gagal ginjal kronis mengalami kenaikan dari tahun 2013 yaitu 2% menjadi 3,8% atau sebanyak 713.783 jiwa. Sedangkan pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa sebanyak 2850 jiwa atau 19,33 %, data pasien di Jawa Barat terdapat 131.846 jiwa (0,485) yang menderita gagal ginjal kronis dan menjalani hemodialisa sebanyak 651 jiwa (19,345%). (RISKESDAS, 2018).
Sementara di RS. Holistic Purwakarta Jawa Barat terdapat 5 mesin hemodialisa Fresinius 4008 dengan jumlah kunjungan 90 dari bulan Oktober sampai bulan Desember 2022 dengan penggunaan akses cimino 21 kunjungan, akses femoral 79 kunjungan dan IV kateter 4 kunjungan.(MR, 2022).
Gambar 1.1 Gambaran Jumlah Pasien
Sumber : Medical Record pasen HD di ruang dialisis RS Holistic Purwakarta 0
10 20 30 40
femoral cimino AV cateter
Data Kunjungan Pasen Hemodialisa berdasarkan penggunaan akses HD
agust sept okto
Grafik tersebut menggambarkan jumlah kunjungan pasien haemodialisa berdasarkan penggunaan akses untuk hemodialisa di ruang dialisis RS.
Holistic Purwakarta.
Ginjal merupakan salah satu organ yang penting dalam mempertahankam homeostatis dan filtrasi pada tubuh (kemampuan penyaringan didalam darah). Ginjal berfungsi mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh, begitu pula dengan asam basa dengan cara menyaring darah melalui ginjal, reabsorbsi, elektrolit dan non-elektrolit, serta membuang kelebihannya dengan berkemih (Pearce, 2016).
Gagal ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu mengangkut sampah metabolic tubuh atau melakukan fungsi regulernya. Suatu bahan yang biasanya di eliminasi di urin menumpuk dalam cairan tubuh akibat gangguan ekskresi renal dan menyebabkan gangguan fungsi endokrin metabolik, cairan, elektrolit serta asam basa. Gagal ginjal adalah suatu kondisi dimana fungsi ginjal mengalami penurunan sehingga tidak mampu lagi untuk melakukan filtrasi sisa metabolism tubuh dan menjaga keseimbangan cairan elektrolit seperti sodium dan kalium di dalam darah atau urin.Penyakit ini terus berkembang secara perlahan hingga fungsi ginjal semakin memburuk sampai ginjal kehilangan fungsinya (Hutagaol, 2017).
Penyebab terbanyak gagal ginjal kronik di Indonesia adalah penyakit diabetes mellitus atau kencing manis dan hipertensi atau darah tinggi yang tidak terkontrol. Namun pandangan di masyarakat awam menganggap bahwa konsumsi obat darah tinggi atau obat kencing manis dalam jangka waktu lama yang justru dapat menyebabkan gagal ginjal kronik.
Tatalaksana pada penyakit gagal ginjal kronik harus bersifat menyeluruh, mulai dari mengubah gaya hidup (lifestyle modification), mengobati penyakit yang mendasari, dan terapi pengganti ginjal.
Pilihan terapi pengganti ginjal antara lain hemodialisis atau cuci darah baik dengan menggunakan mesin cuci darah atau cuci darah dengan menggunakan membran peritoneum pasien yang dilenal dengan sebutan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) dan cangkok atau transplantasi ginjal. (Kemenkes, 2022).
Hemodialisis dapat di definisikan sebagai suatu proses pengubahan komposisi solute darah oleh larutan lain (cairan dialisat) melalui membrane semi permeabel (membrane dialisis). Tetapi pada prinsipnya, hemodialisis adalah suatu proses pemisahan atau penyaringan atau pembersihan darah melalui suatu membrane semi permeabel yang dilakukan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal baik akut maupun kronik (Suhardjono, 2014).
Akses pembuluh darah yang digunakan dalam proses hemodialisa yaitu kateter dialisis perkutan yang terdapat pada vena femoralis atau vena subclavicula untuk jangka pendek dan cimino untuk jangka panjang. Kateter femoralis merupakan akses segera ke dalam sirkulasi darah pasien hemodialisa untuk pemakaian sementara. Cimino lebih permanen karena dibuat melalui pembedahan dengan cara menyambungkan pembuluh darah arteri dan vena.
Cimino dapat digunakan 4-6 minggu setelah pembedahan (Suzanne, C &
Brenda, G, 2013).
Pemasangan kanulasi pada prosedur hemodialisa memiliki efek negatif pada kondisi individu dengan masalah kesehatan fisik sering mengalami kecemasan atau depresi yang mempengaruhi respon mereka terhadap penyakit fisik, seperti penyakit hipertensi.
Kecemasan mempunyai pengaruh pada penyakit hipertensi karena dapat meningkatkan tekanan darah. (Kanine and Paputungan 2018). Pasien gagal ginjal yang mengalami gagal ginjal kronik yang mengalami hemodialisa akan mengalami kecemasan yang disebabkan oleh berbagai stressor, daiantaranya pengalaman nyeri pada daerah penusukan saat memulai hemodialisis, masalah finansial, kesulitan dalam masalah mempertahankan pekerjaan doronga seksual yang menghilang, depresi akibat penyakit kronis serta ketakutan terhadap kematian (Brunner, & suddarth, 2014).
Adanya kompleksitas masalah yang timbul selama hemodialisis akan berdampak terjadinya kecemasan pada pasien. Gangguan psikiatrik yang sering ditemukan pada pasien dengan hemodialisis adalah depresi, kecemasan, hubungan dalam perkawinan serta ketidakpatuhan dalam diet dan obat-obatan, keterbatasan pola atau kebiasaan hidup dan ancaman kematian (Heldawati, 2014). Survei yang dilakukan peneliti diperoleh keterangan bahwa pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodiaisis mengatakan cemas terhadap mesin, selang-selang yang dialiri darah, cemas untuk ditusuk jarum, demikian juga dengan pembayaran yang mahal. (Jangkup, dkk, 2015).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fina Lisnawati yang dilakukan di RS. IR. Soekarno sidoarjo tahun 2020, pasien hemodialisa dengan alat kanulasi femoral tingkat kecemasan yang paling besar adalah kecemasan berat (40%) yang kedua yaitu kecemasan sedang (35%) dan yang terakhir kecemasan ringan (25%).
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Cipta (2016) menyatakan bahwa sebagian besar responden memiliki kecemasan sedang (74,1%), yang memiliki kecemasan berat (18,5%) dan kecemasan ringan (7,4%).
Sementara berdasarkan pengalaman penulis selama bekerja diruang hemodialisa RS. Holistic Purwakarta dengan beberapa pasien yang menjalani hemodialisa diperoleh data dari pasien yang mengatakan masih cemas dan takut untuk datang menjalani tindakan hemodialisa karena banyaknya tusukan jarum pada daerah kaki (paha) dan tangan. Terkadang kecemasan itu membuat menjadi gelisah dan sulit tidur pada saat menjelang jadwal hemodialisa.
Tingkat kecemasan tidak sama pada setiap kali jadwal hemodialisa, tergantung pada siapa petugas hemodialisa yang akan melakukan tindakan penusukan akses.
Berdasarkan paparan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Perbedaan tingkat kecemasan pasien yang menggunakan akses femoral dan akses cimino hemodialisa pada pasien gagal ginjal di ruang dialisis RS. Holistic Purwakarta”.
B. Identifikasi Masalah Derdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti ingin mengetahui adakah perbedaan tingkat kecemasan pasien hemodialisa yang dipasang akses femoral dan akses cimino di ruang dialisis RS. Holistic Purwakarta.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien hemodialisa yang dipasang akses femoral dan akses cimino di ruang dialisis RS. Holistic Purwakarta.
2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi tingkat kecemasan pasien hemodialisa yang menggunakan akses femoral
b. Mengidentifikasi tingkat kecemasan pasien hemodialisa yang menggunakan akses cimino
c. Mengidentifikasi adakah perbedaan tingkat kecemasan pasien yang menggunakan akses femoral dan akses cimino.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan profesi keperawatan dan meningkatkan ilmu pengetahuan khususnya di bidang keperawatan medical bedah tentang gagal ginjal kronik dan ilmu keperawatan jiwa tentang kecemasan
.
2. Institusi Rumah Sakit
Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan dasar pertimbangan bagi pihak rumah sakit khususnya perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa untuk mencegah dan mengurangi tingkat kecemasan pasien hemodialisis khususnya yang terpasang akses femoral dan cimino.
3. Bagi Peneliti
Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman baru dalam melakukan penelitian serta dapat mengetahui tingkat kecemasan pasien yang menggunakan akses femoral dan cimino.
4. Bagi pasien dan keluarga
Penelitian ini dapat dijadikan informasi untuk pasien dan keluarga yang mempunyai anggota keluargan yang menjalani hemodialisa dan pengetahuan dalam memahami dan membantu anggota keluarga yang mengalami kecemasan.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian in, maka fokus penelitian adalah tingkat kecemasan pasien, sedangkan subjek penelitian adalah pasien hemodialisis di ruang dialisis , dengan waktu penelitian bulan desember 2022 s/d bulan januari 2023 dan lokasi penelitian di ruang dialisis RS. Holistic Purwakarta.