6 Naskah publikasi Tri Andrisman, Analisis Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pasal yang dimaksud menjelaskan, KPK bertugas melakukan penyidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi Dalam Perspektif Kebijakan Publik, Naskah Publikasi Informasi Singkat.
Hal ini menarik penulis untuk melakukan penelitian hukum dengan judul yang akan terangkum dalam judul penelitian yaitu “ Urgensi kedudukan dewan pengawas dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi”. Apa akibat hukum yang timbul dari kuasa Dewan Komisioner dalam pemberantasan tindak pidana korupsi berdasarkan UU No. Penelitian hukum ini secara teoritis diharapkan dapat membuka cakrawala pemahaman hukum mengenai penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi di Indonesia sehingga memenuhi nilai keamanan (kepastian, kepastian), keadilan (equity, fairness) dan kemanfaatan (utility). ) di masyarakat dengan menjelaskan analisis hukum dari sudut pandang mempertimbangkan urgensi pembentukan Dewan Pengawas KPK.
Penjelasan tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman terhadap urgensi posisi Dewan Pengawas, apakah dapat meningkatkan atau bahkan melemahkan kinerja KPK dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi dengan melalui upaya hukum normatif. analisis. Para ahli di bidang hukum pidana menjelaskan bahwa tidak ada dasar hukum yang dapat memberikan keterangan mengenai pengertian suatu tindak pidana, karena tidak terdapat baik dalam pasal-pasal KUHP maupun dalam undang-undang khusus selain KUHP. Kejelasan unsur-unsur tindak pidana dalam praktek penyelesaian hukum pidana menjadi dasar untuk memutuskan apakah seseorang dengan perbuatannya dapat dikatakan melakukan tindak pidana atau tidak.
Tidak mungkin seseorang dihukum jika tidak ada kejahatan atau kejahatan yang disebabkan oleh kesalahannya.
Teori Penegakkan Hukum Pidana
Hukum pidana sebagaimana diuraikan memberikan pengertian bahwa berdasarkan materi yang diaturnya terdiri atas hukum pidana substantif dan hukum pidana formil. Hukum pidana substantif adalah kumpulan aturan hukum yang mendefinisikan kejahatan, menentukan syarat-syarat untuk menghukum penjahat, menunjukkan bahwa orang dapat dihukum, dan dapat menentukan hukuman atas kejahatan. Sedangkan hukum pidana formil adalah kumpulan peraturan hukum yang mengatur bagaimana mempertahankan hukum pidana substantif terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh orang tertentu, atau dengan kata lain mengatur bagaimana hukum pidana substantif dilaksanakan untuk memperoleh putusan hakim dan mengatur bagaimana melaksanakan putusan hakim. keputusan 25.
Penegakan hukum adalah proses upaya menegakkan atau menjalankan norma-norma hukum yang nyata sebagai pedoman tingkah laku dalam kegiatan bersama, sebab-akibat atau hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Untuk mewujudkan supremasi hukum maka penegakan hukum harus dimaknai melalui tiga konsep pemikiran hukum, antara lain: a. Konsep penegakan hukum secara total (total Enforcement Concept), yang mensyaratkan agar seluruh nilai yang ada yang diatur oleh norma hukum ditegakkan tanpa diskriminasi; B.
Konsep penegakan hukum secara penuh (full enforcement Concept) dengan paradigma membatasi konsep hukum secara total dengan hukum acara dan sebagainya untuk mencapai perlindungan hukum. Konsep penegakan hukum yang sebenarnya (actual enforcement term) yaitu konsep penegakan hukum setelah diyakini adanya diskresi dalam penegakan hukum karena keterbatasan dalam kaitannya dengan infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, kualitas peraturan perundang-undangan yang mengatur penegakan hukum dan kurangnya adanya peran aktif atau partisipasi hukum dari masyarakat dalam mendukung penegakan hukum itu sendiri.30. Asas legalitas dengan demikian merupakan instrumen penegakan hukum yang harus mampu menjamin kepastian hukum, ketertiban dan perlindungan hukum serta akibat tanggung jawab hukum berdasarkan nilai-nilai aktual dalam masyarakat yang beradab.
Dengan demikian dapat terwujud tujuan hukum yaitu keadilan, kemaslahatan, dan keamanan hukum dalam masyarakat, yang mencakup dimensi-dimensi yang sesuai dengan pelaksanaan hukum pidana. Menurut Muladi dan Bardanawawi, sistem peradilan pidana pada hakikatnya adalah proses penegakan hukum pidana. Sistem peradilan pada hakikatnya identik dengan sistem penegakan hukum karena proses peradilan pada hakikatnya adalah proses penegakan hukum yang identik dengan “sistem peradilan” pada hakikatnya.
Pembahasan ketiga faktor tersebut dapat dikaitkan dengan terbaginya tiga komponen sistem hukum, yaitu substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum.35 Hal ini relevan dengan pendapat Achmad Ali seperti dikutip. 20 dalam Tri Andrisman, Analisis Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kajian Penegakan Hukum dan Pembangunan, ISBN tersedia online melalui jurnal.fh.unila.ac.id › index.php › monografi › article › download pada tanggal 2 Januari 2020. 35 Tri Andrisman, Analisis Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kajian Penegakan Hukum dan Pembangunan, ISBN diakses online melalui Jurnal.fh.unila.ac.id › index .php › monografi › artikel › diunduh pada 2 Januari 2020.
Teori Pengawasan
Substansi hukum (legal substansi) yang berkaitan dengan norma, peraturan, dan undang-undang serta budaya hukum (legal culture) mencakup pandangan tentang bagaimana hukum itu dilanggar atau ditegakkan melalui pemikiran, nilai, dan harapan sistem hukum yang diterapkan sebagai adat istiadat. dan perilaku masyarakat. . dicapai, mengevaluasi dan melaksanakan tindakan perbaikan, jika perlu, memastikan bahwa hasil konsisten dengan rencana).38. Pengawasan menurut Paulus Effendi Lotulung adalah upaya menghindari kesalahan, baik disengaja maupun tidak, sebagai upaya preventif, atau bahkan mengoreksi jika terjadi kesalahan, sebagai upaya represif.41. Penerapan pengawasan terhadap lembaga negara dapat ditentukan oleh beberapa teori akibat pengawasan yang berpotensi menjelaskan penyebab keberhasilan dan kegagalan atau efektifitas suatu sistem pengawasan, masing-masing sebagai berikut: 42.
Dalam teori arogansi, kekuasaan pengawasan dilihat dari lembaga yang diawasi dan yang melakukan pengawasan, dibedakan menjadi: Pengawasan internal yaitu pengawasan yang dilakukan oleh suatu badan/otoritas yang secara struktural masih merupakan organisasi di lingkungan pemerintahan. Pengendalian eksternal, yaitu pengendalian yang dilakukan oleh otoritas/otoritas di luar pemerintah dalam arti eksekutif.
Lembaga pengawas dalam rangka kekuasaan mempunyai tugas melakukan pengawasan terhadap lembaga-lembaga negara yang secara konstitusional berkaitan dengan lembaga perwakilan rakyat atau parlemen. Dalam konstitusi dasar negara mengenai kewenangan pengawasan terhadap pemerintahan, jelas bahwa DPR mempunyai fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan.
Originalitas Penulisan
Fokus penelitian ini adalah pendekatan politik hukum dalam pemberantasan korupsi di Indonesia merupakan pendekatan yang mengutamakan kemaslahatan hukum dengan melakukan penemuan atau pemutakhiran undang-undang sesuai dengan fenomena sosial di masyarakat dan urgensi kebutuhan hukum dalam hal penegakan hukum. Analisis penulis terhadap politik hukum pemberantasan korupsi terbagi menjadi 3, yaitu: 1) Hukum Substantif dengan memberikan rekomendasi pemutakhiran aturan hukum KPK guna mencapai pemberantasan korupsi yang efektif melalui harmonisasi kelembagaan KPK, Kepolisian Nasional. dan kantor Kejaksaan; Perbedaan pokok dengan permasalahan penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian Mohammad Hidayat Muhtar membahas tentang sinergitas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan lembaga penegak hukum lainnya.
45 Mohammad Hidayat Muhtar, Model Politik dan Hukum Pemberantasan Korupsi di Indonesia dalam Rangka Harmonisasi Lembaga Penegakan Hukum, Jambura Law Review, 2019, Volume 1 Issue 01. Penelitian ini membahas tentang peluang pengaturan penegakan hukum korupsi melalui perubahan Undang-Undang KPK sehingga dapat dianggap dalil hukumnya sebagai sesuatu yang berdampak pada melemahnya bahkan memperkuat kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi. Apabila penelitian ini membahas tentang analisis dampak perubahan UU KPK terhadap kinerja KPK maka berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan karena UU KPK telah disahkan dan dampaknya terhadap perubahan UU KPK. Kinerja KPK dalam pemberantasan Korupsi akan dianalisis.
Fokus penelitian ini adalah mengenai peran dan bentuk pengawasan masing-masing lembaga penegak hukum dalam menegakkan hukum sesuai dengan kewenangannya. 46 Ahmad Jazuli, Perubahan UU Komisi Pemberantasan Korupsi antara Melemahkan dan Memperkuat Kinerja KPK, Rechts Vinding Online Journal, 2016, Hal.1-7. 47 Charlie Lumenta, Pengawasan Penegakan Hukum dalam Penanganan Kasus Tindak Pidana Korupsi, Lex Crimen Vol.
Dewan Pengawas menerapkan undang-undang tindak pidana korupsi, karena dinilai belum ada ketentuan seperti yang diterapkan pada lembaga penegak hukum lain yang memiliki sistem pengawasan dan pengendalian internal dan eksternal.
Metode Peneltian
Tipologi/ Jenis Penelitian
Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) berkaitan dengan keberadaan dewan pengawas mengenai penegakan hukum tindak pidana korupsi yang didukung dengan data literatur sebagai sumber hukum yang relevan untuk mendukung pembuatan argumentasi hukum sebagai kesimpulan penelitian.50.
Metode Pendekatan
Kedua penelitian tersebut menggunakan pendekatan konseptual, yaitu pendekatan yang didasarkan pada kaidah hukum dan disiplin ilmu hukum yang ada, sehingga terciptalah produk hukum berupa Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi yang didalamnya terdapat kedudukan Dewan Pengawas menimbulkan konflik dalam penegakan hukum tipikor, baik yang mendapat dukungan maupun penolakan atau koreksi dari masyarakat.
Bahan Hukum
Bahan hukum primer
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan dan Perundang-undangan (termuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 nomor 82, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 5234). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2002 nomor 137, tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4250).
Undang-Undang Republik Indonesia No. 19 Tahun 2019 tentang perubahan kedua atas UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.
Bahan Hukum Sekunder
Metode Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Hukum
Sehingga bahan hukum yang terkumpul dapat menjelaskan keterkaitan antara peraturan perundang-undangan yang ada dan berbagai sumber hukum sekunder lainnya, untuk menjadi argumentasi hukum dalam menjelaskan perlunya kedudukan dewan pengawas dalam eksekusi tindak pidana korupsi.
Teknik Analisa Hukum
Sistematika Penulisan
Bab I merupakan pendahuluan konsep dari seluruh tesis yang pada pokoknya menguraikan tentang latar belakang dan rumusan masalah, tujuan
Bab II disampaikan kajian dan analisa mengenai Fakta Pengawasan Terhdap KPK dalam Penegakkan Hukum Tindak Pidana Korupsi sebelum
Bab III memberikan telaah analisis terhadap pengaturan kewenangan Dewan Pengawas dalam Undang-Undang No.19 Tahun 2019 tentang
Bab IV sebagai penutup dari akhir penyampaian tesis ini dan merupakan ahkir dari penelitian ini yang berisi Kesimpulan dan Saran