10 Kajian Terdahulu
Kajian terdahulu merupakan salah satu referensi yang diambil oleh peneliti, dimana peneliti melihat hasil karya ilmiah para peneliti terdahulu, yang pada dasarnya menjadi referensi untuk penelitian yang akan dilakukan peneliti dengan cara meninjau hasil karya ilmiah yang memiliki pembahasan serta tinjauan yang sama.
Peneliti yang berjudul “Pelaksanaan Penilaian pada Kurikulum 2013” oleh (Setiadi, 2016) Sekolah Pascasarjana UHAMKA Jakarta. Hasil dari penelitian ini dibagi menjadi tiga poin. Pertama, pada tahap perencanaan, ditemukan guru-guru di lapangan yang belum mengerti tentang: kisi-kisi soal dan kegunaannya, cara menganalisis instrumen penilaian dan membuat pedoman penskoran atau rubrik soal uraian. Kedua, pada tahap pelaksanaan, ditemukan guru-guru yang kesulitan dalam melaksanakan penilaian di kurikulum 2013, terutama kesulitan dalam penilaian sikap, dan penilaian pembelajaran tematik, juga kesulitan dalam menganalisis instrumen penilaian dan revisi butir soal. Ketiga, pada tahap pelaporan, ditemukan guru-guru yang mengalami rentang nilai 1-4 pada penilaian pengetahuan dan keterampilan, karena nilai dengan skala 1-4 sulit dibaca oleh orang tua dan siswa, dan kesulitan dalam penulisan pada rapor. Terdapat persamaan dan perbedaan pada penelitian ini dengan tema penelitian yang peneliti ambil, persamaannya adalah sama-sama membahas tentang kurikulum 2013, sedangkan
perbedaannya adalah penelitian ini tidak membahas mengenai penerapan pendidikan karakter, melainkan mengenai penilaian kurikulum 2013 pada beberapa tingkat sekolah yakni, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK di lima belas propinsi di wilayah Indonesia bagian barat, wilayah Indonesia bagian tengah, dan wilayah Indonesia bagian timur.
Peneliti yang berjudul “Lingkungan Pendidikan dalam Implementasi Pendidikan Karakter” oleh (Mulvey, 1984) Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan Universitas Garut. Hasil dari penelitian ini adalah setiap orang diduga akan memiliki karakter hasil belajar yang berbeda yang disebabkan oleh karena mereka mengalami proses belajar di lingkungan yang berbeda, sehingga, dapat dikaitkan bahwa dominasi lingkungan memiliki pengaruh kuat pada pendidikan karakter. Terdapat persamaan dan perbedaan pada penelitian ini dengan tema yang peneliti ambil. Persamaannya, sama-sama membahas tentang pendidikan karakter di lingkungan pendidikan, sedangkan perbedaannya, penelitian ini tidak membahas mengenai sekolah berbasis agama.
Penelitian yang berjudul “Komunikasi Guru dan Siswa di TK Anglia Kids Club” oleh (Sheila, 2016) Universitas BSI Bandung. Hasil dari penelitian ini yakni kegiatan anak di sekolah dan di rumah berbeda, karena di sekolah anak mau mengikuti semua kegiatan, dan di rumah menjadi pemalas. Selain itu, pola komunikasi guru dan siswa terkadang tidak sesuai harapan karena mood anak tidak bisa dipaksakan. Persamaan dengan penelitian kali ini adalah penelitian sebelumnya membahas pola komunikasi guru dan siswa. Dan perbedaan dengan penelitian kali ini yaitu membahas pendidikan tingkat TK dan tidak membahas kurikulum 2013.
Penelitian yang berjudul “Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Mata Kuliah Komunikasi Interpersonal” oleh (Aw, 2014) Fakultas Ilmu Sosial Komunikasi Negeri Yogyakarta. Hasil dari penelitian ini adalah pendidikan karakter dalam kelas berhasil berpengaruh bagi mahasiswa dan dosen. Bagi mahasiswa, integrasi pendidikan karakter menimbulkan beberapa dampak, yakni adanya perubahan positif terhadap proses pembelajaran, meningkatnya pemahaman siswa terhadap nilai-nilai yang menjadi perekat hubungan harmonis dengan sesama, yaitu nilai sopan-santun, keterbukaan, empati dan kesetaraan, serta meningkatkan kebermaknaan pembelajaran. Terdapat persamaan dan perbedaan pada penelitian ini dengan tema penelitian yang peneliti ambil. Persamaannya, sama-sama membahas tentang pendidikan karakter, perbedaannya adalah penelitian ini tidak membahas pendidikan tingkat menengah atas dan tidak membahas mengenai kurikulum 2013.
Penelitian yang berjudul “Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembentukan Kepribadian Holistik Siswa” oleh (Maunah, 2016) IAIN Tulungagung. Hasil dari penelitian ini dibagi menjadi empat poin. Pertama, pembentukan karakter anak dapat dilakukan melalui dua strategi, yaitu internal dan eksternal sekolah. Kedua, strategi internal sekolah dapat dilakukan melalui empat pilar, yakni kegiatan proses belajar mengajar di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk budaya sekolah (school culture), kegiatan pembiasaan (habituation), dan kegiatan ko-kurikuler dan ekstra kurikuler. Ketiga, strategi eksternal dapat dilakukan melalui keluarga dan masyarakat. Keempat, jika ketiga strategi sebelumnya dilakukan dengan sangat baik, maka karakter pada anak dapat terbentuk dan kuat. Terdapat persamaan dan perbedaan pada penelitian ini dengan
tema yang peneliti ambil. Persamaannya, fokus penelitian membahas mengenai pendidikan karakter yang diterapkan di dua sekolah, sedangkan perbedaannya adalah pada penelitian ini tidak membahas tentang sekolah yang berbasis agama.
Table 2.1.
Kajian Terdahulu Peneliti Hari Setiadi Muhammad Ali
Ramdhani
Sheila Suranto Aw. Binti Maunah
Judul Pelaksanaan Penilaian Pada Kurikulum 2013
Lingkungan Pendidikan dalam Implementasi
Pendidikan Karakter
Komunikasi Guru dan Siswa di TK Anglia Kidds Club
Integrasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Mata Kuliah Komunikasi Interpersonal
Implementasi Pendidikan Karakter Dalam
Pembentukan
Kepribadian Holistik Siswa
Instansi/Tahun Sekolah Pascasarjana UHAMKA Jakarta/2016
Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan Universitas
Garut/2014
Universitas Bina Sarana Informatika Bandung/2016
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri
Yogyakarta/2014
IAIN Tulungagung/2014
Metode Penelitian Deskriptif Eksploratif
Kausal Efektual Studi Kasus Tindakan Kelas Kualitatif
Hasil Guru
mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan pola penilaian baru dan lebih
Setiap orang diduga akan memiliki karakter hasil belajar yang berbeda yang berbeda, disebabkan oleh karena mereka mengalami proses
Kegiatan anak di sekolah dan di rumah berbeda, karena disekolah anak mau mengikuti semua kegiatan, dan di rumah menjadi
Pendidikan karakter dalam kelas berhasil berpengaruh positif bagi mahasiswa dan dosen.
Pertama, pembentukan karakter anak dapat dilakukan melalui dua strategi, yaitu internal sekolah dan eksternal sekolah. ketika seluruh strategi tersebut dapat
kompleks pada bentukan kurikulum 2013.
belajar di lingkungan yang berbeda.
Sehingga, dapat dikaitkan bahwa dominasi lingkungan memiliki pengaruh kuat pada pendidikan karakter.
pemalas. Pola
komunikasi guru dan siswa terkadang tidak sesuai harapan karena mood anak tidak bisa dipaksakan.
dilaksanakan dengan baik, maka karakter anak akan menjadi terbentuk dan kuat.
Persamaan Membahas tentang Kurikulum 2013
Membahas tentang pendidikan karakter di lingkungan pendidikan
Membahas pola komunikasi guru dan siswa
Membahas tentang pendidikan
karakter
Membahas tentang pendidikan karakter anak
Perbedaan Tidak membahas penerapan pendidikan karakter dan tidak membahas tentang sekolah keagamaan
Tidak membahas tentang sekolah berbasis agama
Membahas
pendidikan tingkat TK dan tidak
membahas kurikulum 2013
Tidak membahas pendidikan tingkat menengah atas dan tidak membahas kurikulum 2013
Tidak membahas
kurikulum 2013 dan tidak membahas tentang
sekolah berbasis agama
Kajian Literatur
Pendidikan Karakter
Pada penelitian ini, pendidikan karakter merupakan objek utama dalam pembahasan penelitian, menurut (Thomas Lickona dalam Julaiha, 2014) karakter yaitu naluri manusia dalam reaksi terhadap sesuatu secara bermoral, dan pendidikan karakter adalah pembentukan kepribadian manusia dengan budi pekerti yang menghasilkan tindakan yang nyata, yaitu perilaku yang baik, jujur, tanggung jawab, saling menghormati, dan sebagainya.
Pendidikan karakter merupakan proses pembentukan murid menjadi manusia yang berkarakter dalam konteks hati, pikir, raga serta rasa dan karsa. Dengan harapan, karakter terbentuk menjadi pribadi utuh yang menggambarkan keserasian dari olah hati, olah pikir, olah raga, serta olah rasa. (Arif, 2017).
Arisoteles mendefinisikan karakter yang baik pada kehidupan dengan melakukan berbagai macam tindakan yang benar kepada diri sendiri dan orang lain.
Menurut Michael Novak, karakter adalah campuran hal yang berkesinambungan dari kebaikan yang dikenal oleh tradisi religi, cerita sastra, kebijaksanaan, dan perkumpulan manusia berakal sehat dalam sejarah. Berdasarkan pendapat novak, tidak ada seorang pun yang memiliki seluruh poin karakter tersebut dan setiap orang memiliki kelemahan. Demikian, karakter memiliki tiga bagian yang berkesinambungan yaitu pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral.
(Lickona, 2004)
A. Fungsi pendidikan Karakter
1. Pengembangan: berfungsi untuk mengembangkan potensi murid untuk memiliki kepribadian dan perilaku yang baik.
2. Perbaikan : memperkuat lembaga pendidikan dalam keterlibatan pengembangan potensi murid yang lebih bermartabat.
3. Penyaring : berfungsi untuk memilah kebudayaan bangsa sendiri dan budaya dari bangsa lain, yang tidak sesuai dengan kebudayaan dan karakter bangsa yang bermartabat.
B. Tujuan Pendidikan Karakter
1. Dapat mengembangkan hati nurani murid yang memiliki nilai kebudayaan dan karakter kebangsaan.
2. Dapat mengembangkan perilaku dan kebiasaan murid yang baik dan sesuai dengan nilai tradisi budaya kebangsaan yang religius.
3. Dapat menanamkan rasa tanggung jawab dan jiwa kepemimpinan murid sebagai generasi pelurus bangsa.
4. Dapat mengembangkan potensi murid untuk menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan memiliki wawasan kebangsaan.
5. Dapat mengembangkan lingkungan yang sama, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan memiliki kekuatan (Kusningsih, 2013).
Nilai Moral
Pendidikan karakter tidak akan pernah lepas dari nilai-nilai moral seperti tanggung jawab, kejujuran, dan keadilan adalah hal-hal yang harus diterapkan dalam hidup. Kita akan merasa tidak tenang dan nyaman jika tidak membayar
hutang, menepati janji, berlaku adil, dan tidak memberi hak kepada yang membutuhkan. Nilai moral akan membawa kita untuk melakukan apa yang semestinya kita lakukan, dan kita akan merasa harus melakukan hal-hal bermoral tersebut bahkan ketika kita tidak ingin melakukan hal tersebut.
Nilai moral memiliki dua poin nilai utama yang dapat menyatukan semua orang yaitu rasa hormat dan bertanggung jawab. Dua hal ini bisa menyatukan semua orang manapun karena menjunjang nilai-nilai kemanusiaan dan saling menghargai. Selain itu rasa hormat dan tanggung jawab diperlukan untuk pengembangan kesehatan rohani, kepedulian akan hubungan interpersonal, membentuk masyarakat yang demokratis, serta keadilan dan kedamaian dunia.
Hormat dan tanggung jawab adalah landasan yang mengharuskan guru untuk memberikan pendidikan untuk membangun manusia yang etis dalam berilmu dan dapat memposisikan diri sebagai bagian masyarakat yang bertanggung jawab.
Rasa hormat adalah penghargaan dari diri kita terhadap harga diri orang lain maupun hal-hal lain selain diri kita sendiri. ada tiga hal yang menjadi pokok dalamc rasa hormat yaitu rasa hormat terhadap diri sendiri, rasa hormat kepada orang lain dan rasa hormat kepada semua bentuk kehidupan dan lingkungan yang saling menjaga satu sama lain.
Cara harfiah tanggung jawab adalah kemampuan untuk bereaksi atau menjawab, yang berarti tanggung jawab adalah sesuatu yang berhubungan dengan orang lain memberikan perhatian dan cara aktif memberikan reaksi terhadap apa yang orang lain inginkan. Tanggung jawab berorientasi kepada kewajiban yang positif untuk saling melindungi satu sama lain.
Berikut komponen-komponen nilai moral dari karakter yang baik:
A. Pengetahuan Moral
Pengetahuan moral memiliki banyak jenis yang berbeda dan berhubungan dengan perubahan moral kehidupan. Berikut poin-poin yang menonjol sebagai tujuan pendidikan karakter, di antaranya :
1. Kesadaran Moral
Sering kali kita bertindak dan berpikir “apakah ini benar?”. Kita perlu mengetahui bahwa tanggung jawab moral yang pertama adalah berpikir untuk melihat situasi yang memerlukan penilaian moral, lalu selanjutnya berpikir dengan cermat tentang apa yang dimaksud dengan kebenaran.
2. Pengetahuan Nilai Moral
Memahami pesan dari permasalahan yang terjadi, sering terjadi saat pembuatan penilaian moral kita tidak bisa mengambil keputusan tentang apakah itu benar sampai kita tahu kebenarannya.
Pendidikan nilai dapat menyampaikan ilmu tersebut dengan melibatkan siswa dalam bekerja keras untuk menentukan fakta terkait sebelum mengambil penilaian.
Kejujuran, keadilan, toleransi, penghormatan, integritas, kebaikan, belas kasihan, kedisiplinan, tanggung jawab, menghargai kemerdekaan dan kehidupan. Mengetahui suatu nilai juga dapat diartikan mengerti bagaimana cara untuk menerapkan nilai dalam berbagai situasi.
3. Penentuan Perspektif
Penentuan perspektif adalah kemampuan untuk mengambil sudut pandang orang lain, melihat realitas situasi, dapat membayangkan cara orang lain
berpikir, bereaksi, dan dapat merasakan masalah yang ada. Kita tidak dapat menghormati satu sama lain dan bertindak adil terhadap kebutuhan orang lain tanpa memahami seperti apa sudut pandang dari orang lain.
4. Pemikiran Moral
Pemikiran moral sangat berkaitan dengan seperti apa pemahaman tentang apa yang dinamakan dengan moral dan mengapa harus melibatkan aspek moral. Pemikiran moral ini akan menuntun kita kepada pengambilan keputusan sesuai dengan berbagai macam situasi yang berbeda sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku.
5. Pengambilan Keputusan
Ketika kita akan berkomunikasi atau setelah berkomunikasi, kita akan memikirkan berbagai konsekuensi dan keuntungan dari tindakan yang akan kita lakukan selanjutnya. Dalam komunikasi, kita akan selalu mengalami di mana kita harus memilih apa dan bagaimana pesan yang kita harapkan bisa diterima baik oleh komunikan, tentu tidak akan terlepas dari budaya dan moralitas yang sesuai dengan situasi sedang dihadapi.
6. Pengetahuan Pribadi
Mengetahui pribadi sendiri adalah jenis pengetahuan moral yang paling sulit untuk didapatkan, tetapi ini diperlukan untuk pengembangan karakter.
Untuk menjadi manusia yang bermoral diperlukan keahlian untuk mengintrospeksi diri secara kritis, dengan kata lain kita harus menyadari akan kekuatan dan kelemahan dari karakter diri kita sendiri dan bagaimana caranya mengatasi kelemahan sebut. pada umumnya manusia melakukan sesuatu dan kemudian membenarkannya setelah melihat apa yang terjadi.
B. Perasaan Moral 1. Hati Nurani
Terdapat 4 sisi dari hati nurani yakni sisi kognitif, mengetahui kebenaran, emosional, dan rasa kewajiban untuk melaksanakan sesuatu yang benar.
banyak orang yang mengetahui tentang kebenaran, namun banyak yang merasa tidak berkewajiban untuk berbuat sesuatu yang sesuai dengan hal tersebut.
2. Harga Diri
Harga diri adalah suatu nilai yang di mana itu akan mempengaruhi apakah kita pantas melakukan suatu hal atau tidak. harga diri yang tinggi tidak menjamin karakter yang baik. Dalam dunia pendidikan suatu tantangan sebagai pendidik, yaitu bagaimana membentuk dan mengembangkan harga diri yang berdasarkan dari nilai-nilai kebaikan seperti tanggung jawab kejujuran, serta kepercayaan seperti dalam ilmu dan pengetahuan keagamaan.
3. Empati
Empati adalah buah durian yang seolah-olah kita pernah atau membayangkan jika mengalaminya atau kita ada di dalam situasi tersebut.
empati akan membawa kita ke dalam suatu perasaan di mana kita keluar dari situasi diri kita sendiri dan masuk ke dalam situasi diri orang lain. hal ini sangat berkaitan dari sisi emosional antar pelaku yang berkomunikasi.
dalam dunia pendidikan guru bertugas generalisasi rasa empati yang tidak hanya berlaku kepada orang yang kita kenal namun juga berempati kepada orang yang tidak kita kenali
4. Mencintai Kebaikan
Bentuk dari karakter yang tertinggi yaitu membawa sifat yang benar-benar tertarik pada hal yang baik. ketika manusia benar-benar tertarik dan mencintai suatu hal akan kebaikan, sudah pasti mereka senang melakukan suatu hal kebaikan.
5. Kendali Diri
Ketika kita bertindak dengan dilandasi dengan alasan emosi, an itu bisa menjadi alasan yang sangat berlebihan. Karena, dalam mengedepankan nilai moral kita perlu untuk menahan diri dan tidak mengikuti emosi yang tidak terkontrol. singkatnya kendali diri adalah bagaimana kita mengendalikan perilaku kita dari hawa nafsu yang bertujuan agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral yang berlaku.
6. Kerendahan Hati
Kerendahan hati adalah kebaikan dari nilai moral yang terbuka terhadap kebenaran dan keinginan untuk berperilaku. kerendahan hati juga membawa kita jauh dari sifat kesombongan atau membanggakan diri sendiri secara berlebihan yang membuat efek negatif terhadap diri dan orang lain.
C. Tindakan Moral
Kerendahan hati adalah kebaikan dari nilai moral yang terbuka terhadap kebenaran dan keinginan untuk berperilaku. kerendahan hati juga membawa kita jauh dari sifat kesombongan atau membanggakan diri sendiri secara berlebihan yang membuat efek negatif terhadap diri dan orang lain.
1. Kompetensi
Kompetensi dalam nilai moral memiliki kemampuan untuk mentransfer penilaian dan perasaanmu moral menjadi tindakan moral yang efektif, misalnya memecahkan suatu konflik dengan adil,membantu orang lain yang sedang kesulitan, atau menyiram tanaman yang mulai layu, dan hal- hal kebaikan lainnya.
2. Keinginan
Memilih suatu tindakan yang benar dalam situasi moral, terkadang menjadi pilihan yang sulit. menjadi orang yang baik perlu melakukan tindakan keinginan yang baik, dan energi yang menggerakkan adalah energi moral untuk melakukan apa yang kita rasa harus dilakukan. Kita harus berpikir ulang sebelum mengikuti keinginan yang kita rasa untuk menghindari rasa penyesalan.
3. Kebiasaan
Manusia cenderung melakukan sesuatu dan memilih suatu tindakan dengan alasan golongan kebiasaan, maka dari itu kebiasaan yang baik sejak dini agar kelak mereka memiliki bentukan kebiasaan yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku (Lickona, 2004).
Komunikasi
A. Pengertian Komunikasi
Secara Etimologi, Komunikasi diambil dari bahasa latin yaitu
“Communication” yang berasal dari kata communis yang dimaksudkan yaitu sama makna. Namun secara Terminologi, komunikasi adalah sebuah proses penyampaian informasi yang akan terjadi jika ada seseorang atau lebih lawan bicara. Jadi, jika ada dua orang terlibat dalam komunikasi maka komunikasi akan terjadi selama ada
berkesinambungan makna mengenai apa yang dikomunikasikan. kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam percakapan untuk menimbulkan kesamaan makna dengan kata lain perkataan dan mengerti bahasanya saja belum tentu saling memahami makna yang disampaikan oleh bahasa tersebut. Komunikasi bisa dikatakan komunikatif apabila para pelaku komunikasi saling mengerti makna dari percakapan yang terjadi.
Namun pengertian komunikasi tersebut sifatnya dasariah yang berarti bahwa Komunikasi itu setidaknya harus ada kesamaan makna antara pihak yang terlibat dalam komunikasi tersebut. kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yaitu supaya orang lain dapat tahu dan mengerti informasi yang didapatkan, namun juga harus bersifat persuasif, yakni supaya lawan bicara dapat menerima suatu paham atau keyakinan, dapat melakukan suatu perilaku atau kegiatan, dan lain sebagainya. (Effendy, 2003)
B. Fungsi komunikasi
Menurut (Mulyana dalam Iriantara & Syaripudin, 2013) fungsi komunikasi dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Komunikasi Sosial 2. Komunikasi Ekspresif 3. Komunikasi Ritual 4. Komunikasi Instrumental
Dan dari sisi kebutuhan, menurut (Adler dan Rodman dalam Iriantara &
Syaripudin, 2013) memiliki empat poin komunikasi dari segi kebutuhannya, antara lain:
1. Kebutuhan Fisik 2. Kebutuhan Identitas 3. Kebutuhan Sosial 4. Kebutuhan Praktis Strategi Komunikasi
Strategi adalah bagaimana cara untuk mencapai suatu tujuan yang direncanakan secara tertata langkah-langkah dalam proses pencapaiannya. Jadi strategi komunikasi adalah bagaimana komunikator memilih strategi penyampaian pesan untuk membangun suatu tujuan (Morrisan, 2017). Dalam dunia pendidikan, ada banyak cara untuk mendidik murid terutama dalam mendidik karakter, dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui model strategi komunikasi seperti apa yang diterapkan untuk pendidikan karakter di sekolah berbasis agama.
Komunikasi Organisasi
Secara singkat, komunikasi organisasi adalah bagaimana sekumpulan manusia berinteraksi secara terstruktur dan terencana untuk mencapai suatu tujuan yang telah disepakati oleh orang yang berada dalam organisasi tersebut.
Komunikasi yang terdapat di dalam organisasi dan antar organisasi dalam lingkungan tertentu yang dapat mempengaruhi atau bahkan dapat dipengaruhi organisasi. Maka dari itu lembaga pendidikan ataupun organisasi lainnya diharuskan memahami lingkungan internal maupun eksternal agar komunikasi berlangsung dengan baik untuk membentuk kerangka pencapaian tujuan organisasi pendidikan tersebut. (Ilmu & Unpad, 2007)
Sekolah memiliki hubungan vertikal di antaranya guru dengan murid dan memiliki hubungan horizontal seperti guru dengan staf kependidikan yang terdapat
dalam 1 lembaga kependidikan yaitu sekolah. Di antara hubungan-hubungan tersebut, semua memiliki tujuan bersama yaitu mendidik murid untuk menjadi manusia yang siap menghadapi langkah kehidupan berikutnya.
Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapersonal bisa dikatakan bagaimana kita memproses pesan dan menghasilkan makna untuk diri kita sendiri. Komunikasi ini terjadi pada pikiran kita sendiri dan menjadi landasan dari seluruh bentuk komunikasi.
Komunikasi ini akan berguna untuk mempertimbangkan suatu reaksi dan interaksi kita terhadap orang lain. Selain itu komunikasi intrapersonal juga berfungsi untuk mempertimbangkan solusi dari permasalahan yang terjadi dan memikirkan apa keuntungan dan risiko yang akan didapat.
Komunikasi ini bisa terjadi sebelum berinteraksi dengan orang lain namun juga bisa terjadi sesudah interaksi terjadi. Karena komunikasi intrapersonal bisa meningkatkan kualitas komunikasi dengan orang lain dan juga dapat meningkatkan nilai diri kita sendiri melalui introspeksi diri. (Ilmu & Unpad, 2007)
Dalam pembentukan karakter, komunikasi intrapersonal merupakan hal yang perlu dibentuk untuk bisa mencapai pembentukan karakter yang nantinya akan berhubungan langsung dengan dunia luar, dan akan membentuk suatu identitas diri yang akan berpengaruh terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.
Komunikasi Interpersonal
Dalam berkegiatan, terutama pada sekolah komunikasi interpersonal digunakan hampir di seluruh kegiatan pembelajaran. Komunikasi interpersonal adalah lanjutan dari komunikasi intrapersonal, yang berarti setelah berkomunikasi
dengan diri sendiri kita dapat berkomunikasi dengan hal-hal di luar diri kita, kita dapat berkomunikasi sesuai dengan pengetahuan dan nilai-nilai moral yang berlaku.
Komunikasi ini dapat berbentuk verbal dan non verbal, dan dapat terjadi pada dua orang, kelompok kecil, maupun di depan khalayak umum. Dengan komunikasi interpersonal kita bisa menunjang kita sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial.
Komunikasi interpersonal dilakukan untuk berbagai tujuan, seperti memecahkan masalah, bertukar informasi, maupun kebutuhan sosial untuk mendukung seluruh keinginan dan kegiatan kita dalam kehidupan, bahkan dapat memperbaiki persepsi kita terhadap orang lain. Apalagi ketika pembentukan karakter di mana kita akan saling berkomunikasi, sangat penting untuk dapat menilai suatu hal di luar diri kita untuk mengembangkan diri dan dapat mengenali nilai-nilai yang terdapat di sekitar kita.
Guru
A. Pengertian Guru
Dalam dunia kependidikan, hampir tidak terlepas dari campur tangan pendidik yang disebut guru. Guru adalah perangkat perantara terpenting dalam menyampaikan ilmu. Efektivitas pembelajaran juga bergantung pada efektivitas komunikasi, komunikasi yang efektif memiliki peran penting dalam tingkat keberhasilan dalam semua jenjang kependidikan. Fungsi guru tidak semata-mata hanya mentransfer pengetahuan, namun juga proses komunikasi antara guru dan siswa. Guru yang baik diharuskan dapat berkomunikasi dengan efektif dengan siswa. Komunikasi dalam pembelajaran diibaratkan sebagai pola yang dimulai saat guru memilih ilmu apa yang akan disampaikan kepada murid, setelah itu guru
menentukan cara apa yang sesuai untuk menyampaikan ilmu tersebut, dan pola pengajaran pun berakhir dengan menilai sampai mana pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam pola komunikasi pembelajaran terdapat komponen- komponen yang berperan yaitu guru, murid, paket pembelajaran, strategi pembelajaran, evaluasi, umpan balik, dan lingkungan pembelajaran.
Ada bermacam-macam strategi pembelajaran yang bisa digunakan dalam proses belajar mengajar antara lain dengan ceramah, diskusi kelas, kerja kelompok, dan kegiatan berbasis sumber belajar. Pada strategi yang disebutkan efektivitas komunikasi penting untuk tujuan pembelajaran. (Ilmu & Unpad, 2007)
Pada kurikulum 2013 terdapat model-model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru untuk mendukung proses pembelajaran dan penerapan paket pembelajaran yang sesuai dengan Permendikbud nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses, di antaranya adalah model pembelajaran inkuiri, model pembelajaran diskoveri, model pembelajaran berbasis proyek, dan model pembelajaran berbasis permasalahan.
B. Kewajiban Guru
Guru harus mengetahui memahami dan melaksanakan kewajibannya sebagai guru profesional yang melekat pada sertifikat dan yang harus diterapkan pada perilaku sehari-hari. Undang-undang guru dan dosen nomor 14 tahun 2005 pasal 20 menjelaskan bahwa dalam menjalankan tugas, guru memiliki kewajiban:
1. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan
kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
2. Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, Suku, ras, dan kondisi fisik tertentu atau latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran 3. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan hukum dan kode etik
guru serta nilai-nilai agama dan etika
4. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa
Jika guru tidak melaksanakan kewajibannya dengan sengaja, maka guru akan mendapatkan sanksi sesuai undang-undang yang berlaku (Mulyasa, 2016).
Murid
Murid adalah target utama dalam dunia kependidikan untuk dibentuk, dididik, dibina untuk berkembang menjadi manusia yang beradab dan berilmu terhadap dirinya sendiri maupun orang lain, dan mereka akan belajar bagaimana cara hidup yang benar dan mempelajari hal-hal kebaikan. Karakter siswa pun sangat beragam yang berpengaruh dari kehidupan yang sudah dijalani baik dilingkungan keluarga, lingkungan sekitar rumah, maupun tempat lain di mana biasa beraktivitas.
Seseorang bisa dikatakan seorang murid jika seseorang tersebut sedang menjalankan studi di sekolah sampai tingkat menengah atas. Atau bisa di tempat kependidikan lainnya selama ada peran guru sebagai instrumen belajar mengajar di dalam kegiatannya.
Kajian Teoritis
Teori CMM (Manajemen Koordinasi Makna)
Teori Manajemen koordinasi makna (Coordinated Management of Meaning) menganggap bahwa komunikasi adalah sebuah proses yang membuat orang mengenal atau mengetahui dunia mereka sehingga menghasilkan realitas sosial.
Teori yang dikembangkan oleh Bernett Pearce dan Vernon Cronen ini menjelaskan bahwa interaksi antara dua orang akan membentuk sebuah makna. Akar teori CMM ini berasal dari teori interaksionisme simbolik, yang bersumber dari filsafat pragmatis (Yuwita, 2018).
Bernett Pearce dan Vernon Carnon juga mengungkapkan bahwa manusia dapat membentuk dan merumuskan sebuah makna, dengan beberapa asumsi, yakni:
A. Manusia hidup dalam komunikasi
Asumsi ini memaparkan bagaimana seseorang menciptakan realitas sosial melalui proses komunikasi, dimana komunikasi merupakan inti dari teori CMM ini.
B. Manusia menciptakan realitas sosial
Asumsi ini menjelaskan bahwa situasi sosial dihasilkan dari adanya proses interaksi, dimana sebuah percakapan membangun realitas sosial.
C. Transaksi Informasi tergantung pada makna pribadi dan makna interpersonal Asumsi ini menjelaskan bagaimana seseorang mengendalikan percakapan melalui makna pribadi dan makna interpersonal. Makna pribadi merujuk pada makna yang dicapai ketika seseorang melakukan interaksi secara mendalam.
Sedangkan makna interpersonal akan tercapai saat dua orang sependapat akan pemahaman masing-masing. Apabila tidak ada satupun makna yang tercapai, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang dilakukan kurang baik.
Teori ini memiliki konsep dasar yang dapat membantu menjelaskan maksud dari realitas sosial yang dibangun melalui percakapan, diantaranya:
A. Manajemen
Kegiatan komunikasi manusia terdapat berbagai aturan dan batasan terhadap realitas sosial, sehingga kita harus memahami bagaimana realitas sosial yang terdapat saat itu yang kemudian berpengaruh dalam pengambilan tindakan dan keputusan sesuai dengan situasi terkait aturan dan batasan yang terjadi, sehingga setiap individu yang terlibat dapat mengkoordinasikan makna dalam komunikasi yang berlangsung, di mana komunikasi tersebut dapat saling mempengaruhi . B. Koordinasi
Transaksi pesan ketika berkomunikasi memiliki kemungkinan resiko penyampaian makna yang saling berbeda, maka pada saat berinteraksi kita harus saling menyadari apa maksud dan tujuan makna dari percakapan yang terjadi, sehingga dapat berkembang menjadi koordinasi. Menurut Pearce dan Cronen, konsep dari koordinasi disini bermaksud untuk menyajikan dasar untuk mengingat sisi lain dari sebuah kejadian. Terdapat tiga kemungkinan keluaran koordinasi yaitu:
1. Interaksi mencapai koordinasi.
2. Interaksi gagal dalam mencapai koordinasi.
3. Interaksi mencapai koordinasi pada tingkatan tertentu.
Apabila interaksi gagal mencapai koordinasi atau hanya sebagian level, maka solusinya yakni bergerak ke tingkatan makna yang lain (Ambar, 2017).
C. Makna
Makna dibangun melalui proses interaksi sosial, pada teori CMM ini, terdapat enam level makna, yakni isi, tindak tutur, episode, hubungan, naskah kehidupan, dan pola budaya. Urutan dari keenam level makna tersebut tidak selalu sama, tergantung dari pemahaman makna seseorang. Berikut penjelasan dari keenam level makna dalam teori ini:
1. Isi
Isi adalah kata-kata atau dengan kata lain pesan dasar atau infomasi mentah yang digunakan seseorang dalam melakukan sebuah komunikasi.
2. Tindak tutur
Tindak tutur merupakan beberapa tindakan yang diperlihatkan seseorang ketika berkomunikasi. Beberapa tindakan yang dimaksudkan adalah berupa pujian, penghinaan, janji, ancaman, asersi dan pertanyaan.
3. Episode
Episode atau disebut juga rutinitas komunikasi, menggambarkan konteks dimana orang bertindak. Pada level ini, mulai terlihat adanya pengaruh yang dihasilkan oleh konteks terhadap sebuah makna.
4. Hubungan
Pada level ini, terjadi sebuah kesepakatan dimana dua orang menyadari adanya potensi dan keterbatasan sebagai partner.
5. Naskah kehidupan
Pada level ini, sejarah setiap individu akan mempengaruhi aturan dan pola interaksi.
6. Pola Budaya
Pola budaya merupakan gambaran keteraturan dari dunia yang lebih luas serta hubungan seseorang dalam urutan tersebut. Contohnya, dua orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda mencoba untuk saling mengerti arti kata masing-masing (Yuwita, 2018).
Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Sumber: Peneliti, 2019
Pendidikan Karakter di Sekolah Berbasis Agama
Paradigma Alternatif
Konstruktivis Metode Studi Kasus
1. Apa yang dilakukan pihak sekolah dalam mensosialisasikan pendidikan karakter
2. Bagaimana cara pihak sekolah menanamkan pendidikan karakter pada siswa
3. Bagaimana sistem yang diterapkan pihak sekolah dalam mengontrol pendidikan karakter
Teori Manajemen Koordinasi Makna
Mengetahui Strategi Komunikasi PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA
SEKOLAH BERBASIS AGAMA
Dalam penelitian ini, peneliti meneliti tentang Pendidikan Karakter di Sekolah Berbasis Agama dengan menggunakan pendekatan studi kasus dengan paradigma konstruktivis. Teori yang digunakan untuk membantu peneliti untuk mendapatkan hasil penelitian di lapangan adalah dengan menggunakan teori manajemen koordinasi makna. Dengan menggunakan dua pertanyaan penelitian tersebut, peneliti akan menemukan hasil dari tujuan fokus penelitian ini, yaitu mengetahui Strategi Komunikasi Penerapan Pendidikan karakter di Sekolah Berbasis Agama.