• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Efusi Pleura

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Efusi Pleura"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

Menurut Kowalak, efusi pleura transudatif sering terjadi akibat gagal jantung, penyakit hati yang berhubungan dengan asites, dialisis peritoneal, hipoalbuminemia, dan kondisi yang menyebabkan peningkatan volume intravaskular secara berlebihan. Efusi pleura eksudatif terjadi pada tuberkulosis (TB), abses subfrenikus, pneumonitis pankreatitis atau empiema bakteri atau jamur, keganasan, emboli paru dengan atau tanpa infark paru, penyakit kolagen (lupus eritematosus [LE] dan artritis reumatoid), miksedema, dan trauma dada. Pasien dengan efusi pleura biasanya datang dengan tanda dan gejala yang berhubungan dengan kondisi patologis yang mendasarinya.

Filtrasi ini terjadi karena perbedaan tekanan osmotik plasma dan jaringan interstisial submesothelial, kemudian masuk ke rongga pleura melalui sel mesothelial (Sudoyo). Rongga pleura mengandung kurang lebih 5 ml cairan yang cukup untuk melembabkan seluruh permukaan rongga pleura. Ketika kapiler menunjukkan peningkatan permeabilitas, dengan atau tanpa perubahan tekanan hidrostatik dan tekanan osmotik koloid, hal ini dapat menyebabkan efusi pleura eksudatif (Kowalak.

Ada beberapa cara untuk melakukan pemeriksaan suportif atau diagnostik untuk mengetahui adanya efusi pleura pada selaput lendir paru-paru. Perbedaan kepadatan cairan dengan jaringan disekitarnya sangat memudahkan dalam menentukan adanya efusi pleura (Sudoyo.

Gambar 2.1 Pathway Efusi Pleura (sudoyo, 2009:2330).
Gambar 2.1 Pathway Efusi Pleura (sudoyo, 2009:2330).

Konsep Oksigenasi .1 Definisi Oksigenasi

Ada beberapa, satu ke paru kanan dan satu lagi ke paru kiri. Epitel pipih yang melapisi alveoli memudahkan darah di kapiler darah untuk mengikat oksigen dari udara di rongga alveolus (Kusnanto, 2016: 13). Alveoli selalu mengeluarkan surfaktan, surfaktan berperan sebagai bahan pembersih yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan paru-paru.

Tegangan permukaan diturunkan oleh surfaktan (deterjen), membuat paru-paru lebih elastis dan lebih mudah mengembang. Pada bayi prematur, kemampuan alveolus dalam memproduksi surfaktan masih kurang sehingga menyebabkan paru-paru bayi prematur sulit mengembang dan sulit bernapas (Kusnanto, 2016:13). Fungsi mekanis pleura adalah menyalurkan tekanan negatif toraks ke paru-paru sehingga elastis paru dapat mengembang.

Udara yang keluar masuk paru-paru pada waktu bernafas biasa disebut udara pernafasan (udara pasang surut). Meski kita menghembuskan napas sekuat tenaga, ternyata masih ada udara di dalam paru-paru yang disebut udara sisa. Jumlah volume udara pernafasan, udara tambahan, dan udara tambahan disebut kapasitas vital paru-paru (kusnant.

Udara ini akan masuk ke pembuluh kapiler, yang kemudian dialirkan ke vena pulmonalis atau vena pulmonalis. Proses pertukaran ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu luas permukaan paru, ketebalan/permeabilitas membran pernafasan yang terdiri dari alveoli dan epitel interstisial (keduanya dapat mempengaruhi proses difusi bila terjadi penebalan), perbedaan dalam tekanan dan konsentrasi O2 (seperti O2 dari alveoli ke dalam darah, karena tekanan O2 di rongga alveoli lebih tinggi dari tekanan O2 dalam darah vena pulmonal, maka masuk ke dalam darah melalui difusi), pCO2 dalam arteri pulmonalis akan berdifusi ke dalam alveoli, dan afinitas gas (kemampuan menembus dan mengikat hemoglobin-Hb satu sama lain) (Kusnanto, 2016:20). Fase ini terdiri dari otot-otot antar tulang rusuk yang berkontraksi sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan di luar, sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.

Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot-otot antar tulang rusuk ke posisi semula yang dilanjutkan dengan penurunan tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi lebih kecil. Fase ini terdiri dari kontraksi otot diafragma sehingga menyebabkan rongga dada membesar sehingga menyebabkan tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan di luar sehingga memungkinkan masuknya udara luar yang kaya oksigen. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot diafragma ke posisi semula yang dilanjutkan dengan penurunan tulang rusuk sehingga rongga dada mengecil.

Akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luaran, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya dengan karbon dioksida keluar. Disebabkan oleh sesuatu yang menghalang lendir daripada keluar atau yang mengganggu aliran udara ke dalam rongga hidung.

Gambar 2.2 Anatomi Fisiologi Sistem Oksigenasi (kusnanto, 2016:8).
Gambar 2.2 Anatomi Fisiologi Sistem Oksigenasi (kusnanto, 2016:8).

SARS

Konsep Asuhan Keperawatan .1 Pengkajian

Pada sinusitis kronis, batuk terjadi pada pagi hari atau segera setelah bangun tidur, untuk membersihkan saluran napas dari lendir dari drainase sinus. Bronkitis kronis umumnya batuk sepanjang hari akibat produksi dahak pada siang hari, akibat penumpukan dahak yang menempel pada saluran napas dan disebabkan oleh berkurangnya mobilitas. Mengi ditandai dengan suara bernada tinggi yang dihasilkan dari pergerakan udara berkecepatan tinggi melalui saluran napas yang sempit.

PEFR adalah titik aliran puncak yang dicapai selama ekspirasi maksimal, dan titik ini mencerminkan perubahan ukuran saluran napas secara massal. Bronkoskopi dilakukan untuk mendapatkan spesimen biopsi dan sampel cairan atau dahak, serta untuk menghilangkan selaput lendir atau benda asing yang menyumbat saluran napas. Diagnosa keperawatan merupakan pernyataan yang jelas, singkat dan pasti mengenai masalah pasien dan penyebabnya, yang dapat diatasi atau diubah melalui tindakan keperawatan.

Identifikasi masalah yang dialami klien, respon klien terhadap status kesehatan atau penyakit klien (identifying problem). Mengidentifikasi kondisi klien, termasuk kemampuan klien dalam mencegah atau mengatasi masalah yang dialaminya (mengidentifikasi tanda dan gejala). Etiologi (penyebab) adalah faktor klinis dan personal yang dapat mengubah status kesehatan atau mempengaruhi berkembangnya masalah3.

Diagnosa keperawatan aktual menyajikan kondisi klinis yang divalidasi berdasarkan karakteristik terpenting yang diidentifikasi. Diagnosa keperawatan risiko merupakan keputusan klinis mengenai individu, keluarga atau komunitas yang sangat rentan mengalami masalah dibandingkan dengan individu atau kelompok lain dalam situasi yang sama atau hampir sama (masalah belum terjadi). Diagnosa keperawatan potensial adalah diagnosa keperawatan yang memerlukan data tambahan untuk memastikan suatu masalah keperawatan (belum ditemukan data pendukung dan masalah, namun ada faktor yang mungkin menyebabkan masalah tersebut).

Diagnosa keperawatan kesehatan adalah penilaian klinis mengenai individu, kelompok atau komunitas dalam transisi dari tingkat kesehatan khusus ke tingkat kesehatan yang lebih baik. Diagnosa keperawatan sindromik adalah diagnosa keperawatan yang terdiri dari sekelompok diagnosa keperawatan aktual dan risiko tinggi yang diperkirakan terjadi akibat suatu peristiwa tertentu. Perencanaan merupakan bagian dari tahapan proses keperawatan yang meliputi tujuan pengobatan, penentuan kriteria hasil, penentuan rencana tindakan yang akan diberikan kepada klien untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami klien serta alasan dari setiap rencana tindakan yang akan diberikan (hutahaean, 2010 : 111).

Perencanaan melibatkan pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi, atau memperbaiki masalah yang diidentifikasi dalam diagnosis keperawatan. Rencana keperawatan mandiri merupakan rencana keperawatan yang kegiatan keperawatannya dilakukan atas inisiatif perawat sendiri berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki perawat.

Tabel  2.3  Diagnosa  keperawatan  yang  muncul  pada  gangguan  oksigenasi (SDKI, 2017)
Tabel 2.3 Diagnosa keperawatan yang muncul pada gangguan oksigenasi (SDKI, 2017)

Edukasi

Kolaborasi

Terapeutik

Bekerjasamalah dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan, jika diperlukan.

Observasi

Memberikan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri (misalnya TENS, hipnotis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres panas/dingin, terapi bermain). Pada tahap tindakan keperawatan, tugas perawat adalah membantu pasien mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pembersihan jalan napas tidak efektif; Tindakan yang dilakukan : (1) Pengukuran tanda vital, (2) Auskultasi bunyi nafas tambahan, (3) Latihan batuk efektif, (4) Penyesuaian posisi semi Fowler.

Gangguan pertukaran gas; Tindakan yang dilakukan adalah (1) mengukur tanda vital, (2) mengauskultasi bunyi napas tambahan, (3) mengukur saturasi oksigen, (4) memasang terapi oksigen. Pola pernapasan tidak efektif; Tindakan yang dilakukan: (1) Ukur tanda-tanda vital, (2) Auskultasi bunyi napas ekstra, (3) Atur posisi semi-Fowler, (4) Latih batuk efektif. Kekurangan nutrisi; Tindakan yang dilakukan (1) Mengukur berat badan, (2) Memantau asupan makanan, (3) Menyarankan posisi duduk jika memungkinkan.

Gangguan tidur; upaya yang dilakukan: (1) Mengidentifikasi faktor-faktor yang mengganggu pola tidur, (2) Menyesuaikan posisi tidur agar nyaman. Ketidaksabaran untuk beraktivitas; tindakan yang dilakukan (1) Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kelelahan, (2) Menyarankan pelaksanaan kegiatan secara bertahap. Nyeri akut; tindakan yang dilakukan (1) Observasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, luas dan intensitas nyeri, (2) Memberikan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri.

Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan dan merupakan tindakan intelektual untuk menyelesaikan proses keperawatan yang menunjukkan sejauh mana diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan implementasi telah berhasil dicapai. Perawat mengevaluasi kemajuan pasien terhadap tindakan keperawatan dalam mencapai tujuan dan meninjau data dasar dan rencana (jika diperlukan) (hutahaean, 2010:123). Evaluasi dilakukan dengan melihat respon klien terhadap asuhan keperawatan yang diberikan sehingga perawat dapat mengambil keputusan selanjutnya.

Tujuan penilaian adalah untuk memperoleh umpan balik yang relevan dengan membandingkannya dengan kriteria hasil. Terpeliharanya jalan nafas efektif yang ditunjukkan dengan kemampuan bernafas, jalan nafas bersih, tidak ada hambatan, frekuensi, ritme dan kedalaman pernafasan normal, dan tidak ada tanda-tanda hipoksia. Terjaganya pertukaran gas efektif yang ditunjukkan dengan kemampuan bernapas, tidak ditemukan dispnea.

Referensi

Dokumen terkait