• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

Pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh, seperti pengukuran berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, lingkar lengan atas menurut umur, indeks massa tubuh, ketebalan lemak subkutan dan lain-lain. Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan ukuran berat badan dan tinggi badan yang dihitung dengan cara mengukur berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter. 5 Adapun pengukuran komponen BMI dijelaskan sebagai berikut. 1) Berat badan. Berat badan merupakan pengukuran antropometri yang paling penting dan paling banyak digunakan. Berat badan menggambarkan jumlah protein, lemak, air dan mineral dalam tulang.

Indeks massa tubuh (IMT) kategori overweight dan underweight mempengaruhi terjadinya berbagai penyakit, antara lain dijelaskan sebagai berikut: . a) Dampak kelebihan berat badan dan obesitas terhadap kesehatan. Gangguan yang disebabkan oleh berat badan kurang diantaranya adalah penyakit menular, anemia defisiensi besi, gangguan proses kognitif, gangguan pertumbuhan dan pematangan, serta dampak psikososial terutama pada remaja putri, akibat tubuh yang kurang indah, misalnya karena payudara yang kecil.. 18.5. Persentase lemak tubuh adalah jumlah massa lemak tubuh yang menggambarkan total simpanan lemak tubuh, dinyatakan dalam persentase (%).20.

Adapun cara pengukurannya: kulit 'dicubit' dengan dua jari, jangka sorong diletakkan tegak lurus pada lipatan kulit yang terjepit, sekitar 1 cm di atas jari. Cara menggunakan alat ini adalah dengan memasukkan jenis kelamin, umur, tinggi badan, berat badan pada layar monitor. Berdasarkan hasil penelitian Diego Augusto yang dipublikasikan pada tahun 2012, digunakan metode pengukuran persentase lemak tubuh yang menggunakan beberapa persamaan, dijelaskan sebagai berikut:20.

Sama seperti pengaruh BMI terhadap kesehatan, pengaruh persentase lemak tubuh terhadap kesehatan juga tidak jauh berbeda.

Tabel 2.1  Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT)
Tabel 2.1 Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT)

Gizi Kerja

Kelebihan lemak selain membebani jantung juga akan mengganggu proses sirkulasi antara oksigen dan karbon dioksida, selain itu juga akan mempengaruhi kerja seluruh organ tubuh lainnya seperti hati dan ginjal.19. Akan tetapi kekurangan lemak dalam tubuh sangatlah tidak baik, hal ini dapat dijelaskan dari fungsi lemak bagi tubuh, yaitu sebagai penghasil energi terbesar, lemak juga merupakan salah satu cadangan energi bagi tubuh ketika mengalami rasa lapar. 19. Pengkajian status gizi pekerja diperlukan karena dengan mengetahui status gizi pekerja dapat ditentukan kebutuhan gizi yang sesuai dan bila diperlukan dapat diberikan intervensi gizi.9 Penilaian status gizi dilakukan dengan beberapa cara, antara lain : pemeriksaan biokimia, pemeriksaan klinis, pemeriksaan biofisik dan antropometri 5, 9 Antropometri merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam penilaian status gizi 9 Metode ini menggunakan parameter berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) 5,16,9.

Beberapa bahan kimia dapat menyebabkan keracunan kronis yang mengakibatkan: menurunnya nafsu makan, terganggunya metabolisme tubuh dan terganggunya fungsi pencernaan sehingga mengakibatkan penurunan berat badan. Pekerja di area pertanian dan pertambangan sering terserang penyakit cacingan yang dapat mengganggu fungsi sistem pencernaan dan kehilangan nutrisi sehingga diperlukan nutrisi tambahan. 9.

Madu

  • Definisi Madu
  • Kandungan Madu 1. Gula
  • Khasiat Madu
  • Dosis Madu

Komposisi macam-macam gula pada madu ditentukan oleh sumber nektarnya.25 Madu mengandung kadar gula yang tinggi, yaitu fruktosa (41%), glukosa (35%) dan sukrosa (1,9%). Madu mengandung air, glukosa, fruktosa, sukrosa, amonia dan asam lemak.23 Kadar air pada madu ini kurang dari 18%, hal ini dipengaruhi oleh kelembaban udara, proses produksi, jenis nektar dan penyimpanannya. Kandungan enzim pada madu telah terungkap dan berasal dari hasil disertasi yang digagas Ghothe pada tahun 1913 di Leipzig, Jerman.

Madu merupakan makanan yang mengandung berbagai macam zat gizi seperti karbohidrat, protein, asam amino, vitamin, mineral dan lain-lain 26. Madu mengandung asam amino bebas yang membantu dalam pengobatan penyakit dan komponen pembentukan neurotransmitter atau senyawa yang berperan dalam mengoptimalkan fungsi otak. 22 Kandungan Asam Amino Madu mengandung asam amino esensial yang berperan penting dalam tubuh, seperti prolin, tirosin, fenilalanin, glutamin, dan asam aspartat. Kandungan mineral pada madu merupakan yang terlengkap dan tertinggi diantara produk organik lainnya. Garam mineral yang terkandung dalam madu hanya sebesar 18%, namun peranannya sangat besar karena dapat menyebabkan madu mengalami interaksi basa terhadap keasaman.

Dan juga termasuk riboflavin, biotin, asam folat, asam pantotenat, piridoksin dan asam nikotinat. 23 Vitamin yang terkandung dalam madu dapat merangsang tubuh memproduksi protein dan hormon, serta melindungi tubuh dari berbagai penyakit. 23. Enzim yang dikandung madu antara lain invertase, amilase atau diastase, glukosa oksidase, katalase dan asam fosfatase. Madu juga mengandung sekitar 15 jenis asam, sehingga pH madu sekitar 3,9.7 Komposisi madu ditunjukkan pada Tabel 2.4.

Kandungan mineral pada madu masing-masing memiliki manfaat tersendiri, termasuk mangan yang berperan sebagai antioksidan dan berpengaruh dalam mengaktifkan replikasi sel, fungsi protein dan energi. Molibdenum bermanfaat dalam mencegah anemia dan sebagai penawar racun. 7 Kandungan mineral madu disajikan pada tabel 2.5. Madu yang berasal dari satu jenis bunga diberi nama sesuai dengan sumber nektarnya, misalnya madu bunga matahari, madu kapo, madu lengkeng, dan madu jeruk.7 Madu monofloral mempunyai aroma, warna, dan rasa yang khas dari sumbernya.

Madu ini termasuk ke dalam madu monofloral, atau madu yang berasal dari satu jenis bunga yaitu bunga kapuk (Cheiba pentandra). Selain itu, madu juga mengandung prostaglandin yang berperan dalam melindungi tubuh dari berbagai penyakit.23. Molan, peneliti dari Departemen Ilmu Biologi Universitas Waikoto, Selandia Baru, menyatakan bahwa madu mengandung zat antimikroba yang dapat menghambat penyakit.26.

Selain terbukti efektif menurunkan kadar glukosa darah pada tikus diabetes, madu juga mengandung vitamin A, C, E, asam organik, enzim, fenol, dan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan dan penangkal radikal bebas. 31 Dalam penelitian lain. dikatakan bahwa zat antioksidan Fenol yang terkandung dalam madu lebih efektif dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap stres oksidatif 30 Madu dapat meningkatkan sistem imun tubuh terhadap berbagai penyakit karena madu akan meningkatkan kadar antioksidan dalam tubuh sehingga dapat menurunkan ancaman berbagai penyakit seperti kanker, penyakit jantung, gangguan otak dan paru-paru.23. Akibatnya, rasa lapar bertahan lebih lama dan rasa kenyang muncul lebih lambat sehingga menyebabkan seseorang terus makan. 6 Madu yang diambil langsung dari sarangnya dapat meningkatkan berat badan. 32 Chapeulis dan Starkey menemukan peningkatan berat badan dan kadar lemak tubuh pada tikus yang diberi madu selama 52 minggu.8.

Tabel 2.4 Komposisi Madu
Tabel 2.4 Komposisi Madu

Fisiologi Lapar dan Nafsu Makan .1 Definisi

Fisiologi Nafsu Makan

Lesi pada zona paraventrikular akan menyebabkan pola makan berlebihan, sedangkan lesi pada zona dorsomedial akan menekan perilaku makan. Nukleus arkuata sendiri merupakan tempat pengumpulan hormon dari saluran cerna dan jaringan adiposa, yang selanjutnya akan mengatur jumlah makanan yang dimakan dan juga penggunaan energi. dan persepsi rasa.penuh. Inti ini juga mempengaruhi sekresi berbagai hormon yang mengatur energi dan metabolisme, termasuk hormon dari kelenjar tiroid, kelenjar adrenal dan juga pulau Langerhans dari Pankreas.

Pusat rasa lapar dan kenyang di hipotalamus dipenuhi dengan reseptor neurotransmitter dan hormon yang mempengaruhi perilaku makan. Hormon dan neurotransmiter tersebut dibagi menjadi zat orexigenic yang merangsang nafsu makan, dan zat anorexigenic yang menghambat nafsu makan, seperti terlihat pada Tabel 2.6. Sinyal hormonal seperti leptin, insulin dan beberapa peptida usus seperti peptida YY dan kolesistokinin akan menekan nafsu makan (senyawa anoregic), sedangkan kortisol dan peptida usus ghrelin akan merangsang nafsu makan (senyawa orexigenic).

Kolesistokinin, merupakan peptida yang diproduksi oleh usus halus dan memberi sinyal ke otak secara langsung melalui pusat kendali hipotalamus atau melalui saraf vagus, seperti terlihat pada Gambar 2.1.6 Selain sinyal saraf dan hormonal, metabolit juga dapat mempengaruhi nafsu makan, seperti efeknya. hipoglikemia akan menyebabkan rasa lapar. Namun metabolit tersebut bukanlah pengatur nafsu makan yang utama, karena tidak melepaskan sinyal hormonal, metabolik dan saraf secara langsung, melainkan dengan mempengaruhi pelepasan beberapa peptida di hipotalamus (Neuropeptida Y, Agouti-related Peptide, Melanosit Stimifying Hormone, Melanin Concentrate. Hormon). Berat badan merupakan hasil kontrol saraf dan hormonal yang secara signifikan mengatur keseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi.

Sistem pengaturan yang kompleks ini diperlukan karena ketidakseimbangan kecil antara asupan dan pengeluaran energi akan berdampak signifikan terhadap berat badan6. Pengaturan keseimbangan energi ini tidak dapat dengan mudah dikendalikan dengan penghitungan kalori dan hubungannya dengan aktivitas fisik. Pengaturan berat badan cenderung lebih bergantung pada sinyal kompleks dari sistem saraf dan hormonal.

Mengganggu kestabilan berat badan dengan memberi makan berlebihan atau mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi akan merangsang perubahan. Hal ini bisa terjadi akibat rangsangan atau penghambatan yang dilakukan oleh hormon dan modulator tubuh lainnya. Namun mekanisme kompensasi seringkali gagal sehingga menyebabkan obesitas ketika jumlah makanan yang dikonsumsi meningkat dan aktivitas fisik dibatasi.

Tabel 2.6 Substansi yang mempengaruhi pusat rasa lapar dan kenyang di   Hipotalamus
Tabel 2.6 Substansi yang mempengaruhi pusat rasa lapar dan kenyang di Hipotalamus

Kerangka Pemikiran

Akibatnya rasa lapar bertahan lebih lama, dan rasa kenyang muncul lebih lambat sehingga membuat seseorang terus makan. Peningkatan asupan zat gizi makro ini diharapkan dapat meningkatkan massa tubuh sehingga berdampak pada peningkatan berat badan sehingga meningkatkan status gizi.5.

Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran Madu
Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran Madu

Hipotesis

Gambar

Tabel 2.1  Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT)
Tabel 2.2 Kategori Lingkar pinggang
Tabel 2.3. Kategori persentase lemak tubuh
Tabel 2.4 Komposisi Madu
+5

Referensi

Dokumen terkait

4 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN .... 15 BAB III SUBJEK DAN METODE PENELITIAN