• Tidak ada hasil yang ditemukan

bab ii tinjauan pustaka - Perpustakaan Poltekkes Malang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "bab ii tinjauan pustaka - Perpustakaan Poltekkes Malang"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

Pemahaman diartikan sebagai kemampuan menjelaskan dengan benar tentang objek yang diketahui dan mampu menafsirkan materi tentang objek tersebut dengan benar, yang dilakukan dengan cara menjelaskan, memberikan contoh dan sebagainya. Penerapan diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari dalam situasi dan kondisi sebenarnya. Analisis adalah kemampuan mendeskripsikan suatu bahan atau benda secara komponen-komponen, namun tetap dalam suatu struktur organisasi dan masih berkaitan satu sama lain.Kemampuan analisis ini terlihat dari penggunaan kata kerja untuk mendeskripsikan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

Sintesis adalah kemampuan untuk menempatkan atau menghubungkan bagian-bagian menjadi satu kesatuan yang baru. Dengan kata lain sintesis ini adalah kemampuan mengorganisasikan, merencanakan, merangkum, menyesuaikan dengan suatu teori atau rumusan yang ada. Minat yang tinggi akan membuat seseorang berusaha mengikuti informasi yang diterimanya agar ilmu yang diterimanya lebih mendalam.

Berbagai faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap adalah pengalaman pribadi, budaya, orang lain yang dianggap penting, media massa, lembaga atau institusi pendidikan dan keagamaan, serta faktor emosional dalam pemaknaan. Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu komponen sosial yang mempengaruhi sikap kita. Gambaran mengenai terbentuknya sikap akibat pengaruh orang-orang yang dianggap penting bagi individu antara lain dapat dilihat pada sikap anak dan remaja terhadap orang tuanya.

Indikator Sikap

Konsep Sectio caesarea .1 Pengertian Sectio caesarea

  • Indikasi Sectio caesarea
  • Kontraindikasi Sectio caesarea
  • Komplikasi Sectio caesarea
  • Jenis – jenis Sectio caesarea

Indikasi Sectio caesarea didasarkan pada indikasi ibu yaitu panggul benar-benar sempit, tumor jalan lahir menyebabkan obstruksi, stenosis serviks atau vagina, plasenta previa, disproporsi sefalopelvik, ruptur uteri berat. Secara umum Sectio Caesarea tidak dilakukan pada janin mati, syok, anemia berat dan kelainan kongenital berat (Sarwono, 2010). Operasi caesar tidak boleh dilakukan jika anak telah meninggal dalam kandungan (detak jantung anak tidak ada, ibu tidak merasakan gerak-gerik anak, USG dan doppler tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, jika anak terlalu kecil. , mampu hidup di luar kandungan, apabila anak dalam kandungan terbukti mempunyai cacat, seperti hidrosefalus atau anensefali, infeksi terjadi pada saat kehamilan).

Operasi caesar klasik atau korporal, yang dilakukan dengan sayatan memanjang pada badan rahim sekitar 10 cm. Sedangkan kerugiannya adalah infeksi mudah menyebar secara intraabdomen, karena tidak terdapat peritoneum yang baik, ruptur uteri spontan lebih sering terjadi saat melahirkan. Operasi caesar iskemik atau profundal dilakukan dengan sayatan penyempitan melintang pada segmen bawah rahim (Low Cervical Transverse) kurang lebih 10 cm.

Tergantung dari jenis sayatan pada rahim, Sectio caesarea dapat dilakukan dengan sayatan memanjang, sayatan melintang, atau sayatan T (Rachman, M, 2000).

Kajian Tentang Perawat Instrument .1 Pengertian Perawat Instrument

Persyaratan Perawat Instrumen(HIPKABI, 2014)

Tanggung jawab

Uraian Tugas Perawat Instrument(HIPKABI, 2014) 1. Sebelum pembedahan

Memberikan instrumen kepada dokter bedah secara tepat dan benar berdasarkan urutan prosedur dan kebutuhan tindakan pembedahan. Beritahukan kepada dokter bedah hasil perhitungan jumlah alat, kain kasa dan jarum sebelum operasi dimulai dan sebelum luka ditutup lapis demi lapis. Mengganti alat tenun dan tirai gaun pasien dan memindahkan pasien dari meja operasi ke brankar.

Membersihkan instrumen bekas dengan cairan yaitu pembersihan awal, perendaman dengan cairan disinfektan yang mengandung bahan pembersih, penyikatan sela-sela engsel instrumen, pembilasan dengan air mengalir, pengeringan.

Konsep Instrument Pembedahan .1 Pengertian Instrumen

Instrument operasi Sectio Cesarea dan Fungsinya

Operasi caesar memerlukan instrumen steril yang terbagi menjadi 3 yaitu gaun, instrumen, dan bahan habis pakai. satu. Berfungsi membantu mengeluarkan sisa-sisa plasenta dan menjelajahi rongga rahim untuk mencari perdarahan dan sisa-sisa plasenta untuk menekan rahim. Digunakan untuk mengiris otot yang telah diiris sedikit dengan akar no 22 dan memotong tali pusat.

Penjepitan tali pusat kemudian dilanjutkan dengan pemotongan menggunakan gunting tisu dan digunakan untuk meregangkan guna mengeluarkan plasenta. Berfungsi untuk menyerap cairan atau darah pada saat operasi dan cairan ketuban setelah kantung ketuban dibuka. Koneksi antara ujung hisap dan pompa hisap. u) Gunting Benang : 2 buah Digunakan untuk memotong benang saat berada di meja mayonaise.

Jarum bedah diperlukan untuk memasang jahitan pada jaringan, sehingga harus dirancang untuk membawa bahan jahitan melalui jaringan dengan trauma minimal. Bahan habis pakai berikut diperlukan selama operasi caesar. a) Sarung tangan (Handscoons): 4 pasang. NS merupakan cairan yang digunakan dalam pembedahan yaitu sebagai pengganti cairan yang hilang dan sebagai cairan irigasi.

Berikut syarat benang bedah yang digunakan pada operasi Sectio Cesarea yaitu 2 buah chrome 2.0, 1 buah plain 1.0, 1 buah plain 2.0, 1 buah vicryl 1.0/safil 1.0, 1 buah monosyn 3.0. Dimana semua benang bedah ini mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Berikut kebutuhan kain kasa saat operasi Sectio Cesarea yaitu kain kasa 5 lembar, kain kasa kecil 3 ikat, kain kasa besar 2 lembar. f) Sufratul dan hipavik. Ini adalah bahan yang digunakan setelah luka dijahit untuk menutup luka guna mencegah peradangan dan infeksi pada luka operasi Sectio Cesarea yaitu sufratul dan hypaavik ukuran 15cm x 20cm sebanyak 1 buah atau sesuai dengan besarnya sayatan operasi Sectio Cesarea.

Bantalan digunakan untuk mencegah tumpahan cairan pasien ke lingkungan steril di bidang bedah. Instrumen nonsteril adalah instrumen yang membantu pelaksanaan prosedur bedah dan digunakan tanpa memerlukan sterilisasi sebelumnya. Di ruang operasi, instrumen nonsteril dikendalikan oleh perawat keliling, dan perawat keliling tidak menggunakan gaun dan sarung tangan nonsteril.

Berikut peralatan nonsteril yang digunakan pada operasi caesar, seperti meja operasi, lampu operasi, mesin couter, mesin hisap, tempat sampah, fotolamp radiologi (C-arms).

Gambar 2.3 gaun dan sarung tangan operasi
Gambar 2.3 gaun dan sarung tangan operasi

Alat-alat tersebut hanya dapat digunakan bila dalam keadaan bersih dan penggunaannya tidak menyentuh langsung bidang operasi yang steril (bersih dari hama). Untuk meningkatkan hasil bedah yang positif dan untuk memastikan tidak terjadi cedera akibat instrumen tertinggal pada pasien, maka perlu dilakukan perhitungan instrumen untuk setiap prosedur. Agar perhitungan lebih efisien dan akurat, set instrumen harus distandarisasi. Setiap set harus selalu memiliki jenis dan jumlah instrumen yang sama.

Jika kit sudah terstandarisasi, maka perawat sirkuit dan instrumen dapat menghitung dengan cepat dan menghindari penundaan prosedur pembedahan (B.J. Gruendemann, 2002). Setiap instrumen bedah harus digunakan sesuai tujuannya dengan cara yang benar, dan jika digunakan atau ditangani secara tidak benar, instrumen tersebut dapat membahayakan pasien atau anggota tim bedah. Gunting tumpul dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang tidak perlu karena gunting menarik, bukan memotong, jaringan.

Bila instrumen dikeluarkan dari tangki atau pompa sirkulasi, segera pasang kembali ke tempatnya semula di dalam sistem. Jika benda dipindahkan secara tidak sengaja, waktu persiapan akan lebih lama dan dapat menunda dimulainya pengoperasian (B.J. Gruendemann, 2002). Dengan mempersiapkan hal-hal tersebut, prosedur pembedahan dapat berlangsung tanpa memerlukan banyak waktu persiapan.

Terdapat banyak waktu untuk mempersiapkan prosedur elektif, namun pengaturan yang disesuaikan dengan urutan prosedur akan meningkatkan kesiapan menghadapi situasi darurat (B.J. Gruendemann, 2002). Perawat scrubbing dan sirkulasi menghitung setiap instrumen yang dibuka untuk prosedur sebelum operasi dimulai. Sebaiknya perhitungan mengikuti lembar perhitungan set instrumen yang telah disiapkan. Lembar perhitungan dapat disterilkan dengan instrumen yang ada pada wadahnya sehingga dapat segera digunakan.

Perilaku Selama Pelaksanaan Instrumentasi Sectio Cesarea 1. Memberikan Instrumen

Meskipun sinyal ini tidak digunakan secara rutin, sinyal ini harus direspon dengan pemberian hemostat kecuali diarahkan lain oleh ahli bedah/operator. Lakukan gerakan pronasi pada tangan, lalu ibu jari berada di depan ruas distal jari tangan yang lain, lalu tekuk pergelangan tangan. Perlu ditekankan bahwa untuk mengamankan semua jenis alat tajam, perawat alat harus memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja dengan melakukan dan menciptakan kondisi dan tindakan yang aman.

Perawat akan memegang benang pada kedua ujungnya dan meletakkan bagian tengah benang pada telapak tangan dokter bedah. Cara ini menunjukkan gerakan tangan saat memegang needle holder dan memasukkan benang ke dalam tisu. Perlu diperhatikan bahwa perawat instrumen harus memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja dengan menerapkan dan menciptakan kondisi dan tindakan yang aman untuk penyediaan semua jenis instrumen tajam.

Sekiranya pakar bedah sering menggunakan instrumen tertentu, maka instrumen itu boleh diletakkan berhampiran medan steril supaya pakar bedah boleh mengambilnya tanpa bertanya.

Gambar 2.22 Isyarat Meminta Hemostat(HIPKABI,2014)  b.  Gunting
Gambar 2.22 Isyarat Meminta Hemostat(HIPKABI,2014) b. Gunting

Standart Operasional Prosedure Sectio Cesarea

Tepi klem, pinset dan gunting yang saling berhadapan serta permukaan yang terbuka harus dibersihkan. Berikan Hand Grease No. 22 (1) kepada operator untuk mengiris kulit, dan berikan kain kasa kering dan penjepit nyamuk (1) kepada asisten untuk mengatasi pendarahan. Sambil memegang tali pusar, operator mulai menggerakkan bayi II: kaki, badan, kepala, kemudian menyedot cairan yang ada di mulut dan hidung bayi serta menyekanya dengan sikat besar.

Sediakan needle holder yang dilengkapi jarum bulat besar dengan benang krom no 2 35 cm dan sepasang tang peredaran darah untuk menjahit sudut rahim. Sediakan needle holder yang dilengkapi dengan jarum bulat besar dengan benang chrome no 2 75 cm dan sepasang tang peredaran darah untuk lapisan pertama rahim. Sediakan needle holder yang dipasangi jarum bulat besar dengan benang krom nomor 2 dan sepasang tang peredaran darah untuk menjahit lapisan kedua rahim.

Sediakan kedalaman baja yang cukup (kasa kering bersih, dilipat dan diamankan dengan staples cincin) untuk mengontrol pendarahan, bila perlu, jahit rahim yang berdarah dengan krom nomor 2 dengan jarum bundar. Berikan operator tempat jarum yang dilengkapi dengan jarum bulat sedang berpotongan polos No. 2-0 dan pinset anatomi untuk menjahit lapisan retro uterus. Sediakan tempat jarum yang dilekatkan dengan benang potong polos No. 2.0 dengan jarum bulat kecil untuk menjahit peritoneum.

Sediakan tempat jarum yang dipasangi benang poliglaktin No.1/vicryl No.1/benang safil No.1 dan pinset bedah untuk menjahit fasia. Sediakan tempat jarum yang dipasang dengan benang potong polos no. 2-0 dengan jarum pemotong untuk menjahit lemak. Sediakan tempat jarum yang dilengkapi dengan benang monofilamen glikonat #3-0/sutra #2.0 yang dapat diserap, pinset bedah, gunting tisu, dan kain kasa kering untuk menjahit kulit.

Setelah luka tertutup, bersihkan luka dengan kain kasa basah dan NS, kemudian keringkan dengan kain kasa kering, oleskan kain kasa steril sesuai panjang luka, dan tutup dengan hipofisis. Perawat instrumen melakukan inventarisasi alat dan bahan habis pakai di depo farmasi, kemudian mencuci dan menata kembali alat-alat di set instrumen (yang sudah disterilkan) dan membersihkan ruangan kembali.

Hipotesis Penelitian

Kerangka Konsep

Gambar

Gambar 2.1 Operasi Sectio caesarea (https://www.operasi+sectio+caesarea)
Gambar 2.2 jenis-jenis sayatan ( https://www.sc+abdominalis&profundal)
Gambar 2.3 gaun dan sarung tangan operasi
Gambar 2.6 Gunting Jaringan(HIPKABI,2014)
+7

Referensi

Dokumen terkait

3.2 Kerangka kerja Gambar 3.1 Kerangka Kerja Penelitian “Hubungan Penatalaksanaan Luka Dengan Proses Penyembuhan Luka Pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarea di Rumah Sakit Lavalette

Pengetahuan pasien tentang mobilisasi dini pre-operasi dan post- operasi pembedahan abdomen sebelum dilakukan edukasi 43,58% Kuarangdan sesudah dilakukan edukasi 75,21% Baik 2.. Sikap

Tumpeng gizi seimbang Sumber: Kemenkes RI, 2014 Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh,

Penelitian yang dilakukan di Brazil dengan 60 responden wanita menyebutkan bahwa 92.7% lokasi nyeri pada pasien post operasi sectio terdapat pada luka operasi, nyeri yang dirasakan

Pada penelitian Widyaningrum 2014 menyatakan bahwa natrium berhubungan dengan kejadian tekanan darah tinggi karena konsumsi garam dalam jumlah yang tinggi dapat mengecilkan diameter

Lebih lanjut, menurut hasil penelitian Mulyati dalam Rahim 2014 menyatakan bahwa pendidikan gizi pada ibu dapat mengubah pengetahuan gizi dan sikap ibu, yang akhirnya dapat merubah

Lebih lanjut Azizah 2006 menyatakan bahwa pasien gagal ginjal kronis dengan kadar ureum yang tinggi, selain transplantasi ginjal, tindakan hemodialisis HD merupakan cara untuk

Gambaran pengetahuan perawat tenang pelaksanaan instrumentasi pada operasi sectio caesarea yang bekerja di Instalasi Bedah Sentral RSUD Ngudi Waluyo Wlingi memiliki tingkat pengetahuan