• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

Jumlah sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga dan sejenisnya di negara maju mencapai kg per orang per tahun. Sampah perumahan : merupakan sampah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah tangga atau lingkungan atau sering disebut dengan sampah rumah tangga. Praktis tidak ada sampah yang biasa ditemukan di negara-negara industri, seperti furniture, televisi bekas, kasur dan lain-lain.

Sampah organik merupakan sampah yang cepat terurai (cepat terurai), terutama dari sisa-sisa makanan. Sampah non-organik atau sampah yang tidak terurai biasanya terdiri dari kertas, logam, plastik, kaca, kaca dan lain-lain.

Gambar 2. Konsep Pendekatan Proaktif Timbulan Sampah Sumber: Analisa penulis 2017
Gambar 2. Konsep Pendekatan Proaktif Timbulan Sampah Sumber: Analisa penulis 2017

Pengelolaan Sampah

Kasus seperti ini bukanlah sesuatu yang baru karena telah dilakukan di banyak negara dan berhasil meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah secara signifikan. Beban pencemaran dapat dikurangi dan selanjutnya dapat membantu menjaga kelestarian lingkungan sehingga tercipta pengelolaan sampah yang berkelanjutan. PU (2013), jika konsep pengelolaan sampah terpadu diterapkan dengan strategi 3-M (Reduce, Reuse, Recycle) atau sering disebut 3R Reduce, Reuse, Recycle, maka hanya 15% sampah yang masuk ke TPA merupakan residu.

Gambar 7 menunjukkan bahwa sampah dibedakan menjadi tiga, yaitu (a) sampah anorganik seperti plastik, jenis logam dan kertas, (b) sampah organik seperti sayuran, dedaunan, (c) sampah B3. seperti baterai dan bahan kimia. Cara pandang atau paradigma baru pengelolaan sampah ini bukan lagi rangkaian yang berakhir hanya di TPA (jalan satu arah), melainkan sebuah siklus yang sesuai dengan konsep ekologi.

Gambar 6. Paradigma Lama Pengelolaan Sampah Sumber: Bintek PU, 2013
Gambar 6. Paradigma Lama Pengelolaan Sampah Sumber: Bintek PU, 2013

Partisipasi Masyarakat

Proses anaerobik yang terjadi secara alami di tempat pembuangan sampah dapat mengubah sampah organik yang dapat terbiodegradasi menjadi gas metana. Jika tidak dikelola dan dimanfaatkan, gas metana dari TPA akan terlepas ke atmosfer dan menjadi salah satu penyebab terjadinya pemanasan global. Hirarki selanjutnya adalah daur ulang sampah untuk menghasilkan produk baru (daur ulang), yang dilanjutkan dengan hierarki tingkat yang lebih tinggi yaitu penggunaan kembali sampah (reuse).

Kerjasama menurut Hoofsteede (1971) yang dikutip oleh Purbathin Hadi (2015) berarti “berpartisipasi dalam satu atau lebih tahapan suatu proses” atau ikut serta dalam satu atau lebih tahapan suatu proses, dalam hal ini proses pengelolaan sampah. 1997) Kolaborasi merupakan inti dari pendekatan pembangunan berkelanjutan yang berpusat pada masyarakat dan merupakan proses interaktif yang berkelanjutan. Prinsip kerjasama adalah keterlibatan atau partisipasi langsung terhadap masyarakat, dan hal ini hanya dapat tercapai jika masyarakat itu sendiri ikut serta sejak awal dalam proses dan penciptaan hasil. Selain itu, Purbathin Hadi (2015) berpendapat bahwa keterlibatan masyarakat secara langsung akan memberikan dampak penting, yaitu: (1) Menghindari peluang manipulasi.

Keterlibatan masyarakat akan memperjelas apa yang sebenarnya diinginkan masyarakat; (2) Memberikan nilai tambah terhadap legitimasi perumusan perencanaan karena semakin banyak jumlah pihak yang terlibat maka semakin baik; dan (3) Meningkatkan kesadaran dan keterampilan politik masyarakat. Menurut Purbathin Hadi (2015:6), partisipasi dapat diartikan secara luas sebagai “suatu bentuk keterlibatan dan partisipasi masyarakat secara aktif dan sukarela, baik karena alasan dari dalam dirinya (intrinsik) maupun dari luar dirinya (ekstrinsik) dalam keseluruhan proses. dari kegiatan yang dimaksud". Pentingnya ikut serta dalam pengelolaan sampah adalah untuk meningkatkan kesadaran bahwa sampah dihasilkan oleh masyarakat, sehingga seluruh aktivitas manusia harus berusaha meminimalkan penumpukan sampah.

Dampak Pencemaran Akibat Sampah

Berdasarkan sumbernya, sampah dibedakan menjadi sampah rumah tangga (household) dan sampah rumah tangga (non-household). Sedangkan sampah rumah tangga adalah sampah yang dihasilkan di tempat usaha, fasilitas umum, fasilitas sosial, kawasan industri. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya berupa sisa makanan, sayuran busuk, sampah kering, abu, plastik, kertas, kaleng dan sampah lainnya.

Berbagai jenis sampah yang disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari sumber sampah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Di pasar-pasar yang sehari-harinya digunakan sebagai tempat bertransaksi antara penjual dan pembeli, sampah yang dihasilkan tentu saja tidak bisa dipisahkan. Permasalahan pada sisi pengelolaan adalah kurangnya prasarana dan sarana pengelolaan sampah yang memadai, keterbatasan sumber daya manusia, ketidakpatuhan terhadap peraturan dan anggaran nasional yang kecil.

Perilaku masyarakat juga masih sulit diubah dalam pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya (Bintek PU 2013), sehingga dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan seperti pencemaran udara (bau), pencemaran air dan pencemaran tanah. Limbah domestik atau limbah padat industri yang dibuang sembarangan juga dapat menimbulkan pencemaran. Sampah yang menumpuk dan tidak segera dibuang merupakan sumber bau tidak sedap yang berdampak buruk bagi lingkungan sekitar.

Pencemaran air TPA dapat terjadi ketika fasilitas pembuangan sampah terbuka terkena hujan. Dalam pengamatannya Tri Harningsih (2013) mengatakan sampah yang dibuang sembarangan di sungai akan menghambat aliran air di sungai. Penyebab terjadinya pencemaran tanah antara lain adanya limbah yang sulit diuraikan oleh mikroorganisme dan berasal dari pemukiman penduduk.

Permodelan Kaitannya dengan Pengelolaan Sampah

Demirbas 2011) mengatakan pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, daur ulang atau pembuangan dan pemantauan sampah. Sistem pengelolaan sampah terdiri dari keseluruhan rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan penanganan, pengolahan, pembuangan atau daur ulang bahan sampah. Dalam penelitiannya (Velis et al. 2012) menyatakan bahwa pengelolaan sampah dengan cara mendaur ulang dapat mengurangi biaya pengumpulan.

Daur ulang memainkan peran penting dalam rantai mulai dari pengelolaan limbah hingga bahan mentah sekunder. Aspek organisasi pengelolaan sampah menjadi faktor peningkatan kegunaan dan efisiensi sistem pengelolaan sampah. Model operasional pengelolaan sampah yang masih mengandalkan pengumpulan dan pengangkutan sampah dapat dilihat pada gambar berikut.

Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah melalui kampanye, sosialisasi dan edukasi di bidang sampah. Strategi pengelolaan sampah yang efektif bergantung pada karakteristik sampah, variabel sosial ekonomi, budaya dan kapasitas kelembagaan (Vergara & Tchobanoglous 2012). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Surjandari dkk. 2009) tentang model dinamis pengelolaan sampah untuk mengurangi beban penumpukan.

Melihat fenomena di atas, maka diperlukan model pengelolaan sampah yang baik dan tepat untuk mewujudkan kota yang bersih dan hijau. Sementara itu, rendahnya pengetahuan, kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan lingkungan hidup bersih dan sehat. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan sampah menurut Ntikesari 2005 antara lain: (1) sosial politik, melibatkan kepedulian dan komitmen pemerintah dalam menentukan anggaran APBD untuk pengelolaan lingkungan hidup (sampah), pengambilan keputusan masyarakat dalam pengelolaan sampah dan upaya pemberian edukasi, penyuluhan dan pelatihan keterampilan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah, (2) Aspek.

Pengelolaan sampah perkotaan juga mempunyai faktor pendukung dan penghambat dalam upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah yang tidak efisien dan tidak tepat menimbulkan permasalahan pencemaran udara, tanah dan air serta berkurangnya estetika.

Gambar 9. Aspek-aspek yang mempengaruhi pengelolaan sampah Sumber: Vergara & Tchobanoglous, 2012
Gambar 9. Aspek-aspek yang mempengaruhi pengelolaan sampah Sumber: Vergara & Tchobanoglous, 2012

Pemanfaatan Teknologi Informasi

Metode Perancangan Aplikasi

Metode perancangan aplikasi yang digunakan untuk mengembangkan sistem ini adalah air terjun, yaitu model pengembangan perangkat lunak yang berurutan dimana pengembangan sistem dipandang sebagai air terjun yang mengalir melalui beberapa tahapan dalam Wartika (Jamaluddin 2016). Pola ini merupakan pola yang muncul pertama kali sekitar tahun 1970 sehingga sering dianggap kuno, namun merupakan pola yang paling banyak digunakan dalam Rekayasa Perangkat Lunak (SE). Pressman membagi model ini menjadi 6 tahap, walaupun secara garis besar sama dengan tahapan model air terjun pada umumnya.

Metode yang digunakan adalah metode Waterfall Sumber : Pressman 2004 dalam (Jamaluddin 2016) Tahapan dalam metode air terjun adalah sebagai berikut. Pemodelan ini diawali dengan mencari kebutuhan keseluruhan sistem yang akan digunakan dalam bentuk perangkat lunak. Hal ini sangat penting mengingat perangkat lunak harus dapat berinteraksi dengan elemen lain seperti perangkat keras, database dan lain sebagainya.

Proses ini digunakan untuk mengubah persyaratan di atas menjadi representasi dalam bentuk “cetak biru” perangkat lunak sebelum pengkodean dimulai. Untuk dapat dipahami oleh suatu mesin dalam hal ini komputer maka rancangan tersebut harus diubah ke dalam bentuk yang dapat dipahami oleh mesin yaitu dalam bahasa pemrograman melalui proses coding. Saat dijalankan, mungkin masih ada bug kecil yang tidak ditemukan sebelumnya, atau ada fitur tambahan yang tidak ada pada software.

Setelah dilakukan tahapan perancangan aplikasi, maka dibuatlah flow map untuk memudahkan dalam menggambarkan alur kebutuhan sistem. Membuat peta alur harus memudahkan pengguna untuk memahami alur suatu sistem atau transaksi. Arah Aliran Data Menunjukkan arah aliran dokumen antara bagian-bagian sistem penyimpanan yang terhubung.

Gambar 15. Metode Waterfall
Gambar 15. Metode Waterfall

Sistem Operasional Android

Peranan Teknologi Informasi Dalam Pengelolaan Lingkungan

Penulisan Teori Kota Cerdas (Harrison, C. dan Donnelly 2011) mengungkapkan bahwa semakin banyak jumlah penduduk maka semakin besar pula tantangan pengelolaan lingkungan, seperti masalah kemacetan dan pengelolaan sampah. Setiyo Budi, Roni Pambudi (2015:1) mengatakan, teknologi informasi penjualan sampah berbasis web merupakan suatu sistem yang menyediakan suatu negara tersedia pasar daur ulang sampah online yang dapat bermanfaat bagi tangan-tangan kreatif pengrajin daur ulang sampah yang semakin meluas. . Di website ini, seluruh penghasil sampah dapat menawarkan sisa produksinya (limbah) untuk dijual kembali. Begitu pula dengan mereka yang mendaur ulang sampah bekas dapat mencari dan memilah sampah untuk dijadikan bahan produksi yang dapat menjadikan sampah sebagai sumber pendapatan.

Umumnya para pelanggar jual beli sampah hanya bekerja dengan tangan dan saling kesulitan dalam menjual sampah dan mencari barang yang bisa didaur ulang. Jamaluddin (2016) menciptakan sistem pengelolaan sampah berbasis android melalui partisipasi masyarakat di Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Aplikasi berbasis Android tersebut bernama aplikasi Ta'Waste dan merupakan web server yang dapat membantu dan memaksimalkan pengelolaan sampah di kecamatan Rappocini dengan melaporkan permasalahan/keluhan pengangkutan sampah di wilayah sekitarnya.

Teknologi berperan penting dalam meningkatkan pengelolaan sampah, sanitasi dan kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah (Mehrotra 2015). Analisis: proyeksi akurat mengenai jumlah sampah yang dihasilkan, jenis sampah, dan identifikasi area dengan jumlah sampah tinggi memungkinkan perencanaan dan pengelolaan layanan pengelolaan sampah yang efektif. Denmark (Nygaard & Peneliti 2015) dalam tulisannya mengatakan bahwa di Denmark daur ulang sampah merupakan prioritas utama dalam pengelolaan sampah, sekitar 93 ribu ton sampah didaur ulang setiap tahunnya di tempat daur ulang.

Dansk Retursystem' adalah nama program dan organisasi nirlaba di bawah Kementerian Lingkungan Hidup Denmark. Secara terintegrasi, Dansk Returnsystem menyediakan lebih dari 4.000 mesin pengolah daur ulang otomatis yang dipasang di area publik seperti toko, supermarket, pusat perbelanjaan dan lain-lain. Masyarakat yang memiliki sampah berupa kaleng, botol, dan botol plastik dapat membawa produk kemasan bekas tersebut ke lokasi yang tersedia mesin Dansk Retursystem.

Gambar 17. Flow Chart Pemesanan Sampah Berbasis Web Sumber: Setyo Budi, 2015
Gambar 17. Flow Chart Pemesanan Sampah Berbasis Web Sumber: Setyo Budi, 2015

Gambar

Gambar 1. Posisi Manusia dan Lingkungan Sumber: Hadi, 2013:5
Gambar 2. Konsep Pendekatan Proaktif Timbulan Sampah Sumber: Analisa penulis 2017
Gambar 3. Konsep Pendekatan Reaktif Timbulan Sampah Sumber: Analisa penulis 2017
Gambar 4. Siklus Perubahan Lingkungan Sumber: Amsyari 1995 dalam Puteri.R, 2015
+7

Referensi

Dokumen terkait

All of the songs except “Ruponeso” have an introduction which is sung by the leader, who is later joined by the chorus singing its ostinato figures.. Each leader has his own unique type