• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

7 2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pengendalian Persediaan Bahan Baku A. Pengertian Pengendalian

Persediaan dapat diartikan sebagai bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk proses produksi atau perakitan, untuk dijual kembali, atau suku cadang dari suatu peralatan atau mesin (Herjanto, 2014:21). Persediaan dapat berupa bahan mentah, bahan pembantu, barang dalam proses, barang jadi ataupun suku cadang. Pengendalian persediaan produksi dapat diartikan sebagai semua aktivitas ataupun langkah- langkah yang digunakan untuk menentukan jumlah yang tepat untuk persediaan suatu item. Pengendalian persediaan juga merupakan serangkaian kebijakan pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan yang harus tersedia, kapan menambah persediaan, dan berapa besar pesanan yang harus diadakan.

B. Pengertian Persediaan

Setiap perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan produksi akan memerlukan persediaan bahan baku. Dengan tersedianya persediaan bahan baku maka diharapkan sebuah perusahaan industri maupun manufaktur dapat melakukan proses produksi sesuai kebutuhan atau permintaan konsumen. Selain itu dengan adanya persediaan bahan baku yang cukup tersedia digudang juga

(2)

diharapkan dapat memperlancar kegiatan produksi perusahaan dan dapat menghindari terjadinya kekurangan bahan baku.

Menurut Assauri (2013:169) persediaan adalah merupakan sejumlah bahan- bahan, parts yang disediakan dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi atau produk yangdisediakan untuk memenuhi permintaan dari komponen atau langganan setiap waktu. Sedangkan menurut Kusuma (2014:132) Persediaan didefinisikan sebagai barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada periode mendatang.

Fungsi persediaan menurut Rangkuti (2014:15-16) fungsi-fungsi persediaan adalah sebagai berikut :

1. Fungsi Decoupling

Apabila persediaan yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan pelanggan tanpa tergantung pada suplier. Persediaan bahan mentah diadakan agar perusahaan tidak akan sepenuhnya tergantung pada pengadaanya dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman.

2. Fungsi Economic Lot Sizing

Persediaan lot siza ini perlu mempertimbangkan penghematan atau potongan pembeliaan, biaya pengangkutan per unit menjadi lebih murah dan sebagainya. Hal ini disebabkan perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar dibandingkan biaya yang timbul karena besarnya persediaan.

(3)

3. Fungsi Antisipasi

Apabila perusahaan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan dan diramalkan berdasar penglaman atau data-data masa lalu, yaitu permintaan musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan musiman (seasonal inventories).

C. Pengertian Bahan Baku

Menurut Nasution (2013 : 103) bahan baku, yaitu yang merupakan input dari proses transformasi menjadi produk jadi. Cara membedakan apakah bahan baku termasuk bahan penolong dengan mengadakan penelusuran terhadap elemen-elemen atau bahan-bahan kedalam produk jadi. Cara pengadaan bahan baku bisa diperoleh dari sumber-sumber alam, petani atau membeli, misalnya serat diolah menjadi benang-benang.

Perusahaan perlu mengadakan persediaan bahan baku, hal ini dikarenakan bahan baku tidak bisa tersedia setiap saat. Menurut Ahyari (2012 : 150) perusahaan akan menyelenggarakan persediaan bahan baku, hal ini disebabkan oleh :

1. Bahan baku yang digunakan untuk proses produksi dalam perusahaan tidak dapat didatangkan secara satu persatu sebesar jumlah yang tidak diperlukan serta pada saat bahan tersebut dipergunakan.

2. Apabila bahan baku belum atau tidak ada sedangkan bahan baku yang dipesan belum datang maka kegiatan produksi akan berhenti karena tidak ada bahan baku untuk kegiatan proses produksi.

(4)

3. Persediaan bahan baku yang terlalu besar kemungkinan tidak menguntungkan perusahaan karena biaya penyimpanannya terlalu besar.

D. Pengertian Pengendalian Persediaan Bahan Baku

Secara umum dapat diformulasikan disini bahwa arti dari perencanaan dan pengendalian bahan baku menurut Prawirosentono (2011:79) adalah suatu kegiatan memperkirakan kebutuhan persediaan bahan baku, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Agar perusahaan dapat beroperasi seperti yang direncanakan, jadi singkatnya bahwa arti dari perencanaan dan pengendalian persediaan bahan baku, persediaan bahan setengah jadi dan persediaan barang jadi.

Secarakeseluruhan diartikan sebagai upaya menentukan besarnya tingkat persediaan dan mengendalikannya dengan efisiensi dan efektif.

Menurut Assauri (2013 :176) Pengendalian persediaan bahan baku merupakan suatu kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposisi daripada persediaan bahan baku dan barang hasil produksi sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dengan efektif dan efisien. Menurut Assauri (2013 : 177) pengendalian persediaan bahan baku bertujuan untuk :

1. Menjaga agar jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan yang dapat mengakibatkan terhentinya proses produksi.

2. Menjaga agar persediaan tidak berlebihan sehingga biaya yang ditimbulkan tidak menjadi lebih besar pula.

3. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena mengakibatkan biaya pemesanan yang tinggi.

(5)

Pengendalian persediaan merupakan serangkaian kebijakan pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan pesanan untuk menambah persediaan harus dilakukan dan berapa besar pesanan harus diadakan Pengendalian persediaan bertujuan untuk menentukan dan menjamin tersedianya persediaan yang tepat dalam kuantitas dan waktu yang tepat(Herjanto,2014 :219- 220).

E. Syarat-syarat Persediaan Bahan Baku

Untuk mengendalikan persediaan maka harus memenuhi persyaratan- persyaratan menurut Assauri (2013:176) adalah sebagai berikut :

a. Terdapat gudang yang cukup luas dan teratur dengan pengaturan tempat bahan atau barang yang tetap dan identifikasi bahan atau barang tertentu.

b. Sentralisasi kekuasaan dan tanggung jawab pada satu orang dapat dipercaya terutama penjaga gudang.

c. Suatu sistem pencatatan dan pemeriksaan atas penerimaan bahan atau barang.

d. Pengawasan mutlak atas pengeluaran bahan atau barang

e. Pencatatan yang cukup teliti yang menunjukkan jumlah yang dipesan yang dibagikan atau dikeluarkan dan yang tersedia dalam gudang

f. Pemeriksaan fisik bahan atau barang yang ada dalam persediaan secara langsung

g. Perencanaan untuk menggantikan barang-barang yang telah dikeluarkan.

Barang-barang yang telah lama dalam gudang dan barang-barang yang sudah usang dan ketinggalan zaman.

(6)

h. Pengecekan untuk menjamin dapat efektifnya kegiatan rutin.

F. Indikator Persediaan Bahan Baku

Persediaan bahan baku menurut Assauri (2013:248), Suatu kegiatan yang menentukan tingkat komposisi dari pada persediaan parts, bahan baku, dan barang hasil/produk, sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dan penjualan serta kebutuhan-kebutuhan pembelanjaan perusahaan dengan efektif dan efisien. Ada empat indikator persediaan bahan baku:

1. Kuantitas pemesanan ekonomis 2. Biaya pembelian

3. Biaya pemesanan 4. Biaya penyimpanan

2.1.2 Kelancaran Proses Produksi A. Pengertian Kelancaran

Pengertian kelancaran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002 : 633) adalah “Lancar adalah melaju dengan cepat atau bergerak maju dengan cepat.

Sedangkan kelancaran adalah keadaan lancarnya (sesuatu)pembangunan sangat bergantung pada sarana, tenaga dan biaya yang tersedia”.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bawa kelancaran merupakan suatu keadaan di mana sesuatu berjalan dengan lancar, bergerak maju dengan cepat dan sangat bergantung pada sarana, tenaga dan biaya yang tersedia, sehingga pelaksanaan yang diharapkan dapat terjamin.

(7)

B. Pengertian Proses Produksi

Produksi merupakan suatu kegiatan yang dikerjakan untuk menambah nilai guna suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan. Kegiatan menambah daya guna benda tanpa mengubahbentuknya dinamakan produksi jasa sedangkan kegiatan menambah daya guna suatu benda dengan mengubah sifat dan bentuknya dinamakan produksi barang. Produksi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai kemakmuran. Kemakmuran dapat tercapai jika tersedia barang dan jasa dalam jumlah yang mencukupi.

Proses produksi adalah proses pengolahan input menjadi output yang dimaksud adalah bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik yang diproses menjadi bahan produk selesai (Bustami dan Nurlela, 2010:3).

Menurut Yamit (2011:123) proses produksi pada hakekatnya adalah proses pengubahan (transformasi) dari bahan atau komponen (input) menjadi produk lain yang mempunyai nilai lebih tinggi atau dalam proses terjadi penambahan nilai.

Menurut Assauri (2013:35) pengertian proses produksi adalah cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang dan jasa dengan menggunakan sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan-bahan, dana) yang ada. Sedangkan menurut Ahyari (2012:3) proses produksi merupakan suatu cara, metode maupun teknik bagaimana kegiatan penciptaan faedah baru atau penambahan faedah tersebut dilaksanakan.

(8)

Menurut Assauri (2013:105-106) mengungkapkan bahwa proses produksi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:

1. Proses produksi yang terus-menerus (continuous processes)

Proses produksi yang terus-menerus adalah proses produksi yang dipersiapkan untuk memproduksi produk dalam jangka waktu yang lama/panjang, tanpa mengalami perubahan untuk jenis produk yang sama.

2. Proses produksi yang terputus-putus (intermitten processes)

Proses produksi yang terputus-putus adalah proses produksi yang menggunakan waktu yang pendek dalam persiapan peralatan untuk perubahan yang cepat guna dapat menghadapi variasi produk yang berganti-ganti.

3. Proses Intermediate

Dalam kenyataan kedua macam proses produksi diatas tidak sepenuhnya berlaku. Biasanya merupakan campuran dari keduanya. Hal ini disebabkan macam barang yang dikerjakan memang berbeda, tetapi macamnya tidak terlalu banyak dan jumlah barang setiap macam agak banyak. Proses produksi uang memiliki unsur continious dan ada pula unsur intermittennya, proses semacam ini biasanya disebut sebagai proses intermediate atau campuran.

C. Unsur-unsur Kelancaran Proses Produksi

Kelancaran proses produksi merupakan salah satu tujuan yang sangat diharapkan perusahaan terutama pada perusahaan yang melakukan kegiatan produksi. Suatu proses produksi dapat dikatakan lancar apabila proses produksi tersebut tidak mengalami hambatan dalam memproduksi suatubarang, sehingga

(9)

dapat menghasilkan produk-produk yang sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang direncanakan serta hasil dari proses produksi dapat selesai tepat pada waktunya.

Proses produksi dapat dikatakan lancar jika ditunjang oleh unsur-unsur proses produksi. Pengoperasian sistem produksi dan operasi tersebut menurut Assauri (2013 : 18) mencakup :

1) Penyusunan rencana produksi dan operasi.

Kegiatan pengoperasian sistem produksi dan operasi harus dimulai dengan penyusunan produksi dan operasi. Dalam rencana produksi dan operasi harus tercakup penetapan target produksi, scheduling, routing, dispatching, dan follow-up. Perencanaan kegiatan produksi dan operasi merupakan kegiatan awal dalam pengoperasian sistem produksi dan operasi.

2) Perencanaan dan pengendalian persediaan dan pengadaan bahan.

Kelancaran kegiatan produksi dan operasi sangat ditentukan dan kelancaran tersedianya bahan atau masukan yang dibutuhkan bagi produksi dan operasi tersebut. Kelancaran tersedianya bahan atau masukan bagiproduksi dan operasi ditentukan baik tidaknya pengadaan bahan serta rencana dan pengendalian persediaan yang dilakukan.

3) Pemeliharaan atau perawatan (maintenance) mesin dan peralatan.

Mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi dan operasi harus selalu terjamin tetap tersedia untuk dapat digunakan, sehingga dibutuhkan adanya kegiatan pemeliharaan atau perawatan mesin dan peralatan ini akan dicakup tentang penting dan penerapan dari kegiatan pemeliharaan atau

(10)

perawatan, macam macam kegiatan pemeliharaan atau perawatan, syarat- syarat bagi terlaksananya kegiatan pemeliharaan atau perawatan yang efektif dan efisien, serta proses pelaksanaan kegiatan pemeliharaan atau perawatan mesin dan peralatan.

4) Pengendalian mutu.

Terjaminnya hasil atau keluaran dari proses produksi dan operasi menentukan keberhasilan dari pengoperasian sistem produksi dan operasi. Dalam rangka ini perlu dipelajari kegiatan pengendalian mutu yang harus dilakukan agar keluaran dapat terjamin mutunya. Pembahasan yang tercakup dalam pengendalian mutu adalah maksud dan tujuan dari kegiatan pengendalian mutu, proses kegiatan perencanaan dan pengendalian mutu, peran pengendalian mutu, peran pengendalian proses dan produk dalam pengendalian mutu, teknik dan peralatan pengendalian mutu, serta pengendalian mutu secara statistik (statistical quality control).

5) Manajemen tenaga kerja (sumber daya manusia).

Pelaksanaan pengoperasian sistem produksi dan operasi ditentukan oleh kemampuan dan keterampilan para tenaga kerja atau sumber daya manusianya. Dalam pembahasan manajemen tenaga kerja atau sumber daya manusia akan mencakup pengelolaan tenaga kerja dalam produksi dan operasi, desain tugas dan pekerjaan, serta pengukuran kerja (work measurement).

(11)

Jadi dengan adanya unsur-unsur kelancaran proses produksi di atas diharapkan dapat memenuhi kuantitas produk yang diperlukan pada waktu yang tepat, sesuai dengan total biaya minimum serta sesuai dengan kualitas yang diminta oleh konsumen.

2.2 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1

Penelitian-Penelitian Terdahulu

Penulis Judul Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian

Futri, Rahmawati Dwi

(2017)

Pengaruh persediaan bahan

baku terhadap kelancaran proses produksi pada PT

Cheil Jedang Indonesia

Variabel independent:

Persediaan bahan baku

Variabel dependent:

Kelancaran Proses Produksi

Analisis Data:

Regresi

Lokasi penelitian

Terdapat hubungan yang sangat kuat antara variabel persediaan bahan baku terhadap kelancaran proses produksi pada PT Cheil Jedang Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil koefisien korelasi, yaitu sebesar 0,775.

Berdasarkan perhitungan koefisien determinasi maka didapat hasil sebesar 0,601. Hal ini menunjukkan variabel X persediaan bahan baku memberikan kontribusi pengaruh sebesar 60,1%% terhadap variabel Y kelancaran proses produksi.

Sedangkan 39,9% dipengaruhi oleh faktor lain seperti: waktu pemesanan persediaan bahan baku yang sudah ditentukan, jumlah bahan baku yang tetap dalam pemesanan yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Dini Hediani (2016)

Pengaruh Persediaan Bahan

Baku Terhadap Proses Produksi

Pada PT.

Sinjaraga Santika Sport (Triple S)

Majalengka

Variabel independent:

Persediaan bahan baku

Variabel dependent:

Kelancaran Proses Produksi

Lokasi penelitian

Hasil Penelitiannya adalah persediaan bahan baku yang rendah menyebabkan perusahaan harus melakukan antisipasi dan cadangan pada penyediaan bahan baku. Proses Produksi belum tercapai dengan maksimal. Hal ini terbukti dari target waktu yang belum tercapai. Sedangkan kualitas produk telah dipercaya

(12)

Penulis Judul Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian Analisis Data:

Regresi

oleh masyarakat dan diakui oleh dunia dalam peristiwa pertandingan bola dunia. Selain itu, terdapat pengaruh Persediaan Bahan Baku terhadap Proses Produksi pada PT. Sinjaraga Santika Sport (Triple S) sebesar 94.48% dan sisanya 5.52%

ditentukan oleh faktor faktor lain diluar penelitian yaitu absensi pegawai, kondisi keuangan, dan frekuensi pesanan dari konsumen.

Ita Nur Indah Sari (2013)

Pengendalian Jumlah Persediaan

Bahan Baku Dan Pengaruhnya

Terhadap Kelancaran Proses

Produksi (Studi Kasus pada Perusahaan Mebel

UD. Langgeng Barokah Suwawal

Mlonggo Jepara)

Variabel independent:

Persediaan bahan baku

Variabel dependent:

Kelancaran Proses Produksi

Lokasi penelitian

Analisis Data:

Deskriptif

Jumlah pembelian bahan baku yang optimal bahan baku kayu mahoni sebesar 15,84 m³ dengan total biaya persediaan sebesar Rp.

102.773.660,- persediaan pengaman yang harus disediakan oleh UD. Langgeng Barokah untuk bahan baku kayu mahoni adalah 713,262 m³. Perusahaan harus melakukan pemesanan kembali pada saat persediaan berada dititik 7,924 m³. Waktu tunggu kedatangan bahan baku kayu mahoni yang optimal adalah 5 hari sejak bahan baku dipesan hingga tiba diperusahaan. Selisih biaya persediaan bahan baku setelah menggunakan metode EOQ sebesar Rp. 5.513.397,-. Hal ini dibuktikan dari total persediaan menggunakan metode EOQ sebesar Rp. 102.773.660,- sedangkan total biaya persediaan bahan baku menggunakan metode perusahaan sebesar Rp.

108.287.057,-.

A. Keterkaitan Antar Variabel

Hubungan antar variabel merupakan hal penting dalam menentukan hubungan variabel bebas dan variabel terikat serta menunjukkan arah hubungan antar variabevariabel tersebut, variabel yang digunakan peneliti adalah

(13)

pengendalian persediaan bahan baku sebagai variabel bebas dan kelancaran proses produksi sebagai variabel terikat.

Perencanaan dan pengendalian bahan baku mempunyai peranan yang sangat penting didalam perusahaan, karena dengan diadakannya perencanaan bahan baku yang tepat maka diharapkan akan menjamin adanya persediaan bahan baku yang selalu ada dan siap untuk diproduksi, sehingga tidak terjadi kekurangan atau kehabisan bahan baku yang nantinya dapat menghambat proses produksi.

Oleh karena itu bagian produksi mempunyai kepentingan terhadap persediaan bahan baku dan persediaan dalam proses yang lebih menyukai adanya jumlah yang cukup dari persediaan- persediaan tersebut yang nantinya dapat digunakan untuk kelancaran proses produksi (Fadli, 2015:30). Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Futri (2017) yang menunjukkan bahwa persediaan bahan naku berpengaruh terhadap kelancaran proses produksi.

Penelitian yang dilakukan oleh Hediani (2016) menunjukkan bahwa persediaan bahan baku berpengaruh terhadap proses produksi.

2.3 Kerangka Pemikiran

Persediaan bahan baku sangatlah penting demi kelancaran proses produksi.

Persediaan merupakan sejumlah bahan-bahan, parts yang disediakan dan bahan- bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi/produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari komponen atau langganan setiap waktu. Pihak perusahaan harus mengetahui jumlah persediaan bahan baku yang dibutuhkan dan ketepatan dalam pengadaan

(14)

bahan baku yang diperlukan serta persediaan pengaman dari bahan baku yang ada maka proses produksi berjalan secara normal.

Dikarenakan bahan baku merupakan unsur produksi yang sangat penting maka keberadaan persediaan bahan baku harus diperhatikan. Tidak boleh berlebih dan berkurang. Sebab, dengan persediaan bahan baku yang berlebih menimbulkan biaya yang besar yang dalam hal ini akan mengurangi labaperusahaan. Begitu juga dengan persediaan bahan baku yang kurang selain akan menghambat proses produksi juga kemungkinan akan menimbulkan biaya pembelian bahan akan membesar. Dikarenakan pembelian tidak dilakukan secara normal yaitu lebih mahal dari harga normalnya. Sehingga, hal ini juga akan menimbulkan biaya yang lebih besar dan mengurangi laba perusahaan, maka proses produksi tidak akan berjalan dengan baik.

Pada dasarnya perusahaan yang bergerak di bidang produksi terutama yang bersifat terus-menerus (continously), membutuhkan persediaan bahan baku yang besar dan selalu tersedia pula setiap saaat. Hal ini dikarenakan perusahaan tidak akan mampu memprediksi jumlah pesanan yang akan datang dari konsumen, baik itu dalam jumlah kecil maupun jumlah yang besar. Demi terciptanya suatu kelancaran proses produksi, perusahaan sebaiknya lebih memperhatikan ketersediaan bahan bakunya, sehingga apabila terdapat pesanan dari konsumen dalam jumlah yang besar, maka proses produksi perusahaan tidak akan terhambat serta akan menunjang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Futri (2017), Hendiani (2016) dan Indah Sari (2013) yang menunjukkan hasil bahwa

(15)

pengendalian persediaan bahan baku terhadap kelancaran proses produksi. Namun terdapat perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Indah Sari (2013) yaitu metode penelitian yang dilakukannya dimana penelitian ini menggunakan metode analisis regresi sederhana sedangkan penelitian tersebut menggunakan analisis deskriptif.

Kerangka pemikiran merupakan model konsepetual tentang bagaimana landasan teori yang telah dijabarkan berhubungan secara logis dengan berbagai faktor yang diidentifikasi sebagai masalah yang penting (Sekaran, 2012:37).

Sebuah model yang baik dapat menjelaskan hubungan antar variabel penelitian, yakni variabel independen yang variabel dependen (Ferdinand, 2012:68). Berikut kerangaka pemikiran yang disusun dalam penelitian ini:

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Pengendalian

Persediaan Bahan Baku (X)

Indikator:

1. Kuantitas pemesanan ekonomis

2. Biaya pembelian 3. Biaya pemesanan 4. Biaya penyimpanan

(Assauri, 2013:248)

Kelancaran Proses Produksi (Y) Indikator

1) Penyusunan rencana produksi dan operasi.

2)Perencanaan dan

pengendalian persediaan dan pengadaan bahan.

3) Pemeliharaan atau perawatan (maintenance) mesin dan peralatan.

4) Pengendalian mutu.

5)Manajemen tenaga kerja (sumber daya manusia).

(Assauri, 2013 : 18)

(16)

2.4 Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban sementara dari rumusan masalah, Erlina (2013:49), mengatakan hipotesis adalah proposisi yang dirumuskan dengan maksud untuk diuji secara empiris. Berdasarkan teoritis serta kerangka konseptual yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

“Terdapat pengaruh pengendalian persediaan bahan baku terhadap kelancaran proses produksi di PT. Meprofarm.”

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan komposisi asupan protein nabati dan protein hewani terhadap kadar urem dan kreatinin pasien penyakit ginjal kronik yang

SIMULATION OF INTEGRATED ROTARY PARKING SYSTEM USING V-REP Page 120 of 124 REFERENCES [1] Pateh, "Parking Automatyczny," [Online].. Available: