34 2.1 Return on Assets (ROA)
2.1.1 Definisi Aset
Aset merupakan kekayaan yang dipunya suatu perusahaan dan dipakai dalam rangka mencapai tujuan umum perusahaan (Rudianto, 2012). Menurut Martani (2012) aset merupakan suatu sumber daya yang dikelola oleh entitas atau perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lampau dan diharapkan dapat memberi manfaat ekonomi di masa depan bagi perusahaan.
Menurut Munawir (2012), aset merupakan alat atau sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi yang dapat menunjang perusahaan dalam harga perolehannya dan aset wajib diukur secara objektif atau dengan kata lain, artinya aset adalah sesuatu yang bernilai ekonomis dan dapat dimanfaatkan oleh perusahaan untuk kepentingan tertentu.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwa aset merupakan seluruh sumber daya atau jumlah kekayaan suatu perusahaan baik dalam bentuk uang atau wujud nyata lainnya yang dapat dimanfaatkan perusahaan untuk kepentingan tertentu dan dalam rangka mencapai tujuan umum perusahaan serta diharapkan dapat memberikan keuntungan di masa yang akan datang.
2.1.2 Definisi Return on Assets (ROA)
Return on Assets (ROA) merupakan rasio yang dipakai untuk memperlihatkan kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memakai total aset yang dimiliki (Kasmir, 2015). Menurut Hery (2017), rasio Return on Assets (ROA) merupakan rasio yang dipakai untuk menghitung berapa banyak laba bersih yang akan diperoleh oleh sebuah perusahaan dari setiap rupiah dana yang telah tertanamkan pada total aset.
Adapun pendapat lain mengatakan bahwa Return on Assets (ROA) merupakan salah satu dari jenis rasio profitabilitas yang memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang telah digunakan oleh perusahaan (Almira & Wiagustini, 2020).
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Return on Assets (ROA) merupakan salah satu dari jenis rasio profitabiltas yang berguna untuk mengukur kemampuan suatu perusahaaan dalam menghasilkan laba dari jumlah aset yang telah ditanamkan oleh perusahaan.
Rumus untuk mencari Return on Assets adalah (Harmono, 2011) :
Return on Assets (ROA) = Laba Bersih x 100 Total Aktiva
2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return on Assets (ROA)
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi besarnya Return on Assets (ROA) (Munawir, 2012), diantaranya adalah :
a) Tingkat perputaran aktiva yang dipakai untuk aktivitas operasional.
b) Profit margin, yaitu besarnya laba operasi dalam persentase dan jumlah penjualan bersih.
Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi Return on Assets (ROA) adalah tingkat perputaran aktiva yang dipakai untuk aktivitas operasional perusahaan dan ada beberapa aktiva yang selalu dipakai pada operasional perusahaan atau yang biasa disebut dengan modal kerja. Menurut Kasmir (2015), modal kerja merupakan investasi yang ditanamkan dalam aktiva lancar atau aktiva jangka pendek, seperti kas, piutang dan persediaan dan lain sebagainya. Didukung dengan poin kedua dari pendapat Munawir bahwa Return on Assets (ROA) dipengaruhi oleh profit margin. Profit margin sendiri berkaitan dengan indikator dari perhitungan perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran persediaan.
2.1.4 Indikator Return on Assets (ROA) yang baik
Indikator Return on Assets (ROA) merupakan perbandingan antara laba bersih dibagi total aset (Harmono, 2011). jika Return on Assets (ROA) bernilai negatif artinya total aset yang digunakan tidak menghasilkan keuntungan dan ditinjau dari nilai standar Return on
Assets (ROA) yang baik yaitu harus di atas 5,98%, jika nilai tersebut di atas 5,98% berarti nilai Return on Assets (ROA) dapat dikategorikan baik, dan sebaliknya jika nilai Return on Assets (ROA) berada di bawah 5,98% berarti nilai Return on Assets (ROA) tersebut dapat dikategorikan tidak baik (Saefullah et al., 2018).
Dari penjelasan dan beberapa pendapat para ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwa indikator Return on Assets (ROA) yang baik dan sehat bagi sebuah perusahaan ialah Return on Assets (ROA) yang menghasilkan angka positif dan berada di >5,98%, karena dengan begitu artinya perusahaan telah memperoleh keuntungan.
2.2 Perputaran Kas 2.2.1 Kas
Kas merupakan suatu alat pembayaran yang dimiliki perusahaan dan dapat digunakan untuk aktivitas transaksi perusahaan ketika sedang dibutuhkan (Rudianto, 2012). Menurut Purwaji (2017), kas merupakan alat tukar atau alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan untuk membayar biaya kegiatan-kegiatan umum yang ada dalam sebuah perusahaan.
Menurut Martani (2012), kas merupakan aset keuangan yang dapat dipakai untuk kegiatan operasional di dalam suatu perusahaan.
Kas merupakan aset yang paling liquid karena dapat digunakan untuk membayar kewajiban perusahaan dan pada unsur modal kerja, kas mempunyai nilai likuiditas tertinggi.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kas merupakan suatu alat tukar atau alat pembayaran yang dapat digunakan kapanpun dan merupakan komponen dari aset lancar yang paling liquid dan paling dibutuhkan perusahaan untuk membayar berbagai kebutuhan-kebutuhan yang ada pada sebuah perusahaan.
2.2.2 Definisi Perputaran Kas
Perputaran kas merupakan periode berputarnya kas dimulai saat kas diinvestasikan pada komponen modal kerja hingga menjadi kas-kas sebagai unsur modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya (Menuh, 2011). Menurut Sutrisno (2012), perputaran kas merupakan sejumlah kas yang bergerak pada suatu perusahaan dalam satu periode.
Menurut Kasmir (2015), perputaran kas merupakan periode rasio yang dipakai untuk mengukur atau menghitung tingkat ketersediaan kas pada perusahaan untuk membayar biaya-biaya tagihan yang ada pada perusahaan seperti utang dan juga biaya-biaya yang berkaitan dengan penjualan.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa perputaran kas merupakan jumlah berputarnya kas dalam suatu periode tertentu, dimulai dari kas diinvestasikan sampai kas kembali menjadi unsur modal kerja dan dipakai untuk mengukur tingkat ketersediaan kas pada perusahaan dalam membayar biaya tagihan dan biaya-biaya yang berkaitan dengan penjualan.
Rumus untuk mencari perputaran kas (Sartono, 2011) adalah : Perputaran Kas = Penjualan Bersih
Rata-Rata Kas
2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perputaran Kas
Faktor-faktor yang mempengaruhi perputaran kas dapat dilihat melalui penerimaan dan pengeluaran kas. Perubahan yang dapat menambah atau mengurangi kas dan dikatakan sebagai sumber penerimaan dan pengeluaran kas (Riyanto, 2011), diantaranya adalah :
a) Bertambah atau berkurangnya aset lancar selain kas
Bertambahnya aset lancar selain kas dapat terjadi ketika perusahaan melakukan pembelian barang dan pembelian barang tersebut akan memerlukan dana dari kas. Adapun berkurangnya aset lancar selain kas dapat terjadi akibat adanya transaksi penjualan barang dan hasil penjualan tersebut akan masuk ke dalam saldo kas.
b) Bertambah atau berkurangnya aset tetap
Bertambahnya aset tetap bisa terjadi karena adanya pembelian aset tetap dengan menggunakan saldo kas. Akibat dari penggunaan saldo tersebut akan mengurangi jumlah kas perusahaan. Adapun berkurangnya aset tetap artinya sebagian dari aset tetap tersebut terjual dan hasil penjualannya akan menambah saldo kas perusahaan.
c) Bertambah atau berkurangnya setiap utang
Bertambahnya utang jangka pendek maupun jangka panjang berarti adanya tambahan aset yang diterima oleh perusahaan. Adapun berkurangnya utang jangka pendek maupun jangka panjang artinya perusahaan telah melunasi utangnya menggunakan saldo kas.
Dengan begitu, telah terjadi pengurangan jumlah saldo kas pada perusahaan.
d) Bertambah dan berkurangnya modal
Adanya tambahan modal akan menambah jumlah saldo kas perusahaan. Bertambahnya modal dapat disebabkan oleh adanya emisi saham baru, hasil penjualan saham baru ataupun tambahan modal dari pemilik usaha. Adapun berkurangnya modal dapat terjadi apabila pemilik perusahaan mengambil kembali atau mengurangi modal yang ditanam dalam perusahaan sehingga menyebabkan jumlah kas akan berkurang.
e) Keuntungan atau kerugian perusahaan
Jika suatu perusahaan memperoleh keuntungan artinya terjadi penambahan pada saldo kas perusahaan. Adapun kerugian perusahaan dapat mengakibatkan jumlah saldo kas berkurang karena perusahaan perlu menutup kerugian tersebut menggunakan saldo kas. Dengan kata lain, pengeluaran kas akan bertambah dan menyebabkan ketersediaan kas menjadi berkurang
2.2.4 Indikator Perputaran Kas yang baik
Indikator perputaran kas adalah perbandingan antara penjualan bersih dengan jumlah rata-rata kas (Sartono, 2015). Melalui perhitungan perputaran kas maka akan diketahui seberapa jauh tingkat efisiensi yang dapat dicapai perusahaan dalam upaya memanfaatkan persediaan kas yang ada. Menurut Riyanto (2011), jika suatu perusahaan memiliki tingkat perputaran kas yang tinggi maka akan semakin baik untuk perusahaan, karena artinya perusahaan telah menggunakan kas secara efisien dan keuntungan yang didapat akan semakin besar, sedangkan jika suatu perusahaan memiliki tingkat perputaran kas yang rendah maka akan menyebabkan ketidakoptimalan yang dapat mengurangi keuntungan perusahaan.
Berdasarkan penjelasan dan pendapat para ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwa indikator perputaran kas yang baik adalah jika suatu perusahaan memiliki tingkat perputaran kas yang tinggi, karena tingginya tingkat perputaran kas mengindikasikan bahwa kas akan semakin cepat kembali masuk pada perusahaan.
2.3 Perputaran Piutang 2.3.1 Piutang
Piutang merupakan tuntutan uang, barang atau jasa kepada pelanggan atau suatu pihak (Kieso, 2012). Menurut Martani (2012), piutang merupakan tuntutan atau klaim suatu perusahaan kepada pihak lain. Hampir semua perusahaan memiliki piutang kepada pihak lain
yang berkaitan dengan transaksi penjualan atau pendapatan serta transaksi lainnya.
Adapun menurut Hery (2017), piutang merupakan sejumlah tagihan atau klaim yang akan diterima atau didapatkan oleh perusahaan, yang pada umumnya berbentuk kas dari pihak lain, piutang tersebut terdiri dari piutang usaha yang timbul dari penjualan barang atau jasa, secara kredit, piutang wesel dan piutang lain-lain.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa piutang merupakan tuntutan atau klaim berupa uang, barang ataupun jasa yang dijual kepada individu ataupun suatu perusahaan secara kredit dan pembayarannya dilakukan dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak.
2.3.2 Definisi Perputaran Piutang
Perputaran piutang merupakan alat yang dipakai untuk memperkirakan berapa lama penagihan piutang dalam satu periode (Kasmir, 2015). Menurut Hery (2017), perputaran piutang merupakan rasio yang dipakai untuk memperkirakan berapa lama periode penagihan piutang selama suatu periode.
Perputaran piutang merupakan suatu rasio yang mengukur keefektifitasan pengelolaan piutang. Semakin cepat perputaran piutang maka semakin efektif perusahaan dalam mengelola piutangnya, sedangkan semakin lama tingkat perputaran piutang maka semakin
tidak efektif pengelolaan piutang pada perusahaan tersebut (Sutrisno, 2012).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa perputaran piutang merupakan tingkat waktu atau berapa kali waktu piutang berputar yang dihitung pada suatu periode tertentu dan bertujuan memperlihatkan kemampuan suatu perusahaan dalam mengelola dan menagih piutang tersebut.
Rumus untuk mencari perputaran piutang (Riyanto, 2011) adalah :
Perputaran Piutang = Penjualan Bersih Rata-Rata Piutang
2.3.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perputaran Piutang
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perputaran piutang (Riyanto, 2011), diantaranya adalah :
a) Kapasitas penjualan kredit
Semakin besar kapasitas penjualan kredit maka akan memperbesar jumlah investasi pada piutang. Dengan besarnya kapasitas kredit setiap tahunnya artinya perusahaan tersebut harus menyuplai investasi yang lebih besar lagi dalam piutang.
b) Kualifikasi pembayaran kredit
Kualifikasi pembayaran kredit dapat dibuat secara ketat guna menghindari risiko terjadinya kredit macet. Saat suatu perusahaan menentukan kualifikasi pembayaran yang ketat artinya perusahaan
lebih memprioritaskan keselamatan kredit daripada pertimbangan daya labanya.
c) Ketetapan tentang pembatasan kredit
Ketetapan tentang pembatasan kredit dapat berupa penetapan batas maksimal jumlah kredit yang diberikan kepada para calon kreditur.
d) Strategi dalam mengumpulkan piutang
Strategi dalam mengumpulkan piutang merupakan cara yang ditempuh perusahaan dalam mengumpulkan piutang baik secara aktif maupun pasif. Biasanya diperlukan sejumlah biaya yang lebih besar untuk aktivitas pengumpulan piutang yang dilakukan secara aktif.
e) Kebiasaan membayar dari para pelanggan
Terdapat beberapa pelanggan yang memiliki kebiasaan untuk membayar dengan memakai peluang cash discount. Pelanggan yang memilih membayar dengan memakai peluang cash discount akan memiliki efek pada besarnya investasi dalam piutang
2.3.4 Indikator Perputaran Piutang yang baik
Indikator perputaran piutang adalah penjualan bersih dibagi rata- rata piutang (Riyanto, 2011). Tingkat perputaran piutang yang tinggi akan berdampak baik pada perusahaan, karena semakin tinggi rasio perputaran piutang maka artinya semakin efisien piutang tersebut atau semakin cepat piutang dibayar efisien (Prastowo, 2011), sedangkan perputaran piutang yang rendah artinya efisiensi penagihan semakin
buruk selama periode itu karena lamanya penagihan dilakukan (Soemarso, 2011).
Berdasarkan penjelasan dan pendapat para ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwa indikator perputaran piutang yang baik adalah ketika tingkat perputaran piutang bernilai tinggi, karena tingkat perputaran piutang yang tinggi mengindikasikan bahwa modal usaha akan semakin cepat untuk kembali pada perusahaan.
2.4 Perputaran Persediaan 2.4.1 Persediaan
Persediaan merupakan salah satu bagian dari aktiva lancar yang memiliki jumlah cukup besar dalam suatu perusahaan (Sartono, 2011).
Persediaan merupakan salah satu aset yang sangat penting bagi suatu perusahaan, dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa (Martani, 2012).
Persediaan merupakan stock bahan baku yang dipakai untuk menunjang produksi suatu perusahaan atau untuk memuaskan keinginan dari setiap pelanggan perusahaan. Atau dengan kata lain, persediaan merupakan bahan yang dipakai untuk operasional atau jalannya sebuah produksi perusahaan dan berguna untuk meningkatkan rasa puas terhadap permintaan pelanggan (Zulfikarijah, 2011).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa persediaan merupakan salah satu komponen dari aset lancar berupa barang ataupun perlengkapan yang bertujuan untuk menopang aktivitas
operasional perusahaan atau jalannya sebuah produksi perusahaan dan berguna untuk meningkatkan rasa puas terhadap permintaan pelanggan.
2.4.2 Definisi Perputaran Persediaaan
Perputaran persediaan merupakan rasio yang dipakai untuk mengukur berapa kali dana yang diinvestasikan dalam persediaan berputar pada suatu periode (Kasmir, 2015). Rasio perputaran persediaan menunjukkan efisiensi perusahaan dalam menangani dan mengelola persediannya. Rasio ini mengindikasikan berapa kali persediaan barang dagangan diganti dalam satu periode (Murhadi, 2013).
Menurut Hery (2017), perputaran persediaan merupakan suatu rasio yang dipakai untuk memperkirakan berapa kali modal yang telah tertanam pada persediaan akan bergerak dalam satu periode atau berapa lama persediaan berada di dalam gudang sampai akhirnya barang tersebut terjual kepada konsumen.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perputaran persediaan merupakan jumlah berapa kali modal yang tertanam pada persediaan bergerak dalam satu periode tertentu dan dihitung untuk memperlihatkan efisiensi perusahaan dalam menangani dan mengelola persediaannya.
Rumus untuk mencari perputaran persediaan (Harahap, 2013) adalah :
Perputaran Persediaan = Penjualan Bersih Rata-Rata Persediaan
2.4.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perputaran Persediaan
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perputaran persediaan (Jumingan, 2011), diantaranya adalah :
a) Tingkat penjualan
Jika perusahaan memiliki jumlah penjualan yang semakin tinggi artinya tingkat perputaran semakin tinggi, sedangkan jika penjualan suatu perusahaan semakin rendah maka tingkat perputaran juga akan semakin rendah.
b) Waktu proses produksi
Semakin lama waktu proses produksi maka perputaran persediaan akan semakin kecil, sedangkan jika waktu proses produksi semakin cepat maka perputaran persediaan akan semakin tinggi.
c) Daya tahan produk akhir
Apabila daya tahan produk akhir semakin kuat maka perputaran persediaannya akan semakin kecil, sedangkan jika daya tahan produk akhir semakin lemah maka perputaran persediaannya akan semakin tinggi.
2.4.4 Indikator Perputaran Persediaan yang baik
Indikator perputaran persediaan adalah penjualan bersih dibagi dengan rata-rata persediaan (Harahap, 2013). Apabila tingkat perputaran persediaan semakin tinggi maka diperkirakan semakin besar peluang perusahaan untuk mendapatkan laba, sedangkan tingkat
perputaran persediaan yang rendah mengindikasikan bahwa semakin kecil peluang perusahaan mendapatkan laba (Raharjaputra, 2011).
Berdasarkan penjelasan dan pendapat para ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwa indikator perputaran persediaan yang baik adalah ketika kondisi perusahaan mempunyai tingkat yang tinggi, karena tingkat perputaran persediaan yang tinggi mengindikasikan bahwa semakin besar peluang perusahaan dalam mendapatkan laba.
2.5 Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa peneliti yang telah melakukan penelitian dengan judul yang hampir serupa dengan yang penulis teliti. Beberapa diantaranya menguji pengaruh perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran persediaan dan mempunyai hasil penelitian yang beragam. Ada beberapa penelitian yang memiliki variabel X dan Y yang sama dengan yang penulis teliti, hanya saja berbeda pada objek penelitiannya. Berikut ini adalah beberapa penelitian terdahulu terkait dengan judul yang penulis ambil, dapat dilihat pada tabel 2.1 sebagai berikut :
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 1 (Lindung
Bulan, 2015)
Pengaruh Modal Kerja Terhadap Tingkat Profitabilitas pada PT Adira Dinamika Multi
Hasil uji secara parsial menunjukkan bahwa modal kerja (perputaran kas, perputaran piutang
Finance Tbk dan perputaran persediaan) memiliki pengaruh terhadap profitabilitas.
2 (Saragih &
Saragih, 2018)
Pengaruh Perputaran Kas, Perputaran Piutang dan Perputaran
Persediaan Terhadap Return on Assets pada Perusahaan Sektor Industri Dasar dan Kimia yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji secara parsial menunjukkan bahwa perputaran kas
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA, perputaran piutang berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA dan perputaran
persediaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA, sedangkan hasil uji simultan menunjukkan bahwa perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran persediaan berpengaruh signifikan terhadap ROA.
3 (Okiawan, 2018)
Pengaruh Perputaran Kas, Perputaran Piutang dan Perputaran
Persediaan Terhadap Profitabilitas Sektor Industri Dasar dan Kimia Yang Terdaftar Pada Bursa Efek Indonesia Tahun 2017
Hasil uji parsial menunjukkan bahwa perputaran kas
berpengaruh terhadap profitabilitas, perputaran piutang berpengaruh negatif terhadap profitabilitas dan perputaran persediaan berpengaruh terhadap profitabilitas.
4 (Gustriyana &
Nurhasanah, 2017)
Pengaruh Perputaran Kas, Perputaran Piutang dan Perputaran
Persediaan Terhadap Profitabilitas (Return On Asset) (Studi Pada Perusahaan Property dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji parsial menunjukkan bahwa perputaran kas
berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas ROA, perputaran piutang dan perputaran
persediaan tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas ROA, sedangkan hasil uji simultan menunjukkan
bahwa perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran persediaan berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas ROA.
5 (Marni, 2015) Pengaruh Tingkat Perputaran Kas,
Perputaran Piutang dan Perputaran Persediaan Terhadap Profabilitas pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji parsial menunjukkan bahwa perputaran kas tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA,
perputaran piutang tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA dan perputaran persediaan tidak berpengaruh
signifikan terhadap ROA.
6 (Wajo, 2021) Effect Of Cash Turnover, Receivable Turnover, Inventory Turnover and Growth Opportunity On Profitability
Hasil uji parsial menunjukkan bahwa perputaran kas
berpengaruh signifikan terhadap ROA,
perputaran piutang secara
parsial berpengaruh signifikan terhadap ROA, perputaran persediaan secara parsial
berpengaruh signifikan terhadap ROA, peluang pertumbuhan secara parsial tidak berpengaruh terhadap ROA,
sedangkan secara
simultan perputaran kas, perputaran piutang, perputaran persediaan dan peluang
pertumbuhan
berpengaruh terhadap ROA.
7 (Sriaminah &
Winarto, 2021)
Pengaruh Perputaran Kas, Perputaran Piutang dan Perputaran
Persediaan Terhadap Profitabilitas (Studi Kasus pada Perusahaan
Hasil uji secara parsial menunjukkan bahwa perputaran kas dan perputaran persediaan berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas,
Manufaktur Subsektor Kimia yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2018
dan perputaran piutang tidak berpengaruh terhadap profitabilitas, sedangkan hasil uji simultan menunjukkan bahwa perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran persediaan berpengaruh signifikan terhadap ROA.
8 (Wahyuniawati
& Adi, 2019)
Pengaruh Pertumbuhan Penjualan, Perputaran Kas, Perputaran
Piutang, dan Perputaran Persediaan Terhadap Profitabilitas pada Perusahaan Subsektor Makanan & Minuman di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji secara parsial menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan, perputaran kas dan perputaran persediaan berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas, dan perputaran piutang tidak berpengaruh terhadap profitabilitas, sedangkan hasil uji simultan menunjukkan bahwa pertumbuhan
penjualan, perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran
persediaan berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.
9 (Daryanto &
Rachmanto, 2018)
The Effect of Working Capital Turnover and Receivable Turnover on Profitability : Case Study on PT Merck Tbk
Hasil uji uji simultan
menunjukkan bahwa perputaran piutang dan perputaran persediaan tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas perusahaan.
10 (Garba et al., 2020)
The Effect of Inventory Turnover Period on the Profitability of Listed Nigerian Conglomerate Companies
Perputaran persediaan mempengaruhi
profitabilitas perusahaan konglomerat Nigeria.
2.6 Pengembangan Hipotesis
Return on Assets (ROA) merupakan rasio yang sangat berguna untuk mengevaluasi kinerja manajemen perusahaan dalam mendapatkan laba secara menyeluruh (Sawir, 2011). Dengan kata lain Return on Assets (ROA) dapat dipakai untuk mengevaluasi apakah pihak manajemen telah mendapatkan imbalan yang sesuai berdasarkan aset yang sudah dimilikinya. Ada beberapa faktor yang diperkirakan dapat mempengaruhi Return on Assets (ROA), diantaranya adalah rasio perputaran kas, perputaran piutang serta perputaran persediaan. Berikut adalah penjelasan hipotesisnya :
2.6.1 Pengaruh Perputaran Kas terhadap Return on Assets (ROA)
Kas merupakan suatu alat pembayaran yang dimiliki perusahaan dan dapat digunakan untuk aktivitas transaksi perusahaan ketika sedang dibutuhkan (Rudianto, 2012). Adapun, perputaran kas merupakan perbandingan antara jumlah penjualan dan jumlah kas rata-rata yang berguna untuk menghitung tingkat kecukupan modal kerja pada suatu perusahaan yang diperlukan untuk membayar tagihan-tagihan perusahaan dan juga membiayai penjualan (Kasmir, 2015). Semakin tinggi tingkat perputaran kas artinya semakin cepat kas bergerak pada suatu periode dan semakin baik pula kinerja keuangan perusahaan (Hidayat & Parlindungan, 2018). Kas yang bergerak semakin cepat pada satu periode tersebut akan berpengaruh terhadap pengembalian aset (Return on Assets) berupa kas, dengan waktu yang lebih cepat. Waktu pengembalian kas yang cepat ini akan mengoptimalkan kinerja sebuah
perusahaan karena dapat mendukung kegiatan operasional perusahaan secara maksimal untuk membiayai hal-hal yang berkaitan dengan penjualan dan membayar tagihan atau utang, sedangkan tingkat perputaran kas yang rendah artinya proses pergerakan modal kerja berupa kas terjadi pada waktu yang lama. Tingkat perputaran kas yang rendah tersebut mengindikasikan bahwa semakin lama kas tersebut kembali pada perusahaan dan tingkat perputaran kas yang rendah akan menyebabkan ketidakoptimalan pada perusahaan (Riyanto, 2011).
Dugaan di atas didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Sijabat & Sijabat (2021) yang mengatakan bahwa perputaran kas berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Assets (ROA).
Berdasarkan uraian di atas mendukung hipotesis penulis tentang perputaran kas terhadap Return on Assets (ROA).
H1 : Perputaran kas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return on Assets (ROA)
2.6.2 Pengaruh Perputaran Piutang terhadap Return on Assets (ROA) Piutang merupakan tuntutan atau klaim suatu perusahaan kepada pihak lain (Martani, 2012). Adapun, perputaran piutang adalah rasio yang dipakai untuk mengukur berapa kali dana yang diinvestasikan dalam piutang usaha akan berputar dalam satu periode (Hery, 2017).
Semakin tinggi rasio perputaran piutang artinya semakin cepat piutang bergerak dalam satu periode dan tingkat perputaran piutang yang tinggi akan berdampak baik pada perusahaan, karena semakin tinggi rasio
perputaran piutang maka artinya semakin efisien piutang tersebut atau semakin cepat piutang dibayar efisien (Prastowo, 2011). Perputaran piutang yang tinggi ini menunjukkan bahwa dana yang terinvestasi dalam piutang semakin kecil dan akan berpengaruh terhadap pengembalian aset (Return on Assets) berupa piutang dalam bentuk kas dengan waktu yang lebih cepat. Waktu pengembalian piutang yang cepat ini akan mengoptimalkan kinerja sebuah perusahaan karena dapat mendukung kegiatan operasional perusahaan secara maksimal, sedangkan tingkat perputaran piutang yang rendah artinya efisiensi penagihan semakin buruk selama periode itu karena lamanya penagihan dilakukan (Soemarso, 2011).
Dugaan di atas didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Saragih & Saragih (2018) mengatakan bahwa perputaran piutang berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Assets (ROA).
Berdasarkan uraian di atas mendukung hipotesis penulis tentang perputaran piutang terhadap Return on Assets (ROA).
H2 : Perputaran piutang berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return on Assets (ROA)
2.6.3 Pengaruh Perputaran Persediaan terhadap Return on Assets (ROA) Persediaan merupakan salah satu aset yang sangat penting bagi suatu perusahaan, dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa (Martani, 2012).
Perputaran persediaan merupakan rasio yang dipakai untuk mengukur
berapa kali dana yang diinvestasikan dalam persediaan berputar pada suatu periode (Kasmir, 2015). Semakin tinggi rasio perputaran persediaan artinya semakin cepat persediaan bergerak dalam satu periode. Perputaran persediaan yang tinggi ini menunjukkan bahwa perusahaan dapat dengan cepat menjual produknya dan hal tersebut akan berpengaruh terhadap pengembalian aset (Return on Assets) dengan waktu yang lebih cepat. Waktu pengembalian persediaan yang cepat ini akan mengoptimalkan kinerja sebuah perusahaan karena ketika persediaan bergerak cepat artinya perusahaan tersebut akan mendapatkan pemasukan lebih cepat dan dapat menopang operasional perusahaan dengan lebih baik, sedangkan tingkat perputaran persediaan yang rendah artinya proses pergerakan modal kerja berupa persediaan terjadi dalam waktu yang lama.
Dugaan di atas didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Sijabat & Sijabat (2021) yang mengatakan bahwa perputaran persediaan berpengaruh signifikan positif terhadap Return on Assets (ROA). Berdasarkan uraian di atas mendukung hipotesis penulis tentang perputaran persediaan terhadap Return on Assets (ROA).
H3 : Perputaran Persediaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return on Assets (ROA)
2.6.4 Pengaruh Perputaran Kas, Perputaran Piutang dan Perputaran Persediaan terhadap Return on Assets (ROA)
Ada beberapa faktor yang diperkirakan dapat mempengaruhi Return on Assets (ROA), diantaranya adalah rasio perputaran kas, perputaran piutang serta perputaran persediaan. Ketiga faktor tersebut didasarkan pada pendapat ahli, yaitu Munawir (2012) yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi Return on Assets (ROA) adalah tingkat perputaran aktiva yang dipakai untuk aktivitas operasional perusahaan dan ada beberapa aktiva yang selalu dipakai pada operasional perusahaan atau yang biasa disebut dengan modal kerja. Menurut Kasmir (2015), modal kerja merupakan investasi yang ditanamkan dalam aktiva lancar atau aktiva jangka pendek, seperti kas, piutang dan persediaan.
Dari hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan di atas, secara parsial masing-masing variabel penelitian memiliki pengaruh positif dan siginifikan terhadap profitabilitas. Semakin tinggi tingkat perputaran kas artinya semakin cepat kas bergerak pada suatu periode dan semakin baik pula kinerja keuangan perusahaan karena kembalinya kas yang lebih cepat pada perusahaan dapat mengoptimalkan kinerja perusahaan (Hidayat & Parlindungan, 2018). Begitu pula pada perputaran piutang, semakin tinggi rasio perputaran piutang artinya semakin cepat piutang bergerak dalam satu periode dan tingkat perputaran piutang yang tinggi akan berdampak baik pada perusahaan,
karena semakin tinggi rasio perputaran piutang artinya semakin cepat piutang dibayar efisien yang mengindikasikan bahwa pengembalian piutang pada perusahaan akan lebih cepat (Prastowo, 2011). Adapun pada tingkat perputaran persediaan, semakin tinggi perputaran persediaan maka akan mengoptimalkan kinerja sebuah perusahaan karena ketika persediaan bergerak cepat artinya perusahaan tersebut mampu menjual barangnya dengan cepat dan hal tersebut akan berpengaruh terhadap pengembalian aset dengan waktu yang lebih cepat (Raharjaputra, 2011).
Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa saat perputaran aktiva mengalami kenaikan maka akan menyebabkan peningkatan terhadap profitabilitas (Return on Assets). Pergerakan yang cepat tersebut akan mempengaruhi pengembalian aset (Return on Asset) dengan waktu yang lebih cepat. Waktu pengembalian aset yang cepat ini akan mengoptimalkan kinerja sebuah perusahaan karena dapat mendukung kegiatan operasional perusahaan secara maksimal, sedangkan tingkat perputaran aktiva yang rendah artinya proses pergerakan modal kerja berupa kas, piutang dan persediaan terjadi dalam waktu yang lama.
Dugaan di atas didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Wajo (2021) yang mengatakan bahwa perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran persediaan berpengaruh signifikan positif
terhadap Return on Assets (ROA). Dari penjelasan di atas dapat diperoleh hipotesis sebagai berikut :
H4 : Perputaran kas, perputaran piutang dan perputaran persediaan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Return on Assets (ROA)
2.7 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan latar belakang masalah, landasan teori dan pengembangan hipotesis di atas maka didapatkan kerangka pemikiran sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Perputaran Kas
X1
Return on Assets Y
Perputaran Piutang X2
Perputaran Persediaan X3
H1 H2
H3
H4