Faktor keamanan ini dinyatakan dalam suatu nilai, dimana nilai ini didapat dari hasil perbandingan antara seberapa besar nilai gaya yang menahan lereng dengan gaya penggerak yang timbul pada sebagian atau seluruh material lereng yang bergerak. ke bawah menuju permukaan bebas. Berat asli batuan ini merupakan nilai yang dihasilkan dari perbandingan antara berat batuan dengan volume batuan yang dinyatakan dalam satuan berat per volumenya (Supandi, 2013). Semakin besar nilai berat batuan maka beban pada lereng atau permukaan longsor akan semakin besar, karena beban tersebut akan menambah gaya penggerak pada lereng dan mempengaruhi nilai faktor keamanan.
Kekuatan batuan yang berperan dalam melindungi lereng terhadap longsor atau kestabilan lereng adalah kekuatan geser batuan. Kekuatan geser batuan ini berperan sebagai gaya yang menangkal atau menahan penyebab terjadinya tanah longsor akibat berat batuan itu sendiri atau sifat fisiknya. Dengan menggunakan nilai kuat geser maksimum yang diperoleh dari pengujian dan rumus di atas, maka nilai kuat geser tersebut dapat dibandingkan dengan tegangan normal masing-masing.
Nilai kohesi digunakan untuk mengetahui seberapa besar kekuatan tarik antar partikel batuan, yang dinyatakan dalam satuan berat per satuan luas, yang mempengaruhi kekuatan batuan tersebut. Sedangkan nilai sudut gesek dalam digunakan untuk mengetahui seberapa besar sudut patahan jika batuan pada lereng yang diteliti mendapat tegangan melebihi tegangan geser (Supandi, 2013). Prinsipnya, jika gaya penggerak lebih besar dari gaya penahan, maka kemungkinan besar akan terjadi tanah longsor.
Apabila batuan semakin jenuh akibat tinggi muka airtanah maka beban pada batuan akan semakin berat dan lereng akan bergerak ke bawah akibat beban melebihi batas, sehingga gaya penggerak akan semakin besar dan berdampak pada FK yang dihasilkan. nilai .
Longsoran Busur
Analisis Longsoran Busur Menggunakan Metode Bishop
Untuk mendapatkan nilai FK, cara ini hanya perlu menghitung menggunakan rumus dengan data yang sudah diketahui sebelumnya, berbeda dengan sebelumnya yang harus menggunakan grafik. Namun demikian, analisis tersebut harus dilakukan kembali jika tidak diperoleh nilai positif dengan menambahkan variabel pengaruh tegangan akibat rekahan dan/atau kondisi air tanah ke dalam perhitungan. Namun jika tidak terpenuhi maka metode ini tidak cocok untuk perhitungan tersebut dan memerlukan analisis lebih lanjut.
Metode Bishop juga tidak akan diterapkan jika rumus nomor 3.13-3.14 tidak terpenuhi padahal dapat dipastikan analisis tidak akan batal karena kondisi yang kadang terjadi di kaki lereng. Selain itu, jika tidak terpenuhi, ubah juga dimensi irisannya jika kondisi di kaki lereng tidak terpenuhi.
Analisis Longsoran Busur Menggunakan Metode Janbu
Walau bagaimanapun, kaedah ini hanya boleh digunakan untuk permukaan licin yang cenderung cerun, di mana nilai sudut geseran dalaman adalah normal. Dan ia tidak disyorkan untuk digunakan pada cerun curam dengan nilai sudut geseran dalaman yang rendah atau <30o.
Longsoran Bidang
Semua penyebab terjadinya tanah longsor harus dipenuhi dan barulah dapat dikatakan tanah longsor pada bidang gelincir tunggal menurut Wyllie dan Mah (2004). Untuk melakukan pengujian analisis lereng dua dimensi, ketebalan lereng harus tegak lurus dengan garis muka lereng karena hal ini akan diperhitungkan pada saat analisis. Dimana nantinya permukaan gelincir yang dihasilkan oleh gelincir tersebut dapat dikatakan sebagai garis lereng dan gelincir yang dihasilkan dapat dikatakan suatu luas pada penampang vertikal yang tegak lurus terhadap tumbukan lereng tersebut.
Untuk analisa lebih lanjut perbedaan longsor planar dengan longsor lainnya adalah apabila pada suatu lereng terdapat sesar tarik atau struktur geologi maka hal ini harus diperhatikan kaitannya dengan posisinya. Berat balok longsoran yang dilambangkan dengan gaya W, gaya angkat air yang dilambangkan U, dan gaya tekan air pada patahan tarik yang dilambangkan V, semuanya harus bekerja pada titik pusat longsoran. blok, jadi pernyataan ini menyiratkan bahwa tidak ada momen akibat rotasi. . Untuk menghitung FK, analisis ini menggunakan rumus yang hampir sama dengan rumus pada umumnya yaitu (Arif, 2016).
Namun terdapat modifikasi rumus dari rumus diatas dengan menunjukkan kondisi atau keadaan dimana jika perhitungan diatas memerlukan perbandingan antara geometri lereng, kedalaman air pada patahan tarik dan pengaruh kuat geser yang berbeda maka adalah sebagai berikut ( Arif Untuk memperhitungkan variabel gempa Jika suatu lereng atau suatu tempat sering mengalami gempa, maka percepatan akibat gempa tersebut dapat dimodelkan sebagai αW statis sehingga rumusnya dapat dinyatakan sebagai berikut (Arief, 2016).
Analisis Menggunakan Klasifikasi Massa Batuan
Penentuan Nilai Rock Quality Designation (RQD)
Klasifikasi Slope Mass Rating (SMR)
Uji Normalitas
Metode Probabilitas
Metode Monte Carlo
Metode ini merupakan metode yang menghitung PK dengan menggabungkan variasi distribusi probabilitas yang cukup besar tanpa banyak interpretasi dan mempunyai kemampuan dalam memodelkan korelasi antar variabel dengan mudah (Hammah dan Yacoub, 2009). Perkirakan distribusi probabilitas untuk setiap variabel acak masukan, parameter stabilitas lereng sebagai log normal atau normal saja. Kemudian setelah itu dihitung nilai dominasi diantara keduanya, berapa kali (M) gaya penahan lebih besar dari gaya penggerak.
Setelah selesai mendapatkan nilai FK yang berbeda, buatlah distribusi frekuensi relatif dari distribusi empiris nilai FK. Untuk menghasilkan nilai probabilitas dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, sangat disarankan untuk mengulang perhitungan sebanyak-banyaknya tanpa melupakannya ribuan kali.
Metode Kesetimbangan Batas (Limit Equilibrium Method) Metode ini dinyatakan dengan persamaan-persamaan kesetimbangan
Analisis Longsoran Tipe Translasional
Metode kesetimbangan batas sering digunakan dalam analisis kestabilan lereng, yang dikendalikan dengan adanya bidang diskontinu berupa bidang datar atau baji yang dibentuk oleh perpotongan dua bidang bidang tersebut. Faktor keamanan lereng dihitung dengan membandingkan gaya penahan dengan gaya geser yang bekerja sepanjang bidang keruntuhan seperti ditunjukkan pada Gambar 3.16. Pada lereng tanah atau lereng batuan lemah, tanah longsor biasanya terjadi karena gaya penahan sepanjang bidang keruntuhan tidak dapat menahan gaya geser yang bekerja.
Secara umum metode analisis longsor tipe rotasi dibedakan menjadi 2 yaitu metode massa dan metode cakram. Prosedur yang digunakan dalam metode ini adalah massa di atas bidang keruntuhan dianggap sebagai benda tegar, bidang keruntuhan dianggap sebagai busur lingkaran, dan parameter kuat geser hanya ditentukan oleh kohesi. Salah satu ciri metode cakram adalah geometri bidang gesernya harus ditentukan atau diasumsikan terlebih dahulu.
Untuk menyederhanakan perhitungan, bidang keruntuhan biasanya dianggap sebagai busur lingkaran, gabungan busur lingkaran dan garis lurus, atau gabungan beberapa garis lurus, seperti pada Gambar 3.18. Parameter masukan yang digunakan pada perangkat lunak ini adalah nilai kerapatan alami, kohesi (puncak) dan sudut gesek dalam (puncak), serta faktor kegempaan. Setelah memasukkan parameter masukan maka diperoleh hasil pemodelan beserta nilai FK lereng.
Metode Elemen Hingga (Finite Element Method)