BAB III
FAKTOR-FAKTOR APA YANG MEMPENGARUHI PEMIKIRAN ADIWARMAN KARIM TENTANG MUDHARABAH
A. Perilaku Ekonomi
Menurut Adiwarman kerjasama menuntut adanya kepercayaan dan keadilan. Karenanya masing-masing pihak harus menjaga kejujuran untuk kepentingan bersama dan setiap usaha dari masing-masing pihak untuk melakukan kecurangan dan ketidakadilan pembagian pendapat betul-betul akan merusak ajaran Islam terutama dalam konsep pembiayaan mudharabah.1
Ekonomi selalu didasarkan atas asumsi mengenai perilaku para pelaku ekonominya.
Secara umum sering kali diasumsikan bahwa dalam pengambilan keputusan ekonomi, setiap pelaku harus berfikir, bertindak dan bersikap secara rasional. Ekonomi Islam merupakan representasi perilaku umat Muslim untuk melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh.
Dalam hal ini, ekonomi Islam tidak lain merupakan penafsiran dan praktik ekonomi yang dilakukan oleh umat Islam yang tidak bebas dari kesalahan dan kelemahan.
Jadi tujuan akhir ekonomi Islam adalah sebagaimana tujuan dari Islam itu sendiri, yaitu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat melalui tata kehidupan yang baik dan terhormat.
Inilah kebahagian yang hakiki yang diinginkan oleh setiap manusia, bukan kebahagian semu yang sering kali pada akhirnya justru melahirkan penderitaan dan kesengsaraan.
Mewujudkan kesejahteraan hakiki bagi manusia merupakan dasar sekali tujuan utama dari syariat Islam, karenanya juga merupakan tujuan ekonomi Islam.2
Moral Islam sebagai pilar ekonomi Islam perlu dijabarkan lebih lanjut menjadi nilai- nilai yang lebih terinci sehingga pada akhirnya dapat menjadi rumusan penuntutan perilaku para pelaku ekonomi. Nilai-nilai ini merupakan sisi normatif dari ekonomi Islam yang berfungsi mewarnai atau menjamin kualitas perilaku ekonomi setiap individu. Keberadaan
1 Adiwarman Karim. Bank Islam Analisis Fiqhi dan Keuangan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008) Cet, ke-3, h.103-104
2 Drs. H. Saefuddin, SH., MH. Peran Maqasid Syariah, (Semarang: MARI, 2021)
nilai semata pada perilaku ekonomi dapat menghasilkan suatu perekonomian yang normatif, tidak akan bisa berjalan secara dinamis. Oleh karena itu implementasi nilai-nilai harus secara bersamasama didasarkan atas prinsip-prinsip ekonomi. Prinsip inilah yang akan menjadikan bangunan ekonomi Islam kokoh dan dinamis, dan nilailah yang berfungsi untuk mewarnai kualitas bangunan tersebut. Berikut ini akan diuraikan beberapa nilai-nilai dasar ekonomi Islam yang digali dari Al-qur’an dan Sunnah.
Nilai-nilai dalam Al-qur’an dan Hadis terkait dengan ekonomi sangatlah banyak. Dari berbagai pandangan ekonomi Muslim dapat disimpulkan bahwa inti dari nilai ajaran Islam adalah tauhid, yaitu bahwa segala aktivitas manusia didunia ini, termasuk ekonomi, hanya dalam rangka untuk ditujukan mengikuti satu kaedah hukum, yaitu hukum Allah yang kadang disebut dengan hukum alam oleh masyarakat konvensional. Dalam pelaksanaannya, nilai tuhid ini diterjemahkan dalam banyak nilai dan terdapat tiga nilai dasar yang menjadi pembeda ekonomi Islam dengan lainnya yaitu:
1. Adl
Keadilan (adl) merupakan nilai paling asasi dalam ajaran Islam. Menegakkan keadilan dan memberantas kezhaliman adalah tujuan utama dari risalah para rasul-Nya (Qs 57:25). Keadilan sering kali diletakkan sederajat dengan kebajikan dan ketakwaan (Qs 5:80).3
Firman Allah dalam Al-Hadid ayat 25:
ٌدْيِدَش ٌسْأَب ِهْيِف َدْيِدَحْلا اَنْل َزْنَا َو ِِۚطْسِقْلاِب ُساَّنلا َم ْوُقَيِل َنا َزْيِمْلا َو َبٰتِكْلا ُمُهَعَم اَنْل َزْنَا َو ِتٰنِ يَبْلاِب اَنَلُس ُر اَنْلَس ْرَا ْدَقَل ٢٥ - ٌزْي ِزَع ٌّيِوَق َ هاللّٰ َّنِا ِِۗبْيَغْلاِب ٗهَلُس ُر َو ٗه ُرُصْنَّي ْنَم ُ هاللّٰ َمَلْعَيِل َو ِساَّنلِل ُعِفاَنَم َّو
Terjemahnya:
Sesungguhnya kami Telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-
3Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam, Ekonomi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), h, 59.
bukti yang nyata dan Telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Q.S. Al- Hadid/27: 25.4
Ayat di atas menjelaskan bahwa tujuan Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab suci dan neraca adalah agar manusia menegakkan keadilan dan hidup dalam satu masyarakat adil. Allah juga menciptakan besi antara lain untuk dijadikan alat penegakan keadilan, berdampingan dengan infak dalam melaksanakan jihad di jalan Allah SWT. Ayat diats dapat juga dipahami sebagai nasehat kepada mereka yang selama ini belum bersungguh-sungguh menggunakan anugerah Allah sesuai dengan tujuan penciptaannya. Allah memberikan mereka kemampuan untuk berinfak, maka seharusnya mereka beinfak. Allah mengutus nabi-nabi untuk ditaati, maka sepatutnya mereka menyambut baik tuntunannya, dan Allah menciptakan besi agar digunakan menghadap para pembangkang.5
Firman Allah surat Al-Maidah ayat 8:
َوُه ِۗا ْوُلِدْعِاِۗ ا ْوُلِدْعَت َّلََا ىٰٰٓلَع ٍم ْوَق ُنٰاَنَش ْمُكَّنَم ِرْجَي َلَ َو ِِۖطْسِقْلاِب َءۤاَدَهُش ِ ه ِلِلّ َنْيِما َّوَق ا ْوُن ْوُك ا ْوُنَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّيَآٰٰي ٨ - َن ْوُلَمْعَت اَمِب ٌٌۢرْيِبَخ َ هاللّٰ َّنِاِۗ َ هاللّٰ اوُقَّتا َو ِۖى ٰوْقَّتلِل ُب َرْقَا
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Q.S. Al-Maidah/5: 86
Maksud ayat di atas adalah jadilah kalian sebagai penegak kebenaran karena Allah SWT, bukan karena manusia atau mencapai popularitas. Dan jadilah kalian sebagai saksi yang adil dan bukan secara curang dan janganlah kebencian kepada suatu kaum
4 https://quran.kemenag.go.id/surah27 (1 agustus 2021)
5 M. Qurais Shihab, Tafsir Al-Misbah, ( Jakarta: Lentera Hati, 2002), Cet. Ke-I, h. 46-47
6 https://quran.kemenag.go.id/surah/5 ( 1 agustus 2021 )
menjadikan kalian berbuat tidak adil terhadap mereka, tetapi terapkanlah keadilan itu kepada setiap orang, baik itu teman maupun musuh kalian. Keadilan kalian itu lebih dekat kepada takwa daripada meninggalkannya. Yaitu pada kedudukan di tempat yang tidak terdapat perbandingnya. Allah akan memberikan kapada kalian berdasarkan ilmu- Nya terhadap perbuatan yang kalian kerjakan. Jika baik akan dibalas dengan kebaikan;
jika buruk, akan dibalas dengan keburukan pula.7
Seluruh ulama terkemuka sepanjang sejarah Islam menempatkan keadilan sebagai unsur paling utama dalam syariah. Ibn Taimiyah menyebutkan keadilan sebagai nilai utama dari tauhid, sementara Muhammad Abduh menganggap kezhaliman sebagai kejahatan yang paling buruk dalam kerangka nilai-nilai Islam. Sayyid Qutub menyebutkan keadilan sebagai unsur pokok yang komprehensif dan terpenting dalam semua aspek kehidupan. Dengan berbagai muatan makna ’adil’ tersebut, secara garis besar keadilan dapat didefenisikan sebagai suatu keadaan di mana terdapat kesamaan perlakuan di mata hukum, kesamaan hak kompensasi, hak hidup secara layak, hak menikmati pembangunan dan tidak adanya pihak yang dirugikan serta adanya keseimbangan dalam setiap aspek kehidupan.
Seluruh makna adil tersebut akan terwujud jika setiap orang menjungjung tinggi nilai kebenaran, kejujuran, keberanian, kelurusan dan kejelasan. Secara singkat, masing- masing nilai ini dijelaskan sebagai berikut:
1. Kebenaran
Kebenaran merupakan esensi dan dasar dari keadilan. Kebenaran dalam hal ini dimaknai sebagai kesesuaian dengan syariat Islam. Kebenaran dalam memberikan informasi, kebenaran dalam memberikan pertimbangan dan kebenaran mengambil keputusan memberikan jaminan kepada semua pihak atas hak-hak yang terkait.
7M. abdul Ghafar, Tafsir Ibnu Kasir, ( Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2006), Cet. h Ke-IV, Jilid, 3, h. 45-46
Keadilan hanya akan bermakna jika setiap orang berfikir, bertindak, bersikap, dan berprilaku secara benar. Dalam mudharabah pun kedua belah pihak agar bisa bertindak, bersikap dan berprilaku secara benar dan tidak ada pihak yang dirugikan atau yang terzhalimi.8
Adiwarman juga berpendapat bahwa dalam bisnis biaya yang tidak terduga besar, tentu hal ini akan menjadi sumber perselisihan antara pemilik dan dan pengelola, tentang siapa yang akan menanggung biaya-biaya tersebut. Untuk mengatasi hal-hal tersebut pihak pengelola harus bersikap benar dan transparan kepada pemilik dana, jika mudharib telah menyampaikan secara transparan, tanggung jawab sepenuhnya berada pada pemilik dana. Karena apabila pihak tidak bersikap dengan benar tentunya akan mengakibatkan margin keuntngan yang kecil sehingga bagi hasilnya pun kecil.9 2. Kejujuran
Jujur berarti adanya konsistensi antara kepercayaan, sikap, ungkapan dan perilaku. Bila seseorang tidak bisa berlaku jujur dalam suatu halmaka keputusan yang diambil dalam urusan itu dipastikan tidak benar dan tidak adil. Begitu juga dengan mudharabah, mudharib dituntut untuk berprilku jujur dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu kepada shahibul mal.
3. Keberanian
Untuk mengambil suatu keputusan yang adil dan melakukan yang benar sering kali seseorang dihadang oleh suatu keadaan yang serba menyulitkan. Oleh karena itu, keberanian diperlukan untuk mengatasi semua hal.
4. Kelurusan
Nilai kelurusan diartikan sebagai taat asas atau konsisten menuju tujuan. Taat asas ini merupakan suatu kondisi yang harus dipenuhi agar perilaku adil bisa terwujud.
8 M. abdul Ghafar, Tafsir Ibnu Kasir, ( Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’I, 2006), Cet. Ke-IV, Jilid, 3, h.61
9Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keungan, (Jakarta: PT. Raja Gafindo Persada, 2008), Cet. K 3, hl. 217
Jika seseorang tidak bisa berprilaku taat asas, maka akan sangat terbuka kemungkinan untuk melakukan kezhaliman.10
10 Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keungan, (Jakarta: PT. Raja Gafindo Persada, 2008), Cet. K 3, h.61