1 BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Lokasi Penelitian
Kepolisian Resor Ambon beralamat di Jalan. Sirimau Dr. Latumenten No.10, Kel Waihaong, Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku, Kepolisian Resor Ambon saat ini memiliki jumlah anggota 963 personil. Struktur organisasi Polres Ambon memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu:
1. Kepala Polisi Resort (Kapolres)
Pimpinan polres yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kapolda. Kapolres bertugas memimpin, membina dan mengawasi atau mengadilkan satuan-satuan organisasi dalam lingkungan Polres serta memberikan saran pertimbangan dan melaksanakan tugas lain sesuai dengan perintah Kapold
2. Wakil Kepala Polisi Resort (Wakapolres)
Wakapolres adalah pembantu utama Kapolres yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kapolres. Wakapolres bertugas membantu Kapolres dalam melaksanakan tugasnya dengan mengadilkan pelaksanaan tugas-tugas staf seluruh satuan organisasi dalam jajaran Polres, dan dalam batas kewenangannya tugas lain sesuai perintah Kapolres.
1. Bagian Operasional (Bagops)
2 Bagops adalah unsur pembantu pimpinan dan pelaksana staf Polres yang berada dibawah kapolres. Bagops bertugas menyelenggarakan administrasi dan pengawasan operasional, perencanaan dan pengendalian operasi kepolisian, pelayanan fasilitas dan perawatan tahanan dan pelayanan atas permintaan perlindungan saksi atau korban kejahatan dan permintaan bantuan pengamanan proses peradilan dan pengamanan khusus lainnya.
4. Bagnamitra
Bagnamitra adalah unsur pembantu pimpinan dan pelaksana staf Polres yang berada di bawah Kapolres. Bagnamitra bertugas mengatur penyelenggaraan dan mengawasi atau mengarahkan pelaksanaan penyuluhan masyarakat dan pembinaan bentuk-bentuk pengamanan oleh satuan-satuan fungsi yang berkompeten, membinaa.hubungan kerjasama dengan organisasi atau lembaga atau tokoh sosial kemasyarakatan dan instansi pemerintah, khususnya instansi polsus atau PPNS dan pemerintah daerah dalam kerangka otonomi daerah, dalam rangka peningkatan kesadaran dan ketaatan warga masyarakat pada hukum dan peraturan perundang-undangan, pengembangan pengamanan swakarsa dan pembinaan Polri-masyarakat yang kondusif bagi pelaksanaan tugas Polri 5. Bagian Administrasi (Bagmin)
Bgmin adalah unsur pembantu pimpinan dan pelaksana staf Polres yang berada di baawah Kapolres. Bagmin bertugan menyelnggarakan penyusunan rencana atau progam kerja dan anggaran, pembinaan dan
3 administrasi personel, pelatihan serta pembinaan dan administrasi logistik.Urusan Telematika (Urtelematika) Urtelematika adalah unsur pelaksana staf khusus Polres yang berada di bawah Kapolres.
Urtelematika bertugas menyelenggarakan pelayanan telekomunikasi, pengumpulan dan pengolahan data serta penyajian informasi termasuk informasi kriminal dan pelayanan multimedia.
6. Urusan Telematika (Urtelematika)
Urtelematika adalah unsur pelaksana staf khusus Polres yang berada di bawah Kapolres. Urtelematika bertugas menyelenggarakan pelayanan telekomunikasi, pengumpulan dan pengolahan data serta penyajian informasi termasuk informasi kriminal dan pelayanan multimedia.
7. Unit P3D
Unit P3D adalah unsur pelaksana staf khusus Polres yang berada di bawah Kapolres. Unit P3D bertugas menyelenggarakan pelayanan pengaduan masyarakat tentang pinyimpangan perilaku dan tindakan anggota Polri dan pembinaan disiplin dan tata tertib, termasuk pengamanan internal, dalam rangka penegakan hukum dan pemuliaan profesi.
8. Unsur Kedokteran dan Kesehatan (Urdokkes)
Urdokkes adalah unsur pelaksana staf khusus Polres tertentu yang berada di bawah Kapolres, yang pembentukannya ditetapkan dengan Surat Keputusan Kapolda setelah memperoleh persetujuan pejabat yang bertanggung jawab terhadap pembinaan organisasi Polri. Urdokkes
4 bertugas menyelenggarakan fungsi kedokteran kepolisian dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas operasional Polri dan pelayanan kesehatan personel, baik dengan menggunakan sumber daya yang tersedia maupun melalui kerjasama dengan pihak lain.
9. Tata Urusan Dalam (Taud)
Taud adalah unsur pelayanan Polres yang berada di bawah Kapolres.
Taud bertugas melaksanakan ketatausahaan dan urusan dalam meliputi korespondensi, ketatausahaan perkantoran, kearsipan, dokumentasi, penyelenggaraan rapat, apel atau upacara, kebersihan dan ketertiban termasuk melaksanakan administrasi personel dan materiil atau logistik di lingkungan pusdalops.
10. Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK)
SPK adalah unsur pelaksanaan utama Polres yang terdiri dari 3 (tiga) unit dan disusun berdasarkan pembagian waktu (plug/shift) yang berada di bawah Kapolres. SPK bertugas memberikan pelayanan kepolisian kepada warga masyarakat yang membutuhkan, dalam bentuk penerimaan dan pelayanan permintaan bantuan/pertolongan kepolisian, bersama fungsi terkait mendatangi TKP untuk melaksanakan kegiatan pengamanan dan olah TKP, penjagaan markas termasuk penjagaan tahanan dan pengamanan barang bukti yang berada di Mapolres dan penyelesaian perkara ringan/perselisihan antara warga, sesuai ketentuan hukum dan peraturan atau kebijakan dalam organisasi Polri.Satuan Intelijen Keamanan (Satintelkam) Satintelkam adalah unsur pelaksana utama
5 Polres yang berada dibawah Kapolres. Satintelkam bertugas menyelenggarakan atau membina fungsi intelijen bidang keamanan, termasuk persandian, dan pemberian pelayanan dalam bentuk surat ijin/keterangan yang menyangkut orang asing, senjata api dan bahan peledak, kegiatan sosial/politik masyarakat dan Surat Keterangan Rekaman Kejahatan (SKRK/Criminal Record) kepada warga masyarakat yang membutuhkan serta melakukan pengawasan/pengamanan atas pelaksanaannya.
11. Satuan Intelijen Keamanan (Satintelkam)
Satintelkam adalah unsur pelaksana utama Polres yang berada dibawah Kapolres. Satintelkam bertugas menyelenggarakan atau membina fungsi intelijen bidang keamanan, termasuk persandian, dan pemberian pelayanan dalam bentuk surat ijin/keterangan yang menyangkut orang asing, senjata api dan bahan peledak, kegiatan sosial/politik masyarakat dan Surat Keterangan Rekaman Kejahatan (SKRK/Criminal Record) kepada warga masyarakat yang membutuhkan serta melakukan pengawasan/pengamanan atas pelaksanaannya.
12. Satuan Resort Kriminal (Satreskrim)
Satreskrim adalah unsur pelaksana utama pada Polres yang berada dibawah Kapolres. Satreskrim bertugas menyelenggarakan/membina fungsi penyelidikan dan penyidikan tindak pidana dengan memberikan pelayanan/perlindungan khusus kepada korban/pelaku, remaja, remaja, anak, dan wanita, serta menyelenggarakan fungsi identifikasi, baik untuk
6 kepentingan penyidikan maupun pelayanan umum, dan menyelenggarakan koordinasi dan pengawasan operasional dan administrasi penyidikan PPNS, sesuai ketentuan hukum dan perundang- undangan.
13. Stuan Narkotika dan Obat-obatan (Satnarkoba)
Satnarkoba adalah unsur pelaksana utama pada Polres tipe “A1” “A2”
dan “B1” yang merupakan pemekaran dari Sat Reskrim dan berada di bawah Kapolres. Satnarkoba bertugas menyelenggarakan/membina fungsi penyelidikan dan penyidikan tindak pidana narkotika dan obat berbahaya (narkoba) termasuk penyuluhan dan pembinaan dalam rangka pencegahan dan rehabilitas korban/penyalahgunaan narkoba.
14. Satuan Lalu Lintas (Satlantas)
Sanlantas adalah unsur pelaksanaan utama Polres yang berada di bawah Kapolres. Satlantas bertugas menyelenggarakan/membina fungsi lalu lintas kepolisian, yang meliputi penjagaan, peraturan, pengawalan, dan patroli, pendidikan masyarakat dan lalu lintas, registrasi dan identifikasi pengemudi/kendaraan bermotor, penyidikan kecelakaan lalu lintas dan penegakan hukum dalam bidang lalu lintas, guna memelihara keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas.
Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, Polres Ambon mempunyai satuan yang salah satunya adalah satuan reskrim. Satuan reskrim bertugas untuk melakukan penyidikan terhadan tindak pidana yang terjadi di seluruh jajaran Polres Ambon, untuk kelancaran dalam melaksanakan tugas
7 dan fungsi satuan reskrim dibantu oleh beberapa unit. Unit-unit inilah yang dapat melakukan penyelidikan atau penyidikan, sehingga unit ini lebih berkaitan langsung dengan permasalahan yang ada.
B. Bentuk-Bentuk Pelanggaran Hak Asasi Tersangka
Bentuk-bentuk pelanggaran terhadap hak asasi tersangka yang disebabkan oleh ketidak pastian dalam KUHAP, serta akibat dari tingkah laku penegak hukum dalam menggunakan wewenang yang berlebihan antara lain :
1. Pelanggaran Terhadap Keamanan Jiwa Raga
Tindakan penyidik dalam melakukan penangkapan diatur dalam pasal 18 KUHAP terlalu berlebihan dan sering dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak asasi tersangka. Kasus aktual yang terjadi pada Polres Ambon adalah penangkapan segaligus penembakan yaitu pada pelaku pembunuhan di Dusun Toisapu Desa Hutumuri,Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon. Pelaku yang bernama Steven Leiwakabessy ditembak kakinya oleh Buru Sergap Satreskrim Polres Ambon.menurut keterangan penyidik dalam kasus ini yaitu Bripka Eko Prastiyo pelaku dilumpuhkan karena mencoba melarikan diri.
Pada kasus ini pelaku belum bisa dinyatakan pelaku sebagai tersangka tindak pidana, dikarenakan belum adanya putusan pengadilan yang menyatakan pelaku sebagai terdakwa tindak pidana pembunuhan dan belum memiliki kekuatan hukum tetap sebagaimana yang terkandung dala Asas Praduga Tak Bersalah.
8 Dalam menangani tersangka yang melawan petugas atau mencoba melarikan diri polisi dapat menggunakan senjata semacam kejut listrik yang mampu melumpuhkan lawan tanpa menimbulkan cedera parah atau kematian.
senjata jenis ini aman bagi tersangka yang belum tentu bersalah dan sekaligus membela polisi baik dari agresi tersangka maupun tuduhan tak berdasar.
Sejatinya, polisi diberi kewenangan untuk menindak tegas tersangka yang melakukan perlawanan. Menembak kaki tersangka yang membahayakan publik dan aparat adalah salah satu tindakan yang dibenarkan.
Akan tetapi, harus kembali disadari bahwa tersangka belum tentu bersalah. Meskipun tersangka itu adalah tersangka kasus pembunuhan tersangka tidak seharusnya diperlakukan kasar tanpa memertimbangkan apakah ia melawan petugas atau tidak saat ditangkap.
2. Pelanggaran Terhadap Kebebasan Jiwa Raga
Sama halnya dengan dengan penangkapan, penahanan bertentangan dengan hak asasi tersangka yaitu hak atas kebebasan diri karena menghukum seseorang sebelum kesalahannya dibuktikan dengan putusan peradilan.
Penahanan selalu mengandung kontroversi karena bertentangan dengan HAM dan menganggap seseorang berbahaya bagi masyarakat. Anggapan berbahaya bagi masyarakat sulit dibuktikan, karena dalam kenyataannya sulit memperkirakan siapa yang berbahaya bagi masyarakat itu.1
Dari uraian di atas, terlihat bahwa ketentuan hukum dalam KUHAP yang memungkinkan terjadinya pelaggaran hak asasi tersangka merupakan
1 M.Yahya Harahap, Pembahasan Permasaahan dan Penerapan Penyidikan dan Penuntutan. hal 163.
9 ketentuan-ketentuan hukum yang mendasar dalam hukum acara pidana. Dari sini pula tercermin bagaimana gambaran umum mengenai perlindungan hak asasi tersangka dalam sistem peradilan pidana di Indonesia, khususnya pada tahap penyidikan. Maka uraian selanjutnya akan berusaha untuk mendalami tentang bagaimana penerapan KUHAP dalam dalam melindungi hak-hak tersangka pidana pada tahap penyidikan.
C. Implementasi Hak-Hak Tersangka Pada Proses Penyidikan
Kepolisian sebagai penyidik utama dalam proses tindak pidana pada prinsipnya harus memperhatikan hak-hak yang melekat pada tersangka yang telah diatur oleh undang-undang dalam hal ini Undang-Undang No 8 Tahun 1981 tentang KUHAP khususnya Pasal 50 sampai Pasal 68.
Diberitahukannya hak-hak tersangka kepada tersangka harus selalu dilakukan. Ini bertujuan agar tersangka mengetahui apa saja hak-hak yang diperoleh selama penyidikan. Tujuan lain agar penyidik tidak sewenang- wenang melakukan penyidikan yang nantinya bisa merugikan semua pihak.
Hak-hak tersebut telah dimuat dalam KUHAP yaitu Pasal 50 sampai Pasal 68 yang wajib dijunjung tinggi oleh siapapun termasuk penyidik. Proses penyidikan dalam pemberian penasehat hukum kepada tersangka ditekankan pada perlindungan hak tersangka.
Bentuk perlindungan hukum bagi tersangka dalam proses penyidikan.
menurut Andi Hamzah melaksanakan hak yang dimiliki tersangka, antara
10 lain2: hak prioritas penyelesaian perkara, hal ini diatur Pasal 50 KUHAP, menyebutkan:
1) Tersangka berhak segera mendapatkan pemeriksaan oleh penyidik dan selanjutnya dapat diajukan ke Penuntut Umum.
2) Tersangka berhak perkaranya segera diajukan ke Pengadilan oleh Penuntut Umum.
3) Terdakwa berhak segera diadili oleh Pengadilan.
Dari pasal tersebut di atas dapat simpulkan bahwa pasal tersebut menginginkan proses penyelesaian perkara ditangani dengan cepat sehingga semuanya bisa dituntaskan dalam waktu yang singkat. Tujuan dari hak ini adalah agar adanya kepastian hukum dan dapat diketahui bagaimana nasib tersangka sehingga tidak terkatung-katung terutama bagi tersangka yang ditahan.
Pasal 52 KUHAP, hak memberikan keterangan secara bebas. Hal yang diharapkan oleh penyidik pada saat pemeriksaan adalah keterangan dari tersangka karena dari keterangan tersebut diharapkan dapat memberikan titik terang atas perkara tersebut. sebagai bukti bahwa hak untuk memberikan keterangan secara bebas dijamin oleh hukum, Pasal 52 KUHAP yang berbunyi, sebagai berikut; "Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pengadilan tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim". Hal ini juga diatur dalam Pasal 117 yang berbunyi; "Keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan
2 Andi Hamzah, 2001, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta hal.36
11 tanpa tekanan dari siapapun dan atau dalam bentuk apapun". Dalam memberikan keterangan, hendaknya tersangka tidak ada di bawah tekanan dan paksaan dari penyidik, maka tersangka tidak boleh dipaksa atau ditekan dan dijauhkan dari rasa takut, supaya pemeriksaan mencapai hasil yang tidak menyimpang dari pada yang sebenamya. Apabila tersangka berada di bawah tekanan dan rasa takut maka keterangan yang diberikan belum tentu merupakan keterangan yang sebenarnya.
Hak untuk mendapatkan bantuan hukum, Pasal 54 KUHAP, yang menyebutkan, "Guna kepentingan pembelaan, tersangka atau terdakwa berhak kepentinga mendapatkan bantuan hukum dari seorang atau lebih penasihat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan, menurut tata cara yang ditentukan dalam undang-undang ini". Hal ini berhubungan dengan Pasal 114 KUHAP sebagai kewajiban penyidik terhadap tersangka, yang berbunyi: "Dalam hat seorang disangka melakukan tindak pidana sebelum dimulainya pemeriksaan oleh penyidik, penyidik wajib memberitahukan kepadanya tentang haknya mendapatkan bantuan hukum atau wajib didampingi penasihat hukum pada kasus tertentu. diberikannya hak-hak tersangka sebagaimana terdapat dalam pasal 56". Mengenai hak ini telah diatur dalam Pasal 56 KUHAP yang berbunyi: Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman 15 tahun atau lebih bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasehat hukum sendiri, pejabat yang bersangkutan pada semua
12 tindak pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk penasihat bagi mereka. Setiap penasehat hukum yang ditunjuk untuk bertindak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberi bantuannya dengan cuma-cuma.
Tujuan diberikan hak ini kepada tersangka adalah untuk menghindari terjadinya kekeliruan dan kesewenang-wenangan dari aparat hukum yang dapat merugikan tersangka. Dengan adanya pembela atau penasihat hukum dari tahap penyidikan sampai dengan tahap persidangan pengadilan maka pembela dapat melihat dan mendengarkan jalannya pemeriksaan yang dilakukan terhadap tersangka.
Peranan penasihat hukum Menurut Binzaid Khadafi dalam mendampingi tersangka mulai tingkat penyidikan sampai dengan proses peradilan adalah hak untuk mendampingi klien selama proses penyelidikan dan penyidikan timbul dari pengakuan akan melindungi Hak Asasi Manusia tersangka atau terdakwa dalam perkara pidana.3 dalam pemberian penasehat hukum kepada tersangka ditekankan pada perlindungan hak tersangka.
Penasehat hukum harus dapat melindungi setiap hak yang dibutuhkan tersangka dalam pemeriksaaan terhadap tersangka yang telah dilakukan proses penahanan oleh penyidik. Bagi tersangka yang telah berada dalam proses penahanan penyidik tersangka memiliki hak-hak sebagai berikut :
a. Berhak menghubungi penasehat hukum..
3 Wijanarko Peranan Penasehat Hukum Dalam Proses Peyidikan. Binzaid Kadafi, 2001, Advokat Indonesia Mencari Legitimasi, Jakarta : Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia, hal. 106,107.
13 b. Berhak menghubungi dan menerima kujungan dokter pribadi untuk kepentingan kesehatan baik yang ada hubunganya dengan proses perkara maupun tidak.
c. Tersangka berhak untuk diberitahukan penahanannya kepada keluarganya, kepada orang yang serumah dengannya, orang lain yang dibutuhkan bantuannya, dan orang yang hendak memberikan bantuan hukum atau jaminan bagi penangguhan penahanannya.
d. Selama tersangka berada dalam penahanan berhak menghubungi pihak keluarga, mendapat kunjungan dari pihak keluarga.
e. Berhak secara langsung atau dengan perantaraan penasehat hukum melakukan hubungan mengubungi dan menerima sanak keluargannya baik untuk kepentingan keluargannya, kepentingan perkarannya maupun kepentingan pekerjaannya.
f. Berhak atas surat menyurat yaitu, mengirim dan menerima surat kepada penasehat hukumnya, mengirim dan menerima surat kepada sanak keluarga.
g. Berhak atas kebebasan rahasia surat. Tidak boleh diperiksa oleh penyidik, penuntut umum atau pejabat rumah tahanan negara kecuali cukup alasan untuk menduga surat menyurat tersebut disalahgunakan.
h. Tersangka berhak menghubungi dan menerima kunjungan rohaniawan
Dalam studi ini penulis coba mengkaji mengenai kasus tindak pidana yang terjadi dalam ruang lingkup Polres Ambon. Penulis hanya akan melakukan pembahasan terhadap kasus yang terjadi pada wilayah tersebut,
14 dilihat dari hak-hak tersangka dalam proses pemeriksaan ditingkat penyidikan, apakah sesuai dengan Undang-Undang yang mengatur mengenai implementasi hak-hak tersangka ditingkat penyidikan.
Penulis coba menganalisa atau mengkaji contoh kasus dalam Berita Acara Pendapat atas nama Steven Leiwakabessy dan Yehezkel Leiwakabessy dan keterangan dari penyidik dalam kasus ini yaitu Bripka Eko Prastiyo Tersangka tindak pidana pembunuhan dan atau penganiayaan yang menyebabkan matinya orang lain Jo turut serta melakukan suatu perbuatan dan dapat dihukum, sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 338 KUHP dan atau pasal 170 Ayat 2 dan atau pasal 351 Ayat 3 KUHP Jo pasal 55 KUHP.
Yang terjadi pada hari kamis tanggal 13 juni 2019 sekitar pukul 02:30 WIT bertempat didepan pondok milik Bapak Elisa Pattiapon yang berlokasi di Dusun Toisapu Desa Hutumuri,Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon.
Yang dilakukan oleh 2 orang tersangka masing-masing atas nama Steven Leiwakabessy Als. Stevi dan Yehezkel Leiwakabessy Als. Akel terhadap korban atas nama Felni Lilipory Als Fenly Lilipory Als Fen. Dengan menggunakan pisau sehingga mengakibatkan korban meninggal dunia.
Polisi mengetahui adanya tindak pidana setelah mendapat laporan dari masyarakat tentang adanya laporan kejadian yang diduga sebagai tindak pidana.laporan tersebut maksudnya pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang karena hak dan kewajibannya berdasarkan undang-undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana.dalam kasus pembunuhan di Dusun Toisapu Desa
15 Hutumuri,Kecamatan Leitimur Selatan Kota Ambon bukti permulaannya adalah laporan saksi Jacop Lilipory dengan laporan polisi nomor LP/04/Vl/2019/Mal/Res Ambon, tanggal 13 juni 2019 bahwa telah terjadi kasus pembunuhan dengan tersangka Steven Leiwakabessy dan Yehezkel Leiwakabessy Seperti pada pasal 17 KUHAP menyebutkan bahwa perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup, jadi sebelum melakukan pemeriksaan atau penangkapan terlebih dahulu dilakukan penyelidikan untuk mengumpulkan bukti permulaan yang cukup.bukti permulaan dibutuhkan penyidik untuk akhirnya memeriksa seseorang yang diduga melakukan tindak pidana tersebut.tanpa adanya bukti-bukti,penyidik tidak berani melakukan pemeriksaan bahkan tidak berani melakukan penangkapan seperti dalam pasal 18 Ayat 1 KUHAP pelaksaan penangkapan dilkukan oleh petugas aparat Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan memperlihatkan surat tugas serta memberikan kepada tersangka surat perintah penangkapan dengan mencantukan identitas tersangka serta alasan penangkapan serta uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkakan.
Setelah mendapat laporan mengenai kejadian yang patut diduga sebagai tindak pidana petugas kepolisian segera melakukan penyelidikan.sehingga pada tanggal 14 juni 2019 pukul 15:00 WIT tim Buser Polres Pulau Ambon yang dipimpin oleh KBO (Kaur Bin Ops) Ipda Ikbal melakuan penangkapan terhadap kedua pelaku dengan surat penangkapan Sp. Kap/218/VI/2019
16 Reskrim tanggal 14 juni. Kedua pelaku ditangkap dengan dugaan telah melakukan pembunuhan terhadap korban atas nama Fenly Lilipory
Setelah di lakukan penangkapan terhadap kedua tersangka penyidik melakukan penahan terhadap kedua tersangka dengan nomor surat penahanan Sp. Han/149/2019/Reskrim dengan alasan takut tersangka melakukan perbuatannya lagi dan tindak pidana yang dilakukan kedua pelaku ancamannya diatas 5 tahun
Berdasarkan contoh kasus diatas apabila dikaitkan dengan bunyi pasal 56 KUHAP yang berbunyi “ Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman 15 tahun atau lebih bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasehat hukum sendiri, pejabat yang bersangkutan pada semua tindak pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjukan penasihat bagi mereka “. Dalam kasus Pembunuhan 338 KUHP dan Penganiayaan 170 KUHP ancaman hukumannya diatas 5 tahun Penyidik Polres Pulau Ambon menunjuk penasehat hukum bagi tersangka yaitu Bapak Thomas Watimuri S.H. Menurut keterangan dari Penyidik para tersangka diberikan hak-hak selama dalam masa penahanan yaitu mendapat kunjungan dari keluarga sesuai jadwal kunjungan pada Polres Ambon yaitu pada hari selasa, kamis dan sabtu. para tersangka juga mendapat kunjungan rohaniawan pada hari minggu untuk yang beragama Kristen dan jumat untuk yang beragama Islam
17 Dari hasil penelitian diatas tentang implementasi hak-hak tersangka diketahui bahwa hak-hak tersangka tersebut sudah diterapkan atau di implementasikan karena tersangka Steven Leiwakabessy dan Yehezkel Leiwakabessy sudah didampingi oleh pengacara Thomas Watimuri. Hak yang sudah diberikan antara lain: hak menyelesaikan perkara, hak persiapan pembelaan, hak mendapatkan bantuan hukum, hak diberitahukan, menghubungi dan menerima kunjungan keluarga dan hak mendapat kunjungan rohaniawan.
Sedangkan hak yang tidak digunakan atau belum diberikan oleh tersangka adalah hak mendapat juru bahasa karena pelaku cukup mengerti bahasa yang digunakan dalam penyidikan, hak berkirim surat juga tidak digunakan karena keluarga dan kuasa hukum dapat bertemu sehingga tidak perlu surat menyurat.
D. Hambatan-Hambatan Dalam Mengimplementasi Hak-Hak Tersangka Dalam Proses Penyidikan
Setiap pekerjaan maupun kegiatan pasti ada hambata-hambatan yang dihadapi oleh orang yang melakukan pekerjaan atau kegiatan tersebut. Hal tersebut terjadi karena setiap orang mempunyai karakter, sikap atau sifat serta fisik yang berbeda-beda. Dalam melakukan penyidikan juga pasti akan ada hambatan-hambatan yang muncul yang dialami oleh penyidik.
Dalam setiap penyidikan pasti ada hambatan-hambatan yang dialami oleh penyidik untuk mendapatkan keterangan tersangka, berdasarkan keterangan Bripka Ricardo Kailola dan Bripka Eko Prastiyo selaku Penyidik
18 Pembantu Satreskrim Kepolisian Resor Ambon pada tanggal 11 September dan 12 September 2019, bahwa hambatan-hambatan yang sering dialami oleh penyidik pada saat pemeriksaan kepada tersangka adalah :
a. Kurangnya jumlah penyidik sedangkan kasus kejahatan banyak sehingga penyidikan dapat berjalan dengan lambat sehingga ada beberapa tersangka yang lama menjalani proses penyidikan.
b. Tersangka tidak mengakui melakukan tindak pidana. Apabila tersangka tidak mau mengakui melakukan tindak pidana dalam proses pemeriksaan penyidik terhadap tersangka, bahkan kadang ada tersangka yang berbelit- belit dalam memberikan keterangan. Tersangka yang tidak mengakui melakukan tindak pidana semata-mata bukan acuan penyidik untuk melepaskan tersangka dari jeratan hukum. Tanpa pengakuan dari tersangka, penyidik tetap bisa melanjutkan proses tindak pidana dengan menggunakan alat bukti. Alat bukti yang dimaksud adalah Pasal 184 KUHAP, yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan tersangka itu sendiri. Dari hasil alat bukti tersebut, penyidik tidak harus memaksa atau melakukan hal-hal untuk memaksa tersangka mengakui kesalahannya.
c. Saat penyidik melakukan pemeriksaan terhadap tersangka, penyidik juga mengalami kesulitan untuk mendapatkan keterangan dari tersangka karena tersangka mengubah-ngubah didalam memberikan keterangan sehingga membuat proses penyidikan berlangsung lama dan lambat.
19 d. Dalam kasus lain apabila tersangka tidak bisa berbahasa indonesia maka penyidikan kesulitan dalam meminta atau menggali keterangan karena tidak adanya penyidik yang mengerti bahasa tersangka tersebut maka penyidik harus meminta keterangan kapada seseorang yang ahli yang mengerti bahasa tersangka tersebut.sehingga tersangka tidak dapat langsung ditangani
e. Dalam pemberian bantuan hukum tidak sering tersangka yang menolak pemberian bantuan hukum atau didampingi pengacara hal ini menjadi kesulitan bagi penyidik dalam mengimplementasikan hak-hak tersangka.
Memperhatikan ketentuan pasal 50-68 KUHAP Tersangka dalam menjalani proses pemeriksaan wajib mendapatkan hak-haknya yang ditujukan untuk melindungi tersangka ditingkat penyidikan, dimana terdapat harkat dan martabat seseorang tersangka dijamin, dihormati dan dijunjung tinggi. Polisi selaku penyidik, berperan penting dalam pelaksanaan perlindungan hak asasi manusia, sehingga sangat perlu memperhitungkan terjadinya masalah- masalah yang tidak dapat dihindari dalam pelaksanaan KUHAP, sepeti diketahui bahwa KUHAP sangat menjunjung tinggi, memberi jaminan penghormatan harkat dan martabat manusia.
Proses pemeriksaan seorang sebagai tersangka belum tentu bersalah dan karenanya wajib dianggap tidak bersalah sesuai dengan asas praduga tidak bersalah “Setiap orang yang disangka oleh penyidik kepolisian, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap”.
20 Pengetahuan polisi terhadap hak-hak tersangka itu sangat penting bagi tersangka maupun bagi polisi itu sendiri, karena tidak ada pihak yang akan dirugikan. Tetapi hanya mengetahui tanpa melakukan hal yang sebenarnya bisa mempengaruhi polisi dalam memenuhi hak-hak tersangka. Hal-hal yang dihadapi di lapangan terkadang jauh berbeda dengan apa yang ada dalam Undang-undang, maka pengalaman menyidik itu sangat berpengaruh dalam mengaplikasikan pengetahuan tentang hak-hak tersangka.
Dari pihak kepolisian sendiri dalam hal ini penyidik, dalam mengatasi hambatan-hambatan guna mengimplementasi atau menerapkan hak-hak tersangka dalam proses pemeriksaan penyidikan khususnya penyidik di Polres Ambon harus memakai penyidik yang profesional dalam menjalankan tugasnya. Penyidik harus mengetahui tentang aturan hukum yang terdapat di dalam KUHAP agar tidak terjadi pelanggaran yamg dikarenakan terhambatnya pemenuhan hak-hak tersangka yang dikarenakn oleh tersangka itu sendiri seperti tersangka yang mengubah-ubah keteranganya.
Hambatan lain seperti tersangka yang menolak untuk diberikan penasehat hukum harus diberikan pemahaman yang baik oleh para penyidik terhadap tersangka, agar bersedia untuk didampingi penasehat hukum guna memenuhi syarat-syarat penyidikan sebagaimana terkandung dalam Putusan Mahkamah Agung No. 1565 K/Pid/1991 yang menyatakan “Apabila syarat- syarat penyidikan tidak dipenuhi seperti halnya penyidik tidak menunjuk penasihat hukum bagi tersangka sejak awal penyidikan tuntutan Penuntut Umum dinyatakan tidak dapat diterima”
21 Agar suatu peraturan perundang-undangan dapat berfungsi dengan baik, diperlukanadanya keserasian 4 (empat) unsur yaitu:4
1. Peraturan hukum itu sendiri, dimana terdapat kemungkinan adanya ketidakcocokan peraturan perundang-undangan mengenai bidang-bidang hukum tertentu, kemungkinan lainnya yang dapat terjadi adalah ketidak cocokan antara peraturan perundang-undangan dengan hukum yang tidak tertulis atau kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat;
2. Mentalitas petugas yang menerapkan hukum, para petugas hukum (secara formal) yang mencakup Hakim, Jaksa, Polisi, Penasehat/Pembela Hukum, dan sebagainya harus memiliki mental yang baik dalam melaksanakan (menerapkan) suatu peraturan perundang-undangan, jika tidak demikian maka terjadi gangguan-gangguan atau hambatan-hambatan dalam sistem penegakan hukum;
3. Fasilitas, yang diharapkan untuk mendukung pelaksanaan suatu peraturan hukum. Apabila suatu peraturan perundang-undangan sudah baik, ditunjang oleh mentalitas petugas pelaksana juga baik, namun (dalam ukuran-ukuran tertentu) tidak ditunjang oleh tersedianya fasilitas yang kurang memadai, maka juga akan menimbulkan gangguan-ganguan atau hambatan-hambatan dalam pelaksanaannya;
4. Warga masyarakat sebagai objek, dalam hal ini diperlukan adanya kesadaran hukum masyarakat, kepatutan hukum, dan perilaku warga masyarakat seperti yang di kehendaki oleh peraturan hukum.
4 M. Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan Mengenai Sistem Peradilan Dan Penyelesaian `Sengketa, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hlm. 36.
22 Melihat fakta yang ada tampaknya banyak hambatan yang dihadapi penyidik dalam melakukan pemeriksaan. Hal ini menghambat proses penyidikan. Penyidik harus cerdas dalam melihat setiap hambatan yang dihadapi. Hati nuranipun harus berjalan untuk bisa menghadapi hambatan- hambatan dalam pemeriksaan. Tidak hanya itu, penyidik juga menggunakan Undang-Undang untuk menyelesaikan hambatan-hambatan tersebut, seperti mendatangkan seseorang yang ahli pada bidangnya.