• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB III"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

46 BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN.

A. Tinjauan Tentang Hak-Hak Masyarakat Pesisir.

1. Sejarah Negeri Latuhalat.

Maluku dalam pandangan sosio-kultural memiliki tiga pembagian yang sangat jelas dalam kehidupan bermasyarakat. Pengelompokan masyarakat dalam Struktur Politik pemerintahan adat di Maluku terbagi atas tiga wilayah besar yaitu daerah culture area bagian Utara, culture area bagian Tengah, dan culture area bagian Tenggara. Van Frassen dan Clifford Young menyebutkan bahwa dari aspek budaya, Maluku terbagi atas dua culture area terbesar yaitu bagian Utara dan bagian Selatan.47 Bagian Utara terdiri dari Ternate, Tidore, Halmahera, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya yang secara administratif dikenal sebagai Provinsi Maluku Utara. Sedangkan bagian Selatan terdiri dari Seram, Ambon, Buru, Lease, dan pulau-pulau Tenggara lainnya, yang secara administratif disebut sebagai Provinsi Maluku. Dari perbedaan wilayah itu terdapat juga perbedaan dalam struktur politik adat masing-masing wilayah itu juga. Bagian Utara lebih kental dengan pemerintahan kesultanan, bagian Tengah terdapat banyak negeri-negeri yang hidup dengan masing-masing sistem pemerintahan dan wilayahnya sendiri-sendiri. Sedangkan bagian Tenggara lebih kental dengan sistem stratifikasi (kasta) yang sangat kuat. Negeri Latuhalat adalah sebuah

47 http://www.smileambon.com/2012/04/sejarah-negeri-latuhalat-dan-marga.html. Diakses Pada tangal 27 Fbruari 2018.Pukul 09.00 Wit.

(2)

47 negeri adat yang berada pada culture area bagian Tengah. Masyarakat di Negeri Latuhalat meyakini bahwa mereka berasal dari Pulau Seram dan melakukan migrasi ke arah Semenanjung Nusaniwe, Pulau Ambon. Pecahnya Perang Huamual dan invasi Kerajaan Ternate membuat keadaan di Pulau Seram tidak aman untuk didiami. Hal tersebut memicu terjadinya migrasi besar-besaran pada abad ke-14 ke daerah lain di sekitar Pulau Seram, termasuk Pulau Ambon

Desa Latuhalat adalah desa pesisir yang seluruhnya dikelilingi oleh lautan dan hanya sebagian yang berbatasan dengan daerah daratan lainnya. Pemanfaatan lahan di Desa Latuhalat diperuntukan untuk pemukiman dan berladang, sedangkan untuk daerah pesisir dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan dan pariwisata. Pada umumnya aktivitas ekonomi masyarakat lokal bertumpu pada usaha perikanan tangkap. Garis batas wilayah Latuhalat adalah sebelah timur bebatasan dengan Negeri Airlow, sebelah timur laut berbatasan dengan Negeri Seilale, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Banda dan sebelah utara dengan Teluk Ambon. Luas Desa Latuhalat adalah ± 285 hektar, jarak pantai ke gunung 4 kilometer, jarak dari Latuhalat ke Seilale 2 kilometer, dan dari Latuhalat ke Airlow 1 kilomete.48

Arus dan gelombang yang terjadi di perairan Desa Latuhalat dipengaruhi oleh musim, yaitu musim timur dan musim barat, pada musim timur terjadi ombak dengan ketinggian bisa mencapai 3 tiga sampai empat meter. Pada musim ini nelayan memanfaatkan jalur Teluk Ambon bagian luar sebagai tempat untuk bersandarnya kapal dan perahu, sedangkan untuk musim barat mereka

48 http://www.smileambon.com/2012/04/sejarah-negeri-latuhalat-dan-marga.html. Diakses Pada tangal 5 Maret. Pukul 18.00.Wit.

(3)

48 memanfaatkan pesisir selatan. Kualitas air juga dipengaruhi oleh kedua musim tersebut. Topografi Desa Latuhalat merupakan daerah dataran dan berbukit, jenis tanah di Desa Latuhalat rata rata tanah liat berpasir.

Luas Wilayah Negeri Latuhalat, Provinsi Maluku secara geografis terletak diantara 2⁰ 30’- 9⁰ LS dan 124⁰-136⁰ BT. Luas wilayah Negeri Latuhalat adalah 22 km² wilayah perairan dan 18 km² luas daratan. Jumlah Penduduk yang mendiami Negeri Latuhalat. Jumlah penduduk yang mendiami Negeri Latuhalat tahun 2018 penduduk yang terdaftar adalah 773 jiwa.

Desa Latuhalat berada di Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon. Desa ini merupakan desa yang berada di kawasan ekosistem pesisir dengan beragam kekayaan hayati, sumberdaya alam perikanan, mineral dan bahan galian, yang selama ini dimanfaatkan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan hidup. Desa Latuhalat merupakan salah satu desa yang memberikan sumbangan terbesar terhadap total produksi perikanan di kawasan perairan Teluk Ambon Luar, yakni sebesar 1.775,91 ton per tahun dari 4.253,63 ton per tahun total produksi perikanan di Teluk Ambon Luar (Dinas Kelautan dan Perikanan Ambon, 2008).

Desa ini memiliki armada penangkapan purse seine lebih banyak dibandingkan dengan armada penangkapan di desa lainnya. Di desa Latuhalat, jenis alat tangkap yang menonjol adalah pancing tangan, sedangkan jika ditinjau dari segi produktifitas alat tangkap jenis alat pancing tonda dan purse seine merupakan sumbangan cukup besar dalam produksi hasil tangkapan untuk jenis-

(4)

49 jenis ikan pelagis kecil dan besar (Dinas Kelautan dan Perikanan Ambon, 2008).49

1. Jenis Pekerjaan Yang di Geluti Warga Negeri Latuhalat

Sumber daya kelautan, merupakan salah satu asset pembangunan Indonesia yang penting, karena kontribusi produk domestik bruto pemanfaatan sumber daya kelautan tersebut telah mencapai 22% pada tahun 199050. Sementara sumber daya darat seperti hutan dan lahan semakin terbatas akibat alih fungsi, eksploitasi yang berlebihan, dan kebakaran hutan. Di samping itu, pertambahan populasi penduduk yang hidup di kawasan pesisir meningkat pesat mendorong tekanan terhadap sumber daya kelautan semakin besar. Diperkirakan 60% dari populasi Indonesia bermukim di pesisir, dan 80%

dari pembangunan Industri mengambil tempat di pesisir.

Banyak pembangunan sektoral, regional, swasta dan masyarakat mengambil tempat di kawasan pesisir, seperti budi daya perikanan, resort wisata, industri, pertambangan lepas pantai, pelabuhan laut, dan reklamasi pantai untuk perluasan kota.

Sehingga salah satu pilihan, untuk pembangunan jangka panjang adalah memanfaatkan potensi sumber daya kelautan, yang terdapat di wilayah pesisir daerah.

Dalam pengelolaan sumber daya kelautan (SDK), sering muncul konflik antara berbagai pihak yang berkepentingan, khususnya di wilayah pesisir yang pembangunannya pesat. Wilayah pesisir, dimana sumber daya darat dan laut bertemu, memiliki sumber daya yang sangat kaya, sehingga banyak pihak yang mempunyai

49 www. Dinas Kelautan dan Perikanan Ambon. Diakses pada tanggal 17 Februari 2018.Pukul 11.00.Wit.

50 http://voordiasaja.blogspot.co.id/.Diakses Pada tangal 28.Februari. 09.00 Wit.

(5)

50 kepentingan untuk memanfaatkannya. Secara umum pihak yang berkepentingan ini dapat dikategorikan dalam sektor perikanan, pariwisata, pertambangan lepas pantai, perhubungan laut, industri maritim, konservasi dan pertahanan/keamanan.

Selain itu sektor pekerjaan umum dan energi juga mempunyai kepentingan yang relatif besar, terutama dalam perlindungan pantai dari abrasi. Begitupun dengan masyarakat yang berada di Negeri Latuhalat jenis pekerjaan yang digeluti oleh mayoritas warga Negeri latuhalat ialah sebagai Nelayanan karena potensi perikanan yang dimiliki Negeri Latuhalat sangat mumpuni sehingga masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya selalu beraktifitas di laut, dan masyarakat menggunakan potensi laut sebagai penghasil guna mencukupi kebutuhan hidup.

2. Perkembangan Pesisir Pantai Latuhalat.

Laju perkembangan Kota Ambon sesuai dengan kenyataan yang terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sudah semakin pesatnya. Perkembangan pembangunan tersebut berdampak juga pada pengembangan Kota pada wilayah pesisir. Untuk itu maka kebijakan Pembangunan di wilayah Pesisir Kota Ambon tidak dapat dilepaskan dari arahan Kebijakan Pembangunan Kota Ambon dan Kebijakan Pengembangan Ruang Kota. Sesuai Perencanaan Tata Ruang Wilayah Kota Ambon Tahun 2006-2026 menetapkan bahwa Wilayah pesisir pantai Kecamatan Nusaniwe yaiitu dari pantai Amahusu sampai Latuhalat yang termasuk daerah perairan Teluk Ambon Luar (TAL), diprioritaskan sebagai kawasan parawisata ,karena potensi pantainya, juga akan dikembangkan sebagai kawasan perdagangan lokal, perikanan, pemukiman serta industri Batu Bata. Dan sesuai dengan Rencana Induk Kota Kawasan Amahusu sampai Latuhalat

(6)

51 termasuk di dalam wilayah pengembangan IV dengan pusat pelayanan Amahusu.

Dengan mengacu kepada Rencana Tata ruang Wilayah Kota dan Rencana Induk Kota yang menetapkan kawasan Amahusu sampai Latuhalat akan dikembangkan menjadi daerah parawisata, Perdagangan lokal ,perikanan, industri dan pemukiman maka sudah saatnya kawasan ini merupakan barometer bagi kawasan lain disekitarnya.

Sejalan dengan itu pula kawasan wilayah pantai Kecamatan Sirimau yakni pada daerah pantai Tantui sampai Galala yang juga termasuk bagian dari perairan Teluk Ambon Luar (TAL), sesuai dengan Perencanaan Tata Ruang Wilayah Kota dan Rencana Strategis Kota Ambon juga diarahkan sebagai kawasan Perumahan, perdagangan, jasa lokal serta Perikanan oleh sebab itu maka secara khusus dibutuhkan perhatian Pemerintah Daerah dan Instansi yang terkait secara serius untuk menata kembali kawasan ini serta mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan terkait dengan pengembangan kawasan ini sesuai Perencanaan Tata Ruang Kota, dan terlebih khusus adalah Rencana Tata Ruang Pesisir.

Namun berdasarkan kenyataan yang terjadi di dilapangan bahwa pada kawasan wilayah pesisir pantai Amahusu dan pesisir pantai Eri serta kawasan pesisir Tantui dan pesisir Galala hingga saat ini masih belum ditata dengan baik sesuai dengan konsep Penataan Ruang Wilayah Kota yang sesuai karena wilayah ini sudah sejak lama ada sebelum Pemerintah dewasa ini menyusun Penataan Ruang Wilayah Kota Ambon.

Dengan demikian maka dapat dilihat bahwa pada sepanjang kawasan pesisir Amahusu – Eri ditemukan hampir sebagian besar lokasi pemukiman penduduk berada dekat dengan garis pantai, hampir tidak terdapat daerah sempadan pantai yang

(7)

52 merupakan buffer sebagai penyangga apabila terjadi gelombang yang menghantam pantai dan fungsinya untuk menjaga daerah pantai.

Adanya reklamasi pantai untuk pembangunan hotel dan penginapan yang tidak sesuai dengan daya dukung lingkungan, adanya pengambilan bahan galian C untuk keperluan penduduk atau dijual sehingga dapat mengakibatkan terjadinya erosi pada lokasi tertentu, adanya jalan utama yang terlalu dekat dengan daerah pantai sehingga menyebabkan terjadi kerusakan terhadap badan talud pelindung jalan karena terjaan gelombang sehingga jalan tersebut mengalami kerusakan yang serius sampai saat ini, adanya pengaruh gelombang dan aru pasang surut yang begitu tinggi serta kondisi pantai Amahusu Eri berada pada daerah ujun Teluk Ambon Luar dengan pengaruh gelombang yang datang dari laut Banda.

Untuk kawasan Tantui-Galala juga ditemukan lokasi pemukiman, perkantoran berada pada daerah pantai, hampir tidak terdapat daerah sepandan pantai sebagai buffer atau penyangga sehingga dapat menyebabkan terjadinya pengikisan akibat terjaan gelombang, terdapat aliran sungai yang bermuara pada kawasan tersebut yang diperkirakan sebagai penyebab terjadinya proses sedimentasi yang cukup besar.

Dengan kondisi kerusakan sesuai dengan kenyataan yang ada di lokasi penelitian maka akan sangat berpengaruh terhadap Rencana penataan Ruang Pesisir Kota Ambon jika permasalahn-permasalahan ini tidak dapat ditanggulangi secara baik.

Terjadinya kerusakan ini diidentifikasi disebabkan karena laju pembangunan yang diarahkan ke wilayah pesisir semakin tidak terkendali dan tanpa memikirkan daya dukung lingkungan, banyak sekali tumpang tindih kepentingan di wilayah pesisir dimana masing-masing instansi mempunyai program kerja sendiri-sendiri, kurang

(8)

53 tegasnya aturan bagi masyarakat yang menghuni daerah pesisir dimana banyak sekali terjadi penambangan pasir, pengambilan bahan galian C untuk pembuatan rumah-rumah, kesadaran masyarakat yang menghuni daerah pesisir masih kurang sekali hal ini terlihat jelas dengan pembuangan sampah dan limbah masyarakat yang dibuang langsung ke laut.

Adanya pengaruh gelombang dan arus serta pasang surut yang tinggi, serta transport sediment akibat pengaruh geombang dan arus yang menuju pantai dengan konsentrasi yang cukup besar sehingga menyebabkan erosi, abrasi dan sedimentasi semakin bertambah, adanya pemukiman penduduk dengan prosentasi terbesar berada pada daerah pesisir sehinga memperparah kerusakan lingkungan yang terjadi diwilayah pesisir, kurang peduli dan seriusnya pemerintah dalam menangani permasalahan dan kerusakan pantai yang terjadi selama ini, dimana penanganan yang dilakukan terkesan asal-asalan dan tanpa melalui suatu kajian ilmiah terlebih dahulu hingga menyebabkan penanganan yang dilakukan tidak efektif dan optimal dan tak bertahan lama.

Dengan demikian kondisi ini perlu dipikirkan secara serius oleh Pemerintah daerah dikaji lebih lanjut dengan bijaksana karena penanganan selama ini oleh pihak- pihak instansi terkait terkesan asal-asalan sehingga kerusakan pantai yang terjadi pada kawasan-kawasan tersebut hingga saat ini masih tetap serius.

Dengan demikian maka permasalahan yang disebutkan di atas perlu dicari jalan keluar sehingga pada akhirnya diperoleh upaya-upaya yang efektif untuk menanggulangi kerusakan daerah pantai daerah penelitian Untuk nantinya sebagai data untuk melakukan perencanaan Tata Ruang Pesisir Kota Ambon supaya pemanfatan lahan pesisir dapat dikendalikan dan diarahkan sesuai fungsinya.

(9)

54 Pantai adalah daerah di tepi perairan yang dipengaruhi oleh air pasang tertinggi dan air surut terendah. Pantai selalu menyesuaikan bentuk profilnya sedemikian sehingga mampu menghancurkan energi gelombang yang datang. Penyesuaian bentuk tersebut merupakan tanggapan dinamis alam pantai terhadap laut.

Ada 2 (dua) tipe tanggapan pantai terhadap gerak gelombang, yaitu tanggapan terhadap kondisi gelombang badai dan kondisi gelombang normal yang terjadi dalam waktu yang lebih lama, dan energi gelombang dengan mudah dapat dihancurkan oleh mekanisme pertahanan alam pantai. Pada saat badai terjadi gelombang yang mempunyai energi besar, sering pertahanan alami pantai tidak mampu menahan serangan gelombang, sehingga pantai dapat tererosi . Setelah gelombang besar reda, pantai akan kembali ke bentuk semula oleh pengaruh gelombang normal. Tetapi adakalanya pantai yang tererosi tersebut tidak kembali ke bentuk semula karena material pembentuk pantai terbawa arus ke tempat lain dan tidak kembali ke lokasi semula.

Dengan demikian pantai tersebut mengalami erosi. Material yang terbawa arus tersebut akan mengendap di daerah yang lebih tenang, seperti muara, Teluk, Pelabuhan , dan sebagainya sehingga mengakibatkan terjadinya sedimentasi. Wilayah pantai adalah daerah yang secara intensif dimanfaatkan untuk kegiatan manusia seperti, Industri, Pemukiman, Pelabuhan, Pertambakan, Pertanian, Pariwisata yang semuanya itu menimbulkan peningkatan kebutuhan alam, prasarana dan lainnya. Hal–hal ini mengakibatkan timbulnya masalah baru seperti :

a. Erosi Pantai , yang merusak kawasan pemukiman dan prasarana kota, yang berupa mundurnya garis pantai yang disebabkan oleh gelombang, arus, kegiatan manusia

(10)

55 seperti penebangan hutan bakau, pengambilan karang pantai penambangan pasir, pembangunan pelabuhan atau bangunan pantai lainnya;

b. Sedimentasi, Tanah timbul yang menyebabkan majunya garis pantai majunya garis pantai disatu pihak dapat dikatakan menguntungkan karena timbulnya lahan baru, sementara dipihak lain menyebabkan tersumbatnya muara sungai dan saluran drainase yang mengakibatkan banjir dan genangan.

Proses sedimentasi dan erosi sangat tergantung pada sedimen dasar dan pengaruh hidrodinamika gelombang dan arus. Transport sedimen secara fisik dipengaruhi oleh interaksi antara pasang surut, angin, arus, gelombang, jenis dan ukuran sedimen serta adanya bangunan di daerah pantai.

Karakteristik sedimen yang meliputi bentuk ukuran partikel dan distribusinya, serta spesifik gravity sangat penting untuk diketahui karena berpengaruh terhadap proses pengendapan / kecepatan jatuhnya partikel sedimen setelah terapung.

B. Objek Wisata Di Negeri Latuhalat

1. Jenis Parawisata yang ada di Negeri Latuhalat

a. Pantai Namalatu, berhadapan dengan Laut Banda, terletak di sebelah Selatan Pulau Ambon, di Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, tepatnya 15 km dari pusat kota Ambon. Kata Namalatu sendiri berasal dari kata Nama dan Latu yang berarti Nama dan Raja. Desa Latulahat adalah sentra produksi batu bata yang dibuat secara tradisional oleh masyarakat dan sudah berlangsung secraa turun temurun. Perajin perahu cengkeh, cendramata khas Maluku juga terdapat di desa ini. Desa ini juga memiliki pantai dengan taman lautnya yang indah sehingga cocok untuk berenang,

(11)

56 snorkeling dan menyelam. Lokasi ini juga merupakan tempat memancing yang ideal. Pantainya yang berpasir putih dan sebagian berkarang. Pada bulan Maret/April muncul laor (lycde Oele) sejenis cacing laut yang ditimba beramai-ramai di malam hari dengan menggunakan nyiru dan diterangi obor. Penerangan obor sepanjang pesisir pantai menjadi pemandangan malam yang sangat indah.

b. Pantai Felawatu, terletak di Airlow, sebelah Timur Desa Latulahat, Selatan Pulau Ambon sekitar 15 km dari pusat kota Ambon. Pantai ini menawarkan tempat pertemuan untuk diskusi, seminar dengan suasana yang tenang. Dilengkapi pula dengan fasilitas penginapan, restoran dan tempat rekreasi. Di desa Naku juga memiliki pantai yang indah dipinggiran laut Banda dengan air yang jernih dan tempat yang ideal untuk menyelam dan berselancar. Di sekitar pantai ini ada Anihang, air terjun setinggi 15 meter dan juga ada gua yang disebut Liang Kupang, berlokasi di Tanjung Kecil. Tempat ini merupakan tempat persembunyian tentara pada masa Perang Dunia ke II dan banyak ditemukan tulang manusia di gua ini. Setiap tahun desa ini dibersihkan dengan cara tradisional

c. Pantai Lelisa, terletak di Desa Latulahat, bersebelahan dengan pantai Namalatu yang sudah dilengkapi dengan fasilitas penginapan dan cottage serta restoran. Pantai Lelisa memiliki formasi karang sampai ke pantai dan memberikan pemandangan yang khas saat pasang surut. Merupakan

(12)

57 tempat berenang yang aman dan merupakan tempat rekreasi yang populer bagi masyarakat Ambon.

Pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut. Wilayah pesisi rmenuju ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang dipengaruhi sifat-sifat laut, seperti pasang surut air laut dan perembesan air asin.

Sedangkan ke arah laut dari wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar.51 Hutan pantai adalah hutan yang tumbuh di sepanjang pantai, dan berada diatas garis pasang air laut. Kawasan hutan pantai tanahnya berpasir dan berbatubatu, lebarnya hanya beberapa puluh meter saja. Jenis-jenis pohon yang tumbuh dikawasan hutan pantai diantaranya Barringtonia speciosa, Terminalia catappa, Calophyllum inophyllum, Hibiscus tiliaceus, Casuarina equisetifolia dan Pisoniagrandis.52

Flora di daerah pantai mempunyai corak yang khas. Kadar garam di dalam tanah yang cukup tinggi, dan panas terik matahari mengakibatkan hanya tumbuhan yang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan itu dan dapat hidup subur.

Equisetifolia var. incana atau cemara udang merupakan salah-satu vegetasi yang

mampu tumbuh pada kondisi lingkungan yang ekstrim karena ketahanannya terhadap kekeringan dan mempunyai perakaran yang kuat sehingga tahan terhadap hembusan angin. Equisetifolia var. incana dapat dipergunakan untuk memperbaiki tanah pesisir pantai karena memiliki bintil akar yang di dalamnya banyak mengandung frankia, sehingga mampu menambah nitrogen dari udara. Cemara udang mampu memiliki tinggi

51 Kusnadi. 2002. Konflik Sosial Nelayan: Kemiskinan dan Perebutan Sumberdaya Alam. LKiS.

Yogyakarta. Hlm 58.

52 Monk, A.K., Y. de Fretes, dan J. Tirtosudarmo. 1998. Ekologi Nusa Tenggara dan Maluku.

Prenhalindo, Jakarta. Hlm.78.

(13)

58 hingga mencapai 25 m dengan batang bebas cabang 10-15 m. Cemara udang memiliki batang luar berwarna coklat keabu-abuan, berlekuk tidak dalam, banir akar kecil atau tidak ada sama sekali.

Daun dari cemara udang berbentuk sisik, bunganya dalam karangan yangterdiri dari 7-8 bunga. Komunitas tumbuhan bawah merupakan salah satu komponen hutan yang diharapkan dapat menjadi penyangga ekologis. Keanekaragaman jenis tumbuhan bawah dan kecepatan tumbuhan tersebut terdekomposisi merupakan peran fungsional yang cukup diperhitungkan dalam mekanisme kehidupan ekosistem hutan disamping fungsi dan manfaat lain seperti siklus hidrologis, orologis, dan penyediaan hijauan ternak. Meskipun mempunyai pengaruh negatif karena dapat menjadi pesaing bagi tanaman pokok, tumbuhan bawahberperan penting dalam ekosistem hutan.

Tumbuhan bawah terlibat dalam interaksi antar jenis seperti kompetisi interspesifik, alelopati, simbiosis, merupakan tempat perlindungan yang baik bagi mamalia; dan menentukan iklim mikro yang cocok bagi serangga menjelaskan bahwa pada kawasan pesisir pantai dapat dijumpai pola distribusi spasial tumbuhan bawah seperti acak (random).

2.Izin Pengelolaan Pantai di Negeri Latuhalat untuk Kepentingan Parawisata.

Izin Pengelolaan pantai di Negeri Latuhalat tentu saja melalui Pemerintah yang di dalamnya ada skema pemberi Izin mulai dari Dinas Pariwisata bahkan pada tingkatan yang lebih tinggi yaitu pemerintah kota, hal ini telah diatur dalam Undang- Undang Pengelolaan wilayah pesisir yang menyatakan bahwa pemerintah Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah.

(14)

59 Di dalam undang-undang ini, pemerintah memberikan kewenangan kepada pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengelola perairan laut pesisir dan perairan laut pulau-pulau kecil sampai batas 12 mil.

Selain itu undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil, dalam Pasal 1 ayat 1: Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu pengoordinasian perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil yang dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah, antar sektor, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Jika di cermati dan dianalisis berkaitan dengan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2013 Tentang Pengelolaan Wilaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, kewenangan pemerintah sangat mendominasi dan mendiskreditkan kepentingan masyarakat Negeri Latuhalat dapat dilihat pada ketentuan Pasal 7. Mulai dari pengaturan Penetapan, Perencanaan, Eksplorasi, Konservasi, pengawasan, pengaturan administrasi, pemberdayaan dan Pelaksanaan semua di dominasi oleh pemerintah tanpa mempertimbangkan Hak-hak daripada masyarakat Negeri Latuhalat sebagai suatu kumpulan masyarakat Adat.

Perda Provinsi Maluku Nomor 10 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil, di dalam unsur menimbang mengatakan bahwa pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, perlu diimplementasikan secara terpadu, agar tercipta keseimbangan dalam menunjang pembangunan berkelanjutan dengan upaya pemanfaatan, pengembangan, perlindungan dan pelestarian lingkungan dan sumber daya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara lestari yang didukung

(15)

60 dengan upaya pemberdayaan masyarakat. Hal yang lain dalam Perda sesuai dengan Bab V Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Pasal 8 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pemeliharaan, pengawasan, dan pengendalian terhadap interaksi manusia dalam memanfaatkan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta proses alamiah secara terpadu dan berkelanjutan dalam upaya meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Maluku dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di dalam BAB IV Perizinan Pasal 51 sebagai syarat Perizinan dengan mempertimbangkan hak yang diatur dalam Pasal 55 ayat 2 yakni, Setiap orang dan/atau masyarakat di dalam dan di sekitar destinasi pariwisata mempunyai hak prioritas :

a. menjadi pekerja/buruh;

b. konsinyasi; dan/atau c. pengelolaan.

Berdasarkan peraturan yang diatas maka Negeri Latuhalat harus di perhatikan dalam segala aspek yang berkaitan dengan pengelolaan pesisir pantai sebagai wilayah pariwisata. Pengelolan harus memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar dan memperhatikan aspek lingkungan serta perlindungan kepada hak-hak masyarkat adat Negeri Latuhalat.

Pemerintah daerah melalui peraturan daerah diatas dapat melindungi masyarakat Latuhalat dalam konsep pengololaam dan memberikan kontribusi baik secara ekonomi dan perlindungan hak-hak istiadat.

Dalam hal pengelolaan pesisir panatai Negeri Latuhalat terkadang pemerintah mengabaikan dan memberikan ksempatan bagi pengusaha untuk mengelolah pesisir pantai Negeri Latuhal hal ini mengakibatkan banyak tempat-tempat yang rusak akibat tidak

(16)

61 dilibatkanya masyarakat sekitar dalam hal pengelolaan pesisir untuk kepentingan pariwisata dan pengebangan pesisir pantai.

C. Hak-Hak Masyarakat Negeri Latuhalat yang Mendiami Wilayah Pesisir

1. Hak-Hak Masyarakat Negeri Latuhalat Terkait Pengelolaan Pantai untuk Kepentingan Parawisata.

Hak secara definisi merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman berprilaku, melindungi, kebebasan, kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya. Hak mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :

a. Pemilik hak;

b. Ruang lingkup penerapan hak; dan

c. Pihak yang bersedia dalam penerapan hak. Ketiga unsur tersebut menyatu dalam pengertian dasar hak.

Dengan demikian hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada dalam ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi.53

Hak telah terpatri sejak manusia lahir dan melekat pada siapa saja. Diantaranya adalah hak kemerdekaan, hak mahluk dan harkat kemanusian, hak cinta kasih sesama, hak indahnya keterbukaan dan kelapangan, hak bebas dari rasa takut, hak nyawa, hak rohani, hak kesadaran, hak untuk tentram, hak untuk memberi, hak untuk menerima, hak untuk dilindungi dan melindungai dan sebagainya. Kamus Umum Bahasa

53 Demokrasi, HAM, Masyarakat Madani, Tim ICCE Jakarta 2003, Hlm. 199

(17)

62 Indonesia menyebutkan bahwa hak adalah (1) yang benar, (2) milik kepunyaan, (3) kewenangan (4) kekuasaan untuk berbuat sesuatu (5) kekuasaan untuk berbuat sesuatu atau untuk menuntut sesuatu, dan (6) derajat atau martabat.

Pengertian yang luas tersebut mengandung prinsip bahwa hak adalah sesuatu yang oleh sebab itu seseorang (pemegang) pemilik keabsahan untuk menuntut sesuatu yang dianggap tidak dipenuhi atau diingkari. Seseorang yang memegang hak atas sesuatu, maka orang tersebut dapat melakukan sesuatu tersebut sebagaimana dikehendaki, atau sebagaimana keabsahan yang dimilikinya.

Kewajiban dasar manusia adalah seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan tidak memungkinkan terlaksananya dan tegaknya hak asasi manusia.

Setiap warga negara mempunyai hak dan kedudukan yang sama dimata hukum yang diakibatkan oleh adanya hubungan nasionalitas. Perlindungan merupakan suatu hak yang harus diterima oleh warga negara yang bersangkutan.

Mengenai Hak-hak masyarakat Negeri Latuhalat terkait pengelolaan pantai untuk kepentingan pariwisata seperti yang terkandung dalam Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil Tentang Hak-hak Masyarakat Adat, masyarakat tradisional, dan kearifan lokal atas wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang telah diberikan dalam bentuk hak pengusahaan perairan pesisir (HP-3), berarti bahwa masyarakat Negeri Latuhalat mempunyai wewenang penuh untuk mengelola segala jenis usaha yang berkaitan dengan pantai demi dan untuk kepentingan pariwisata.

Di sini peran masyarakat sangat dibutuhkan tergantung dengan kreatifitasnya masing-masing, bentuk pengelolahan itu sendiri dimulai dari usaha kecil-kecilan seperti penjualan aneka macam minuman dan makanan, perabotan yang dipakai

(18)

63 pengunjung untuk menikmati pantai (Perahu, Bantal Renang), hingga pada pembangunan tempat-tempat istirahat yang nyaman. Intinya bahwa segala bentuk aktifitas pengunjung yang berkaitan dengan pariwisata pantai di Negeri Latuhalat sepenuhnya menjadi tanggungjawab masyarakat setempat.

Selanjutnya dalam ayat (2) Setiap orang dan/atau masyarakat di dalam dan di sekitar destinasi pariwisata mempunyai hak prioritas:

a. menjadi pekerja/buruh;

b. konsinyasi; dan/atau c. pengelolaan.

Masyarakat Negeri Latuhalat juga memiliki peran yang sangat penting dalam memutuskan untuk dijalankan tidaknya suatu usaha dalam Negeri Latuhalat itu sendiri, masyarakat mempunyai peran baik dalam hal pengelolaan serta perlindungan dan turut serta berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata. Pemerintah daerah Kota Ambon memalui perda tersebut harus memberikan kewenangan serta kesempatan kepada masyarakat untuk mengelolah serta melindungi kawasan pesisir pantai latuhalat.

Selama ini sesuai dengan hasil pengamatan penulis di beberapa tempat pariwisata di pesisir panatai latuhalat ada beberapa pedagang yang tidak berasal dari warga negeri Latuhalat.

2. Bentuk Perlindungan Terhadap Hak Masyarakat Negeri Latuhalat yang Mendiami Wilayah Pesisir.

Pengertian perlindungan dalam ilmu hukum adalah suatu bentuk pelayanan yang wajib dilaksanakan oleh aparat penegak hukum atau aparat keamanan untuk memberikan rasa aman, baik fisik maupun mental, kepada korban dan sanksi dari

(19)

64 ancaman, gangguan, teror, dan kekerasan dari pihak manapun yang diberikan pada tahap penyelidikan, penuntutan, dan atas pemeriksaan di sidang pengadilan. Aturan hukum tidak hanya untuk kepentingan jangka pendek saja,akan tetapi harus berdasarkan kepentingan jangka panjang. Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial.

Perlindungan hukum adalah memberikan pengayoman kepada hak asasi manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum atau dengan kata lain perlindungan hukum adalah berbagai upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun.

Perlindungan hukum yang preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa, yang mengarahkan tindakan pemerintah bersikap hati-hati dalam pengambilan keputusan berdasarkan kemauan sendiri tanpa di dasari pada berbagai norma hukum yang berlaku, dan perlindungan yang represif bertujuan untuk menyelesaikan terjadinya sengketa, dapat dinyatakan bahwa fungsi hukum adalah melindungi rakyat dari bahaya dan tindakan yang dapat merugikan dan menderitakan hidupnya dari orang lain, masyarakat maupun penguasa. Selain itu berfungsi pula untuk memberikan keadilan serta menjadi sarana untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Perlindungan hak-hak masyarakat di wilayah pesisir adalah suatu usaha yang mengadakan kondisi dimana setiap masyarakat dapat melaksanakan hak dan kewajibannya. Perlindungan hak-hak masyarakat di wilayah pesisir merupakan

(20)

65 perwujudan adanya keadilan dalam suatu masyarakat. Dengan demikian maka perlindungan hak-hak masyarakat di wilayah pesisir harus diusahakan dalam beberapa bidang kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Kesadaran akan semua kegiatan dibidang perlindungan hak-hak masyarakat di wilayah pesisir seharusnya mulai diperhatikan dengan sungguh-sungguh, termasuk diantaranya perhatian kepada ketentuan-ketentuan hukum yang dalam pelaksanaannya belum atau tidak punya perspektif hak-hak masyarakat di wilayah pesisir.

Mencermati hal tersebut maka ada 2 (dua) konsep perumusan tentang perlindungan hak-hak masyarakat di wilayah pesisir, yaitu :

Pertama; segala upaya yang dilakukan secara sadar oleh setiap orang maupun lembaga pemerintahan dan swata yang bertujuan mengusahakan pengamanan, penguasaan dan pemenuhan kesejahteraan fisik, mental dan sosial hak-hak dan masyarakat di wilayah pesisir yang sesuai denga kepentingan dan hak-haknya.

Kedua; segala daya upaya bersama yang dilakukan dengan sadar oleh perorangan, keluarga, masyarakat, badan-badan pemerintahan dan swasta untuk pengamanan, pengadaan dan pemenuhan kesejahteraan rohaniah dan jasmaniah hak- hak masyarakat di wilayah pesisir, sesuai dengan hak asasinya dan kepentingan agar dapat mengembangkan dirinya seoptimal mungkin.

Sebagaimana telah diatur dalam Pasal 61 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menyatakan bahwa Pemerintah mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak masyarakat tradisional, dan kearifan lokal atas wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang telah dimanfaatkan secara turun-temurun.

(21)

66 Perlindungan hukum atas hak-hak masyarakat di wilayah pesisir merupakan perwujudan dimana tercapainya tujuan hukum itu sendiri, terlebih khusus perlindungan hukum terhadap masyarakat Latuhalat, konsep mengakui dan menghormati yang secara eksplisit dituangkan dalam norma di atas merupakan suatu ketegasan negara untuk memberikan penghormatan dan perlindungan yang tidak hanya diaktualisasikan dalam bentuk norma tetapi diimplementasikan dalam bentuk tindakan pemerintah baik dari pusat sampai pada daerah.

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa di dalam Pasal 19 ayat (2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Pariwisata menyebutkan bahwa setiap orang dan/atau masyarakat di dalam dan di sekitar destinasi pariwisata mempunyai hak prioritas untuk menjadi pekerja/buruh, konsinyasi; dan/atau pengelolaan.

Selain itu dipertegas pula dalam Bab V Perda Propinsi Maluku Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, yang dalam Pasal 8 menyebutkan bahwa Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pemeliharaan, pengawasan, dan pengendalian terhadap interaksi manusia dalam memanfaatkan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta proses alamiah secara terpadu dan berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Maluku dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sesuai ketentuan di atas, seyogya masyarakat Negeri Latuhalat dilibatkan dalam pengelolaan pantainya untuk kepentingan parawisata. Namun demikian, hingga saat ini masyarakat Negeri Latuhalat belum mendapatkan haknya secara optimal.

Referensi

Dokumen terkait

Keywords: Data Collection Sytem, PHP, SMK Negeri 1 Tandun Abstrak Sistem informasi adalah suatu sistem buatan manusia yang secara umum terdiri atas sekumpulan komponen berbasis