BAB III
PEMBAHASAN
A. Dasar Hukum Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan Perkara Tindak Pidana Konservasi Sumber Daya Alam Hewani Dalam Putusan Nomor 376/ Pid. B/ LH/ 2019/ PN/
Plg
Pertimbangan hukum diartikan suatu tahapan dimana majelis hakim mempertimbangkan fakta yang terungkap selama persidangan berlangsung, mulai dari dakwaan, tuntutan, eksepsi dari terdakwa yang dihubungkan dengan alat bukti yang memenuhi syarat formil dan syarat materil, yang disampaikan dalam pembuktian, pledoi. Dalam pertimbangan hukum dicantumkan pula pasal-pasal dari peraturan hukum yang dijadikan dasar dalam putusan tersebut.
Pertimbangan hakim atau Ratio Decidendi adalah argument atau alasan yang dipakai oleh hakim sebagai pertimbangan hukum yang menjadi dasar sebelum memutus kasus. Menurut
70
Rusli Muhammad dalam melakukan pertimbangan hakim ada dua macam yaitu pertimbangan secara yuridis dan sosiologis.1
(a) Pertimbangan Yuridis
Pertimbangan yang bersifat yuridis adalah pertimbangan hakim yang didasarkan pada fakta-fakta yang terungkap di dalam persidangan dan oleh undang-undang telah ditetapkan sebagai hal yang harus dimuat di dalam putusan. Hal-hal yang dimaksud tersebut antara lain:
(1) Dakwaan Penuntut Umum
Dakwaan merupakan dasar hukum acara pidana karena berdasarkan itulah pemeriksaan di persidangan dilakukan.
Dakwaan selain berisikan identitas terdakwa, juga memuat uraian tindak pidana yang didakwakan dengan menyebut waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan. Dakwaan yang dijadikan pertimbangan hakim adalah dakwaan yang telah dibacakan di depan sidang pengadilan. Isi dakwaan yang ada
1 Damang, Definisi Pertimbangan Hukum, dalam http://www.damang.web.id, diakses 9 September 2016.
di dalam putusan nomor 376/Pid.B/LH/2018/PN.Plg pada pokoknya sebagai berikut:
Bahwa terdakwa MUHAMMAD ARIF Bin SARNUBI pada hari Kamis tanggal 14 Desember 2017 sekira pukul 09.00 WIB atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam bulan Desember 2017 bertempat di Pangkalan sandar Perairan Sungsang Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin atau setidak–tidaknya di suatu tempat yang masih termasuk dalam kewenangan mengadili Pengadilan Negeri Palembang dikarenakan para saksi bertempat tinggal di Palembang (berdasarkan Pasal 84 ayat (2) KUHAP), dengan sengaja mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan atau sarang satwa yang dilindungi. Perbuatan tersebut dilakukan oleh terdakwa dengan cara sebagai berikut :
- Bahwa pada hari Rabu tanggal 13 Desember 2017 sekira pukul 13.00 WIB, terdakwa MUHAMMAD ARIF Bin SARNUBI membeli telur Ketam Tapak
Kuda (Belangkas) + 100 (seratus) kilogram dari UNGGUN (DPO) seharga Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) per kilogram dengan jumlah keseluruhan seharga Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah) di gudang yang terdakwa sewa dari WI di Kampung Yunan Desa Sungsang IV Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin.
- Bahwa pada hari Kamis tanggal 14 Desember 2017 pukul 08.30 WIB, anggota Direktorat Kepolisian Peraiaran Kepolisian Daerah Sumatera Selatan mendatangi gudang tersebut dam ditemukan 1 (satu) buah fiber yang berisikan + 100 (seratus) kilogram telur Ketam Tapak Kuda (Belangkas) milik terdakwa.
- Bahwa terdakwa telah membeli telur Ketam Tapak Kuda (Belangkas) dari UNGGUN sebanyak 3 (tiga) kali yaitu pada bulan Oktober 2017 sebanyak 60 (enam puluh) kilogram seharga Rp 3.000.000,- (tiga juta rupiah), pada akhir bulan Nopember 2017 sebanyak 60 (enam puluh) kilogram seharga Rp
3.000.000,- (tiga juta rupiah) dan pada hari Rabu tanggal 13 Desember 2017 sebanyak + 100 (seratus) kilogram seharga Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah).
- Bahwa setelah terdakwa membeli telur Ketam Tapak Kuda (Belangkas) tersebut, kemudian terdakwa menjual telur tersebut kepada YASA yang berada di Medan dengan cara berhubungan melalui telepon, adapun dalam pengiriman tersebut dilakukan dengan cara telur tersebut dimasukkan ke dalam karung yang kemudian dikirim melalui ekspedisi dan dalam setiap penjualan, terdakwa mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1.800.000,- (satu juta delapan ratus ribu rupiah).
- Bahwa Ketam Tapak Kuda (Belangkas) tersebut adalah termasuk salah satu satwa yang dilindungi di Indonesia dan untuk di wilayah Propinsi Sumatera Selatan tidak ada orang atau badan usaha yang memiliki izin untuk melakukan penangkaran dan peredaran satwa yang dilindungi jenis Ketam Tapak Kuda tersebut karena sudah terdaftar di dalam
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 7 Tahun 1999 tanggal 27 Januari 1999 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa nomor urut 229 dengan nama ilmiah (latin) Tachypleus gigas.
- Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 40 ayat (2) Jo. Pasal 21 ayat (2) huruf e UU Republik Indonesia Nomor : 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati.
(2) Keterangan Terdakwa
Keterangan terdakwa menurut Pasal 184 butir e KUHAP, digolongkan sebagai alat bukti. Keterangan terdakwa dalam putusan nomor 376/Pi. B/2018/PN.Plg, atas dakwaan Penuntut Umum tersebut, terdakwa membenarkan segala tuntutan yang dituntutkan oleh Penuntut Umum kepada terdakwa.
(3) Keterangan Saksi
Dari semua keterangan-keterangan yang diberikan oleh para saksi, semuanya membenarkan semua yang di tuntutkan oleh Penuntut Umum terhadap terdakwa.
(4) Barang-barang Bukti
Pengertian barang bukti disini adalah semua benda yang dapat dikenakan penyitaan dan diajukan oleh penuntut umum di depan sidang pengadilan, yang meliputi:
a. 1 ( satu ) buah fiber warna kuning yang berisi telur Ketam Tapak Kuda sebesar + 100 (seratus) kilogram;
250 (dua ratus lima puluh) gram untuk dilakukan identifikasi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia;
99.750 (sembilan puluh sembilan ribu tuju ratus lima puluh) gram dirampas untuk dimusnahkan;
b. 1 (satu) unit handphone merek Nokia warna hitam berikut simcard nomor 082177970386, dirampas untuk dimusnahkan;
(b) Pertimbangan Non Yuridis
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pertimbangan non- yuridis adalah sebagai berikut2:
(1) Berdasarkan aspek sosiologis
Berdasarkan aspek sosiologis disini adalah perbuatan terdakwa mengakibatkan satwa jenis ketam tapak kuda (Blangkas) terancam punah,
Pertimbangan hakim secara non-yuridis juga disebut dengan sosiologis. Pertimbangan hakim secara sosiologis diatur dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan bahwa hakim wajib mengali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan secara sosiologis oleh hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap suatu kasus, antara lain:
a. Memperhatikan sumber hukum tidak tertulis dan nilai- nilai yang hidup dalam masyarakt.
2 Nurini Aprilianda, Sistem Peradilan Pidana Indonesia: Teori dan
praktek, (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2017), hlm. 90
b. Memperhatikan sifat baik dan buruk dari terdakwa serta nilai-nilai yang meringankan maupun hal-hal yang memberatkan terdakwa.
c. Memperhatikan ada atau tidaknya perdamaian, kesalahan, peranan korban.
d. Faktor masyarakat, yakni lingkungan di mana hukum tersebut berlaku atau diterapkan.
e. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia dalam pergaulan hidup.
(2) Berdasarkan aspek psikologis
Dari aspek psikologisnya, yaitu dimana hakim melihat dari kondisi kejiwaan pelaku dan korban, serta kejiwaan dari hakim itu sendiri dalam memutuskan perkara. Dari aspek psikologisnya, jiwa terdakwa muhammad dan Hakim saat itu sangat sehat dan tidak ada cacat apapun di dalam diri terdakwa pada saat itu.
(3) Berdasarkan aspek antropologi
Dari segi antropologi yaitu penilaian dari seorang hakim yang berdasarkan dari tingkah laku sosial (masyarakat) dan kultural manusia, dimana penilaian tersebut bertujuan untuk menjelaskan fenomena hukum itu dan bukannya untuk memakai peraturan-peraturan hukum yang konkrit itu bagi mengarahkan tingkah laku manusia. Dari segi antropologi terdakwa Muhammad mengakui terus terang perbuatannya dan berlaku sopan di muka persidangan, terdakwa belum pernah dihukum, dan terdakwa juga sangat menyesali perbuatannya tersebut.
Selain dilihat dari kedua pertimbangan di atas, yaitu pertimbangan secara yuridis dan sosiologis, hakim juga mempertimbankan hal-hal yang dapat memberatkan dan meringankan. Dan didalam putusan nomor 376/Pid.B/LH/2018/PN.Plg hal-hal yang memberatkan ialah perbuatan terdakwa mengakibatkan satwa jenis ketam tapak kuda (Blangkas) terancam punah, sedangkan hal-hal yang meringankan adalah terdakwa mengakui terus terang perbuatannya dan berlaku
sopan di muka persidangan, terdakwa sangat menyesali perbuatannya, dan terdakwa belum pernah dihukum.
B. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tindak Pidana di Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hewani
Islam pada dasarnya adalah agama yang mengatur hubungan antara manusia dan Allah, manusia dan manusia, serta antara manusia dan mahluk hidup lainnya. Islam mengajarkan dalam pemanfaatan satwa tidak diperbolehkan menyakiti binatang.
Islam juga mengajarkan untuk menyayangi satwa. Ajaran Islam untuk menyayangi satwa itu bisa dilihat dari hadist/riwayat/kisah sebagai berikut:
ُه ْيِبَآ ْيَع ْدَّوَحُه ْيَع ْمبَشِه ْيَع ُرَوْحَ ْلْا ْدِلبَخ ُىْبَآ بٌََثَّدَح َتَبْيَش ْيِبَآ ُيْبٍرْكَب ْىُبَآ بٌََثَّدَح َةَرْيَر
ٍرْئِبِب ُفْيِطُي ٍّربَح ٍمْىَي ىِف بًبْلَك ْثْآَر بَّيِغَب ًةآَرْها َّىَا ْنَّلَسَو ِهْيَلَع الله ىَّلَص ِّيِّبًَّا ْيَع َعَل ْدَآْدَق
بَهَلَرِفُغَف بَهِق ْىَوِب ُهَل ْجَع َزٌََف ِشَطَعْلا َيِه ُهًَبَسِل
“Ada seorang pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu mengelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan.
Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.3
3 HR. Muslim no. 2245
Hadis ini mencerminkan bahwa kita harus saling tolong menolong sekalipun itu dengan seekor binatang, baik binatang peliharaan maupun binatang liar. Dan ini juga mencerminkan bahwa Islam sangat peduli dan memiliki kasih sayang terhadap binatang.4
Al-Qur’an ternyata juga telah memuat berbagai ayat tentang pentignya pelestarian satwa (hewan) dan menjaga keseimbangan ekosistem di bumi. Ayat-ayat yang memuat Firman Allah SWT tersebut menegaskan peran penting manusia, sebagai khalifah di bumi untuk turut serta menyelamatkan dan melestarikan satwa-satwa (termasuk satwa langka) agar tidak punah.5
Firman Allah SWT dalam Surat Al-An’am ayat 38:
ىِف ٍتَّباَد ْيِه بَهَو ْيِه ِبَتِكْلا ىِفبٌَْطَرَفبَه ْنُكُلبَثْهَا ٌنَهُا َّلِْا ِهْيَحبٌََجِب ُرْيِطَّيٍرِئَط َلَْو ِضْرَ ْلْا
( َى ْوُرَش ْحُي ْنِهِّبَر ىَلِا َّنُث ٍءْيَش ٨٣
)
Artinya: Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu, tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam al-kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpun.
4 Hayu S Prabowo, Khutbah Jum’at: Pelestarian Satwa Langka Untuk Keseimbangan Ekosistem, (Jakarta: Majelis Ulama, 2017), hal.7
5http://alamendah.ayat-al-quran-tentang-pelestarian-satwa-dan- keseimbangan-ekosistem. Diunggah tanggal 26 November 2014
Firman Allah di atas, memuat perintah kepada manusia untuk selalu berbuat kebajikan (ihsan) antar sesama mahluk hidup, termasuk terhadap hewan, dalam ayat tersebut juga jelas menunjukkan pentingnya unyuk melakukan perlindungan dan pelestarian terhadap hewan, baik hewan peliharaan ataupun hewan liar (satwa liar) dalam menjaga keseimbangan ekosistem di bumi.
Kaidah ushul fiqh juga menjelaskan dalam hal jual beli satwa liar, sebagian besar satwa-satwa tersebutdiperjual belikan kembali kepada orang lain, namun ada juga yang dipelihara sebagai hobi semata dan menjadi kepuasan batiniyyah saja.
Dipandang dari segi ekonomi jual beli satwa liar tentu dapat meningkatkan kesejahteraanmasyarakat karena harga dari jenis satwa-satwa tertentu memiliki harga yang relatif mahal. Akan tetapi jika dilihat dari sudut pandang Islam, sangatlah penting untuk mengetahui sejauh mana manfaat (maslahat) dari objek yang diperjualbelikan dan kerugian (mudharatnya). Secara tidak disadari memperjualbelikan satwa liar yang dilindungi maupun tidak dilindungi dapat berdampak buruk terhadap pelestarian
lingkungan salah satu diantaranya adalah mengakibatkan ketidak stabilan ekosistem di bumi ini. Banyak satwa-satwa liar menjadi langka keberadaannya dan menjadi punah sehingga keseimbangan ekosistem di bumi ini menjadi terganggu sebab jual beli satwa yang dilindungi tersebut.6
Fatwa Majelis Ulama Indonesia, “setiap umat Islam wajib menjaga keseimbangan ekosistem, salah satunya adalah dengan cara menjamin keberlangsungan hidup satwa terutama yang dilindungi. Semua kegiatan perburuan yang mengakibatkan kepunahan satwa liar tanpa dasar agama atau ketentuan hukum adalah haram”. Asrorun Ni’am menambahkan dalam perspektif Islam, dimensi kemanusiaan, lingkungan, dan sosial memiliki relasi ketuhanan, termasuk di dalamnya menjamin keberlangsungan hidup satwa terancam punah, dalam kondisi keterancaman. Kita tidak boleh untuk merusak atau memusnahkan tetapi wajib menjaga dari kepunahan.7
6 Nurhayati & Ali Imran Sinaga, Fiqh dan Ushul Fiqh, (Jakarta:
Prenadamedia Group, 2018), hal. 167
7 https://M.hidayatullah.com diunggah tanggal 13 maret 2014.
Dari penjelasan-penjelasan di atas, tindak pidana konservasi sumber daya alam hewani, yaitu dalam jual beli telur ketam tapak kuda (blangkas) menurut hukum Islam pada dasarnya jual beli diperbolehkan dan legal menurut syara’.
( بَبِّرلا َمَّرَحَو َعْيَبْلا ُالله َلَحَآَو ٥٧٢
٣ )
Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Namun, dalam konteks jual beli satwa langka hukum jual belinya tidak berlaku lagi. Jika kita kembali ke hukum berburu satwa langka yang sudah jelas hukumnya haram, maka pemanfaatannyapun akam menjadi haram, menjadi tidak diperbolehkan karena termasuk dalam kategori tolong menolong dalam hal kemaksiatan dan hal ini juga melanggar Undang-Undang yang telah dibuat oleh pemerintah.9
Selain hal di atas, kalau dilihat dari sudut pandang lain itu sebagian praktek jual beli satwa yang ada unsur jual beli hewan yang tidak ada manfaatnya menurut syariat, walaupun sebagian
8 QS. Al-Baqarah (2): ayat 275
9 Al-Qolyubi (al-Maktabah al-Syamilah al-Ishdaru al-Tsany), Vol. 2, hlm. 203.
kecil individu ada yang menganggapnya barang yang bermanfaat yang bersifat kasuistis. Bahkan dampak kepunahannya lebih jelas, dan akan berdampak terhadap ketidak seimbangannya alam, sehingga jual beli demikian adalah termasuk larangan syara’.
Jadi sudah jelas bahwa tinjauan hukum Islam terhadap tindak pidana konservasi sumber daya alam hewani (dalam penjual belian telur tapak kuda) yang sudah termasuk satwa langka dan dilindungi ini tidak boleh dilakukan karena dapat merusak keseimbangan ekosistem di bumi serta dapat menyebabkan ekosistem satwa tersebut menjadi punah. Dan disisi lain pemerintah juga sudah menetapkan Undang-Undang tentang dilarangnya pemburuan satwa langka yang dilindungi. Hal ini menjadi penguat tentang hukum keharaman berburu satwa langka dan perdagangannya.
Dan jika mengenai sanksi dalam hukum Islam terhadap Tindak pidana konservasi sumber daya alam hewani ini termasuk dalam Jarimah dan dikenai sanksi Ta’zir yaitu hukuman atas pelanggaran yang tidak ditetapkan hukumannya dalam Al-Qur;an
dan Hadits, yang mengatur atau menjelaskan tentang hukuman bagi pelaku yang melakukan tindak pidana konservasi sumber daya alam hewani, secara spesifik. Akan tetapi jika kita melihat fatwa Majelis Ulama Indonesia perbuatan ini haram apabila disamakan dengan hukum perburuan binatang liar. Hukuman Ta’zir ini dalam Hukum Pidana Islam diserahkan sepenuhnya
kepada Hakim, akan tetapi dengan memperhatikan kepada hukum-Hukum Pidana yang sudah berlaku dan tidak bertentangan dengan Hukum Islam.