• Tidak ada hasil yang ditemukan

bab iv hasil penelitian dan pembahasan - Repository UNISBA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "bab iv hasil penelitian dan pembahasan - Repository UNISBA"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

Pada tahun 2010, perusahaan yang paling banyak menggunakan debt to equity adalah Unilever Indonesia Tbk dengan debt to equity ratio (DER) sebesar 114,00%, sedangkan perusahaan yang paling sedikit menggunakan debt to equity adalah Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dengan debt to equity A. -Rasio ekuitas (DER) sebesar 17,00%. Pada tahun 2011, perusahaan yang paling banyak menggunakan debt to equity adalah Unilever Indonesia Tbk dengan debt to equity ratio (DER) sebesar 184,00%, sedangkan perusahaan yang paling sedikit menggunakan debt to equity adalah Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dengan debt to equity A. -Rasio ekuitas (DER) sebesar 15,00%. Pada tahun 2012, perusahaan yang paling banyak menggunakan debt-to-equity adalah Unilever Indonesia Tbk dengan debt-to-equity rasio (DER) sebesar 202,00%, sedangkan perusahaan yang paling sedikit menggunakan debt-to-equity adalah Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. dengan Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 21,00%.

Dari tabel tersebut terlihat perusahaan yang membagikan laba terbesar sebagai dividen kepada pemegang saham. Pada tahun 2008, perusahaan yang membagikan laba terbesar sebagai dividen kepada pemegang saham adalah Unilever Indonesia Tbk. Pada tahun 2009, perusahaan yang membagikan laba sebagai dividen kepada pemegang saham tertinggi adalah Astra Agro Lestari Tbk dengan Dividend Payout Ratio (DPR) sebesar 85,82%, sedangkan perusahaan yang membagikan laba sebagai dividen kepada pemegang saham terendah adalah Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dengan Rasio Pembayaran Dividen (DPR) sebesar 36,25%.

Pada tahun 2010, perusahaan yang paling banyak membagikan dividen kepada pemegang saham adalah Unilever Indonesia Tbk dengan rasio pembayaran dividen (DPR) sebesar 89,86%, sedangkan perusahaan yang paling sedikit membagikan dividen kepada pemegang saham adalah Aneka Tambang Tbk dengan pembayaran dividen. Hasil laporan (DPR) sebesar 40,07%. Pada tahun 2011, perusahaan yang paling banyak membagikan dividen kepada pemegang saham adalah Unilever Indonesia Tbk dengan rasio pembayaran dividen (DPR) sebesar 108,79%. Pada tahun 2012, perusahaan yang membagikan dividen kepada pemegang saham terbesar adalah Unilever Indonesia Tbk dengan rasio pembayaran dividen (DPR) sebesar 94,00%, sedangkan perusahaan yang membagikan dividen kepada pemegang saham paling sedikit adalah Astra Agro Lestari Tbk dengan dividen sebesar 94,00%. Rasio Pembayaran (DPR) sebesar 14,76%.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Perkembangan Tarif Pajak

Pada tabel 4.3 diuraikan data perkembangan tarif pajak pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) periode tersebut beserta hasil rata-rata yang diolah penulis untuk mengetahui perkembangan tarif pajak setiap tahunnya. Berdasarkan tabel diatas, nilai rata-rata penghitungan tarif pajak yang dilaporkan oleh 6 perusahaan dari tahun 2008-2012 mengalami penurunan setiap tahunnya. Dari perkembangan data yang dihasilkan dapat disimpulkan bahwa rata-rata tarif pajak tahun 2008-2012 adalah sebesar 23,70%.

Pada tahun 2008, perusahaan yang wajib membayar pajak paling besar adalah Astra Agro Lestari Tbk dengan tarif pajak sebesar 31,24%, sedangkan perusahaan yang wajib membayar pajak paling sedikit adalah Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dengan tarif pajak 25,17%. Pada tahun 2009, perusahaan yang membayar pajak paling banyak adalah Astra Agro Lestari Tbk dengan tarif pajak sebesar 30,83%, sedangkan perusahaan yang membayar pajak paling sedikit adalah Aneka Tambang Tbk dengan tarif pajak 24,08%. Pada tahun 2010, perusahaan yang wajib membayar pajak paling tinggi adalah Astra Agro Lestari Tbk dengan tarif pajak sebesar 29,03%, sedangkan perusahaan yang wajib membayar pajak paling sedikit adalah Semen Indonesia Tbk dengan tarif pajak 22,52%.

Pada tahun 2011, perusahaan yang wajib membayar pajak terbesar adalah Telekomunikasi Indonesia Tbk dengan tarif pajak sebesar 25,83%, sedangkan perusahaan yang wajib membayar pajak terkecil adalah Semen Indonesia Tbk dengan tarif pajak sebesar 22,29%. Pada tahun 2012, Unilever Indonesia Tbk menjadi perusahaan yang wajib membayar pajak terbesar, dengan tarif pajak yang dihasilkan sebesar. 25,17%, sedangkan perusahaan yang membayar pajak paling kecil adalah Telekomunikasi Indonesia Tbk dengan tarif pajak sebesar (22,29%).

Dari tabel 4.3 dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang harus membayar pajak terbesar pada tahun 2008 hingga 2012 adalah Astra Agro Lestari Tbk Telekomunikasi Indonesia Tbk (2011) dan Unilever Indonesia (2012). Sedangkan perusahaan yang membayar pajak paling sedikit pada tahun 2008 hingga 2012 adalah Indocement Tunggal Prakarsa (2008), Aneka Tambang Tbk (2009), Semen Indonesia dan Telekomunikasi Indonesia Tbk (2012).

Perkembangan Weighted Average Cost of Capital (WACC)

  • Uji Asumsi Klasik

Pada Tabel 4.4 diuraikan data perkembangan Weighted Average Cost of Capital (WACC) perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) periode 2008-2012, beserta hasil rata-ratanya yang diolah penulis untuk menentukan menentukan perkembangan. dari biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) per tahun. Berdasarkan tabel di atas, nilai rata-rata perhitungan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) yang dilaporkan oleh enam perusahaan mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, setiap tahunnya. Pada tahun 2010, nilai rata-rata Weighted Average Cost of Capital (WACC) meningkat menjadi 5,25% yang berarti dari tahun 2009 hingga tahun 2010 nilai rata-rata Weighted Average Cost of Capital (WACC) mengalami peningkatan sebesar 0,43%.

Pada tahun 2011, nilai rata-rata Weighted Average Cost of Capital (WACC) meningkat menjadi 6,82% yang berarti dari tahun 2010 hingga tahun 2011 nilai rata-rata Weighted Average Cost of Capital (WACC) mengalami peningkatan sebesar 1,57%. Pada tahun 2012, nilai rata-rata Weighted Average Cost of Capital (WACC) turun menjadi 6,67% yang berarti pada tahun 2011 hingga tahun 2012 nilai rata-rata Weighted Average Cost of Capital (WACC) meningkat sebesar 0,15% mengalami penurunan. Dari pengembangan data yang dihasilkan dapat disimpulkan bahwa rata-rata biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) selama periode 2008-2012 adalah sebesar 6,62%.

Pada tahun 2008, tingkat ekspektasi investasi korporasi yang tertinggi adalah Astra Agro Lestari Tbk dengan hasil WACC sebesar 15,96%, sedangkan ekspektasi investasi korporasi yang terendah adalah Unilever Indonesia Tbk dengan rata-rata tertimbang. hasil Cost of Capital (WACC) sebesar 4,12%. Pada tahun 2009, ekspektasi tertinggi terhadap investasi korporasi adalah Semen Indonesia Tbk dengan hasil WACC sebesar 7,00%, sedangkan ekspektasi terendah terhadap investasi korporasi adalah Aneka Tambang Tbk dengan rata-rata tertimbang cost of capital performance (WACC) sebesar 2,94% . Pada tahun 2010, ekspektasi tertinggi terhadap investasi korporasi adalah Aneka Tambang Tbk dengan hasil WACC sebesar 6,78%, sedangkan ekspektasi terendah terhadap investasi korporasi adalah Unilever Indonesia Tbk dengan rata-rata tertimbang biaya kinerja modal (WACC) sebesar 2,93% .

Pada tahun 2011, ekspektasi tertinggi terhadap investasi korporasi adalah Aneka Tambang Tbk dengan hasil WACC sebesar 10,23%, sedangkan ekspektasi terendah terhadap investasi korporasi adalah Unilever Indonesia Tbk dengan rata-rata tertimbang cost of capital performance (WACC) sebesar 3,08% . Pada tahun 2012, ekspektasi investasi bisnis yang tertinggi adalah Telekomunikasi Indonesia Tbk dengan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) sebesar 10,85%, sedangkan ekspektasi investasi bisnis terendah adalah semen. Dari Tabel 4.4 dapat disimpulkan bahwa tingkat ekspektasi tertinggi terhadap investasi suatu perusahaan pada tahun 2008 hingga 2012 adalah Astra Agro Lestari Tbk (2008), Semen Indonesia Tbk (2009), Aneka Tambang dan Telekomunikasi Indonesia Tbk (2012).

Uji Normalitas

Uji asumsi klasik dalam penelitian ini terdiri dari uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas. Model regresi yang valid adalah sebaran datanya normal atau mendekati normal (Santosa dan Ashari, 2005). Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas adalah dengan menggunakan uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S).

Hasil uji Kolmogorov-Smirnov dilihat dari tabel unstandardized residual pada Asymp.Sig (2-tailed) yang menunjukkan nilai sig > 0,05 yaitu 0,590 sehingga dapat disimpulkan bahwa data residual mempunyai pengaruh. berdistribusi normal, sehingga model regresi layak digunakan.

Tabel 4.5  Hasil Uji Normalitas
Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas

Uji Multikolineritas

Dari tabel diatas diperoleh data bahwa Debt to Equity Ratio (DER) memiliki nilai VIF sebesar 1,606, Dividend Payout Ratio (DPR) memiliki nilai VIF sebesar 1,640 dan tarif pajak memiliki nilai VIF sebesar 1,046.

Uji Autokorelasi

Metode pengujian yang sering digunakan adalah uji Durbin Watson (DW) untuk mendeteksi uji autokorelasi.

Tabel 4.7  Hasil Uji Autokorelasi
Tabel 4.7 Hasil Uji Autokorelasi

Uji Heteroskedastisitas

  • Analisis Regresi Linear Berganda
  • Analisis Koefisien Determinasi
  • Uji Hipotesis
    • Uji Parsial (T-Test)
    • Uji Simultan (F-Test)
  • Interprestasi Hasil dan Pembahasan

Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda untuk mengetahui pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Dividen Payout Ratio (DPR) dan Tarif Pajak terhadap rata-rata tertimbang biaya pinjaman. Merupakan taksiran nilai variabel terikat jika debt to equity ratio (DER), dividen payout ratio (DPR), dan tarif pajak bernilai nol (0). Hal ini menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio (DER), Dividend Payout Ratio (DPR) dan tarif pajak mempunyai pengaruh sebesar 27,1% terhadap Weighted Average Cost of Capital (WACC), sedangkan sebesar 72,9% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam hal ini. belajar.

Ho : 𝛽1 = 0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara DER terhadap biaya modal rata-rata tertimbang (WACC). Berdasarkan Tabel 4.11 diketahui nilai t-hitung untuk variabel Debt to Equity Ratio (DER) sebesar -0,110 dan t-tabel sebesar 2,056. Sehingga dapat diketahui Ho diterima dan Ha ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Weighted Average Cost of Capital (WACC). b) Rasio Pembayaran Dividen (DPR).

Ho : 𝛽2 = 0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara DPR terhadap biaya modal rata-rata tertimbang (WACC). Ho : 𝛽3 = 0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara tarif pajak terhadap biaya modal rata-rata tertimbang (WACC). Sehingga dapat diketahui Ho diterima dan Ha ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa tarif pajak tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap biaya modal rata-rata tertimbang (WACC).

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa debt-equity rasio (DER), dividen payout rasio (DPR) dan tarif pajak mempunyai pengaruh simultan yang signifikan terhadap biaya modal rata-rata tertimbang (WACC). Berdasarkan analisis terlihat bahwa nilai koefisien regresi rasio utang terhadap modal sendiri (DER) sebesar -0,001. Artinya, setiap kenaikan rasio utang terhadap ekuitas (DER) sebesar 1%, maka biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) akan turun sebesar 0,001.

Di satu sisi, debt to equity (DER) tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya modal rata-rata tertimbang (WACC). Hal ini didukung dengan analisis uji T yang menunjukkan bahwa nilai thitung untuk variabel Debt to Equity Ratio (DER) sebesar -0,110 dan t tabel sebesar 2,056 sehingga nilai t hitung lebih kecil dari t- meja. Artinya setiap kenaikan tarif pajak sebesar 1% maka biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) akan turun sebesar 0,035.

Sebagian, tarif pajak tidak memiliki dampak signifikan terhadap biaya modal rata-rata tertimbang (WACC).

Gambar

Tabel 4.5  Hasil Uji Normalitas
Tabel 4.7  Hasil Uji Autokorelasi

Referensi

Dokumen terkait

Pembahasan Hasil Penelitian Perbedaan Resiko dan Tingkat Pengembalian Antara Jakarta Islamic Indeks JII dan LQ45 pada Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2016 Berdasarkan Hasil uji

PENGARUH PENERAPAN GREEN ACCOUNTING, UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI JAKARTA ISLAMIC INDEX JII SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi