• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV - Repositori STKIP PGRI Sidoarjo

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "BAB IV - Repositori STKIP PGRI Sidoarjo"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

S1.10 di atas S1 dalam memecahkan masalah kontekstual matematika pada soal nomor 1 (lihat gambar 4.1) dan nomor 2 (lihat gambar 4.2) hanya mampu menghasilkan satu ide solusi. Fleksibilitas Siswa tidak dapat memberikan ide solusi yang berbeda (hanya satu ide solusi yang disediakan) untuk semua masalah matematika kontekstual yang disajikan. S2 dalam menyelesaikan soal matematika kontekstual pada nomor 1 (Gambar 4.3) penyelesaiannya masih belum tepat karena menentukan hanya satu ukuran lukisan, sedangkan soalnya ada dua lukisan.

Berikut hasil tes dan petikan wawancara untuk S2 tipe kepribadian sanguinis dalam memecahkan masalah kontekstual matematika pada indikator fleksibilitas: Berdasarkan transkrip wawancara P.6 & S2.6 di atas menunjukkan bahwa S2 dalam menyelesaikan masalah kontekstual matematika pada nomor soal 1 tidak dapat menghasilkan ide solusi yang berbeda. Berdasarkan penjelasan di atas pada angka 1 dan 2, Magister tidak dapat memenuhi komponen fleksibilitas dalam menyelesaikan masalah kontekstual matematika.

Berdasarkan Tabel 4.4 triangulasi data berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan masalah kontekstual pada tahap tes tertulis dengan tahap wawancara untuk siswa melengkapi dan menjelaskan hasil pekerjaannya. Berdasarkan pemaparan di atas, siswa dengan tipe kepribadian optimis belum mampu memenuhi komponen kefasihan, keluwesan, dan kebaruan dalam menyelesaikan masalah matematika kontekstual. Hasil analisis siswa dengan tipe kepribadian optimis saat menyelesaikan masalah matematika kontekstual tidak memenuhi indikator berpikir kreatif.

Analisis dan Pembahasan Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan Masalah Kontekstual Matematika Bertipe

K1.7 atas K1 dalam menyelesaikan masalah matematika kontekstual pada soal nomor 1 dan nomor 2 tidak dapat memberikan ide yang berbeda untuk penyelesaiannya. Berdasarkan pemaparan di atas, siswa dengan tipe kepribadian choleric dalam menyelesaikan masalah matematika kontekstual belum mampu memenuhi komponen kelancaran, keluwesan dan inovasi. Berdasarkan transkrip wawancara di atas terlihat bahwa penyelesaian masalah kontekstual matematika pada soal nomor 1 dan 2 tidak mampu memberikan ide penyelesaian yang berbeda.

Fleksibilitas Siswa tidak dapat memunculkan berbagai ide solusi yang berbeda (hanya satu ide solusi yang diberikan) untuk semua masalah kontekstual matematika yang disajikan.

Analisis dan Pembahasan Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan Masalah Kontekstual Matematika Bertipe

Solusi pertama seperti terlihat pada Gambar 4.36 dan transkrip wawancara PH1.6 yang menjelaskan bahwa desain taman yang terbagi menjadi 2 bagian pada sisinya semuanya diberi kerikil inti hitam dan putih. Solusi kedua adalah seperti yang ditunjukkan pada gambar 4.37 dan transkrip wawancara PH1.8 dengan penjelasan sudut persegi untuk kerikil inti hitam. Berdasarkan hasil tanggapan pada Gambar 4.38 & 4.39 dan transkrip wawancara di atas, pada saat menyelesaikan soal matematika kontekstual pada soal nomor 1, PH1 mampu menghasilkan sejumlah ide penyelesaian yang berbeda.

Pada penyelesaian soal nomor 1 PH1, ide pertama penyelesaiannya ditunjukkan pada Gambar 4.38 dengan cara menentukan berat pelat logam yang tidak ditempeli gambar dengan cara menentukan luas persegi panjang dikurangi luas persegi panjang kedua belah ketupat. Pada soal nomor 2, PH1 membuat ide awal solusi seperti pada Gambar 4.40, dengan desain taman yang terbagi menjadi 2 bagian di sisinya, yang semuanya ditaburi kerikil jenis corel hitam dan putih. Gagasan lain untuk solusi ditunjukkan pada Gambar 4.41 dan kutipan wawancara PH1.12, di mana sudut-sudutnya dikuadratkan untuk kerikil inti hitam.

Hasil tanggapan pada Gambar 4.42 dan transkrip wawancara di atas menunjukkan bahwa dalam menyelesaikan masalah kontekstual, PH1 mampu memberikan solusi yang berbeda dari yang lain dan juga tepat. Ide solusi yang pertama adalah seperti pada gambar 4.43, dengan desain taman yang bagian sisinya dibagi menjadi 2 bagian yang semuanya harus dilengkapi dengan kerikil hitam putih jenis corel. Ide solusi kedua seperti terlihat pada gambar 4.44 dan kutipan wawancara PH1.16 yang menjelaskan bentuk desain yaitu sudut-sudutnya berbentuk bujur sangkar untuk kerikil inti hitam.

Pada soal nomor 2 solusi pertama (Gambar 4.46) dan kutipan wawancara PH2.3 dengan desain taman yang tepinya berbentuk trapesium dengan bagian atas dan bawah kerikil inti putih, sisi kiri dan kanan kerikil inti hitam. Solusi lain di nomor 2 (Gambar 4.48) dengan tepi di tengah berbentuk persegi untuk kerikil inti putih dan yang lainnya untuk kerikil gandum hitam. Berdasarkan hasil jawaban pada Gambar 4.49 & 4.50 dan transkrip wawancara di atas, PH2 dalam menyelesaikan soal matematika kontekstual pada soal nomor 1 dengan ide solusi pertama (Gambar 4.49) dengan cara menentukan luas persegi panjang dikurangi luas dari dua berlian dan kemudian kalikan dengan 2 gram.

Ide solusi kedua (lihat Gambar 4.52) dengan tepi di tengah berbentuk persegi untuk kerikil inti putih dan yang lainnya untuk kerikil inti hitam. Hasil pemecahan PH2 pada Gambar 4-53 dan transkrip wawancara di atas menunjukkan bahwa ketika memecahkan masalah kontekstual, PH2 mampu memberikan solusi yang berbeda secara tepat dari yang lain. Hasil penyelesaian PH2 pada Gambar 4.54 & 4.55 dan transkrip wawancara di atas menunjukkan bahwa saat menyelesaikan soal matematika kontekstual pada soal nomor 2 PH2, PH2 menghasilkan ide yang berbeda dengan desain taman yang berbeda.

Ide kedua dari solusi (Gambar 4.51) adalah bahwa ujung-ujungnya berbentuk persegi di tengah untuk kerikil inti putih dan yang lainnya untuk kerikil inti hitam.

PEMBAHASAN

Analisis Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan Masalah Kontekstual Matematika Bertipe Kepribadian Koleris

Dalam menyelesaikan masalah kontekstual, salah satu siswa dengan tipe kepribadian choleric tidak mampu memberikan solusi yang beragam dan tidak mampu memberikan solusi yang beragam untuk menentukan ukuran sebuah lukisan. Dalam menyelesaikan masalah matematika kontekstual, siswa dengan tipe kepribadian choleric melihat semua informasi tentang masalah, bergerak cepat untuk segera menyelesaikannya, mencari solusi masalah yang mudah dan terorganisir dengan baik, namun hasil penyelesaian siswa dengan tipe kepribadian choleric personality belum mampu memberikan sesuatu yang berbeda dan baru namun dapat memberikan solusi yang tepat. Hal ini sesuai dengan tipe kepribadian koleris dari teori Hippocrates-Galenus (Littauer, 2011) yang menyatakan bahwa tipe kepribadian kolerik berorientasi pada target, melihat gambaran besar, terorganisir dengan baik, mencari solusi praktis, bergerak cepat dalam bertindak, pendelegasian kerja, menekankan hasil. , merangsang aktivitas dan berkembang karena pesaing.

Hasil analisis salah satu siswa tidak dapat memenuhi komponen kelancaran, keluwesan dan kebaruan dalam menyelesaikan masalah matematika kontekstual. Salah satu siswa lainnya dapat memenuhi komponen kelancaran tetapi tidak dapat memenuhi komponen fleksibilitas dan kebaruan, sehingga siswa dengan tipe kepribadian koleris tidak memenuhi indikator berpikir kreatif. Hasil yang diperoleh peneliti untuk setiap komponen berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitria &.

Siswono (2014) yang hasilnya menunjukkan bahwa siswa dengan tipe kepribadian choleric memenuhi komponen kefasihan dan fleksibilitas tetapi tidak memenuhi komponen kebaruan. Hasil penelitian yang diperoleh peneliti juga sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Aziz (2018) yang menyatakan bahwa siswa dengan tipe kepribadian choleric dalam menyelesaikan soal matematika tidak memenuhi komponen berpikir kreatif tidak sesuai.

Analisis Berpikir Kreatif Siswa dalam Memecahkan Masalah Kontekstual Matematika Bertipe Kepribadian Melankolis

Dalam memecahkan masalah kontekstual, salah satu siswa dengan tipe kepribadian melankolis terorganisir dengan baik, cermat dalam melihat masalah dan solusinya, mengetahui detailnya dan dapat memberikan solusi yang kreatif. Sehingga salah satu siswa dengan tipe kepribadian melankolis dalam memecahkan masalah kontekstual memenuhi komponen kelancaran, fleksibilitas dan inovasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa salah satu siswa dengan tipe kepribadian melankolis memenuhi komponen berpikir kreatif dalam memecahkan masalah kontekstual.

Sedangkan salah satu siswa lainnya dengan tipe kepribadian melankolis memecahkan masalah kontekstual secara teratur, terorganisir dengan baik dan dengan penekanan pada hasil. Dari pemaparan di atas diperoleh hasil bahwa salah satu siswa dengan tipe kepribadian melankolis tidak mampu memenuhi komponen-komponen tersebut. Hasil analisis salah satu siswa bertipe kepribadian melankolis dalam menyelesaikan masalah kontekstual tidak memenuhi komponen berpikir kreatif.

Hal ini salah satunya sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitria & Siswono (2014) dengan hasil penelitiannya bahwa tipe kepribadian melankolis memenuhi komponen berpikir kreatif yaitu komponen kelancaran, fleksibilitas dan kebaruan. Hasil penelitian yang diperoleh peneliti berbeda dengan hasil yang diperoleh penelitian yang dilakukan oleh Aziz (2018) yang menyatakan bahwa siswa dengan tipe kepribadian melankolis dalam menyelesaikan soal matematika hanya memenuhi komponen kelancaran. Dalam menyelesaikan masalah kontekstual, siswa dengan tipe kepribadian plegmatis mampu memahami masalah matematika kontekstual yang disajikan, sehingga dapat memberikan solusi ganda dan ide solusi yang berbeda dalam menentukan ukuran bingkai dan lukisan dan juga dalam mendesain taman.

Siswa dengan tipe kepribadian plegmatis juga mampu memberikan solusi yang berbeda dari yang lain dan juga tepat dalam solusinya. Dalam menyelesaikan masalah kontekstual yang disajikan, siswa dengan tipe kepribadian plegmatis bersikap tenang dan tidak terburu-buru dalam bekerja, tenang tetapi cerdas, mudah bekerja. Sehingga siswa dengan tipe kepribadian plegmatis dalam menyelesaikan masalah kontekstual mampu memenuhi komponen kelancaran, keluwesan dan inovasi.

Siswono (2014) siswa dengan tipe kepribadian plegmatis memenuhi komponen berpikir kreatif yaitu komponen kelancaran, keluwesan dan inovasi. Hasil penelitian yang diperoleh peneliti sesuai dengan hasil yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh Aziz (2018) yang menyatakan bahwa siswa dengan tipe kepribadian apatis dalam menyelesaikan masalah matematika memenuhi komponen berpikir kreatif dengan memenuhi komponen kelancaran, keluwesan dan inovasi.

Diskusi

Hasil penelitian juga diperoleh dari tes berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan masalah matematika kontekstual dan hasil wawancara dengan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan masalah matematika kontekstual. Hasil yang diperoleh peneliti pada kedua tipe kepribadian sanguinis tersebut tidak dapat memenuhi komponen fluiditas, fleksibilitas dan kebaruan. Subjek dengan tipe kepribadian sanguinis mampu mendesain taman dengan menawarkan solusi yang berbeda dan berbagai solusi yang berbeda, namun solusi tersebut masih belum tepat yaitu tidak memenuhi ketiga komponen berpikir kreatif.

Satu subjek dengan tipe kepribadian choleric tidak dapat memenuhi komponen kelancaran, keluwesan dan kebaruan dalam memecahkan masalah kontekstual matematika. Salah satu subjek lainnya mampu memenuhi komponen kelancaran namun tidak mampu memenuhi komponen adaptabilitas dan kebaruan. Berdasarkan hasil analisis, seseorang dengan tipe kepribadian choleric tidak memenuhi komponen berpikir kreatif.

Siswa dengan tipe kepribadian melankolis, salah satu mata pelajaran dengan tipe kepribadian melankolis, dalam menyelesaikan masalah kontekstual memenuhi komponen kelancaran, keluwesan dan kebaruan. Hasil analisis menunjukkan bahwa salah satu tipe kepribadian melankolis dalam menyelesaikan masalah kontekstual memenuhi komponen berpikir kreatif. Subjek dengan tipe kepribadian plegmatis dalam menyelesaikan masalah kontekstual matematika, kedua subjek mampu memenuhi komponen kelancaran, keluwesan dan kebaruan.

Pada saat pelaksanaan tes berpikir kreatif dalam menyelesaikan masalah kontekstual matematika, terdapat batasan waktu karena waktu yang diberikan oleh tutor sesuai dengan waktu pembelajaran pada jadwal matematika.

Referensi

Dokumen terkait

Proses berpikir siswa sekolah menengah pertama dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan langkah-langkah Polya ditinjau dari adversity