BAB IV
PENERAPAN ASURANSI PADA KAPAL SUNGAI DAN DANAU
Pasal 25
(1). Pemenuhan asuransi pada kegiatan pengelolaan Kapal sungai dan danau dilakukan untuk memastikan Kapal yang dikelola memiliki asuransi sesuai dengan masa berlakunya.
(2). Asuransi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a asuransi yang bersifat wajib; dan b asuransi yang bersifat pilihan.
(3). Asuransi yang bersifat wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a berupa:
a asuransi terhadap keselamatan dan keamanan penumpang dan/atau barang yang diangkutnya;
b asuransi pengangkatan Kerangka Kapal (wreck removal); dan c asuransi ganti rugi pencemaran dari Kapal.
(4). Asuransi yang bersifat pilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b berupa:
a Asuransi H&M (Hull and Machinery Insurance);
b Asuransi Kargo (Cargo Insurance);
c Asuransi Kerugian Pendapatan (Loss of Earnings Insurance);
d Asuransi Kerusakan Akibat Cuaca (Weather-Related Insurance);
e Asuransi Kerusakan Selama Penyimpanan (Storage Insurance);
Pasal 26
(1). Asuransi yang bersifat wajib terhadap keselamatan dan keamanan penumpang dan/atau barang yang diangkutnya sebagaimana dimaksud pada pasal 25 ayat (3) huruf a berupa:
a Asuransi Kecelakaan Penumpang b Asuransi Biaya Medis
c Asuransi Kehilangan dan kerusakan barang yang diangkut
(2). Asuransi yang bersifat wajib terhadap pengangkatan kerangka kapal (wreck Removal) sebagaimana dimaksud pada pasal 25 ayat (3) huruf b berupa pengangkatan, pemindahan, penghancuran, pengapungan atau penandaan bangkai kapal atau cargo milik tertanggung.
(3). Asuransi yang bersifat wajib terhadap ganti rugi pencemaraan dari kapal sebagaimana dimaksud pada pasal 25 ayat (3) huruf c berupa
a Asuransi Kargo Berbahaya (Hazardous Cargo Insurance) b Asuransi P&I (Protection and Indemnity Insurance)
Pasal 27
(1). Pemilik Kapal yang beroperasi di sungai dan danau diwajibkan untuk mengasuransikan kapalnya dengan asuransi keselamatan dan keamanan penumpang dan/atau barang yang diangkutnya, asuransi
pengangkatan Kerangka Kapal (wreck removal) dan asuransi ganti rugi pencemaran dari Kapal.
(2). Asuransi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh perusahaan asuransi atau lembaga keuangan penjamin yang diakui oleh Pemerintah.
(3). Kewajiban mengasuransikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan pemilikan jaminan pertanggungan asuransi.
(4). Pemilik Kapal yang telah memiliki jaminan pertanggungan asuransi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberikan sertifikat asuransi oleh lembaga yang berwenang.
(5). Sertifikat asuransi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) wajib dilampirkan sebagai persyaratan pengajuan sertifikat kelayakan kapal sungai dan danau serta pengoperasian Kapal.
(6). Kewajiban mengasuransikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi:
a Kapal perang;
b Kapal negara yang digunakan melakukan tugas pemerintahan;
c Kapal layar;
d Kapal motor dengan tonase kotor kurang dari GT 1 (satu gross tonnage).
(7). Asuransi yang bersifat pilihan sebagaimana dimaksud pada pasal 25 ayat (4) huruf a, b,c, d dan e tidak diwajibkan bagi pemilik kapal atau bersifat tidak mengikat.
Pasal 28
(1). Biaya premi asuransi yang harus dibayarkan oleh pemilik kapal dalam melaksanakan kewajiban sebagaimana pasal 27 ayat 1 terdiri dari:
a Biaya premi asuransi penumpang
b Biaya premi asuransi pengangkatan Kerangka Kapal (wreck removal) c Biaya premi asuransi pencemaraan lingkungan dari kapal
(2). Biaya premi asuransi sebagaimana di sebutkan pada ayat 1 ditentukan berdasarkan dengan formula berikut ini.
a Biaya premi asuransi penumpang = tarif premi x jumlah tanggungan
b Biaya premi pengangkatan kapal (wreck remuval) = (GT x Tarif per GT)+ Biaya Administrasi + Biaya Materai.
c Biaya Premi pencemaraan dari kapal = (cakupan area tercemar x tarif per m2)+ Biaya Administrasi + Biaya Materai
(3). Besaran tarif premi asuransi sebagaimana di sebutkan pada ayat 2 huruf a, b dan c dapat berubah seiring dengan perubahan nilai rupiah.
(4). Biaya premi asuransi pilihan sebagaimana di sebutkan pada pasal 27 ayat 7 ditentukan berdasarkan lembaga penyedia pihak asuransi.
BAB IV
KEWAJIBAN DAN SANKSI Bagian Kesatu Kewajiban
Pasal 29
(1). Pemilik kapal penumpang dan barang yang beroperasi di perairan sungai dan danau wajib:
a Melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam penerapan asuransi kapal sungai dan danau;
b mematuhi semua ketentuan peraturan perundangundangan di bidang pelayaran perairan sungai dan danau serta peraturan perundang- undangan lainnya;
c Melaporkan secara tertulis kepada Direktorat Transportasi Sungai dan Danau (TSDP) apabila terjadi perubahan nama direktur atau penanggung jawab atau pemilik, domisili perusahaan, dan Nomor Pokok Wajib Pajak, serta status kepemilikan kapalnya paling lama 14 (empat belas) hari setelah terjadi perubahan.
(2). Pemilik kapal dan atau Nakhoda wajib melaporkan keberadaan kerangka kapal dan/atau muatannya yang kandas atau tenggelam di wilayah perairan sungai dan danau.
(3). Pemilik kapal dan atau Nakhoda wajib melaporkan jika terjadi pencemaraan dari kapalnya di wilayah perairan sungai dan danau.
(4). Pemilik kapal wajib menyingkirkan kapalnya yang kandas atau tenggelam sesuai batas waktu yang ditetapkan.
(5). Pemilik kapal wajib melakukan pembersihan lingkungan perairan sungai dan danau jika terjadi pencemaraan dari kapalnya sesuai batas waktu yang ditetapkan.
Bagian Kedua Sanksi Pasal 30
(1) Badan usaha dan pemilik kapal yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dan pasal 29 dikenakan sanksi peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 1 (satu) bulan.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. pembekuan; dan c. pencabutan.
(3) Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan sebanyak 3 (tiga) kali berturut- turut dengan tenggang waktu masing-masing 14 (empat belas) hari kerja.
(4) Apabila peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dilaksanakan, dikenakan sanksi tidak diperbolehkan melakukan kegiatan selama jangka waktu 3 (tiga)bulan.
(5) Apabila sanksi tidak diperbolehkan melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) habis jangka waktunya dan badan usaha atau pemilik kapal tidak melakukan usaha perbaikan, dikenakan sanksi pembekuan izin usaha selama 1 (satu) tahun
(6) Apabila pembekuan ijin usaha operasional angkutan kapal sungai dan danau sebagaimana dimaksud pada ayat (5) habis jangka waktunya dan badan usaha atau pemilik kapal tidak melakukan usaha perbaikan, dikenakan sanksi pencabutan izin usaha.