• Tidak ada hasil yang ditemukan

44BAB_1.tesis.FIX.docx - Research and Publication

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "44BAB_1.tesis.FIX.docx - Research and Publication"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

Pertanyaan penelitian yang dapat diajukan adalah: Gagasan apa yang disajikan oleh media massa dalam pemberitaan terorisme. Penelitian ini mengeksplorasi wacana terorisme di media massa yang menstigmatisasi pelaku teroris dan keluarganya, yang kemudian berkembang menjadi wacana publik selanjutnya. Stigmatisasi pemberitaan terorisme di media juga menimbulkan keresahan dan perlakuan yang melanggar hak asasi manusia (HAM) bagi mereka yang mengidentifikasikan diri dengan karakteristik teroris yang diasosiasikan dengan media.

Upaya untuk menghimbau kepada media massa di Indonesia untuk menghindari stigmatisasi dalam proses pemberitaan terorisme yang berakibat pada diskriminasi terhadap keluarga pelaku teroris dan orang-orang yang memiliki karakteristik yang hampir identik dengan teroris. Konten media tidak muncul begitu saja, melainkan melalui mekanisme menarik kepentingan internal dan eksternal yang kuat. Penelitian media massa lebih menitikberatkan pada kesadaran bahwa teks atau wacana di media massa memiliki pengaruh yang demikian besar terhadap masyarakat.

Yang pertama adalah konten media mencerminkan realitas tanpa distorsi atau hanya ada sedikit distorsi realitas. Konten media adalah komoditas yang diperdagangkan di pasar dan informasi yang disampaikan dikendalikan oleh kepentingan pasar. Lihat artikel Masnur Muslich, The Power of Mass Media to Construct Reality, yang diterbitkan dalam jurnal LANGUAGE AND ARTS, Volume 36, Number 2, Agustus 2008.

Kajian media dalam perspektif kritis menghasilkan serangkaian pertanyaan yang berupaya mengungkap konten media secara kritis. Ciri-ciri pemikiran Marx menekankan pada aspek ekonomi sebagai basis atau landasan yang menentukan suprastruktur.Lihat Karl Marx, “Base and Superstructure”, dalam Storey (ed.), hal.Dalam masyarakat kapitalis kontemporer, ideologi selalu melalui apa yang dimaksud sebagai "aparatus negara ideologis (ISA)".

Hal ini karena media massa tidak berfungsi melalui penindasan fisik, tetapi dengan menyebarkan ide-ide dominan yang diproduksi oleh kelas dominan yang menguasai negara. Namun, peran ganda yang dimainkan oleh pemilik media yang juga terlibat dalam pengelolaan tata kelola memberikan peluang campur tangan negara dalam pengelolaan media massa. Beberapa pemilik media massa menduduki jabatan perdana menteri, menteri, ketua partai politik, dan anggota wakil rakyat.

Pemberian stigma pada tubuh dimaksudkan untuk membedakan jenis status antara orang yang dianggap normal dan didiskreditkan. Sedangkan yang didiskreditkan adalah orang yang berbeda atau menyimpang dari norma ideal tetapi perbedaan atau penyimpangan tersebut belum diketahui orang lain. Kedua, pada tataran ekstra media, hal ini menggambarkan bahwa isi media tidak ditentukan oleh pengelola media itu sendiri.

Theoretical Approaches”, af Michael Gurevitch, Tony Bennett, James Curran, og Janet Woollacott (red.), Culture, Society, and the Media (London og New York: Routledge, 1990), hal.

Metodologi Penelitian

Asumsi realitas paradigma kritis adalah keyakinan bahwa realitas tidak netral, tetapi dipengaruhi dan dibatasi oleh nilai dan kekuatan ekonomi, politik, dan sosial. Hal ini akan mempengaruhi cara paradigma kritis mengurai realitas dalam penelitian ilmiah, termasuk analisis kritis terhadap teks media. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penelitian dengan paradigma kritis lebih menekankan pada situasi sejarah dalam semua peristiwa sosial yang ada29.

Pada tataran aksiologis, paradigma kritis dicirikan oleh tiga hal, yaitu nilai, etika, dan pilihan moral sebagai bagian yang saling terkait. Paradigma kritis menganggap bahwa konten media bukanlah sesuatu yang netral dan menjadi ruang bagi berbagai pandangan yang saling bertentangan dalam masyarakat. Analisis wacana yang disajikan dalam kajian ini merupakan metode yang menciptakan hubungan dialektis antara objek kajian dengan sifat lingkungan sekitarnya, di mana wacana itu tumbuh, berubah dan menjadi bagian dari lingkungan itu sendiri.

Analisis wacana merupakan metode kualitatif yang dapat digunakan untuk menganalisis teks secara lebih intensif karena mampu mengungkapkan makna-makna yang tersembunyi yaitu 31 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media (Yogyakarta: LKiS, 2001). Van Dijk mengungkapkan bahwa analisis wacana melanjutkan tradisi penelitian yang menolak “bebas nilai”, ilmu pengetahuan khususnya pemikiran akademik tidak lepas dari pengaruh struktur sosial dan diproduksi dalam interaksi sosial, baca selengkapnya tulisan Tun Van Dijk “Analisis Wacana Kritis ", dalam artikel yang ditulisnya dapat diunduh di http://mediadiscourses/org, sebuah website yang memuat tulisan-tulisan ilmuwan Belanda ini. Sementara itu, Analisis Wacana teks tulis bertujuan untuk mengeksplisitkan norma-norma dan kaidah-kaidah yang tersirat dalam produksi bahasa.

Metode analisis wacana yang disajikan dalam penelitian ini adalah metode analisis wacana yang dikemukakan oleh Teun A. Menurut van Dijk, dua hal yang perlu diperhatikan dalam konteks sosial adalah kekuasaan dan akses. Teun van Dijk mendefinisikan kekuasaan (power) sebagai milik yang dimiliki oleh suatu kelompok (atau anggotanya), suatu kelompok untuk menguasai kelompok (atau anggota) kelompok lain.

Analisis wacana sangat memperhatikan apa yang disebut dengan dominasi, dimana dominasi direpresentasikan dengan memberikan akses khusus kepada suatu kelompok dibandingkan dengan kelompok lain (diskriminasi)35. Dalam penelitian ini model Analisis Wacana Kritis Teun Van Dijk (Analisis Teks, Kognisi Sosial, dan Analisis Sosial.39 Uraian lengkap Van Dijk dapat dibaca dalam artikel Van Dijk berjudul “Opini Dan Ideologi Dalam Pers” pada sub bab “Wacana Structure”, diterbitkan dalam “Approach to Media Discourse”, Allan Bell and Peter Garet (ed) hlm. 31-63.

Untuk melengkapi penjelasan ini, penulis juga mengutip dari Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media (Yogyakarta: LKiS, 2001) hlm. 221-259. Uraian ini didasarkan pada tulisan Van Dijk yang berjudul “Opini Dan Ideologi Dalam Pers” pada subbab “Struktur Wacana”, dimuat dalam “Pendekatan Wacana Media”, Allan Bell and Peter Garet (ed) hlm. 21-63.

38  Gambar   diambil   dari   buku  Eriyanto,  Analisis   Wacana:   Pengantar   Analisis   Teks   Media (Yogyakarta: LKiS,2001) hal: 225
38 Gambar diambil dari buku Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media (Yogyakarta: LKiS,2001) hal: 225

Kelemahan Penelitian 1. Kelemahan Teoritis

Gambar

38  Gambar   diambil   dari   buku  Eriyanto,  Analisis   Wacana:   Pengantar   Analisis   Teks   Media (Yogyakarta: LKiS,2001) hal: 225
Tabel I.1 Skema analisa dan metoda analisis wacana

Referensi

Dokumen terkait

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”.. Lampiran II Pedoman Pengumpulan Data A. Mengamati situasi dan kondisi Desa