• Tidak ada hasil yang ditemukan

bab vi respon masyarakat terhadap keberadaan lembaga adat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "bab vi respon masyarakat terhadap keberadaan lembaga adat"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

68 BAB VI

RESPON MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN LEMBAGA ADAT

A. Hasil Penelitian

Lembaga adat : Menurut Teer Haar, lembaga hukum adat lahir dan dipelihara oleh keputusan-keputusan warga masyarakat hukum, terutama keputusan yang berwibawa dari kepala-kepala rakyat yang membantu pelaksanaan perbuatan-perbuatan hukum atau dalam hal kepentingan keputusan hakim yang bertugas mengadili sengketa fungsi:

1. Membantu pemerintah dalam kelancaran dan pelaksanaan pembangunan di segala bidang terutama dalam bidang keagamaan, kebudayaan dan kemasyarakatan.

2. Melaksanakan hukum adat dan istiadat dalam desa adatnya.

3. Memberikan kedudukan hukum menurut adat terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan hubungan sosial kepadatan dan keagamaan.

4. Membina dan mengembangkan nilai-nilai adat dalam rangka memperkaya, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional pada umumnya dan kebudayaan.

5. Menjaga, memelihara dan memanfaatkan kekayaan desa adat untuk kesejahteraan masyarakat desa adat

(2)

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menempatkan lembaga adat desa sebagai lembaga yang menyelenggarakan fungsi adat istiadat dan menjadi bagian dari susunan asli desa yang tumbuh dan berkembang atas prakarsa masyarakat desa. Namun keberadaan lembaga adat di desa ini tidak otomatis menyebabkan desa berubah status menjadi desa adat. Seperti halnya menurut informen dibawa ini mengenai keberadaan lembaga adat,

Berbeda dengan desa adat, lembaga adat desa merupakan organisasi yang berkedudukan sebagai lembaga kemasyarakatan.

Kata H. Akhdiar, S.E (Kepala Desa Balang Balang Pesoang). Dia menambahkan, lembaga adat menjadi mitra pemerintah desa dalam memberdayakan, melestarikan dan mengembangkan adat istiadat lokal yang menunjang penyelenggaraan pemerintahan, kemasyarakatan dan pembangunan. “Keberadaan lembaga adat desa juga berfungsi untuk mengayomi dan melestarikan nilai, sistem sosial maupun benda material dari kebudayaan lokal”, ucapnya.

Ditambahkan lagi oleh lina pemberdayaan lembaga adat untuk memperkokoh fungsi dan peran lembaga adat desa sebagai wadah sekaligus fasilitator pengelolaan pembangunan desa dengan acuan nilai, norma, tradisi, budaya dan kearifan lokal.

"Tantangan ke depan adalah bagaimana masyarakat lokal mampu mengenali potensi kearifan budaya lokal itu, baik berupa sumber daya alam, modal sosial, tata-nilai dan kelembagaan lokal, maupun sumber-sumber lain yang mereka miliki," ujarnya.

Hasil wawancara diatas dari dua inforrman yang mengemukakan pendapatnya terkait dengan Keberadaan Pranata Adat di Desa Balang Pesoang, maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan Pranata Adat mampu lebih mengintegrasikan masyarakat untuk kedepannya sebagai wadah sekaligus fasilitator pengelolaan pembangunan desa dengan acuan nilai, norma, tradisi, budaya dan kearifan local serta untuk mengayomi dan melestarikan nilai, sistem

(3)

sosial maupun benda material dari kebudayaan lokal. Apalagi dalam kasus tangkap basah Pasangan remaja, menurut Puang Hade’ (Salah satu tokoh Masyarakat)

Keberadaan lembaga ada ri kamppongge yana rittu cara rifa ri masyarakaede untuk menertibkan anggota masyarakaede supaya nabatasi prilakuna ena ede na sesuai nilai dan norma ri kamponggee, fappada meto aro ko engka sifasang anak muda di runtu sippadua ri ondrong sunyie , merupakanni suatu pelanggaran hukumadat ri kamponngee…

Keberadaan lembaga adat di Desa Balang Pesoang yaitu cara yang di gunakan masyarakat untuk menertibkan anggota-angota yang sering membangkang seperti halya ketika kedapatan pasangan remaja di dapat berdua-duan di dalam rumah atau di tempat yang sunyi, hal tersebut merupakan suatu pelanggaran terhadap atura serta hukumadat yang berlaku’

Puang Hade Selaku Tokoh Masyarakat di desa balang pesoang juga menambahkan bahwa;

Iaro ndi ko enggka remaja melanggar aturan yang berlakue iarenggi sangsi tegas ri lembaga ade’ee sangsi biasae di arenggi iyaro,denda biasnna 5-10, kedua dinikahkan, ketiga rikucilkanggi ri kamponggee. Iyaro di antara ketigae ndi seddimi poin yang di kenakanggi sesuai aga hasil kesepakatanta silong tokoh masyarakat lainggee.

Ketika ada pasangan remaja melanggar aturan iya akan di berikan sangsi yang tegas seperti, denda 5-10 juta, dinikahkan serta dikucilkan dari masyarakat. Namaun dri ketiga sangsi tersebut biasanya hanya satu yang di kenakan, sesuai hasisl musyawara dari berbagai tokoh masyarakat di Desa Balang Pesoang ‘’ujarnya’’.

Sesuai dengan apa yang di ungkapkan salah satu tokoh masyarakat yang berperan penting di desa balang pesoang, dapat kita simpulkan bahwa lembagaan adat ini mampu memberiakan dampak yang baik bagi integritas masyarakat kedepannya dengan mengacu pada system nilai dan norma yang telah di pegang teguh oleh para pendahulu pada masyarakat desa Balang Pesoang. Sebagaimana yang di ungkapkan Hamida salah satu masyarakat di desa balang pesoang agarkiranya tokoh-tokoh masyarakat mampu melestarikan lembaga adat dan di

(4)

tanamkan khususnya bagi generasi muda agar kedepanya generasi muda tersebut akan tak akan pernah lupa nilai-nilai budaya dan kearifan lokal daerahnya.

Meskipun di tengah-tengah kemajuan yang semakin cepat dan berpengaruh besar bagi para generasi muda yang ada.

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang pada hakikatnya diberi akal dan nafsu. Harfiahnya manusia itu baik, penuh dengan cinta, makhluk yang sosial, dan ciptaan-Nya yang paling sempurna. Kata manusia digunakan setiap kali menunjukkan bahwa kita adalah makhluk ciptaan-Nya yang begitu sempurna dengan kelengkapan akal dan nafsu bahkan ada yang mengatakan sebenarnya akal dan budi yang ada pada manusia. Manusia digunakan untuk menunjukkan kedudukan kita sebagai makhluknya. Hakikatnya ya sebagai manusia yang manusiawi. Sementara orang adalah manusia yang memperoleh perkembangan dalam hidup. Manusia yang berkarakter. Manusia yang telah dijejali berbagai macam pengetahuan dan ilmu dalam hidupnya. Manusia yang dinamis.

Sehingga muncullah satu kesimpulan yang terpatri di pikiran saya bahwa Semua MANUSIA sama namun setiap ORANG itu berbeda. Seperti halnya bagi salah satu remaja di Desa Balang Pesoang yang memiliki perbedaan pendapat dari beberapa tokoh dan masyarakat setermpat mengenai keberadaan Lembaga adat, ungkap US mengenai keberadaan bahwa:

Keberadaan lembaga adat di Balang Pesoang seharusnya di hilangkan saja karena sudah ada lembaga pemerintah yang juga megurus mengenai permasalahan-permasalahan yang ada seperti sudah ada kepaladesa,dusun,sampai rw dan juga ketika ada yang melakukan pelanggaran hukum kan sudah ada polisi jdi mengapa lembaga adat ini masih tetap di pertahankan ”ujarnya”

(5)

Sebagaimana ungkapan dari salah satu informen yang berinisial US dapat kita simpulkan bahwa menurutnya lembaga adat ini sudah tidak perlu d berlakukan di era sekarang ini karena telah ada lembaga pemerintah yang mengatur berbagai masalah. Perkembangan hasil wawnacara tidak berhenti di situ saja, pada informan yang lain masih banyak yang berkomentar tentang Lembaga adat yang ada di Desa Balang Pesoang dan sekali lagi ditegaskan, bahawa keberadaan Lembaga Adat ini atau dalam bahasa judul skripsi ini, Pranata Adat Masyarakat Pedalaman, mendapat reaksi yang positif dan dari semua kalangan.

sesuai dengan pernyataan salah seorang informan di atas, namun berbedan denga informan lainya, berikut ia merupakan tokoh masyarakat yang juga mantan kapala desa, menyatakan bahwa :

“Kita ini hidup di dalam lingkungan adat, sekalipun saya sendiri sudah terikat dalam system pemerintahan yang diatur oleh Negara tapi tidak dapat dipungkiri bahwa saya juga berasal dari masyarakat adat. Bahkan orang tua saya asli masyarakat adat. jadi kita pemerintah tidak bisa terlalu banyak mencampuri urusan adat dikarenakan sekali lagi lingkungan tempat kita tinggal ini merupakan lingkungan yang selalu terikat dengan aturan-aturan adat. Persoalan bagaimana kita menegakan hukum positif di lingkungan adat, memeng suatu perihal yang agak sulit jika dipikirkan tapi ketika kita mulai bekerja dan mengikuti alur perkembangannya maka itu bukan lagi haal yang sulit. Justru suatu kebanggaan besar buat saya pribadi karna di setiap wilayah yang ada di Indonesia ini hampir hilang system adat istiadatnya taapi masyarakat adat kita disini justru mengedepankan system adat atau hukum adat.”

Uraian hasil wawancara yang berangkat dari persepsi informan diatas dapat kita nyatakan bahwa pemerintahan setempat selalu berterima dengan keberadaan lembaga adat dikarenakan Lembaga adat yang sudah menjadi warisan kultural ini bukan lagi hal yang baru dalam masyarakat tersebut. Informen justru mendukung dan bukan itu saja dia justru merasa bangga dengan penegakan hukum adat yang berada dilingkungan masyarakat. Hasil penelitian di atas juga

(6)

menunjukan bahwa hukum selalu seragam dengan lingkungan masyarakat tersebut karena adanya tatanan geologis yang tidak bisa masyarakat tersebut menantang.

Pandangan terhadap Lembaga adat serta penegakan hukum adat di Desa Balang Pesoang banyak memperoleh respon positif dari berbagai kalanganan dan lapisan masyarakat bukan hanya informan diatas saja yang mengemukakan pendapat positif tentang Lembaga adat tersebut. Hal serupa juga di ungkapkan dan diperkuat oleh seorang informan berikut ini yang berkerja sebagai yang mengatakan bahwa:

“Saya secara pribadi tidak bisa berbicara terlalu banyak berkenaan denganlembaga serta hukum adat karna saya kurang paham kondisi masyarakat adat disini. saya disini hanya menjalankan tugas sebagaimana mestinya, kalau persoalan hukum adat yang lebih diutaman di desa ini memang wajar karena di desa ini yang lebih dominan adalah masyarakat adat. Adapun masyarakat yang bukan masyarakat adat yang datang ke desa ini kemudian hidup disini itu juga mengikut pada aturan yang berlaku disini. Tapi secara kelembagaan kami mendukung apa yang sudah menjadi tradisi masyarakat disini. Kami hanya ingin terjadinya keaman dan ketertiban masyarakat kalau masalah hukum adat asalkan itu bisa membuat masyarakat merasa aman maka kami biarkan saja” (hasil wawancara dengan FT. Polsek Bulukumpa 1 Agustus 2017).

lanjutan pernyataan oleh informan lain secara berurutan bahwa:

“Saya kira dengan adanyalembaga adat serta penegakan hukum adat kami dari kepolisian tidak terlalu susah payah mengatasi permasalahan- permasalahan yang ada dalam masyaraakat. Pun kadang kami bingung karena hampir semua permasalahan diselesaikan secara aturan adat, tapi kami coba membantu jangan sampai dari kasus perdata bisa merembes menjadi kasus pidana. Kami sekedar mengawal penyelesaian maslah yang di kelolah sesuai dengan aturan adat masyarakat sehingga tidak terjadi hal yang tidak kita ingikan bersama” (hasil wawancara dengan E. Polsek Bulukumpa 13 Agustus 2017).

Hasil wawncara yang bertolak dari persfektif yang kompleks diatas dapat kita tarik pernyataan singkat bahwa dari pihak kepolisianpun mengaapresiasi

(7)

keberadaan lembaga adata dan penegakan hukum adat yang berlaku, mereka hanya mengawal penyelesaian masalah yang diselesaikan sesuai dengan aturan adat yang berlaku agar tidak terjadi permasalahan yang terlalu panjang. Misalakan yang dijelaskan informan diatas bahwa jangan sampai kasus perdata bisa berubah menjadi kasus pidana. Ungkapan kedua informan diatas merupakan ungkapan berangkat dari persepsi mereka terhadap dominasi hukum adat yang terjadi pada masyarakat adat Desa Balang Pesoang. Namun dominasi tersebut tidak menenggelamkan hakikat hukum positif sedikitpun namun hanya menjalankan apa yang menjadi tujuan hukum pada umumnya yakni menciptakan suatu tatanan masyarakat yang aman damai dan tertib. Jika pada penyelesaian masalah yang ditempuh oleh jalur hukum positif yang mengikuti system melalui kepolisian kemudian tidak membuahkan hasil yang baik dan hanya menyimpan berbagai persoalan yang dan kecurigaan masyarakat adat kepada kepolisian, maka pihak kepolisian tidak canggung-canggung memberikan wewenang kepada kepala/pemangku adat atau yang bersangkutan untuk menyelesaikan permasalahan hingga tuntas dengan menggunakan aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat adat tersebut.

Pernyataan dari informan diatas ditegaskan kembali oleh informan berikut ini dengan nada yang berbeda namun memiliki makna yang sejalan. Hal inilah yang merupakan suatu dukungan moril dari semua kalangan masyarakat terkait penegakan Hukum adat informan berikut menegaskan bahwa:

“Sebenarnya kalau kita bicara lembaga adat serta hukum adat Indonesia ini hampir seluruh wilayah punya hukum adat masing-masing hanya saja seiring perkembangan zaman sehingga banyak yang meninggalkan adatnya entah kenapa. Tapi masyarakt disini lebih suka menggunakan

(8)

hukum adat sebagai hukum yang mengatur tata kelakuan dan hidup mereka sehari-hari. Hukum adat itu lebih menyatu dengan masyarakat dan sesuai dengan apa yang mereka ingikan. Kalau masalah perbuatan pelanggara asusila masyarakat kembalikan kepangku adat dan melakukan musyawara bersama” (hasil wawancara denganJufri tokoh Masyarakat) Semua pernyataan dari informan yang diwawancarai hampir sama pandangannya. Demikian yang di nyatakan oleh informan di atas bahwa Indonesia ini memiliki banyak hukum adat yang berlaku di wilayahnya masing-masing dan seiring perkembanagan zaman sehingga hal tersebut mulai terkikis. Namun berbeda dengan masyarakat Desa Balang Pesoang yang selalu mempertahankan adatnya, kalaupun ada hukum positif masuk dalam tatanan social masyarakat adat tersebut, itu akan hanaya menjadi hal yang sulit untuk diterima, seperti pada umunya masyarakat adat selalu bersifat tertutup dan hukum adata sudah mendarah daging di kehidupan masyarakat adat Desa Balang Pesoang. Masalah yang lain yamng sering timbul dalam masyarakat pedesaan pada umumnya ialah maslah sengketa lahan yang berujung pada kericuhan. Jika pemerintah dan kepolisian setempat tidak cepat menyelesaikan masalah yang timbul di mayarakat tersebut, maka semjua kanalangan akan menganggap hal tersebut merupakan kelalaian pemerintah dn kepolisian. Namjun bagi masyarakat adat Balang Pesoang, jika masalah sengketa halan tidak bisa diselesaikan di kantor polisi karena tidak adanya bukti adimistratif dari pemerintah tentang kepemilikan lahan, maka masalah tersebut akan dikembalikan ke kepala (adat) untuk di musyawarahkan dan segala keputusan yang diambil oleh kepala (adat), maka sudah menjadi keharusan bagi yang bersengketa untuk patuh pada putusan tersebut, jika tidak maka ada kosekuensi yang diberikan berupa denda adat.

(9)

Hasil wawancara yang terukrai di atas oleh sejumlah informan merupakan pendapat persepsi mereka terhadap hukum adat yang berlaku dalam masyarakat adat Balang Pesoang kemudian menghasilkan Pernyataan yang telah kita peroleh.

Dengan persepsi lain dari informan lain kemusdian melahirkan pernyataan yang ikut menegaskan pernyataan sebelumnya dari informan di atas, pernyatan informan brikut ini bahwa:

“Kami sebenaranya tidak terlalu ambil pusing dengankeberadaan lembaga adat serta masalah hukum adat karena semenjak itu masih bisa mereka patuhi untuk kebaikan bersama, kenapa harus repot. Kami pernah adakan sosialisasi terkait hukum positif tapi kami kewalahan karena banyak dari masyarakat adat tidak menegerti bahasa Indonesia. Lagian mereka tinggal di pegunungan jadi trasportasinya tidak ada keculai jalan kaki lewati gunung dan hutan behari hari. Ada hal yang menarik disini kalau misalkan ada kasus pidana biasanya dari pihak adat berikan kami wewenag penuh untuk menyelasaikan kasus tersebut, tapi denagan waktu yang mereka tentukan. Nah kalau dalam watu tersebut kami tidak dapat meneylesaikan kasus tersebut maka pihak adat yang mengambil alih penyelesaian kasus itu dengan cara mereka” (hasil wawancara denagan sekretaris desa. Balang Pesoang, 2 Agustus 2017)

.

Hukum adat dengan Hukum positif memang hal yang sukar untuk menyelaraskan kedua Hukum tersebut, dikarenakan Indonesia adalah Negara yang di dalamnya banyak suku bangsa ras agama dan bahasa sehingga budaya juga beragam singkatnya Indonesia adalah Negara yang memiliki pluralism budaya.

Namun dari informsi yang disampaikan informan di atas bahwa jika dengan menegakkan hukum adat kemudian masyarakat adat mendapatkan ketentraman itu bukan lagi masalah buat pemerintah Indonesia karena hukum-hukum yang ada di permukaan bumi baik tertulis maupun tidak tertulis tujuannya untuk menjamin ketentraman masyarakat. Hal yang lain yang terdapat dalam masyarakat adat Desa Balang Pesoang ini adalah masyarakat adat sadar akan adanya hukum positif yang

(10)

berlaku secara general salah satu buktinya yang telah diungkapkan oleh inform bahwa mereka memberikan wewenang kepada aparat penegak hukum untuk menjalankan tugasnya sesuai dengan apa yang diamanhkan tapi jika dalam waktu yang telah mereka sepakati masalah itu tidak selesai maka mereka berinisisatif untuk menyelesaikan dengan aturan kerakyatan atau hukum adat mereka.

B. Pembahasan

Berdasrkan data penelitian diatas, maka pemerintah setempat berpendapat sesuai dengan teori presepsi yang dikemukakan oleh Philip Kotler Persepsi adalah proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur, dan menginterpretasi- kan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti. Semian kita dapat berasumsi bahwa semua hukum yang berlaku dalam masyarakat merupakan aturan masyarakat (civil low) yang sudah menjadi kesepakatan bersama walaupun ada yag tidak tertilis maupun ada yang tertulis.

kembali di tegaskan bahwa hukum adat merupakan hukum yang sejatinya lahir dari kebudayaan yang menjadi pijakan masyarakat dalam hal ini masyarakat tradisional selanjutnya masyarakat adat.

Sesuai dengan pernyataan beberapa informen diatas yang mersepon positif atas keberadaan lembaga adat ini karena secara garis besar lembaga adat sebagai wadah sekaligus fasilitator pengelolaan pembangunan desa dengan acuan nilai, norma, tradisi, budaya dan kearifan lokal serta lembaga adat untuk memperkokoh fungsi dan peran lembaga adat desa sebagai wadah sekaligus fasilitator pengelolaan pembangunan desa dengan acuan nilai, norma, tradisi, budaya dan kearifan lokal.

(11)

Hasil wawancara yang terurai diatas, maka kita dapat melakukan pendekatan dengan teori Interaksi Simbolik George Herbert Mead, manusia mempunyai sejumlah kemungkinan tindakan dan pemikiranya sebelum ia memulai tindakan yang sebenarnya dengan melalui pertimbangan. Karena itu, dalam tindakan manusia terdapat suatu proses mental yang tertutup yang mendahului proses tindakan yang sesungguhnya.

Berpikir menurut Mead adalah suatu proses individu berinteraksi dengan dirinya sendiri dengan memilih dan menggunakan simbol-simbol yang bermakna.

Melaui proses interaksi dengan dirinya sendiri itu, individu memilih mana diantara stimulus yang tertuju padanya akan ditanggapinya. Dengan demikian, individu tidak secara langsung menanggapi stimulus, tetapi terlebih dahulu memilih dan kemudian memutuskan stimulus yang akan ditanggapinya.

Simbol atau tanda yang diberikan oleh manusia dalam melakukan interaksi mempunyai makna-makna tertentu , sehingga dapat menimbulkan komunikasi. Menurut Mead, komunikasi secara murni baru terjadi bila masing- masing pihak tidak saja memberikan makna pada perilaku mereka sendiri, tetapi memahami atau berusaha memahami makna yang diberikan oleh pihak lain.

Dalam hubungan ini, Habermas mengemukakan dua kecendrungan fungsional dalam argument bahasa dan komunikasi serta hubungan dengan perkembangan manusia. Pertama, bahwa manusia dapat mengarahkan orientasi perilaku mereka pada konsekuensi-konsekuensi yang paling positif . Kedua, sebagai kenyataan bahwa manusia terlibat dalam interaksi makna yang kompleks dengan orang yang

(12)

lain, dapat memaksa mereka untuk cepat berinteraksi dengan apa yang diinginkankan orang lain.

Pada awal perkembangannya, interaksi simbolik lebih menekankan studinya tentang perilaku manusia pada hubungan interpersonal, bukan pada keseluruhan kelompok atau masyarakat. Proporsi paling mendasar dari interaksi simbolik adalah perilaku dan interaksi manusia itu dapat dibedakan, karena ditampilkan lewat symbol dan maknanya. Mencari makna dibalik yang sensual menjadi penting didalam interaksi simbolis. Secara umum, ada enam proporsi yang dipakai dalam konsep interaksi simbolik, yaitu;

1. Perilaku manusia mempunyai makna dibalik yang menggejala;

2. Pemaknaan manusia perlu dicari sumber pada ineraksi social manusia;

3. Masyarakat merupakan proses yang berkembang holistic, tak terpisah, tidak linear, tidak terduga;

4. Perilaku manusia itu berlaku berdasarkan berdasar penafsiran fenomenlogik, yaitu berlangsung atas maksud, pemaknaan, dan tujuan, bukan didasarkan atas proses mekanik dan otomatis.

5. Konsep mental manusia itu berkembang dialektik; dan 6. Prilaku manusia itu wajar dan konstruktif reaktif.

Mead bermaksud membedakan antara teori yang diperkenalkan dengan teori behaviorisme. Teori behaviorisme mempunyai pandangan bahwa perilaku individu adalah sesuatu yang didapat diamati, artinya mempelajari tingkah laku manusia secara objektif dari luar. Interaksionisme simbolik menurut Mead mempelajari tindakan social dengan mengunakan tehnik intropeksi untuk dapat

(13)

mengetahui sesuatu yang dapat melatarbelakangi tindakan ssoial itu dari sudut actor. Jadi, interaksi simbolik memandang manusia bertindak bukan semata-mata karena stimulus dan respon, melainkan juga didasar atas makna yang diberikan terhadap tindakan tersebut.

Menurut Mead, manusia mempunyai sejumlah kemungkinan tindakan dalam pemikiran sebelum ia memulai tindakan yang sebenarnya, seseorang terlebih dahulu berbagai alternative tindakan itu melalui pertimbangan pemikirannya.

Karena itu, dalam proses tindakan manusia terdapat suatu proses mental yang tertutup yang mendahului proses yang sebenarnya.

Perspektif tentang masyarakat yang menekan pada pentingnya bahasa dalam upaya saling memahami telah diungkapkan oleh Mead. Selanjutnya Blumer memperkenalkan sebagai premis interaksinisme simbolik sebagai berikut:

1. Manusia melakukan tindakan “sesuatu” berdasarkan makna yang dimiliki

“sesuatu” tersebut untuk mereka;

2. Makna dari “sesuatu” tersebut berasal dari atau muncul dari interaksi social yang di alaminya seorang dengan sesamanya;

3. Makna-makna yang ditangani dimodifikasi melalui suatu proses interpretative yang digunakan orang dalam berhubungan dengan “sesuatu”

yang ditemui.

Manusia mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan memanipulasi symbol-simbol. Kemampuannya itu diperlukan untukn komunikasi antarpribadi dan pikiran subjektif. Guna memandang proses dan relativitas bentuk-bentuk yang ada, maka Mead selanjutnya menggunakan tiga perspektif yang berbeda;

(14)

evolusionisme Darwin, idealism dialektis Jerman, dan pragmatism Amerika, meskipun Mead “menolak” dikatakan hanya mensintesis ketiga perpektif itu.

Gertur adalah gerakan organisme pertama yang bertindak sebagai

rangsangan khusus yang menimbulkan tanggapan (secara social) yang tepat dari organisme kedua. Isyarat suara sangat penting perannya dalam pengembangan isyarat yang signifikan. Namun, tak semua isyarat suara signifikan, kekhususan manusia dibidang isyarat (bahasa) ini pada hakikatnya yang bertanggung jawab pada asal-muasal pertumbuhan masyarakat dan pengetahuan manusia sekarang dengan seluruh control terhadap alam dan lingkungan dimungkinkan berkat pengtahuan.

Symbol Signifikan adalah sejenis gerak isyarat yang hanya dapat

diciptakan oleh manusia. Isyarat menjadi symbol signifikan bila muncul dari individu yang membuat symbol-simbol itu sama dengan dengan sejenis tanggapan (tetapi tidak perlu sama) yang diperoleh dari orang yang menjadi sasaran isyarat.

Jadi disini dapat disimpulkan symbol-simbol signifikan ada 2, yaitu: symbol Bahasa dan Simbol Isyarat Fisik: -Fungsi bahasa ataw symbol yang signifikan pada umumnya adalah menggerakan tindakan yang sama dipikhak individu yang berbicara dan juga pihak yang lainnya. Pengaruh lain dari bahasa merangsang orang yang berbicara dan orang yang mendengarkannya. –Simbol Isyarat Fisik, menciptakan peluang diantara individu yang terlibat dalam tindakan social tertntu untuk mengacu pada objek ataw objek-objek yang menjadi sasaaran tindakan itu, Mead sebagai proses percakapan seseorang dengan sendirinya, tidak ditemukan dalam diri individu; pikiran adalah fenomena social. Pikiran muncul dan

(15)

berkembang dalam proses social dan merupakan bagian integral dari proses social. Dan karakteristik istimewa dari pikiran adalah kemampuan individu untuk

“memunculkan dalam dirinya sendiri tidak hanya satu respon saja, tetapi juga respon komunitas secara keseluruhan, itulah yang dinamakan pikiran”.

Pada dasarnya diri adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai objek. Diri adalah kemampuan khusus untuk menjadi subjek maupun objek, untuk mempunyai diri, individu harus mencapai keadaan “diluar dirinya sendiri”

sehingga mampu mengevaluasi diri sendiri, mampu menjadi objek bagi dirinya sendiri. Dalam bertindak rasional ini mereka mencoba memeriksa diri sendiri secara inpersonal, objektif dan tanpa emosi, Mead mengidentifikasi dua aspek atau fase diri, yang ia namakan “I” dan “Me”. Mead menyatakan, diri pada dasarnya diri adalah proses social yang berlangsung dalam dua fase yang dapat dibedakan, perlu diingat “I” dan “ME” adalah proses yang terjadi didalam proses diri yang lebih luas. Bagian terpenting dari pembahasan Mead adalah hubungan timbal balik antara diri sebagai objek dan diri sebagai subjek. Diri sebagai objek ditujukan oleh Mead melalui konsep “Me”, sementara ketika sebagai subjek yang bertindak ditunjukan dengan konsep “I”.

Analisis Mead mengenai “I” membuka peluang bagi kebebasan dan spontanitas. Ketika “I” mempengaruhi “Me”, maka timbulah modifikasi konsep diri secara bertahap . Ciri pembeda manusia dan hewan adalah bahasa dan

“symbol signifikan”. Symbol signifikan haruslah merupakan suatu makna yang dimengerti bersama. Ia terdiri dari dua fase, “Me” dan “I”. Dalam kontek ini “Me”

adalah sosok saya sendiri sebagai mana yang dilihat oleh orang lain, sedangkan

(16)

“I” adalah bagian yang memperhatiakan diri saya sendiri. Dua hal yang itu menurut Mead menjadi sumber orisinallitas, kreativitas, dan spontanitas.

Percakapan internal memberikan saluran melalui semua percakapan eksternal.

Andai diri itu hanya mengandung “Me”, hanya akan menjadi agen masyarakat.

Fungsi kita hanyalah memenuhi perkiraan dan harapan orang lain. Menurut Mead, diri juga mengadung “I” yang merujuk pada aspek diri yang aktif dan mengikuti gerak hati. Mead menyebutkan, bahwa seseorang itu dalam membentuk konsep dirinya dengan jalan mengambil perspektif orang lain dan melihat dirinya sendiri sebagai objek. Untuk itu, ia melllewati tiga tahap yaitu,Fase Bermain, Fase Pertandingan dan Fase Mengambil Peran.

Pada tingkatan paling umum, Mead menggunkan istilah masyarakat (society) yang berarti proses social diri tanpa henti yang mendahului pikiran dan diri. Masyarat penting peranannya dalam membentuk pikiran dan diri, ditingkat lain, menurut Mead, Masyarakat mencerminkan sekumpulan tanggapan terorganisir yang diambil oleh individu dalam bentuk “aku” (me).Konsep Mead tentang masyarakat juga menekankan pada kekhususan model praksis manusia,di mana tanganlah yang menjembatani interaksi manusia dengan dania interaksi antara manusia dengan manusia lain,ia menekankan adanya keterkaitan antara pengalaman praktis yang d ijembatani oleh tangan.Pembicaraan dan tanganj secara bersama-sama berperan dalam pengembangan manusia social.Maksudnya,beberapa jenis aktivitas kerjsama telah menyebabkan adanya kedirian.

(17)

Mead memandang realitas social dengan kacamata psikologi social sebagai sesuatu proses yang dinamis, bukan statis. Manusia maupun aturan social dalam proses “akan jadi”, bukan sebagai fakta yang sudah lengkap dan terminasi. Mead meneliti bagaimana proses individu menjadi anggota organisasi (masyaraka).

Mead mengawalinya dengan diri (self) yang menjalani internalisasi atau interpretasi subjectif atas realitas struktur yang lebih luas. “Diri” ini berkembang ketika orang belajar “ mengambil peran orang lain” atau masuk dalam pertandingan (games) ketimbang permaianan (play). Manusia disamping itu mampu memahami orang lain yang memaahami diri sendiri. Hal ini ditunjang oleh penguasan bahasa sebagai symbol danisyarat terpenting, kerena bahasa dan isyarat itu orang bisa melakukan ineraksi simbolik dengan dirinya sendiri.

Interaksionisme simbolk menganalisis manusia dari aspek perilaku tersembunyi, yaitu proses mental yang namanya berpikir. Karenanya untuk menganalisis realitas yang tersembunyi, dan kedalaman data, yang paling sesuai dan tepat adalah metodologi kualitatif.

Sedangkan dari aspek ontologinya (the nature of reality) mendasarkan pada paradigma construtivism ataupun relativism mengasumsikan, realitas itu merupakan hasil konstruksi mental dari individu-individu pelaku sosial, karenanya realitas itu dipahami secara beragam oleh setiap individu. Adapun Prinsip metodologi interaksionisme simbolik ini sebagai berikut:

a. Symbol dan interaksi itu menyatu. Tak cukup bila kita hanya merekam fakta. Kita juga harus mencari yang lebih jauh dari itu, yakni mencari konteks sehingga dapat ditangkap symbol dan makna sebenarnya.

(18)

b. Karena symbol dan makna itu tak lepas dari sikap pribadi, maka jati diri subjek perlu “ditangkap’. Pemahaman mengenai konsep jati tiri subjek yang demikian itu adalah penting.

c. Peneliti harus sekaligus mengaitkan antara symbol dan jati diri dengan lingkungan yang menjadi hubungan sosialnya, dan lainnya.

d. Hendaknya direkam situasi yang menggambarkan symbol dan maknanya, bukan hanya mrekam fakta sensual.

e. Metode-metode yang digunakan hendaknya mampu merefleksikan bentk prilaku dan prosesnya.

f. Meode yang dipakai hendaknya mampu menangkap makna dibalik interaksi.

g. Sensitizing yaitu sekedar mengarahkan pemikiran,itu yang cocok dengan interaksionisme simbolik, dan ketika mulai memasuki lapangan perlu dirimuskan menjadi yang lebih operasional, menjadi scientific concept.

Referensi

Dokumen terkait

2 © All rights reserved November 2019 Cement Dispatches for October 2019 Saudi Cement Sector | Monthly Report For 10M-19, Northern cement showed the highest increase of 65.1%Y/Y,

Marine Conservation Society is hosting the Anjarle Turtle festival 2019, aiming to make more people aware about Olive Ridley turtles.. turtles Comprehension: In the following passage