• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagaimana Sejarah Rupiah Menjadi Mata Uang Indonesia

N/A
N/A
Arfag Habib

Academic year: 2023

Membagikan "Bagaimana Sejarah Rupiah Menjadi Mata Uang Indonesia"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Bagaimana Sejarah Rupiah Menjadi Mata Uang Indonesia? Simak Penjelasan Berikut

Jakarta: Rupiah Indonesia atau biasa disingkat Rupiah merupakan mata uang resmi yang berlaku di wilayah Republik Indonesia. Penggunaan mata uang ini dicetak dan diatur oleh Bank Indonesia dengan kode ISO 4217 IDR.

Nah, apakah kamu tahu bagaimana sejarah perjalanan Rupiah hingga menjadi mata uang Indonesia? Artikel yang dilansir dari laman Kelas Pintar ini akan menjelaskan sejarah tersebut.

Jika di zaman dulu kala, atau sekitar 6000 SM sistem barter menjadi bentuk alat perdagangan untuk memfasilitasi pertukaran barang dan jasa. Sistem ini digunakan sebelum manusia mengenal uang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

Seiring dengan kemajuan zaman, kemudian mata uang menjadi alat tukar sah yang dikeluarkan berbagai negara di dunia. Meski di zaman Sobat Medcom lahir mungkin rupiah sudah menjadi mata uang di Tanah Air, namun tidak sedikit dari kita yang tidak mengetahui sejarah perjalanan rupiah menjadi mata uang sah di Indonesia.

Asal Muasal Nama Rupiah

Berdasarkan sejarah, nama Rupiah berasal dari kata India: rupiya yang juga berakar dari bahasa Sansekerta yaitu:

rupyakam yang berarti “perak”. Nama “Rupiah” dijadikan nama mata uang Indonesia dikarenakan pengaruh budaya India yang kuat semasa kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara selama ratusan tahun yang telah terasimilasi kedalam budaya dan perbahasaan di Indonesia.

Dahulu, ada berbagai macam alat tukar yang digunakan untuk bertransaksi, seperti koin emas dan perak. Produk koin pertama yang ditemukan di Indonesia berasal dari dinasti Sailendra yang diproduksi dari abad ke-9 hingga ke-12.

Selain itu, ada untaian manik-manik juga dipakai sebagai alat tukar. Manik-manik ini diproduksi oleh kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan menyebar hingga pulau Jawa, Kalimantan sampai Indonesia bagian timur seperti Maluku.

Tak hanya itu, di akhir abad ke-13 Kerajaan Majapahit menerima kedatangan pedagang Cina dan menjadikan koin tembaga sebagai alat tukar di masa itu. Di tahun 1942, Jepang menginvasi pemerintahan Hindia Belanda dan membawa mata uang sendiri termasuk uang lokal dan gulden, lalu melikuidasi bank-bank, termasuk De Javasche Bank.

Setelahnya, terbitlah uang kertas yang dikeluarkan oleh De Japansche Regeering dan menjadi alat pembayaran yang sah sejak Maret 1942. Uang Jepang seharusnya memiliki nilai yang sama dengan uang Belanda, namun terjadi hiperinflasi karena mencetak uang secara berlebihan.

Di tahun 1944, Jepang mengeluarkan uang yang dicetak dalam bahasa Indonesia. Stok uang kertas ini tetap dipakai oleh pemerintah Indonesia sampai tahun 1946 ketika pemerintah baru bisa mencetak uang sendiri.

Pada akhir perang, sekutu NICA mulai mengambil alih kendali atas Indonesia dan mencetak gulden NICA di tahun 1943.

Uang ini disebarkan di Papua, Maluku dan Kalimantan. Lalu, ketika uang NICA pertama kali muncul di Pulau Jawa, Soekarno mengeluarkan dekrit (keputusan) segera di tanggal 2 Oktober 1945 yang menyatakan bahwa uang kertas NICA itu ilegal.

Karena tidak memiliki kuasa penuh, akhirnya Belanda memutuskan tidak mengeluarkan uang NICA di kota-kota di Pulau Jawa dan Sumatra. Karena kesulitan mengedarkan uang. Akhirnya lambat laun uang NICA tidak lagi berlaku dan tidak digunakan.

▸ Baca selengkapnya: jika seorang anak memiliki 50 rupiah dan memberikan 15 rupiah uang yang masih tinggal padanya

(2)

Pascaproklamasi Kemerdekaan

Di tahun 1945, setelah proklamasi kemerdekaan, pemerintah Indonesia memutuskan sudah saatnya untuk membuat mata uang sendiri. Sejarah mata uang Indonesia sendiri berawal pada 1946, yakni dengan diterbitkannya mata uang pertama oleh pemerintah, yakni Oeang Republik Indonesia (ORI). ORI pertama kali diedarkan pada 30 Oktober 1946.

Meskipun demikian, bila dilihat pada lembaran ORI pertama, tertulis emisi bertanggal 17 Oktober 1945. Hal ini menunjukkan banyaknya kendala dalam dalam proses pembuatan, pencetakan, dan peredaran ORI.

ORI diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai identitas dan bentuk kedaulatan ekonomi, serta salah satu upaya untuk menyehatkan perekonomian Indonesia yang sedang mengalami inflasi tinggi. ORI diterbitkan untuk

menggantikan mata uang yang sebelumnya diterbitkan oleh Pemerintah Belanda dan Jepang, sebagai salah satu bentuk perlawanan Indonesia.

ORI dibuat dalam desain dan bahan kertas yang sederhana tetapi mampu membangkitkan semangat rakyat Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan ekonomi Indonesia.

Pada saat itu, ORI emisi 1 terbit dalam delapan seri uang kertas yaitu satu sen, lima sen, sepuluh sen, setengah rupiah, satu rupiah, lima rupiah, sepuluh rupiah, dan seratus rupiah. ORI ini juga punya sisi depan dan belakang yang bergambar ciri khas Indonesia, yaitu keris yang terhunus dan teks Undang-Undang Dasar 1945.

Pada tiap lembar yang beredar, ORI ditandatangani oleh Menteri Keuangan yang menjabat dalam kurun waktu 26 September 1945 – 14 November 1945, AA Maramis.

Proses peredaran ORI ke seluruh pelosok negeri bukan tanpa halangan. Faktor perhubungan dan masalah keamanan yang menjadi faktor utama sulitnya pendistribusian mata uang ini ke masyarakat. Apalagi, sebagian wilayah Indonesia masih berada di bawah kedudukan Belanda.

Kedua hal ini menyebabkan pemerintah Indonesia kesulitan untuk menyatukan Indonesia sebagai satu kesatuan moneter. Bahkan, mulai tahun 1947 pemerintah terpaksa memberikan otoritas kepada daerah-daerah tertentu untuk mengeluarkan uangnya sendiri yang disebut Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA).

Berganti Menjadi Rupiah

Sebagai upaya untuk menyeragamkan uang di wilayah Republik Indonesia Serikat, pada 1 Januari 1950 Menteri Keuangan Sjafruddin Prawiranegara mengumumkan bahwa alat pembayaran yang sah adalah uang federal.

Mulai 27 Maret 1950 telah dilakukan penukaran ORI dan ORIDA dengan uang baru yang diterbitkan dan diedarkan oleh De Javasche Bank yaitu Uang Republik Indonesia Serikat (RIS).

Sejalan dengan masa Pemerintah RIS yang berlangsung singkat, masa edar uang kertas RIS juga tidak lama, yaitu hingga 17 Agustus 1950 ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk kembali.

Pada Desember 1951, De Javasche Bank dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral. Sesuai dengan tanggal berlakunya Undang-Undang Pokok Bank Indonesia tahun 1953, maka tanggal 1 Juli 1953 diperingati sebagai hari lahir Bank Indonesia di mana Bank Indonesia menggantikan De Javasche Bank dan bertindak sebagai bank sentral.

Di saat yang sama, Bank Indonesia juga merilis uang Rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran. Terdapat dua macam uang rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah Republik Indonesia, yaitu uang yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia (Kementerian Keuangan) dan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

(3)

Pemerintah RI menerbitkan uang kertas dan logam pecahan di bawah Rp 5, sedangkan Bank Indonesia menerbitkan uang kertas dalam pecahan Rp 5 ke atas. Di tahun 1952 hingga 1953, Bank Indonesia mulai merilis uang kertas baru, mulai dari 1 Rupiah hingga 100 Rupiah

(4)

Sejarah Mata Uang Indonesia dari Masa ke Masa, Bagaimana bisa Jadi Rupiah?

Mata uang Indonesia mengalami sejarang yang cukup panjang. Bahkan, setelah merdeka, kita tidak langsung menggunakan mata uang Rupiah, loh! Terus, pakai apa dong? Yuk, baca sampai habis artikel ini untuk tahu jawabannya!

Siapa yang tahu sejarah mata uang Indonesia? Uang Rupiah yang kita gunakan saat ini, ternyata telah melalui berbagai perubahan, lho! Nyatanya, setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, kita tidak langsung menggunakan Rupiah.

Nama Rupiah baru diresmikan beberapa tahun setelah proklamasi. Nah, sekarang, pastinya kamu penasaran kan mata uang apa yang digunakan saat wilayah nusantara ini masih berbentuk kerajaan, sampai menggunakan rupiah. Berikut sejarah lengkap mata uang Indonesia dari masa ke masa yang bisa kamu ketahui. Check these out!

Mata Uang Nusantara pada Zaman Kerajaan

Sebelum merdeka, Indonesia masih bernama Nusantara, yang menjadi tempat dari banyak kerajaan. Seperti contohnya kerajaan Sriwijaya, kerajaan Majapahit, kerajaan Mataram Lama, dan sebagainya. Pada masa itu, jual beli menggunakan uang sudah banyak digunakan. Namun, uang yang beredar bukan uang kertas, melainkan logam. Bahan dasar uang logam tersebut biasanya berupa emas atau perak.

Masa Kerajaan Hindu-Buddha

Pada masa ini, masing-masing kerajaan biasanya memiliki mata uang sendiri. Di awal abad ke-12, kerajaan Jenggala membuat mata uang dari emas dan perak yang disebut Krisnala (uang Ma). Sementara itu, pada abad ke-9, kerajaan Buton menggunakan uang Kampua. Sekitar abad ke-14 sampai ke-16, kerajaan Majapahit menggunakan uang Gobog yang terbuat dari tembaga. Uang ini juga banyak digunakan sebagai benda keramat, loh.

Uang Gobog dari kerajaan Majapahit (Sumber: bi.go.id) gambar mata uang kerajaan Samudera Pasai (Sumber: vcoins.com)

Masa Kerajaan Islam

Ketika Islam mulai berkembang di Nusantara, muncul juga mata uang dari kerajaan-kerajaan Islam, seperti kerajaan Samudra Pasai, kerajaan Aceh, kerajaan Jambi, dan sebagainya. Umumnya, mata uang yang dikeluarkan kerajaan Islam, bertuliskan bahasa Arab.

Misalnya, uang kerajaan Jambi yang pada sisi belakangnya bertuliskan Arab “Sanat 1256” dan pada sisi depan bertuliskan “Cholafat al Mukmin”.

Ada juga di kerajaan Samudra Pasai, menggunakan mata uang Dirham yang terbuat dari emas. Uang yang bentuknya seperti koin tersebut memiliki ukiran nama Sultan dengan gelar Malik Az-Zahrir atau Malik At-Tahir.

Mata Uang Indonesia pada Masa Penjajahan Belanda

Setelah Belanda datang dan menjajah kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah nusantara, mereka berusaha untuk mengganti semua mata uang asing yang beredar di sana. Pemerintah Hindia Belanda (wilayah Indonesia sebelum merdeka) mendirikan De Javasche Bank (DJB) pada tahun 1828. De Javasche Bank inilah yang menjadi cikal bakal Bank Indonesia sekarang ini.

Pada saat itu, De Javasche Bank mengeluarkan mata uang Sen dan Gulden. Kedua mata uang tersebut digunakan khusus hanya di wilayah Hindia Belanda saja.

(5)

Contoh mata uang Gulden (Sumber: uang-kuno.com)

Contoh mata uang De Japansche Regeering (Sumber: panix.com)

Mata Uang Indonesia pada Masa Penjajahan Jepang

Uang Belanda yang telah beredar sebelumnya, akhirnya ditarik dari peredaran saat kedatangan para penjajah Jepang pada tahun 1942.

Jepang menarik semua uang

terbitan Belanda dan menggantinya dengan uang mereka sendiri yang diterbitkan oleh Bank Nanpo Kaihatsu Ginko. Perbedaan yang paling terlihat adalah perubahan dari tulisan De Javasche Bank (Belanda), ke tulisan De Japansche Regeering (Jepang).

Nah, kamu tahu nggak, sebagai upaya untuk menarik hati masyarakat Indonesia, saat masa pendudukan Jepang akan berakhir, Jepang akan menerbitkan mata uang baru menggunakan bahasa Indonesia. Mata uang tersebut adalah Rupiah Hindia Belanda.

Mata Uang Indonesia pada Masa Awal Kemerdekaan Kedatangan NICA

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, kondisi keuangan Indonesia cukup memburuk. Semua mata uang baru yang beredar banyak digunakan dalam transaksi, baik itu mata uang terbitan Hindia Belanda maupun terbitan Jepang. Saat itu, Indonesia memiliki 4 jenis mata uang yang sah, di antaranya:

Kondisi ini semakin diperburuk dengan kedatangan tentara sekutu yang dikenal dengan sebutan NICA (Netherlands Indies Civil Administration). NICA menarik semua uang yang beredar di Indonesia dan menggantinya dengan “Gulden NICA” atau uang NICA.

Para pejuang pada saat itu menolak uang NICA karena menampilkan Ratu Wilhelmina, lambang kerajaan dan bahasa Belanda. Saat uang tersebut memasuki pulau Jawa, Bung Karno mendeklarasikan bahwa uang NICA adalah ilegal.

Oeang Republik Indonesia (ORI)

Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekaannya, kemudian langsung bergerak untuk membuat mata uang sendiri. Namun sayangnya, hal ini terkendala dengan sumber daya untuk membuat dan mencetak mata uang tersebut.

Setelah perjuangan yang gigih, pemerintah Indonesia akhirnya berhasil mencetak dan menerbitkan uang sendiri pada tanggal 3 Oktober 1946. Uang tersebut dikenal dengan ORI atau Oeang Republik Indonesia. ORI merupakan mata uang rupiah yang diterbitkan pertama kali.

(6)

Semua uang terbitan Jepang harus ditukarkan dengan ORI. Standar nilai tukar ORI ditetapkan dengan harga, 1 ORI = 50 Rupiah Hindia Belanda. Pemerintah juga menetapkan bahwa 1 ORI setara dengan 0.5 gram emas. Namun, ORI mulai mengalami masalah finansial yang menyebabkan tingkat inflasi menjadi tidak terkendali. Pada bulan Maret 1947, nilai tukar ORI merosot dari 5 Gulden NICA menjadi 0.3 Gulden NICA.

Kemerosotan ORI sebenarnya disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya agresi militer Belanda yang mempersempit wilayah Republik Indonesia, pemerintah Belanda yang melakukan pemalsuan ORI untuk membuat nilainya turun akibat inflasi, serta NICA yang kerap mengintimidasi masyarakat Indonesia yang menyimpan atau menggunakan ORI.

Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia sulit untuk menyatukan Indonesia sebagai satu kesatuan yang moneter. Sehingga, pada 1947, pemerintah memberikan mandat kepada pemerintah daerah untuk menerbitkan mata uang lokal, yaitu ORI Daerah (ORIDA) yang bertujuan menangkal mata uang NICA.

Kemunculan Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA)

ORIDA hanya berlaku sementara di daerah masing-masing. Sepanjang tahun 1947-1950, ORI-Daerah atau ORIDA terbit di beberapa provinsi, seperti Sumatra, Banten, Tapanuli, dan Banda Aceh.

Kemunculan ORIDA di Sumatra

Penggagas pertama kemunculan ORIDA adalah Gubernur Sumatra, Tengku Mohammad Hasan. ORIDA di Sumatra ini kemudian dikenal sebagai Oeang Republik Indonesia Sumatra (ORIPS). Nilainya setara dengan 1 ORI. Selain itu, muncul juga ORIDA lain di wilayah Sumatra, yaitu ORITA-Tapanuli, ORIPSU-Sumatra Utara, ORIBA-Banda Aceh, ORIN-Kabupaten Nias, dan ORIAB- Kabupaten Labuhan Batu.

Kemunculan ORIDA di Jawa

Pada 11 Agustus 1948, ORIDA di pulau Jawa pertama kali terbit dan beredar di Banten, yaitu Oeang Republik Indonesia Daerah Banten (ORIDAB). Uang ini ditandatangani oleh seorang ulama dan pahlawan nasionalis, Achmad Chatib dalam aksara Arab. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, terbit juga ORIDA dalam bentuk surat tanda penerimaan uang yang ditanda tangani oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Beredarnya berbagai jenis mata uang dan bentuk ORIDA, telah membantu Indonesia menghadapi uang NICA yang beredar di tiap daerah. Penggunaan mata uang ORI dan ORIDA berakhir seiring dengan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang menyepakati pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada 1 Mei 1950, pemerintahan RIS menarik ORI dan ORIDA yang beredar, kemudian menggantinya dengan mata uang RIS.

(7)

Pada 1 Januari 1950, terbitlah uang RIS, atau disebut juga "Uang Federal" atau "Uang DJB". Uang RIS ini menampilkan gambar Sukarno, selaku presiden RIS dan ditanda tangani oleh Menteri Keuangan, MR. Sjafruddin Prawiranegara. Saat itu juga, uang RIS dijadikan sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah Republik Indonesia Serikat.

Penerbitan uang RIS ini bertujuan untuk menghapus berbagai jenis mata uang dengan nilai tukar yang berbeda-beda. Selain itu, Sjarifuddin mencetuskan kebijakan moneter yang dikenal dengan istilah "Gunting Sjafruddin", yakni menggunting uang kertas De Javasche Bank versi lama dan mata uang Hindia Belanda untuk menekan inflasi.

Dengan beredarnya uang RIS, berakhir pula kekacauan sirkulasi uang di Indonesia. Namun, pemerintah Indonesia belum sepenuhnya bisa mengendalikan sirkulasi uang karena masih dipegang oleh De Javasche Bank (DJB). Pada Agustus 1950, pemerintah Republik Indonesia menyatakan RIS bubar, dan Indonesia kembali ke bentuk NKRI. Dengan begitu, penggunaan mata uang RIS juga tidak berlaku lagi.

Tanggal 1 Juli 1953 diperingati sebagai hari lahir Bank Indonesia. De Javasche Bank telah digantikan oleh Bank Indonesia dan bertindak sebagai bank sentral. Terdapat dua macam uang rupiah yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah, yaitu uang yang diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia (Kementerian Keuangan) dan uang yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.

Pemerintah RI menerbitkan uang kertas dan logam pecahan dibawah 5 Rupiah, sedangkan Bank Indonesia menerbitkan uang kertas dan logam pecahan diatas 5 Rupiah. Namun, dengan adanya Undang-Undang No.13/1968, Bank Indonesia menjadi pemegang hak tunggal untuk mengeluarkan uang.

Gambar uang Rupiah tahun 1990-an (Sumber: andryngebluss.blogspot.co.id) Gambar uang Rupiah tahun 2000-an (Sumber: andryngebluss.blogspot.co.id)

Gambar uang Rupiah tahun 2017 (Sumber: kumparan.com)

Uang Rupiah kertas maupun logam juga selalu mengalami perkembangan, dari segi tampilan maupun ukuran. Pada tahun 2022 ini, pemerintah dan Bank Indonesia juga kembali memperbaharui Rupiah dengan desain dan ukuran yang berbeda. Uang kertas tersebut adalah Rupiah Kertas Tahun Emisi (TE) 2022. Apakah kamu sudah memiliki semua uang Rupiah baru ini?

Gambar uang Rupiah tahun 2022 (Sumber: pikiranrakyat.com)

Referensi

Dokumen terkait

Mata uang rupiah yang telah dicabut dan ditarik dari peredaran tidak berlaku sebagai alat pembayaran yang sah sebagaimana ditetapkan oleh ketentuan yang

mendeklarasikan pembawaan Uang Rupiah keluar wilayah Republik Indonesia di tempat keberangkatan tetapi dengan keterangan yang tidak benar dan atau jumlah yang tidak sesuai

Sehinga menimbulkan semakin menguatnya nilai mata uang dollar, yang berimbas pada perekonomian internasional, dan nilai mata uang disetiap Negara ( termasuk Indonesia ) ,sehingga

Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor: 11/12/PBI/2009 Tentang Uang Elekronik, uang elektronik adalah alat pembayaran yang diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor

Tanggal Pembayaran Kupon : Tanggal pada saat kupon ORI jatuh tempo dan wajib dibayar oleh Pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia kepada Pemilik ORI yang

Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah untuk merancang buku sebagai media yang dapat mengedukasi masyarakat mengenai sejarah dan perkembangan uang Rupiah di Indonesia..

Alangkah lebih baiknya masyarakat juga mengetahui sejarah mengenai uang itu sendiri terutama uang yang ada di Indonesia, yang merupakan alat yang sering digunakan dalam

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), kas adalah mata uang kertas atau logam baik rupiah maupun valuta asing yang masih berlaku sebagai alat pembayaran yang