Kondisi tersebut menghebohkan publik ketika terungkap beberapa fakta tindak kekerasan terhadap anak. Satu per satu kasus kekerasan terhadap anak terungkap di berbagai daerah atau kota di Indonesia.
Deskripsi Singkat
Sejauh ini, tindak kekerasan terhadap anak sebagian besar ditangani oleh sekolah dan aparat keamanan (polisi), sedangkan pemangku kepentingan pendidikan lainnya kurang terlibat. Pada kegiatan pembelajaran 2 pembahasan akan lebih terfokus pada tindak kekerasan terhadap anak di sekolah dan perlindungan anak terhadap tindak kekerasan di sekolah.
Tujuan Pembelajaran
Dalam setiap pembahasan bahan ajar akan diberikan ilustrasi dan petunjuk yang akan membantu untuk memahami bahan ajar.
KEGIATAN BELAJAR 1 KONSEP DAN TEORI TINDAK
Tujuan Pembelajaran
Fenomena Sosial dan Masalah Sosial
Mari kita pelajari apa yang dikemukakan para ahli untuk memahami fenomena sosial sebagai masalah sosial. Beberapa permasalahan yang kita hadapi adalah mengenai subjektivitas dalam menentukan standar pengukuran yang digunakan untuk menetapkannya sebagai suatu masalah sosial.
Kekerasan Terhadap Anak sebagai Masalah Sosial Mengikuti batasan-batasan yang diberikan oleh
Kriteria pertama, kekerasan terhadap anak merupakan fenomena yang sejak lama dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan mental individu. Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, perbedaan strata sosial harus diperhitungkan ketika mendefinisikan dan mencari penyebab kekerasan terhadap anak.
Kekerasan Terhadap Anak
Dengan demikian, kekerasan terhadap anak dapat diartikan sebagai setiap tindakan terhadap anak yang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan dan/atau penelantaran secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran terhadap anak, termasuk ancaman tindakan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara tidak sah dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan hidup. pengaturan sosial lainnya. Berdasarkan pengertian tersebut, bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak dapat bersifat fisik, seksual, psikis/verbal.
Bentuk Kekerasan Terhadap Anak
Nah, sekarang mari kita lihat apa saja bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak yang sering dilakukan berdasarkan hasil penelitian. Tindak kekerasan dalam proses pembelajaran nonformal di lingkungan pesantren atau asrama lebih sering terjadi dibandingkan proses pembelajaran formal.
Dampak Kekerasan Terhadap Anak
Para ustad yang juga mengakhiri pesantren tersebut diperkirakan mengetahui aksi kekerasan tersebut dari pengalaman masa lalu. Selanjutnya mari kita lanjutkan mempelajari penyebab kekerasan terhadap anak dan penjelasannya melalui teori masalah sosial.
Penyebab dan Upaya Pemecahan Tindak Kekerasan terhadap Anak
Permasalahan kekerasan terhadap anak bisa berasal dari kelemahan masyarakat atau institusi. Oleh karena itu, untuk mendeteksi tindak kekerasan terhadap anak perlu dibedakan menjadi dua.
Perlindungan terhadap Anak dari Tindak Kekerasan
Untuk mendukung perlindungan anak, Kota Padang juga menerbitkan Peraturan Daerah Kota Padang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pembinaan dan Perlindungan Anak. Maksud dibentuknya peraturan daerah ini dapat disimpulkan dari Pasal 3 yang menyatakan bahwa tujuan pembinaan dan perlindungan anak adalah: a) menjamin. terpenuhinya hak anak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, sehingga tercipta anak yang berkualitas, berakhlak mulia, berakhlak mulia, dan sejahtera; dan b) membangun karakter anak berdasarkan filosofi tradisional Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabbullah sesuai dengan filosofi tradisional alam Minangkabau. Pasal 7 menyatakan bahwa kewajiban dan tanggung jawab perlindungan anak merupakan kewajiban dan tanggung jawab bersama: a) pemerintah daerah; b) masyarakat;.
Peran Pemerintah Daerah, pada Pasal 8 dijelaskan bahwa Pemerintah Daerah berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: a) menghormati dan menjamin hak asasi anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, suku, budaya dan bahasa, status hukum. anak, urutan kelahiran anak, kondisi fisik dan mental anak; b) memberikan dukungan sarana dan prasarana. dalam penyelenggaraan pembinaan dan perlindungan anak; Menurut Musdek MSi, sebagaimana fungsi umum Badan Perlindungan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Kota Padang dengan dihadiri anggota Komisi IV DPRD Padang, pembinaan dan perlindungan anak dalam Perda No. 2 Tahun 2012 tidak terealisasi karena tidak didukung Peraturan Walikota (Perwako). Forum Multipartai Peduli HKSR Kota Padang mengajukan rekomendasi kepada DPRD Padang melalui Komisi IV bidang kesejahteraan rakyat agar Perda No. 2 Tahun 2012 tentang Tumbuh Kembang dan Perlindungan Anak di Kota Padang dapat segera dilaksanakan.
KEGIATAN BELAJAR 2 TINDAK KEKERASAN
DAN SEKOLAH UMUM
Tujuan Belajar
Tindak Kekerasan terhadap Anak di Pondok Pesantren Modern
Terlihat bahwa jumlah siswa yang pernah mengalami kekerasan fisik sebagian besar adalah siswa laki-laki (63%) dibandingkan siswa perempuan. Jumlah siswa yang mengaku pernah mengalami kekerasan psikis sebanyak (53%) sedangkan yang mengaku tidak pernah mengalaminya sebanyak 47%. Kelas yang ditempati siswa juga berkaitan dengan banyaknya tindakan kekerasan psikis yang dialami siswa tersebut.
Di antara siswa yang pernah mengalami tindakan kekerasan seksual, berdasarkan pengakuan responden, siswa sekolah menengah pertama (SMP) lebih banyak mengalami tindakan kekerasan seksual dibandingkan siswa sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah dasar (SD). Mayoritas santri yang mengalami kekerasan seksual (76%) dialami oleh santri yang hanya satu kali tinggal di pesantren. Aksi kekerasan fisik berupa tendangan dialami oleh 15 orang siswa yang seluruhnya merupakan siswa laki-laki.
Siswa yang mengaku pernah mengalami tindakan kekerasan psikis mencapai 53% dari 100 responden yang menjadi sampel penelitian. Pandangan para pendidik mengenai pemberian hukuman yang mendidik siswa berkaitan dengan terjadinya tindakan kekerasan terhadap anak.
Tidak Kekerasan di Sekolah Umum
Selain keadaan emosi guru yang tidak bisa dikendalikan, hubungan kekuasaan antara guru dan siswa menjadi sumber terjadinya tindakan kekerasan terhadap siswa yang dilakukan guru. Secara umum sekolah sebagai lembaga pendidikan telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya tindakan kekerasan terhadap anak khususnya di sekolah. Selain peraturan yang dirancang untuk mencegah terjadinya tindakan kekerasan, upaya pencegahan terjadinya tindakan kekerasan juga dilakukan melalui penegakan peraturan jika ada siswa yang melanggar.
Kerjasama dengan pihak lain terus dilakukan untuk membantu mengatasi kekerasan di sekolah. Kolaborasi dengan pakar pendidikan, psikologi dan agama belum dilakukan untuk membantu mengatasi tindakan kekerasan di sekolah. Mekanisme pelaporan kekerasan terhadap anak di sekolah masih menimbulkan ketakutan di kalangan korban (siswa).
KEGIATAN BELAJAR 3 PEMBERDAYAAN
Pemberdayaan Masyarakat
Memberdayakan pemangku kepentingan pendidikan berarti memberdayakan pemangku kepentingan pendidikan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh pemangku kepentingan pendidikan. Masyarakat berdaya adalah masyarakat yang mengetahui, memahami, memahami, termotivasi, mempunyai kemampuan, memanfaatkan peluang, mempunyai energi, dapat bekerja sama, mengetahui berbagai alternatif, mampu. Proses pemberdayaan yang mengarah pada masyarakat yang memiliki karakteristik yang diinginkan harus dilakukan secara berkesinambungan dengan mengoptimalkan partisipasi masyarakat secara bertanggung jawab (Slamet, 2003).
Stakeholders Pendidikan
Dalam konteks seperti ini, tanggung jawab pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah tidak hanya dialihkan kepada pihak-pihak di dalam sekolah (internal pemangku kepentingan), namun juga kepada pihak-pihak di luar sekolah (eksternal pemangku kepentingan). Orang-orang yang terlibat langsung dalam manajemen pendidikan disebut pemangku kepentingan internal, misalnya guru, siswa, staf administrasi, dan direktur sekolah. Penelitian berbagai peneliti menunjukkan bahwa pemangku kepentingan di bidang pendidikan memegang peranan penting dalam berbagai hal.
Di bidang kesehatan misalnya, peran pemangku kepentingan pendidikan sangat penting dalam meningkatkan kesehatan di lingkungan sekolah. Sejalan dengan hasil penelitian Yulfiano dan Kusnanto, aktor pendidikan juga akan berperan penting dalam mencegah dan mengatasi tindakan kekerasan di lingkungan sekolah. Peningkatan peran aktor pendidikan, baik internal maupun eksternal, akan berkorelasi positif dengan berkurangnya tindakan kekerasan terhadap anak.
Tahapan Pemberdayaan
Pada tahap ketujuh, orang yang telah mencapai pemberdayaan diri merasa tertantang untuk melakukan upaya yang lebih besar untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Siklus pemberdayaan ini menggambarkan proses upaya individu dan komunitas untuk mengejar perjalanan menuju pencapaian dan kepuasan individu dan pekerjaan yang lebih tinggi.
Langkah Pemberdayaan
Pihak yang diberi kuasa tidak mempunyai kuasa atau kesanggupan untuk melakukan tindakan yang seharusnya berada dalam kewenangannya, atau agen kurang berani bertindak karena tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Pemberdayaan berarti memberikan tambahan daya, kesanggupan atau keberanian, wewenang kepada individu atau kelompok yang sebenarnya telah mempunyai wewenang untuk menjadi lebih kuat atau lebih berani bertindak dalam menjalankan wewenang atau fungsi dan perannya. Agar mempunyai kekuatan dan keberanian bertindak, proses pemberdayaan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan mentransfer sebagian kekuasaan dan rangsangan atau motivasi (Pranarka & Vidhyandika (1996).
Secara lebih rinci Slamet (2003) menjelaskan bahwa keberhasilan proses pemberdayaan diwujudkan dalam bentuk masyarakat yang berdaya. Masyarakat berdaya adalah masyarakat yang mengetahui, memahami, memahami, termotivasi, mempunyai peluang, memanfaatkan peluang, mempunyai tenaga, mampu bekerja sama, mengetahui banyak. Proses pemberdayaan harus dilakukan secara berkesinambungan dan mengoptimalkan partisipasi masyarakat secara responsif agar menghasilkan masyarakat yang memiliki karakteristik yang diinginkan.
Model Konseptual Pemberdayaan Pemangku Kepentingan Pendidikan
Para pemangku kepentingan tidak memiliki kekuasaan, wewenang, atau keberanian untuk mengambil tindakan yang dapat mengurangi atau mencegah tindakan kekerasan terhadap anak di sekolah, meskipun peran, tugas, dan fungsinya sudah jelas. Pemberdayaan pemangku kepentingan di bidang pendidikan adalah suatu proses pemberian kekuasaan, kekuatan, kemampuan dan wewenang kepada orang atau lembaga yang mempunyai kepentingan langsung maupun tidak langsung terhadap kegiatan pendidikan di sekolah, untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan guna mencegah terjadinya tindakan kekerasan terhadap anak dalam bidang pendidikan. dan mengatasinya. . Pemberdayaan dicapai dengan memberikan kekuatan, kuasa atau kemampuan kepada sekolah agar kepala sekolah, guru, komite sekolah, guru pembimbing, siswa, OSIS, satpam sekolah, dan tenaga pengajar berdaya dalam mencegah dan mengatasi tindakan kekerasan di sekolah.
Cara yang kedua adalah dengan menekankan pada proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi kepala sekolah, guru, komite sekolah, bimbingan dan konseling terhadap guru, siswa, OSIS, penjaga sekolah, tenaga kependidikan agar mempunyai kemampuan atau pemberdayaan untuk mencegah terjadinya tindakan kekerasan dan penanggulangannya. sekolah. Mendorong kepala sekolah untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait (aparat keamanan/polisi, lembaga keagamaan, lembaga psikologi, pakar pendidikan, lembaga swadaya masyarakat) dalam melakukan sosialisasi pencegahan dan pengendalian tindak kekerasan terhadap anak di sekolah. Sistem tersebut dapat menjadi hambatan (pembatasan) bagi individu yang terdorong untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap anak.
DAFTAR PUSTAKA
Hanandini, Dwiyanti, dkk., 2004, “Tindakan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak jalanan”, Laporan Penelitian, HEDS Fund. Hanandini, Dwiyanti, dkk., 2005, Melindungi anak jalanan dari kekerasan dan pelecehan seksual, Laporan Penelitian, HEDS Fund. Hanandini, Dwiyanti, 2013, “RESOLUSI KONFLIK DALAM KELUARGA (Investigasi Penyelesaian KDRT (KDRT) Berbasis Nilai-Nilai Sosial Lokal Pada Masyarakat Minangkabau”, Laporan Penelitian, Departemen Pengabdian dan Penelitian pada Masyarakat.
Nurhilaliati, 2005, “Kekerasan terhadap anak dalam sistem pendidikan pesantren (studi pada Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri)”, Jurnal Penelitian Islam, Vol. Pramono, Wahyu, et.all., 2014, “Meningkatkan Pemahaman Anak Terhadap Tindak Kekerasan Terhadap Anak Di SDN 12 Joriong Bendang Kecamatan VII Koto Padang Pariaman”, Laporan Pengabdian Kepada Masyarakat, Lembaga Pengabdian Masyarakat dan Lembaga Penelitian. “Kajian Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (Studi Kekerasan Anak di Pondok Pesantren Modern Provinsi Sumatera Barat)”, Laporan Penelitian (tidak dipublikasikan), Pusat Kajian Perempuan (Psw),.