PENDAHULUAN
Latar Belakang
Aspek yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah penggunaan bahasa Indonesia pada media indoor dan outdoor. Cakupan penggunaan bahasa Indonesia pada media indoor dan outdoor dijelaskan pada subbab berikutnya. Pasal-pasal tersebut menjelaskan tentang kewajiban menggunakan bahasa Indonesia baik di media indoor maupun outdoor.
Rumusan Masalah
Tujuan
Materi deskriptif diambil dari penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai media indoor dan outdoor, berdasarkan pengamatan langsung penulis. Selain itu, materi deskriptif juga diambil dari berbagai penelitian relevan yang mendeskripsikan penggunaan bahasa Indonesia dalam media domestik dan luar ruangan.
Metodologi
Dengan demikian, prosedur atau metode analisis kesalahan berbahasa cukup diwakili oleh empat tahapan, yaitu: (1) mengumpulkan sampel kesalahan, (2) mengidentifikasi kesalahan, (3) menjelaskan kesalahan, (4) mengevaluasi kesalahan. Kegiatan mendengarkan ini memberikan informasi tentang jenis-jenis kesalahan berbahasa pada tingkat bahasa yang berbeda.
Kajian Pustaka
Penggunaan bahasa Indonesia yang tidak sesuai kaidah kebahasaan baik di media internal maupun eksternal pada hakikatnya sama. Kesalahan berbahasa Indonesia pada media indoor dan outdoor terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan). 6) Tanda hubung digunakan untuk menggabungkan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.
PEMBAHASAN
Perkembangan Bahasa Indonesia
Kedudukan Bahasa Indonesia
Dengan demikian, hasil analisis kesalahan bahasa Indonesia pada media indoor dan outdoor dapat dijadikan acuan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di berbagai lembaga pendidikan. Melalui kegiatan menyimak ini akan diperoleh informasi mengenai bentuk-bentuk kesalahan berbahasa yang digunakan dalam penggunaan bahasa Indonesia pada media indoor dan outdoor. Kesalahan berbahasa pada tataran sintaksis dapat berupa: (a) pengaruh bahasa daerah, (b) penggunaan kata depan yang tidak tepat, (c) kesalahan susunan kata, (d) penggunaan unsur yang berlebihan atau berlebihan, (e) penggunaan bentuk-bentuk superlatif yang berlebihan, (f) pluralisasi ganda dan (g) penggunaan bentuk-bentuk timbal balik yang tidak tepat (Setyawati, 2010:68).
Fungsi Bahasa Indonesia
Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional mempunyai fungsi yang lebih konkrit dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional diuraikan pada subbab di bawah ini. Lebih lanjut, ayat (3) undang-undang tersebut dengan jelas menggambarkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
Setelah itu, Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2014 untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Fungsi lain bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara adalah bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan nasional. Fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana dan penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni semakin terlihat.
Bangsa Indonesia patut berbangga karena bahasa Indonesia masih hidup dan berkembang di tengah kehidupan berbangsa Indonesia. Selain bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional, bahasa asing dan bahasa daerah juga hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia.
Aturan Hukum tentang Bahasa Indonesia
- Bahasa Indonesia di Media Dalam dan Luar Ruang
Di bawah ini petikan pasal penggunaan bahasa Indonesia yang termasuk dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam pidato resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta pejabat negara lainnya. Aturan hukum lain yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia adalah Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010.
Perpres ini secara khusus mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam pidato resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta pejabat pemerintah lainnya. 13 Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam pidato resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta pejabat pemerintah lainnya. Ketentuan hukum terbaru mengenai bahasa Indonesia adalah Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2019 tentang penggunaan bahasa Indonesia.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan mengatur penggunaan bahasa Indonesia. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 16 Tahun 2010 secara khusus mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam pidato resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta pejabat negara lainnya.
Ruang Lingkup Penggunaan Bahasa Indonesia
Berdasarkan kutipan tersebut jelas bahwa bahasa peraturan perundang-undangan atau bahasa hukum tertulis adalah bahasa Indonesia, yang juga harus mematuhi kaidah tata bahasa Indonesia, baik dalam (a) pembentukan kata, (b) konstruksi kalimat, (c) teknik menulis, serta (d) ) ejaan. Dengan demikian, bahasa Indonesia yang digunakan dalam peraturan perundang-undangan tidak hanya harus menggunakan kaidah tata bahasa yang baku, tetapi juga harus memperhatikan atau mengikuti prinsip efisiensi kalimat. Penggunaan bahasa Indonesia dalam peraturan perundang-undangan meliputi pembentukan kata, konstruksi kalimat, teknik penulisan, dan ejaan.
Pembentukan kata dalam bahasa undang-undang dilakukan dengan mengacu pada morfologi bahasa Indonesia dan pedoman umum pembentukan istilah. Jenis dan tarif pendapatan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 serta pendapatan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jenis dan tarif penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dan pendapatan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Tanpa kehadiran salah satu unsur tersebut, maka pasal atau ayat peraturan perundang-undangan tidak dapat dikatakan suatu norma, karena norma harus berupa suatu dalil. Pidato yang wajib menggunakan bahasa Indonesia menurut ketentuan peraturan perundang-undangan adalah pidato resmi Presiden, Wakil Presiden, dan pejabat pemerintah lainnya.
Ruang Lingkup Penggunaan Bahasa Indonesia
- Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia di Media
Dalam menyusun karya ilmiah sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia, karena itulah fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penggunaan bahasa Indonesia pada media luar ruang lainnya merupakan merek dagang berupa kata atau gabungan kata yang dimiliki oleh warga negara atau badan hukum Indonesia. Nama produk barang ini meliputi: nama barang, spesifikasi, bahan dan komposisi, cara pemakaian, cara pemasangan, manfaat atau kegunaan, efek samping, ukuran, berat atau berat bersih, tanggal pembuatan, masa berlaku/kadaluwarsa periode, pengoperasian produk dan nama serta alamat perusahaan pelaku.
Rambu-rambu umum, rambu-rambu jalan, fasilitas umum, spanduk, dan sarana informasi lain yang merupakan pelayanan publik. Pelayanan publik yang paling banyak kita jumpai adalah rambu-rambu umum, rambu jalan, fasilitas umum, spanduk, dan lain-lain. Penamaan layanan publik tersebut harus dalam bahasa Indonesia dan biasanya dipasang di tempat-tempat yang mudah dilihat oleh banyak orang.
Media massa adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis media yang dirancang khusus untuk menjangkau khalayak yang sangat luas.
Bentuk-Bentuk Analisis Kesalahan Berbahasa
Bentuk-bentuk kesalahan berbahasa tulis bidang morfologi antara lain: (a) penggunaan sufiks, (b) penentuan bentuk dasar yang salah, (c) penempatan sufiks yang salah pada frasa, (d) kesalahan pengulangan kata majemuk. (Setyawati, 2010). Contoh bentuk kesalahan berbahasa pada ranah kalimat dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini. Kesalahan bahasa Indonesia pada tataran sintaksis adalah kesalahan susunan kata atau pola kalimat yang tidak tepat.
Contoh bentuk-bentuk kesalahan berbahasa dalam bidang semantik dapat dilihat pada tabel 6 dibawah ini. Contoh bentuk-bentuk kesalahan berbahasa dalam bidang wacana dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini. Kesalahan bahasa Indonesia pada tataran semantik juga terjadi pada contoh 2 seperti terlihat pada tabel 7 di atas.
Contoh bentuk kesalahan bahasa pada lingkup pelaksanaan PUEBI dapat dilihat pada tabel 8 di bawah ini. Contoh 2 pada tabel di atas terdapat kesalahan kebahasaan dalam hal penggunaan huruf miring yaitu pada kata Lombok Post. Pada kutipan surat di atas terdapat dua kesalahan kebahasaan terkait aturan penggunaan huruf kapital.
Beberapa kutipan surat di atas mengandung kesalahan kebahasaan dalam penggunaan kata yang dicetak miring.
Pemanfaatan Analisis Kesalahan Berbahasa
Jika dicermati, hasil analisis kesalahan berbahasa pada media indoor dan outdoor berkaitan dengan pembelajaran bahasa Indonesia pada jenjang pendidikan yang berbeda. Dengan demikian, hasil analisis kesalahan berbahasa sangat relevan dengan pembelajaran bahasa Indonesia pada berbagai jenjang pendidikan, khususnya pada aspek atau keterampilan menulis. Berbagai penelitian telah dilakukan mengenai topik kesalahan berbahasa yang terkait dengan pembelajaran bahasa Indonesia di berbagai jenjang pendidikan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa analisis kesalahan berbahasa pada media indoor dan outdoor sangat relevan dengan pembelajaran bahasa Indonesia di kelas. Analisis Kesalahan Berbahasa Pada Tesis Mahasiswa Program Studi Non Kependidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret” (Handayani, 2012). Penelitian yang dilakukan Handayani mengangkat topik kesalahan berbahasa pada skripsi mahasiswa Non Pendidikan Bahasa Indonesia Pelatihan bahasa pascasarjana di Universitas Sebelas Maret.
Penelitian yang dilakukan Karap merupakan salah satu teknik analisis kesalahan berbahasa, yaitu teknik koreksi langsung. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan oleh Karap relevan dengan analisis kesalahan berbahasa di berbagai tingkat pendidikan.
SIMPULAN
Adanya peraturan khusus mengenai penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara sudah seharusnya menjadi kewajiban bagi lembaga negara untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia sesuai aturan yang telah ditentukan, khususnya dalam bahasa tulisan. Ruang lingkup penggunaan bahasa Indonesia dalam media dalam ruangan meliputi: (1) Dokumen resmi negara, (2) Pidato resmi presiden, wakil presiden, dan pejabat negara lainnya, (3) Bahasa pengantar pendidikan nasional, (4) Administrasi Publik pada instansi pemerintah, meliputi: komunikasi antara penyelenggara dan penerima, pelayanan publik, standar pelayanan publik, pengumuman layanan; dan sistem informasi layanan. Ruang lingkup penggunaan bahasa Indonesia dalam media luar ruang meliputi: (1) Nama geografis meliputi daerah, provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, kelurahan, kelurahan, desa, kelurahan, dusun, gunung, bukit, jurang, lembah, tanjung, pulau , samudra, laut, teluk, selat, sungai, danau, rawa, muara dan/atau jenis geografi lainnya.
Analisis Kesalahan Bahasa Tertulis dalam Naskah Dinas di Sekretariat Daerah Pemerintah Kota Mataram dan Relevansinya dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Jenjang Pendidikan Menengah”, Tesis Pascasarjana Universitas Mataram. Tidak tanggung-tanggung, dalam konstitusi lagi tinggi negara ini adalah secara langsung menyatakan bahwa kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dalam pasal tersebut layak mendapat kedudukan khusus.
Buku di tangan pembaca ini mengupas bagaimana penggunaan bahasa Indonesia baik di media dalam negeri maupun luar ruangan. Motivasi belajarnya mengantarkannya untuk melanjutkan studi di Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Mataram dan lulus pada tahun 2014.