• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III

Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan, (3) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2014 Tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia, (4) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden Serta Pejabat Negara Lainnya, (5) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2019 Tentang Penggunaan Bahasa Indonesia.

Adanya aturan khusus mengenai penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara ini seharusnya menjadi kewajiban lembaga negara untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia sesuai kaidah yang telah ditentukan khususnya dalam bahasa tulisan. Namun, aturan ini tidak serta- merta membuat lembaga negara menerapkan kaidah bahasa Indonesia tersebut. Dalam penggunaannya, kesalahan- kesalahan berbahasa baik di media dalam dan luar ruang masih dijumpai. Bentuk kesalahan berbahasa yang dapat ditemukan pada penggunaan bahasa di media dalam dan luar ruang sangat bervariasi.

Misalnya, kesalahan dalam bidang fonologi, kesalahan dalam bidang morfologi, kesalahan dalam bidang sintaksis baik berupa kesalahan pada frasa maupun kesalahan pada klausa, kesalahan dalam bidang semantik, kesalahan dalam bidang wacana, dan kesalahan dalam hal penggunaan ejaan.

Ruang lingkup penggunaan bahasa Indonesia di media dalam ruang meliputi: (1) Dokumen resmi negara, (2) Pidato resmi presiden, wakil presiden, dan pejabat negara yang lain, (3) Bahasa pengantar dalam pendidikan nasional, (4) Pelayanan administrasi publik di instansi pemerintahan yang meliputi: komunikasi antara penyelenggara dan penerima, layanan publik, standar pelayanan publik, maklumat pelayanan; dan sistem infomasi pelayanan. Setiap bentuk pelayanan adminitrasi publik harus menggunakan bahasa Indonesia, (5) Nota kesepahaman atau perjanjian, (6) Sarana

komunikasi resmi di lingkungan kerja yang meliputi: disposisi, instruksi, verifikasi, konsultasi, advokasi, pengarahan, perundingan, wawancara, korespondensi, pengumuman, berita, rapat, diskusi, pendataan, koordinasi, pengawasan, pembinaan pegawai, layanan publik; dan/atau, komunikasi resmi lain, (7) Laporan yang dapat berupa: pengelolaan kegiatan, laporan pelaksanaan tugas kedinasan, laporan kegiatan masyarakat, laporan pengaduan masyarakat, (8) Karya ilmiah dapat berupa: disertasi, tesis, skripsi, laporan tugas akhir, laporan penelitian, makalah, buku teks, buku referensi, prosiding, risalah forum ilmiah, jurnal ilmiah, dan/atau karya ilmiah lain.

Penyusunan karya ilmiah harus menggunakan bahasa Indonesia karena hal ini merupakan fungsi bahasa Indonesia sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ruang lingkup penggunaan bahasa Indonesia di media luar ruang meliputi: (1) Nama geografi yang meliputi wilayah, provinsi, kabupaten, kota, distrik, kecamatan, kelurahan, desa, kampung, dusun, gunung, bukit, ngarai, lembah, tanjung, pulau, samudera, laut, teluk, selat, sungai, danau, rawa, muara, dan/atau jenis geografi lain.

(2) Nama bangunan atau gedung, apartemen atau permukiman, perkantoran, dan kompleks perdagangan meliputi: perhotelan, penginapan, bandar udara, pelabuhan, terminal, stasiun, pabrik, menara, monument, waduk, bendungan, terowongan, tempat usaha, tempat pertemuan umum, tempat hiburan, tempat pertunjukan, kompleks olahraga, stadion olahraga, rumah sakit, perumahan, rumah susun, kompleks permakaman. (3) Nama jalan. (4) Merek dagang berupa kata atau gabungan kata yang dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia. (5) Lembaga pendidikan meliputi: satuan pendidikan formal, satuan pendidikan nonformal, dan satuan pendidikan informal. (6) Produk barang meliputi: nama barang, spesifikasi, bahan dan komposisi, cara pemakaian, cara pemasangan, manfaat atau kegunaan, efek samping, ukuran, berat atau berat bersih, tanggal pembuatan, masa berlaku/kedaluwarsa, pengaruh produk dan nama dan alamat pelaku usaha. (7) Rambu

umum, penunjuk jalan, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum. (8) Media massa meliputi:

media massa cetak dan media massa elektronik. Media massa ini menjadi ruang publik seiring dengan mudahnya diakses oleh publik.

Prosedur atau metode analisis kesalahan berbahasa cukup terwakili dengan beberapa tahapan yaitu: (1) mengumpulkan sampel kesalahan, (2) mengidentifikasi kesalahan, (3) menjelaskan kesalahan.

Hasil analisis kesalahan berbahasa dapat dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia di berbagai jenjang pendidikan.

Relevansi ini ditunjukkan dengan standar kompetensi yang harus diajarkan misalnya: (1) menulis surat lamaran pekerjaan berdasarkan unsur-unsur dan struktur; (2) menulis surat dinas berdasarkan isi, bahasa, dan format yang baku; (3) menulis laporan diskusi dengan melampirkan notulen dan daftar hadir; (4) menulis resensi buku pengetahuan berdasarkan format baku; (5) menulis paragraf padu; (6) melengkapi paragraf dengan kata baku, kata serapan, kata berimbuhan, kata ulang, ungkapan dan peribahasa; (7) menyunting penggunaan kalimat/frasa/kata penghubung/istilah dalam paragraf;

(8) menulis surat resmi; menyunting kalimat dalam surat resmi; dan (9) menulis judul karya ilmiah sesuai EYD.

DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti, dkk., 1992. Bahasa Indonesia I. Jakarta: Depdikbud.

Akmaluddin. 2014. “Analisis Kesalahan Bahasa Tulisan pada Naskah Dinas di Sekretariat Daerah Pemkot Mataram dan Relevansinya terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Jenjang Pendidikan Menengah”, Tesis Pascasarjana Universitas Mataram. Mataram: tidak diterbitkan.

___________ “Menghargai Bahasa Mencintai Bangsa”. Lombok Post.

20 Januari 2018.

Alex dan Ahmad H.P.. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Alwi, Hasan, dkk., 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta:

Balai Pustaka.

Sucipto, Ani “Politik Emak-Emak Sebuah Renungan”. Kompas. 8 September 2018

Brotowijojo, Mukayat D.. 1985. Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta:

Akademika Pressindo.

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal, Jakarta: PT Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

___________ 2007. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta, Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Ed.IV (Jakarta: PT

Gramedia), 2013.

Eti, Nunung Yuli. 2009. Paragraf. Klaten: PT Intan Pariwara.

Hidayat, Asep Ahmad. 2009. Filsafat Bahasa, Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Keraf, Gorys. 2004. Komposisi. Ende Flores: Nusa Indah, ___________ 2008. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Kurniawan, Khaerudin. 2016. Bahasa Indonesia Keilmuan untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Refika Aditama.

Mahsun. 2011. Metode Penelitian Bahasa Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: Rajawali Pers.

Maimunah, Siti Annijat. 2007. Buku Pintar Bahasa Indonesia. Jakarta:

Prestasi Pustaka.

Musaddat, Syaiful. 2015. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas Tinggi. Mataram: FKIP Universitas Mataram.

___________ “Sistematika dan Teknik Menghasilkan Proposal PTK”, makalah Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah bagi Guru di Jempong Baru, Mataram. t.d.

Nuryanto, Budi Y., dkk. 2008. Pengajaran Keterampilan Berbahasa.

Jakarta: Universitas Terbuka.

Panuju, Redi. 2008. Menulislah dengan Marah! Kiat Sukses Menulis di Media Massa. Bandung: Nusa Media.

Purwandari, Retno dan Qoni’ah. 2015. Buku Pintar Bahasa Indonesia.

Yogyakarta: Istana Media.

Resmini, Novi, dkk.. 2006. Membaca dan Menulis di SD Teori dan Pengajaran. Bandung: UPI Press.

Sahuruddin. 2015. “Peningkatan Keterampilan Membaca Nyaring Melalui Media Komik pada Siswa Kelas III Semester 1 SDN 8

Montong Baan Tahun Pelajaran 2015-2016”. Laporan PTK (SDN 8 Montong Baan. tidak diterbitkan.

Satata, Sri, dkk.. 2012. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Soedarso, 1991. Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumarsono. 2011. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Supriyadi. 1992. Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia 2.

Jakarta:Depdikbud.

Tarigan, Djago. 2008. Membina Keterampilan Menulis Paragraf dan Pengembangannya. Bandung: PT Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Triningsih. 2008. Kiat Menulis Karya Ilmiah. Klaten: PT Intan Pariwara.

Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Cara Menulis Daftar Pustaka yang Baik dan Benar”, diakses dari https://carabermanfaat.com/cara-menulis-daftar-pustaka/, pada 20 Oktober 2020, 23.23 wita.

“Pengertian dan Ciri-Ciri Karya Ilmiah” diakses dari https://www.ilmubahasa.net/2017/06/pengertian-dan-ciri-ciri- karya-tulis.html#, pada 20 Oktober 2020, 22.32 wita

SINOPSIS

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang istimewa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Bahasa negara sekaligus bahasa nasional. Kedudukan ini dikuatkan dengan adanya berbagai aturan hukum yang mengatur bahasa Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, dalam konstitusi tertinggi negeri ini secara lugas dinyatakan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yaitu pada pasal XV ayat 36 UUD 1945. Tidak hanya itu, posisi bahasa Indonesia ini diatur dalam berbagai aturan hukum di antaranya UU Nomor 24 Tahun 2009, PP Nomor 57 Tahun 2014, Perpres Nomor 16 Tahun 2010, dan Perpres Nomor 63 Tahun 2019. Kedudukan bahasa Indonesia yang istimewa ini mengakar kuat dari peristiwa bersejarah, Sumpah Pemuda.

Namun demikian, realita yang terjadi di lapangan adalah kesalahan-kesalahan berbahasa Indonesia baik di media dalam dan luar ruang masih banyak dijumpai. Kesalahan-kesalahan ini mencakup berbagai tataran linguistik yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, wacana, dan kaidah-kaidah kebahasaan. Kesalahan- kesalahan ini tidak boleh diabaikan, namun harus dianalisis dan dijadikan bahan pembelajaran diberbagai jenjang pendidikan sehingga bahasa Indonesia memang layak memiliki kedudukan yang istimewa.

Buku yang ada di tangan pembaca ini mengupas bagaimana seharusnya menggunakan bahasa Indonesia baik di media dalam maupun luar ruang.

Selamat Membaca!

BIODATA PENULIS

Akmaluddin, M.Pd., lahir pada 21 Februari 1986 di Kelayu Jorong, Selong, Lombok Timur menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Mataram Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah pada tahun 2008. Motivasi belajar membawanya bisa melanjutkan studi di Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Mataram dan lulus tahun 2014.

Beberapa tulisan ilmiah dalam bentuk buku dan artikel telah dipublikasikan di jurnal terakreditasi nasional antara lain: Problematika Bahasa Indonesia Kekinian Sebuah Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia Ragam Tulisan (Jurnal Mabasan: 2016), Realitas Penggunaan Bahasa Indonesia Ragam Tulisan pada Lembaga Pemerintahan (Jurnal Mabasan:

2018), Buku Bahasa Daerah Penguat Karakter Kemajemukan Bangsa (Lomba Penulisan Bahan Literasi Kemdikbud:2018) Kuasa Bahasa dalam Wacana Perkuliahan (Jurnal Mabasan: 2019), Language Problem and Language Idealism on Social Media (Atlantis Press 2019), Buku Ajar Bahasa Indonesia Responsi Gender (Prenada Media Grup: 2019). Selain itu, artikel ilmiah populernya juga tersebar di berbagai media cetak dan elektronik seperti harian Lombok Post, Tabloid Global Nusantara, dan Media Blog Kompasiana.

Sejak 2016 penulis menjadi Dosen Tetap di Universitas Islam Negeri Mataram. Sampai saat ini dipercaya sebagai Editor in Chief El-Tsaqafah: Jurnal Jurusan PBA, jurnal terakreditasi nasional (Sinta).

Selain dengan tugas utama sebagai pengajar, penulis juga melakukan kegiatan pengabdian dan penelitian. Kegiatan pengabdian yang pernah dilakukan adalah Pengabdian Masyarakat Bina Lingkungan Kampus “Pelatihan Menulis Karya Ilmiah bagi Guru di Lingkungan Jempong Timur” (Didanai DIPA UIN Mataram 2018). Sedangkan penelitian yang pernah dilakukan adalah Konvergensi Ekolinguistik dan Fiqh Al

Dalam dokumen BAhASA INdONESiA di MEdiA DAlAM dAN LUAR RUANG (Halaman 159-168)