1
KOMPOSISI BENTOS DI BATANG KANDIS KECAMATAN KOTO TANGAH
KOTA PADANG
Riska Amelia, Ismed Wahidi, Elza Safitri
Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]
ABSTRACT
Bentos is a basic organism of waters, both in the form of animals and plants, whether living on the base surface or in the bottom of the water. Bentos is a bioindicator in the waters. Batang Kandis is a river located in District Koto Tangah Padang City. Various community activities take place in Batang Kandis such as river utilization for daily activities by the community (bathing, washing, and latrines), fish cultivation, paddy fields, disposal of animal waste, and industrial waste. This study aims to determine the composition of bentos and chemical-physical factors of Batang Kandis water.This research was conducted in August-September 2017 in Batang Kandis Kecamatan Koto Tangah Kota Padang with descriptive survey method. Sampling was done in the field by determining the three sampling stations by purposive sampling by considering the condition of the waters. Characteristics of each station are Station I in Kelurahan Balai Gadang Subdistrict Koto Tangah Padang City, with a depth of ± 1 m river. Community activities such as bathing, washing, latrines. Station II is located in Batipuh Panjang Village, Koto Tangah Sub-district, Kampung Jambak, an activity that takes place in the rubber factory industry with a depth of the ± 1m river. Station III is located at Simpang Kalumpang Batipuh Panjang Village, the activity that happens is rubber wastewater mixed with cut and farm house waste, with river depth ± 1,5 m.The results showed the composition of bentos found 8 genera consisting of 4 classes, 7 orders, and 8 families. This is Acerpenna, Ephemerella, Hastaperla, Hydropsyche, Melanoides, Planaria, Rhithrogena, and Tubifex. The highest density is at station II 955.55 ind / m2 and the lowest density is at the station I 70,44 ind / m2. The highest frequency is at the station I 4.34 while the lowest frequency is at station III 1. The Diversity Index (H ') is in the range of 0.2352-1.5464 is included in the criterion of low-moderate diversity. The chemical physics of the water of Batang Kandis of Koto Tangah Subdistrict of Padang City is in the range that supports Bentos life.
Keywords: Composition, Bentos, Batang Kandis, Community Activities
2 PENDAHULUAN
Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah dan menjadi habitat bagi biota akuatik.
Sungai menjadi ekosistem perairan dengan berbagai biota akuatik yang hidup dan berkembang didalamnya (Sanim, 2011). Sungai juga memiliki komponen dan komposisi yang saling berinteraksi satu sama lain.
Komposisi adalah jumlah dan jenis suatu organisme yang menempati suatu lokasi atau wilayah. Menurut Effendi (2003) Komposisi sungai terdiri atas tumbuhan dan hewan seperti perifiton, plankton, nekton, bentos, dan neuston. Salah satu kelompok ini yang memegang peranan penting dalam ekosistem perairan adalah bentos .
Bentos adalah organisme dasar perairan, baik berupa hewan maupun tumbuhan, baik yang hidup di permukaan dasar ataupun di dasar perairan (Odum, 1996). Menurur Rosenberg and Resh (1993) dalam Zahara (2017) bahwa bentos menguraikan matrial organik yang terdapat pada dasar perairan dan mentransfer energi dari produsen primer ke tingkatan trofik
berikutnya. Dengan demikian perubahan-perubahan kualitas air tempat hidupnya akan berpengaruh terhadap komposisi dan kelimpahannya. Komposisi atau kelimpahan bentos bergantung pada toleransi ataupun sensitifitasnya terhadap perubahan lingkungan (Guntur, 1993 dalam Zahara, 2017).
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan di lapangan, Batang Kandis merupakan sungai yang terletak di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang, berbagai aktifitas masyarakat berlangsung di Batang Kandis seperti pemanfaatan sungai untuk aktivitas sehari-hari masyarakat (mandi, mencuci dan kakus), pembudidayaan ikan, persawahan, pembuangan limbah hewan potong, dan limbah industri.
Salah satu industri yang terdapat di sekitar aliran Batang Kandis ialah Pabrik Karet. Pabrik karet terletak di aliran batang kandis yang terletak di Kampung Jambak Kelurahan Batipuh Panjang Kecamatan Koto Tangah yang dijadikan sebagai tempat masuknya aliran limbah cair pabrik karet ke
3 sungai. Menurut Suwardin, 1989 dalam Yulianti, 2005 Limbah cair pabrik karet mengandung komponen karet (protein, lipid, karotenoid, garam anorganik, nitrat, amonia).
Menurut Effendi (2003) amonia merupakan kandungan limbah cair karet yang bersifat toksik di perairan.
Kandungan toksik ini merupakan ammonia bebas yang tidak terionisasi, toksinitas ini akan meningkat jika kadar oksigen terlarut, pH dan suhu. Jika kadar amonia lebih dari 0,2 mg/liter maka akan bersifat tosik pada biota akuatik.
Penelitian tentang bentos pernah dilakukan oleh Zahara (2017), yaitu Komposisi Bentos Pada Batang Kenaikan Di Kenagarian Muara Kiawai Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat, diperoleh hasil 8 genus (kelas, 7 ordo, 8 famili). Penelitian yang sama oleh Ramadani (2016) yaitu Komposisi Bentos Di Sungai Abu Kecamatan Hiliran Gumanti Kabupaten Solok, diperoleh hasil sebanyak 14 genus (3 kelas, 9 ordo, 14 famili). Dan sejauh ini penelitian tentang komposisi bentos di Batang
Kandis Kecamatan Koto Tangah Kota Padang belum pernah dilakukan.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui genus dan komposisi Bentos yang ditemukan di Batang Kandis Kecamatan Koto Tangah Kota Padang.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan metode survey deskriptif yaitu pengambilan sampel secara langsung. Penetapan lokasi penelitian menggunakan teknik purpovise sampling dengan menetapkan tiga stasiun berbeda berdasarkan perbedaan kondisi sungai.
Pengambilan sampel pada tiga stasiun, pada masing-masing stasiun dilakukan pada tiga titik yaitu bagian sisi kiri sungai, tengah, dan bagian kanan dari badan sungai.
HASIL DAN PEMBAHASAN Dari penelitian yang telah dilakukan tentang Komposisi Bentos Di Batang Kandis Kecamatan Koto Tangah Kota Padang didapatkan hasil :
4 Dari Tabel 1 dapat dilihat bentos yang ditemukan terdiri dari 4 kelas, 6 ordo, 8 famili, dan 8 genus.
Kelas Insekta yang ditemukan terdapat 5 genus yaitu Acerpenna, Ephemerella, Hastaperla,
Pada Tabel 2 dapat dilihat hasil pengukuran faktor fisika kimia perairan Batang Kandis Kecamatan Koto Tangah Kota Padang diperoleh hasil yaitu suhu berkisar 23-29 C.
Pengukuran pH berkisar antara 6,4-7.
Hydropsyche dan Rhithrogena. Kelas Oligochaeta yang terdapat 1 genus yaitu Tubifex. Kelas Gastropoda terdapat 1 genus yaitu Melanoides.
Dan kelas Turbellaria terdapat 1 genus yaitu Planaria.
Pengukuran Disolved Oxygen (DO) berkisar antara 0,88-7,07 mg/L.
Kadar padatan tersispensi (TSS) berkisar antara 2-28 mg/L.
Kecepatan arus berada pada kisaran 0,03-0,33 m/s.
Kelas Ordo Familia Genus
Stasiun Jumlah I II III
Gastropoda Mesogastropoda Thiaridae 1. Melanoides 0 11 0 11
Insekta Plecoptera Pelodidae 2. Hastaperla 3 0 3 6
Ephemeroptera
Heptageniidae 3. Rhithrogena 7 0 0 7
Baetidae 4. Acerpenna 4 0 0 4
Ephemerellidae 5. Ephemerella 3 0 0 3
Trichoptera Hydropsychoidae 6. Hydropsyche 4 0 0 4
Oligochaeta Haplotaxida Tubifisidae 7. Tubifex 0 118 34 55
Turbellaria Tricladida Planariidae 8. Planaria 17 0 0 17
Jumlah genus 6 2 2 8
Jumlah individu
38 129 37 107
NO Parameter Stasiun I Stasiun II Stasiun III
1 Suhu ( C) 23 27 29
2 Ph 6,4 6,5 7
3 DO (mg/L) 7,07 0,88 5,12
4 TSS 28 2 13
5 Kecepatan arus (m/s) 0,33 0,11 0,03
Tabel 1. Bentos Yang Ditemukan Pada Lokasi Penelitian
Tabel 2. Kondisi Fisika Kimia Perairan di Batang Kandis Kecamatan Koto Tangah Kota Padang
5
Tabel 3. Komposisi Bentos Di Batang Kandis Kecamatan Koto Tangah Kota Padang
No Genus
STASIUN I STASIUN II STASIUN III
K KR F FR Pi ln Pi K KR F FR Pi ln Pi K KR F FR Pi ln Pi
1 Acerpenna 7,44 10,56% 0,67 15,44% -0,2370 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 Ephemerella 5,56 7,89% 0,67 15,44% -0,2005 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 Hastaperla 5,56 7,89% 0,33 7,60% -0,2005 0 0 0 0 0 22,22 8,10% 0,33 50% -0,1576
4 Hydropsyche 7,44 10,56% 1 23,04% -0,2370 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
5 Melanoides 0 0 0 0 0 81,33 8,51% 1 50% -0,2100 0 0 0 0 0
6 Planaria 31,44 44,64% 1 23,04% -0,3598 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
7 Rhithrogena 13 18,46% 0,67 15,44% -0,3116 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
8 Tubifex 0 0 0 0 0 874,22 91,49% 1 50% -0,0814 252 91,90% 0,33 50% -0,0776
Jumlah 70,44 100% 4,34 100% -1,5464 955,55 100% 2 100% -0,2914 274,22 100% 0,66 100% -0,2352
Indeks Diversitas (H’) 1,5464 0,2914 0,2352
6 Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa kepadatan tertinggi terdapat pada stasiun II yaitu 955,55 ind/m2 sedangkan kepadatan terendah pada stasiun I yaitu 70,44 ind/m2. Frekuensi paling tinggi terdapat pada stasiun I yaitu 4,34, dan frekuensi paling rendah pada stasiun III yaitu 1. Indeks diversitas tertinggi terdapat pada stasiun I yaitu 1,5464 dan indeks diversitas terendah terdapat pada stasiun III yaitu 0,2352.
Berdasarkan data pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa dari ketiga stasiun genus bentos yang paling dominan adalah dari kelas Insekta.
Hal ini disebabkan karena Batang Kandis memiliki substratnya berpasir dan berbatu. Hal ini sesuai dengan pendapat Pennak (1978) bahwa kelas insekta termasuk kedalam filum arthropoda, yang menyukai habitat berbatu dan berpasir.
Pada Tabel 2. dapat dilihat kepadatan setiap stasiun bervariasi dengan kisaran antara 70,44 – 955,55 individu/m2. Jumlah kepadatan individu tertinggi terdapat pada stasiun II yaitu 955,55 individu/m2. Tingginya kepadatan pada stasiun II disebabkan karena factor fisika dan
kimia air yang mendukung untuk kehidupan bentos. Derajat Keasaman (pH) yaitu 6,5 pada stasiun II merupakan kisaran pH yang produktif untuk kehidupan biota perairan. Kecepatan arus pada stasiun II juga mendukung untuk kehidupan bentos, kecepatan arus pada stasiun II yaitu 0,11 m/dtk yang termasuk pada kategori arus lambat.
Hal ini sesuai dengan pendapat Welch (1980) dalam Wijaya (2009) bahwa kecepatan arus dari 0-0,24 m/dtk tergolong kecepatan arus lambat.
Sedangkan kepadatan individu terendah terdapat pada stasiun I yaitu 70,44 individu/m2, hal ini disebabkan karena beberapa factor fisika kimia air kurang mendukung untuk kehidupan bentos.
Derajat keasaman (pH) padastasiun I yaitu 6,4 yang merupakan pH tidak produktif untuk kehidupan bentos dan juga menyebabkan penurunan keanekaragaman dan kelimpahan bentos.
Hal ini sesuai dengan pendapat Efendi (2003) bahwa pH 5,5-6 menyebabkan penurunan nilai keanekaragaman dan juga
7 kelimpahan total, dan produktivitas.
Kecepatan arus pada stasiun I lebih cepat dari pada stasiun II dan III walaupun masih mendukung untuk kehidupan bentos, kecepatan arus pada stasiun I yaitu 0,33 m/dtk yang termasuk pada kategori arus sedang.
Hal ini sesuai dengan pendapat Welch (1980) dalam Wijaya (2009) bahwa kecepatan arus dari 0,25-0,49 m/dtk tergolong kecepatan arus sedang.
Frekuensi tertinggi yang ditemukan yaitu pada stasiun I yaitu 4,34, dan frekuensi paling rendah yaitu pada stasiun III yaitu 1.
Perbedaan frekuensi ini disebabkan oleh penyebaran jumlah individu yang tidak merata dan adanya kemampuan adaptasi dari masing- masing genus dalam perairan.
Adanya genus yang ditemui disemua stasiun dikarenakan cocoknya kondisi lingkungan sehingga bentos tersebut mampu beradaptasi dengan baik.
Hal ini sesuai dengan pendapat Michael (1994) bahwa penyebaran suatu organisme dapat dilihat dari frekuensi keberadaan organisme. Dan didukung oleh
Pennak (1978) bahwa genus yang mempunyai frekuensi yang tinggi merupakan genus yang umum ditemukan atau memiliki penyebaran yang luas pada suatu ekositem.
Indeks diversitas (H’) yang didapat dari ketiga stasiun berada pada kisaran 0,2352 – 1,5464. Indeks diversitas (H’) tertinggi yaitu pada stasiun I yaitu 1,5464, dan Indeks diversitas (H’) terendah yaitu pada stasiun III yaitu 0,2352. Tingginya indeks diversitas pada stasiun I karena pada stasiun I ini memiliki tingkat keanekaragaman genus yang lebih tinggi dibandingkan dua stasiun lainnya.
Hal ini sesuai dengan pendapat Winarno (2000) bahwa Indeks keanekaragaman yang rendah disebabkan oleh suatu daerah yang didominansi oleh hanya jenis-jenis tertentu saja, sedangkan indeks keanekaragaman yang tinggi menunjukan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas yang tinggi, karena di dalam komunitas itu terjadi interaksi antara jenis yang tinggi.
Pada Tabel 3. dapat dilihat bahwa hasil pengukuran faktor fisika kimia Batang Kandis Kecamatan
8 Koto Tangah Kota Padang diperoleh nilai suhu pada setiap stasiun berkisar antara 23-29 C, suhu pada ketiga stasiun tersebut termasuk berbeda karena jarak pengukuran setiap stasiun cukup jauh, sehingga suhu mengalami perubahan.
Nilai pH pada setiap stasiun berkisar antara 6,3-7, kisaran nilai pH ini dikatakan mendukung untuk pertumbuhan bentos dan perkembangan bentos. Hal ini didukung oleh pernyataan Rizki (2005) bahwa pH optimum untuk kehidupan bentos berkisar antara 5,5- 8,5.
Disolved Oxygen (DO) berkisar antara 4,03-7,56 mg/L.
Disolved Oxygen (DO) tertinggi yaitu pada stasiun 7,56 mg/liter, dan Disolved Oxygen (DO) terendah pada stasiun II yaitu 4,03 mg/liter.
Kadar padatan tersispensi (TSS) berkisar antara 6-83 mg/L. Kadar padatan tersispensi (TSS) tertinggi yaitu pada stasiun II yaitu 83 mg/liter, dan kadar padatan tersispensi (TSS) terendah yaitu pada stasiun I dan II yaitu 6 mg/liter.
Peraturan menteri Lingkungan Hidup No. 5 Tahun 2014 tentang Buku
Mutu Air Limbah batas ambang TSS yaitu 100 mg/liter. Sehingga padatan tersuspensi di Batang Kandis masih dikategorikan ke dalam batas aman.
Kecepatan arus pada stasiun I 0,33 m/s pada stasiun II 0,11 m/s, dan pada stasiun III 0,03 m/s.
Menurut Welch (1980) dalam Wijaya (2009) bahwa sungai yang memiliki kecepatan arus 0.1-0.24 m/dt termasuk ke dalam kategori arus lambat, 0.25-0.49 m/dt termasuk kategori arus sedang dan 0.5-1 m/dt termasuk kategori arus cepat.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Batang Kandis Kecamatan Koto Tangah Kota Padang dapat disimpulkan bahwa:
1. Bentos yang ditemukan di Batang Kandis Kecamatan Koto Tangah Kota Padang yaitu sebanyak 8 genus termasuk ke dalam 4 kelas, 6 ordo, dan 8 famili.
2. Kepadatan tertinggi ditemukan pada stasiun II yaitu 955,55 ind/m2 sedangkan kepadatan terendah pada stasiun I yaitu 70,44 ind/m2. Frekuensi paling tinggi terdapat pada stasiun I yaitu
9 4,34 dan frekuensi paling rendah pada stasiun III yaitu 1. Indeks diversitas tertinggi terdapat pada stasiun I yaitu 1,5464 dan indeks diversitas terendah terdapat pada stasiun III yaitu 0,2352.
3. Kondisi fisika dan kimia perairan di Batang Kandis Kecamatan Koto Tangah Kota Padang mendukung kehidupan bentos.
DAFTAR PUSTAKA
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta : Kanisius.
Fardila, H. 2016. Komposisi Bentos Di Perairan Batang Naras Nagari Pilubang Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman. Skripsi.
Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat (Tidak dipublikasikan).
Michael, P. 1994. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta : UI Press.
Odum, Eugene P. 1996. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Pennak, R.W. 1978. Fresh Water Invertebrata of The United States. John Willey and Sons.
Newk York.
Ramadani, M. 2016. Komposisi Bentos Di Sungai Abu
Kecamatan Hiliran Gumanti Kabupaten Solok. Skripsi.
Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat (Tidak dipublikasikan).
Rizki, N.S. 2005. Makrozoobentos Sebagai Indikator Biologis dalam Menentukan Kualitas Air Sungai Suhuyon Sulawesi Utara. Jurnal MIPA UNSRAT. 4 (2) : 165-168.
Sanim, B. 2011. Sumberdaya Air Dan Kesejahteraan Publik.
Bogor: IPB Press.
Wijaya, H.K. 2009. Komunitas Perifiton Dan Fitoplankton Serta Parameter Fisika Dan Kimia Perairan Sebagai Penentu Kualitas Air Di Bagian Hulu Sungai Cisadane, Jawa Barat.
Skripsi. Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor: Bogor (Tidak dipublikasikan).
Winarno, K. 2000. Pemantauan Kualitas Perairan Rawa Jabung berdasarkan Keanekaragaman dan Kekayaan Komunitas Bentos.
Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta. 2 (1) : 40-46.
Yulianti, D. 2005. Pemanfaatan Limbah Cair Pabrik Karet PTPN IX Kebun Batu Jamus Karanganyar Hasil Fitoremediasi dengan Azolla microphylla Kaulf Untuk Pertumbuhan Tanaman Padi.
10 Jurnal Biologi Universitas Sebelas Maret. 7 (2) : 125- 130.
Zahara, M. W. 2017. Komposisi Bentos Pada Batang Kenaikan Di Kenagarian Muara Kiawai Kecamatan Gunung Tuleh Kabupaten Pasaman Barat. Skripsi.
Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat (Tidak dipublikasikan).