• Tidak ada hasil yang ditemukan

BCA House View Report

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BCA House View Report"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Published on: 6 February 2023

(2)

Table of Contents

Executive Summary

Intisari &Tactical Asset Allocation Topic of The Month

Goodbye King Dollar

Global Economic Outlook Indonesia Economic Outlook Currency Outlook

Commodity Snapshot

On Asset Class: Money Market On Asset Class: Fixed Income (USD) On Asset Class: Fixed Income (IDR) On Asset Class: Equity (USD) On Asset Class: Equity (IDR) Calendars

Glossary

3

4

5 7 9 13 14 15 16 17 19 20 21

(3)

T a c ti c a l A s s e t A ll o c a ti o n

Krisis energi Eropa yang semakin membaik dan Tiongkok yang perlahan keluar darizero-COVID policymembuat EUR, GBP, dan mata uang Asia menguat sehingga USD melemah. Pelemahan USD berdampak positif terhadap ekonomi dan berkontribusi terhadap penurunan probabilitas resesi di tahun 2023. Di sisi lain, pelemahan USD juga dipicu oleh ekspektasi pasar akan The Fed yang semakin dovish kedepannya. Padahal, The Fed menyatakan belum akan menurunkan suku bunga di tahun 2023. Inflasi AS memang sudah mulai turun, namun pasar tenaga kerja masih sangat kuat. Berbeda dengan prospek ekonomi di negara maju, Tiongkok merupakan salah satu dari sedikit negara yang ekonominya diperkirakan menguat di tahun 2023. Alasannya, konsumsi berpotensi naik setelah ekonomi kembali dibuka.

Dari dalam negeri, kondisi makroekonomi Indonesia relatif kuat ditandai dengan inflasi yang mulai turun dan kuatnya IDR karena adanya aliran dana masuk lewatforeign direct investment(FDI), foreign portfolio investment(FPI) terutama di pasar obligasi, dan surplus neraca dagang yang tinggi. Likuiditas dalam negeri yang berlimpah juga dapat menjadi katalis positif untuk ekonomi Indonesia di tahun ini. Namun, indeks transaksi bisnis dan belanja BCA mulai turun sebagai dampak adanya kenaikan inflasi terutama di H2-2022 dan ketakutan akan resesi global di tahun 2023.

3 BI tidak memiliki urgensi untuk menaikkan suku bunga dengan agresif melihat inflasi Indonesia mulai turun dan IDR sangat kuat. Namun, BI diekspektasi menahan suku bunga di 5,75% hingga 6,00% pada tahun 2023. Implikasinya, bunga pasar uang dapat terus bertahan di level yang tinggi.

Money Market – SLIGHTLY OVERWEIGHT

Fixed Income USD – SLIGHTLY OVERWEIGHT

View bulan sebelumnya Underweight Slightly

Underweight

Slightly

Overweight Overweight Neutral

Executive Summary

Intisari & Tactical Asset Allocation

Equity USD – SLIGHTLY OVERWEIGHT

Saham teknologi AS naik pasca perusahaan megacap mengumumkan layoff. Saham dapat kembali naik bila profitabilitas tetap terjaga. Di Tiongkok, pasar saham juga naik karena sentimen yang membaik, fundamental yang kuat, dan valuasi yang murah.

Fixed Income IDR – SLIGHTLY OVERWEIGHT

Turunnya inflasi AS dan penjualan ritel bulan Desember 2022 yang melemah dengan lebih signifikan membuat yield UST dan INDON turun.

Kedepannya, yield INDON dapat turun lebih lanjut bila The Fed semakindovish.

Rotasi investor asing ke Tiongkok masih berlanjut sehingga tercatat outflow di IHSG secara YTD 31 Januari 2023. Namun, fundamental yang baik dan valuasi yang menarik diperkirakan dapat menopang pergerakan indeks kedepannya walaupun volatilitas mungkin terjadi dalam jangka pendek.

Equity IDR – SLIGHTLY OVERWEIGHT

Kuatnya IDR, likuiditas domestik yang berlimpah, dan inflow dari investor asing membuat yield FR turun setidaknya dalam 2 bulan terakhir. Inflow investor asing dapat berlanjut bila The Fed semakin dovishnamun besaraninflowakan bergantung pada tingkatyieldkedepannya.

(4)

Topic of the Month

Goodbye King Dollar

Di tahun 2022, The Fed menaikkan suku bunga dari 0,25% ke 4,50%. Kenaikan suku bunga sebesar 4,25% dalam waktu satu tahun ini merupakan kenaikan yang paling besar sejak tahun 1980. Inflasi yang melonjak jauh lebih tinggi daripada perkiraan membuat The Fed harus menaikkan suku bunga dengan sangat agresif dalam waktu yang singkat. Hal ini berakibat pada penguatan mata uang USD yang sangat signifikan. Dari Januari sampai akhir Oktober 2022, USD Index bahkan sempat menguat sekitar 17% sebelum akhirnya melemah sekitar 8% dalam 3 bulan terakhir (1 November 2022 hingga 31 Januari 2023)(Exhibit 1).

Penurunan USD Index disebabkan oleh ekspektasi The Fed akan memperlambat laju kenaikan suku bunga seiring dengan inflasi AS yang konsisten turun dari 9,10% YoY di bulan Juni 2022 ke 6,50% YoY di bulan Desember 2022. Selain itu, penguatan mata uang GBP, EUR, dan JPY yang cukup drastis juga menjadi alasan utama karena ketiga mata uang tersebut menguasai 80% dari komponen USD Index. Penguatan ketiga mata uang tersebut utamanya disebabkan oleh menurunnya harga komoditas energi dan inflasi. Faktor penggerak lainnya adalah aksi pemerintah Tiongkok untuk melonggarkan kebijakan zero-COVID policy yang berdampak positif pada aktivitas ekonomi dan perdagangan bukan hanya di Tiongkok saja tetapi juga di seluruh dunia.Economic reopeningdi Tiongkok berakibat pada penguatan mata uang Asia.

Secara garis besar, pelemahan USD akan membawa dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pasar modal dunia terutama untuk emerging market di tahun ini. Pelemahan USD bahkan turut berkontribusi pada turunnya probabilitas resesi di tahun 2023.

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

Exhibit 1: World Currency Performance (%)

-17 -12

-23

-15 -12 -12 -13

-9 -13

-5 -15

-9 -7

-10 -1

16 15 14 17

11 11 10 10 9 9 8 7

4 2 1 0

-8

KRW THB JPY NZD MYR AUD EUR CHF CNH SGD GBP IDR CAD INR HKD DXY

1 Jan 22 - 31 Oct 22 1 Nov 22 - 31 Jan 23

(5)

Global Economic Outlook

The Fed diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga dan mempertahankannya dalam waktu yang lama melihat tingkat pengangguran AS yang masih cukup rendah.

Walaupun inflasi AS secara konsisten turun dalam enam bulan terakhir ke angka 6,50% YoY per Desember 2022, namun angka itu masih jauh di atas target The Fed di angka 2%. Pertumbuhan gaji di AS juga masih tinggi di kisaran 6%

walaupun di bawah inflasi. Hal ini dapat membuat inflasi akan turun tetapi secara perlahan. Di sisi lain, data ketenagakerjaan masih sangat kuat dimana tingkat pengangguran berada di 3,50% (Exhibit 2). Hal ini yang mendasari arah kebijakan moneter The Fed kedepan yang masih akan menaikkan suku bunga dan mempertahankannya di tingkat yang tinggi untuk waktu yang lama. The Fed menyatakan belum ada rencana penurunan suku bunga di tahun 2023 walaupun beberapa pelaku pasar memprediksikan demikian.

Kemungkinan Perekonomian Global Mencapai Soft Landing Semakin Terbuka Seiring Dengan Turunnya Inflasi

5 Exhibit 2: US Inflation & Unemployment Rate (%)

Sumber: Bloomberg (Januari 2023) Kemungkinan soft landing semakin

terlihat jelas seiring dengan inflasi yang mulai turun, suku bunga yang hampir mencapai puncak, krisis energi di Eropa yang membaik, dan dibukanya ekonomi Tiongkok.

Exhibit 3: Recession Probability Across Countries (%)

Sumber: Bloomberg (Januari 2023)

Dalam sebulan terakhir, ketakutan resesi yang terus digaung-gaungkan sejak pertengahan tahun 2022 mulai berbalik arah (Exhibit 3). Banyak pelaku pasar yang berpikir kemungkinan resesi di negara-negara maju semakin mengecil karena aksi bank sentral untuk menaikkan suku bunga sudah hampir mencapai puncaknya, krisis energi di Eropa mulai membaik sehingga inflasi juga turun, dan Tiongkok mulai keluar dari kebijakan zero-COVID policy. Hal ini membuka kemungkinan lebih besar bagi skenariosoft landingdimana perlambatan ekonomi di dunia tidak akan separah yang diperkirakan di tahun lalu.

6.45 3.50 0.00

2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 0.00

2.00 4.00 6.00 8.00 10.00

Jan-20 Mar-20 May-20 Jul-20 Sep-20 Nov-20 Jan-21 Mar-21 May-21 Jul-21 Sep-21 Nov-21 Jan-22 Mar-22 May-22 Jul-22 Sep-22 Nov-22

Inflation (Left) Unemployment Rate (Right)

90 90

80

70 70

30

15 5 90

75 70

65 60

32

15 5

UK Germany Euro Area US Canada Australia China Indonesia Dec-22 Jan-23

(6)

4.30 6.37

12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 (F)

China GDP 10YR Average

Selama tahun 2022, pertumbuhan ekonomi mencapai angka 3,00%, lebih rendah dari target resmi dari pemerintah Tiongkok di sekitar 5,50%. Angka ini juga merupakan kedua yang paling rendah sejak 1976. Perlambatan ekonomi disebabkan oleh kebijakanzero-COVID policy. Meski demikian, Tiongkok adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang diprediksikan akan membukukan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di tahun 2023 (Exhibit 4). Alasan utamanya adalah kebijakanzero-COVID policyyang sudah dilonggarkan.

Tiongkok merupakan salah satu dari sedikit negara di dunia yang perekonomiannya diperkirakan menguat di tahun 2023.

Dibukanya Aktivitas Ekonomi Tiongkok Diperkirakan Bisa Mendorong Perekonomian Global

Exhibit 4: China Annual GDP Growth (%)

Sumber: Bloomberg, World Bank (Januari 2023)

Sumber: Haver Analytics (6 Januari 2023) Konsumsi masyarakat Tiongkok diperkirakan semakin menguat seiring dengan dibukanya ekonomi Tiongkok. Hal ini tidak hanya menguntungkan perekonomian Tiongkok saja, namun

perekonomian global secara keseluruhan.

Di tahun 2022, nilai deposito rakyat Tiongkok naik signifikan sebesar CNY 15 triliun akibat dilarangnya aktivitas rakyat maupun ekonomi secara keseluruhan (Exhibit 5). Angka ini setara dengan 14% dari nilai ekonomi Tiongkok. Disamping itu, pertumbuhan money supply di Tiongkok naik signifikan dalam dua tahun terakhir, berbanding terbalik dengan kondisi di negara-negara maju seperti AS yang sedang mengurangi likuiditas di sistem keuangannya(Exhibit 6). Kebijakan fiskal dan moneter yang masih akomodatif juga turut menjadi faktor yang dapat mendukung pemulihan ekonomi Tiongkok. Aktivitas ekonomi Tiongkok yang mengarah ke masa sebelum pandemi bukan hanya menguntungkan ekonomi Tiongkok saja tetapi juga ekonomi global.

Exhibit 5: Change in China’s Household Deposit Exhibit 6: China & US M2 Growth (% YoY)

Sumber: Bloomberg (Januari 2023)

2ndlowest since 1976 Lowest

since 1976

2023 forecast by World

Bank

15.00 14.00

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022

Increase in Household Deposit (Left) % of GDP (Right) CNY Tn

-1.31 11.80

6.00 7.00 8.00 9.00 10.00 11.00 12.00 13.00

-5.00 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00

Jan-17 Jun-17 Nov-17 Apr-18 Sep-18 Feb-19 Jul-19 Dec-19 May-20 Oct-20 Mar-21 Aug-21 Jan-22 Jun-22 Nov-22

US (Left) China (Right)

(7)

Inflasi diperkirakan akan terus mereda di tahun 2023 seiring dengan turunnya harga energi dan pangan, turunnya pengiriman barang lewat lajur laut, dan harga BBM domestik yang mulai turun.

Tekanan inflasi diperkirakan akan terus mereda di tahun 2023. PPI (producer price index)Indonesia yang mengukur inflasi dari sudut pandang produsen sudah berhenti naik, begitu pula dengan CPI (consumer price index) yang mengukur inflasi dari sudut pandang konsumen(Exhibit 7). Keadaan ini sangat berbeda dengan PPI di negara-negara maju di dunia yang jauh lebih tinggi daripada CPI karena tekanan inflasi di masa pandemi memang lebih disebabkan oleh cost- push inflation, bukandemand-pull inflation. Harga komoditas baik pangan dan energi sudah mulai turun selama beberapa bulan terakhir. Biaya pengiriman barang melalui laut juga sudah turun signifikan. Harga BBM dalam negeri juga sudah turun seiring turunnya harga minyak dunia. Tim ekonom BCA memprediksikan inflasi akan turun ke angka 4,31% di akhir 2023, lebih rendah dari inflasi di tahun 2022 di angka 5,51%.

Menurut BKPM, FDI(foreign direct investment) di Indonesia meningkat sebesar 44,20% menjadi IDR 654,40 triliun atau setara dengan USD 45,60 miliar pada tahun 2022(Exhibit 8).Investasi asing yang masuk paling tinggi dialokasikan ke sektor logam dasar (USD 11 miliar) dan pertambangan (USD 5,10 miliar). Sumber dana terbesar datang dari Singapura, Tiongkok, dan Hong Kong.

Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia juga mencetak rekor tertinggi di tahun 2022(Exhibit 8).Di bulan Desember 2022, Indonesia dirilis di angka USD 3,89 miliar. Indonesia kembali mencatatkan surplus neraca perdagangan untuk 25 bulan berturut-turut. Sepanjang tahun 2022, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD 54,46 miliar, lebih tinggi dari USD 36,42 miliar di tahun 2021. Surplus masih bisa dipertahankan walaupun ekspor sudah memasuki tren penurunan dalam enam bulan terakhir disebabkan oleh turunnya harga komoditas. Kedua hal ini menjadi faktor fundamental yang mendukung penguatan mata uang IDR di luar faktor aliran dana asing yang masuk ke pasar obligasi Indonesia dalam sebulan terakhir.

Indonesia Economic Outlook

Inflasi Mulai Turun, Neraca Dagang dan Foreign Direct Investment Mencapai All Time High

7 Foreign direct investment dan

surplus neraca dagang mencapai all time high di tahun 2022. Hal ini turut mendukung penguatan IDR.

Exhibit 7: Indonesia Consumer & Producer Price Index

Sumber: Bloomberg, BPS (Januari 2023)

Exhibit 8: Indonesia Trade Balance & Foreign Direct Investment (USD Bn)

Sumber: Bloomberg, BPKM (Januari 2023)

5.51%

5.78%

1.00%

3.00%

5.00%

7.00%

Jan-21 Feb-21 Mar-21 Apr-21 May-21 Jun-21 Jul-21 Aug-21 Sep-21 Oct-21 Nov-21 Dec-21 Jan-22 Feb-22 Mar-22 Apr-22 May-22 Jun-22 Jul-22 Aug-22 Sep-22 Oct-22 Nov-22

CPI PPI (IHBP)

54.46 45.60

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022

Trade Balance FDI

(8)

Data dari Bank Indonesia per bulan Desember 2022 menunjukkan pertumbuhan kredit naik +11,35% YoY dan pertumbuhan DPK (Dana Pihak Ketiga) naik +9,01% YoY(Exhibit 9). Angka pertumbuhan kredit sudah kembali menyentuh double digit dimana angka di atas 10% terakhir dicapai di tahun 2019. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit bisa mencapai 10-12% di tahun 2023 dan 2024. Di sisi lain, pertumbuhan DPK juga tetap kuat walaupun berada dalam tren penurunan. Hal ini dapat menjadi katalis positif untuk perekonomian Indonesia di tahun ini.

Big dataBCA menunjukkan bahwa transaksi intrabiz (indeks transaksi bisnis) dan intrabel (indeks transaksi belanja) masing-masing naik +3,53% dan +2,27%

secara YoY(Exhibit 10). Pertumbuhan intrabiz dan intrabel lebih rendah secara persentase dibanding tahun 2021 yang diuntungkan oleh dasar perhitungan yang rendah di tahun 2020. Selain itu, kedua indeks tersebut juga turun sejak pertengahan tahun 2022 disebabkan salah satunya oleh inflasi yang naik signifikan dan juga ketakutan akan resesi di tahun 2023.

Pertumbuhan DPK masih relatif kuat diiringi dengan kuatnya pertumbuhan kredit. Hal ini dapat memberikan katalis positif untuk perekonomian Indonesia kedepan.

Perekonomian Indonesia Masih Cukup Kuat Ditengah Prospek Perekonomian Global Yang Melambat

Exhibit 9: Pertumbuhan Kredit dan DPK (YoY)

Sumber: Bank Indonesia (Januari 2023)

Sumber: Tim Ekonom BCA (27 Januari 2023) Big data BCA menunjukkan

pertumbuhan transaksi bisnis dan belanja yang sudah mulai turun seiring dengan adanya high base effect, kenaikan inflasi, dan kekhawatiran resesi di tahun 2023.

Exhibit 10: BCA Big Data – Intrabiz & Intrabel (% YoY)

11.35%

9.01%

-5.00%

0.00%

5.00%

10.00%

15.00%

Jan-20 Mar-20 May-20 Jul-20 Sep-20 Nov-20 Jan-21 Mar-21 May-21 Jul-21 Sep-21 Nov-21 Jan-22 Mar-22 May-22 Jul-22 Sep-22 Nov-22

Kredit DPK

5.74

2.58

-40.00 -30.00 -20.00 -10.00 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00

Feb-20 Apr-20 Jun-20 Aug-20 Oct-20 Dec-20 Feb-21 Apr-21 Jun-21 Aug-21 Oct-21 Dec-21 Feb-22 Apr-22 Jun-22 Aug-22 Oct-22 Dec-22

Intrabiz SSA YoY Intrabel SSA YoY

(9)

DXY diekspektasi bergerak pada rentang 99,00-105,00.

Pergerakan DXY mendapatkan pengaruh dari: 1) Data ekonomi AS menunjukkan perlambatan denganISM Manufacturingberada di 48,40 (exp48,50,prev48,00), ISM Service berada di 49,60 (exp 55,00, prev 56,60), dan retail sales turun - 1,10% MoM (exp -0,90% MoM, prev -1,00% MoM) di bulan Desember 2022.

Walaupun ekonomi AS terlihat melambat, namun tingkat penggangguran masih relatif rendah, berada di 3,50% di bulan Desember 2022; 2) Inflasi AS turun baik dari sisi konsumen dan produsen sehingga mendukung The Fed untuk memperlambat laju kenaikan suku bunganya; 3) Di bulan Desember 2022, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 50 bps ke 4,25%-4,50%. The Fed menyatakan bahwa kenaikan suku bunga masih perlu dilakukan walaupun lajunya diperkirakan akan lebih lambat hingga inflasi turun ke targetnya di 2,00%.

Currency Outlook

EUR/USD diekspektasi bergerak pada rentang 1,0500-1,1200.

9 Beberapa faktor yang mendorong pergerakan EUR/USD: 1) Data ekonomi Eropa menunjukkan kondisi yang cukup baik denganretail salestumbuh +0,80% MoM (exp0,60% MoM,prev-1,50% MoM),industrial productiontumbuh +1,00% MoM (exp0,50% MoM,prev-1,90% MoM), dan PDB Jerman tumbuh +1,90% YoY (exp 1,80% YoY,prev2,60% YoY); 2) Tingkat inflasi menunjukkan penurunan di bulan Desember 2022 dari +10,10% YoY ke +9,20% YoY. Tapi, beberapa pejabat ECB masih mendukung kenaikan suku bunga yang agresif untuk menurunkan inflasi;

3) Di pertemuan bulan Desember 2022, ECB menaikkan suku bunga sebesar 50 bps ke 2,50%. ECB diperkirakan akan menaikkan suku bunga dan melakukan quantitative tighteningdi bulan Maret 2023.

Exhibit 11: Pergerakan USD Index

Exhibit 12: Pergerakan EUR/USD Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

101.92

90.00 95.00 100.00 105.00 110.00 115.00

1.0888

0.95 1.00 1.05 1.10 1.15

(10)

GBP/USD diekspektasi bergerak pada rentang 1,1900-1,2650.

Faktor yang menyebabkan pergerakan GBP/USD antara lain: 1) Data ekonomi Inggris menunjukkan pelemahan dengan PDB tumbuh 0,10% MoM (exp-0,20%

MoM, prev 0,50%) danretail sales turun -0,40% MoM (exp 0,30% MoM,prev 0,90% MoM) di bulan November 2022. Rilis data S&PGlobal Manufacturing PMI berada di 45,30 (exp44,70,prev 44,70) di bulan Desember 2022; 2) Ekonomi Inggris tertekan karena masih tingginya inflasi dan ketidakpastian negosiasi dengan Uni Eropa terkait dengan aturan perdagangan pasca Brexit untuk Irlandia Utara yang berkepanjangan; 3) Di bulan Desember 2022, BoE memperlambat laju kenaikan suku bunga dengan kenaikan sebesar 50 bps ke level 3,50%.

Gubernur BoE Andrew Bailey mengatakan bahwa BoE melihat inflasi Inggris telah mencapai puncaknya namun tekanan pasar tenaga kerja masih tinggi sehingga kenaikan suku bunga masih diperlukan kedepannya. Namun demikian, pelaku pasar bertaruh bahwa kenaikan suku bunga akan lebih kecil dari ekspektasi sebelumnya dan BoE kemungkinan bisa mengakhiri program kenaikan suku bunga pada kuartal-I 2024.

AUD/USD diekspektasi bergerak pada rentang 0,6800-0,7270.

Pergerakan AUD/USD hingga akhir Februari 2023 dipengaruhi oleh: 1) Data ekonomi Australia menunjukkan kondisi yang baik dengan retail sales tumbuh +1,40% MoM (exp0,60% MoM,prev0,40% MoM) di bulan November 2022 dan Westpacconsumer confidenceberada di 5,00% (prev 3,00%) di bulan Januari 2023; 2) Penguatan AUD diperkirakan terbatas karena ketidakpastian dibukanya ekonomi Tiongkok dan turunnya harga komoditas; 3) Tingkat inflasi di bulan November 2022 masih mengalami kenaikan dimana secara YoY naik dari 6,90%

ke 7,30%. Hal ini mendukung RBA untuk menaikkan suku bunganya.

Exhibit 13: Pergerakan GBP/USD

Exhibit 14: Pergerakan AUD/USD Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

1.2323

1.00 1.05 1.10 1.15 1.20 1.25 1.30 1.35 1.40

0.7077

0.60 0.62 0.64 0.66 0.68 0.70 0.72 0.74 0.76 0.78

(11)

Beberapa faktor yang mendorong pergerakan USD/CNH antara lain: 1) Data ekonomi Tiongkok masih menunjukkan perlambatan dengan Caixin PMI Manufacturing di bulan Desember 2022 berada di level 49,00 (exp 49,10,prev 49,40) danretail salesturun -1,80% YoY (exp-9,00% YoY,prev-5,90% YoY); 2) CNH didukung oleh optimisme pembukaan ekonomi Tiongkok walaupun kasus COVID-19 masih tinggi; 3) Di bulan Januari 2023, PBoC mempertahankan suku bunga acuan denganloan prime rate3 tahun di 3,65% dan 5 tahun di 4,30%.

11 USD/CNH diekspektasi bergerak

pada rentang 6,5000-6,8500.

pada rentang 122,00-132,00. Jepang belum menunjukkan pemulihan yang baik dengan Jibun Bank PMI Manufacturing berada di 48,90 (prev 48,80) di bulan Desember 2022.Jobless rateberada di 2,50% (exp2,60%,prev2,60%) di bulan November 2022; 2) Inflasi Jepang terus naik dari 3,80% ke 4,00% secara YoY sehingga menimbulkan spekulasi bahwa BoJ akan melakukan pengetatan kebijakan moneter yang agresif; 3) Di bulan Januari 2023, BoJ kembali mempertahankan suku bunga acuan di -0,10% sesuai dengan ekspektasi pasar. BoJ juga mempertahankan targetyield Japanese Government Bondsdi 0% dengan batas +/- 0,50%.

Exhibit 15: Pergerakan USD/JPY

Exhibit 16: Pergerakan USD/CNH Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

129.88

110.00 115.00 120.00 125.00 130.00 135.00 140.00 145.00 150.00 155.00

6.7450

6.20 6.40 6.60 6.80 7.00 7.20 7.40

(12)

Faktor yang menyebabkan pergerakan USD/IDR antara lain: 1) Data ekonomi Indonesia menunjukkan pemulihan yang belum solid dengan S&P Global PMI Manufacturing berada di 50,90 (prev 50,30) dantrade balance berada di USD 3,89 Bn (expUSD 4,17 Bn,prevUSD 5,16 Bn) di bulan Desember 2022; 2) IDR ditopang oleh aliran dana asing di pasar obligasi dan rencana perubahan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE); 3) Di bulan Januari 2023, BI menaikkan suku bunga sebesar 25 bps ke 5,75% sesuai dengan ekspektasi pasar.

USD/IDR diekspektasi bergerak pada rentang 14.830-15.350.

Exhibit 17: Pergerakan USD/IDR

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

14,975 14,000

14,400 14,800 15,200 15,600 16,000

(13)

Batu bara, gas alam, dan minyak WTI.Pada 31 Januari 2023, harga batu bara, gas alam, dan minyak WTI masing-masing turun sebesar -37,71%, -40,02%, dan -1,73% secara YTD(Exhibit 19). Untuk batu bara dan gas alam, turunnya harga terjadi karena turunnya permintaan karena musim dingin yang tidak sedingin biasanya di Eropa. Disamping itu, negara-negara Eropa juga telah melakukan stockpilinguntuk gas alam sebagai bentuk antisipasi krisis energi. Sementara itu, harga minyak WTI masih relatif terjaga karena ekspektasi dibukanya ekonomi Tiongkok berpotensi mendorong permintaan minyak.

Kedepannya, diperkirakan harga batu bara dan gas alam mulai turun secara gradual karena ekspektasi perlambatan ekonomi global. Dibukanya ekonomi Tiongkok bisa menopang harga batu bara dan gas alam namun akan dioffset dengan perlambatan ekonomi global. Tapi, harga minyak diperkirakan masih akan tetap tinggi melihat pasokan minyak yang terbatas karena OPEC yang memangkas produksi dan pemerintah AS yang kembali mengisi SPR(Strategic Petroleum Reserve).

Turunnya harga komoditas dapat membuat inflasi berpotensi turun secara gradual dan membuka ruang untuk bank sentral dunia memperlambat laju kenaikan suku bunga. Walaupun hal tersebut berdampak positif untuk ekonomi dunia, turunnya harga komoditas berpotensi menekan surplus neraca dagang Indonesia sehingga akan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Emas. Di tahun 2022, harga emas sempat turun karena pengetatan kebijakan moneter The Fed yang agresif membuat USD menguat (+8,21%) danyield US Treasury naik 236 bps (Exhibit 18). Emas merupakan non-yielding asset sehingga kenaikanyield US Treasurymembuat harga emas turun. Tapi, di bulan Januari 2023, harga emas kembalireboundsebesar +5,75% karena:

Pertama, ekspektasi The Fed yangless hawkish.Inflasi AS yang mulai konsisten turun dalam 6 bulan terakhir turut membuka ruang untuk The Fed memperlambat laju kenaikan suku bunga. Pasar memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga 2 x 25 bps ke level 4,75%-5,00% di tahun 2023. Alhasil, USD melemah dan yield US Treasury turun sehingga membuat harga emas menguat.

Kedua, ekspektasi perlambatan ekonomi global. Ekspektasi resesi di tahun 2023 membuat pasar kembali mengakumulasi aset rendah risiko seperti emas. World Gold Council bahkan menyatakan bahwa bank sentral dunia telah melakukan pembelian emas sebesar 417 ton di kuartal-IV 2022 (kuartal-III 2022: 400 ton).

Secara total, bank sentral telah membeli 1.136 ton emas di tahun 2022, merupakan nilai tertinggi sejak tahun 1967. Permintaan emas yang kembali menguat turut membuat harga emas naik.

Commodity Snapshot

Harga emas rebound di bulan Januari 2023 karena ekspektasi turunnya inflasi dan perlambatan laju kenaikan suku bunga The Fed.

Pasar juga mulai mengakumulasi emas sebagai safe haven asset ditengah ketidakpastian ekonomi kedepan.

13 Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

Exhibit 18: Gold Price (USD/t.oz) & US Treasury 10YR Yield (%)

Exhibit 19: Coal, Natural Gas, and Oil WTI YTD Performance

Harga batu bara, gas alam, dan minyak WTI mulai turun. Hal ini berimplikasi pada penurunan inflasi global dan membuka ruang untuk bank sentral dunia

memperlambat laju kenaikan suku bunga. Namun, di sisi lain, surplus neraca dagang Indonesia

berpotensi turun karena turunnya harga komoditas.

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

-38%

-40%

-2%

-50%

-40%

-30%

-20%

-10%

0%

10%

30-Dec-22 01-Jan-23 03-Jan-23 05-Jan-23 07-Jan-23 09-Jan-23 11-Jan-23 13-Jan-23 15-Jan-23 17-Jan-23 19-Jan-23 21-Jan-23 23-Jan-23 25-Jan-23 27-Jan-23 29-Jan-23 31-Jan-23

Coal Natural Gas Oil WTI

1,923 3.51

0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 1,600

1,700 1,800 1,900 2,000 2,100

Jan-22 Feb-22 Mar-22 Apr-22 May-22 Jun-22 Jul-22 Aug-22 Sep-22 Oct-22 Nov-22 Dec-22 Jan-23

Gold (Left) UST 10YR (Right)

(14)

Di RDG Januari 2023, BI menaikkan suku bunga ke 5,75%. Walaupun selisih suku bunga dengan The Fed relatif sempit, tidak ada urgensi bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga dengan agresif melihat inflasi yang mulai turun dan IDR yang sangat kuat.

Di RDG Januari 2023, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps ke 5,75%. Walaupun selisih suku bunga BI dan The Fed di 125 bps relatif sempit dibandingkan rata-rata 5 tahun di kisaran 300 bps(Exhibit 20), tidak ada urgensi untuk BI kembali menaikkan suku bunga melihat kondisi makroekonomi Indonesia yang cukup stabil. Dari segi inflasi, di bulan Desember 2022 inflasi Indonesia tercatat di level 5,51% YoY, sedikit naik dibandingkan November 2022 pada level 5,42% YoY karena dipengaruhi libur akhir tahun. Namun, inflasi sebenarnya sudah berada di tren penurunan dalam 3 bulan terakhir. Inflasi inti yang mengeluarkan komponen volatil seperti bahan pangan dan bahan bakar juga terjaga di 3,36% per Desember 2022, berada dalam rentang BI yakni 3% +/- 1%. Dari segi mata uang, secara YTD 31 Januari 2023, IDR jadi mata uang kedua terkuat di Asia dengan penguatan sebesar 3,86% YTD (Exhibit 21).

Penguatan IDR didorong oleh pelemahan USD,foreign inflowke pasar obligasi, dan wacana penyesuaian kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Penguatan IDR dapat terus berlanjut jika implementasi aturan DHE secara efektif membatasi aliran dana keluar (dalam USD) dari dalam negeri.

Walaupun tidak ada urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga, BI kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga di 5,75% hingga 6,00% dalam beberapa waktu kedepan melihat prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terjaga di tahun 2023 dan ekspektasi The Fed akan mempertahankan suku bunga di level yang tinggi (4,75% hingga 5,00%) setidaknya hingga akhir tahun 2023. Implikasinya, bunga pasar uang dapat terus bertahan di level yang tinggi apalagi jika penyaluran kredit konsisten naik dan likuiditas di sistem perbankan semakin menurun kedepannya.

Faktor risiko:Ekonomi Indonesia melemah signifikan sehingga BI harus kembali menstimulasi ekonomi dengan cara menurunkan suku bunga.

Money Market

SLIGHTLY OVERWEIGHT (no change)

Exhibit 20: BI & The Fed Interest Differential (%)

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

Exhibit 21: Asian Currency Performance (YTD) BI kemungkinan besar masih akan

mempertahankan suku bunga di 5,75% hingga 6,00% dalam beberapa waktu kedepan.

Implikasinya, bunga pasar uang masih dapat bertahan di level yang tinggi.

1.25 5.75 4.50

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00

Jan-18 Apr-18 Jul-18 Oct-18 Jan-19 Apr-19 Jul-19 Oct-19 Jan-20 Apr-20 Jul-20 Oct-20 Jan-21 Apr-21 Jul-21 Oct-21 Jan-22 Apr-22 Jul-22 Oct-22 Jan-23

Spread BI7DRRR FFR

4.9%

3.9%

3.0% 2.7%

2.3% 2.1% 2.0% 2.0%

1.0% 0.8%

Note: vs. USD

(15)

Turunnya inflasi AS dan penjualan ritel yang melemah dengan lebih signifikan di bulan Desember 2022 membuat pasar berpikir The Fed punya ruang yang lebih besar untuk menghentikan kenaikan suku bunga bahkan

menurunkannya di akhir tahun 2023. Alhasil, yield UST turun di seluruh tenor.

Setelah menaikkan suku bunga dengan sangat agresif di tahun 2022, pelaku pasar berpikir suku bunga semakin mendekati puncaknya dan The Fed punya ruang untuk mulai menghentikan kenaikan suku bunga bahkan menurunkannya di akhir tahun 2023. Pasalnya, inflasi AS di bulan Desember 2022 baik dari sisi produsen (6,20% YoY) maupun konsumen (6,50% YoY) secara konsisten turun dalam 6 bulan terakhir dan ekonomi AS mulai menunjukkan pelemahan yang signifikan dimana penjualan ritel Desember 2022 turun -1,10% MoM (vs. -0,80%

MoM konsensus). Per 31 Januari 2023, pelaku pasar memperhitungkan 42%

kemungkinan suku bunga hanya akan mencapai 5,00% di bulan September 2023 dan akan mulai diturunkan ke 4,75% di November 2023. Alhasil, yield US Treasury (UST) turun di tenor pendek hingga tenor panjang. UST merupakan acuan obligasi di seluruh dunia sehingga turunnya yield turut membuat yield obligasi di seluruh dunia ikut turun termasuk Indonesia baik INDON maupun FR.

Per 31 Januari 2023, kurva imbal hasil UST dan INDON memiliki bentuk yang berbeda. Kurva imbal hasil INDON berbentukupward slopingdimanayieldtenor pendek lebih rendah dibandingkan yield tenor panjang sementara kurva imbal hasil UST berbentuk downward sloping (inverted) dimana yield tenor pendek lebih tinggi dibandingkanyieldtenor panjang(Exhibit 22).Akibatnya, selisihyield (spread) semakin lebar seiring dengan bertambahnya tenor. Sebagai gambaran, spreadINDON & UST 5 tahun hanya berada di level 88 bps sementaraspread INDON & UST 30 tahun hampir 2 kali lipat lebih besar di level 167 bps(Exhibit 23).Implikasinya, INDON tenor panjang menawarkanvalueyang sangat menarik saat ini. Kedepannya, yieldINDON tenor pendek maupun tenor panjang masih memiliki potensi untuk turun lebih lanjut.Yieldtenor pendek yang lebih sensitif terhadap perubahan arah kebijakan moneter akan turun apabila The Fed berhenti bahkan mulai menurunkan suku bunga di akhir tahun 2023 atau di tahun 2024.

Sementarayieldtenor panjang turun karena diburu oleh investor melihatspread yang sangat lebar dibandingkan UST.

Faktor risiko: The Fed harus kembali agresif dalam menaikkan suku bunga karena inflasi kembali naik, pasar tenaga kerja kuat, dan perlambatan ekonomi tidak lebih buruk dari perkiraan pasar.

Fixed Income (USD)

Foreign Currency Bonds (INDON) – SLIGHTLY OVERWEIGHT (no change)

15 Yield INDON tenor pendek maupun

panjang memiliki potensi untuk turun kedepannya. Yield tenor pendek dapat turun bila The Fed semakin dovish sementara yield tenor panjang dapat turun karena diburu investor melihat value yang sangat menarik saat ini.

Exhibit 22: UST & INDON Yield Curve (%)

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

Exhibit 23: UST & INDON Yield Spread (%)

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023) 5 x

0,25% 5 x

0,25%

4 x 0,25%

61%

51%

48%

44%

44%

4.50

4.45 4.45 4.50 4.40

4.74

5.14 5.30

4.67

4.20 3.90

3.62 3.57 3.51 3.77 3.63

3.00 3.50 4.00 4.50 5.00 5.50

1Y 2Y 3Y 5Y 7Y 10Y 20Y 30Y

INDON UST

(0.17)

0.25 0.55

0.88 0.83

1.23 1.37 1.67

1Y 2Y 3Y 5Y 7Y 10Y 20Y 30Y

(16)

Setidaknya dalam 2 bulan terakhir, yield FR tenor pendek hingga panjang kompak turun. Alasannya, ada dukungan yang kuat dari investor domestik dan asing. Dari segi investor domestik, kepemilikan BI naik ke IDR 1.439 triliun (vs. 1- Des-2022: IDR 1.325 triliun) sementara kepemilikan bank umum naik ke IDR 1.801 triliun (vs. 1-Des-2022: IDR 1.792 triliun) per 31 Januari 2023(Exhibit 24).

Kepemilikan BI dan bank umum naik khususnya di akhir tahun 2022 karena BI masih berada dalam mekanisme burden sharing hingga akhir tahun dan bank umum masih memiliki likuiditas lebih untuk berinvestasi di SBN. Per 31 Januari 2023, likuiditas yang diukur dengan instrumen Operasi Pasar Terbuka (OPT) BI berada di level IDR 725 triliun (vs. 31-Des-2019: IDR 297,49 triliun). Selain itu, loan to deposit ratio masih berada di level 80,50% per Desember 2022, lebih rendah dari rata-rata 5 tahun di level 89,70%. Walaupun pertumbuhan kredit konsisten naik, pertumbuhan DPK juga ikut naik sehingga likuiditas masih terjaga.

Dari segi investor asing, kepemilikan naik ke IDR 812 triliun (vs. 1-Des-2022: IDR 736 triliun) per 31 Januari 2023. Selama bulan Januari 2023, tercatat inflow sebesar IDR 49,06 triliun(Exhibit 25). Alasannya,risk onterjadi di pasar obligasi global atas ekspektasi The Fed yang mulai lebih dovish serta mata uang IDR (3,86% YTD) menguat di tengah pelemahan USD.Inflowdapat berlanjut apabila The Fed menghentikan kenaikan suku bunga bahkan menurunkannya di akhir tahun 2023. Namun, besaraninflowjuga akan bergantung pada tingkatyield.Di sisi lain, ada kemungkinan inflow lebih terbatas melihat valuasi menggunakan yield spreadantara FR dan UST sudah sangat sempit di seluruh tenor. Sebagai gambaran, yield spreadFR dan UST 10 tahun berada di level 316 bps, sangat jauh berada di bawah rata-rata 5 tahun pada level 499 bps, dan merupakan level terendah sepanjang masa. YieldFR 10 tahun diperkirakan bergerak di rentang 6,40%-6,90% dalam 3 bulan kedepan.

Faktor risiko: 1) Ada negative surprises yang membuat IDR melemah; 2) Investor asing kembali melakukan outflow; 3) Dukungan investor domestik semakin memudar di pasar obligasi Indonesia.

Fixed Income (IDR)

Local Currency Bonds (FR/Indonesia Government IDR Bonds) – SLIGHTLY OVERWEIGHT (change from NEUTRAL)

Yield FR tenor pendek hingga panjang turun dalam 2 bulan terakhir karena dukungan investor domestik dan asing yang

mendominasi. Dari investor domestik, kepemilikan BI dan bank umum masih mengalami kenaikan.

Exhibit 24: Onshore Banks, BI, and Foreign Ownership in Indonesia Government Bonds (IDR Tn)

Investor asing membukukan inflow yang signifikan selama Januari 2023. Inflow dapat berlanjut bila The Fed semakin dovish namun besaran inflow akan bergantung pada tingkat yield.

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

Exhibit 25: Foreign Flow (IDR Tn)

812 1,439 1,801

0 500 1,000 1,500 2,000

Feb-18 May-18 Aug-18 Nov-18 Feb-19 May-19 Aug-19 Nov-19 Feb-20 May-20 Aug-20 Nov-20 Feb-21 May-21 Aug-21 Nov-21 Feb-22 May-22 Aug-22 Nov-22

Foreign BI Onshore Banks

-4.1

6.8 8.6

23.7 25.2 49.1

(17)

Sebagai antisipasi resesi,

perusahaan megacap teknologi AS melakukan PHK atas ribuan karyawannya dalam 1 bulan terakhir. Pasar menyambut positif inisiatif tersebut sehingga harga saham naik pasca pengumuman PHK.

Tahun 2020 dan 2021 menjadi tahun terbaik untuk mayoritas perusahaan teknologi karena pandemi mempercepat transisi aktivitas dari offline keonline sehingga perangkat teknologi sangat dibutuhkan. Alhasil, profitabilitas dan harga saham teknologi di AS naik signifikan. Namun, di tahun 2022, lonjakan inflasi mengharuskan bank sentral termasuk The Fed untuk menaikkan suku bunga dengan sangat agresif. Kondisi ini membuat saham teknologi yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga terkoreksi padahal profitabilitas masih tetap tinggi.

Walaupun demikian, untuk mengantisipasi penurunandemanddan profitabilitas ditengah ekspektasi resesi kedepannya, beberapa perusahaan megacap teknologi di AS mulai melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atas ribuan karyawannya dalam 1 bulan terakhir(Exhibit 26). Pasar merespon positif inisiatif tersebut karena dilihat sebagai upaya efisiensi biaya dalam rangka menjaga profitabilitas. Harga saham teknologi naik pasca pengumuman PHK(Exhibit 27).

Kedepannya, masih ada potensi harga saham teknologi kembali naik apabila efisiensi berhasil dilakukan dan profitabilitas tetap terjaga bahkan kembali naik.

Equity (USD)

SLIGHTLY OVERWEIGHT (no change)

17 Exhibit 26: US Tech Sector Layoff

Sumber: Various Sources (31 Januari 2023)

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023) 18,000

12,000

11,000 11,000

8,000

6,000

Amazon Google Microsoft META Sales Force Tesla

22.8%

12.0%

3.3%

23.8% 26.7%

40.6%

Amazon Google Microsoft META Sales Force Tesla

Exhibit 27: US Tech Sector Shares Performance YTD 31 January 2023

(18)

Setelah hampir 2 tahun ditinggalkan oleh investor, pasar saham Tiongkok kembali diburu karena menawarkan proposisi yang sangat menarik dengan sentimen yang membaik, fundamental yang diperkirakan kuat, dan valuasi yang murah.

Setelah hampir 2 tahun ditinggalkan, pasar saham Tiongkok kembali diburu oleh investor setelah pemerintah melonggarkan kebijakan zero-COVID policy dan melonggarkan kebijakan di sektor properti dan teknologi. Selain itu, ekonomi Tiongkok juga diperkirakan membaik di tahun 2023, didorong oleh likuiditas berlimpah yang berpotensi meningkatkan konsumsi kedepannya. Lebih lanjut, konsumsi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik akan meningkatkan laba emiten. Di tahun 2023, pasar saham Tiongkok diperkirakan dapat membukukan pertumbuhan laba sebesar 14,70% (vs. 0.80% di tahun 2022), cukup kompetitif dibandingkan emerging market (EM) Asia lainnya seperti India (15,40%) dan ASEAN (9,80%) serta jauh lebih tinggi dibandingkan EM secara keseluruhan yang terdiri dari Asia, Amerika Latin, dan Timur Tengah (-0,30%). Menariknya, pertumbuhan laba yang tinggi disertai dengan valuasi yang murah.Forward price to earnings ratio Tiongkok (13,51x) lebih rendah (murah) dibandingkan India (24,08x) dan ASEAN (17,12x). Walaupun sedikit berada di atas EM secara keseluruhan (11,15x), Tiongkok menawarkan proposisi yang lebih menarik karena prospek pertumbuhan laba yang jauh lebih tinggi(Exhibit 28).Kombinasi dari sentimen yang membaik, fundamental yang diperkirakan menguat, dan valuasi yang menarik dapat terus menopang pergerakan pasar saham Tiongkok kedepannya.

Faktor risiko: 1) The Fed lebih hawkish dari perkiraan pasar; 2) Tiongkok kembali memperketat kebijakan terutamazero COVID policy; 3) Tensi AS dan Tiongkok terkait Taiwan kembali memanas.

Exhibit 28: EPS Consensus (%) and P/E (x) EM Asian vs. EM Overall

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

14.70 15.40

9.80

(0.30) 13.51

24.08

17.12

11.15

0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00

-5.00 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00

China India ASEAN EM

EPS Consensus (Left) Forward P/E (Right)

(19)

Rotasi investor asing ke Tiongkok masih berlanjut di Januari 2023.

Akibatnya, investor asing

mencatatkan outflow dan membuat saham big cap terkoreksi. Padahal, big cap terutama big banks masih menawarkan pertumbuhan laba yang sangat menarik di tahun 2022 dan 2023.

Sejak awal Desember 2022 hingga pertengahan Januari 2023, IHSG terkoreksi sekitar 5,50% karena investor asing melakukan rotasi ke Tiongkok pasca pemerintah Tiongkok melonggarkan kebijakan di berbagai sektor. Secara YTD 31 Januari 2023,outflowdi IHSG tercatat sebesar USD 0,20 miliar sementarainflow di Tiongkok yang terdiri dari Shanghai, Shenzhen, dan Hongkong tercatat sebesar USD 20,87 miliar (Exhibit 29). Outflowdi IHSG menyebabkan koreksi pada saham-saham big cap. Padahal, saham big cap masih menawarkan pertumbuhan laba yang sangat baik Bahkan, empat big banks di Indonesia berhasil mencatatkan laba tertinggi sepanjang sejarah hingga November 2022 danfull year2022. Laba bersih BBCA tercatat sebesar IDR 40,74 triliun (+30%

YoY), BBNI sebesar IDR 18,30 triliun (+68% YoY), dan BMRI sebesar IDR 41,20 triliun (+46% YoY). BBRI baru akan melaporkan pertumbuhan laba di 8 Februari 2023 mendatang dengan ekspektasi laba di IDR 49,27 triliun (+59% YoY). Akan tetapi, BBRI sebenarnya sudah melaporkan laba tertinggi sepanjang sejarah di bulan November 2022 dengan besaran IDR 43,96 triliun. Tim BCA sekuritas memperkirakan big bankskembali akan membukukan pertumbuhan laba 15%- 20% di tahun 2023. Selain big banks,sektor lain seperti ritel (29%),healthcare (16%), dan consumer staples (15%) juga diperkirakan menjadi kontributor tertinggi pertumbuhan laba IHSG di tahun 2023.

Koreksi di IHSG serta ekspektasi pertumbuhan laba yang tinggi di tahun 2023 membuat valuasi menggunakan forward price to earning ratio (forward p/e) semakin murah. Per 31 Januari 2023,forward p/eIHSG berada di level 14,37x atau setara dengan satu standar deviasi dibawah rata-rata 5 tahun pada level 18,00x (Exhibit 30). Kombinasi dari fundamental yang kuat dan valuasi yang murah dapat terus menopang pergerakan indeks kedepannya walaupun inflow investor asing kemungkinan besar tidak akan sebesar di tahun 2022 dan beberapa pelaku pasar mungkin melakukan aksiprofit takingketika harga saham naik sehingga menciptakan volatilitas dalam jangka pendek.

Faktor risiko:1) Ekspekstasiearnings2023 yang direvisi turun; 2) USD kembali menguat; 3) Investor asing terus membukukan outflow.

Equity (IDR)

SLIGHTLY OVERWEIGHT (change from NEUTRAL)

Exhibit 29: Foreign Flow Within Asian Countries (YTD, USD Bn)

19 Kedepannya, kombinasi dari

fundamental yang kuat dan valuasi yang semakin murah dapat terus menopang pergerakan IHSG walaupun tidak menutup kemungkinan volatilitas dapat terjadi dalam jangka pendek.

Exhibit 30: Forward P/E Ratio JCI Index (x)

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023) 20.87

7.24 5.40

0.55 0.12 0.12

(0.08) (0.20) (3.09)

Sumber: Bloomberg (31 Januari 2023)

14.37 10.00

15.00 20.00 25.00

Jan-18 Jan-19 Jan-20 Jan-21 Jan-22 Jan-23

5YR Average -2 STD -1 STD

1 STD 2 STD Forward P/E

(20)

Calendars

Economic Calendar Product Calendar

Name Type Launch/Mature Period

SR018 Bond Launch Mar-23

INDOIS23 Bond Mature Mar-23

SR012 Bond Mature Mar-23

BPG12 CPF Mature Mar-23

INDON23 Bond Mature Apr-23

ST010 Bond Launch May-23

FR0063 Bond Mature May-23

Countries Events Dates

Manufacturing PMI January 2023 1-Feb-23 FOMC Rate Decision 2-Feb-23 Non Farm Payroll January 2023 3-Feb-23 Unemployment Rate January 2023 3-Feb-23 Service PMI January 2023 3-Feb-23 Composite PMI January 2023 3-Feb-23 Trade Balance December 2022 7-Feb-23

CPI January 2023 14-Feb-23

Core CPI January 2023 14-Feb-23 Retail Sales January 2023 15-Feb-23 Industrial Production January 2023 15-Feb-23 PPI January 2023 16-Feb-23 Core PPI January 2023 16-Feb-23

Core PCE Q4-2022 23-Feb-22

Manufacturing PMI January 2023 1-Feb-23 Service PMI January 2023 3-Feb-23 Composite PMI January 2023 3-Feb-23 Industrial Production December 2022 10-Feb-23

GDP Q4-2022 10-Feb-23

CPI January 2023 15-Feb-23

Retail Price January 2023 15-Feb-23 PPI January 2023 15-Feb-23 Retail Sales January 2023 17-Feb-23 Manufacturing PMI January 2023 1-Feb-23

Service PMI January 2023 4-Feb-23 Composite PMI January 2023 4-Feb-23 Trade Balance December 2022 7-Feb-23 Foreign Reserves January 2023 7-Feb-23 Unemployment Rate January 2023 16-Feb-23

Wage Price Index Q4-2022 22-Feb-23 Retail Sales January 2023 28-Feb-23 Manufacturing PMI January 2023 1-Feb-23

Service PMI January 2023 3-Feb-23 Composite PMI January 2023 3-Feb-23 Balance of Payment December 2022 8-Feb-23 PPI January 2023 10-Feb-23

GDP Q4-2022 14-Feb-23

Industrial Production December 2022 14-Feb-23 Trade Balance January 2023 16-Feb-23 Retail Sales January 2023 28-Feb-23 Manufacturing PMI January 2023 1-Feb-23

Service PMI January 2023 3-Feb-23 Composite PMI January 2023 3-Feb-23 Foreign Reserves January 2023 7-Feb-23

CPI January 2023 10-Feb-23

PPI January 2023 10-Feb-23 Balance of Payment Q4-2022 10-Feb-23 Foreign Direct investment January 2023 11-Feb-23 1 Year Loan Prime Rate 16-Feb-23 5 Year Loan Prime Rate 16-Feb-23 Manufacturing PMI January 2023 1-Feb-23

CPI January 2023 1-Feb-23

(21)

Consumer Price Index: indikator yang digunakan untuk mengukur inflasi dari sisi konsumen. Biasa disingkat menjadiCPI.

Cost Push Inflation: inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga faktor produksi seperti bahan baku, gaji, biaya sewa.

Demand Pull Inflation:inflasi yang disebabkan oleh kenaikan permintaan atas barang dan jasa final.

Dovish:istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kebijakan moneter longgar. Biasanya ditandai dengan suku bunga yang rendah.

Foreign Direct Investment:investasi aau penanaman modal yang berasal dari investor asing.

Foreign inflow:aliran dana masuk dari investor asing ke kelas aset tertentu.

Foreign outflow:aliran dana keluar dari investor asing dari kelas aset tertentu.

Forward price to earning ratio:rasio yang digunakan untuk mengukur nilai atau valuasi sebuah perusahaan, dihitung dengan cara membagi harga saham dengan potensiearningsdalam 12 bulan kedepan. Biasa disingkat menjadiforward p/e.

Hard landing:kondisi perekonomian di mana perekonomian sebelumnya mencapai pertumbuhan yang tinggi kemudian perekonomian turun signifikan.

Hawkish: istilah finansial yang mendeskripsikan pandangan kebijakan moneter yang ketat. Biasanya ditandai dengan suku bunga yang tinggi.

Kebijakan fiskal: kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk alokasi pengeluaran pemerintah dan sistem perpajakan untuk mempengaruhi perekonomian.

Kebijakan moneter: kebijakan yang dilakukan oleh bank sentral atau otoritas keuangan di suatu negara untuk mengontrol jumlah uang yang beredar di pasar.

Neraca perdagangan:catatan seluruh transaksi ekspor dan impor suatu negara dengan negara lainnya di periode tertentu. Dalam Bahasa Inggris adalahCurrent Account (CA).

Producer Price Index:indikator yang digunakan untuk mengukur inflasi dari sisi produsen. Biasa disingkat menjadiPPI.

Produk Domestik Bruto:indikator ekonomi yang digunakan untuk mengukur jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh sebuah negara dalam periode tertentu. Biasa disingkat menjadiPDB.Dalam Bahasa Inggris adalahGross Domestic Product (GDP).

Quantitative easing:kebijakan moneter bank sentral untuk menambah likuiditas (jumlah uang yang beredar). Bisa dilakukan dalam bentuk cetak uang, menurunkan suku bunga, dan manambahbalance sheet.

Quantitative tightening:kebijakan moneter bank sentral untuk mengurangi likuiditas (jumlah uang yang beredar). Bisa dilakukan dalam beberapa bentuk yaknitapering,kenaikan suku bunga, dan penguranganbalance sheet.

Resesi: sebuah kondisi dimana pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan. Resesi biasanya ditandai oleh pertumbuhan PDB yang terkontraksi selama 2 kuartal berturut-turut.

Retail sales:indikator yang mengukur level pengeluaran konsumen untuk berbelanja barang eceran.

Risk off:istilah yang menggambarkan bahwa pasar pesimis dengan prospek perekonomian dan cenderung mengurangi risiko investasinya.

Risk on:istilah yang menggambarkan bahwa pasar optimis dengan prospek perekonomian dan cenderung mengalihkan investasinya ke aset tinggi risiko.

Soft landing:sebuah kondisi dimana perekonomian melemah secara perlahan.

Year-to-date:periode yang dimulai pada awal tahun kalender hingga tanggal tertentu. Biasa disingkat menjadiYTD.

Yield:imbal hasil.

Yield spread: selisih imbal hasil antar obligasi.

21

Glossary

(22)

Contributor List

BCA Wealth Panel

BCA Wealth Panel Members

SEVP Treasury & International Banking Branko Windoe

Head of Wealth Management Ugahary Yovvy Chandra

BCA Sekuritas Head of Equity Aldo Benas

Wealth Management Division

Lilyana Sutianto Baling – Head of Investment Business & Research Management Richie Norbert Tandias– Head of Research & Portfolio Management

Anastasia Gracia– Research Analyst Catherine Ashikin – Research Analyst

Treasury Team

Junita Gunawan – Head of Treasury

Yeni Marliana Laurence – Head of Position Management Dionysius Kelvin – Currency Analyst

Yuliastono Candra – Fixed Income Analyst

Economist Team

Barra Kukuh Mamia – Economist

BCA Sekuritas Team

Andre Benas – Head of Research

Chief Economist

David Sumual

(23)

Disclaimer

Laporan BCAHouse View(“Laporan”) ini hanya bersifat sebagai informasi dan bukan merupakan rekomendasi, saran, ajakan, atau arahan, serta tidak dimaksudkan sebagai penawaran atau permintaan untuk melakukan transaksi tertentu.

Tidak ada satu pun baik PT Bank Central Asia Tbk(“BCA”), perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya yang memberikan pernyataan atau jaminan (baik tersurat atau tersirat) atau bertanggung jawab sehubungan dengan akurasi atau kelengkapan dari informasi, penilaian, proyeksi, perkiraan, analisis, dan pendapat lainnya yang tercantum dalam Laporan ini (“Informasi”). Dalam hal Informasi berasal dari sumber di luar BCA, Informasi tersebut diperoleh dari sumber yang menurut BCA dapat diandalkan. Namun demikian, BCA tidak menjamin bahwa Informasi tersebut akurat, lengkap, maupun terkini (up-to-date).

BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dituntut atas kerugian apa pun baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung atau atas kerugian lainnya dalam bentuk apa pun yang mungkin timbul dari setiap penggunaan Informasi yang tercantum dalam Laporan ini (termasuk setiap kesalahan atau kekeliruan yang mungkin ditemukan dalam Laporan ini). Segala akibat dan kerugian yang timbul dari penggunaan Informasi untuk keperluan apa pun menjadi tanggung jawab pengguna Informasi sepenuhnya dan pengguna Informasi membebaskan BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dari segala tuntutan, gugatan, dan/atau tindakan hukum lainnya dalam bentuk apa pun.

Setiap Informasi terkandung dalam Laporan ini mungkin didasarkan pada sejumlah asumsi dan perkiraan yang mungkin dapat berbeda dengan kondisi yang sesungguhnya atau kondisi yang terjadi di kemudian hari. Asumsi dan perkiraan yang berbeda dapat mengakibatkan hasil yang berbeda pula. BCA perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya tidak mewakili atau menjamin bahwa Informasi apa pun akan terpenuhi.

Kinerja masa lalu yang dimuat dalam Laporan ini bukan merupakan indikator maupun jaminan kinerja di masa mendatang.

Informasi yang disampaikan dalam Laporan ini dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Informasi yang tercantum pada Laporan ini dapat berasal dari pihak lainnya. BCA tidak bertanggung jawab atas kebenaran, keakuratan, atau kelengkapan Informasi, termasuk kesalahan Informasi yang tercantum pada Laporan ini.

Laporan ini dibuat secara umum tanpa mempertimbangkan tujuan investasi, situasi keuangan, dan kebutuhan pihak tertentu, serta tidak ditujukan untuk satu/sekelompok pihak tertentu. Sebelum Anda melakukan transaksi investasi apa pun, Anda harus melakukan pengkajian dan analisis secara independen dan meminta saran atau masukan dari segi finansial dan hukum dari tenaga profesional (jika diperlukan).

Informasi yang dimuat dalam Laporan ini tidak mencerminkan posisi BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dalam melakukan transaksi efek dan/atau instrumen keuangan lainnya baik dalam kapasitasnya sebagai pelaku transaksi maupun sebagai prinsipal atau agen sehingga transaksi efek dan/atau instrumen keuangan lainnya yang dilakukan BCA, perusahaan terafiliasinya, dan/atau karyawan maupun agen dari BCA dan seluruh perusahaan terafiliasinya dapat tidak konsisten dengan Informasi yang dimuat dalam Laporan ini.

Produk investasi yang disebutkan dalam Laporan ini (selain produk simpanan atau deposito BCA) BUKAN merupakan produk maupun tanggung jawab BCA dan bukan juga merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga pada BCA, sertaTIDAK TERMASUKdalam cakupan obyek program penjaminan Pemerintah atau penjaminan simpanan yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Laporan ini tidak diperbolehkan untuk diproduksi ulang, disalin/difotokopi, diduplikasi, dikutip, atau disediakan dalam bentuk apa pun, dengan sarana apa pun, atau didistribusikan kembali kepada pihak lain manapun tanpa izin tertulis terlebih dahulu dari BCA.

23

Referensi

Dokumen terkait

Hasil evaluasi strategi yang dibuat di bulan November dan diterapkan di bulan Desember : ✓ Strategi pembuatan konten untuk product yang penjualannya masih rendah di bulan November pada