• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belajar Harmoni Beragama dari Desa - Repository UM

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Belajar Harmoni Beragama dari Desa - Repository UM"

Copied!
168
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

INDONESIA SEBAGAI NEGARA BERBHINEKA

Al-Qur'an adalah hakim (ukuran untuk menentukan benar atau tidaknya ayat-ayat yang diturunkan pada kitab-kitab sebelumnya). Terkait dengan hal tersebut, Allah menyebut Al-Qur’an sebagai mushaddiq (pembenar) dan muhaimin (penyempurna).

HARMONI BERAGAMA DARI DESA DI MALANG RAYA

K ONDISI G EOGRAFIS M ALANG R AYA

Bron: https://www.kopi-ireng.com/2017/01/Peta-Jawa-Timur-Complete-With-Register-29-Name-Kabupaten-dan-9-Kota.html.

B UKTI A WAL H ARMONISASI H UBUNGAN A NTAR A GAMA DI M ALANG R AYA

73 Malang atau Kera Ngalam) sehingga sampai sekarang kedua stadion di Malang Raya (Gajayana dan Kanjuruhan) diadopsi dari kosakata kerajaan Kanjuruhan. Bagi masyarakat Hindu di Malang Raya, Candi Badut merupakan salah satu ikon peninggalan umat Hindu yang selalu dijadikan tempat pemujaan setahun sekali pada saat upacara Ngembak Geni yaitu berbuka puasa (setelah Hari Ngepi). . Kanjuruhan sebagai bagian (bawahan) kerajaan berdasarkan peninggalan yang ada telah dikenal sejak kerajaan Mataram Kuno pada masa Raja Balitung, yang berbagai prasastinya memberi petunjuk tentang nama-nama daerah di Malang Raya.

Watak Hujung terletak di Malang dengan wilayah di sebelah utara Sungai Brantas bermula dari wilayah Kota Batu di wilayah Malang Timur, dan Watak Hujung bersebelahan dengan Kanuruhan (Kanjuruhan) dengan wilayah yang berada di selatan Sungai Brantas. Kitab Pararaton dan Negarakertagama merupakan dokumen yang banyak memberikan informasi tentang kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, termasuk Malang Raya. Beberapa bukti di atas membuktikan bahawa sekurang-kurangnya sejak abad ke-8 telah wujud kerajaan Hindu di Malang iaitu kerajaan Kanjuruhan yang juga disebut sebagai Kanuruhan dalam beberapa sumber.

Begitu pula dengan masuknya agama Islam masih terjaga, bahkan hingga saat ini terlihat keharmonisan hidup antara masyarakat Hindu dan Muslim di berbagai daerah di Malang Raya.

K IAT P ARA T OKOH I SLAM DAN H INDU DALAM M EMBANGUN K ERUKUNAN

Peran lembaga keagamaan sangat berpengaruh dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama, baik di pihak umat Hindu (PHDI) maupun umat Islam (MUI). Langkah-langkah yang dilakukan dalam menciptakan interaksi sosial yang harmonis adalah dengan menciptakan suasana yang menyenangkan dan damai dalam masyarakat. 79 Para pemimpin Muslim juga melaporkan hal yang sama, bahwa hubungan antara komunitas Muslim dan Hindu harmonis.

Pernyataan ini juga ditegaskan oleh tokoh muslim lainnya, bahwa sampai saat ini tidak ada prasangka, kita hidup rukun, bahkan ada keluarga yang berbeda agama. Konsep dan prinsipnya sederhana namun sangat besar manfaatnya dalam menciptakan kehidupan yang harmonis, seperti yang disampaikan tokoh agama Islam lainnya “Orang boleh saja punya hewan peliharaan, malu memasak bersama makhluk ciptaan Tuhan, I love you” . Demikian juga setiap upacara di pura, saya sampaikan berkaitan dengan kerukunan antar umat, dan yang saya sampaikan kepada para pemuda adalah apa yang dilakukan.

Menyambut Hari Raya sudah menjadi kebiasaan di kalangan umat beragama, semua ini sepertinya diwarisi dari nenek moyang kita.

B ENTUK - BENTUK I NTERAKSI S OSIAL A NTARA U MAT M USLIM DAN H INDU DI

Malang menyatakan bahwa akad maut bisa menjadi kegiatan yang bisa mempererat persaudaraan antara umat Islam dan Hindu. Seorang Perbekel (kepala desa) yang berada di Desa Kutuh juga tidak menyadari bahwa dampak bom Bali telah mempengaruhi hubungan antara umat Islam dan Hindu. Oleh karena itu, berdasarkan hasil penulisan, terdapat tiga hal yang mengikat sebagai bentuk interaksi kehidupan yang harmonis antara umat Islam dan Hindu di Kabupaten Bangli, Bali.

Umat ​​Hindu di pura ini juga mengenal kurban, seperti kurban yang dilakukan umat Islam pada Idul Adha. Hal ini dilakukan umat Islam di Kabupaten Bangli sebagai wujud braya sederajat. Tokoh Muslim di desa Sidembunut juga mengatakan bahwa hubungan antara Muslim dan Hindu sangat baik;

Dijadikan oleh umat Islam dan Hindu di Kabupaten Bangli sebagai bentuk braya yang setara.

Foto 3.1: TK Bhakti Persada (Yayasan Hindu)  Sumber: Dokumen Pribadi
Foto 3.1: TK Bhakti Persada (Yayasan Hindu) Sumber: Dokumen Pribadi

HARMONI BERAGAMA DARI DESA DI KABUPATEN BANGLI, BALI

K ONDISI G EOGRAFIS K ABUPATEN B ANGLI , B ALI

Kabupaten Bangli merupakan salah satu kabupaten di Pulau Bali yang terletak 400 meter di atas permukaan laut. Kabupaten Bangli merupakan satu-satunya kabupaten di Bali yang tidak memiliki kawasan laut, namun Kabupaten Bangli memiliki sejumlah potensi wisata yang menjanjikan seperti panorama Gunung Batur yang indah dan Danau Batur di Kintamani. Kabupaten Bangli berbatasan dengan Kabupaten Buleleng di sebelah utara, Kabupaten Klungkung dan Karangasem di sebelah timur dan Kabupaten Klungkung, Gianyar di sebelah selatan serta Kabupaten Badung dan Gianyar di sebelah barat.

Kabupaten Bangli memiliki luas 520,81 kilometer persegi atau 52.081 hektar. Secara administratif Kabupaten Bangli terbagi menjadi 4 kecamatan, 4 kecamatan dan 56 desa dengan jumlah penduduk 197.210 jiwa. Sebagian besar wilayah di Kabupaten Bangli merupakan dataran tinggi, hal ini mempengaruhi kondisi iklim di wilayah ini. Kondisi iklim dan perputaran atau pertemuan arus udara yang disebabkan oleh keberadaan pegunungan di daerah ini menyebabkan curah hujan yang relatif tinggi di daerah ini setiap tahunnya.

Kabupaten Bangli beriklim tropis, suhu udara relatif rendah berkisar antara 150 – 300 C, semakin ke utara suhu semakin dingin.

Foto 4.1: Tugu Masuk Kota Bangli   Sumber: Dokumen Pribadi
Foto 4.1: Tugu Masuk Kota Bangli Sumber: Dokumen Pribadi

K ONDISI S OSIAL -B UDAYA

Sementara Banjar merupakan sub-unit dari desa, kehidupan sosial ini sering diidentikkan dengan desa adat. Desa Adat adalah lembaga negara adat yang diselenggarakan menurut aturan adat yang bersifat otonom. Desa adat yang berarti tempat kejujuran (desa = tempat, adat = kejujuran) untuk mencapai keamanan lahir batin.

Asal muasal desa adat di Bali sering dikaitkan dengan sosok Mpu Kuturana yang dipercaya berasal dari Pulau Jawa. Ketiga pura ini mutlak ada di desa adat dan menjadi tempat pemujaan (sungsungan) bagi setiap anggota masyarakat adat. Masyarakat dalam hal ini yang tinggal di desa adat terikat dengan berbagai aturan yang ada.

Tingkah laku manusia di desa adat di Bali khususnya kabupaten Bangli sangat ditentukan oleh dipatuhinya atau tidaknya aturan tersebut sehingga menimbulkan sanksi sosial.

K ONDISI E KONOMI

Oleh karena itu, upaya peningkatan produksi tanaman pangan pertanian masih terus dilakukan, karena jumlah penduduk dan untuk memenuhi kebutuhannya selalu meningkat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dari keempat kecamatan yang ada, hanya kecamatan Kintamani yang memiliki orientasi ekonomi yang berbeda, hal ini disebabkan faktor geografis dan topografi. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, selain merupakan daerah pegunungan, kabupaten Kintamani sulit untuk mengakses air sehingga tidak memungkinkan untuk mendapatkan sawah, juga memiliki wilayah terluas yaitu 70,45% dari seluruh wilayah Kabupaten Bangli.

Oleh karena itu, dalam meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat, pertanian padi tidak menjadi andalan, perkebunan dan pariwisata. Pembanding lainnya adalah fasilitas akomodasi, khususnya penginapan (hotel), pada umumnya di kabupaten Bangli ada 25 unit, di kabupaten Kintamani 19 unit dan di kabupaten Bangli 6 unit. Dengan segala kendala yang dihadapi pemerintah Kabupaten Bangli target pembangunan ekonomi adalah tercapainya tingkat pertumbuhan ekonomi daerah.

Oleh karena itu, kegiatan tersebut juga harus bekerjasama dengan instansi terkait, seperti Kementerian Pertanian, Perindustrian, Perdagangan, dll.

K IAT PARA TOKOH H INDHU DAN M USLIM DI K ABUPATEN B ANGLI , B ALI

Namun peristiwa bom Bali yang terjadi pada tahun 2002 dan 2005 berdampak negatif terhadap interaksi positif yang telah lama terbangun antara umat Islam dan Hindu di Bali. Bom Bali memberikan efek psikologis bagi umat Islam dan Hindu, namun dengan kewaspadaan para pemuka agama, masalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Bahkan, pada akhirnya bom Bali dirasakan semakin mempererat kerukunan umat Islam dan Hindu di Bangli.

Jika ada kegiatan bagi umat Islam, saya sarankan itu harus dilakukan di masjid, kecuali untuk membuatnya efektif dan sekaligus bebas.” Sebagian umat Islam mempertanyakan perilaku-perilaku tertentu yang dianggap cenderung ke arah “syirik”, seperti persembahan atau ritual lainnya. Salah satu buktinya, koperasi yang didirikan masyarakat Bali, khususnya umat Hindu pasca bom Bali, masih belum berjalan dengan baik hingga saat ini.

Potensi konflik lainnya adalah munculnya pengaruh dari luar, terutama orang baru atau media massa seperti TV, dimana terdapat larangan bagi umat Islam untuk melakukan tindakan tertentu dalam berinteraksi dengan umat Hindu yang telah dilakukan sebelumnya, seperti

B ENTUK - BENTUK K EHIDUPAN ”M ENYAMA B RAYA ” A NTARA M ASYARAKAT

Bukti lain yang menunjukkan adanya sentuhan Parahyangan antara umat Islam dan Hindu adalah keberadaan Candi Langgar atau dikenal juga dengan Candi Jawa yang terletak di Desa Bunutin. Selama Nyepi, umat Islam juga tidak keluar rumah, seperti umat Hindu lainnya. Begitu juga jika ada kegiatan di Pura Ummah. Sebagai wujud nyata kerukunan antara umat Islam dan umat Hindu terkait torahyangan di Kabupaten Bangli, tepatnya di Pura Langgar Desa Bunutin atau Pura Jawa yang hingga saat ini masih berfungsi sebagai tempat peribadatan baik umat Hindu maupun umat Islam.

Hubungan antara umat Islam dan Hindu juga sangat terlihat di Desa Kintamani, ucapan selamat hari raya tidak hanya untuk Idul Fitri dan Galungan saja. Karena pertimbangan tersebut tidak menjadi masalah, meskipun tempat ibadah umat Islam (Masjid Raya) dan pura merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu. Aktivitas paleahan juga terlihat dengan adanya kuburan khusus umat Islam, seperti di Desa Bebalang.

Sebagai wujud nyata kerukunan umat Islam dan Hindu terkait torahyangan di Kabupaten Bangli lebih tepatnya di Desa Bunutin terdapat Pura Langgar atau Pura Jawa yang masih berfungsi sebagai tempat peribadatan baik umat Hindu maupun Islam, termasuk yang sudah menjadi adat bagi mereka. untuk selalu memberikan ucapan selamat hari raya.

Foto 4.2: Mushola di Desa Sidembunut   Sumber: Dokomen Pribadi
Foto 4.2: Mushola di Desa Sidembunut Sumber: Dokomen Pribadi

PENUTUP

K ESIMPULAN

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa umat Islam dan Hindu di Desa Malang Raya dan di Kabupaten Bangli Bali dapat hidup berdampingan, rukun dan saling memahami selama ini. Umat ​​Hindu di setiap enclave di Malang Raya (kecamatan Pakisaji, Ngajum, Wagir, Sukun dan Bumiaji) merupakan minoritas, sedangkan pemeluk agama Islam merupakan minoritas di kabupaten Bangli. Kehidupan harmonis ini sudah mendarah daging dan diturunkan dari nenek moyang mereka sehingga menjadi semacam nilai bersama yang harus dijalankan bersama, apapun agama yang mereka anut.

Semua warga berpartisipasi, begitu pula panitia antaragama sehingga tidak terlihat sekat-sekat agama. Di Kabupaten Bangli, kegiatan desa Bali merupakan interaksi antara masyarakat dengan masyarakat sehingga dikenal dengan kegiatan pawongan yang berarti segala kegiatan yang berhubungan langsung maupun tidak langsung. Pertunjukan warisan budaya leluhur turut andil dalam hal ini, meskipun praktik budaya tersebut terkadang tidak terkandung dalam ajaran agama yang dianutnya.

Di Kabupaten Bangli, interaksi antara umat Islam dan Hindu didasarkan pada budaya meme braye, yaitu bersaudara tanpa memandang perbedaan agama yang mereka anut.

S ARAN

Begitu pula dalam mengolah tanah hingga panen, ia mengikuti langkah-langkah seperti umat Hindu di sekitarnya, yakni penggunaan waktu yang benar berdasarkan sistem penanggalan Bali. Demikian juga kita masih sering melihat sentimen antar perbedaan yang bersifat SARA, di media massa yang mempengaruhi munculnya ketegangan psikologis. Dibalik konflik-konflik yang terjadi, buku ini memberikan inspirasi bahwa masih ada mutiara dalam hubungan harmonis kehidupan antar umat beragama yang muncul dari masyarakat pedesaan dengan pendidikan formal yang relatif rendah.

Buku ini terdiri dari lima bab yang secara berurutan akan membahas kerukunan umat beragama, konflik agama dan integrasi bangsa secara umum. Begitu juga dengan konsep pluralisme agama dalam perspektif Islam dan Hindu berdasarkan kitab sucinya masing-masing. Buku ini merupakan hasil penelitian terhadap kelompok minoritas Hindu di wilayah Malang Raya dan minoritas Muslim di Kabupaten Bangli, Bali.

Oleh karena itu, buku berjudul “Belajar Kerukunan Umat Beragama dari Desa” ini dapat menjadi panduan bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan dengan mengetahui strategi yang telah mereka terapkan agar dapat hidup damai selama ini.

Gambar

Foto 3.1: TK Bhakti Persada (Yayasan Hindu)  Sumber: Dokumen Pribadi
Foto 3.2: Perayaan HUT RI di Dusun Junggo, Kota Batu  Sumber: Dokumen Pribadi
Foto 3.4: Sesepuh Dusun Karang Tengah Mepimpin upaca petik padi  Sumber: Dolumen Pibadi
Foto 3.5: Setelah upacara petik padi masyarakat (Hindu dan Islam)  bersama-sama  menikmati hidangan di sawah
+7

Referensi

Dokumen terkait

sesuai wawancara yang dilakukan penulis dengan kepala Desa Boroko Timur Robby hari Jumat 17 Januari 2020 tepat di kantor Desa Boroko Timur dikatakan: “Produktifitas yang di hasilkan