BAB III HARMONI BERAGAMA DARI DESA DI MALANG RAYA
3.3. K IAT P ARA T OKOH I SLAM DAN H INDU DALAM M EMBANGUN K ERUKUNAN
77
78 juga dengan ajaran “hukum karma”, kalau orang berbuat baik hasilnya baik, begitu juga sebaliknya. Dengan demikian sampai sekarang di Malang Raya belum pernah ada masalah antar agama dan mereka dapat hidup rukun.
Ketua PHDI Kabupaten Malang mempunyai pernyataan yang menarik dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama. Bahwa warisan nilai-nilai leluhur selalu diperkenalkan kepada umatnya. Lebih lanjut dikatakan, bahwa leluhur kita sudah memberikan warisan nilai, baik itu budaya, adat istiadat harus tetap diteruskan. Orang tua kita dulu, agama bukan nomor satu tetapi hidup guyub rukun, kegotongroyongan, hidup saling toleransi yang diutamanakan. Kalau guyub kita menjadi kuat, apa yang kita tidak punya bisa dibantu oleh orang lain, kalau kita punya sesuatu kita bisa membantu tanpa memandang agama, budaya atau suku.
Dari sana rupanya terus berkembang sampai sekarang. Interaksi secara terus menerus dalam waktu yang lama, sekali waktu akan terjadi benturan kepentingan, apalagi menyangkut keyakinan dan ini sangat sensitif. Nampaknya hal semacam ini sangat disadari oleh tokoh Hindu maupun Muslim. Karena itu terdapat kesepakatan- kesepakatan dalam menyelesaikan masalah yang timbul di antaranya; kalau umat Hindu ada masalah yang menyelesaikan adalah umat Hindu, begitu juga sebaliknya.
Contoh kesepakatan tersebut adalah melakukan kegiatan setiap malam Rabu dan Kamis, kalau umat muslim biasanya malam Jumat melakukan tahlilan.
Peranan lembaga agama sangat besar pengaruhnya dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama, baik dari Hindu (PHDI) maupun Muslim (MUI).
Lembaga ini di Malang Raya memberikan pembinaan terhadap umatnya untuk saling menghormati terhadap umat lain. Saling menghormati ini ditanamkan atas dasar hidup bermasyarakat yang berdampingan dengan umat lain. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menciptakan interaksi sosial yang harmonis adalah dengan menciptakan suasana yang menyenangkan dan damai di dalam masyarakat. Perlu selalu diciptakan interaksi sosial yang harmonis, yaitu saling tolong-menolong baik dalam keadaaan senang maupun susah dalam segala hal. Kegiatannya tidak selalu secara terprogram, tetapi kiat-kiat tersebut dilakukan dengan spontanitas dan kondisional disesuaikan dengan keadaan yang sedang terjadi di lingkungan masyarakat tersebut.
79 Hal senada disampaikan juga oleh tokoh-tokoh Muslim, bahwa hubungan antara masyarakat Muslim dengan umat Hindu berlangsung dengan harmonis.
Adapun caranya adalah dengan mempertahankan situasi kerukunan yang sudah terjalin, diantaranya secara giat melakukan kerja bakti antar tempat suci, karena kedua umat telah terbiasa untuk saling membantu, baik Muslim maupun Hindu.
Selalu memberikan penjelasan secara umum dengan gambaran nyata bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, sehingga kurang bijaksana apabila menganggap hanya agamanya sendiri yang paling baik dan mentakan agama yang lainnya jelek.
Bahkan tiap tanggal 1 setiap bulan diadakan pertemuan antara pengurus takmir dan pengurus Hindu yang merupakan inisiatif dari tokoh masyarakat. Sebagai tokoh, dalam tahlil kami sering menyerukan dan menyampaikan perdamaian dan sekaligus sebagai perangkat desa. Dalam forum Reboan dan Mingguan di umat Hindu juga menyerukan hal yang sama. Mengadakan pendekatan dan diwujudkan dalam kegiatan bersama, misalnya arisan barang yang dilakukan oleh ibu-ibu, perkumpulan pemuda baik dalam karang taruna maupun komunitas pencinta kesenian yang diadakan tiap tanggal 1 serta olah raga beladiri.
Pernyataan ini dipertegas juga oleh Tokoh Muslim lainnya, bahwa sampai saat ini alhamdulillah tidak ada prasangka, kami hidup rukun, bahkan ada keluarga yang berbeda agama. Kakaknya bangun Sanggar, Pura, adiknya yang lain ada yang bangun Musholla dan Gereja. Masyarakat disini juga guyup, dan saling tolong menolong. Konsep dan Prinsip-prinsipnya sederhana tetapi bermanfaat besar dalam menciptakan kehidupan harmonis seperti yang disampaikan oleh tokoh agama Islam yang lainnya “lha wong sama hewan piaraan saja sayang masak sama makhluknya Allah mboten sayang”. Hal ini senada juga dengan pernyataan seorang pemuka agama Hindu, beliau adalah tokoh Hindu dari Karang Tengah, Pakisaji mengatakan;
“Ya...perlu saling mematuhi kesepatakan, seperti kami melakukan kegiatan setiap malam Rabu dan Kamis, kalau umat Muslim biasanya malam Jumat melakukan tahlilan, pokoknya berdasarkan kesepakatan, andaikatapun ada masalah diselesaikan secara kekeluargaan. Begitu juga setiap upacara di Pura, saya sampaikan terkait dengan kerukunan antar umat dan yang saya sampaikan kepada para pemuda bahwa yang menjadi
80 kebanggaan umat Hindu sampai saat ini belum pernah membuat masalah dari lingkungan tingkat bawah sampai atas dan bisa kita banggakan. Hindu cinta damai seperti ajaran Tatwamasi”.
Pemberian ucapan selamat Hari Raya antar umat beragama sudah biasa dilakukan, semua itu nampaknya sudah warisan leluhur. Tokoh Hindu, Ketua PHDI Kecamatan Ngajum mengatakan;
“Saling memberikan ucapan selamat hari raya baik bagi yang Muslim maupun Hindu. Karena disini tidak melihat orang agama apa, yang penting niatnya baik. Dan saya sebagai tokoh selalu menyampaikan kepada umat, hilangkan sekat agama, tetapi bukan berarti menghilangkan agama”.
Begitu juga dengan pernyataan Ketua PHDI Kota Batu;
“ Ya……saling betegur sapa, terasa tidak berbeda dengan agama kita sendiri sehingga rukun-rukun saja. Kalau ada undangan dari umat lain kita berusaha dating sebagai wujud hubungan yang baik. Dalam kegiatan seperti Idul Futri, halal bihalal, mauludan keliling kampong mengucakan selmat hari raya,begitu juga agama yang lain saling mengucapkan selamat hari raya. Ini kan memperluas jaringan kerukunan itu (Pariyanto). Pada saat ada kematian semua umat saling membantu.Bentuk lain adalah acara bersih desa, arak tumpeng keliling kampung dilakukan scara bersama-sama tidak melihat agamanya apa. Acara kenduri, selamatan, tahlilan saling mengundang bentuk kebersamaan. Odalan di pura umat selain Hindu juga datang melihat hiburan, bahkan mereka ikut main gambelan, mempersiapkan”.
Pernyataaan ini diperkuat juga oleh tokoh Hindu Dusun Codo, Petungsewu, bahwa:
“ kami sepakat melakukan program sosialisasi interaksi sosial yang harmonis, pendekatan yang dilakukan dengan memberikan penjelasan secara umum dengan gambaran nyata bahwa semua agama mengajarkan kebaikan yang notabene dengan ajaran yang berbeda pula. Sehingga kurang bijaksana apabila menganggap hanya agamanya sendiri yang paling baik.
Berangkat dari adanya pertanyaan tersebut membina komunikasi yang baik antar umat perlu dilakukan”.
81 Sekretaris PCNU Kabupaten Malang, mengatakan:
“ Ya..Idul adha kegiatan sosial di basis umat lain, seperti di Tengger itu, dan murni kegiatan sosial, hal itu kami lalukan bersama ummat Hindu disana.
Memberikan stressing pada pengurus MWC NU untuk melakukan hubungan yang harmonis dengan umat lain untuk diteruskan kepada wilayah ranting NU dengan memberikan arahan untuk membangun kerjasama yang baik dengan umat lain”.
Ketua PCNU Kota Batu, mengatakan:
“ Kiat-kiat secara khusus tidak ada, karena secara otomatis dengan mengoptimalkan lembaga dakwah yang dimiliki hal itu sudah merupakan kiat juga. Selain itu dengan adanya perwakilan NU di FKAUB maka disana juga merupakan media yang tepat untuk meningkatkan hubungan yang baik dengan agama lain, dan menunjukkan bahwa Islam Ahlus Sunnah (NU) menjunjung tinggi kebhinekaan”.
Tokoh Muslim di Karang Tengah, Pakisaji, mengatakan:
“ Ya ……niku mas, melalui tahlil dan kegiatan keagamaan di lingkup orang Islam saya menyampaikan pentingnya kerukunan. O ya, dalam kegiatan kerja bakti kami selalu bersama-sama termasuk seperti tadi dalam peringatan HUT RI, kami juga lakukan bersama-sama”.
Sekretaris PCNU Kota Kota Malang, mengatakan:
“ Saling mengundang dalam acara sosial dan mengadakan even sosial.
Misalnya peringatan harlah atau hari besar nasional, dan pada peringatan wafatnya Gus Dur kemarin dari ummat lain sangat luar biasa yang hadir, ini juga bukti jika NU mampu menampakkan wajah Islam yang bisa diterima oleh berbagi pihak”.
3.4.Bentuk-bentuk Interaksi Sosial Antara Umat Muslim dan Hindu di