• Tidak ada hasil yang ditemukan

Belajar tentang Etns Tionghoa

N/A
N/A
Sain Raihan Firman

Academic year: 2024

Membagikan "Belajar tentang Etns Tionghoa "

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Etns Tionghoa merupakan salah satu etnis keturunan asing yang jumlahnya paling banyak di kota Surabaya, yang keberadaannya dapat dijumpai hampir di seluruh pelosok kota Surabaya mulai dari pusat kota hingga pinggiran kota.1 Akan tetapi hingga saat ini masih sangat sedikit tulisan yang membahas peran etnis Tionghoa di bidang olah raga khususnya olahraga basket.

Dalam perjalanan olah raga di Surabaya, etnis Tionghoa juga ikut ambil bagian. Dalam perkembangannya, yang semula pada masa Hindia Belanda olah raga hanya sebatas hiburan di waktu senggang, berubah menjadi representasi nasionalisme bagi masing-masing pihak,2 seperti yang dilakukan oleh murid sekolah-sekolah Tionghoa. Rasa nasionalisme terhadap negri leluhur direpresentasikan kedalam bentuk kegiatan olah raga salah satunya dengan olah raga bola basket.

Seiring berjalannya waktu pasca proklamasi kemerdekaan, olahraga basket di kalangan etnis Tionghoa telah berubah tujuan, yang pada awalnya digunakan sebagai bentuk untuk menunjukkan nasionalisme berubah menjadi sarana sosial

1 Shinta Devi ISR, Etnis Tionghoa Dalam Sejarah Pendidikan Masyarakat Kota Surabaya, (Surabaya: Revka Petra Media, 2010), hlm. 1.

2 R. N. Bayu Aji, Tionghoa Surabaya Dalam Sepak Bola, (Yogyakarta: Ombak, 2010), hlm. 9.

(2)

dan juga sebagai media olahraga yang menghubungkan antar etnis.

Menghubungkan dalam keterbukaan klub olah raga yang mulanya didominasi ataupun dikelola oleh etnis Tionghoa menjadi terbuka untuk semua etnis.

Olahraga memiliki tujuan untuk dimainkan, terbukti setelah meleburnya klub olahraga Tionghoa yang semula membawa nama etnis telah berubah membawa nama untuk mewakili kota, provinsi, maupun nama bangsa untuk suatu pertandingan maupun kompetisi. Hal tersebut berubah sesuai dengan kondisi yang dialami oleh bangsa ini.

Kondisi tersebut sama halnya dengan klub olahraga Cahaya Lestari Surabaya. Pada awal mula didirikan, klub ini bernama Chun Lik She ( baca: cun li se) yang bermula dari sebuah ajang perkumpulan siswa sekolah-sekolah Tionghoa yang memiliki kesamaan hobi yaitu olahraga bola basket. Pada waktu itu anggota masih sebatas para pemuda Tionghoa. Pada awalnya olahraga bola basket digunakan untuk menyalurkan hobi, menghindarkan kepenatan dari rutinitas sehari-hari dan sebagai hiburan. Seiring berjalannya waktu perkumpulan ini berubah menjadi perkumpulan yang membentuk kepengurusan yang jelas dan mencari donatur untuk pembiayaan operasional. Pada tanggal 18 Februari 1946 perkumpulan ini resmi menjadi klub olahraga bola basket Chun Lik She yang disingkat menjadi CLS.

Seperti perkumpulan atau organisasi Tionghoa lainnya, nama memiliki arti sangat berarti bagi etnis Tionghoa. Chun Lik She memiliki arti perkumpulan yang

(3)

didasari oleh kekuatan bersama. Dari arti nama tersebut dapat disimpulkan Chun Lik She dibangun atas kerjasama dan gotong royong etnis Tionghoa.3

Ketika Chun Lik She menjadi sebuah klub olahraga bola basket, banyak sekali perubahan terutama dalam hal pertandingan, yang awalnya hanya sebatas pertandingan untuk melawan perkumpulan-perkumpulan olahraga bola basket se- Surabaya berubah menjadi klub olahraga basket yang membawa nama Surabaya untuk bertanding dengan perkumpulan basket dari kota lain.

Meskipun pada awalnya Chun Lik She hanya klub olahraga bola basket dengan cakupan kecil namun Chun Lik She membuktikan kapasitasnya dengan ambil bagian pada kompetisi nasional di pagelaran PON VII di Surabaya. Kendati demikian dalam usaha memajukan olahraga basket, Chun Lik She tak henti- hentinya melakukan pembangunan. Lapangan bola basket Chun Lik She adalah satu-satunya lapangan bola basket yang digunakan selama pagelaran PON ke VII di Surabaya.4

Namun ketika rezim Orde Baru berkuasa, ruang gerak etnis Tionghoa dipersempit dan muncul kebijakan pelarangan menggunakan nama mandarin atau hal-hal yang berbau Tionghoa. Nama Chun Lik She pun juga ikut berubah menjadi Cahaya Lestari Surabaya. Tak hanya itu, nama punggung yang biasanya bertuliskan nama mereka dalam etnis Tionghoa pun ikut dilarang dan hanya

3 Clsknights.com/about-cls/ di akses pada 11 januari 2015 pukul 02.00 WIB

4 https://clsknightsmagz.wordpress.com/2014/06/18/sejarah-cls-knights/ diakses pada tanggal 11 januari 2015 pukul 04.00 WIB

(4)

diperbolehkan memakai nama Indonesia saja.5 Untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaan di Indonesia, banyak orang Tionghoa mengganti nama diri dan nama perusahaan dengan nama yang lazim maupun yang tidak lazim di Indonesia.6

Kendati demikian perubahan nama dari Chun Lik She menjadi Cahaya Lestari Surabaya tidak berpengaruh pada prestasi atlit olahraga bola basket.

Terbukti prestasi regu putra dan regu putri Cahaya Lestari Surabaya cukup menggembirakan, karena mampu mengikuti turnamen bola basket di Singapura dan Malaysia. Selain itu para pemain Cahaya Lestari Surabaya baik putra maupun putri selalu terpilih dalam kontingen Jawa Timur untuk berlaga di PON dan bahkan menjadi pemain nasional.

Memasuki tahun 1982, Cahaya Lestari Surabaya dihadapkan dengan kompetisi yang bersifat nasional karena keputusan dari kongres Perbasi yang mengadakan kompetisi di tingkat nasional atau yang lebih dikenal dengan nama Kobatama atau Kompetisi Basket Utama. Hal ini membuka babak baru dalam dunia basket di Indonesia khususnya bagi Cahaya Lestari Surabaya sendiri yang juga baru bermain dibawah naungan kompetisi yang bersifat nasional.

Animo masyarakat Surabaya terhadap olahraga basket meningkat karena adanya pemain asing asal Amerika yang turut serta didatangkan oleh pihak

5 Gondomono, Membanting Tulang Menyembah Arwah: Kehidupan Kekotaan Masyarakat Cina (Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1996), hlm. 9.

6 Maksud nama yang lazim digunakan adalah nama yang berorientasi pada budaya setempat namun ada juga orang Tionghoa yang mengambil nama arab ataupun barat, biasanya mereka menggambil nama Jawa, Batak, Sunda, Manado dan lain sebagainya yang amat lazim.

Sehingga, nama yang lazim digunakan agar kita tidak tahu bahwa mereka sebenarnya termasuk kelompok etnis Tionghoa atau orang Indonesia-Tionghoa

(5)

promotor. Dipilihnya pemain asing asal Amerika karena memang Amerika adalah negara yang memiliki kompetisi dan pemain bola basket terbaik di dunia sehingga diharapkan bisa mendongkrak olahraga basket yang berada di Indonesia khususnya Surabaya.

Untuk meningkatkan prestasi dan mengatasi biaya operasional, CLS juga bekerja sama dengan berbagai perusahaan-perusahaan seperti misalnya produsen sepatu Kasogi. Tidak hanya produsen sepatu, CLS juga bekerja sama dengan perusahaan rokok Wismilak dan akhirnya beralih kepada produsen kopi cepat saji Good Day. Kerja sama yang dijalin baik oleh CLS mengantarkan CLS berkompetisi hingga tingkat nasional.

B. Rumusan Masalah

Dari pemaparan latar belakang di atas maka rumusan masalah skripsi ini sebagai berikut:

1. Bagaimana peran Cahaya Lestari Surabaya dalam aktifitas olahraga bola basket di Surabaya pada tahun 1946-2003?

2. Bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap aktivitas olahraga CLS tahun 1946-2003?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui peran organisasi Cahaya Lestari Surabaya dibidang olahraga bola basket pada tahun 1946-2003

(6)

2. Untuk mengetahui bagaimana dampak kebijakan pemerintah terhadap aktivitas olahraga basket CLS pada tahun 1946-2003

D. Ruang Lingkup Penelitian

Pembahasan sejarah akan menjadi lebih mudah dan terarah jika dilengkapi dengan perangkat pembatas, baik temporal maupun spasial serta keilmuan. Hal tersebut sangatlah diperlukan, karena dengan batasan tersebut, sejarawan dapat terhindar dari hal-hal yang tidak ada relevansinya dengan permasalahan yang ditulis. Jika bagian ini tidak digunakan akibatnya analisis yang dihasilkan akan bersifat lemah.7 Pada metode penulisan sejarah terdapat dua batasan yang digunakan, yaitu batasan spasial (ruang) dan temporal (waktu).

Mengenai batasan spasial (ruang) saya pilih Surabaya karena selain kota besar kedua dan tempat lahirnya organisasi olahraga bola basket Cahaya Lestari Surabaya berdiri. Cahaya Lestari Surabaya sangat berbeda dengan organisasi olahraga bola basket dari kota lainnya, Cahaya Lestari Surabaya adalah organisasi olahraga bola basket tertua di Indonesia yang masih eksis hingga saat ini.

Batasan temporal penulisan ini adalah 1946-2003. Tahun 1946 menjadi batasan awal dimana tahun 1946 Cahaya Lestari Surabaya mulai berdiri dan didirikan oleh siswa dan juga alumni dari sekolah Tionghoa Shin Hua Chung Hsioh. Batasan akhir penelitian ini adalah tahun 2003, karena pada periode ini

7 Taufik Abdullah, Abdurrahman Surmihardjo, Ilmu Sejarah dan Historiografi: Arah dan Perspektif, (Jakarta: Gramedia, 1985), hlm. xii

(7)

kompetisi olahraga bola basket mengalami perubahan dan olahraga bola basket mulai menjadi komoditi bagi para pebisnis. Dalam tubuh Cahaya Lestari Surabaya sendiri pada tahun 2003 sebagai awal mulainya dirinya menerima sponsorship dan nama Cahaya Lestari Surabaya mengikuti nama sponsor menjadi Goodday CLS.

Akan tetapi, seperti yang dikatakan oleh Kuntowijoyo, cakupan waktu pada studi sejarah tidaklah secara langsung menunjuk langsung pada suatu periodesai. Sebab dalam perkembangan sejarah dan sosial tidak ada permulaan maupun akhir.8 Jadi dalam penelitian ini akan dijumpai periode sebelumnya untuk melihat keterkaitan masalah yang ada.

E. Tinjauan Pustaka

Pembahasan mengenai sejarah olahraga khususnya olahraga bola basket masih dikatakan sangat minim literatur. Disamping itu banyak peneliti yang belum mengkaji peran Cahaya Lestari Surabaya dalam olahraga bola basket. Pada umumnya tulisan mengenai sejarah olahraga kebanyakan hanya pada olahraga sepak bola saja. Hal ini dikarenakan sepak bola adalah olahraga paling diminati oleh semua kalangan masyarakat. Namun pembahasan tentang Cahaya lestari Surabaya yang mengkaji tentang perannya dalam aktifitas keolahragaannya di Surabaya belum ada.

8 Sarkawi B. Husein, op. cit., hal. 6. Mengutip Kuntowijoyo, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850-1940 (Yogyakarta: PAU UGM, 1998), hal. 1.

(8)

Salah satu tulisan yang membahas tentang olahraga namun dalam bidang sepak bola adalah buku karya dari R.N Bayu Aji yang berjudul Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola 1915-1942. Karya itu menjelaskan tentang kondisi sepak bola pada masa Kolonial Belanda yang ternyata sepak bola pada masa itu sudah sarat dengan politik. Buku tersebut menjelaskan olah raga sepak bola digunakan untuk merepresentasikan nasionalisme etnis Tionghoa. di samping itu karya tersebut juga menjelaskan tentang bagaimana etnis Tionghoa menggunakan sepak bola sebagai alat aktualisasi diri. Perbedaan dari tulisan ini adalah memandang sebuah organisasi olah raga dari segi budaya. Namun tulisan itu tidak memaparkan tentang keterbukaan klub atau organisasi olahraga Tionghoa terhadap masyarakat pribumi.

Buku kedua yang membahas tentang olahraga dikalangan etnis Tionghoa adalah tulisan Srie Agustina Palupi yang berjudul Politik dan Sepak Bola di Jawa 1920-1942. Secara gamblang menjelaskan bahwa reaksi terhadap NIVB sebagai representasi nasionalisme dilakukan melalui dunia perkumpulan-perkumpulan sepak bola yang ada, baik yang di masyarakat Tionghoa maupuun Bumiputera.

Namun disini dijelaskan pula bagaimana sepakbola mengalami dinamika dalam perkembangannya dan bagaimana usaha etnis Tionghoa mempertahankan eksistensinya. Namun dalam tulisan ini juga tidak memaparkan tentang keterbukaan klub sepak bola Tionghoa dengn orang pribumi.

(9)

F. Kerangka Konsep

Skripsi yang berjudul dari Chun Lik She Menjadi Cahaya Lestari Surabaya: Klub Basket Etnis Tionghoa di Surabaya 1946-2003 adalah sejarah sosial, karena penelitian sejarah yang mencakup sosial, budaya, dan olahraga memberikan penjelasan tentang aktifitas masyarakat Surabaya tentang perannya dalam aktifitas olahraga bola basket di Surabaya dan mulai keterbukaannya klub basket ini kepada semua kalangan. Meskipun dikategorikan sejarah sosial namun pembahasan pokok permasalahan tidak meninggalkan proses-proses budaya yang terjadi pada etnis Tionghoa.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan beberapa konsep.

Konsep yang pertama adalah olahraga, yaitu proses sosial yang menghasilkan karakteristik perilaku dalam bersaing dan bekerja sama dalam membangun suatu permainan yang dinaungi oleh nilai, norma dan pranata yang sudah melembaga, kelompok sosial dalam olahraga mempelajari adanya tipe-tipe perilaku anggotanya dalam mencapai tujuan bersama. Kelompok sosial biasanya terwadahi dalam lembaga sosial yaitu organisasi dan pranata seperti yang diungkapkan oleh Wilian Dalton. Sama seperti Cahaya Lestari Surabaya yang menggunakan olahraga basket sebagai sarana untuk berinteraksi sosial baik dengan rekan satu tim, lawan, suporter maupun masyarakat Surabaya. Namun dalam sebuah kompetisi olah raga juga terdapat nilai-nilai moral yang dikandung salah satunya adalah kerja sama dengan tim untuk mencapai tujuan bersama. Cahaya Lestari Surabaya merupakan wadah bagi masyarakat Surabaya selain untuk bersosialisasi

(10)

juga untuk melakukan aktifitas olahraga bola basket, yang tentunya akan membawa Surabaya sebagai kota tempat lahirnya organisasi tersebut.

Organisasi olah raga bola basket Cahaya Lestari Surabaya tergolong organisasi yang fungsional karena memiliki persyaratan agar menjadi organisasi yang fungsional. Persaratan itu meliputi: (a) jaminan adanya hubungan yang memadai dengan lingkungan dan adanya rekruitmen sosial, Cahaya Lestari Surabaya sudah menjamin adanya hubungan yang memadai dengan lingkungan, terbukti dengan keterbukaan keanggotaan bagi masyarakat Surabaya dan hal itu juga sekaligus membuka rekruitmen sosial, (b) diferensiasi peran dan pemberian peran. Tentu sebagai organisasi, Cahaya Lestari Surabaya memiliki susunan keanggotan yang jelas, siapa ketua, siapa wakil ketua, bendahara, skretaris dan mereka semua mejalankan tugas sesuai dengan jabatannya. (c) komunikasi, tentu Cahaya Lestari Surabaya menggunakan komunikasi dengan baik demi keberlangsungan organisasi ini. Segala sesuatu yang terjadi didalam organisasi tersebut senantiasa dimusyawarahkan terlebih dahulu. (d) perangkat tujuan yang jelas dan disangga bersama-sama, Visi Cahaya Lestari Surabaya adalah menciptakan sumber daya yang mumpuni dalam kehidupan. Caranya adalah dengan menekan dan memberikan sebuah pendidikan yang bermutu untuk para atlit. Pendidikan yang baik berimbas kepada manusia yang baik pula, dan lewat pendidikan juga menjadi pedoman kehidupan atlit di masa yang akan datang.

Tujuan itulah yang harus disangga bersama-sama oleh para anggota organisasi Cahaya Lestari Surabaya. (e) pengaturan normatif atas sarana-sarana, tentu sebagai organisasi Cahaya Lestari Surabaya memerlukan adanya peraturan

(11)

normatif guna ketertiban setiap anggota dalam memanfaatkan sarana-sarana yang tersedia. (f) sosialisasi9, hal itu diperlukan untuk keberlangsungan organisasi, seperti Cahaya Lestari Surabaya yang mempromosikan sekolah bola basket untuk mencari bibit-bibit atlit guna meneruskan prestasi Cahaya Lestari Surabaya dibidang olah raga bola basket.

Mengenai olahraga bola basket adalah sebuah permainan yang dimainkan oleh dua regu dengan lima pemain inti atau pemain yang berada dilapangan dan tujuh pemain cadangan yang berlomba-lomba mengumpulkan poin dengan memasukan bola basket kekeranjang lawan. Permainan ini berlangsung selama empat quarter yang masing-masing quarter berlangsung selama sepuluh menit dan total permainan basket berlangsung selama empat puluh menit.

Dalam penelitian ini yang dimaksud organisasi Cahaya Lestari Surabaya adalah organisasi yang bergerak di bidang olahraga basket dengan etnis Tionghoa sebagai pemrakarsa dan juga sebagai pemain mayoritas. Cahaya Lestari Surabaya dapat dikatakan sebagai organisasi olahraga karena memiliki struktur kepengurusan yang jelas, anggaran dasar dan rumah tangga yang jelas serta memiliki visi dan misi. Namun sebagai budaya, olahraga yang dimiliki etnis Tionghoa tidak serta merta diterima oleh kalangan masyarakat pribumi. Seiring berjalannya waktu Cahaya Lestari Surabaya membuka diri untuk keanggotaan bagi masyarakat pribumi dan sudah tidak lagi mengusung nama etnis, melainkan Cahaya Lestari Surabaya sebagai tim olahraga bola basket perwakilan dari Surabaya di kancah kompetisi nasional.

9 David Kaplan, Teori Budaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 82.

(12)

Namun ketika kancah dunia olahraga bola basket mulai dikomersialisasi untuk mencari keuntungan dan mempertahankan eksistensi olahraga bola basket di tingkat nasional, sistem kompetisi pun ikut berubah yang awalnya kompetisi basket hanya diadakan di beberapa kota di Jawa lalu ada penambahan kuota kota yang produktif untuk mencari keuntungan. Komersialisasi adalah sebutan yang kompleks dari bentuk perdagangan pada obyek tertentu untuk dijadikan komoditi atau produk, dengan demikian bisa menghasilkan output berupa keuntungan.

Dalam penelitan ini juga memuat kontribusi organisasi olahraga basket Cahaya Lestari Surabaya kepada masyarakat Surabaya dan basket sendiri adalah sebagai budaya masyarakat Tionghoa. karena kebudayaan sebagai sistem pengetahuan yang meliputi sistim ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak.

Dalam pandangan herkovits budaya adalah sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, kemudian disebut superorganik. Meskipun penelitian tentang organisasi olahraga bola basket Cahaya Lestari Surabaya memusatkan peran masyarakat Surabaya dalam bidang olahraga bola basket.

G. Metode dan Sumber Penelitian

Metode penulisan sejarah merupakan sarana bagi para sejarawan untuk melaksanakan penelitian dan penulisan sejarah. Karena metode merupakan salah satu ciri dari cara kerja ilmiah yang penting dalam melakukan suatu penelitian,

(13)

khususnya sejarah. Dalam buku Metode Penelitian Sejarah,10 terdapat empat tahapan dalam melakukan metode sejarah. Empat tahapan ini sekaligus menjadi kaidah-kaidah yang disepakati secara umum dalam usaha untuk melakukan penulisan sejarah. Berikut ini adalah empat tahap penulisan sebagai bentuk metode penelitian skripsi yang penulis lakukan.

Pada tahap awal, penulis mengumpulkan data-data yang digunakan sebagai sumber penulisan atau yang biasa disebut sebagai heuristik yaitu kegiatan menghimpun sumber-sumber sejarah.11 Kegiatan menghimpun sumber data ini baik berupa sumber primer maupun sumber sekunder. Sumber primer yang digunakan berupa dokumen, arsip (AD/ART organisasi,buku peringatan hari penting, surat ijin dari kepolisian untuk menyelenggarakan pertandingan, akta pendirian yayasan), surat kabar, artikel, dan sumber lain yang sejaman. Sedangkan sumber sekunder bisa berupa buku, jurnal ilmiah dan tinjauan pustaka lain yang memiliki keterkaitan dalam penelitian ini. Sumber-sumber tersebut penulis dapatkan melalui Badan Arsip Kota Surabaya, Arsip Pepustakaan kota Surabaya, STIKOSA AWS yang mempunyai koleksi surat kabar sejaman seperti Surabaya Post dan Jawa Pos, yayasan Cahaya Lestari Surabaya yang menyimpan foto-foto serta buku peringatan hari-hari penting CLS, dan beberapa pinjaman dari arsip koleksi pribadi, serta lembaga-lembaga lain yang mengurus dalam bidangnya

10 A. Daliman, Metode Penelitian Sejarah (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2012), hlm. 28- 29.

11 Ibid., hlm. 28.

(14)

masing-masing. Selain itu penulis juga melakukan wawancara terhadap beberapa nara sumber.

Setelah sumber-sumber dikumpulkan, tahap selanjutnya adalah kritik terhadap sumber atau verifikasi. Tujuan verifikasi adalah untuk mengetahui benar- tidaknya, serta asli dan tidaknya sumber-sumber tersebut. Tahap ini terdiri dari dua macam, yaitu kritik internal dan kritik eksternal. Kritik internal mengenai kredibilitas dari sumber sejarah tersebut, sedangkan kritik eksternal mengkririk tentang keotentikan suatu sumber, apakah sumber tersebut benar-benar dikeluarkan oleh orang atau lembaga yang namanya tertera dalam sumber tersebut atau tidak. Karena kritik ini sangat diperlukan untuk meneliti apakah sumber- sumber itu sejati, baik bentuk maupun isisnya. Tahap ketiga selanjutnya adalah menetapkan makna dan saling hubungan dari fakta-fakta yang telah diverifikasi atau yang biasa disebut sebagai interpretasi, sehingga tahap yang terakhir yaitu historiografi akan terpenuhi dan menghasilkan hasil penulisan sejarah yang baru dan komprehensif

H. Sistematika Penulisan

Penelitian organisasi olahraga memerlukan sistematika penulisan, sehinga menjadi terstruktur rapi dan kronologis. Sistematika penulisan ini terbagi menjadi empat bab, setiap bab memiliki hubungan kausalitas antara yang pertama sampai akhir. Bab I adalah pendahuluan yang berisi tentang latar belakang permasalahan

(15)

yang diajukan, rumusan masalah, ruang lingkup penelitian, tujuan, manfaat, tinjauan pustaka dan metode penelitian.

Bab II adalah pemaparan tentang organisasi olahraga apa saja yang memberikan kontribusi bagi masyarakat Surabaya dan olahraga apa saja yang digemari masyarakat Surabaya pada saat itu, namun tidak hanya itu, dalam bab ini juga berisi pengantar tentang Chun Lik She pada awal berdiri tahun 1946.

Bab III berisi tentang jawaban dari rumusan masalah yang menjelaskan tentang aktivitas organisasi olahraga basket Cahaya Lestari Surabaya dalam menjadikan basket sebagai media untuk bersosialisasi, disamping itu pada bab ini juga menjelaskan tentang kontribusi Cahaya Lestari Surabaya bagi masyarakat Surabaya. Namun tidak hanya itu, di dalam bab ini juga memuat tentang kontribusi pemerintah dalam mendukung olah raga bola basket di Surabaya

Bab IV merupakan bab penutup yang menjelaskan kesimpulan dari penulisan

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian akan dilakukan di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dengan subyek penelitian adalah mahasiswa etnis Tionghoa, hal ini dipilih dengan pertimbangan bahwa

terhadap ramalan Ciamsi 签诗 qiān shī. 2) Mendeskripsikan alasan etnis Tionghoa di Surabaya masih percaya terhadap ramalan Ciamsi 签诗 qiān shī. Penelitian ini adalah penelitian

Abstrak— Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menanalisis dan mengetahui tingkat efektivitas suksesi kepemimpinan perusahaan keluarga etnis Tionghoa di Surabaya. Jenis

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah variabel etnosentrisme yang dimiliki mahasiswa etnis Tionghoa Universitas Surabaya berhubungan dengan

Memperhatikan minat masyarakat di Kota Surabaya yang cukup besar untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi dan melihat sebaran tiga etnis mayoritas (Jawa, Madura, Tionghoa)

Skripsi ini bertujuan untuk menjelaskan peran organisasi CLS dalam aktivitas olahraga basket di Surabaya pada tahun 1946-2003 dan menjelaskan peran pemerintah dalam