• Tidak ada hasil yang ditemukan

BELAJAR TENTANG KEBIJAKAN GARAM NASIONAL

N/A
N/A
Saiful Saiful

Academic year: 2024

Membagikan "BELAJAR TENTANG KEBIJAKAN GARAM NASIONAL"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh:

Ir. Made Arnika

(Kepala Dinas Perikanan Kab. Buleleng)

Disampaikan pada:

Pelatihan Pembuatan Garam dengan Sistem Buka Tutup (KATUP) Bagi Petambak Garam di Kabupaten Buleleng

Pejarakan, 8 Oktober 2018

KEBIJAKAN GARAM NASIONAL

(2)

PENDAHULUAN

(3)

Standar Mutu

SEJARAH GARAM DAN AWAL DITEMUKAANNYA

SEJARAH GARAM DAN AWAL DITEMUKAANNYA

Kehidupan tidak akan ada kalau tidak ada makanan dan air. Demikian juga garam Kehidupan tidak akan ada kalau tidak ada makanan dan air. Demikian juga garam Garam yang ada di meja makan kita adalah salah satu kunci

pembuka sejarah planet. Big History membuktikan bahwa molekul sederhana berupa garam ini ternyata ikut berperan dalam peradaban, menimbulkan peperangan, membangun Tembok Besar Cina, memicu revolusi India hingga Perancis.

Salt is Super Power over Water.

Garam mempunyai pengaruh dalam kehidupan manusia, baik secara budaya, ekonomi dan kimia maupun kesehatan. Garam Secara kultural, garam mempengaruhi kehidupan manusia lewat sejarah migrasi manusia. Secara ekonomi, melalui perdagangan dan proses kimiawi, garam mewarnai wajah dunia dengan penggunaan garam sebagai bagian dalam proses produk industri. Garam juga menjadi bagian vital kebutuhan tubuh manusia agar tetap sehat.

Garam menjadi komoditas strategis dunia, pemicu peperangan Garam menjadi komoditas strategis dunia, pemicu peperangan

Tumpukan garam yang telah ditambang, di

Mount Morris, New York

Sekitar abad 12an, pedagang dari kerajaan Mali di Afrika menghargai garam sangat tinggi, disamakan dengan harga emas. Perdagangan ini mendorong negara di Eropa mengekspor garam. Dalam perjalanan waktu, garam telah memainkan peran penting dalam menentukan kekuatan dan lokasi kota besar di dunia. Kota Liverpool, misalnya bangkit dari hanya pelabuhan kecil di Inggris untuk dijadikan sebagai pelabuhan ekspor utama garam. Dengan garam, akhirnya kota ini menjadi besar dan menjadi pusat pelabuahan garam dunia di abad ke-19.

(4)

Standar Mutu

SEJARAH GARAM DAN AWAL DITEMUKAANNYA

SEJARAH GARAM DAN AWAL DITEMUKAANNYA

Garam menjadi komoditas strategis dunia, pemicu peperangan Garam menjadi komoditas strategis dunia, pemicu peperangan

Garam juga menjadi pemicu dalam memicu perang kerajaan-kerajaan. Pada abad 16, Polandia merupakan kerajaan besar penghasil komoditas tambang garam.

Kerajaan ini hancur ketika Jerman mampu menghasilkan garam laut yang dianggap lebih unggul dari batu garam. Cerita garam lain yang berkaitan dengan perang adalah Venice, yang berjuang memenangkan perang dengan Genoa. Christopher Columbus dan Giovanni Caboto menghancurkan perdagangan Mediterania dengan memperkenalkan garam ke pasar Eropa

Dalam skala kota, garam juga menjadi objek pungutan pajak. Kota Munich di Jerman, misalnya terbentuk pada tahun sekitar 1150an karena pajak garam. Di Amerika, revolusi Amerika terjadi karena salah satu strategi peperangan Inggris dengan menutup masuknya garam ke Amerika. Di India, garam menjadi pemicu gerakan kemerdekaan.

Mohandas Gandhi mengorganisir Salt Satyagraha protes untuk berdemonstrasi menentang pajak garam dari Inggris. Di Indonesia, garam memiliki nilai strategis dari kerajaan Hindu Budha, kolonial Belanda hingga kini.

Salah Satu Tambang Garam Tertua Di Dunia Wieliczka, Polandia beroperasi sejak abad 13. (800ribu pengunjung tiap

tahun)

(5)

Standar Mutu

SEJARAH GARAM DAN AWAL DITEMUKAANNYA

SEJARAH GARAM DAN AWAL DITEMUKAANNYA

Garam di Indonesia Garam di Indonesia

Dalam prasasti abad IX-XV Masehi diketahui garam merupakan komoditas penting yang dibawa kapal untuk pengawetan ikan. Sekitar abad 18an, tambak besar penghasil garam di sekitar Sumenep Madura dan Gresik Jawa Timur dikuasahi oleh orang Tionghoa. Adanya pergantian kekuasaan oleh pemerintah kolonial Belanda, segera mengambil alih dan memonopoli tambak garam milik orang Tionghoa. Dalam perkembangannya, monopoli pemerintah kolonial tidak hanya di Jawa dan Madura. Pemerintah kolonial Belanda memperluas monopoli sampai Sumatra dan Kalimantan. Jaman Jepang produksi garam di Jawa berhenti. Setelah kemerdekaan, monopoli garam dihapus. Perusahaan Negara mengambil alih tata niaga garam

Kondisi Tambak Garam Madura (tempo doeloe}

(6)

KEBIJAKAN GARAM NASIONAL

(7)

Industri Pangan Olahan

AIR LAUT

Pergaraman Rakyat

Industri Pemurnian (Purifikasi)

Industri Soda Abu

Industri CAP Industri Farmasi

Pergaraman Industri

Industri Catering/ Resto/

Hotel

Konsumen Rumah Tangga Bisnis

Iodisasi Bisnis

Pencucian Garam

K1

K2

K3

Pangan Saat masak/saji

Pangan Siap santap

Garam Bumbu masak

Standar Mutu

Standar Mutu

Standar Mutu

Garam Konsumsi Beryodium

IMPORT

Industri Pengasinan Ikan, Industri Pakan Ternak dan Industri Perkebunan

GAMBARAN UMUM USAHA GARAM DI INDONESIA

GAMBARAN UMUM USAHA GARAM DI INDONESIA

Standar Mutu

(8)

1. Kebutuhan garam nasional rata-rata tiap tahunnya sebesar 3,8 juta ton terdiri dari garam konsumsi (garam meja, pengasinan ikan dan lain-lain) sekitar 1,6 juta ton dan garam industri 2,2 juta ton.

2. Garam untuk konsumsi telah dapat dipenuhi dari produksi lokal namun untuk industri masih harus diimpor karena kualitas belum dapat memenuhi standar industri (kadar NaCl >97% untuk garam industri, industri farmasi 99,5% serta memenuhi farma grade – Permen Perindustrian No. 88/2014) dan kuantitasnya belum mencukupi.

3. Produksi garam sangat tergantung pada iklim (musim kemarau), pada kondisi normal, 4 – 4,5 bulan dapat memproduksi 1,7 juta ton (produktivitas lahan rata-rata 80 ton/ha/musim).

4. Peningkatan produksi garam dapat dilakukan dengan intensifikasi dan ekstensifikasi lahan.

Standar Mutu

KONDISI GARAM NASIONAL SAAT INI

KONDISI GARAM NASIONAL SAAT INI

(9)

Lokasi Luas Lahan (Ha) Eksisting Prospektif

1. Jawa Barat 3.860 457

Cirebon 2,447 305

Indramayu 1,413 152

2. Jawa Tengah 3.752 206

Demak 1,245 -

Rembang 1,135 170

Pati 1,372 36

Lokasi Luas Lahan (Ha) Eksisting Prospektif

3. Jawa Timur 11.256 707

Pamekasan 2,163 417

Sampang 4,707 245

Sumenep 4,386 48

4. NTB 1.831 605

Bima 1.083 211

Lombok Timur 778 394

Lokasi Luas Lahan (Ha) Eksisting Prospektif

5. NTT 185 10.257

Kupang 174 7.800

Nagekeo 11 2.457

6. Sulawesi Selatan 1.236 2.471

Jeneponto 579 1.394

Takalar 434 622

Pangkep 223 485

TOTAL 22.064 13.447

1 2 3

4 5

6

Standar Mutu

LOKASI UTAMA LAHAN GARAM NASIONAL

LOKASI UTAMA LAHAN GARAM NASIONAL

(10)

• TEKAD

PEMERINTAH KURANGI IMPOR 50% UNTUK

SUBSTITUSI

IMPOR 1.000.000 ton

• KETERSEDIAAN LAHAN 27.000 Ha

• KUALITAS GARAM 60% KP I

• ASUMSI, MASA PRODUKSI 4-5 BULAN

• TEKAD

PEMERINTAH KURANGI IMPOR 50% UNTUK

SUBSTITUSI

IMPOR 1.000.000 ton

• KETERSEDIAAN LAHAN 27.000 Ha

• KUALITAS GARAM 60% KP I

• ASUMSI, MASA PRODUKSI 4-5 BULAN

TARGET TARGET

PENYEDIAAN LAHAN INTENSIF 10.000 Ha

PEMANFAATAN TEKNOLOGI TUF DAN GEOISOLATOR;

BANTUAN SARANA DAN PRASARANA PENUNJANG

PEMBINAAN DAN PENDAMPINGAN PROSES PRODUKSI

PENINGKATAN KAPASITAS SDM PETAMBAK GARAM

MENYIAPKAN PETAMBAK MENUJU KORPORATISASI

MENDORONG REGULASI

SWASEMBADA GARAM NASIONAL

PENYEDIAAN DATA YANG AKURAT

PENYEDIAAN LAHAN INTENSIF 10.000 Ha

PEMANFAATAN TEKNOLOGI TUF DAN GEOISOLATOR;

BANTUAN SARANA DAN PRASARANA PENUNJANG

PEMBINAAN DAN PENDAMPINGAN PROSES PRODUKSI

PENINGKATAN KAPASITAS SDM PETAMBAK GARAM

MENYIAPKAN PETAMBAK MENUJU KORPORATISASI

MENDORONG REGULASI

SWASEMBADA GARAM NASIONAL

PENYEDIAAN DATA YANG AKURAT

UPAYA KKP UPAYA KKP

• KETERSEDIAA N GUDANG PENYIMPANAN

• KETERSEDIAA N UPG

• KEMITRAAN INDUSTRI PENGGUNA, PENGOLAH DAN PETAMBAK

• TERJADINYA KEPASTIAN USAHA DAN STABILITAS HARGA

• KETERSEDIAA N GUDANG PENYIMPANAN

• KETERSEDIAA N UPG

• KEMITRAAN INDUSTRI PENGGUNA, PENGOLAH DAN PETAMBAK

• TERJADINYA KEPASTIAN USAHA DAN STABILITAS HARGA

PASCA PRODUKSI

PASCA PRODUKSI

Standar Mutu

KEBIJAKAN SWASEMBADA GARAM NASIONAL

KEBIJAKAN SWASEMBADA GARAM

NASIONAL

(11)

1. Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI)

a. SNI 01-4435-2000 Garam bahan baku untuk industri garam beryodium

b. SNI 3556:2010 Garam konsumsi beryodium c. SNI 0303:2012 Garam Industri Soda Kaustik

2. Keputusan Presiden No. 69/1994 tentang Pengadaan Garam Beryodium

3. Penerapan Sistem Evaporasi dan Kristalisasi bertingkat 4. Khusus untuk garam kualitas tinggi diperlukan meja

garam dari garam.

Standar Mutu

KEBIJAKAN NASIONAL DALAM RANGKA

PENINGKATAN KUALITAS GARAM NASIONAL KEBIJAKAN NASIONAL DALAM RANGKA

PENINGKATAN KUALITAS GARAM NASIONAL

(12)

1. Program Perbaikan Saluran Primer

Pembangunan Saluran Primer di Lahan Pergaraman

Pembangunan Saluran Primer di Lahan Pergaraman

Standar Mutu

KEBIJAKAN NASIONAL DALAM PENINGKATAN PRODUKSI GARAM NASIONAL = INTENSIFIKASI LAHAN

KEBIJAKAN NASIONAL DALAM PENINGKATAN PRODUKSI GARAM NASIONAL = INTENSIFIKASI LAHAN

Pembangunan Pintu Air dan Rumah Pompa

Pembangunan Pintu Air dan Rumah Pompa

(13)

2. Penggunaan Teknologi Tepat Guna a) Geomembra n

Geomembran, bahan plastik yang berfungsi untuk mempercepat proses penguapan (meningkatkan

produktivitas mencapai 30%) dan meningkatkan kualitas. Pemasangan geomembran telah dilakukan di

beberapa lahan di Kabupaten Buleleng.

Standar Mutu

KEBIJAKAN NASIONAL DALAM PENINGKATAN PRODUKSI GARAM NASIONAL = INTENSIFIKASI LAHAN

KEBIJAKAN NASIONAL DALAM PENINGKATAN PRODUKSI GARAM NASIONAL = INTENSIFIKASI LAHAN

Pengadaan dan Pemasangan Geomembran

Pengadaan dan Pemasangan Geomembran

b) Sistem Buka Tutup b) Sistem Buka Tutup

c) Sistem TUF c) Sistem TUF

(14)

USAHA GARAM

DI KAB. BULELENG

(15)

 Buleleng bukan sentra Garam Nasional, tapi masuk sebagi

Kabupaten Penyangga Garam Nasional

 Dalam rangka pengembangan usaha garan nasional, Buleleng telah menjadi lokasi PUGAR KKP RI sejak 2011-2016

Standar Mutu

KONDISI UMUM USAHA GARAM DI KAB.

BULELENG

KONDISI UMUM USAHA GARAM DI KAB.

BULELENG

 Dalam rangka mendorong usaha pergaraman, telah dilakukan intensifikasi dan ekstensifikasi tambak garam dan diversifikasi produk

 Bentuk Pembinaan yang telah

dilakukan PemKab: Bintek, Demplot

Penerapan TTG, Penyaluran Bantuan

Sarana Prasarana

(16)

PEJARAKAN - MADURIS

TEJAKULA

- TINJUNG DAN PALUNGAN-

LES – TINJUNG DAN GEOISOLATOR

Standar Mutu

LOKASI USAHA GARAM DI KAB. BULELENG LOKASI USAHA GARAM DI KAB. BULELENG

LUAS POTENSI = ±250 HA (DANUMAS 80Ha, TAD+HGU 130Ha, PRIBADI 30Ha).

LUAS LAHAN PRODUKSI  ±150 Ha (DANUMAS 30 Ha, TAD+HGU 90 Ha, PRIBADI 30 Ha)

LUAS LAHAN PUGAR 33,48 HA

JUMLAH KESELURUHAN PETAMBAK : 200 orang JUMLAH PETAMBAK PUGAR : 152 orang

JUMLAH KELOMPOK: 30 KUGAR dan 5 BUNG KUGAR

(17)

“UYAH BULELENG”

PEMUTERAN - GARAM PIRAMID DAN ANEKA RASA GARAM

TEJAKULA - YST NEOLOGIS-

Standar Mutu

LOKASI USAHA GARAM DI KAB. BULELENG

LOKASI USAHA GARAM DI KAB. BULELENG

(18)

2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 -

2,000.00 4,000.00 6,000.00 8,000.00 10,000.00 12,000.00 14,000.00 16,000.00

JUMLAH PRODUKSI ( TON )

TAHUN

Standar Mutu

PRODUKSI GARAM KROSOK DI KAB.

BULELENG

PRODUKSI GARAM KROSOK DI KAB.

BULELENG

(19)

SUMBER: KONSULTAN MANAJEMEN PUGAR KABUPATEN BULELENG

No Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk

(orang)

Kebutuhan Garam (kg/hari)

Kebutuhan Garam (ton/tahun)

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Jembrana Tabanan

Badung Gianyar Klungkung

Bangli Karangasem

Buleleng Denpasar

261.638 420.913 543.332 469.777 170.543 215.353 396.487 624.125 788.589

1.308 2.105 2.717 2.349

853 1.077 1.982 3.121 3.943

477,49 768,17 991,58 857,34 311,24 393,02 723,59 1.139,03 1.439,18

Jumlah Total 3.890.757 19.454 7.100,63

Standar Mutu

KEBUTUHAN GARAM KONSUMSI DI BALI DAN BULELENG

KEBUTUHAN GARAM KONSUMSI DI BALI DAN

BULELENG

(20)

PASAR DAN RANTAI PEMASARAN PERMODALAN HARGA GARAM (LAHAN, SAPRAS)

Standar Mutu

PERMASALAHAN USAHA GARAM RAKYAT DI KAB. BULELENG

PERMASALAHAN USAHA GARAM RAKYAT DI KAB. BULELENG

IKLIM

(21)

KABUPATEN BULELENG ADALAH SALAH SATU PENERIMA PROGRAM PNPM

MANDIRI KP PEMBERDAYAAN

USAHA GARAM RAKYAT (PUGAR)

BERTURUT- TURUT SEJAK

TAHUN 2011 SAMPAI DENGAN

TAHUN 2016 KABUPATEN

BULELENG ADALAH SALAH SATU PENERIMA PROGRAM PNPM

MANDIRI KP PEMBERDAYAAN

USAHA GARAM RAKYAT (PUGAR)

BERTURUT- TURUT SEJAK

TAHUN 2011 SAMPAI DENGAN

TAHUN 2016

2011 2012 2013 2014 2015

1,150,000

1,413,300

1,189,300

832,730

1,486,000

800,000

1,100,000

825,000

300,000

906,311

TOTAL ANGGARAN BLM

TOTAL ANGGARAN PROGRAM PUGaR KABUPATEN BULELENG

(RP .000,-)

BANTUAN SAPRAS (NON BLM)

Standar Mutu

PROGRAM PEMBERDAYAAN USAHA GARAM RAKYAT

DI KAB. BULELENG 2011 - 2015

PROGRAM PEMBERDAYAAN USAHA GARAM RAKYAT

DI KAB. BULELENG 2011 - 2015

(22)

GARAM PIRAMID

GARAM PIRAMID

 GARAM PIRAMID ADALAH PRODUK OLAHAN GARAM KROSOK ANDALAN KABUPATEN BULELENG

 GARAM PIRAMID DIPRODUKSI DENGAN TEKNOLOGI RUMAH KACA (GREEN HOUSE EFFECT) DALAM PROSES EVAPORASI DAN KRISTALISASINYA

 GARAM PIRAMID ADALAH HASIL USAHA DIVERSIFIKASI PRODUK GARAM UNTUK MENAMBAH NILAI JUAL YANG MENYASAR PASAR EKSPOR DI ASIA TIMUR MAUPUN EROPA DENGAN PENGGUNAAN SEBAGAI KONSUMSI DAN NON KONSUMSI

(23)

“UYAH BULELENG”

PEMUTERAN - GARAM PIRAMID DAN ANEKA RASA GARAM

TEJAKULA - YST NEOLOGIS-

Standar Mutu

LOKASI USAHA GARAM PIRAMID DI KAB.

BULELENG

LOKASI USAHA GARAM PIRAMID DI KAB.

BULELENG

(24)

KONSUMSI GARAM NATURAL KONSUMSI

GARAM NATURAL GARNISH

GARNISH

Standar Mutu

PENGGUNAAN GARAM PIRAMID PENGGUNAAN GARAM PIRAMID

SPA / WISATA PEREMAJAAN KULIT SPA / WISATA PEREMAJAAN KULIT

DETOKSIFIKASI DETOKSIFIKASI

(25)

TEKNOLOGI RUMAH KACA

TEKNOLOGI RUMAH KACA

1 PEMILIHAN BAHAN BAKU

1 PEMILIHAN BAHAN BAKU

2 PELEBURAN BAHAN BAKU

2 PELEBURAN BAHAN BAKU

3

PENGENDAPAN/

PENYARINGAN AIR GARAM

3

PENGENDAPAN/

PENYARINGAN AIR GARAM

4

PENJEMURAN AIR GARAM

4

PENJEMURAN AIR GARAM 5

PEMANENAN PENGERINGAN HASIL PRODUKSI

GARAM 5 PEMANENAN PENGERINGAN HASIL PRODUKSI

GARAM 6 PENGAYAKAN DAN SORTASI JENIS GARAM

6 PENGAYAKAN DAN SORTASI JENIS GARAM

(26)

Standar Mutu

KEBIJAKAN KEDEPAN DALAM RANGKA PENGEMBANGAN

USAHA GARAM RAKYAT DI KAB. BULELENG KEBIJAKAN KEDEPAN DALAM RANGKA

PENGEMBANGAN

USAHA GARAM RAKYAT DI KAB. BULELENG

Pengembangan Usaha Garam Rakyat di Kab. Buleleng tetap menjadi program proritas untuk dikembangakan kedepannya, dengan beberapa paket kebijakan berupa:

1. Peningkatan Usaha Garam Rakyat melalui Intensifikasi Pengelolaan Usaha Garam Rakyat dengan tujuan peningkatan kualitas dan kuantitas produksi. Intensifikasi Pengelolaan Usaha Garam Rakyat dilakukan melalui Penerapan TTG, Optimalisasi Pengelolaan Sapras serta Optimalisasi Unit Pengolahan Garam (UPG).

2. Peningkatan Usaha Garam Rakyat melalui Diversifikasi Produk dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dan harga garam. Petambak Garam diharapkan tidak saja menghasilkan garam krosok tapi kedepannya dapat memproduksi garam ber-yodium serta meningkatkan produk garam piramid. Diversifikasi produk garam dilukan melalui penerapan TTG dalam pengolahan garam dan packaging.

3. Meng-Inventarisasi lahan-lahan produktif untuk usaha tambak garam serta melindungi lahan yang telah ada agar tidak ber-alih fungsi.

4. Menjamin harga pasar dan rantai pemasaran berjalan dengan baik.

5. Mendorong Petambak Garam untuk meningkatkan aspek permodalannya melalui pemanfaatan skema- skema kredit yang ada, baik itu dari KUR Bank Konvensional, Koperasi LEPP-M3 Putra Mina Samudera, kredit dari Lembaga Penjaminan Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPUM-KP) maupun skema kredit lainnya.

6. Meningkatkan kerjasama seluruh stakeholder yang ada (Pemerintah/ Desa, Masyarakat, Swasta, Perguruan Tinggi, Pengepul/ Distributor dll) untuk bersama-sama membangun usaha garam rakyat yang ada di Kab. Buleleng.

7. Meningkatkan Tata Kelola Kelembagaan Kelompok Garam dan Koperasi Garam.

8. Meningkatan pendampingan terhadap pelaku utama usaha garam rakyat.

9. Menjadikan usaha garam rakyat yang ada di Kab. Buleleng sebagai bagian dari usaha untuk membangun pariwisata Bali dan Buleleng pada khususnya.

(27)

TERIMA KASIH

Dinas Perikanan Kab. Buleleng Jln. Kartini No 4 Singaraja 0362 - 21440

Referensi

Dokumen terkait

• Produk crumb rubber lebih dominan diekspor (85%) dan hanya sebagian kecil yang diserap dalam negeri, yaitu 422 ribu ton atau 15%. • Masih tingginya impor