• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL 1. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN GARAM NASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODUL 1. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN GARAM NASIONAL"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL 1. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN GARAM NASIONAL

1.1 Latar Belakang

Garam dibutuhkan oleh manusia dalam bentuk garam konsumsi dan sebagai bahan baku/penolong dalam industri. Kebutuhan terhadap garam tidak dapat digantikan, setiap orang mengkonsumsi lebih kurang 3 (tiga) kg garam per tahun dalam bentuk aneka pangan. Kebutuhan garam nasional berdasarkan data pada tahun 2009 sebesar 2.779.429 ton dengan rincian sebagai berikut: (i) Garam CAP 1.461.470 ton; dan (ii) Garam Non CAP 1.317.959 ton, dari total kebutuhan tersebut sebesar 1.822.629 ton dipenuhi melalui impor . Kebutuhan garam setiap tahun meningkat rata-rata 2 – 4 persen. Ketergantungan pada garam impor khususnya untuk keperluan garam konsumsi sangat tidak mendukung ketahanan nasional.

Guna mendorong peningkatan kemampuan pemenuhan kebutuhan garam nasional melalui produksi dalam negeri, pada akhir tahun 2009 Pemerintah mencanangkan Program Swasembada Garam Nasional. Hal ini sangat dimungkinkan mengingat lahan potensial garam di Indonesia yang tersebar di 9 provinsi (Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Utara) luasannya mencapai 34.731 ha, akan tetapi baru sekitar setengahnya yang dimanfaatkan. Kualitas garam yang dihasilkan umumnya juga masih belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), demikian juga apabila dibandingkan dengan garam impor. Kualitas garam yang dihasilkan oleh Petambak memiliki kadar NaCl di bawah 94%, sedangkan garam konsumsi memerlukan kadar NaCl > 94,7%, garam industri memerlukan kadar NaCl di atas 99% (dry basis).

Distribusi dan pemasaran garam khususnya garam konsumsi selama ini dirasakan kurang efisien, hal ini disebabkan oleh karena Pegaraman berada di pinggir pantai (lokasinya terpencil) dengan kondisi sarana dan prasarana yang sangat terbatas. Faktor tersebut menjadi salah satu penyebab rendahnya harga yang diterima petambak garam, jauh lebih rendah dibandingkan harga di tingkat konsumen. Rendahnya harga di tingkat petambak garam akan menurunkan daya tarik bagi masyarakat/petambak dalam memproduksi garam, hal ini akan berdampak secara nasional yaitu ketergantungan Indonesia kepada garam impor akan semakin tinggi. Ketergantungan pada garam impor khususnya untuk keperluan garam konsumsi sangat tidak mendukung ketahanan nasional karena garam adalah komoditi yang secara terus menerus dibutuhkan oleh seluruh masyarakat sehingga dapat dikatagorikan sebagai komoditi strategis.

Dengan demikian, persoalan dari tahun ketahun adalah : (i) lemahnya kelembagaan dalam produksi garam rakyat; (ii) infrastruktur dan fasilitas yang tidak memadai ; (iii) sulitnya akses permodalan ;( iv) system tata niaga yang tidak berpihak pada petambak; serta (v) kebijakan importasi

(2)

tidak menguntungkan petambak. Berdasarkan kondisi permasalahan tersebut diatas maka pegaraman rakyat perlu segera dibenahi dengan dukungan intervensi pemerintah berupa kebijakan, strategis dan upaya melalui Program Swasembada Garam Nasional. Melalui Program Swasembda Garam Nasional tersebut diharapkan penanganan Pegaraman rakyat dapat dilakukan secara konprehensif, sinkronisasi lintas sektor dan berkelanjutan.

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud uraian ini adalah untuk memberikan arah kebijakan dan strategi serta perlunya upaya sinergis dan koordinatif terhadap penanganan persoalan dan tantangan nasional maupun global dalam Usaha Pegaraman rakyat. Blueprint ini diharapkan menjadi acuan awal bagi semua instansi terkait dalam pengembangan usaha garam rakyat sehingga mejadi pilar utama dalam pemenuhan kebutuhan garam nasional terutama dalam mencapai Swasembada Garam Nasional.

1.3 Visi dan Misi Swasembada Garam Nasional

VISI : Pegaraman rakyat sebagai pilar utama pemenuhan kebutuhan garam nasional. MISI : Mensejahterakan masyarakat petambak garam.

1.4 Permasalahan Pegaraman Nasional

Masalah yang dihadapi dalam pegaraman nasional antara lain : a. Lemahnya Kelembagaan dalam Produksi Garam Rakyat.

Beberapa hal yang menjadi penghambat upaya pemberdayaan komunitas petambak garam secara internal seperti rendahnya tingkat pendidikan, kepemilikan modal usaha dan aset produksi yang sangat terbatas (nilai investasinya sangat rendah), seperti lahan produktif yang secara teknis tidak memenuhi syarat sehingga nilai produktivitasnya juga rendah dan pada akhirnya mengakibatkan rendahnya tingkat pendapatan.

Dalam konstalasi tata niaga garam, posisi tawar (bargaining position) komunitas petambak garam sangat lemah disebabkan belum memiliki lembaga representasi yang solid dan kuat serta benar-benar memperjuangkan kepentingan petambak garam. Petambak garam secara individual lemah baik dari kualitas pendidikan dan kemampuan permodalan. Hal ini diperparah dengan sulitnya akses petambak garam terhadap lembaga pembiayaan/perbankan, informasi pasar dan teknologi. Kelemahan tersebut seperti lingkaran setan yang satu sama lain terikat dan saling mempengaruhi. Petambak yang pendidikannya rendah akan mengolah garamnya secara tradisional, belum adanya inovasi teknologi

(3)

baru karena keterbatasan permodalan, sehingga produktivitas usaha garam rakyat dan tingkat pendapatannya masih rendah.

Kelembagaan petambak garam merupakan suatu keharusan bila tidak ingin hal tersebut menjadi kendala yang berkepanjangan, khususnya menghadapi globalisasi perdagangan dengan kuatnya tekanan ekonomi pasar. Seiring dengan arus indutrialisasi, petambak garam seharusnya tidak hanya menjadi buruh atau penyedia bahan baku, tetapi menjadi bagian yang terlibat secara aktif dalam proses dan dapat menikmati hasil industrialisasi.

Adanya kelembagaan dapat mengurangi kelemahan petambak secara individual dan memudahkan penanganan oleh pemerintah atau pihak lain. Dengan tergabung dalam suatu kelompok yang memiliki kepentingan yang sama, segala sesuatu lebih mudah diperjuangkan. Bantuan, pembinaan dan fasilitasi lebih mudah dilakukan kepada kelompok daripada individual, demikian pula aspek pertanggungjawabannya. Disamping itu lembaga representasi komunitas petambak garam yang amanah dan profesional diharapkan dapat menjadi penyeimbang lembaga representasi produsen garam olahan yang selama ini eksis menguasai pasar nasional serta secara bersama-sama dapat mewarnai kebijakan atau peraturan yang berkaitan dengan tata niaga garam.

b. Infrastruktur dan Fasilitas Produksi yang tidak Memadahi.

Prinsip manajemen modern senantiasa mengedepankan efektifitas dan efisiensi produksi, dan terciptanya produk dengan harga kompetitif dan mutu yang baik. Fasilitas produksi petambak garam yang masih tradisional menimbulkan biaya tinggi terutama biaya handling dan angkutan. Kondisi ini masih ditambah ketersediaan dan kualitas infrastruktur yang kurang memadai seperti jalan-jalan yang sulit dilalui kendaran besar sehingga menghambat akselerasi distribusi pengiriman, kondisi jalan setapak ke lahan pegaraman yang mengharuskan memakai tenaga manusia untuk mengangkut ke gudang penampungan dan jalan besar (titik pengepul). Akibat kondisi tersebut biaya produksi cukup tinggi dan berdampak pada harga jual yang kurang kompetitif. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya apresiasi pedagang dan pabrikan terhadap kelayakan dan kepantasan harga di tingkat petambak garam.

c. Sulitnya Akses Permodalan.

Permodalan menjadi masalah klasik bagi kalangan usaha kecil, termasuk petambak garam, karena keterbatasan modal usaha bagi petambak garam pada akhirnya bepengaruh terhadap kualitas dan kuantitas hasil produksi. Berkembangnya pola ijon di kalangan petambak garam yang umumnya sulit mengakses lembaga perbankan menyebabkan petambak garam yang terjebak dengan pola ijon tersebut. Apalagi pada awal usaha garam rakyat memerlukan biaya tinggi. Keterbatasan modal juga menyebabkan petambak sulit berinvestasi dalam teknologi untuk memperbaiki produktivitas dan mutu

(4)

serta minimalisasi biaya. Kondisi ini mengakibatkan pola pengelolaan secara tradisional cenderung tinggi biayanya secara ekonomis karena skala usaha kecil, tingkat produksi dan mutu rendah mengakibatkan harga jual garam rakyat rendah pula.

Pengelolaan komoditas garam rakyat oleh petambak garam mulai masa produksi hingga distribusi penjualan masih dilakukan secara tradisional tanpa mempedulikan prinsip-prinsip manajemen pengelolaan yang baik. Keterbatasan pengetahuan dan akses terhadap lembaga perbankan menjadi penghambat internal di tengah himpitan biaya hidup keluarga, sehingga bagi petambak garam segala usahanya dilakukan apa adanya sesuai dengan yang diketahuinya. kondisi ini menjadi masalah karena tiadanya perhitungan akurat, petambak cenderung boros menggunakan tenaga kerja dan peralatan produksi tanpa menghitung efektifitas dan efisiensi biaya, menjual hasil produksinya dengan secepat mungkin karena tuntutan biaya hidup keluarganya sehingga tidak diketahui secara pasti laba rugi usahanya dalam satu musim.

d. Sistem Tata Niaga yang tidak berpihak pada Petambak.

Tata niaga garam tidak terlepas dari 3 hal pokok yang sering menjadi masalah bagi petambak garam, yaitu harga, mutu, dan distribusi produk. Harga, di tingkat petambak garam masih bergantung pada mekanisme pasar, walaupun dari beberapa peraturan yang berlaku hingga saat ini terdapat patokan harga di tingkat titik pengepul (collecting point) di sentra-sentra garam rakyat. Namun patokan harga tersebut bukan merupakan harga dasar (flooring prize) berdasarkan tingkatan kualitas, tetapi harga minimal yang harus dicapai pihak produsen/importir dalam pembelian garam rakyat sebagai syarat untuk mendapatkan fasilitas importasi garam.

Penentuan harga dalam realisasinya belum dilaksanakan, tidak dilakukan secara konsisten dan konsekuen meskipun telah ditetapkan dan diatur keputusan pemerintah pusat. Kuatnya posisi pihak pabrikan yang menempatkan orang-orang di daerah sentra untuk melaksanakan pembelian dengan harga di bawah ketentuan mengakibatkan petambak tidak punya alternatif pilihan. Kondisi tersebut membuat petambak garam pada posisi lemah dan senantiasa rugi.

Belum adanya standarisasi mutu yang baku dan disepakati stakeholders terkait, setidak-tidaknya oleh petambak garam dan pihak pabrikan/produsen garam olahan sangat merugikan petambak. Selama ini penentuan mutu oleh pabrikan secara sepihak berdasarkan hasil visualisasi produk. Petambak garam tidak mengetahui secara pasti spesifiksi teknis kelas/grade mutu dan harga yang berlaku. Keterbatasan akses informasi dimanfaatkan pabrikan dalam penentuan mutu produk garam petambak. Pihak pabrikan kurang memberikan apresiasi harga yang layak terhadap mutu produk petambak. Sedangkan di sisi lain ketergantungan petambak garam terhadap pabrikan/produsen garam olahan yang makin kuat menjadi titik rawan sekaligus kelemahan petambak garam dalam

(5)

menjual hasil produksinya, dan bila kondisi ini tetap berlangsung maka kehidupan petambak garam tetap terpuruk.

Distribusi produk merupakan alur perjalanan panjang dan rumit bagi petambak garam untuk sampai pada konsumen akhir (end users). Hasil produksi petambak garam (garam rakyat) belum mampu menembus area pasar potensial karena keterbatasan akses dan kuatnya jaringan pedagang antar pulau. Sebagai garam bahan baku, garam rakyat produksi petambak garam hanya memasok kebutuhan garam konsumsi, sedangkan kebutuhan terhadap garam industri masih harus diimport dari Australia. Permasalahan akan timbul apabila garam import mendistorsi atau merembes ke pangsa pasar garam konsumsi sehingga distribusi garam rakyat tersumbat dan harga anjlok akibat kalah bersaing dalam hal kualitas dan harga. Kenakalan pihak importir yang semata-mata mengejar keuntungan tanpa mempedulikan nasib petambak garam, lemahnya regulasi tata niaga garam dan pengawasan menjadi sebab msalah tersebut.

e. Kebijakan Importasi yang tidak Menguntungkan Petambak

Regulasi tata niaga garam telah mengatur pengadaan garam beryodium, pengolahan, pengemasan dan pelabelan garam beryodium. Tetapi regulasi hanya bagus dari segi konsep dan teori, tetapi sulit diterapkan di tingkat grass root. Kuatnya peranan pengusaha membuat regulasi yang semula melindungi petambak menjadi malah merugikan petambak. Contoh yang paling terlihat adalah kebijakan penetapan harga awal (minimum price) yang bagus di tingkat peraturan tetapi jauh di tingkat petambak. Regulasi tentang importasi garam semula bertujuan melindungipetambak garam dalam konsideran ”untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petambak garam”, tetapi faktanya regulasi tersebut menjadi tidak efektif akibat mekanisme pengawasan yang lemah dan tidak adanya sanksi yang tegas bagi pelanggar. Lemahnya regulasi dan tidak adanya lembaga pengawas akan menyebabkan garam import berkeliaran bebas dan mendistorsi atau merembes ke pangsa pasar garam rakyat sehingga akan menyumbat distribusi garam rakyat, stock menumpuk, harga anjlok, dan pada akhirnya kehidupan petambak garam makin terpuruk.

1.5 Intervensi Pemerintah Untuk Pencapaian Swasembda Garam Nasional

Dalam mendukung ketahanan nasional dibidang pangan, pemerintah mencanangkan peningkatan kemampuan pemenuhan kebutuhan pangan pokok melalui produksi dalam negeri. Garam digolongkan kedalam jenis komoditi pangan yang akan dimasukan kedalam kelompok swasembada karena sifatnya yang sensitif, untuk itu kebijakan dan startegi serta upaya yang akan ditempuh adalah sebagai berikut :

(6)

a. Arah Kebijakan :

1. Meningkatkan peran kelembagaan petambak garam melalui pembentukan kelompok usaha bersama (KUB) untuk dapat berkembang sebagai entrepreneur.

2. Meningkatkan penanganan infrastruktur dan fasilitas produksi melalui pengadaan sarana dan prasarana produksi garam.

3. Meningkatkan pelayanan dan memberikan kemudahan untuk mengakses sumber permodalan usaha melalui : KUR, CSR. PNPM-KP dan sumber pembiayaan lain yang didukung oleh program advokasi manajemen usaha.

4. Mengembangkan pola kemitraan usaha melalui penerapan pola inti plasma dengan sistem Perusahaan Inti Rakyat (PIR) garam untuk menciptakan sistem tata niaga yang berfihak kepada petambak.

5. Mengkaji kembali kebijakan importasi garam yang tidak menguntungkan petambak melalui perumusan kebijakan dan tata aturan importasi yang tegas dan evaluasi pelaksanaan kegiatan importasi secara ketat.

b. Strategi

1. Meningkatkan peran kelembagaan lokal petambak garam, untuk membuka akses terhadap economic resources (lahan, modal dan pasar) yang bersinergi terhadap tumbuh kembangnya jiwa entrepreneurship dikalangan petambak garam melalui penguatan household farm dan satuan kelompok kerja perombong/penggarap (KUB) yang didukung oleh sosialisasi, bimbingan, pelatihan dan pendampingan dari pemerintah dan lembaga pelayanan masyarakat lainnya.

2. Meningkatkan penanganan infrastruktur dan fasilitas produksi agar lahan tambak potensial dan produktif dapat dikelola dengan baik untuk mendukung pencapaian Swasembada Garam Nasional melalui pengadaan sarana dan prasarana produksi garam yang didukung oleh koordinasi lintas sektor dalam menetapkan kebijakan dan penganggaran yang mencukupi baik dari pemerintah maupun dunia usaha.

3. Meningkatkan pelayanan dan memberikan kemudahan untuk mengakses sumber permodalan usaha agar petambak garam dan dunia usaha yang bergerak dibidang Pegaraman lebih bergairah dalam melakukan kegiatan usahanya melalui KUR, CSR. PNPM-KP dan sumber pembiayaan lainnya yang didukung oleh komitmen dan kebijakan Pemerintah, Perbankan dan lembaga keuangan lainnya serta program advokasi manajemen usaha.

4. Mengembangkan pola kemitraan usaha agar menjamin pasar dan harga yang layak, serta memiliki jaminan teknologi produksi garam melalui penerapan pola inti plasma dengan sistem Perusahaan Inti Rakyat (PIR) garam yang didukung dengan perjanjian kerjasama antara inti (Perusahaan Inti)

(7)

dan plasma (petambak garam) yang saling menguntungkan dan mengikat untuk jangka waktu tertentu yang dikoordinasikan oleh Pemerintah.

5. Mengkaji kembali kebijakan importasi garam yang tidak menguntungkan petambak agar kegiatan importasi garam dilakukan hanya sebagai subsitusi produksi dalam negeri bukan sebagai penopang utama pemenuhan kebutuhan garam nasional melalui perumusan kebijakan dan tata aturan importasi yang tegas dan evaluasi pelaksanaan kegiatan importasi secara ketat yang didukung dengan partisipasi seluruh komponen bangsa dan tata aturan yang jelas.

1.6 Upaya Penanganan

Sebagai dasar untuk implementasi pengembangan melalui intensifikasi Pegaraman secara komprehensip, maka pada tataran awal perlu adanya perencanaan terpadu pengembangan Pegaraman Nasional, sehingga mendapatkan kesatuan arah, keterkaitan serta kesinambungan antara kebijakan, strategi dengan upaya sehingga hasilnya akan sesuai dengan visi dan misi swasembda garam nasional mencakup kegiatan:

a. Intensifikasi Lahan Penggaraman Rakyat

Intensifikasi lahan Pegaraman rakyat sangat diperlukan untuk mengoptimalisasi lahan yang selama ini dikelolah secara tradisional oleh petambak sehingga dapat meningkatkan produktivitas maupun kualitas garam yang dihasilkan yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan masyirakat. Penanganan intensifikasi lahan garam rakyat tidak hanya difokuskan pada pentaan lahan tetapi juga dilakukan mengenai pengembangan prasarana; pembinaan dan pengembangan teknologi, distribusi dan pemasaran; serta peningkatan kualitas sumber daya manusia bagi areal atau sentra Pegaraman yang telah ada saat ini. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam mendukung penanganan program intensifikasi adalah :

1) Pemetaan lahan eksisting.

2) Pembuatan perencanaan optimalisasi areal Pegaraman rakyat meliputi tata letak dan kemungkinan penerapan teknologi tepat guna.

3) Penataan areal Pegaraman (Plant lay out secara umum maupun tata letak masing-masing individu lahan).

4) Pengembangan dan pembangunan Intake dan waduk serta rehabilitasi Saluran Primer dan Sekunder.

(8)

Gambar 1. Intensifikasi dan Ekstensifikasi untuk meningkatkan produksi garam b. Ekstensifikasi Pegaraman Nasional

Ekstensifikasi Pegaraman, penekanannya pada pengembangan fisik; pembinaan dan pengembangan Teknologi, distribusi dan pemasaran; serta Sumber Daya Manusia bagi areal atau sentra pegaraman potensial yang belum dimanfaatkan, utamanya di Kawasan Timur Indonesia dengan melakukan survey awal, pemetaan, studi kelayakan serta promosi investasi. Pengembangan tambak garam untuk mendukung pencapaian Swasemba Garam Industri Tahun 2015 diarahkan ke Kawasan Timur Indonesia yang memiliki areal potensial dengan kondisi alam yang sangat menguntungkan bagi usaha Pegaraman. Upaya yang akan dilaksanakan antara lain :

1. Pemetaan lahan potensial.

2. Penyelesaian identifikasi rinci daerah potensial garam industri skala besar. 3. Penyusunan master plan dan studi kelayakan pembangunan garam industri. 4. Penyusunan Detail Engineering Design (DED).

Program ekstensifikasi bisa terlaksana apabila ada kemauan politik dari Pemerintah karena secara umum investasi pengembangan mempunyai tingkat pengembalian yang relatif kecil.

c. Pengembangan Inovasi Teknologi Produksi

Langkah petani garam pada saat ini menjadi serba salah dalam rangka meningkatkan kualitas produknya. Meskipun dengan langkah swadaya yang terseok-seok sebenarnya petani sudah mampu meningkatkan mutu garamnya. Namun, peningkatan tersebut masih dilihat sebelah mata oleh kalangan industri. Untuk itu, pemerintah saat ini sangat serius membantu inovasi teknologi produksi Pegaraman rakyat, sehingga tidak ada lagi alasan bagi kalangan industri yang menolak produk garam rakyat.

(9)

diharapkan akan membantu proses pemilihan bahan baku garam rakyat yang mutunya tidak seragam. Masalah lain yang memerlukan solusi teknologi adalah proses penguapan atau kristalisasi yang digolongkan menjadi garam muda dan garam tua. Garam muda adalah proses penguapan air laut pada media kristalisasi yang dilakukan secara total dengan waktu yang relatif pendek, sehingga hanya diperoleh garam dengan kadar NaCl yang rendah dan mengandung kadar Ca dan Mg yang relatif tinggi serta cenderung berifat impuritas tinggi atau kotor. Sedangkan garam tua adalah garam yang diperoleh dengan proses pengkristalan yang memadai pada kondisi kepekatan antara 24°-25° Be atau derajat kepekatan suatu larutan. Dengan memperbaiki usaha garam rakyat secara konsisten diharapkan akan tercipta swasembada garam secara nasional.

Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengembangan inovasi teknologi adalah antara lain : 1) Sosialisasi mengenai optimalisasi areal atau petak pegaraman melalui penerapan teknologi tepat

guna yang akan dilakukan di suatu wilayah/sentra pegaraman sebagai pilot project.

2) Penerapan peningkatan teknik pengaturan air, pemeliharaan meja kristalisasi, pungutan garam dan operasi pasca pungutan garam.

3) Penerapan teknologi mix farming.

4) Kajian terhadap penerapan bahan aditive sebagai katalisator (pemutih) untuk digunakan pada lahan tambak garam rakyat.

d. Fasilitasi Penyediaan Dana

Bekerjasama dengan Lembaga Keuangan/Bank untuk dapatnya lebih berperan aktif membantu petambak dalam rangka penyediaan dana dan modal keja pada saat musim produksi.

Keberhasilan pelaksanaan Program Swasembda Garam Nasional sangat tergantung kepada kesadaran kuat dari aparatur pemerintahan, petambak garam, pengusaha dan segenap stakeholders yang terkait. Dengan pemahaman yang tepat terhadap potensi, isu, dan permasalahan pengelolaan garam rakyat, serta dengan kebulatan tekad untuk mengerahkan segenap kemampuan terbaiknya di dalam memberdayakan potensi serta mencari solusi pemecahan isu, segenap stakeholders usaha garam rakyat akan dapat menggalang kebersamaan dengan seluruh masyarakat demi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petambak garam.

Sasaran yang ingin dicapai dari program Swasembda Garam Nasional adalah (1) Pemenuhan kebutuhan garam konsumsi Tahun 2012; (2) Pemenuhan Garam Industri Tahun 2015; (3) Meningkatnya daya saing produksi garam rakyat untuk melepas ketergantungan terhadap garam impor; (4) Terwujudnya kelembagaan yang mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat petambak garam.

(10)

Pengembangan garam rakyat dihadapkan pada berbagai kendala, untuk mengatasi hambatan tersebut maka dirumuskan kebijakan Swasembada Garam Rakyat. Peran pemerintah daerah dalam hal ini sangatlah strategis, komunikasi dan kerjasama akan terus ditingkatkan baik ditingkat pusat maupun di daerah sehingga upaya pengembangan garam nasional oleh Instansi/Kementerian dan Pemerintah Daerah dapat saling bersinergi, terpadu dan berkesinambungan.

(11)

MODUL II. MANAJEMEN PRODUKSI GARAM

2.1 Latar Belakang

Garam merupakan salah satu kebutuhan yang merupakan pelengkap dari kebutuhan pangan dan merupakan sumber elektrolit bagi tubuh manusia. Kebutuhan garam dengan kualitas baik saat ini banyak diimpor dari luar negeri, terutama garam beryodium serta garam industri. Perlu kita ketahui bahwa kebutuhan terhadap garam tidak dapat digantikan, setiap orang mengkonsumsi lebih kurang 3 (tiga) kg garam per tahun dalam bentuk aneka pangan. Kebutuhan garam yang dibuat dari air laut ini setiap tahun meningkat rata-rata 2–4 %. Kebutuhan garam nasional berdasarkan data pada tahun 2009 sebesar 2.779.429 ton dengan rincian sebagai berikut: (i) Garam CAP 1.461.470 ton; dan (ii) Garam Non CAP 1.317.959 ton, dari total kebutuhan tersebut sebesar 1.822.629 ton dipenuhi melalui impor. Ketergantungan pada garam impor khususnya untuk keperluan garam konsumsi tidak mendukung ketahanan nasional.

Pegaraman rakyat pada saat ini belum mampu menghasilkan kualitas garam yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan tidak dapat bersaing dengan garam impor. Kualitas garam yang dihasilkan oleh Petambak memiliki kadar NaCl di bawah 94%, sedangkan garam konsumsi harus memenuhi kadar NaCl > 94,7% dan garam industri di atas 99% (dry basis). Kualitas garam yang dikelola secara tradisional pada umumnya harus diolah kembali untuk dijadikan garam konsumsi maupun untuk garam industri. Jenis garam dapat dibagi dalam beberapa kategori seperti; kategori baik sekali, baik dan sedang. Dikatakan berkisar baik sekali jika mengandung kadar NaCl >95%, baik kadar NaCl 90–95%, dan sedang kadar NaCl antara 80–90% tetapi yang diutamakan adalah yang kandungan garamnya di atas 95%. Untuk mendapatkan garam yang berkualitas diperlukan teknologi yang tepat guna, proses produksi, lingkungan serta sumber daya manusia yang profesional di bidangnya.

2.2 Deskripsi Singkat

Uraian ini berisi tentang cara persiapan produksi dan peralatan pada garam rakyat, cara mengendalikan mutu lahan tambak garam, penentuan pola produksi, peminihan, pembuatan air tua, kristalisasi, faktor non teknis yang mempengaruhi produksi garam, panen, pengangkutan, pemasukan, serta metode dasar pengemasan.

2.3 Petunjuk Penggunaan a. Bagi Pembaca :

(12)

2) Pelajari baik teori, praktek serta evaluasi dari awal sampai akhir, 3) Siapkan alat dan bahan praktek sesuai petunjuk,

4) Diskusikan dengan pelatih, jika ada hal-hal yang perlu penjelasan, 5) Lakukan evaluasi mandiri sebelum melakukan praktek.

b. Bagi Pelatih :

1) Lakukan penjelasan tentang cara menggunakan Petunjuk ini, 2) Lakukan evaluasi penguasaan materi sebelum melakukan praktek, 3) Mendemonstrasikan lebih dahulu sebelum Pembaca melakukan praktek, 4) Membimbing Pembaca melalui tugas-tugas pelatihan yang disarankan, 5) Membantu Pembaca untuk menentukan sumber belajar lain,

6) Mencatat dan mendata kemajuan belajar Pembaca, 7) Melakukan penilaian dan evaluasi,

8) Memberikan masukan dan saran dari hasil evaluasi yang dilakukan. 2.4 Waktu

Pelaksanaan praktek dialokasikan waktu selama ...Jam Pelajaran (JP) @ 45 menit, dengan rincian teori :...JP dan praktek :...JP

2.5 Metode Pembelajaran 1. Penjelasan/ceramah 2. Diskusi 3. Penugasan 4. Tanya jawab 5. Praktek 2.6 Media/Sarana 1. Laptop 2. White board 3. OHP 4. LCD 5. Spidol 6. Petunjuk Teknis

(13)

2.7 Tujuan Pembelajaran

2.7.1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)

Setelah mengikuti mata praktek ini pembaca diharapkan mampu memahami proses produksi pembuatan garam.

2.7.2 Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

Setelah mengikuti mata praktek ini pembaca diharapkan mampu a. Menentukan pola produksi garam,

b. Mengelola air di petak peminihan,

c. Melakukan evaporasi / penampungan air tua, d. Melakukan cara kristalisasi,

e. Melakukan pemanenan / pengumpulan garam f. Melakukan packing / pengemasan garam 2..8 Kompetensi

1. Kompetensi : Proses produksi garam

2. Subkompetensi : Proses Produksi, Panen dan Pengemasan. 2.9 Kriteria Untuk Kerja

a. Melakukan persiapan lahan dan peralatan dengan tepat dan benar.

b. Melakukan proses produksi, panen dan pengemasan dengan tepat dan benar. 2.10 Pengetahuan

a. Persiapan lahan dan peralatan

b. Manajemen mutu lahan tambak garam c. Pola proses produksi

d. Peminihan, evaporasi dan kristalisasi

e. Faktor non teknis yang mempengaruhi produksi garam f. Panen dan pengangkutan

g. Pengemasan. 2.11 Keterampilan

a. Mempersiapkan lahan dan peralatan b. Menentukan pola dan proses produksi. c. Melakukan pengemasan

(14)

2.12 Persiapan Produksi Garam

Penentuan musim produksi diambil dari rata-rata hasil pengamatan intern data stasiun cuaca di lahan pegaraman maupun extern data dari Badan Meteorologi dan Geofisika. Iklim di Indonesia secara umum dibagi dalam 2 (dua) musim yaitu musim kemarau (kering) dan musim hujan (basah), dimana batas keduanya kurang jelas sehingga permulaan dan akhir musim tersebut selalu berubah-ubah pada setiap tahunnya.

Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

Setelah mempelajari pokok bahasan ini pembaca diharapkan mampu memahami persiapan produksi dan peralatan pada garam rakyat serta dapat mengendalikan mutu lahan tambak garam.

(15)

POLA PRODUKSI GARAM

PERSIAPAN PRODUKSI

PROSES PRODUKSI WATER OPZET

PENGOLAHAN TANAH PUNGUT

DAN AIR TUA DARURAT

PROSES LAT

PROSES PUNGUTAN GARAM

PROSES ANGKUTAN GARAM

JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOP DES

PENGOP. LOOP WADUK PENGISIAN WADUK

PENGERINGAN LAHAN PROSES LAT S/D PUNGUTAN = 173 HARI

MASA PEMELIHARAAN PEMEL. SINTRIK & PERENC. VST

(16)

2.12.1 Persiapan Lahan Produksi Dan Peralatan Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyiapan lahan:

a. Penyiapan saluran pengaliran terdiri dari saluran pemasukan, saluran air muda, saluran air tua, saluran pengangkutan dan saluran pembuangan yang berfungsi untuk memasukkan dan mengalirkan air laut ke lahan pembuatan garam. Pekerjaan ini sudah harus selesai sebelum air laut dialirkan.

b. Penyiapan galengan yang berfungsi melindungi areal pegaraman. Profil galengan dikembalikan seperti semula agar memiliki kekuatan maksimum dan tanpa bocoran/serapan. Galengan meliputi : - Galengan sekitar tepi laut yang memiliki jarak minimal 3 m dari kaki bereman.

- Galengan disekitar saluran pembuangan dan saluran pengangkutan, dengan melakukan pengambilan tanah dari dasar saluran.

- Galengan peminihan termasuk galengan penghalang dengan mengambil jarak minimal 2 m dari kaki galengan. Galengan memiliki ukuran lebar atas 50 cm, kemiringan 1:1, tinggi minimal 25 cm lebih tinggi dari tebal air yang ditentukan di dalam peminihan dimana galengan penghalang tersebut berada.

(17)

Gambar 4. Meja Garam

c. Penyiapan lahan peminihan, dasar tambak dan meja bertujuan untuk mengembalikan bentuk profil dasar tambak, peminihan dan meja-meja tersebut kebentuk semula. Tambak, peminihan dan meja dapat mengalami perubahan akibat erosi pada musim hujan dan akibat lumpur tanah yang dibawa masuk oleh air laut sehingga dasar tambak lebih tinggi dari semestinya. Perbaikan dan pemulihan dasar tambak, peminihan dan meja-meja dilakukan dengan cara memperdalam dasar tambak, memperdalam atau meratakan lahan peminihan dan meratakan meja – meja. Pemadatan meja dapat dilakukan dengan mengguluk untuk kedua kalinya. Peminihan dan meja harus dibersihkan dari rumput-rumput sebelum air laut dialirkan.

d. Peralatan yang disiapkan adalah: - Pompa dan Mesin/Motor Penggerak.

(18)

Gambar 5. Kincir Angin

Gambar 6. Areal Tambak Garam

Kriteria unjuk kerja lahan pegaraman tersebut seharusnya memenuhi standar manajemen mutu lahan pegaraman sehingga diharapkan dapat memproduksi gram secara maksimal sesuai dengan metode yang diterapkan. Pengendalian standar manajemen mutu lahan pegaraman tersebut dapat dilihat pada (Tabel 1). berikut ini :

(19)

Tabel 1. Pengendalian Standar Manajemen Mutu Lahan Pegaraman

No Standar Kondisi yang diharapkan

1. Saluran Primer/Saluran Utama - Mampu memenuhi kebutuhan air laut untuk luas lahan yang dikelola kelompok.

- Dilengkapi pintu air untuk menahan adanya pasang surut air laut.

2. Saluran Sekunder/Saluran Cabang - Memenuhi kebutuhan untuk luas areal sentra kelompok kecil.

- Dilengkapi pintu air atau pompa air

- Kuantitas dan kualitas air laut memenuhi persyaratan.

3. Kolam Penampungan Pertama/ Waduk air muda/ Pengendapan

- Mampu memenuhi kebutuhan air kolam berikutnya secara kontinyu.

- Mampu mengendapkan lumpur secara sempurna.

- Dapat menampung air sebagai pengganti penguapan minimal 15 hari.

4. Kolam Penguapan/

Peminihan/Evaporator (3 – 22 °Be)

- Air yang meresap kebawah seminimal mungkin. - Kecepatan penguapan optimal.

- Proses pengendapan garam, calsium carbonat dan gypsum sempurna.

- Kedalaman air disesuaikan dengan kondisi cuaca dan iklim setempat, aliran (buka tutup pintu air) dilengkapi dengan saluran pengolahan air dan kincir _ngina tau pompa air.

5. Kolam air tua ( 23 – 25 °Be ) - Resapan air ke dalam tanah seminimal mungkin.

- Konsentrasi LAT 25 °Be. 6. Meja garam / meja kristalisasi

( 25 – 29 °Be )

- Rata dan padat.

- Resapan seminimal mungkin. - Lumpur sedikit mungkin. - Tebal air tua 3 – 5 cm.

- Pemeliharaan kristal garam tepat waktu. - Dilakukan pengamatan kristal garam. - Waktu panen > 10 hari.

- Meja kristal tidak berdekatan dengan air muda (kolam penguapan dengan meja tidak

(20)

- Tidak ada rembesan air muda / bocoran air. 7. Saluran Buangan - Dapat menampung air dari meja kristalisasi.

- Air dari saluran harus dibuang, tidak boleh di campur ke dalam kolam penguapan karena kandungan magnesium dapat menurunkan kualitas garam berikutnya.

8. Uji kualitas air dan garam - Standar satuan Baume meter (°Be). - Uji kadar air dari kadar NaCl. 9. Pengamatan kualitas dan kuantitas air

pada saluran, air laut, kolam penguapan / peminihan, meja kristalisasi

- Tersedianya data dan informasi produksi pegaraman yang lengkap dan akurat.

(21)

2.13 Proses Produksi Garam

2.13.1 Penentuan Pola Produksi

Penentuan awal musim pembuatan garam sangat penting dilakukan. Salah satu cara adalah dengan cara mengamati perilaku iklim yaitu curah hujan tahunan mendekati atau melebihi curah hujan tahunan rata-rata pada masing-masing lahan pegaraman.

2.1.13.2 Peminihan

a. Selama tiga hari pertama air laut yang keluar masuk digunakan untuk membersihkan waduk dari air hujan atau air tawar. Mulai hari keempat sesuai dengan perkembangan iklim, air laut mulai ditahan di dalam tambak sampai konsentrasi minimal 2 °Be atau 20 gram/liter.

b. Pompa-pompa besar mulai dijalankan untuk mengisi peminihan-peminihan dan meja-meja.

c. Setelah seluruh areal peminihan terendam air laut pintu air ditutup, sehingga tebal air di peminihan sesuai dengan urutan-urutannya memiliki ketebalan minimal 7,5 cm.

d. Bersamaan dengan pengaturan ketebalan air laut pada peminihan dimulai pekerjaan penimbangan konsentrasi air laut pada pintu air utama, di dalam tambak (sedikitnya di 3 tempat kalau tambaknya sangat luas) dan pada masing-masing peminihan tepatnya pada tempat-tempat dimana terdapat patok ukuran air yang dipasang.

e. Air laut ditimbang dengan Baume meter, pencatatan dilakukan secara tertib setiap hari selama musim pembuatan garam.

Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

Setelah mempelajari pokok bahasan ini pembaca diharapkan mampu memahami proses produksi garam mulai dari penentuan pola produksi, peminihan, pembuatan air tua, kristalisasi, pengangkutan, panen serta metode dasar pengemasan.

(22)

2.1.13.3 Penampungan Air Tua a. Pembuatan Air Tua

- Setelah peminihan tertua, yaitu yang letaknya paling rendah terendam air laut maka pengisian meja-meja kristalisasi harus melalui saluran air tua dan sekali-kali tidak boleh mengisinya langsung melalui saluran pembuangan. Pintu-pintu air dari saluran pembuangan segera ditutup.

- Mengisi meja-meja kristalisasi melalui saluran air tua dapat dilakukan tanpa mempergunakan pompa air tergantung letak saluran air tua dan meja-meja terhadap peminihan tertua.

- Pengisian meja-meja kristalisasi dilakukan secara kontinyu.

Gambar 7. Petak Air Tua (evaporasi) b. Pengolahan Tanah dan Air di Meja-meja

- Kesap pendahuluan dilakukan sebelum atau pada waktu air laut dialirkan untuk menghilangkan lumut-lumut. Kesap pertama dilakukan mulai dari meja terendah dalam satu seri, sehingga konsentrasinya mencapai maksimum 3 – 6 °Be.

- Guluk pertama pada meja dilakukan setelah kesap pertama selesai dan lahan dijemur hingga kering selama 1 – 2 hari, kemudian dasarnya diguluk menggunakan guluk kayu.

- Setelah meja mengalami proses kesap pertama dan guluk pertama konsentrasi air akan mencapai maksimum 10 –14 °Be. Selanjutnya dilakukan kesap kedua yang secara teknis sama dengan kesap pertama.

(23)

- Guluk kedua dilakukan 1 – 2 hari setelah kesap kedua pada kondisi dasar meja dalam keadaan kering. Pelaksanaan teknis guluk kedua sama seperti guluk pertama sehingga dasar meja yang sudah menjalani proses kesap kedua dan guluk kedua benar- benar bersih, rata, keras dan padat.

- Setelah air di dalam meja yang telah dikesap kedua dan guluk kedua, konsentrasi air akan mencapai maksimum 20 – 23 °Be selanjutnya dilakukan kesap penghabisan pada meja tersebut.

- Guluk penghabisan dilakukan 1 – 2 hari setelah kesap penghabisan dan pada kondisi dasar meja dalam keadaan kering. Pelaksanaan teknis guluk penghabisan sama dengan guluk pertama dan guluk kedua, dilakukan dengan menggunakan guluk beton besar sebagai syarat untuk persiapan lepas air.

Gambar 8. Guluk Tradisonal c. Pengeluaran Air Tua (L A T)

Setelah meja mengalami proses kesap penghabisan dan guluk penghabisan, serta timbangan air yang ada diatasnya telah mencapai 25 °Be, selanjutnya Lepas Air Tua (LAT) pada meja tersebut dapat dilakukan.

Proses LAT adalah sebagai berikut :

- LAT dilakukan antara jam 10.00 s/d 13.00, pada konsentrasi timbangan 25 °Be. - LAT pada meja-meja lainnya berurutan keatas di dalam seri yang sama.

Perlu diperhatikan ketertiban dalam melakukan pencatatan urutan timbangan air pada meja-meja dalam buku produksi setiap hari, ketebalan air pada masing-masing meja dijaga minimal 5 cm, meja

(24)

yang berfungsi sementara sebagai gentongan memiliki ketebalan air minimal 8 cm serta kekuatan persediaan air baik konsentrasi dan volumenya.

2.1.13.4 Kristalisasi

a. Setelah proses meja LAT berakhir terjadi kristalisasi garam, selanjutnya dilakukan pemeliharaan proses kristalisasi dalam meja yang sudah LAT dengan menambahkan air tua yang memiliki konsentrasi 25 - 29 °Be setiap hari ke dalam meja serta tetap menjaga ketebalan air minimal 5 cm, ke dalam meja kristal dilakukan penambahan brine dengan konsentrasi minimal 25 – 26 °Be. b. Pada sistem pungutan metode PT. GARAM (Persero), kristal garam dipelihara selama 30 hari

sebelum dilakukan perataan. Selang waktu dari LAT ke proses perataan selama 30 hari. Lapisan garam yang berumur 30 hari disebut lantai garam yang menjadi dasar pada pungutan garam selanjutnya. Pada metode maduris kristal garam dipelihara selama 15 – 20 hari, setelah itu langsung dipungut diatas lantai tanah.

Gambar 9. Kristalisasi Garam 2.1.13.5 Faktor yang Mempengaruhi Produksi Garam

a. Air Laut

Mutu air laut (terutama dari segi kadar garamnya (termasuk kontaminasi dengan air sungai), sangat mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk pemekatan (penguapan).

(25)

 Panjang kemarau berpengaruh langsung kepada “kesempatan” yang diberikan kepada kita untuk membuat garam dengan pertolongan sinar matahari.

 Curah hujan (intensitas) dan pola hujan distribusinya dalam setahun rata-rata merupakan indikator yang berkaitan erat dengan panjang kemarau yang kesemuanya mempengaruhi daya penguapan air laut.

 Kecepatan angin, kelembaban udara dan suhu udara sangat mempengaruhi kecepatan penguapan air, dimana makin besar penguapan maka makin besar jumlah kristal garam yang mengendap.

c. Tanah

 Sifat porositas tanah mempengaruhi kecepatan perembesan (kebocoran) air laut kedalam tanah yang di peminihan ataupun di meja.

 Bila kecepatan perembesan ini lebih besar daripada kecepatan penguapannya, apalagi bila terjadi hujan selama pembuatan garam, maka tidak akan dihasilkan garam. Jenis tanah mempengaruhi pula warna dan ketidakmurnian (impurity) yang terbawa oleh garam yang dihasilkan.

d. Pengaruh air

 Pengaturan aliran dan tebal air dari peminihan satu ke berikutnya dalam kaitannya dengan faktor-faktor arah kecepatan angin dan kelembaban udara merupakan gabungan penguapan air (koefisien pemindahan massa).

 Kadar/kepekatan air tua yang masuk ke meja kristalisasi akan mempengaruhi mutu hasil.

 Pada kristalisasi garam konsentrasi air garam harus antara 25–29°Be. Bila konsentrasi air tua belum mencapai 25°Be maka gips (Kalsium Sulfat) akan banyak mengendap, bila konsentrasi air tua lebih dari 29°Be Magnesium akan banyak mengendap.

2.1.13.6 Pemanenan / Pemungutan a. Sistem Portugis

Pungutan garam di atas lantai garam, yang terbuat dari kristal garam yang dibuat sebelumnya selama 30 hari, berikut tiap 10 hari dipungut.

b. Sistem Maduris

Pungutan garam yang dilakukan di atas lantai tanah, selama antara 10– 15 hari garam diambil di atas dasar tanah.

(26)

Teknis pemungutan garam secara umum adalah sebagai berikut: a. Perataan meja garam

- Lantai garam diratakan terlebih dahulu agar kristal garam yang terbentuk pada hari-hari berikutnya tidak melekat pada lantai garam untuk memudahkan pelaksanaan pungutan. - Perataan lantai garam dilakukan minimal oleh 3 orang pekerja menggunakan sorkot besi. - Pekerja yang bertugas meratakan dasar garam harus membersihkan kakinya sebelum masuk

ke meja, menghadap ke arah angin dan berjalan mundur secara hati-hati agar tidak merusak lantai garam.

- Meja diratakan dalam keadaan terendam air tua.

- Pungutan garam dilakukan setelah pekerjaan meratakan lantai garam selesai. b. Pungutan garam

- Dilakukan setelah 10 hari meja garam diratakan.

- Disiapkan profil untuk menentukan volume garam dan jembatan pungut.

- Kristal garam dilonggarkan menggunakan sorkot besi setiap 3 hari sekali untuk memudahkan proses pungutan garam.

- Pungutan dilakukan dengan menggunakan sorkot kayu.

- Kristal garam ditarik (dikais) dari tengah ke tepi meja, membentuk lenceran sejajar dengan galengan meja yang membujur ke arah pejemuran dalam jarak 1 m dari tepi galengan meja. Catatan :

Pada saat mengais kristal garam, ketebalan air tua dalam meja minimal 5 cm.

c. Garam hasil pungutan ditimbun di penjemuran yang terletak sejajar dengan meja terendah. Timbunan dibentuk menurut profil yang sudah dipersiapkan, ukuran disesuaikan dengan ukuran penjemuran.

d. Penjemuran terbuat dari batu kapur / batu karang yang kuat dan bersih, apabila penjemuran terbuat dari tanah dan dalam keadaan rusak, perlu dibuatkan alas dari dinding / anyaman bambu yang diletakkan di atas penjemuran untuk menjaga kebersihannya, sehingga garam tidak terkontaminasi dengan tanah atau debu.

e. Jika konsentrasi air tua kurang dari 29 °Be bisa dipergunakan dan ditambahkan air tua hingga ketebalannya minimal 5 cm.

f. Pungutan dilanjutkan setelah 10 hari kemudian dan seterusnya, hari pungut tidak boleh diperpendek meskipun sudah mendekati akhir musim garam.

g. Pungutan darurat dilaksanakan bila musim produksi tidak mungkin diteruskan, misalnya kondisi cuaca hujan terus menerus.

(27)

Gambar 10. Pemanenan / Pemungutan Garam 2.1.13.7 Pengangkutan dan Pemasukan Garam

a. Pengangkutan Garam

- Pengangkutan garam dilakukan dari timbunan garam pertama dengan tetap menjaga kebersihan garam.

- Semua garam hasil pungutan diangkut dan dimasukkan ke gudang.

(28)

b. Pemasukan Garam

Persiapan pemasukan garam:

- Pastikan kondisi dasar gudang dalam keadaan baik, tidak ada bagian cekung yang memungkinkan adanya genangan air.

- Selokan-selokan di sekeliling gudang dibersihkan agar air dapat mengalir.

2.1.13.8 Kualitas Garam

Garam yang diproduksi rakyat pada umumnya tidak mengalami pencucian, sehingga pada umumnya berkualitas rendah. Kadar NaCl dalam garam rakyat biasanya bervariasi sekitar 88 %. Oleh karena itu garam rakyat tidak dapat memenuhi standar kualitas garam untuk pembelian stok nasional. Sehingga harga jual garam rakyat cenderung rendah. Garam rakyat dikelompokan 3 jenis yaitu:

1. K-1

Yaitu kualitas terbaik yang memenuhi syarat untuk bahan industri maupun untuk konsumsi. Dengan komposisi sebagai berikut:

 NaCl : 97.46 %  CaCl2 : 0.723 %  CaSO4 : 0.409 %  MgSO4: 0.04 %  H2O : 0.63 %  Impurities: 0.65 % 2. K-2

Yaitu kulitas dibawah K-1, garam jenis ini harus dikurangi kadar berbagai zat agar memenuhi standart sebagai bahan baku industri. Secara fisik garam K-2 berwarna putih agak kecoklatan dan sedikit lembab.

3. K-3

Merupakan garam kualitas terendah, tampilan fisik yang putih kecoklatan dan bercampur lumpur. 2.1.13.9 Pengemasan / Packing

Pengemasan disebut juga pembungkusan, pewadahan atau pengepakan, dan merupakan salah satu cara pengawetan bahan hasil pertanian, karena pengemasan dapat memperpanjang umur simpan bahan. Pengemasan adalah wadah atau pembungkus yang dapat membantu mencegah atau mengurangi terjadinya kerusakan-kerusakan pada bahan yang dikemas / dibungkusnya. Sebelum

(29)

dengan kelobotnya, buah-buahan dengan kulitnya, buah kelapa dengan sabut dan tempurung, polong-polongan dengan kulit polong dan lain-lain. Manusia juga menggunakan kemasan untuk pelindung tubuh dari gangguan cuaca, serta agar tampak anggun dan menarik.

Gambar 12. Kemasan Garam Menggunakan Plastik PE

Fungsi paling mendasar dari kemasan adalah untuk mewadahi dan melindungi produk dari kerusakan-kerusakan, sehingga lebih mudah disimpan, diangkut dan dipasarkan. Secara umum fungsi pengemasan pada bahan pangan adalah :

1. Mewadahi produk selama distribusi dari produsen hingga kekonsumen, agar produk tidak tercecer, terutama untuk cairan, pasta atau butiran

2. Melindungi dan mengawetkan produk, seperti melindungi dari sinar ultraviolet, panas, kelembaban udara, oksigen, benturan, kontaminasi dari kotoran dan mikroba yang dapat merusak dan menurunkan mutu produk.

3. Sebagai identitas produk, dalam hal ini kemasan dapat digunakan sebagai alat komunikasi dan informasi kepada konsumen melalui label yang terdapat pada kemasan.

4. Meningkatkan efisiensi, misalnya : memudahkan penghitungan (satu kemasan berisi 1 kilo, 1 kwintal, 1 lusin, 1 gross dan sebagainya), memudahkan pengiriman dan penyimpanan. Hal ini penting dalam dunia perdagangan.

5. Melindungi pengaruh buruk dari luar, Melindungi pengaruh buruk dari produk di dalamnya, misalnya jika produk yang dikemas berupa produk yang berbau tajam, atau produk berbahaya

(30)

seperti air keras, gas beracun dan produk yang dapat menularkan warna, maka dengan mengemas produk ini dapat melindungi produk-produk lain di sekitarnya.

6. Memperluas pemakaian dan pemasaran produk. 7. Menambah daya tarik calon pembeli

8. Sarana informasi, iklan dan memberi kenyamanan bagi pemakai.

Di samping fungsi-fungsi di atas, kemasan juga mempunyai peranan penting dalam industri pangan, yaitu :

1. Pengenal jatidiri/identitas produk 2. Penghias produk

3. Piranti monitor 4. Media promosi

5. Media penyuluhan atau petunjuk cara penggunaan dan manfaat produk yang ada di dalamnya 6. Bagi pemerintah kemasan dapat digunakan sebagai usaha perlindungan konsumen

7. Bagi konsumen kemasan dapat digunakan sebagai sumber informasi tentang isi/produk, dan ini diperlukan dalam mengambil keputusan untuk membeli produk tersebut atau tidak.

Karakteristik dari berbagai jenis bahan kemasan adalah sebagai berikut : 1. Kemasan Kertas

 Tidak mudah robek

 Tidak dapat untuk produk cair

 Tidak dapat dipanaskan

 Fleksibel 2. Kemasan Gelas  Berat  Mudah pecah  Mahal  Non biodegradable  Dapat dipanaskan  Transparan/translusid

 Bentuk tetap (rigid)

(31)

3. Kemasan logam (kaleng)

 Bentuk tetap

 Ringan

 Dapat dipanaskan

 Proses massal (bahan padat atau cair)

 Tidak transparan

 Dapat bermigrasi ke dalam makanan yang dikemas

Non biodegradable

 Tidak dapat didaur ulang 4. Kemasan plastik

 Bentuk fleksibel

 Transparan

 Mudah pecah

Non biodegradable

 Ada yang tahan panas

 Monomernya dapat mengkontaminasi produk

(32)

Pemilihan jenis kemasan yang sesuai untuk bahan pangan, harus mempertimbangkan syarat-syarat kemasan yang baik untuk produk tersebut dan karakteristik produk yang akan dikemas. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu kemasan agar dapat berfungsi dengan baik adalah :

1. Harus dapat melindungi produk dari kotoran dan kontaminasi sehingga produk tetap bersih. 2. Harus dapat melindungi dari kerusakan fisik, perubahan kadar air, gas, dan penyinaran

(cahaya).

3. Mudah untuk dibuka/ditutup, mudah ditangani serta mudah dalam pengangkutan dan distribusi. 4. Efisien dan ekonomis khususnya selama proses pengisian produk ke dalam kemasan.

5. Harus mempunyai ukuran, bentuk dan bobot yang sesuai dengan norma atau standar yang ada, mudah dibuang dan mudah dibentuk atau dicetak.

6. Dapat menunjukkan identitas, informasi dan penampilan produk yang jelas agar dapat membantu promosi atau penjualan.

(33)

MODUL III TEKNIK PENGOLAHAN GARAM

3.1 Latar Belakang

Garam merupakan komoditi strategis sebagai bahan baku industri dan bahan pangan bagi masyarakat Indonesia. Dengan demikian, kegiatan produksi, penyediaan, pengadaan dan distribusi garam menjadi sangat penting dalam rangka menunjang kesehatan masyarakat melalui program iodisasi, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani garam maupun dalam rangka memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Namun kondisi pergaraman nasional sampai saat ini masih belum kondusif, hal ini terutama karena produksi garam, baik kuantitas maupun kualitas, masih belum mencukupi dan memadai untuk memenuhi kebutuhan garam nasional. Dimana kebutuhan garam nasional sekitar 3 juta ton per tahun terdiri dari atas garam konsumsi 1,5 juta ton dan garam industri 1,5 juta ton sedangkan total produksi garam nasional hanya 1,3 juta ton pertahun, sehingga untuk memenuhi pasar garam konsumsi saja garam rakyat masih belum mencukupi. Apalagi untuk memenuhi Kebutuhan garam industri dengan spesifikasi NaCl diatas 97%, kadar Ca dan Mg dibawah 400 ppm.Untuk garam industri 100% masih diimpor karena garam rakyat masih tidak memenuhi spesifikasi dengan alasan akan merusak peralatan dan maintenance menjadi tinggi karena kadar Magnesium (Mg) yang relatif tinggi disamping kadar NaCl nya yang masih rendah.

Pegaraman rakyat pada saat ini belum mampu menghasilkan kualitas garam yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan tidak dapat bersaing dengan garam impor. Kualitas garam yang dihasilkan oleh Petambak memiliki kadar NaCl di bawah 94%, sedangkan garam konsumsi harus memenuhi kadar NaCl > 94,7% dan garam industri di atas 99% (dry basis). Kualitas garam yang dikelola secara tradisional pada umumnya harus diolah kembali untuk dijadikan garam konsumsi maupun untuk garam industri. Pembuatan garam dapat dilakukan dengan beberapa kategori berdasarkan perbedaan kandungan NaCl nya sebagai unsur utama garam., Jenis garam dapat dibagi dalam beberapa kategori seperti; kategori baik sekali, baik dan sedang. Dikatakan berkisar baik sekali jika mengandung kadar NaCl >95%, baik kadar NaCl 90–95%, dan sedang kadar NaCl antara 80–90% tetapi yang diutamakan adalah yang kandungan garamnya di atas 95%.

Dunia usaha, karena beberapa alasan, cenderung lebih banyak menggunakan garam sebagai bahan baku/penolong yang bersumber dari impor. Hal inilah yang membuat pemerintah melakukan upaya pengaturan tata niaga garam melalui kebijakan impor garam dalam Keputusan Menteri

(34)

Perindustrian dan Perdagangan Nomor 20/M-DAG/PER/9/2005 diperbaharui dengan SK Menteri Perdagangan Nomor 44 tahun 2008 dengan tujuan untuk memberikan perlindungan yang wajar bagi petani garam sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya, sementara di sisi lain diharapkan agar dunia usaha dapat lebih banyak menggunakan garam produksi dalam negeri sebagai bahan baku/penolong selain yang bersumber dari impor.

Jadi pemerintah mengatur tata niaga garam dengan mengatur kuota impor dan kapan boleh melakukan impor dengan mewajibkan importir melakukan pembelian garam rakyat terlebih dahulu sebelum diberi kuota, artinya jika ingin impor 100 ribu ton maka perusahaan tersebut harus melakukan pembelian garam rakyat sebesar 100 ribu ton juga pada saat masa panen.

Namun dalam kenyataannya, masih banyak pelanggaran dari peraturan tata niaga garam tersebut. Diduga perusahaan/importir membeli garam rakyat tidak sesuai dengan data yang sebenarnya dan pelanggaran tata niaga garam lainnya dengan modus melakukan pembelian garam rakyat dengan harga grade 2 (K2) untuk garam rakyat yang notabene sebenarnya sudah masuk dalam kategori grade 1 (K1) sehingga mengakibatkan petani garam memproduksi garamnya tidak memperhatikan kualitas. Buat apa memproduksi K1 jika harganya tetap dianggap K2. Inilah yang akan membuat garam rakyat selalu sulit bersaing dengan garam impor secara kualitas, meskipun secara teknologi sebenarnya petani garam telah mampu untuk memproduksi garam dengan kualitas yang mendekati spesifikasi garam impor.

Untuk lebih meningkatkan kualitas produksi garam nasional maka diperlukan suatu standar produksi untuk menjamin mutu, meningkatkan daya saing dan memudahkan kelancaran kerja. Salah satu standar keamanan pangan yang berlaku di Indonesia adalah Standar Nasional Indonesia (SNI). 3.2 Deskripsi Singkat

Uraian ini berisi tentang pengertian standar, standardisasi, standar nasional Indonesia, Badan Standardisasi Nasional, standar internasional, perumusan standar serta bagaimana penerapan dan pemberlakuan standar tersebut. Selain itu juga dijelaskan beberapa cara pengujian kandungan NaCl dan KlO3 pada garam berdasarkan Standar Nsional Indonesi (SNI).

3.3 Prasyarat

Akan lebih mudah dipelajari dan dipahami apabila anda telah mempelajari tentang kebijakan garam nasional dan teknik dan proses pembuatan garam, Inovasi produksi garam.

(35)

3.4 Petunjuk Penggunaan a. Bagi Pembaca :

1) Baca petunjuk, deskripsi dan prasyarat dengan baik,

2) Pelajari baik teori, praktek serta evaluasi dari awal sampai akhir, 3) Siapkan alat dan bahan praktek sesuai petunjuk,

4) Diskusikan dengan pelatih, jika ada hal-hal yang perlu penjelasan, 5) Lakukan evaluasi mandiri yang terdapat sebelum melakukan praktek. b. Bagi Pelatih :

1) Lakukan penjelasan tentang cara menggunakan petunjuk ini, 2) Lakukan evaluasi penguasaan materi sebelum melakukan praktek, 3) Mendemonstrasikan lebih dahulu sebelum Pembaca melakukan praktek, 4) Membimbing Pembaca melalui tugas-tugas pelatihan yang disarankan,

5) Membantu Pembaca untuk menentukan sumber belajar lain selain Petunjuk ini, 6) Mencatat dan mendata kemajuan belajar Pembaca,

7) Melakukan penilaian dan evaluasi,

8) Memberikan masukan dan saran dari hasil evaluasi yang dilakukan. 3.5 Waktu

Pelaksanaan diklat dialokasikan waktu selama ...Jam Pelajaran (JP) @ 45 menit, dengan rincian teori :...JP dan praktek :...JP.

3.6 Metode Pembelajaran 1. Penjelasan/ceramah 2. Diskusi 3. Penugasan 4. Tanya jawab 5. Praktek 3.7 Media/Sarana 1. Laptop 2. White board 3. OHP 4. LCD 5. Spidol

(36)

6. Petunjuk Teknis 3.8 Tujuan Pembelajaran

1. Tujuan Pembelajaran umum (TPU)

Setelah mengikuti mata diklat ini Pembaca diharapkan mampu memahami pengertian Standar Nasional Indonesia serta paham bagaimana cara pengujian beberapa zat yang terdapat dalam garam.

2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

Setelah mengikuti mata diklat ini Pembaca diharapkan dapat mengetahui. pengertian Standar Nasional Indonesia serta paham bagaimana cara pengujian beberapa zat yang terdapat dalam garam.

3.9 Kompetensi

1. Kompetensi : Standar Produksi Garam Berdasarkan SNI 2. Subkompetensi : SNI garam beryodium.

3.10 Pengetahuan

1. Pengertian standar nasional Indonesia

(37)

3.11 Standar Nasional Indonesia (SNI)

3.11.1 Standar

Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan, disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat kesehatan, keamanan, keselamatan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berdasarkan pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yangsebesar-besarnya.

3.11.2 Standar Nasional Indonesia (SNI)

Adalah standar yang telah ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan berlaku secara nasional di Indonesia.

3.11.3 Standardisasi

Adalah proses merumuskan, merevisi, menetapkan dan menerapkan standar, dilaksanakan secara tertib dan bekerjasama dengan semua pihak.

3.11.4 Badan Standardisasi Nasional (BSN)

Adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen yang mempunyai tugas pokok mengembangkan dan membina kegiatan standardisasi di Indonesia.

3.11.5 Komite Akreditasi Nasional (KAN)

Adalah lembaga yang melaksanakan tugas dan fungsi BSN di bidang akreditasi. Anggota KAN terdiri dari wakil-wakil instansi pemerintah, dunia usaha, cendekiawan dan konsumen. KAN dibentuk dengan Keputusan Presiden.

3.11.6 Standar Internasional

Standar yang dirumuskan dan dipublikasikan oleh ISO/lEC dan lembaga internasional lain yang mempunyai ruang lingkup standardisasi serta standar ini dapat dijadikan pembanding atau bahkan dapat pula diadopsi sebagai standar nasional oleh suatu negara.

Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

Setelah mempelajari pokok bahasan ini pembaca diharapkan mampu memahami pengertian standar, standardisasi, Standar Nasional Indonesia, Standar Internasional, Penerapan Standardisasi dan sebagainya.

(38)

3.11.7 International Organization For Standardization (ISO)

Badan internasional di bidang standardisasi yang beranggotaan badan‑badan standardisasi nasional yang bertujuan untuk memajukan perkembangan standardisasi yang mempersiapkan dan menyediakan sarana pertukaran barang atau jasa, meningkatkan kerjasama dalam bidang intelektual, ilmu pengetahuan dan kegiatan ekonomi.

3.11.8 Codex Alimentarius Commission (CAC)

Badan yang dibentuk oleh organisasi di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yaitu Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO) dengan tujuan untuk membuat standar yang menjamin kesehatan dan keselamatan konsumen terhadap perdagangan produk makanan serta mengkoordinasikan pembuatan standar makanan yang dilakukan dalam kerjasama negara‑negara di dunia.

3.11.9 Perumusan Standar

Adalah kegiatan sejak pengumpulan dan pengolahan data untuk menyusun rancangan standar sampai ditetapkan sebagai standar setelah tercapainya kesepakatan (konsensus) dari semua pihak yang berkepentingan.

3.11.10 Penerapan Standar

Diberlakukan secara sukarela dan wajib. Pemberlakuan wajib ditentukan oleh instansi teknis terkait apabila berkaitan dengan keamanan, keselamatan dan kesehatan konsumen atau kelestarian fungsi lingkungan hidup atau pertimbangan ekonomi. Pelaku usaha yang menerapkan SNI yang diberlakukan secara wajib harus mempunyai sertifikat dan atau tanda SNI. SNI Sukarela tidak tertutup kemungkinan akan diberlakukan secara wajib karena pertimbangan teknis, ekonomi atau lainnya. 3.11.11 Pemberlakuan Standar

Keputusan oleh Instansi Teknis yang berwenang mewajibkan suatu produk barang/jasa, dan proses tertentu mengikuti atau memenuhi SNI

3.11.12 Penerapan SNI yang Bersifat Wajib

a. Pelaku usaha yang menerapkan SNI yang diberlakukan secara wajib harus mempunyai sertifikat dan atau tanda SNI.

b. Pelaku usaha dilarang memproduksi atau mengedarkan induk/benih yang tidak memenuhi SNI; c. SNI diberlakukan sama, baik terhadap induk/benih produksi dalam negeri maupun impor;

(39)

d. Pelaku usaha harus mempunyai sertifikat dan atau tanda SNI yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi atau laboratorium yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) atau lembaga sertifikasi dan laboratorium negara pengekspor yang diakui KAN;

e. Pengakuan KAN didasarkan pada perjanjian saling pengakuan secara bilateral atau multilateral.

(40)

3..12 SNI Garam Konsumsi Beryodium (SNI 01-3556-2000/Rev.9)

3.12.1 Ruang Lingkup

Standar ini meliputi ruang lingkup, acuan, defenisi, syarat mutu, pengambilan contoh, cara uji, syarat lulus uji, syarat penandaan dan pengemasan untuk garam konsumsi beryodium.

3.12.2 Acuan

 Kode Makanan Indonesia tahun 1979

Australian Food Standard 2093-1997, Salt for use in the manufacture of dairy products.

British Standart 739, Analyst of sodium chloride for industrial use-part 1 Method for sodium chloride, 1990

 Australian Food Standards Code, Th 1992 3.12.3 Definisi

Garam konsumsi beryodium adalah produk makanan yang komponen utamanya natrium klorida (NaCl) dengan penambahan kalium yodat (KIO3).

3.12.4 Syarat Mutu

Syarat mutu garam beryodium sesuai dengan tabel sebagai berikut . Tabel 2. Syarat mutu garam konsumsi beryodium

NO KRITERIA UJI SATUAN PERSYARATAN

1 2 3

4

Kadar air (H2O) Jumlah klorida (Cl)

Yodium dihitung sebagai kalium yodat (KIO3) Cemaran logam : Timbal (Pb) Tembaga (Cu) Raksa (Hg) % (b/b) % (b/b) adbk mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg Maks 7 Min 94,7 Min 30 Maks 10 Maks 10 Maks 0,1

Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

Setelah mempelajari pokok bahasan ini Pembacadiharapkan mampu memahami definisi garam beryodium, syarat dan mutu, serta pengujian kandungan NaCl, KlO3 dan berbagai kandungan lain di dalamnya.

(41)

Arsen (As) mg/kg Maks 0,1

3.12.5 Pengambilan Contoh

Pengambilan contoh sesuai dengan SNI 19-0428-1998, petunjuk pengambilan contoh padatan. Cara Uji

a. Persiapan contoh

Persiapan contoh sesuai SNI 01-2891-1992, cara uji makanan dan minuman, butir 4 atau revisinya. b. Kadar air

Cara uji kadar air sesuai SNI 01-2891-1992, cara uji makanan dan minuman, butir 5.1 atau revisinya.

3.12.6 Natrium Klorida (NaCl) 1) Prinsip

Mereaksikan seluruh ion Cl yang terdapat dalam contoh dengan ion Ag+ dari larutan AgNO3 dengan petunjuk larutan kalium Kromat (K2CrO4), kemudian kadar NaCl dihitung dari jumlah Cl. 2) Peralatan.  neraca analitik  labu ukur  gelas piala  buret  pipet  erlemeyer 3) Pereaksi

 larutan perak nitrat, AgNO3 0,1 N 17 gram AgNO3 dilarutkan dalam 1000 ml air suling  indikator kalium kromat, K2CrO4 5 % 5 gram K2CrO4 dilarutkan dalam 100 ml air suling  Magnesium oksida (MgO) atau natrium bikarbonat (NaHCO3)

 Asam nitrat (1:1)

(42)

4) Cara kerja

 timbang dengan teliti 50 gr cuplikan kedalam gelas piala 400 ml, tambah 200 ml air suling dan aduk sampai larut.

 Saring larutan melalui kertas saring dan cuci dengan air suling sampai air sulingan bebas klorida

 Tampung ait saringan dan cucian kedalam labu ukur 500 ml dan encerkan sampai tanda batas.  Pipet 2 ml larutan ke dalam erlemeyer 250 ml

 Asamkan dengan beberapa tetes asam nitrat ( 1:1), sampai larutan bereaksi asam terhadap indicator merah metal

 Netralkan dengan MgO atau (NaHCO3)  Encerkan dengan air suling samapi 100 ml

 Titar dengan larutan AgNO3 0,1 N sampai berwarna merah bata. 5) Perhitungan

Kadar NaCl (adbb) = V x N x fp x 58,5 --- x 100%

W

Kadar NaCl (adbk) = kadar NaCl (adbb) x 100 ---

100 – kadar air keterangan :

V : volume AgNO3 yang diperlukan pada penitaran (ml) N : normalitas (AgNO3)

fp : pengenceran W : bobot cuplikan (mg)

*) adbb adalah atas dasar bahan basah *) adbk adalah atas dasar bahan kering

(43)

3.12.7 Kadar KIO3

cemaran logam (Pb, cu dan Hg), Percobaan batas logam berat (semi kwantitatif) 1) Prinsip

cemaran logam berat dengan Na2S dalam kondisi asam (pH 3-4) dapat memberikan warna, kemudian larutan contoh dibandingkan dengan larutan standar Pb (pembanding) dan warna larutan contoh tidak boleh lebih tua dari warna larutan standar (pembanding)

2) Peralatan : Tabung nessler 3) Pereaksi

 Larutan timbal pembanding

Larutkan 159,8 mg Timbal nitrat (PbNO3) dalam 10 ml Asam nitrat (HNO3) encer, encerkan dengan air suling secukupnya, masukan kedalam labu ukur 1000 ml dan encerkan dengan air suling hingga tanda tera (tiap 1 ml mengandung 0,1 mg Pb)

 Larutan timbal baku

Pipet 10,0 ml larutan timbal persediaan kedalam labu ukur 100 ml encerkan dengan air suling hingga tanda tera. Tiap 1 ml larutan mengandung 10 mg Pb. Larutan baku timbal harus dibuat segar. Tiap 0,1 ml larutan baku timbal yang digunakan sebagai larutan pembanding untuk larutan 1 gram bahan yang diperiksa, setara dengan 1 mg/kg bahan yang diperiksa.

 Larutan Natrium sulfida (Na2S)

Larutkan 5 g natrium sulfida dalam campuran 10 ml air suling dan 30 ml gliserol atau dapat dibuat sebagai berikut : larutkan 5 g Natrium hidroksida (NaOH) dalam campuran 30 ml air suling fan 90 ml gliserol. Jenuhkan setengah bagian volume larutan dengan gas hidrogen sulfida (H2S) sambil didinginkan dan kemudian campurkan sisa setengan bagian larutan. Simpan dalam botol kecil bersumbat kaca yang diisi penuh terkindung dari cahaya.

Larutan Asam asetat (CH3COOH) encer. Encerkan 35 ml asam asetat glasial dengan air suling hingga 100 ml, kemudian pipet 6 ml dan encerkan dengan air suling hingga 100 ml.  Asam nitrat (HNO3) encer. Encerkan 10,5 ml asam nitrat dengan air hingga 100 ml. 4) Cara kerja

 larutkan 10 g contoh dengan ± 40 ml air suling dalam tabung Nessler 50 ml

 Dalam tabung nessler yang lain pipet 1 ml larutan baku timbal, encerkan dengan ± 40 ml air suling (larutan pembanding)

(44)

 Pada masing-masing tabung nessler tambahkan asam asetat encer atau amonia encer hingga pH 3-4 dan encerkan dengan air suling hingga 50 ml kemudian tambahkan dua tetes larutan Natrium sulfide segar, campur dan biarkan selama 5 menit.

 Letakkan tabung nessler diatas dasar putih, amati dari atas, warna larutan percobaan harus tidak lebih tua dari warna larutan pembanding.

Catatan :

 apabila didalam pengujian percobaan batas logam berat menunjukan hasil dibawah standaar yang ditetapkan maka timbal (Ph) dan tembaga (Cu) dinyatakan kurang dari 10 ppm (< 10 ppm)

 apabila menunjukan hasil diatas standar yang ditetapkan, maka cara uji timbal dan tembaga harus dilakukan dengan metoda Spectrofotometer serapan atom (AAS) .

 untuk pengujian cemaran Hg, harus dilakukan dengan metoda Spectrofotometer serapan atom (AAS)

Cara uji cemaran logam (Pb, Cu dan Hg) dengan metoda Spectrofotometer serapan atom (AAS) 3.12.8 Cara Uji Cemaran Logam Timbal (Pb)

1) Prinsip

Analisa cemaran logam Pb dengan Spectrofotometer serapan atom berdasrkan pada proses penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berbeda paga tigkat tenaga dasar.

2) Peralatan

 labu ukur 50 ml, 100 ml, 1000 ml  pipet 1 ml, 2 ml, 10 ml

 buret 10 ml dengan ketelitian 0,1 ml  spectrofotometer serapan atom  penangas air

 gelas piala 3) Peraksi

 HNO3 pekat

 Air suling bebas logam

 air suling yang telah mengalami dua kali penyulingan  larutan baku timbal 1000 mg/ml

(45)

Pipet 10 ml larutan baku timbal diatas masukan ke dalam labu ukur 100 ml tepatkan sampai tanda garis dengan air suling bebas logam yang mengandung HNO3 pekat (1,5 ml HNO3/liter) kocok 12

kali (100/mg/ml) Pipet 10 ml larutan baku timbal diatas masukan ke dalam labu ukur 100 ml tepatkan sampai tanda garis dengan air suling bebas logam yang mengandung HNO3 pekat (1,5 ml HNO3/liter) kocok 12 kali (10/mg/ml) Tuang larutan standar 10 mg/ml yang telah tersedia

kedalam mikro buret 10 ml alirkan kedalam 50 ml labu ukur masing-masing 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, 5 ml, dan 6 ml, tepatkan sampai tanda garis dengan air suling bebas logam yang mengandung HNO3

pekat (1,5 ml HNO3/ liter) kocok 12 kali (10/mg/ml). 4) Persiapan contoh

Timbang dengan telilti 10 gram cuplikan kedalam gelas piala 400 ml dengan ± 100 ml air suling. Asamkan dengan HNO3 pekat sampai Ph < 2, masukan kedalam labu ukur 500 ml dan tepatkan dengan air sling dan kocok 12 kali. Contoh siap untuk diuji

5) Cara kerja: Periksa contoh pada alat AAS 6) Perhitungan

Kadar timbal dalam contoh dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : mg Pb / ml dari hasil kurva standar

Kadar Pb (ppm) = --- x V m

keterangan : V : volume

M : bobot contoh dalam gram

3.12.9 Cara Uji Cemaran Logam Tembaga (Cu) 1) Prinsip

Analisis cemran logan Cu dengan spectrofotometer serapan atom berdasrkan pada proses penyerapan energy radiasi oleh atom –atom yang berbeda paada tingkat tenaga dasar.

2) Peralatan

 labu ukur 50 ml, 100 ml, 1000 ml  pipet 1 ml, 2 ml, 10 ml

 buret 10 ml dengan ketelitian 0,1 ml  spectrofotometer serapan atom

Gambar

Gambar 1. Intensifikasi dan Ekstensifikasi untuk meningkatkan produksi garam  b.  Ekstensifikasi Pegaraman Nasional
Gambar 2. Pola Produksi Garam
Gambar 4. Meja Garam
Gambar 5. Kincir Angin
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan pada waktu pemutusan 0.56s, seperti yang dapat dilihat pada gambar 4.24 generator pada area PKT3 mengalami osilasi dengan simpangan dan durasi yang cukup besar

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan dari analisis pertama bahwa identitas ego (komitmen) dan persepsi ketidakpastian secara

Program kerja ini disusun untuk mendukung pelaksanaan Reformasi Birokrasi pemerintah di Balai Bioteknologi.. Agent of Change merupakan agen perubahan yang dibentuk untuk

Berdasarkan hasil analisis pembahasan yang telah dikemukan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa: Faktor-faktor yang diduga dapat meningkatkan prestasi

SLF (Sertifikat Laik Fungsi) adalah sertifikat yang diterbitkan oleh pemerintah daerah, kecuali untuk bangunan gedung fungsi khusus oleh pemerintah untuk menyatakan

Terapi gen dilakukan dengan beberapa cara: (1) mengganti gen yang rusak atau hilang, (2) menghentikan kerja gen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan sel kanker, (3)

Unit kompetensi ini berlaku untuk pekerjaan di bidang pengelolaan kawasan konservasi perairan), baik secara langsung ataupun tidak.. Unit kompetensi ini merupakan