SUMBER PEMBIAYAAN PENDIDIKAN Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah MANAJEMEN KEUANGAN PENDIDIKAN ISLAM
Dosen Pengampu:
Siska Yulia Weny
Disusun oleh:
1. Wisnu Dewantoro (22205008) 2. Riya Meiliyana (22205022) 3. Fahim Intan Maulidina (22205023) 4. Ma’rifatin Shabrina (22205029) 5. Nayda Rehana Yanti (22205100)
KELAS: A-SEMESTER III
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KEDIRI (IAIN KEDIRI) 2023/2024
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunianya, kesehatan dan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Keuangan Pendidikan Islam sesuai dengan tema
“SUMBER PEMBIAYAAN PENDIDIKAN” yang telah ditetapkan.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi dukungan moril maupun materil sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Meskipun telah berusaha menyelesaikan makalah ini dengan sebaik mungkin, penulis menyadari masih ada kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca guna menyempurnakan segala kekurangan dalam penyusunan makalah ini.
Kediri, 12 September 2023
Penyusun
3 DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... 2
DAFTAR ISI ... 3
BAB 1... 4
PENDAHULUAN ... 4
1.1 Latar Belakang ... 4
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan ... 5
BAB 2... 6
PEMBAHASAN ... 6
2.1 Pengertian dari Pembiayaan Pendidikan ... 6
2.2 Macam-macam Pembiayaan Pendidikan ... 7
2.3 Fungsi Pembiayaan Pendidikan ... 9
2.4 Permasalahan Pembiayaan Pendidikan di Indonesia ... 14
2.5 Sumber Hukum Pelaksanaan Pembiayaan Pendidikan ... 16
BAB 3... 20
PENUTUP ... 20
3.1 Kesimpulan ... 20
3.2 Saran ... 21
DAFTAR PUSTAKA ... 22
4 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah faktor penting dalam untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Dalam proses pendidikan, pendidikan tidak akan dapat berjalan tanpa adanya dukungan dari biaya yang dapat membantu proses pendidikan, agar pendidikan dapat berjalan dengan baik. Pembiayaan pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) jangka panjang. Pembiayaan pendidikan ini sangat diperlukan untuk program sekolah, pengadaan sarana dan prasarana, gaji guru, gaji pegawai, keperluan untuk menunjang tercapainya visi dan misi sekolah dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.
Dalam peneyelenggaraan pendidikan, keuangan dan pembiayaan merupakan potensi yang sangat menentukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kajian manajemen pembiayaan pendidikan. Komponen keuangan dan pembiayaan pada satu sekolah merupakan komponen produksi konsumtif yang menentukan terlaksananya kegiatan-kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Dengan kata lain setiap kegiatan yang dilakukan sekolah memerlukan biaya atau dana.
Pembiayaan pendidikan merupakan komponen yang penting dan tidak dapat terpisahkan dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar di sekolah. Dalam rangka pembentukan potensi sumber daya manusia (SDM), penggunaan anggaran atau pembiayaan pendidikan yang efektif dan efisien dapat menghasilkan SDM yang tepat guna dan berhasil. Salah satu kunci keberhasilan dalam pembangunan pendidikan, terletak pada kemampuan SDM dalam mengelola dana yang tersedia dengan mengacu pada kebutuhan pokok dan skala prioritas program pembangunan pendidikan dari tahun ke tahun secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan perencanaan program yang ingin dicapai. Biaya pendidikan ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain: besar kecilnya sebuah institusi pendidikan, jumlah siswa, tingkat gaji guru atau dosen yang disebabkan oleh bidang keahlian atau
5
tingkat pendidikan, ratio siswa berbanding guru/ dosen, kualifikasi guru, tingkat pertumbuhan penduduk (khususnya di negara berkembang), perubahan kebijakan dari penggajian/pendapatan (revenue theory of cost). Pembiayaan pendidikan tidak hanya menyangkut sumber-sumber dana, tetapi juga meliputi penggunaan dana secara efisien. Semakin efisien sistem pendidikan, maka semakin berkurang biaya yang diperlukan untuk mencapai tujuan suatu lembaga pendidikan
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengerian dari pembiayaan pendidikan ?
2. Apa saja macam-macam sumber pembiayaan pendidikan ? 3. Apa fungsi pembiayaan pendidikan ?
4. Apa saja permasalahan pembiayaan pendidikan ?
5. Apa sumber hukum pembiayaan pendidikan di Indonesia ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian pembiayaan pendidikan
2. Untuk mengetahui macam-macam sumber pembiayaan pendidikan 3. Untuk mengetahui fungsi pembiayaan pendidikan
4. Untuk mengetahui apa saja problem yang timbul di dalam pembiayaan pendidikan
5. Untuk mengetahui sumber hukum apa saja yang ada dan mendasari pembiayaan pendidikan.
6 BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Sumber Pembiayaan Pendidikan
Pembiayaan adalah pendanaan yang disediakan oleh pihak lain untuk mendukung investasi yang direncanakan. baik dilakukan sendiri, maupun lembaga.
Dengan kata lain, pembiayaan merupakan sumber pendanaan yang dikeluarkan untuk mendukung investasi yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pembiayaan merupakan salah satu sumber daya yang secara langsung dapat mendukung potensi dan kinerja manajemen pendidikan1.
Secara bahasa, biaya (coast) dapat diartikan sebagai pengeluaran, dalam istilah ekonomi biaya pengeluaran dapat berupa uang atau bentuk moneter lainnya.
Menurut Yahya yang dikutip oleh Mulyono pembiayaan adalah bagaimana mencari modal, atau sumber modal, dan cara menggunakan modal itu dengan memanfaatkan rencana biaya standar. memperbesar modal kerja, dan merencanakan kebutuhan masa yang akan datang akan uang.
Pembiayaan pendidikan merupakan sebuah proses yang dimana pendapatan dan sumber daya tersedia digunakan untuk menyusun dan menjalankan program kegiatan sekolah. Menurut Levin (1987) pembiayaan pendidikan merupakan proses dimana pendapatan dan sumber daya yang tersedia digunakan untuk menyusun dan menjalankan sekolah diberbagai wilayang dengan menggunakan tingkat pendidikan yang berbeda-beda.
Menurut Nanang Fattah pembiayaan pendidikan adalah jumlah uang yang dihasilkan dan dibelanjakan untuk berbagai keperluan penyelenggaraan pendidikan yang mencakup gaji guru, peningkatan profesional peralatan, pengadaan alat-alat dan buku pelajaran, alat tulis kantor (ATK), kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan pengelolaan pendidikan, dan supervisi pendidikan.
1Sudarmono, Lias Hasibuan, Kasful Anwar Us, (2021). Pembiayaan Pendidikan. Vol. 2, No.1.
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial. Hlm 269
7
Sistem pembiayaan pendidikan sangat bervariasi tergantung pada kondisi individu negara seperti kondisi geografis, tingkat pendidikan, kondisi politik pendidikan, hukum pendidikan, ekonomi pendidikan, program sponsorship administrasi sekolah, dan pemerintahan. Saat itu ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk menentukan apakah sistem tersebut sesuai dengan kondisi negara. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pembiayaan pendidikan adalah dana yang diberikan sekolah untuk memfasilitasi segala kegiatan proses pembelajaran disekolah., dan berbagai keperluan dalam menyelenggarakan pendidikan.
Hampir bisa dipastikan bahwa proses pendidikan tidak dapat berjalan tanpa dukungan biaya yang memadai. Implikasi diberlakukannya, membuat para pengambil keputusan sering kali mengalami kesulitan dalam mendapatkan referensi dalam komponen pembiayaan pendidikan. Tuntutan tersebut dirasa makin mendesak sejak dimulai pelaksanaan otonomi daerah yang juga meliputi bidang pendidikan. Pada tataran konsep pembiayaan secara ornum, biaya dapat berupa pengeluaran sejumlah uang tertentu atau pengorbanan tertentu yang bukan berbentuk uang namun dapat dinilai dengan uang.
2.2 Macam – Macam Sumber Pembiayaan Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu sektor terpenting dan cara terbaik dalam membangun sumber daya manusia yang lebih maju. Namun, tidak sedikit juga terdapat masalah putus sekolah karena berbagai permasalahan terutama dari segi ekonomi. Hal ini disebabkan mahalnya biaya pendidikan yang harus ditanggung.
Salah satu akar permasalahan pendidikan adalah dari segi pembiayaan, sehingga para wali murid lebih mementingkan untuk mencari biaya untuk keperluan sekolah bersama anaknya.2
Negara sekurang-kurangnya memprioritaskan anggaran pendidikan setidaknya dua puluh persen dari dana APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja
2 Tho’in, M. (2017). Pembiayaan Pendidikan Melalui Sektor Zakat. Al-Amwal: Jurnal Ekonomi
dan Perbankan Syari'ah, 9(2) Hlm 163
8
Negara) serta dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, ilmu teknologi dan untuk kemajuan peradaban bangsa dan negara indonesia. Adapun yang termasuk sumber pembiayaan pendidikan yakni :
a) Pemerintah Pusat (APBN) dan Pemerintah Daerah (APBD) : 1) Dana BOS
Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) adalah dana yang disalurkan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk kepentingan pendidikan yang bertujuan untuk mengurangi tanggungan atau biaya pendidikan masyarakat.
terutama masyarakat miskin. Dana BOS ini merupakan program bantuan pemerintah yang diberikan langsung kepada lembaga pendidikan Negeri maupun Swasta. Program dana BOS ini sebagai subsidi umum atas pengalokasian dana sekolah diwajibkan untuk membantu mengurangi biaya operasional sekolah seperti kewajiban membayar iuran spp, kegiatan ektrakulikuler,dll. Dana BOS ini bisa cair setelah pihak sekolah membuat laporan rencana kerja sekolah (RKS) kemudian untuk pencairannya langsung masuk ke rekening sekolah maisng-masing. Dana yang sudah cair diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan biaya pendidikan seperti iuran spp, dana study tour, pembelian alat tulis (ATK), praktik, seluruh kebutuhan belajar.3
2) Dana BSM
Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) merupakan program pemerintah sekaligus bentuk wujud kepedulian terhadap siswa. Tujuan pemberian dana ini adalah untuk mengurangi beban para wali murid sekaligus mencegah siswa yang kurang mmapu ekonominya dari kemungkinan putus sekolah karena tanggungan besar akan biaya pendidikan disekolah. Target pemberian dana BSM hanya ditujukan kepada siswa yang kurang mampu ekonomi keluarganya saja.
3) Dana BOP
3 Sudarmono, S., Hasibuan, L., & Us, K. A. (2020). Pembiayaan Pendidikan. Jurnal Manajemen
Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 2(1) Hlm 273
9
Dana Biaya Operasional Pendidikan (BOP) adalah bantuan dari pemerintah pusat kepada lembaga pendidikan berdasarkan jumlah murid yang ada di sekolah.
Dana BOP digunakan dalam pembiayaan pendidikan untuk perbaikan, penyediaan sarana-prasarana, pengembangan sumber daya manusia, penyediaan media pembelajaran, Dana BOP diberikan dari pemerintah ke sekolah-sekolah dari tingkat SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA/SMK( Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan) sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
4) Masyarakat
Pihak sekolah dapat menggali sumber-sumber biaya dari masyarakat untuk membantu kepentingan belajar mengajar. Kemudian dana yang sudah terkumpul digunakan untuk kepentingan sekolah mulai fasilitas dan kegiatan belajar mengajar untuk sehari-harinya supaya efektif dan efisien. Terlepas dari hal itu pihak sekolah juga membuat laporan dari setiap pengeluaran dana untuk kepentingan sekolah yang sudah didasarkan pada kebutuhan pembiayaan sekolah tersebut.
5) Orang tua (Wali Murid)
Sekolah juga dapat menerima sumber biaya dari orangtua/wali murid dengan beberapa jenis pengeluaran seperti : iuran SPP, biaya UTS, biaya UAS, biaya kegiatan praktikum, pembelian seragam sekolah, biaya study tour, ektrakulikuler, sumbangan,dll.4
2.3 Fungsi Pembiayaan pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas fungsi biaya merupakan alat bantu dalam mengerahkan suatu lembaga menempatkan organisasi dalam posisi yang kuat atau lemah. Biaya juga berfungsi sebagai tolak ukur keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan, di samping itu dapat juga dijadikan alat mempengaruhi atau memotivasi pimpinan dan karyawan untuk
4 Ibid, Hlm 274
10
bertindak efisien dalam mencapai sasaran lembaga. Apabila dilihat dari perkembangannya biaya memiliki fungsi sebagai alat efisiensi.5
Dalam dunia pendidikan tentu pembiayaan berperan sangat penting, bahkan proses pendidikan tidak dapat berjalan secara optimal tanpa adanya biaya, maka dari itu, pembiayaan pendidikan berfungsi sebagai fasilitas untuk pemenuhan gaji guru, peningkatan profesionalisme guru, pengadaan sarana ruang belajar, perbaikan ruang, pengadaan peralatan, buku pelajaran, alat tulis kantor, pendukung kegiatan ekstra kurikuler, kegiatan pengelolaan pendidikan, dan supervisi pendidikan.
Dalam prespektif islam, pembiayaan pendidikan dapat berfungsi untuk menjaga salah satu dari maqasuds as syariah (tujuan syariat) yaitu hifdzul aql(menjaga akal), serta fasilitas untuk seluruh masyarakat .Hal ini juga pernah disebutkan oleh Ahmad Tafsir dalam bukunya ilmu pendidikan islami, bahwa fungsi dari dana adalah untuk peralatan sekolah baik berupa perangkat keras seperti: gedung sekolah, dan alat laboratorium ataupun perangkat lunak seperti: kurikulum, metode dan administrasi pendidikan. Ditinjau dari aspek ekonomi pembiayaan pendidikan dihitung berdasarkan fungsinya. Alan Thomas sebagaimana dikutip Ristiawan, bahwa pembiayaan pendidikan memiliki fungsi:
a. Fungsi administrasi, yang meliputi segala macam pelayanan dalam implementasi aktivitas pendidikan yang diperlukan peserta didik, wali murid, dan dianggap perlu oleh guru dan kepala sekolah
b. Fungsi produksi psikologi, yaitu hal yang berkaitan dengan perubahan prilaku siswa akibat aktivitasnya dalam proses belajar mengajar, yang di dalamnya mencakup aspek penambahan pengetahuan, penghayatan, nilai- nilai dan keterampilan dalam bidang sosial dan individual
c. Fungsi produksi ekonomi, yaitu output yang bersifat ekomomik yang ditinjau dari besarnya [enda[atan siswa yang dikaitkan dengan tingkat pendidikan
5 Siti Nurhalimah,”konsep an jenis pembiayaan pendidikan”Management of Education: Jurnal
Manajemen Pendidikan Islam
11
Menurut pendapat An Nabhani dalam Al Jawi, ternyata pembiayaan pendidikan dikelola oleh baitul mallyang kemudian secara garis besar dibelanjakan (distribution) untuk 2 kepentingan. Pertama, untuk membayar gaji segala pihak yang terkait dengan pelayanan pendidikan, seperti guru, dosen, karyawan, dan lain- lain. Kedua, untuk membiayai segala macam sarana dan prasana pendidikan, seperti bangunan sekolah, asrama, perpustakaan, buku-buku pegangan, dan sebagainya.
Begitu pentingnya fungsi dari pembiayaan pendidikan, sehingga aspek pembiayaan ini menjadi landasan operasional sebuah lembaga pendidik.6
Fungsi Pengelolaan Pembiayaan Pendidikan
Fungsi Pengelolaan Pembiayaan Pendidikan Menurut (Anwar, 1991) Pengelolaan pembiayaan pendidikan sama dengan manajemen pembiayaan, dan pengelolaan mempunyai tiga fungsi yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Dalam penelitian ini yang akan dibahas yaitu perencanaan pembiayaan pendidikan, pelaksanaan pembiayaan pendidikan dan evaluasi pembiayaan pendidikan.
a. Perencanaan Pembiayaan Pendidikan
Perencanaan adalah suatu proses mempersiapkan serangkaian keputusan untuk mengambil tindakan di masa yang akan datang diarahkan untuk tercapainya tujuan- tujuan dengan sarana yang optimal. Pada sebuah organisasi atau lembaga apapun bentuk dan namanya, sebelum melangkah untuk mencapai tujuan, maka terlebih dahulu ada perencanaan. Perencanaan pada sebuah lembaga sangat esensial, karena pada kenyataannya, perencanaan memegang peranan yang lebih penting dibandingkan dengan fungsi- fungsi lain. Tanpa ada perencanaan, maka akan sulit mencapai tujuan.
Langkah-langkah dalam perencanaan yaitu:
1. Tahapan menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan.
Perencanaan dimulai dengan keputusan-keputusan. Tanpa rumusan tujuan yang jelas, sebuah lembaga akan menggunakan sumber daya yang secara tidak efektif.
6 Ahmad Firdaus Al amien, "pembiayaan pendidikan islam: historis, pengertian, fungsi, dan sumber",Syntax Transformation, Vol. 2 No. 6, Juni 2021
12
2. merumuskan keadaan saat ini, pemahaman akan kondisi sekarang dari tujuan yang hendak dicapai sangat penting, karena tujuan dan rencana menyangkut waktu yang akan datang.
3. Mengidentifikasikan segala kemudahan, kekuatan, kelemahan serta hambatan perlu diidentifikasikan untuk mengukur kemampuan dalam mencapai tujuan, oleh karena itu perlu dipahami faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal yang dapat membantu mencapai tujuan, atau mungkin menimbulkan masalah.
4. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan tahap akhir dalam proses perencanaan meliputi pengembangan berbagai alternatif kegiatan untuk mencapai tujuan.
Perencanaan diartikan sebagai suatu proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalan dan sumber-sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu seefisien dan seefektif mungkin.
Perencanaan Pembiayaan Pendidikan ini mencakup kegiatan penting yaitu penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) dan pengembangan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Perencanaan keuangan sekolah sedikitnya mencakup dua kegiatan yakni penyusunan anggaran dan pengembangan rencana anggaran belanja sekolah. Penganggaran merupakan proses kegiatan atau proses penyusunan anggaran (budget).
b. Pelaksanaan Pembiayaan
Pendidikan Pelaksanaan adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci, implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap siap.
Secara sederhana pelaksanaan penerapan. Majone dan Wildavsky mengemukakan pelaksanaan sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky mengemukakan bahwa Pelaksanaan adalah perluasan aktivitas yang saling
13
menyesuaikan. Setelah perencanaan pembiayaan pendidikan selesai dan disetujui oleh semua komponen yang terlibat, dan menghasilkan sebuah Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS), tahapan manajemen selanjutnya yaitu pelaksanaan pembiayaan pendidikan.
Kegiatan pelaksanaan pembiayaan madrasah meliputi dua kegiatan besar yakni penerimaan dan pengeluaran keuangan madrasah/sekolah. Kegiatan kedua dari manajemen pembiayaan adalah pembukuan atau kegiatan pengurusan keuangan. Hal-hal yang perlu dibukukan dalam keuangan sekolah adalah menyangkut penerimaan dan pengeluaran. Penerimaan dan pengeluaran keuangan sekolah dari sumber-sumber dana perlu dibukukan berdasarkan prosedur pengelolaan yang selaras dengan kesepakatan yang telah disepakati, baik berupa konsep teoritis maupun peraturan pemerintah.
Kegiatan yang di lakukan berupa : 1. Penerimaan Biaya Pendidikan 2. Pengeluaran Biaya Pendidikan 3. Evaluasi Pembiayaan Pendidikan
Evaluasi pendidikan juga diartikan dengan proses untuk memberikan kualitas yaitu nilai dari kegiatan pendidikan yang telah dilaksanakan, yang mana proses tersebut berlangsung secara sistematis, berkelanjutan, terencana, dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur. Proses melakukan evaluasi mungkin saja berbeda sesuai persepsi teori yang dianut, ada bermacam-macam cara. Namun evaluasi harus memasukkan ketentuan dan tindakan sejalan dengan fungsi evaluasi, yaitu:
1. Memfokuskan evaluasi 2. Mendesain evaluasi 3. Mengumpulkan informasi 4. Menganalisis informasi 5. Melaporkan hasil evaluasi
6. Mengelola evaluasi dan mengevaluasi evaluasi.
Evaluasi pembiayaan pendidikan merupakan alat untuk mengukur dari melihat hasil rencana yang dicanangkan pada planning. Memberikan
14
imbalan kepada staff sesuai kinerja yang ditunjukkan, dan merancang serta merencanakan kembali sambil memperbaiki hal-hal yang belum sempurna.
Evaluasi pada administrasi berarti kegiatan mengukur tingkat efektivitas kerja personal dan tingkat efisiensi penggunaan metode dan alat bantu tertentu dalam usaha mencapai tujuan. Mengamati tingkat efektivitas maksudnya menilai tindakan tindakan atau kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, apakah telah menghasilkan sesuatu seperti direncanakan atau sekurang- kurangnya, apakah kegiatan itu telah berjalan di atas rel yang sebenarnya dan tidak menyimpang dari perencanaan atau tujuan yang telah ditetapkan. Sedang mengamati tingkat efisiensi maksudnya menilai tindakan tindakan/ kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan itu apakah merupakan cara yang terbaik atau paling tidak untuk mencapai hasil yang sebesar besarnya dengan resiko yang sekecil-kecilnya, yang berarti apakah cara kerja tertentu yang sudah dipergunakan mampu memberi hasil yang maksimal.7
2.4 Permasalahan Pembiayaan Pendidikan di Indonesia
Kemajuan teknologi mendorong perubahan kehidupan dari sistem agraris menjadi sistem industri sejak beberapa abad lalu (abad 19-20). Sejak saat itu, terjadi pergeseran filsafat hidup dari spiritual menjadi positivisme-materialistik.
Industrialisasi berkepentingan melipatgandakan produksi barang-barang kebutuhan hidup secara lebih praktis dan pragmatis. Selanjutnya, sistem perindustrian berpengaruh kuat terhadap munculnya sistem politik kekuasaan. Ketika spirit politik kekuasaan bersinergi dengan sifat perindustrian, sistem perekonomian kapitalistik pun mendapatkan keleluasaan.8
Memang tidaklah salah jika dikatakan pendidikan bermutu membutuhkan biaya. Namun persoalannya, daya finansial sebagian masyarakat di negeri ini masih belum memadai akibat sumber pendapatan yang tak pasti. Fenomena pendidikan yang menyedot biaya begitu besar dari masyarakat ini juga sempat terlihat saat
7 Aulia Riski,”pengelolaan pembiayaan pendidikan di Indonesia”
8 Suparlan Suhartono, Filsafat Pendidikan, Jogjakarta, Ar-Ruzz, 2007, h. 31.
15
pendaftaran siswa baru (PSB) beberapa waktu lalu. Orang tua siswa pun dibuat meradang mengenai biaya yang harus ditanggung dalam menyekolahkan anaknya.
Memang harus diakui jika Pemerintah tak lepas tangan membiayai pendidikan.
Untuk bidang pendidikan khusus siswa SD dan SMP, Pemerintah telah menggulirkan program bantuan operasional sekolah (BOS) untuk BOS tetaplah terbatas. Apalagi jika bicara dana BOS khusus buku yang masih minim untuk membeli satu buku pelajaran berkualitas. Dengan masih terbatasnya dana BOS itu mungkin ada yang berdalih jika Pemerintah sekadar membantu dan meringankan beban masyarakat miskin. Jika benar demikian, maka Pemerintah bisa dikatakan tidak peka. Bukti konkrit adalah angka Drop-Out anak usia sekolah antara usia 7- 12 tahun pada dari tahun ke tahun semakin meningkat, padahal, siapa pun tahu jika program BOS mulai dirintis sejak 2005 dengan harapan akan untuk membantu masyarakat yang tidak mampu.9
Hasil penelitian Puslitbang Pendidikan Agama Dan Keagamaan tahun 2006 tentang pembiayaan pendidikan di madrasah menyebutkan bahwa kesulitan yang dihadapi madrasah dalam pengelolaan pembiayaan pendidikan ternyata berawal dari persoalan penggalian dana itu sendiri. Kendala utamanya adalah karena terbatasnya sumber dana yang dapat digali. Selama ini sumber dana utama operasional madrasah, rata-rata diperoleh dari iuran SPP siswa. Sumber dana ini merupakan sumber dana tetap, meskipun secara nominal sebenarnya jumlah dana yang dapat di kumpulkan tidak seberapa, mengingat kebanyakan madrasah berada di pinggiran kota/pedesaan dan melayani pendidikan bagi siswa yang berasal dari keluarga tingkat ekonomi kurang mampu; seperti petani, buruh, dan pegawai rendah lainnya.10
Masalah lain yang biasanya muncul ialah daya dukung masyarakat sekitar yang rendah. Padahal, hal ini sangat penting mengingat masyarakat sebagai partisipan dan pendorong ke arah suksesi program lembaga pendidikan.
Keberadaannya sangat penting guna menunjang pembiayaan pendidikan. Kenapa hal ini terjadi? Karena masyarakat tidak dilibatkan langsung dalam proses
9 K, R. F. (2015). Pembiayaan Pendidikan di Indonesia. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 43-64.
10A. M. (2013). Manajemen Pembiayaan Pendidikan dalam Perspektif Islam Vol. 8, No. 2.
Journal of Pesantren Education, 224-239.
16
penganggaran, sehingga tingkat perhatian mereka terhadap lembaga berhenti pada wilayah memasrahkan anak didiknya saja.11
2.5 Sumber Hukum Pelaksanaan Pembiayaan Pendidikan
Sumber-sumber pelaksanaan aturan pembiayaan pendidikan diantaranya terdiri dari:
1. Undang-Undang Dasar 1945
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia menyatakan bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Tentu saja dengan partisipasi masyarakat dalam mendukung pengembangan, pelaksanaan kurikulum, evaluasi pendidkan, manajemen dan pendanaannya yang sesuai dengan standar nasional pendidikan.
Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara pendidikan, masyarakat, pemerintah pusat dan daerah, serta sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945 memberikan amanat kepada pemerintah Negara Indonesia untuk menetapkan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari anggaran belanja negara.
Dalam pembahasan perundang-undangan tersebut tentu saja mengatur bagaimana pemerintah mendukung dan memfasilitasi terciptanya pendidikan dengan memperhitungkan bagaimana proses tersebut berlangsung, yaitu dengan dukungan aturan yang berlaku di Indonesia sehingga seyogyanya pendidikan ialah hak seluruh warga Indonesia yang tidak terhalangi lagi dengan keterbatasan biaya.
Meskipun dalam pengaplikasiannya masih terdapat kekurangan ataupun hal-hal yang menghambat kelancaran penyaluran biaya pendidikan dari pemerintah kepada unit pendidikan seperti sekolah atau lembaga pendidikan lainnya.
2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
11 Ibid.
17
Pasal 11 ayat (2) UU No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya anggaran demi terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai lima belas tahun.
Pada pasal 12 ayat (1) juga menyatakan bahwa setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya.
Pada Bab VIII Pasal 34 mengenai Wajib Belajar, undang-undang menyatakan:“Setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun dapat mengikuti program wajib belajar; Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat. Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sektor pendidikan dan minimal 20%
dari APBD. Gaji guru dan dosen yang diangkat oleh Pemerintah dialokasikan dalam APBN dan APBD. Serta sumber dana pendidikan sebagaimana Pasal 46 ayat (1) menyatakan bahwa pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah daerah dan masyarakat.
3. Undang - Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Pasal 13 Undang - Undang tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa
“Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menyediakan anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan yang telah diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Ketentuan lebih lanjut mengenai anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP).
4. Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Penganggaran Pendidikan.
PP No. 48 Tahun 2008 menyatakan bahwa pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Jenis biaya pendidikan juga dikelompokkan menjadi:
18
a. Biaya satuan pendidikan, meliputi biaya operasional, biaya investasi, bantuan biaya pendidikan dan beasiswa.
b. Biaya penyelenggaraan pendidikan, meliputi biaya penyelenggaraan dan / atau pengelolaan pendidikan oleh pemerintah baik pusat, provinsi, kota atau kabupaten, dan penyelenggara satuan pendidikan yang didirikan masyarakat c. Biaya pribadi peserta didik (biaya personal), meliputi biaya yang dikeluarkan peserta didik untuk dapat mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.
5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan
Pedoman dan pengelolaan dana dalam standar pembiayaan pendidikan juga didasarkan pada Peraturan Mendiknas No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan. Pada bidang keuangan dan pembiayaan dijelaskan bahwa sekolah atau madrasah berhak memanajemen: (i) sumber pemasukan, pengeluaran, dan jumlah dana yang dikelola; (ii) penyusunan dan pencairan anggaran, serta penggalangan dana diluar dana investasi dan operasional; (iii) kepala sekolah atau madrasah diberikan kewenangan dan tanggung jawab dalam membelanjakan anggaran pendidikan sesuau dengan fungsinya; dan mengamanati untuk dilaporkannya (iv) pembukuan semua penerimaan dan pengeluaran serta penggunaan anggaran kepada komite sekolah atau madrasah serta institusi terkait diatasnya.12
6. Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 32 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan
Dalam Pasal 1 ayat 1 Peraturan Menteri ini, standar pelayanan minimal (SPM) pendidikan adalah ketentuan mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar pendidikan yang merupakan urusan pemerintahan wajib yang berhak diperoleh setiap peserta didik secara minimal. Pasal 16 peraturan ini menyatakan bahwa pembiayaan pendidikan yang diselenggarakan pemerintah daerah yaitu untuk melaksanakan pendidikan dasar dan pendidikan menengah bagi daerah yang telah melaksanakan wajib belajar 12 (dua belas) tahun. Apabila daerah belum
12 Apriyani, Anisa, (2022).Sumber Dana Pendidikan Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan
di Indonesia . Jurnal Manajemen Dan Pendidikan. Vol.1 No.3
19
melaksanakan wajib belajar 12 (dua belas) tahun, maka pendidikan menengah bagi satuan pendidikan dibebankan kepada peserta didik atau orang tua sesuai standar biaya yang berlaku di daerah setempat. Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat menetapkan besaran pembiayaan pendidikan setelah mendapatkan pertimbangan dari komite sekolah.Pembiayaan pendidikan bagi peserta didik yang berasal dari keluarga miskin atau tidak mampu dilaksanakan dengan cara pembebasan biaya pendidikan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannnya.
20 BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. Sistem pembiayaan pendidikan sangat bervariasi tergantung pada kondisi individu negara seperti kondisi geografis, tingkat pendidikan, kondisi politik pendidikan, hukum pendidikan, ekonomi pendidikan, program sponsorship administrasi sekolah, dan pemerintahan.
2. Negara sekurang-kurangnya memprioritaskan anggaran pendidikan setidaknya dua puluh persen dari dana APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) serta dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, ilmu teknologi dan untuk kemajuan peradaban bangsa dan negara indonesia.
3. Dalam prespektif islam, pembiayaan pendidikan dapat berfungsi untuk menjaga salah satu dari maqasuds as syariah (tujuan syariat) yaitu hifdzul aql (menjaga akal), serta fasilitas untuk seluruh masyarakat .Hal ini juga pernah disebutkan oleh Ahmad Tafsir dalam bukunya ilmu pendidikan islami, bahwa fungsi dari dana adalah untuk peralatan sekolah baik berupa perangkat keras seperti: gedung sekolah, dan alat laboratorium ataupun perangkat lunak seperti:
kurikulum, metode dan administrasi pendidikan.
4. Dengan masih terbatasnya dana BOS itu mungkin ada yang berdalih jika Pemerintah sekadar membantu dan meringankan beban masyarakat miskin.
Hasil penelitian Puslitbang Pendidikan Agama Dan Keagamaan tahun 2006 tentang pembiayaan pendidikan di madrasah menyebutkan bahwa kesulitan yang dihadapi madrasah dalam pengelolaan pembiayaan pendidikan ternyata berawal dari persoalan penggalian dana itu sendiri. Sumber dana ini merupakan sumber dana tetap, meskipun secara nominal sebenarnya jumlah dana yang dapat di kumpulkan tidak seberapa, mengingat kebanyakan madrasah berada di pinggiran kota/pedesaan dan melayani pendidikan bagi siswa yang berasal dari keluarga tingkat ekonomi kurang mampu; seperti petani, buruh, dan pegawai rendah lainnya.
21
5. Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara pendidikan, masyarakat, pemerintah pusat dan daerah, serta sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang Dasar 1945 memberikan amanat kepada pemerintah Negara Indonesia untuk menetapkan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari anggaran belanja negara.
Pada Bab VIII Pasal 34 mengenai Wajib Belajar, undang-undang menyatakan:“Setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun dapat mengikuti program wajib belajar; Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Masyarakat. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 13 Undang-Undang tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa
“Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menyediakan anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan yang telah diangkat oleh satuan pendiidkan yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
3.2 SARAN
Mungkin inilah yang diwacanakan pada penulisan kelompok ini meskipun penulisan ini jauh dari sempurna minimal kita mengimplementankan tulisan ini masih banyak kesalahan dari penulisan kelompok kami, karna kami manusia yang adalah tempat salah dan dosa dalam hadits “al insa minal khotto’
wannisa”, dan kami juga butuh saran kritikan aga bisa menjadi motivasi untuk masa depan yang lebih baik dan pada masa sebelumnya. Kami juga mengucapkan terima kasih atas dosen pembimbing mata kuliah Manajemen pendidikan keuangan Islam ibu SISKA YULIA WENY yang telah memberi kami tugas kelompok demi kebaikan diri kita sendiri dan untuk negara dan bangsa.
22
DAFTAR PUSAKA
Apriyani, Anisa, (2022).Sumber Dana Pendidikan Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia . Jurnal Manajemen Dan Pendidikan.
Aulia Riski,”pengelolaan pembiayaan pendidikan di Indonesia”.
K, R. F. (2015). Pembiayaan Pendidikan di Indonesia. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar.
M. (2013). Manajemen Pembiayaan Pendidikan dalam Perspektif Islam Vol. 8, No. 2. Journal of Pesantren Educati
Siti Nurhalimah,”konsep an jenis pembiayaan pendidikan”Management of Education: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
Sudarmono, Lias Hasibuan, Kasful Anwar Us, (2021). Pembiayaan Pendidikan.
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial
_____,& Us, K. A. (2020). Pembiayaan Pendidikan. Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 2(1).
Suparlan Suhartono,(2007) Filsafat Pendidikan, Jogjakarta, Ar-Ruzz.
Tho’in, M. (2017). Pembiayaan Pendidikan Melalui Sektor Zakat. Al-Amwal:
Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah, 9(2)