• Tidak ada hasil yang ditemukan

bidang ilmu : pendidikan proposal penelitian institusional fe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "bidang ilmu : pendidikan proposal penelitian institusional fe"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

BIDANG ILMU : PENDIDIKAN

PROPOSAL

PENELITIAN INSTITUSIONAL FE

MODEL BUDDING ENTREPRENEUR DALAM PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN PADA MAHASISWA PROGRAM VOKASI D3

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

PENELITI :

(Ketua)

Prof. Dr. Moerdiyanto (Ketua) Dr. Sugiharsono, M.Si Farlianto, SE (Anggota) Catarina Dyah (Anggota)

Sulasmi (Anggota) Amalia Rahmah (Anggota)

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

TAHUN 2014

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

PENELITIAN INSTITUSIONAL FE UNY

Judul Penelitian : Model Budding Entrepreneur dalam Pendidikan Kewirausahaan Pada Mahasiswa Program Vokasi D3 Fakultas Ekonomi UNY.

Kode/nama Rumpun Ilmu :723/ /Pendidikan Ekonomi Kewirausahaan Bidang Unggulan PT : Industri Kreatif

Topik Unggulan : Pendidikan Kewirausahaan Ketua Peneliti:

a. Nama Lengkap : Prof. Dr. Moerdiyanto.

b. NIDN : 0007055810

c. Jabatan Fungsional : Guru Besar Gol IV/d

d. Program Studi/Bid.K : Manajemen/Bidang keahlian Manajemen Bisnis e. Nomor HP : 08164895080/(0274) 378472

f. Alamat kantor : FE UNY Karangmalang Yogyakarta Telp/Fax (0274) 554902 g. Alamat e-mail :[email protected], murdiyanto.uny.ac.id.

Anggota Peneliti

a. Dosen : 1. Dr. Sugiharsono, M.Si/ NIP: 19550328 198303 1 002 (Bidang keahlian Ekonomi Kerakyatan)

: 2. Farlianto, SE (NIP. 19700925 200012 1 001/Bidang keahlian Manajemen Pemasaran)

b. Mahasiswa :1. Chatarina Dyah (NIM 13702251045/Bidang Keahlian Kewirausahaan) 2. Sulasmi (NIM 12702251039/Bidang Keahlian Kewirausahaan)

3. Amalia Rahmah(NIM 12810134020/Bidang KeahlianKewirausahaan) Lama Penelitian Keseluruhan: 1 tahun

Biaya Penelitian Keseluruhan : Rp. 15.000.000,00

Yogyakarta, 23 Maret 2014 Mengetahui,

Dekan FE UNY Ketua Peneliti,

Dr. Sugiharsono,M.Si Prof. Dr. Moerdiyanto.

NIP: 19550328 198303 1 002 NIP: 19580507 198303 1 001

(3)

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN

DAFTAR ISI RINGKASAN

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan

1.4 Manfaat

BABA 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Hukum 2.2 Landasan Teori

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1 Gambaran Umum Model 3.2 Alur Penyelenggaraan Model 3.3 Komponen Model

BAB 4 BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN 4.1 Anggaran Biaya

4.2 Jadwal Penelitian DAFTAR PUSTAKA

(4)

RINGKASAN

Penelitian pengembangan model Model Budding Entrepreneurship dalam pelatihan kewirausahaan pada mahasiswa Pendidikan Vokasi Fakultas Ekonomi UNYini bertujuan untuk menyusun panduan penyelenggaraan pendidikan kewirausahaan dengan Budding Entrepreneurship Model (BEM). Model BEM ini mengembangkan mental kewirausahaan peserta didik, menumbuhkan motivasi dalam berwirausaha, memberikan keterampilan dalam mengidentifikasi peluang dan membuat perencanaan usaha, melatih keterampilan memulai usaha, dan mengembangkan relasi usaha untuk menjadi pengusaha baru (Budding Entrepreneur).

Subjek penelitian adalah mahasiswa program pendidikan vokasi FE Universitas Negeri Yogyakarta. Data penelitian dikumpulkan melalui angket dan wawancara. Metode analisis menggunakan metode analisis deskriptif.

Hasil pengkajian dan pengembangan model pendidikan kewirausahaan ini diharapkan dimanfaatkan pihak-pihak yang berkepentingan, terutama para dosen kewirausahaan di program vokasi (Diploma-3) yang berkenaan dengan efektifitas penyelenggaraan pembelajaran kewirausahaan di universitas, sekolah tinggi dan akademi/Politeknik.

(5)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Angka pengangguran di Indonesia pada awal tahun 2012 sebanyak 7,7 juta jiwa atau 6,56% dari jumlah angkatan kerja sebesar 117,37 juta jiwa. Angka ini sudah mengalami penurunan dari jumlah pengangguran tahun 2011 sebelumnya yaitu 8,12 juta orang atau 6,85. Namun demikian tetap masih menghambat proses pembangunan dan menjadi persoalan yang harus dicarikan solusinya.

Faktor paling dominan penyebab pengangguran adalah tidak seimbangnya antara supply and demand, atau jumlah pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lowongan yang tersedia. Faktor lainnya adalah masih belum dimafaatkannya peluang usaha yang bersumber dari potensi kearifan lokal masyarakat, yang dapat membuat masyarakat menjadi seorang pengusaha (entrepreneur) ketimbang menjadi seorang pekerja. Tidak bisa dipungkiri fakta yang ada bahwa masyarakat lebih banyak mengharapkan dapat bekerja sebagai pekerja ketimbang menjadi pengusaha.

Untuk mengurangi angka pengangguran, salah satu caranya adalah dengan mengembangkan karakter kewirausahaan sedini mungkin, karena suatu bangsa akan maju apabila jumlah wirausahanya palingsedikit 2% dari jumlah penduduk. Pada tahun 2007, jumlah wirausaha di Singapura sebesar 7,2%, Amerika Serikat 2.14%, Indonesia yang jumlah penduduknya 220 juta, jumlah wirausahanya hanya sebanyak 400.000 orang (0,18%) belum memenuhi standar minimal untuk menjadi Negara maju yang memiliki jumlah wirausaha yang banyak.

Kenyataan yang ada, pendidikan kewirausahaan di Indonesia masih kurang memperoleh perhatian yang cukup memadai, baik oleh dunia pendidikan maupun masyarakat. Banyak pendidik yang kurang memperhatikan penumbuhan karakter dan perilaku wirausaha peserta didik, baik di sekolah-sekolah kejuruan, pendidikan professional maupun pada lembaga pendidikan non formal. Orientasi lembaga pada umumnya hanya pada menyiapkan tenaga kerja. Untuk itu, perlu dicari jalan keluar, bagaimana pendidikan dapat berperan untuk menyiapkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki karakter dan sekaligus berperilaku wirausaha. Sementara di sisi lain, banyak dijumpai peluang yang dapat menjadi solusi, diantaranya adalah mengubah pola konsumsi masyarakat Indonesia. Menurut Board Categori Indonesia, bahwa arah

(6)

penggunaan dana di peringkat pertama adalah makanan dan minuman non alcohol sebesar 41% (Tempo Edisi Februari 2012).

Pelaksanaan pendidikan pada Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan seharusnya merupakan proses pembelajaran dan bimbingan di sekolah dan ditambah proses pelatihan kerja di dunia usaha yang sesungguhnya. Proses pembelajaran di sekolah terutama bertujuan untuk membekali siswa dalam mengembangkan kepribadian, potensi akademik, dan dasar-dasar keahlian yang kuat dan benar melalui pembelajaran pembelajaran normatif, adaptif, produktif. Pembelajaran normatif bertujuan membentuk watak dan kepribadian siswa sebagai warga Negara Indonesia, dan adaptif mengenai pembekalan kemampuan untuk mengembangkan diri secara berkelanjutan, sedangkan produktif menyangkut dasar keahlian tertentu untuk bekal kerja. Proses pelatihan kerja di dunia usaha bertujuan untuk membekali siswa menguasai kompetensi keahlian produktif terstandar, menginternalisasi sikap, nilai dan budaya dunia usaha yang berorientasi pada standar mutu, nilai-nilai ekonomi, kritis, produktif dan kompetitif serta sikap kewirausahaan.

Proses pembelajaran di atas dapat menumbuh-kembangkan kewirausahaan pada siswa yang melakukan pelatihan, seperti yang diungkapkan Djatmiko (1988: 69)

“…..bahwa perlakuan untuk mendidik wirausaha pada masa remaja adalah dengan pelatihan kecakapan kerja, sehingga siswa mampu memahami lingkungan kerja yang sesungguhnya dan kompetensi apa saja yang harus dimiliki untuk menjalankan perusahaan. Dari aspek pengetahuan siswa memahami teknik bidang usaha yang dimasuki, peran dan tanggung jawab manajemen dan organisasi bisnis, kepribadian dan kemampuan mandiri, sedangkan aspek keterampilan pada pelatihan meliputi mengatur teknik bidang usaha, keterampilan berkomunikasi, dan berinteraksi. Keterampilan ini memberikan arahan bahwa masalah sulitnya memperoleh pekerjaan dan timbulnya pengangguran tidak hanya diselesaikan dengan satu cara saja tetapi harus dihadapi dengan berbagai pendekatan disiplin keilmuan”.

Kewirausahaan merupakan salah satu alternatif dalam memecahkan masalah pengangguran, seperti yang diungkap oleh Lupiyoadi (1998:14) bahwa “dengan adanya perusahaan yang dibangun oleh pewirausaha merupakan katup pengaman dalam masalah pengangguran”. Untuk menjadi wirausahawan yang baik diperlukan adanya sikap wirausaha. Sikap wirausaha terdiri atas: (a) bekerja keras; (b) keyakinan yang kuat atas kekuatan pribadi; (c) kejujuran dan tanggung jawab; ketahanan fisik dan mental; (e) ketekunan dan keuletan untuk bekerja keras; (f) pemikiran yang konstruktif dan kreatif (Soemanto (1988:48).

(7)

Pendidikan menengah kejuruan pada gilirannya harus mampu berperan dalam mempersiapkan siswa yang mampu bertindak, belajar dan mengatur masa depannya secara aktif dan mandiri. Masalah yang muncul ternyata meskipun para pengambil keputusan pendidikan sudah banyak mengetahui kekurangan yang ada, namun tidak mudah untuk melakukan perubahan pendidikan secara cepat. Tidak mengherankan jika institusi pendidikan kita sepertinya kurang begitu responsif terhadap perkembangan.

Sekolah masih berjalan dengan sekedarnya saja mengikuti rutinitas yang ada, tanpa usaha kreatif untuk keluar dari kebiasaan.

Persoalan utama dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan adalah kesalahan dalam mengartikan kewirausahaan. Pada umumnya kewirausahaan hanya diartikan sebagai kemampuan menjalankan usaha secara mandiri. Karena pemahaman mengenai kewirausahaan hanya sedemikian sempit maka implementasi kurikulum dan silabus yang disusun untuk mengembangkan pendidikan kewirausahaan hanya sebatas bagaimana menjalankan usaha, bahkan ada yang diartikan keterampilan usaha.

Penelitian yang dilakukan oleh Priyanto (2010) juga menyimpulkan bahwa pendidikan kewirausahaan yang berlangsung di lembaga nonformal masih sangat mengedepankan teknik menjalankan usaha. Pengembangan personal sebagai inti dari pendidikan kewirausahaan belum banyak diberikan. Model pendidikan kewirausahaan masih banyak yang dilakukan hanya untuk menambah keterampilan teknologi yang diharapkan bisa digunakan untuk usaha. Kurikulum yang berisi pendidikan mental untuk berusaha belum banyak dikupas.

Kurikulum dan silabus serta sarana dan prasarana pendidikannya belum memadai untuk melaksanakan pendidikan kewirausahaan,dampak dari pendidikan kewirausahaan ini belum tampak signifikan menjadikan seseorang menjadi entrepreneur. Peserta didik bertambah pengetahuannya, meningkat keterampilannya, namun mental ability, aptitude dan attitude belum banyak berubah, padahal justru kesiapan mental inilah yang sangat penting sebagai pengusaha pemula (budding entrepreneur)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Farida Hanum, dkk (2011) menyimpulkan bahwa, dampak penyelenggaraan Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) terhadap peserta didik untuk berusaha mandiri diperoleh data dari 100 responden sudah mampu mandiri sebanyak 12 orang atau 12%, namun demikian penghasilan mereka masih belum memadai karena masih menghadapi berbagai kendala seperti dalam pemasaran maupun dalam hal kemitraan. Sementara itu dampak penyelenggaraan PKH terhadap usaha kelompok peserta didik yang berusaha kelompok berjumlah 8 orang atau 8%meskipun

(8)

dengan penghasilan usaha kelompok yang belum maksimal karena terkendala dalam hal pemasaran dan manajemen. Dampak penyelenggaraan PKH terhadap penempatan kerja peserta didi kepada dunia usaha dan dunia Industri (DUDI) diperoleh data bahwa dari 100 responden baru ada 35 orang atau 35% yang bekerja.

Berangkat dari temuan bahwa perubahan minat wirausaha diperoleh beberapa indikator minat wirausaha di antaranya adalah kemauan keras untuk mencapai tujuan dan kebutuhan hidup, keyakinan atas kekuatan sendiri, ketahanan fisik dan mental, ketekunan dan keuletan bekerja, pemikiran yang kreatif, serta berani mengambil risiko. Indikator sikap jujur dan tanggung jawab serta berorientasi ke masa depan belum mengalami peningkatan. Oleh karena itu dengan adanya mata kuliah wajib universiter pada program pendidikan vokasi Diploma-3 di FE UNY, maka dikembangkan Model Pendidikan Kewirausahaan Budding Entrepreneur (BEM) yang lebih terfokus pada pengembangan personal sebagai inti dari pendidikan kewirausahaan. Silabus, materi, sarana prasarana dan proses pendidikan diutamakan untuk meningkatkan mental ability, aptitude dan attitude menjadi seorang pengusaha pemula yang handal, walaupun dimulai dari yang usaha kecil-kecilan.

B . Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di muka, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana model budding entrepreneur untuk pendidikan kewirausahaan yang tepat untuk membentuk mental entrepreneur bagi mahasiswa vokasi D-3 di FE UNY?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Menjadi model acuan dalam penyelenggaraan pembelajaran Pendidikan Kewirausahaan di program vokasi D3 FE UNY.

2. Tujuan Khusus

1) Mengembangkan mental kewirausahaan mahasiswa vokasi D-3 FE UNY 2) Menumbuhkan motivasi mahasiswa vokasi D3 FE UNYuntuk berwirausaha 3) Memberikan keterampilan dalam mengidentifikasi peluang dan membuat

perencanaan usaha bagi mahasiswa vokasi D3 FE UNY.

4) Membentuk keterampilan dalam memulai usaha.

5) Mewujudkan pengusaha pemula (budding entrepreneur) yang tangguh.

(9)

D. Manfaat

Hasil pengkajian dan pengembangan ini dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang terkait (Perguruan Tinggi, Fakultas, Politeknik, dan dosen kewirausahaan) yang berkenaan dengan efektifitas penyelenggaraan pembelajaran kewirausahaan.

(10)

BAB II KAJIAN TEORI

A. Landasan Hukum

1. Undang–undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal3

Dalam undang-undang No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 ditegaskan bahwa : “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

2. Instruksi Presiden No. 4 Tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudidayakan Kewirausahaan

Instruksi Presiden ini memberikan arah dalam melaksanakan gerakan memasyarakatkan dan membudayakan kewirausahaan di sektor masing-masing sesuai tugas, kewenangan dan tanggung jawabnya di bawah koordinasi Meneri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil. Melalui gerakan ini diharapkan budaya kewirausahaan akan menjadi bagian dari etos kerja masyarakat dan bangsa sehingga dapat melahirkan wirausahawan- wirausahawan baru yang handal, tangguh dan mandiri.

3. Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2009 Tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif

Kebijakan pengembangan Ekonomi Kreatif tahun 2009-2015, yakni pengembangan kegiatan ekonomi berdasarkan pada kreatifitas, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan daya kreasi dan daya cipta individu yang bernilai ekonomis dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat Indonesia.

4. Surat Keputusan Bersama Menteri Negara Kopeasi dan UKM dan Menteri Pendidikan Nasional No. 02/SKB/MENEG/2000 dan No.4/U/SKB/2000 tertanggal 29 Juni 2000 tentang Pendidikan Perkoperasian dan Kewirausahaan

Tujuan dari SKB adalah :

a) Memasyarakatkan dan mengembangkan perkoperasian dan kewirausahaan melalui pendidikan

b) Menyiapkan kader-kader koperasi dan wirausaha yang profesional

c) Menumbuh kembangkan koperasi, usaha kecil, dan menengah untuk menjadi pelaku ekonomi yang tangguh dan professional dalam tatanan ekonomi kerakyatan.

(11)

5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 63 Tahun 2009 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan, Pasal 4 butir (d) kreatifitas dan inovasi dalam menjalani kehidupan, butir (e) tingkat kemandirian serta daya saing, dan butir (f) kemampuan untuk menjamin keberlanjutan diri dan lingkungannya.

B. Landasan Teori 1. Konsep Kewirausahaan

Sampai saat ini konsep kewirausahaan masih terus berkembang. Kewirausahaan adalah suatu sikap, jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain. Kewirausahaan merupakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarya dan bersahaja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya.

Seseorang yang memiliki karakter wirausaha selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. Wirausaha adalah orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupannya. Norman M.

Scarorough dan Thomas W. Zimmerer (1993:5), “An entreprneur is one who creates a new business in the face of risk and uncertainly for the purpose of achieving profit and growth by identifying opportunities and asembling the necessary resouces to capitalze on those opportunities”. Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumberdaya- sumberdaya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat, mengambil keuntungan serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan.

Seorang wirausaha adalah orang-orang yang memiliki karakter wirausaha dan mengaplikasikan hakikat kewirausahaan dalam hidupnya. Dengan kata lain, wirausahaa adalah orang-orang yang memiliki jiwa kreativitas dan inovatif yang tinggi dalam hidupnya. Kewirausahaan tidak selalu identik dengan karakter wirausaha semata, karena karakter wirausaha kemungkinan juga dimiliki oleh seorang yang bukan wirausaha.

Wirausaha mencakup semua aspek pekerjaan, baik karyawan swasta maupun pemerintah (Soeparman Soemahamidjaja, 1980). Wirausaha adalah mereka yang melakukan upaya- upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide, dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang (opportunity) dan perbaikan (preparation) hidup (Prawirokusumo, 1997).

(12)

Kewirausahaan (entrepreneurship) muncul apabila seseorang individu berani mengambangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. Proses kewirausahaan meliputi semua fungsi, aktivitas dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi usaha (Suryana, 2001) Esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing. Menurut Zimmerer (1996:51), nilai tambah tersebut dapat diciptakan melalui cara berikut:

1. Pengembangan teknologi baru (developing new technology) 2. Penemuan pengetahuan baru (discovering new knowledge)

3. Perbaikan produk (barang dan jasa) yang sudah ada (improving existing products or sevices)

4. Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit (finding different ways of providing more goods and services winth fewer resources).

Walaupun di antara para ahli ada yang lebih menekankan kewirausahaan pada peran pengusaha kecil, namun sebenarnya karakter wirausaha juga dimiliki oleh orang-orang yang berprofesi di luar wirausaha. Karakter kewirausahaan itu ada pada setiap orang yang menyukai perubahan, pembaharuan, kemajuan dan tantangan, apapun profesinya.

Dengan demikian, ada enam hakikat pentingnya kewirausahaan, yaitu:

1. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya, tenga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis (Ahmad Sanusi, 1994)

2. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai sebuah usaha dan mengembangkan usaha (Soeharto Prawiro, 1997).

3. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih.

4. Kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (Drucker, 1959)

5. Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreatifitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha (Zmmerer, 1996).

(13)

6. Kewirausahaan adalah usaha untuk menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.

Jadi, untuk menjadi wirausaha yang berhasil, persyaratan utama yang harus dimiliki adalah memiliki jiwa dan watak kewirausahaan. Jiwa dan watak kewirausahaan tersebut dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan, atau kompetensi. Kompetensi itu sendiri ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman usaha. Seperti yang dikemukakan di atas, bahwa seseorang wirausaha adalah seseorang yang memiliki jiwa dan kemampuan tertentu dalam berkreasi dan berinovasi. Ia adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan bebeda (ability to create the new and different) atau kemampuan kreatif dan inovatif. Kemampuan kreatif dan inovatif tersebut secara riil tercermi dalam kemampuan dan kemauan untuk memulai usaha (star up), kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang baru (creative), kemauan dan kemampuan untuk mencari peluang (opportunity), kemampuan dan keberanian untuk menanggung risiko (risk bearing) dan kemampuan untuk mengembangkan ide dan meramu sumber daya.

Enterpreneur atau wirausahwan adalah orang yang melakukan aktivitas wirausaha di cirikan dengan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menemukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk mengadakan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya. Wirausahawan menciptakan sebuah bisnis baru dalam menghadapi risiko dan ketidak pastian untuk tujuan mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan mengidentifikasi peluang signifikan dan sumberdaya yang diperlukan.

Berikut adalah sepuluh unsur kepribadian seorang bilionaire (para pengusaha sukse kelas dunia) yang disarikan berdasarkan komunikasi dan pergaulan pribadi dengan para bilionaires dan beberapa pengusaha sukses.

1. Keberanian untuk berinisiatif

Di sinilah letak keunikan utama pengusaha kelas kakap dunia. Mereka selalu punya ide-ide jenial. sebagi contoh, si Raja Real Estate, kebangkitannya dari bangkrut beberapa tahun yang lalu sekarang sudah membuahkan lebih dari sekedar kerajaan properti belaka. Ada boneka Donald, ada seri TV The Appretice, ada online university TrumUniversity.com, bahkan ada t-shirt “You’re Fired” dan buku-buku best-sellernya.

Semua berangkat dari inisiatif belaka yang bisa kita pelajari dan bisa kita tiru.

(14)

2. Tepat waktu

Selalu menepati janji dan tepat waktu karena ini adalah bukti kemampuan mamanager sesuatu yang paling terbatas di dalam hidup kita, yaitu waktu. Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis.

Respek terhadap waktu merupakan pencerminan dari respek terhadap diri sendiri dan patner bisnis.

3. Senang melayani dan memberi

Seorang bilionaire pasti mempunyai kepribadian seabagai pemimipin dan seorang pemimpin adalah pelayan dan pemberi. The more you give to others, the more respect you get return. Syukur-syukur kalau ada karma baik sehingga mendapat kebaikan juga dari orang lain. Paling tidak dengan memberi dan melayani, kita sudah menunjukkan kepada dunia betapa berlimpahnya kita. Alam bawah sadar kita akan terus membentuk blueprint sukses berdasarkan kemampuan memberi ini.

4. Membuka diri terlebih dahulu

Pernah Anda bertemu orang yang selalu bertanya sola hal-hal pribadi tentang orang lain namun tidak pernah mau membuka diri? Mereka biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, yang pasti mereka akan sangat sulit untuk mencapai kesuksesan karena dua hal ini adalah lawan dari unsur-unsur yang membangun sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, sesuatu yang dicari oleh para patner bisnis sejati. (Siapa yang mau bekerja sama dengan orang yang misterius?)

5. Senang bekerja sama dan membina hubungan baik dengan para patner bisnis

Team work jelas adalah salah astu kunci keberhasilan utama. Donald Trump dan Marta Stewart pun mempunyai tim-tim mereka yang sangat loyal sehingga mereka bisa mencapai sukses yang luar biasa. “No man is an island”, kita semua perlu membangun

network kerja yang baik, sehingga jalan menuju sukses semakin terbuka lebar.

6. Senang mempelajari hal-hal baru

Kembali mengambil contoh Pak Trump yang baru saja membuka online university.

Apakah beliau adalah ahli pendidikan? Seorang profesor? Jelas tidak, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta langsung mengaplikasikannya, maka dunia

(15)

bisnis semakin terbuka luas baginya. Dunia bisnis baginya adalah tempat bermain yang luas dan tidak terbatas. Kuncinya hanya satu: senagn belajar dan mencari hal-hal baru.

7. Jarang mengeluh

Profesionalisme adalah yang paling utama. Lance Amstrong pernah berkata. “There are kinds of days : good days and great days”. Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang sangat baik. Jangan sekali-kali mengeluh di dalam bisnis, walaupun suatu hari mungkin anda jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap kali gagal adalah kesempatan untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari dimana anda gagal tetap adalah a good day (hari yang baik).

8. Berani menanggung risiko

Jelas bahwa tanpa risiko tidak ada kesempatan sama sekali untuk menuju sukses.

Sebenarnya setiap hari kita menanggung risiko, walaupun tidak disadari penuh. Risiko hanyalah akan berakibat dua macam : be agood or great day (lihat di atas). jadi, untuk apa takut? Kegagalan pun hanyalah kesempatan belajar untuk mengulangi hal yang sama di kemudian hari kan?

9. Tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap saat)

Berpikir positif adalah environment atau default state di mana keseluruhan eksistenti kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif sebagi default state, maka semua perbuatan kitaakan berdasarkan ini (kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiraa positif, maka perbuatan kita akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin besar kemungkinannya.

10. “Confortable in their own skin” (nyaman dengan diri sendiri tanpa perlu berusaha menutup-nutupi sesuatu maupun supaya tampak “lebih” dari lawan bicara)

Pernah bertemu dengan bilionaire yang rendah diri alias tidak nyaman dengan diri mereka sendiri? Saya yakin tidak ada. Kenyamanan menjadi diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia yag tidak bisa digantikan oleh orang lain. Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka tidak nyaman, itu bukan karen kepribdian saya, namun karena mindset yang berbeda dan kekurang mampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan diri sendiri.

(16)

2. Ruang Lingkup dan Proses Terbentuknya Kewirausahaan

Dalam teori ekonomi, studi kewirausahaan ditekankan pada identifikasi peluang yang terdapat pada peranserta membahas fungsi inovasi dari wirausaha dalam menciptakan kombinasi suber daya ekonomis sehingga mempengaruhi ekonomi agregat. Dalam bidang ilmu psikologi, studi kewirausahaan meneliti karakteristik kepribadian wirausaha, sedangkan pada ilmu sosiologi penelitian ditekankan pada pengaruh dari lingkungan sosial dan kebudayaan dalam pembentukan masyarakat wirausaha.

Ray dan Ranachandran (1996) menandaskan. walau terdapat peerbedaan sudut pandang, penelitian yang dilakukan baik oleh ahli ekonomi, psikologi, dan sosiologi harus tetap berpijak pada kegiatan kewirausahaan serta sebab akibatnya pada tingkat mikro dan makro. Dengan demikian adalah wajar jika studi kewirausahaan dengan penekanan keilmuan yang berbeda itu pada akhirnya akan saling berhubungan dan memperngaruhi.

Muncul banyak wirausaha atau pebisnis, telah menarik perhatian para pakar untuk meneliti bagaimana mereka terbentuk. Begitu banya teori yang telah mengupas terbentuknya wirausaha intinya bahwa wirausaha dalah sebuah proses.

a. Teori Goal Directed Behavior

Menurut Wolman (1973), seseorang dapat saja menjadi wirausaha karena termotivasi untuk mencapai tujuan tertentu. Teori ini disebut dengan Goal Directed Behavior. Teori ini hendak menggambarkan bagaimana seseorang tergerak menjadi wirasuaha, motivasinya dapat terlihat langkah-langkahnya dalam mencapai tujuan (goal directed behavior). Di awali dari adanya dorongan need, kemudian goal directed behavior, hingga tercapainya tujuan. Sedangkan need itu sendiri sari skema muncul karena adana defisit dan ketidakseimbangan tertentu pada diri individu yang bersangkutan (wirausaha). Seseorang terjun dalam dunia wirausaha di awali dengan adanya kebutuhan-kebutuhan, ini mendorong kegiatan-kegiatan tertentu, yang ditujukan pada pencapaian tujuan.

Dari kacamata teori need dan motivasi tingkah laku, seperti menemukan kesempatan berusahan sampai mendirikan dan melembagakan ushanya merupakan goal directed behavior . Sedangkan goal tujuannya adalah mempertahankan dan memperbaiki kelangsungan hidup wirausaha.

(17)

b. Teori Outcome Expectacy

Bandura (1986) menyatakan bahwa outcome expectancy bukan suatu perilaku tetapi keyakinan tentang konsekuensi yang diterima setelah melakukan tindakan sesuatu.

.. jugdement about likely conseguens of specific behaviors in particular situations.

(Bandura, 1086:8)

Dari definisi di atas, out come expentancy dapaa diartikan sebagai keyakinan seeorang mengenai hasil yang akan diperolehnya jika ia melaksanakan suatu perilaku tertentu, yaitu perilaku yang menunjukkan keberhasilan. Seseorang memperkirakan bahwa keberhasilannya dalam melakukan tugas tertentu akan mendatangkan imbalan dengan nilai tertentu juga. Imbalan ini berupa juga insentif kerja yang dapat diperoleh dengan segera atau dalam jangka panjang. Karenanyajika seseorang menganggap profesi wirausaha akan memberikan insentif yang sesuai dengan keinginannya maka dia akan berudaha untuk memenuhi keinginannya dengan menjadi wirausaha. Michael Dell, seorang mahasiswa teknik komputerdi AS, mempunyai keyakinan yang kuat bahwa dia geluti serius hobi modifikasi komputer yang diminati teman-temannya ia akan dapat mengalahkan IBM kelak. Terdorong oleh hal itu Dell terus mengembangkan usaha dengan mendirikan Dell Corporation. Hingga kini Del dan IBM terus bersaing di industry komputer. Teori-teori di atas sudah menjelaskan mengenai bagaimana proses seseorang dapat menjadi wirausaha. Dengan memadukan teori tersebut dapat menjadi model tahapan pembentukan yang sifatnya lebih komprehensif. Tahapan tersebut adalah:

a. Deficit equilibrium

Sesorang merasa adanya kekurangan dalam dirinya dan berusaha untuk mengatasinya.

Kekurangan tersebut tidak harus berupa materi saja, namun dapat juga berupa ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri (motivasi, standar internal, dan lain-lain).

b. Pengambilan keputusan menjadi wirausaha

Perasaan kekurangan mendorong dia untuk mencari pemecahannya, untuk itu dia mengevaluasi alternative pemecahan yang dimiliki. Dalam hal ini kemampuan perceptual, kapasitas informasi yang diterima, keberanian mengambil resiko, dan tingkat aspirasinya terhadap suatu alternative kepurtusan memiliki peran yang sangat besar (Reitmen, 1976) dalam usahanya mengambil keputusan untuk menjadi wirausaha.

(18)

c. Goal Directed Behavior

Keputusan menjadi wirausaha diambil dengan tujuan memecahkan masalah kekurangan yang dia miliki. Di sini masalah kekurangan diidentifikasi dengan adanya harapan sebagai pemecahan. Harapan-harapan tersebut berupa insentif yang akan dia dapat jika melakukan tindakan tertentu. Insentif ini menjadi rangsangan atau tujuan sehingga mendorong tindakan dan perilakunya sebagai seorang wirausaha (Wolman, 1973).

d. Pencapaian Tujuan

Seperti dijelaskan sebelumnya, tujuan sangat penting untuk pengambila keputusan menjadi wirasaha. Tujuan ini berupa insentif yang diyakini akan dinikmati jika seseorang melakukan kegiatan tertentu.

3. Pembelajaran Pendidikan Prakarya dan Kewirausahaan

Pendidikan kewirausahaan bertujuan untuk membentuk manusia secara utuh (holistik), sebagai insan yang memiliki karakter, pemahaman dan ketrampilan sebagai wirausaha. Sehingga hasilnya diperolehmya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kewirausahaan ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi (materi) yang ditargetkan, juga dirancang dan dilakukan untuk menjadikanpeserta didik mengenal, menyadari/peduli, dan menginternalisasikan nilai-nilai kewirausahaan dan menjadikannya perilaku.

Pendidikan Kewirausahaan merupakan salah satu pembelajaran Kementrian Pendidikan Nasional yang bertujuan antara lain menanamkan jiwa, sikap,dan etika wirausaha kepada peserta didik, memberikan bekal pengetahuan tentang kewirausahaan kepada pesertadidik, memberi bekal keterampilan di bidang barang/jasa kepada peserta didik. Disamping itu untuk melatih ketrampilan berwirausaha keada peserta didik melalui praktik berwirausaha, mendorong danmenciptakan wirausahawanbaru melalui proses pembelajran yang didukung oleh dunia dan industry, mitra-mitra usaha dan dinas/instansi terkait, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja/usaha baru ataumengakses peluang kerja/usaha yang ada.

Ada dua dimensi keterampilan terintegrasi yang harus dikembangkan melalui pembelajaran prakarya dan kewirausahaan yaitu Pertama, keterampilan berwirausaha dan keterampilan produksi barang/jasa. Keterampilan berwirausaha yang dimaksud adalah seperangkat kemampuan yang dibutuhkan peserta didik untuk dapat menjalankan usaha

(19)

mandiri. Kedua, Keterampilan produksi barang/jasa adalah menjalankan kemampuan memilih produk barang atau jasa yang memiliki peluang usaha besar, memodifikasi produk barang atau jasa yang sudah ada menjadi produk barang atau jasa yang lebih inovatif dan memiliki nilai ekonomi tinggi, atau memproduksi barang atau jasa baru yang dibutuhkan masyarakat. Misi dan tujuan dari pendidikan ini adalah memberikan bekal pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat sehingga setiap lulusan dapat masuk di dunia kerja dan atau menciptakan lapangan kerja baru, menghasilkan produk barang dan/ jasa yang kreatif dan inovatif sehingga memberdayakan potensi local untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Pendidikan kewirausahaan akan memberikan peluang tumbuh dan berkembangnya potensi kreativitas dan inovasi anak. Nilai-nilai kewirausahaan akan menjadi karakteristik peserta didik yang dapat digunakannya dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Pada akhirnya pribadi yang memiliki karakter, bertanggung jawab, disiplin dan konsisten akan mampu memberikan kontribusi dalam pemecahan masalah sumber daya manusia Indonesia. Pendidikan kewirausahaan akan mereduksi midset peserta didik tentang tujuan dan orientasi mengikuti pendidikan untuk menjadi pegawai negeri. Pendidikan kewirausahaan juga mempersiapkan peserta didik memiliki sikap kewirausahaan dan mampu mengembangkan seluruh potensi dirinya untuk menghadapi masa depannya dengan segala problematikanya. Ini berarti pendidikan kewirausahaan persamaan dengan subtansi pendidikan lainnya akan mereduksi sejumlah persoalan sosiologis yang terkait dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Sebab itu, pengembangan pendidikan kewirausahaan ini harus memperhatikan suasana psikologis dan iklim sosial.

4. Teori Pengembangan Mental

Mental adalah hal yang mendasar yang dimiiki oleh seaseorang, cerminan atas mental adalah sikap seseorang dalam berperilaku. Manusia yang bermental wirausaha mempunyai kemampuan keras untuk mencpai tujuan dan kebutuhan hidupnya. Kekuatan untuk mencapai tujuan adalah kemauan. Apabila kita berkemauan keras, maka jalan akan terbuka sehingga kita dapat mencapai tujuan kita. Ada pepatah, bila ada kemauan pasti ada jalan. Jadi kemauan yang keras merupakan kunci dari pada keberhasilan seseorang untuk mencapai tujuan. Hanya orang yang berkemauan keras saja yang bisa mencapai hidup sukses. Sebaliknya, orang yang kurang memliki kemauan keras akan mudah menyerah kepada keadaan yang menimpa dirinya.

(20)

Orang yang kemauannya lemah kurang mampu berusaha memperbaiki nasib hidupnya, menjadi suka tergantung dan biasa cenerung menjadi malas. Disamping berkemauan keras, manusia yang bersikap mental wirausaha memiliki keyakinan yang kuat dan kekuatan yang ada pada dirinya. Kita lahir di dunia telah dibekali dengan perlengkapan dan kekuatan sang pencipta agar kita dapat hidup dan menaklukan alam sekitar. Keyakinan inilah yang memberikan harapan, kegairahan serta semangat untuk bekerja atau berbuat ke arah tercapainya tujuan hidup kita. Keyakinan yang kuat dapat kita tumbuhkan di dalam jiwa kita dengan syarat:

a) Kita harus mengenal diri kita sendiri sebagai makhluk yang memiliki kelemahan, namun memperoleh anugerah kekuatan dari Yang Maha Kuasa untuk mengatasi kelemahan kita.

b) Kita harus percaya kepada kemampuan diri sendiri, bahwa kita memliki potensi tersendiri yang tidak kurang kuatnya dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Coba renungkan, kalau orang lain bisa mencapai kesuksesan, mengapa kita tidak bisa?

c) Kita harus mengetahui dengan jelas terhadap tujuan-tujuan serta kebutuhan kita, di mana kita dapat mendapatkannya, bagaimana cara untuk mencapai atau memenuhinya, serta kapan/bebrapa lama target waktu untuk mencapai/memenuhinya, serta setiap tujua, kebutuhan dan rencana-rencana kita harus senantiasa menguasai jiwa kita dengan penuh kesabaran. Hal ini akan menumbuhkan kepercayaan kepada diri sendiri, sehingga dengan demikian timbul pula kegairahan dan semangat untuk maju dan kita terdorong dan tergerak untuk berbuat.

Manusia yang bersikap mental wirausaha memiliki sifat kejujuran dan tanggung jawab. Salah satu kunci keberhasilan seseorang dalam berusaha dan berwirausaha adalah kepercayaan dari orang lain terhadap dirinya. Agar seseorang simpati dan memiliki kepercayaan kepada orang laindalam berusaha, maka ia harus memiliki sifat kejujuran dan tanggung jawab ini. Banyak orang yang tidak dipercaya oleh orang lain, baik dibidang usaha maupun karier oleh karena mereka tidak jujur dan tidak memiliki rasa tanggung jawab. Apabila uraian tentang sikap mental wirausaha di atas tingkas, maka dapat disimpulkan, bahwa manusia yang bersikap mental wirausaha setidak-tidaknya memiliki enam kekuatan mental yang membangun kepribadianyang kuat:

1) Kemampuan keras

2) Berkeyakinan kuat atas kkuatan pribadi, untuk diperlukan:

a. Pengenalam diri

(21)

b. Kepercayaan pada diri sendiri c. Pemahaman tujuan dan kebutuhan

3) Kejujuran dan tenggung jawab; yang ini diperlukan:

a) Moral yang tinggi b) Disiplin diri sendiri

4) Ketahanan fisik dan mental, yang diperlukan:

a) Kesehatan jasmani dan rohani b) Kesabaran

c) Ketabahan

5) Ketekunan dan keuletan untuk bekerja keras 6) Pemikiran yang kontruktif dan kreatif

Dengan demikian pribadi yang bersikap mental wirausaha menghendaki adanya enam kekuatan pribadai seperti yang dikemukakan di atas.

5. Pendekatan-Pendekatan Sistem dalam Pendidikan Kewirausahaan Masyarakat (Great System)

a. Pendekatan system

Dalam cakupan pengertianh system termuat adanya berbagai komponen (unsur), berbagai kegiatan (menunjuk fungsi dari setiap komponen), adanya saling hubungan serta ketergantungan antar komponen, adanya keterpaduan (kesatuan organisasi=integrasi) antar komponen, adanya keluasan system (ada kawasan di dalam dan di luar system), dan gerak dinamis semua fungsi dari semuakmomponen tersebutmengarah (berorientasi=berkiblat) ke pencapaian tujuan system yang telah ditetapkan lebih dahulu. Bertolak dari identifikasi system tersebut, maka akan disajikan bebrapa batasan system untukm diarifi seperlunya, batasan system tersebut adalah:

1) Sistem adalah komposisi (susunan yang serasi) dari fungsi komponennya,

2) Sistem adalah rangkaian komponen yang saling berkaitandan berfungsi ke arahtercapainya tujuan system yang telah ditetapkan lebih dahulu. (Warjan,dkk, 1984:1)

3) Sistem adalah pengkoordinasian (pengorganisasian) seluruh komponen serta kegiatan dalam rangka pencapaian tujhuan yang telah ditetapkan lebih dahulu

4) A system is an organized or complex whole; an assembling or combination of things or

(22)

Pengertian dan ciri-ciri system atau pendekatan system dapat dengan analysis kondisi fisis (misalnya: system tata surya, rakitan mesin), dapat dihubungkan dengan analisis biotis (misalnya: jaring0jaring ekologis, koordinasi tubuha manusia), dan dapat dihubungkan dengan analisis gejala social (misalnya: kehidupan ekonomis, gejala pendidikan, pola nilai hidup). Analisis system social pada umumnya dan khususnya system pendidikan bersifat terbuka, yaitu suatu system yang mudah dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di luar sistemnya (rentan terhadap pengaruh luar), misalnya system sekolah ,udah dipengaruhi oleh masyarakat sekitarnya (supra systemmya). Karakter system pendidikan yang bersifat terbuka ini menuntut konsekwensi penyelenggaraan pendidikan sekolah yang kritis 9 dalam mawas diri) dan kreatif (dalam mencari alternative pengembangan yang positif) secara berkesinambungan.

Secara rinci, ciri-ciri yang terkandung dalam system atau pendekatan system, adalah : 1) Adanya tujuan

2) Adanya komponen system (selain tujuan)

3) Adanya fungsi yang menjamin dinamika (gerak) dan kesatuan kerja system 4) Adanya interaksi antar komponen

Juga pendekatan sistem/sistem merupakan serangkaian langkah-langkah pemecahan masalah yang memastikan bahwa masalah dipahami, solusi alternatif dipertimbangkan dan solusi yang dipilih bekerja. Secara bagan bisa disajikan seperti berikut :

Masalah

Standar

Informasi

Solusi Pemecahan

Masalah (Manajer) Elemen-elemen Sistem Konseptual

Kendala Berbagai

Solusi Alternatif

(23)

b. Tahap dan langkah Pendekatan Sistem 1. Persiapan

Mempersiapkan manajer untuk memecahkan masalah atau menyediakan orientasi sIstem.

Langkah :

1) Memandang perusahaan sebagai suatu sIstem atau menggunakan model sIstem umum perusahaan.

2) Mengenali sIstem lingkungan atau menempatkan perusahaan sebagai suatu sistem dalam lingkunganya.

3) Mengidentifikasi subsistem perusahaan atau subsistem sebagai bentuk area-area fungsional, tingkat-tingkat manajemen sebagai subsistem, arus sumber daya sebagai dasar membagi perusahaan menjadi subsistem.

2. Definisi

Identifikasi masalah : Suatu masalah ada atau akan ada. Pemahaman masalah : mempelajari untuk mencari solusi. Pemicu masalah : sinyal umpan balik yang menunjukan hal-hal lebih baik atau buruk.

Langkah :

1) Bergerak dari tingkat sistem ke subsistem : Tiap tingkatan manajemen adalah suatu subsistem. Yang dilakukan oleh seorang manajer adalah mempelajari posisi sistem dihubungkan dengan lingkungan, menganalisis system menurut subsistem-subsistem.

2) Menganalisis bagian system dalam urutan tertentu. Pada saat mempelajari tiap tingkat system, elemen-elemen system dianalisis secara berurutan :

a. Mengevaluasi standar : Standar harus sah, realistic, dimengerti, terukur.

b. Membandingkan output system dengan standar.

c. Mengevaluasi Manajemen.

d. Mengevaluasi pemrosesan Informasi.

e. Mengevaluasi input dan sumber daya input f. Mengevaluasi proses tranformasi

g. Mengevaluasi sumber daya output 3. Solusi

a) Mengidentifikasi alternatif solusi

(24)

Manajer harus mengidentifikasi bermacam-macam cara untuk memecahkan permasalahan yang sama. Contoh : computer tidak dapat menangani volume aktifitas kegiatan perusahaan, aternatifnya : menambah komputer, mengganti komputer, mengganti jaringan komputer.

b) Mengevaluasi alternatif solusi : mempertimbangkan kerugian dan keuntungan dari setiap alternatif solusi.

c) Memilih solusi terbaik : mengambil satu alternatif yang paling menguntungkan.

d) Menerapkan solusi terbaik.

e) Membuat tindak lanjut untuk memastikan bahwa solusi itu efektif : Manajer harus memastikan solusi mencapai kinerja yang direncanakan.

4. Pendekatan human dalam pendidikan kewirausahaan (Great Human)

Untuk menjadi seorang entrepreneur muda yang sukses, ada beberapa hal yang perlu dilakukan terhadap human-nya sehingga menjadi great human. Langkah-langkah yang dilakukan tersebut adalah :

a. Membangun kepribadian Budding Entrepreneur (pengusaha pemula)

Keberhasilan sebuah usaha sangat ditentukan oleh sosok pribadi sang pengusaha.

Membangun kepribadian merupakan hal yang mutlak bagi keberhasilan sebuah usaha.

Dengan persiapan yang memadai kita dapat menjadi lebih siap dengan tidak putus asa saat gagal dan tidak mudah terpuaskan saat berhasil. Kepribadian yang matang memudahkan kita untuk mengenal diri sendiri, memahami perubahan sikap mental, dan menyesuiakan diri dengan orang lain.

Berikut merupakan beberapa hal yang terkait dengan usaha membangun kepribadian, yaitu :

1) Mengenal diri sendiri, yang meliputi : mengenal karakter pribadi dan mengenal bakat dan kemampuan

2) Mempersiapkan perubahan mental, meliputi : siap mengahadapi ketidak pastian, siap mengatakan “bisa”, siap bekerja keras, tekun, dan sabar, berani mengambil risiko dan jangan sampai rugi.

b. Mempersiapkan keterampilan sebagai pengusaha pemula.

Salah satu kelemahan para pengusaha pemula dan sarjana di Indonesia adalah keterampilan dalam bidang soft skill. Pendidikan pada saat ini masih di dominasi oleh penguasaan teori atau ketrampilan teknis (thecnical/hard skill). Untuk menjadi

(25)

pengusaha pemula (budding Entrepreneur) yang sukses diperlukan beberapa ketrampilan soft skill yang harus dikuasai, yaitu :

1) Menjaga reputasi

2) Kemampuan membangun jaringan, meliputi : menumbuhkan rasa percaya diri yang kuat, menjadi anak gaul, buat kartu nama yang menarik dan spesifik serta berikan kepada teman baru, dan tawarkan persahabatan yang tulus.

3) Naluri mengenali peluang usaha, meliputi : menentukan arah usaha dan minat, menumbuhkan kepekaan lingkungan dan kondisi di sekitar, dan menerapkan manajemen informasi.

4) Kemampuan persuasi dan negosiasi, yang meliputi : itikad baik untuk mencapai win-win solution, mempersiapkan diri sebelum negosiasi, meningkatkan kemampuan komunikasi dan pengendalian emosi, serta sikap professional.

c. Membangun Usaha saat muda

Banyak pendapat menyatakan bahwa memulai usaha pada usia muda akan lebih berhasil dibandingkan dengan ketika sudah tua, bahkan saat pendiun. Ada beberapa alas an mengapa usaha disaat muda perlu dikembangkan yaitu :

1) Adanya kekuatan positif yang dimiliki kaum muda untuk berhasil dalam dunia usaha.

2) Ada peluang cukup besar berwujud potensi yang perlu dikembangan dari status kaum muda.

d. Merealisasikan mimpi sebagai pengusaha pemula menjadi kenyataan.

Hampir semua orang memimpikan masa depan yang indah. Namun pada kenyataanya ada orang yang mencapai mimpi indah tersebut dan ada yang tidak. Setiap orang seharusnya memang memiliki mimpi, namun sekadar mimpi dan angan-angan tanpa tindakan dan langkah-langkah yang nyata untuk mencapainya justru akan menimbulkan frustasi dalam kehidupan. Jadi bermimpilah dan ikutilah dengan tidakan dan langkah nyata untuk mencapainya agar menjadi kenyataan. Langkah-langkah tersebut di antaranya adalah :

1) Merubah impian menjadi visi 2) Menyusun rencana strategis

3) Menetapkan rencana jangka pendek 4) Melaksanakan usaha

(26)

5. The Budding Entrepreneur (BE)

Konsep The Budding Entrepreneur (BE) merupakan sebuah konsep yang dibangun dari Great System dan Great Human. The Budding Entrepreneur (BE) adalah konsep yang dibentuk untuk memberikan sebuah pelatihan kewirausahaan yang diharapkan menghasilkan entrepreneur-entrepreneur pemula yang sukses (Budding Entrepreneur).

Budding Entrepreneur ini tidak hanya dilihat dari besar kecilnya usaha yang dimiliki, akan tetapi merupakan sebuah pola pikir dan pola tindak yang menghasilkan kreatifitas dan inovasi yang bertujuan untuk senantiasa memberikan nilai tambah dari setiap sumber daya yang ada. Para peserta didik setelah diberikan pelatihan, akan didampingi mulai dari merencanakan usaha, memulai, membangun, merawat usaha sampai pada akhirnya usaha mereka bisa berjalan sendiri dan berkembang. Alat yang digunakan dalam pendampingan ini adalah Budding Entepreneur Community. Di mana Budding Entepreneur Community ini akan dibentuk sebagai sebuah komunitas pengusaha pemula dengan tujuan kepentingan pendampingan anggotanya.

(27)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Gambaran Umum Model

Model pendidikan kewirausahaan dengan pendekatan Budding Entrepreneurs ini merupakan model yang melatih siswa dengan berbagai jenis keterampilan tergantung dengan kebutuhan yang menjadi sebuah peluang usaha yang besar di daerah yang bersangkutan, yang terlebih dahulu dilakukan identifikasi kebutuhan. Melatih siswa yang telah memiliki keterampilan tertentu. Dengan merujuk kepada hasil identifikasi, maka sudah dapat ditentukan gambaran jenis usaha apa yang akan dibuat. Dalam proses pelatihan peserta didik juga diberikan materi kewirausahaan dan hal-hal yang berhubungan dengan kewirausahaan tersebut. Pada proses rekrutmen tidak diharuskan di daerah yang sama, sekalipun kalau memungkinkan itu lebih baik. Hal itu dikarenakan bahwa model ini menitik beratkan pada bagaimana melahirkan wirausahawan- wirausahawan melalui pembentukan kelompok usaha (terdiri dari beberapa siswa, sesuai dari rasionalitas hasil kajian dari identifikasi), dengan berbagai jenis keterampilan. Tempat dan jenis usaha mereka juga harus dikaji kesesuaian dengan perhitungn ekonomi dan kondisi pasar, yang dilakukan setelah mereka mengikuti kuliah. Jadi, model ini lebih menekankan kepada bagaimana memulai usaha, merawat, mengembangkan, dan menjadikan pemiliknya menjadi entrepreneur. Untuk itu, model ini merupakan model yang memberikan pendidikan ketrampilan yang menjadikan semua peserta didik menjadi orang yang memiliki semangat berwirausaha. Model ini tidak tergantung kepada satu jenis ketrampilan, akan tetapi lebih dari satu. Misalnya, apabila peserta didik ada 20 orang, maka sebelum melakukan proses pelatihan, mereka sudah terlebih dahulu diproyeksikan masing-masing lebih condong ke jenis keterampilan apa. Karena hal itu dipengaruhi jenis usaha apa yang tepat untuk setiap peserta didik. Jadi satu keterampilan cukup dua atau tiga orang saja, karena mereka juga yang nantinya menjadi kelompok usaha. Hal itu juga tidak terlepas dari proses identifikasi, oleh karena itu maka bentuk identifikasi juga harus diformat terlebih dahulu. Selain dari kebutuhan yang menjadi peluang usaha minat dari peserta didik juga harus didapat sewaktu melakukan identifikasi. Dengan demikian semua peserta didik diharapkan mau, mampu dan punya waktu untuk mengelola kelompok usaha, yang nantinya bisa menjadi batu loncatan untuk lebih sukses lagi, yaitu menjadi wirausahawan.

(28)

Pelaksanaan pembelajaran kewirausahaan pada model Budding Entrepreneur terdiri dari dua bagian besar yaitu, yang pertama adalah pembelajaran dengan teori meliputi materi membangun mental kewirausahaan yang tangguh, memiliki motivasi kewirausahaan, identifikasi peluang/pasar, memulai usaha, merawat, mengembangkan usaha, dan menjadi wirausaha pemula. Kemudaian yang kedua yaitu, melakukan langsung apa yang telah diperoleh di pembelajaran yaitu, dengan langsung memulai usaha sekalipun dimulai dari yang kecil. Pada pembelajaran kewirausahaan mereka diberikan kunjungan lapangan kemudian membuat perencanaan usaha yang akan dilaksanakan dengan segera. Perencanaan tersebut langsung direalisasikan. Dalam proses keberlangsungan mereka memulai usaha, mereka akan tetap didampingi dengan budding Entrepreneur Community. Di mana komunitas ini ditata sesuai dengan cita-cita para anggota (para peserta yang dilatih dan telah telah memulai usaha). Komunitas ini memiliki struktur organisasi (sekalipun belum legal secara hukum) untuk menggerakan fungsi manajemen, memiliki visi dan misi, dengan motto Big Dream, Start Small, And Good Action (Marta Tilaar). Komunitas ini menjadi wadah mereka untuk merawat dan mengembangkan usaha masing-masing. Di komunitas inilah mereka melakukan diskusi, tanya jawab, evaluasi usaha dan melakukan pemecahan masalah dan pengembangan usaha. Strategi Pengembangan Budding Entrepreneur Model dalam Pendidikan Kewirausahaan Mahassiswa Vokasi D3 FE UNY diawali langkah identifikasi kebutuhan dan peluang pasar suatu wilayah, termasuk potensi lingkungan yang perlu diperhatikan untuk menunjang keberhasilan usaha.

(29)

A. Alur Penyelenggaraan Model Budding Entrepreneur Pendidikan Kewirausahaan D3 FE UNY

SUMBER Daya ; Pendidik, Peserta didik, Penyelenggara

INPUT

KONDISI DAN KEBUTUHAN

Rekrutmen ; Pendidik, Peserta Didik, Penyelenggara

KEBIJAKAN

PROSES

GOOD SYSTEM GOOD HUMAN

KURIKULUM Lulusan memiliki :

BAHAN AJAR

MEDIA

METODE

PENDIDIK

MITRA

PELUANG KUNJUNGAN P R O S E S P E M B E L A J A R A N

MENTAL KEWIRAUSAHAAN MOTIVASI UNTUK BERWIRAUSAHA

MENGIDENTIFIKASI PELUANG DAN

MELAKUKAN MEMULAI, MEMBANGUN,

MERAWAT, DAN MENGEMBNAGKAN

USAHA

JIWA WIRAUSAHA MUDA

Meeting berkala, diskusi dan evaluasi PENDAMPINGAN

(Budding Enterprenuer Community)

UNIT USAHA DAN PELAKU USAHA

ENTREPRENEUER

OUT PUT

Memiliki penghasilan Dari unit usaha

OUT COME

(30)

Alur berpikir diatas dapat lebih dijelaskan sebgai berikut :

1. Dengan melihat input raw (mahasiswa) sebagai objek sasaran akhir yang perlu dirubah keadaannya, dimana mereka telah memiliki keterampilan dan kemauan (potensi) tetapi belum memiliki semangat dan motivasi berwirausaha maka perlu dilakukan usaha-usaha yang menjadi solusinya.

2. Untuk mendukung hal diatas, kita lihat enviromental input, juga sangat mendukung. Hanya saja belum terinteraksi dalam sebuah sistem.

3. Oleh karena itu, maka perlu komponen-komponen tersebut dibuat dalam suatu sistem yang saling berinteraksi. Dimana sistem tersebut dibuat dalam bentuk pembelajaran prakarya dan kewirausahaan. Untuk interaksi antar komponen, maka dilakukan pembengunan sistem dengan kombinasi terhadap komponen lainya, yaitu : kurikulum, bahan ajar, media, metode, mitra, dan peluang pasar/usaha, dan diikuti dengan magang atau kunjungan lapangan. Sistem ini menjadi sebuah sistem yang bagus (good system) dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) atau mahasiswa yang bagus (good human). Dalam model ini yang menjadi indikator goodhuman adalah mahasiswa yang setelah mengikuti pembelajaran memiliki : a. Mental kewirausahaan yang tangguh

b. Motivasi kewirausahaan yang kuat

c. Keterampilan mengidentifikasi peluang pasar dan melakukan perencanaan usaha d. Kemampuan memulai usaha, membangun, merawat, dan mengembangkan usaha e. Jiwa menjadi wirausaha pemula (budding interpreneuer)

4. Sebagai bagian yang tidak terputus dari pembelajaran, peserta (didik) tersebut langsung terjun memulai usaha. Mereka semua memiliki unit usaha masing-masing (sendiri-sendiri atau berkelompok). Dengan demikian sebagai out putnya adalah unit usaha.

5. Dengan demikan, mereka sudah menjadi seorang entrepreneuer, tinggal bagaimana dalam pengembangan.

6. Secara teori, pada proses pembelajaran mereka sudah dibelajarkan bagaimana melakukan pengembangan usaha. Dan untuk mempercepat pengembangan usaha tersebut peserta (didik) masih mendapat pendampingan dari guru melalui komunitas yang dibentuk, yaitu pada model ini dinamakan Budding Entrepeneuer Community. Komunitas inilah yang menjadi wadah mereka dalam melakukan pengembangan usaha mereka melalui berbagai kegiatan yang dilakukan secara berkala, seperti diskusi sesama mereka unntuk mecari solusi masalah mereka

(31)

masing-masing, evaluasi, menemukan strategi-strategi pengembangan usaha yang dilakukan juga dengan seminar atau workshop, atau pun mentoring.

7. Dengan dimulainya usaha, dibangun, dirawat, dan dikembangkan, jadilah mereka menjadi enterpenuer pemula yang hebat (budding Entreprenueur/BE).

8. Dan terakhir, sabagai outcome-nya mereka sudah berubah, yaitu dari yang tidak semangat berwirausaha menjadi memiliki semangat berwirausaha, dari yang belum memiliki usaha menjadi memiliki usaha dan akhirnya memiliki penghasilan.

C. Komponen Model 1. Mahasiswa

Kriteria

1) Mahasiswa program D3 FE UNY perempuan atau laki-laki.

2) Mahasiswa yang sedang dan telah menggikuti kuliah kewirausahan.

Kewajiban

1) Mengikuti seluruh kegiatan perkuliahan 2) Bersedia mengikuti tata tertib yang ditetapkan Hak

1) Mendapat bimbingan dan arahan dalam proses kegiatan 2) Mendapat bahan/modul pelatihan

3) Mendapat kesempatan dalam merintis unit usaha baik sendiri atau kelompok

2. Dosen/pelatih 1) Kriteria Status

a) Akademisi bidang wirausaha

b) Memiliki best practices bidang kewirausahaan 1) Kualifikasi minimal pendidikan Sarjana

2) Kompetensi dosen/pelatih

a) Memiliki kepribadian wirausaha

(32)

b) Profesional mengelola usaha

c) Mampu berkomunikasi dengan efektif d) Mampu membangkitkan semangat wirausaha e) Mampu mengelola pembelajaran

f) Mampu mengembangkan analisis usaha dan pemasaran g) Mampu membina usaha

2) Penyelenggara Program

Dalam pelaksanaan pendidikan kewirausahaan yang menjadi penyelenggara adalah Ketua Program Studi

Kriteria :

1) Program studi D3 yang sudah memberlakukan kuliah wajib kewirausahaan.

2) Memilki kompetensi sebagai berikut :

(1) Kompetensi kepribadian: memilki minat dalam bentuk pengabdian untuk mengembangkan usaha

(2) Kompetensi profesional :

a. Mengatasi berbagai masalah teknis operasional

b. Membuat rencana anggaran pendapatan dan belanja lembaga (3) Kompetensi Pedagogik

Kompetensi ini menyangkut kemampuan dosen dalam memahami karakteristik atau kemampuan mahasiswa melalui berbagai cara. Cara yang utama yaitu dengan memahami semangat, kemamauan dan kemampuan berwirausaha.

(4) Kompetensi sosial

a. Bekerjasama denga berbagai pihak untuk kepentingan lembaga.

b. Mengambil peluang untuk mengelola usaha secara berkesinambungan.

c. Memiliki motivasi untuk meningkatkan kemajuan usaha.

Kewajiban

a) Menyiapkan seluruh kebutuhan dalam penyelenggaraan pembelajaran berlangsung.

b) Menata jalannya proses pembelajaran

c) Memelihara sarana dan prasarana selama berlangsungnya proses pembelajaran

d) Menjalain kerjasama dengan berbagai lembaga terkait guna mendukung pembelajaran

(33)

Hak

a) Mendapat insetif sesuai dengan tugasnya

b) Memberikan masukan terhadap proses jalannya pembelajaran 3) Kelompok Belajar

Kelompok belajar terdiri dari :

1) Peserta dengan ratio 1 pendidik untuk 30 siswa

2) Waktu belajar dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran 4) Tempat Belajar

Model penyelenggaran pendidikan kewirausahaan dapat dilaksanakan di kampus yang:

1) Ruang pembelajaran di dalam ruangan atau di luar ruangan yang dapat menampung semua peserta didik untuk teori maupun kegiatan praktik.

2) Memilki penerangan yang cukup jika di dalam ruangan

3) Memilki peralatan yang menunjang model pendidikan kewirausahaan 4) Ruang administrasi atau kantor dalam melaksanakan administrasi lembaga 5) Tempat pertemuan pendampingan usaha.

5) Sarana Dan Prasarana Belajar

Sarana yang dibutuhkan dalam pengembangan model pendidikan kewirausahaan ini adalah:

1) Buku pedoman

2) Sarana pendukung pembelajaran yang terdiri dari:

a) Modul-modul pembelajaran b) Alat dan bahan praktik 6) Pembelajaran

1) Struktur materi

Pembelajaran belajar yang dilaksanakan pada model penddikan kewirausahaan masyarakat disusun berdasarkan kompetensi yang harus dimilki oleh seorang wirausaha dengan struktur materi sebagai berikut :

NO MATERI JAM PELAJARAN

T PK JML

1.

2.

3.

Pengembangan mental wirausaha Motivasi berwirausaha

Identifikasi peluang dan perencanaan usaha

2 2 2

- - 2

2 2 4

(34)

4.

5.

Memulai usaha, Membangun, Merawat dan Mengembangkan (relasi) usaha

Menjadi wirausaha muda

2

2

70

20

72

22

Jumlah 10 92 102

Keterangan T = Teori PK = Praktik 2) Metode

Dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan ini digunakan pendekatan partisipasi andragogi yang meliputi :

1) Ceramah 2) Diskusi 3) Tanya jawab 4) Curah pendapat 5) Penugasan 6) Praktik kelas

7) Kunjungan lapangan 8) Praktik usaha

3) Media

Media pembelajaran yang diperlukan dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pelatihan ini antara lain:

1) LCD

2) Laptop 3) Whiteboard 4) Kertas dinding

5) Lembar-lembaran kasus (liflet, booklet, folder) 4) Bahan ajar

1) Buku

2) Modul 3) Handout 5) Dana Belajar

(35)

Dana pelaksanaan kegiatan pendidikan kewirausahaan dengan pendekatan Budding Enterpreneur (BE) dapat bersumber dari dana DIPA FE UNY 2014.

6) Menu Belajar

Menu belajar yang akan diberikan kepada mahasiswa pada pembelajaran ini antara lain adalah mengunjungi tempat usaha yang sukses dan memberikan pendampingan pengelolaan usaha.

7) Penilaian

Pelaksanaan pengembagan model pembelajaran pendidikan kewirausahaan akan dilaksanakan penilaian yang meliputi:

1) Penilaian terhadap peserta didik

Penilaian untuk tingkat perkembangan mahasiswa dapat dilakukan melalui:

a) Pemantauan selama proses pembelajaran berlangsung yaitu penilaian terhadap pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta didik.

b) Penilaian setelah proses pembelajaran berlangsung, yaitu penilaian terhadap hasil kerja peserta didik (pengelolaan unit usaha).

2) Penilaian terhadap pendidik/fasilitator

Penilaian dilakukan untuk mengetahui tingkat kesesuaian bidang keahlian pendidik atau fasilitator dengan materi. Disamping itu, juga dilakukan penilaian terhadap kemampuan pendidik atau fasilitaor dalam menyampaikan materi.

3) Penilaian terhadap penyelenggaraan pembelajaran.

Penilaian ini ditujukkan untuk menghimpun daya dan informasi tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan penyelenggaraan pembelajaran.

(36)

BAB IV

BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

A. Anggaran Biaya

No Jenis Pengeluaran Biaya yang diusulkan (Rp)

1 Gaji dan Upah 5.000.000

2 Bahan Habis Pakai dan peralatan 3.000.000

3 Pelaksanaan Ujicoba Model 5.000.000

4 Publikasi, seminar, laporan, dll 2.000.000

Jumlah 15.000.000

B. Jadwal Penelitian

NO Kegiatan Bulan

1 2 3 4 5 6 7 9 10

1 Seminar Proposal dan penyempurnaan √

2 Persiapan penerapan model √

3 Penerapan model (pembelajaran di kelas)

4 Monitoring dan pendampingan bersama

5 Lanjutan penerapan model di lapangan √

6 Penyempurnaan model √

7 Evaluasi penerapan model di lapangan √

8 Revisi dan penyempurnaan model √

9 Pembuatan Laporan √

10 Seminar hasil √

(37)

DAFTAR PUSTAKA

AdiA.S dan Bawono.S. Kecerdasan Enterpreneur. Elexmediakomputindo, Jakarta, 2009.

Achmad.R dan Catharina T.A. Psikologi Pendidikan, Unnes Press, Semarang, 2009.

Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan, Ditjen Paudni, Kemendikbud, Petunjuk Teknis Penyelenggaraan dan Tata Cara Memperoleh Dana Bantuan Operasional PKM, Jakarta, 2012.

Goleman, Daniel. Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003.

Gray, John. How to Get What You Want What You Have, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

2000.

Gunawan, W. Adi. Konsep Diri Positif Sumber Keberhasilan Hidup, Jurnal & Leadership Management, 2005.

Hans, Jen Z.A, Strategi Pengembangan Diri. Personal Development Training, Pembelajaran magister Management, Jakarta STIE IPWIJA, 2006.

Hanum.F.dkk. Analisis Dampak Pengelenggaraan Pembelajaran PKH bagi Peserta Didik, Medan, 2011

Instruksi Presiden Republik Indonesia No.6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif.

Irman, S. Menjadi Pemimpin yang Mempesona, Seyma Media, 2005.

Jurnal Ilmiah Inkoma, Volume 22, Nomor 1, Februari 2011

Journal of Entrepreneurship Education, Volume 1, Number 1, 1997.

Kartono, Kartini. Teori Kepribadian, Mandar Maju, Bandung, 2005

Keputusan Bersama Menteri Negara Koperasi dan Pengusaha kecil Menengah dan Menteri Perindusterian. Jakarta, 2010.

Maryono. B. Entrepreneurship Specialist ILO EAST Project, Semarang, 2009

McGraw, Martha Mary. Enam puluh Cara Mengembangkan Diri. Kanisius. Yogyakarta, 2010.

(38)

Referensi

Dokumen terkait

CAPAIAN PEMBELAJARAN DASAR-DASAR DESAIN KOMUNIKASI VISUAL . CP DASAR DKV KELAS X / FASE E. CP DKV.