• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bidang studi pendidikan matematika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Bidang studi pendidikan matematika"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pallangga yang diajarkan dengan menggunakan permainan mencocokkan kartu indeks. Hasil belajar matematika siswa VIII. kelas di SMP Negeri 1 Pallangga yang sedang belajar melalui permainan mencocokkan kartu indeks. Apakah hasil belajar matematika siswa kelas VIII. kelas di SMP Negeri 1 Pallangga yang diajar menggunakan permainan mencocokkan kartu indeks lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui pembelajaran konvensional?

Silberman (2006) mengatakan bahwa “permainan kartu isyarat merupakan salah satu teknik pengajaran pembelajaran aktif, yang termasuk dalam berbagai revisi strategis (strategi pengulangan)”.

Pengertian Belajar

Pengertian Matematika

Dengan penjelasan di atas, kita berharap cakrawala pemahaman kita terhadap matematika semakin luas, tidak menjadi terlalu sempit hanya dengan melihatnya saja.

Hasil belajar Matematika

Hasil belajar yang dicapai siswa melalui proses belajar mengajar yang optimal cenderung menunjukkan hasil yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Oleh karena itu, hasil belajar dapat dicapai melalui proses belajar mengajar yang melibatkan siswa dan guru.

Pendekatan Konvensional

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika adalah sesuatu yang dicapai melalui proses pembelajaran matematika dan dapat diukur secara langsung dengan menggunakan tes hasil belajar matematika.

Materi Ajar Operasi Aljabar

Dengan menggunakan ketentuan tersebut, hasil penjumlahan dan pengurangan dalam bentuk aljabar dapat dinyatakan dalam bentuk yang lebih sederhana dengan memperhatikan suku-suku sejenis. Jika dua bentuk aljabar mempunyai faktor yang sama, maka hasil pembagian kedua bentuk aljabar tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk yang lebih sederhana dengan memperhatikan faktor yang sama. Dalam pembagian aljabar, jika pembaginya adalah suku kedua, maka hasil pembagiannya dapat ditentukan dengan memisahkan tanda kurung sebagai pembagian bilangan bulat positif.

Hasil Penelitian Relevan

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN Brosot Kulon Progo setelah menggunakan model Active Learning tipe Index Card Match sesuai sintaksis pada siklus I. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah siswa yang mencapai KKM 65 pada poin dasar sebanyak 15 siswa, siklus I 22 siswa dan siklus II 25 siswa atau secara persentase 83,33%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dengan strategi Index Card Match (ICM) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA SMA YLPI Pekanbaru. 2016) dengan hasil pencarian sebagai berikut.

Artinya kinerja belajar matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif Index Card Match lebih tinggi dibandingkan kinerja belajar matematika siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Index Card Match mampu meningkatkan kinerja belajar siswa kelas VIII-D SMP Negeri 1 Kasreman. Dengan hasil tersebut maka metode Index Card Match sangat efektif dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa.

Selain itu penerapan metode Index Card Match mampu meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditunjukkan dengan angka tuntas meningkat dan angka tidak tuntas menurun serta rata-rata kelas meningkat secara signifikan. Hasil analisis data yang diperoleh dari penerapan metode pembelajaran aktif Index Card Match (ICM) adalah ketuntasan belajar siswa meningkat sebesar (7,66%) dari sebelum PTK (78,5%) ke PTK siklus I (86,16%) dan mengalami peningkatan. sebesar (3,84%) setelah siklus II (90%). Kesimpulan penelitian ini adalah penerapan metode pembelajaran aktif Index Card Match (ICM) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI SMAN 6 Pekanbaru tahun ajaran 2012/2013.

Kerangka Pikir

Hipotesis Penelitian

Parameter rerata skor hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menerapkan permainan kartu indeks = Parameter rerata skor hasil belajar matematika siswa yang diajar tanpa menerapkan permainan kartu indeks atau mengikuti pembelajaran kontrol yang diajarkan dengan pendekatan pembelajaran konvensional.

Jenis Penelitian

Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel

Desain Penelitian

Apabila terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, maka perlakuan yang diberikan mempunyai pengaruh yang signifikan.

Satuan Eksperimen dan Perlakuan a. Satuan Eksperimen

Definisi Operasional Variabel

Prosedur Penelitian 1. Tahap Persiapan

Tahap Pelaksanaan

Tahap Analisis

Instrumen Penelitian Tes Hasil Belajar

Teknik Pengambilan Data

Analisis Statistik Inferensial

Jika PVALUE 0,05 maka kedua sampel dikatakan berdistribusi normal. Parameter rata-rata hasil adalah hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menerapkan permainan kartu indeks (index card matching). Rata-rata skor parameter hasil belajar matematika kelas kontrol yang diajarkan menggunakan metode pembelajaran konvensional.

HO = Tidak terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara siswa yang diajar menggunakan pencocokan kartu indeks. H1 = Hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan metode pencocokan kartu indeks lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Setelah data dinyatakan berdistribusi normal maka memenuhi syarat analisis statistik inferensial untuk menguji hipotesis dengan menggunakan statistik uji-t (independent sample T-test) dengan satu tingkat signifikansi.

Hasil Penelitian

Analisis Statistika Deskriptif

Apabila hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan permainan kartu indeks dikelompokkan menjadi lima kategori hasil belajar, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase seperti terlihat pada Tabel 4.2 di bawah ini. Berdasarkan Tabel 4.1 dan 4.2 dapat digambarkan bahwa dari 36 siswa kelas VIII.11 SMP Negeri 1 Pallangga yang dijadikan sampel penelitian pada posttest, secara umum tingkat hasil belajar matematika berada pada “Tinggi”. kategori dengan nilai rata-rata sebesar 84,30 dari nilai ideal sebesar 100. Selanjutnya data skor hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan permainan kartu indeks dikategorikan berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah masing-masing sebesar 75.

Dari tabel 4.2 terlihat jumlah siswa yang telah mencapai kriteria ketuntasan belajar sebanyak 34 orang dari total 36 orang dengan persentase sebesar 94,44%, sedangkan yang belum mencapai kriteria ketuntasan sebanyak 2 orang. belajar dengan persentase 5,56%. Hasil statistik terkait hasil belajar matematika siswa dengan pembelajaran konvensional disajikan pada Tabel 4.3 berikut ini. Jika hasil belajar matematika siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional dikelompokkan ke dalam lima kategori hasil belajar, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase seperti terlihat pada Tabel 4.4 di bawah ini.

Berdasarkan Tabel 4.3 dan 4.4 dapat digambarkan bahwa dari 35 siswa Kelas VIII.15 SMP Negeri 1 Pallangga yang dijadikan sampel penelitian pada posttest, tingkat hasil belajar matematika secara keseluruhan berada pada kategori baik. Selain itu, data hasil belajar matematika siswa dengan pendekatan pembelajaran konvensional dikategorikan berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan pihak sekolah yaitu sebesar 75. Dari Tabel 4.4 dapat diilustrasikan bahwa Jumlah peserta didik yang mencapai kriteria kesempurnaan pendidikan sebanyak 24 orang dari total 35 orang dengan persentase 68,6% memenuhi kriteria kesempurnaan pendidikan, sedangkan yang tidak memenuhi kriteria kesempurnaan pendidikan sebanyak 11 orang dengan persentase 31,4%.

Tabel  4.2  Distribusi  Frequensi  Dan  Persentase  Skor  Hasil  Belajar  Matematika  Siswa  Dengan  Penerapan  Permainan  Mencocokkan  Kartu  Indeks (Index Card Match)
Tabel 4.2 Distribusi Frequensi Dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Dengan Penerapan Permainan Mencocokkan Kartu Indeks (Index Card Match)

Analisis Statistik Inferensial

Tujuan uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Jika p-value 0,05 maka kedua sampel dianggap berdistribusi normal, jika p-value 0,05 maka dianggap tidak berdistribusi normal. Didapatkan hasil perhitungan untuk hasil belajar pada kelas eksperimen yaitu pada saat pembelajaran dengan permainan Index Card Matching mencapai p-value sebesar 0,05 yaitu 0,79 – 0,05, diperoleh hasil perhitungan untuk hasil belajar pada kelas kontrol yaitu dengan pendekatan pembelajaran konvensional diperoleh p-value sebesar 0,05 yaitu 0,11 ± 0,05.

Kriteria pengujiannya adalah data berdistribusi normal jika p-value 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol termasuk dalam kategori normal. Berdasarkan uji normalitas di atas dapat dinyatakan bahwa sampel yang digunakan berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan dapat dilanjutkan uji prasyarat kedua dengan uji homogenitas.

Uji Homogenitas

H1 = Hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan permainan indeks card match lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional. Setelah melakukan analisis inferensial terhadap hasil hasil belajar matematika siswa, diperoleh nilai probabilitas jika PVALUE untuk = 0,05. Jadi secara statistik hipotesis H1 diterima atau H0 ditolak yang berarti secara umum “terdapat perbedaan hasil belajar matematika antara kelas eksperimen dan kelas kontrol” setelah diberikan perlakuan.

Pembahasan Hasil Penelitian

Pembahasan Hasil Analisis Deskriptif

Hasil analisis data hasil belajar siswa setelah penerapan pembelajaran matematika melalui penerapan permainan mencocokkan dengan kartu indeks menunjukkan bahwa dari seluruh jumlah siswa terdapat 34 siswa atau 94,44% siswa mencapai ketuntasan individu ( mendapat nilai prestasi minimal 75). Dan hasil analisis data dengan pendekatan pembelajaran konvensional menunjukkan terdapat 24 siswa dari jumlah siswa atau 68,6% siswa mencapai ketuntasan individu (mendapatkan nilai prestasi minimal 75). Dengan kata lain, hasil belajar siswa setelah diterapkan permainan cue card berada pada kategori tinggi dan telah memenuhi kriteria ketuntasan klasikal, sedangkan pembelajaran dengan pendekatan konvensional berada pada kategori sedang, namun belum memenuhi kriteria ketuntasan klasikal.

Artinya hasil belajar siswa yang menggunakan permainan Index Card Matching lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional. Keberhasilan yang dicapai tersebut karena pembelajaran permainan mencocokkan kartu indeks membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Siswa mampu mengembangkan diri dengan belajar berdiskusi dengan pasangannya masing-masing. Hal ini didukung oleh pendapat Marwan (Sanjaya, 2008) yang menyatakan bahwa salah satu kelebihan pelaksanaan pencocokan kartu indeks adalah dapat menciptakan suasana aktif dan mendidik.

Pada saat pelaksanaan permainan Index Card Matching, siswa juga dapat lebih berani dalam mempresentasikan temuannya di depan kelas, melatih kemampuan komunikasi siswa, serta melatih rasa percaya diri dalam tampil dan menyampaikan gagasannya, dengan cara mengulang materi secara berulang-ulang. oleh sesama siswa maupun oleh guru dapat meningkatkan daya serap siswa. Ketika siswa diminta untuk mempresentasikan temuannya berdasarkan LKS yang telah dikerjakannya, mereka merasa canggung dan malu. Karena siswa belum terbiasa, hal-hal tersebut dapat menjadi penyebab rendahnya hasil belajar siswa. Pembelajaran permainan mencocokkan kartu indeks yang dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan membuat suasana kelas menjadi lebih antusias meskipun cukup riuh namun terkendali.

Pembahasan Hasil Analisis Inferensial

Dari (Lampiran D) uji t independen untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan mean antara kedua kelompok perlakuan menghasilkan p-value sebesar 0,004, dimana p-value tersebut sebesar 0,05 maka terdapat perbedaan mean antara kelas eksperimen yang diajar. dengan pembelajaran menggunakan permainan kartu indeks dan yang diajarkan menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional. Dari hasil analisis deskriptif dan inferensial yang diperoleh diperoleh cukup mendukung teori yang telah dikemukakan dalam kajian teori. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang belajar menggunakan permainan kartu indeks lebih tinggi dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang belajar dengan pendekatan konvensional, dalam hal ini berarti.

Kesimpulan

Saran

Gambar

Tabel  3.2    Kategori  Standar  Penilaian  yang  Ditetapkan  oleh Departemen  Pendidikan Nasional
Tabel  4.1  Deskripsi  Hasil  Belajar  Matematika  36  Siswa  Kelas  VIII  SMP   Negeri  1  Pallangga  Dengan  Penerapan  Permainan  Mencocokkan    Kartu  Indeks (Index Card Match)
Tabel  4.2  Distribusi  Frequensi  Dan  Persentase  Skor  Hasil  Belajar  Matematika  Siswa  Dengan  Penerapan  Permainan  Mencocokkan  Kartu  Indeks (Index Card Match)
Tabel 4.3 Deskripsi Hasil Belajar Matematika Dari 35 Siswa Kelas VIII SMP  Negeri  1  Pallangga  Dengan Pembelajaran  Pendekatan  Konvensional  (Kelas  Kontrol)
+2

Referensi

Dokumen terkait

Untuk keperluan pengujian secara startistic, maka dirumuskan hipotesis kerja sebagai berikut: (a) rata-rata skor hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP