Bimbingan akhlak karimah bagi siswa SD Islam Terpadu Salsabila merupakan karya k yang memuat materi pada bagian-bagian tertentu. Tn. Nailul Falah, M.Si., selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penulisan skripsi ini. Zaelani, SS, selaku Kepala SDIT Salsabila Klaseman, Selamn, Yogyakarta, yang memberikan izin dan bimbingan dalam memberikan informasi untuk penelitian ini.
Penelitian ini bermula dari suatu rumusan masalah yang ingin mengetahui tentang metode bimbingan moral pada siswa SDIT Salsabila. Hasil dari penelitian ini adalah metode untuk mengarahkan akhlak siswa yaitu metode kinerja bintang, yang diwujudkan dalam bentuk pembiasaan shalat lima waktu, bersedekah, kemandirian siswa, saling mencintai dan taat kepada guru dan guru. orang tua. Metode bintang prestasi merupakan metode yang efektif sebagai upaya pembinaan akhlak Karimah bagi siswa kelas 2 SDIT Salsabila.
PENDAHULUAN
Penegasan Judul
Jadi, bimbingan akhlak yang disebutkan dalam penelitian ini adalah upaya membimbing seseorang menuju tujuan yang berguna bagi kehidupannya sekarang dan masa depan melalui sistem keimanan kepada Tuhan, yang diwujudkan dalam bentuk sikap terpuji. Akhlak yang dimaksud adalah akhlak peserta didik terhadap Allah SWT, akhlak terhadap orang tua dan guru, akhlak terhadap orang lain atau orang lain agar saling peduli, saling menyayangi dan menyayangi, serta akhlak. terhadap diri sendiri, 2. Definisi di atas memberikan kesimpulan bahwa bimbingan akhlak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu proses atau upaya SDIT Salsabila untuk membimbing, mengarahkan dan mengupayakan terbentuknya dan berkembangnya akhlak terpuji bagi peserta didik melalui bimbingan pembentukan akhlak. , keduanya secara teoritis. dan diterapkan.
Artinya sikap erat kaitannya dengan gerak-gerik seseorang, yang merupakan implementasi dari pemahamannya terhadap berbagai ilmu yang telah diajarkan dan dibiasakan dalam kehidupan individu sehari-hari.
Latar Belakang Masalah
Kaitannya dengan penelitian ini adalah sikap terpuji tersebut timbul dari berbagai hikmah yang diterimanya yang kemudian diterapkan oleh para siswa agar terbiasa melakukan tindakan terpuji. Berbicara masalah pembentukan akhlak sama saja dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembentukan akhlak. Muhammad Athiyah al-Abrasyi misalnya, mengatakan pendidikan karakter dan akhlak merupakan jiwa dan tujuan pendidikan Islam.
Pembangunan moral sangatlah penting mengingat perkembangan jaman, ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan dampak negatif yang dibuktikan dengan fenomena kesenjangan sosial, seperti tawuran antar pelajar, konsumsi obat-obatan terlarang oleh generasi muda, dan lain-lain. Oleh karena itu lembaga pendidikan Islam harus menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan tujuan agama Islam.Pendidik memegang peranan yang sangat penting dan strategis karena bertugas membimbing peserta didiknya ke arah perolehan ilmu pengetahuan. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu saja, namun jauh lebih sulit yaitu mengarahkan dan membentuk akhlak, perilaku dan kepribadian, berbagai upaya tentunya harus dilakukan secara maksimal oleh setiap lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan agama Islam. . pendidikan.
Bentuk usaha ini juga ditemukan penulis di SDIT Salsabila Klaseman Sleman Yogyakarta, dengan mewujudkan konsep visi dan misi sekolah. Inti dari visi dan misinya adalah menghasilkan lulusan yang selalu berdoa, mampu membaca dan menulis Al-Quran, serta berakhlak mulia. Beranjak dari penjelasan dan uraian latar belakang di atas, maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian terhadap SD Islam Terpadu Salsabila karena lembaga pendidikan ini mempunyai program pendidikan agama bagi para santrinya agar menjadi manusia yang berakhlak mulia dan tidak menjadi sekolah dasar. hanya mengajarkan materi sekolah saja, namun juga memperhatikan permasalahan keagamaan yang hendaknya digunakan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, penelitian ini akan menggali tentang bimbingan moral siswa SDIT Salsabila agar dapat menerapkan ilmu yang diperoleh selama proses pembelajaran di sekolah.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
Tinjauan Pustaka
Disertasi Kusrini yang berjudul “Bimbingan Keagamaan Bagi Anak Autisme di Lembaga Bimbingan Autisme “Bina Anggita” Gedong Kuning Yogyakarta”, membahas tentang bagaimana bimbingan keagamaan yang dilaksanakan pada anak autis usia 4-6 tahun dan jenis bimbingan keagamaan apa saja yang dilaksanakan. oleh lembaga bimbingan agama bagi anak autis di Lembaga Bimbingan Autisme "Bina Anggita" Gedong Kuning Banguntapan Bantul Yogyakarta.6.
Kerangka Teori
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh pembimbing kepada anak yang diawasinya secara terus menerus dan intensif, agar anak yang diawasi dapat memahami dan menerima kenyataan yang ada dalam dirinya dan yang ada di dalamnya. dia bisa hidup. lingkungan sosial yang baik, demi mewujudkan kebahagiaan, kehidupan pribadi dan sosial ekonomi. Selain itu, ada beberapa syarat untuk melihat bimbingan yang baik, sehingga bimbingan memerlukan dua faktor penentu yaitu pembimbing dan pembimbing. Apabila keduanya dapat menerima statusnya masing-masing, maka pengawas diberi status sebagai guru (orang tua asuh), pengawas bertanggung jawab penuh terhadap anak yang diawasinya dan yang diawasi benar-benar melaksanakan aturan yang berlaku (di lembaga) dan/atau oleh anak yang diawasinya. supervisor, maka bimbingan tersebut benar-benar berjalan dengan baik... supervisor dan supervisi dalam proses bimbingan harus dapat memenuhi kriteria sebagai berikut.
Percayalah bahwa setiap anak yang Anda bina mempunyai kemampuan dasar yang baik dan dapat dibimbing menuju perkembangan yang optimal. H). Dia memiliki kasih sayang yang dalam dan mendalam terhadap anak-anak yang dibimbingnya. i) Memiliki ketegasan, kesabaran dan kegigihan dalam menjalankan tugasnya. j) Memiliki sikap bertanggung jawab dan peka terhadap kebutuhan anak yang dipimpinnya. k) Mempunyai watak dan kepribadian yang mudah dikenali sehingga orang-orang disekitarnya suka bergaul dengannya. l) Memiliki jiwa progresif (ingin maju) dalam karirnya dengan selalu meningkatkan keterampilannya melalui pembelajaran ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tugasnya. m) Memiliki kepribadian yang bulat dan utuh, bukan jiwa yang terpecah-pecah. n) Memiliki pengetahuan teknis termasuk cara-cara manajemen dan mampu menerapkannya dalam tugas. 11. Kemajuan orientasi tidak lepas dari keterlibatan dan partisipasi, serta keberlangsungan anak binaan dalam proses orientasi.
Jika tutor tidak benar-benar mengikuti proses pengajaran dan tidak dapat melaksanakan atau menyelesaikan tugas-tugas tutor, maka pengajaran tersebut tidak ada artinya. Oleh karena itu, selain peran mentor dalam memberikan semangat kepada mentee, mentee juga harus memahami dan mau menerapkannya. Namun bagaimanapun juga, seorang mentor harus berusaha memberikan motivasi, pengertian dan lain sebagainya kepada mentee.
Selain itu perlu ditegaskan bahwa materi yang akan diberikan dalam proses bimbingan akhlak berbasis Islam bagi anak sekolah dasar adalah prinsip-prinsip dasar ajaran Islam yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga materi masing-masing. Artinya kegiatan belajar yang diberikan kepada anak tidak terbagi-bagi dalam bidang-bidang seperti bidang pembelajaran, melainkan terpadu dan menyeluruh, berkaitan dengan bidang yang satu dan bidang yang lain. Sekalipun kegiatan belajar yang diberikan kepada anak sama, namun pengasuh dituntut untuk mampu memberikan pelayanan kepada anak secara individu.
Metode demonstrasi adalah suatu metode yang demonstrasinya digunakan untuk memperjelas materi yang disampaikan dengan menunjukkan kepada siswa bagaimana memahami dan melakukan sesuatu.
Dan beberapa metode bimbingan akhlak yang terdapat diatas dapat digambarkan sebagai pemberian bimbingan akhlak kepada anak, beberapa metode tersebut dapat digunakan. Metode bimbingan moral bagi anak harus melihat keadaan dan situasi jiwa anak, karena melihat perbedaan latar belakang kejiwaan anak. Dalam penelitian kualitatif peneliti memulai dari data, menggunakan teori yang ada sebagai bahan penjelas dan diakhiri dengan “teori”.
Penelitian ini bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan prinsip induktif.Hasil penelitian ini akan menggambarkan seperti apa bimbingan moral bagi siswa SDIT Salsabila. Subjek dalam penelitian ini adalah guru atau pengajar ke rumah dan siswa yaitu Safi'i sebagai guru dan Aliya Zuhrida, Alif, Muh. Guru dan siswa dikenakan proses wawancara yang dilakukan peneliti untuk menggali data yang berkaitan dengan penelitian ini.
Tujuan penelitian ini adalah materi dan metode pembinaan akhlak dan etika siswa SDIT Salsabila. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi terbuka, yaitu observasi yang dilakukan secara terbuka diketahui subjeknya, sedangkan subjek sebaliknya dengan sukarela membiarkan pengamat mengamati peristiwa yang terjadi 24. Peneliti bebas mengajukan pertanyaan apa pun. bagi siswa, guru dan wali kelas SDIT Salsabila Yogyakarta selalu berpedoman pada pedoman wawancara yang telah dibuat sebelumnya sebagai gambaran umum tentang hal-hal yang akan ditanyakan kepada informan.25 c.
Metode dokumentasi mencari data berupa catatan, buku, koran, agenda, notulensi dan lain-lain yang relevan dengan tujuan pendidikan.26 Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto adalah metode pengumpulan data variabel-variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, koran, majalah, prasasti, dll. 27 Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data bimbingan moral siswa SDIT Salsabila. Dalam penelitian ini peneliti terlebih dahulu mencari informasi dengan mengumpulkan dokumen-dokumen yang diperlukan, misalnya sejarah berdirinya SDIT Salsabila, latar belakang bimbingan moral yang diberikan guru kepada siswa terkait penelitian ini.
PENUTUP PENUTUP
Kesimpulan
Membiasakan siswa untuk menghormati dan menaati perintah guru dan orang tua, misalnya dengan menyapa dan mencium tangan guru dan orang tua. Melihat penjelasan guru dan hasil wawancara dengan beberapa siswa di kelas 2 SDIT Salsabila dapat disimpulkan bahwa bimbingan moral bagi siswa cukup efektif dan dapat memberikan pengaruh positif terhadap tingkah laku, perangai dan tingkah laku siswa, baik di sekolah. dan di rumah, terhadap guru, orang tua dan orang lain. Oleh karena itu SDIT Salsabila perlu menyediakan pengawas khusus agar tidak terjadi tumpang tindih kewajiban sebagai guru pengawas dan wali kelas.
Sebagai pembimbing dan pendidik utama, orang tua harus mampu mengontrol anak-anaknya dan mendukung penuh program sekolah, serta bersinergi untuk sukses dengan bimbingan moral di SDIT Salsabila orang tuanya duduk di bangku kelas dua. Bagi peneliti selanjutnya, saya menyarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas dan pengaruh bimbingan moral di SDIT Salsabila.
Penutup
Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1989) Achmad Juantika Nurihsan, bimbingan dan konseling dalam suasana berbeda. Imam Ismadin, Upaya Guru Membentuk Akhlak Siswa di Madrasah Aliyah Wahid Kusrini, Bimbingan Agama Bagi Anak Autisme di Lembaga Bimbingan Autisme "Bina Anggita" Gedong Kuning Yogyakarta, Tesis PhD (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga 2006).
Metode