Skripsi
Oleh Juliana NIM 170303039
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM
2021
i
BIMBINGAN KELOMPOK UNTUK MENGUATKAN MENTAL SPIRITUAL KADER
(STUDI KASUS DI HMI KOMISARIAT DAKWAH) Skripsi
diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar
Sarjana Sosial (S. Sos)
Oleh Juliana NIM 170303039
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM
2021
ii
iii
iv
v
vi
HALAMAN MOTTO
Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan kepada suatu kaum, maka taka da yang dapat menalaknya dan tidak ada pelindung
bagi mereka selain Allah.
{Q.S. AR-Ra‟d (13): 11}
vii
HALAMAN PERSEMBAHAN
Dengan mengucapkan puji yang suci, puji yang mulia atas limpahan rahmat dan karunia Allah SWT dan dengan senantiasa mengharap ridho-NYA, skripsi ini saya
persembahkan kepada:
Kedua orangtua tercinta , ibunda saharmi dan ayahanda hamdia yang tak pernah henti-hentinya berusaha dan berdo‟a untuk anak-anaknya dan yang tidak pernah habis-habisnya memberikan dukungan demi terwujudnya cita-cita sang buah hati.
KATA PENGANTAR
viii Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdullilah, puji syukur atas kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul Bimbingan Kelompok Oleh Pengurus HMI Komisariat Dakwah Untuk Menguatkan Mental Spiritual Kader. Shalawat beserta salam tak lupa pula penulis hanturkan kepada junjungan kita panglima kita, suri teladan kita yaitu baginda Nabi Muhammad SAW yang telah mengeluarkan kita dari zaman yang di murkahi ke zaman yang di ridhoi dan semoga kita termaksud umat-umatnya yang akan mendapatkan syafaatnya nanti di yaumil akhir. Aamiin ya robbal a‟lamin.
Penulis berharap sebuah karya yang berarti dan merupakan hasil jerih payah penulis yang penulisan lakukan dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh dan di bantu oleh banyak pihak semoga karya ini dapat memberikan dapat memberikan manfaat di kemudian hari. Baik manfaat secara teoritis maupun manfaat secara praktisi yang mencakup dalam lingkungan akademis, lembaga bimbingan dan konseling dan masyarakat pada umumnya. Penulisan menyadari sepenuhnya terselesaikanya skripsi ini tidak terlepas dari dukungan serta bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
ix
1. Bapak Dr. L. Satriawan, M.A selaku Pembimbing I atas kesediaannya memberikan bimbingan, motivasi, ilmu yang berharga, saran, dan kritik baik selama penyusunan skripsi sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.
2. Ibu Dwi Wirdana Lita Putri, M.Psi. Psikolog, selaku Pembimbing II atas kesediaannya memberikan bimbingan dan solusi selama proses penyusunan skripsi hingga selesai.
3. Bapak Dr. Rendra Khaldun, M. Ag selaku ketua jurusan Bimbingan dan Konseling Islam UIN Mataram yang membimbing kami selama proses akademis berlangsung sehingga kami bisa menyelesaikan program studi Bimbingan dan Konseling dengan baik.
4. Bapak Dr. H. Subhan Abdullah Achim, M.A selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram yang senantiasa tanggap terhadap kesulitan-kesulitan mahasiwa.
5. Prof. Dr. H. Mutawali, M.Ag selaku Rektor UIN Mataram, yang telah menyediakan tempat serta sarana dan prasarana demi terwujudnya cita-cita penulis dan mahasiswa yang lainnya.
6. Kepada seluruh dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah memberikan ilmu dan pelajaran kepada penulis selama proses perkuliahan.
7. Kepada organisasi HMI Komisariat Dakwah UIN Mataram beserta telah memberikan izin dan lebih khusus kepada pengurus maupun kader HMI komisariat dakwah yang telah membantu peneliti dalam proses penelitian .
x
8. Kepada Kedua orang tua ku Bapak Hamdiah dan Ibu saharmi serta kepada seluruh keluarga yang sangat tulus memberikan waktu dan kasih sayangnya, dan tak perna lelah memberikan doa, materi, nasehat, serta dukungan
9. Kepada kembaran ku tercinta Juliani terimakasih selalu menjadi penyemangat dan contoh untuk saya sehingga saya selalu giat untuk menyelesaikan tugas sampai akhir
10. Kepada Sahabat seperjuangan ku Mega Zulaikha terimakasih telah menjadi penyemangat, teman di waktu susah maupun senang, sehingga saya selalu semangat dan optimis dalam menjalani hari-hari.
11. Kepada Semua pihak yang tak mampu saya sebutkan satu persatu terimakasih telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Semoga dengan kebaikan, bantuan dan dukungan yang diberikan pada penulis mendapat balasan pahala di sisi Allah SWT dan semoga skripsi ini bermanfaat.
Aamiin.
Mataram, 02 Juli 2021 Penulis
Juliana
xi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v
MOTTO ... vi
PERSEMBAHAN ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
ABSTRAK ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian... 8
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 9
E. Telaah Pustaka... 10
xii
F. Kerangka Teori ... 14
1. Bimbingan Kelompok ... 14
a. Pengertian Bimbingan Kelompok ... 14
b.Tujuan Bimbingan Kelompok ... 15
c.Teknik Bimbingan Kelompok ... 17
2. Pengertian Pengurus ... 18
3. Mental Spiritual ... 19
a.Pengertian Mental ... 19
b.Pengertian Spiritual ... 19
c. Pengertian Mental Spiritual ... 21
4. Pengertian Kader ... 24
G. Metodologi Penelitian ... 24
1.Pendekatan Penelitian ... 24
2.Kehadiran Peneliti ... 25
3.Lokasi Penelitian ... 26
4.Sumber dan Jenis Data ... 26
5.Teknik pengumpulan Data ... 28
6.Teknik Analisis Data ... 31
7.Validitas Data ... 32
H. Sistematika pembahasan ... 35
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 37
xiii
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 37
1. Sejarah HMI Komisariat Dakwah ... 37
2. Visi ... 38
3. Misi ... 38
4. Nama Personalia Pengurus ... 39
5. Fungsi Personalia ... 41
6. Program Bidang-Bidang ... 44
B. Teknik Bimbingan Kelompok untuk Menguatkan Mental Spiritual Kader di HMI Komisariat Dakwah ... 46
C. Bentuk-Bentuk Mental Spiritual Kader Setelah Mengikuti Bimbingan Kelompok di HMI Komisariat Dakwah ... 64
D. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Mental Spiriritual Kader HMI Komisariat Dakwah ... 71
BAB III PEMBAHASAN ... 77
A. Analisis Teknik Bimbingan Kelompok untuk Menguatkan Mental Spiritual Kader di HMI Komisariat Dakwah ... 77
B. Bentuk-Bentuk Mental Spritual Kader Setelah Mengikuti Kegiatan Bimbingan Kelompok di HMI Komisariat Dakwah ... 82
C. Analisis Faktor Pendukung dan Penghambat Mental Spiritual Kader di HMI Komisariat Dakwah ... 87
BAB IV PENUTUP ... 94
xiv
A. Kesimpulan……….94
B. Saran………95
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
BIMBINGAN KELOMPOK UNTUK MENGUATKAN MENTAL SPIRITUAL KADER
(STUDI KASUS DI HMI KOMISARIAT DAKWAH) Oleh:
JULIANA 170303039
xv ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realita yang ada bahwa mental spiritual adalah hal yang penting bagi manusia dan selalu harus dijaga keberadaanya. Mental spiritual berfungsi mengarahkan individu belajar mengembangkan fitrahnya dan atau kembali kepada fitrahnya, dengan cara memberdayakan akal, iman dan kemauan yang dikarunialan Allah SWT kepadanya untuk mempelajari tuntunan Allah SWT dan rosul-Nya, agar fitrah yang ada pada individu berkembang dengan benar sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:
Bagaimana teknik bimbingan kelompok yang dilakukan oleh pengurus untuk menguatkan mental spiritual kader, bagaimana bentuk-bentuk mental spiritual kader setelah mengikuti bimbingan kelompok oleh pengurus HMI komisariat dakwah dan apa saja faktor pendukung dan penghambat mental spiritual kader HMI komisariat dakwah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu suatu teknik analisis data yang menggambarkan seluruh data yang di peroleh dari hasil wawancara dan dokumentasi pada beberapa informen di HMI komisariat dakwah UIN Mataram.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bimbingan kelompok yang dilakukan oleh pengurus HMI komisariat dakwah dilakukan melalui pemberian informasi yang diterapkan melalui kegiatan diskusi kelompok dan kegiatan ceramah.
bentuk-bentuk mental spiritual kader setelah mengikuti bimbingan kelompok adalah semakin mengenal sang pencipta, bertambahnya empati dan bertambahnya kesadaran. Adapun pendukung dan penghambat mental spiritual kader di HMI Komisariat Dakwah yaitu faktor kecerdasan, faktor kemauan maupun keseriusan dan faktor perubahan zaman.
Kata Kunci: Bimbingan Kelompok, Pengurus, dan Mental Spiritual
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Manusia hidup pada abad ke dua puluh yang dikenal dengan istilah zaman modern. Di era modern ini, dinamika kehidupan manusia saat ini semakin meningkat dan semakin kompleks, perkembangan zaman yang seharusnya mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan terwujudnya kesejahteraan dan kebahagian bagi mereka, ternyata belum mampu mewujudkan kebahagian yang sebenarnya. Buktinya berbagai kasus pembunuhan atau perampokan atas hak-hak orang lain, demikian halnya dengan kasus-kasus sosial lainnya yang menunjukan gejala semakin mudahnya seseorang atau sekelompok orang menghalalkan segala macam cara demi meraih apa yang diinginkan secara cepat dan mudah.1
Di antara permasalahan yang muncul pada era modern sekarang ini, di samping masalah-masalah yang lain, adalah krisis moral dan krisis spiritual.
Kedua krisis itu dianggap saling berhubungan dan jalin menjalin sehingga sulit dibedakan dan dipisahkan. Krisis moral dianggap sebagai penyebab utama merosotnya kehidupan sosial-keagamaan masyarakat modern, akan tetapi, ada pendapat yang mengatakan bahwa krisis moral yang terjadi pada
1Haedar Nasir, Agama dan Krisis Manusia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm. 4.
kehidupan modern saat ini yang hampir merambat ke seluruh lini kehidupan bangsa Indonesia sebenarnya berasal dan bermuara pada krisis spiritual.
Modernitas diakui telah membawa banyak sekali perubahan, baik dalam bidang sains dan teknologi, lapangan hidup, dan perilaku masyarakat.
Indikator paling menonjol dalam modernisasi adalah kecenderungan materalistik, individualis, dan hedonis. Oleh karena itu tidak mengherankan jika ukuran kemajuan lebih di titik beratkan pada persoalan materi dari pada nilai-nilai spiritual. 2
Era modern disamping memberikan dampak positif, juga telah membawa dampak negatif. Dampak positif modernisasi adalah telah memberikan kemudahan-kemudahan dalam kehidupan manusia, sedangkan dampak negatifnya modernisasi telah menimbulkan perubahan nilai dan krisis makna kehidupan, kehampaan spiritual dan tersingkirnya agama dalam kehidupan manusia.3 Nilai-nilai spiritual agama bukan saja tidak diamalkan, tetapi menjadi momok dalam kehidupan. Nilai-nilai agama terpisah dari kehidupan. Agama hanya untuk akhirat, dan urusan dunia tidak berkaitan dengan agama. Sehingga hilangnya atau terabaikannya dimensi spiritualitas ini menyebabkan manusia kurang bermakna (meaning) hidupnya sekaligus
2Andi Eka Putra, “Tasawuf Sebagai Terapi Atas Problem Spiritual Masyarakat Modern”, Vol.
VIII. Nomor. 1, Januari-juni, 2001, hlm. 3.
3Ahmad Khadziq, “Krisis Spiritual Masyarakat Modern dalam Prespektif Al-qur‟an”, (Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Filsafaf UIN Sunan Ampel, Surabaya, 2018), hlm.2-3.
kurang bisa mengontrol seluruh tindakanya.4. Munculnya problem spiritual yang dialami manusia modern saat ini, bermulai dari hilangnya visi keilahian yang disebabkan oleh manusia modern itu sendiri, yang senantiasa bergerak makin menjauh dari pusat eksistensi.5
Hal ini ternyata juga terjadi pada kader HMI Komisariat Dakwah.
Banyak sekali kader HMI yang terjerumus dalam pola hidup yang hedonis dan materialistik. Kecendrungan mereka lebih banyak menyukai suatu kegiatan yang sifatnya kesenangan sesaat, tidak bermaanfaat bagi untuk dirinya maupun orang lain. Kegiatan yang positif yang sering dilakukan di HMI Komisariat Dakwah sudah jarang diikuti, mereka tidak sadar akan peran sebagai kader ummat dan kader bangsa.6
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Taylor et al dalam buku Aspek Spiritual Dalam Keperawatan, ada beberapa hal penting yang dapat mempengaruhi spiritual seseorang, yaitu: Pertama tahap perkembangan:
berdasarkan hasil penelitian terhadap anak-anak dengan empat agama yang berbeda di temukan bahwa mereka memiliki konsep spiritual yang berbeda, menurut usia, jenis kelamin, agama dan kepribadian anak. Kedua keluarga:
peran keluarga sangat penting dalam perkembangan spiritual seorang anak
4Salamah Eka Susanti, Spirit Education: Solusi Terhadap Dekadensi Karakter Dan Krisis Spiritual Di Era Global
5Andi Eka Putra, “Tasawuf Sebagai Terapi Atas Problem Spiritual Masyarakat Modern”, Vol. VIII. Nomor. 1, Januari-juni, 2001, hlm. 1.
6Abdul Asis Ibrahim, Wawancara, Mataram 28 Juli 2021.
karena orang tua sebagai role model. Keluarga juga sebagai orang terdekat di lingkungan dan pengalaman pertama anak dalam mengerti dan menyimpulkan kehidupan di dunia, maka umumnya pengalaman pertama anak selalu berhubungan dengan orang tua atau saudaranya. Ketiga latar belakang etnik budaya: sikap, keyakinan dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan sosial budaya. Keempat Pengalaman hidup sebelumnya: pengalaman hidup baik positif maupun negatif dapat mempengaruhi spiritual seseorang. Selain itu, juga dipengaruhi oleh bagaimana seseorang mengartikan secara spiritual kejadian ataupun pengalaman tersebut. Kelima krisis dan perubahan spiritual seseorang dapat memperkuat kedalaman spiritual. Krisis sering dialami ketika seseorang mengalami hal sulit. Keenam terpisah dari ikatan spiritual.7
Menurut Anwar Sutoyo spiritual adalah mengarahkan individu belajar mengembangkan fitrahnya dan atau kembali kepada fitrahnya, dengan cara memberdayakan akal, iman dan kemauan yang di karunialan Allah SWT kepadanya untuk mempelajari tuntunan Allah SWT dan rosul-Nya, agar fitrah yang ada pada individu berkembang dengan benar sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Sedangkan menurut Ary Ginanjar spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa kehidupan atau jalan hidup seseorang memiliki makna.
7Ah Yusuf, dkk, Kebutuhan Spiritual Konsep dan Aplikasi dalam Asuhan Keperawatan, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2016), hlm. 55.
SQ (spiritual Quotien) adalah landasan untuk memfungsikan IQ (Intelektual Quotien) dan EQ (Emotional Qoutien) secara efektif.8
Pada dasarnya setiap manusia memiliki nilai etik yang bersifat esensial pada dirinya, yaitu jiwa spiritual. Oleh karena itu sesungguhnya manusia adalah makhluk spiritual. Namun terkadang dimensi spiritual manusia ini terabaikan sehingga spiritualitas yang ada dalam dirinya secara alami (nature) ini kurang bisa memberikan fungsi apa-apa terhadap dirinya. Karena melihat semakin besarnya pengaruh modernisasi terhadap manusia maka dari itu dimensi spiritual manusia harus tetap terjaga dan berkembang guna menjaga keseimbangan antara kesehatan jasmaniah maupun rohaniah.9 Agama sering disebut sebagai “kekuatan spiritual” yang berkerja mempengaruhi perilaku- perilaku manusia. Maka dalam menyikapi masalah spiritual yang dialami oleh masyarakat modern saat ini, ada sebagian kalangan menawarkan kembali ke penghayatan nilai-nilai agama. Nilai-nilai agama yang diyakini mampu mengatasi permasalahan krisis itu adalah nilai-nilai agama yang berdimensi spiritual. Setiap agama memiliki basis spiritual dengan nama dan istilah masing-masing, dalam islam nilai ajaran itu tidak terlepas dari rukun islam dan rukun iman.10
8Anggi Sarwo Edi, “Bimbingan Kelompok Dalam Meningkatkan Spiritual Santri Di Pondok Pesantren Riyadus Shalihin Bandar Lampung” (Skripsi FDIK UIN Raden Intan, Lampung, 2017), hlm. 39.
9Salamah Eka Susanti Spirit Education: Solusi terhadap Dekadensi Karakter dan Krisis Spiritual di Era Global
10Andi Eka Putra, “Tasawuf Sebagai Terapi Atas Problem Spiritual Masyarakat Modern”, Vol. VIII. Nomor. 1, Januari-juni, 2001, hlm. 5.
Dari realitas kehidupan tersebut HMI sebagai salah satu organisasi tertua yang berasaskan islam dan berperan sebagai organisasi perjuangan guna mencetak dan mempersiapkan generasi penerus bangsa yang mumpuni baik dari pengetahuan agama maupun pengetahuan umum memiliki peranan penting dalam menguatkan mental spiritual kader. Salah satu upaya yang dilakukan oleh HMI komisariat dakwah dalam memperkuat mental spiritual kader yaitu melalui bimbingan kelompok.
Kegiatan bimbingan kelompok sudah menjadi suatu kegiatan yang sering dilakukan oleh organisasi HMI. Kegiatan tersebut sering dilaksanakan oleh salah satu bidang internal HMI Komisariat Dakwah yaitu bidang penelitian, pembinaan dan pengembangan anggota atau yang disingkat dengan P3A. bidang P3A bersama pengurus bidang lainnya selalu berusaha untuk menjalankan secara rutin program yang telah di buat agar program tersebut bisa menjadi wadah bagi kader-kader HMI untuk menguatkan mental spiritual. Pengurus bidang P3A dan pengurus bidang lainya percaya bahwa bimbingan kelompok cukup memberikan dampak yang sangat signifikan untuk memperkuat mental spiritual kader sehingga akan membantu merubah pola pikir, kecenderungan maupun perilaku manusia serta kemampuan mereka dalam mengambil setiap makna atau pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi . adapun metode bimbingan kelompok yang dilakukan oleh HmI
komisariat dakwah yaitu melalui tekhnik pemberian informasi yang dilakukan secara bersama-sama dalam suasana atau dinamika kelompok.11
Sebagaimana yang di ungkapkan oleh Prayitno bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Hal ini berarti bahwa semua peserta yang terlibat dalam kegiatan kelompok saling berinteraksi, mengeluarkan pendapat secara bebas dan terbuka, menanggapi, memberi saran dan lain-lain.12 Hal tersebut juga di ungkapkanoleh Gazda yang dikutip oleh Prayitno dan Erman Amti dalam buku Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Bimbingan kelompok ialah layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana kelompok, dan merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok individu untuk membantu individu dalam menyusun rencana dan keputusan yang tepat.13 Tujuan bimbingan kelompok yaitu memberikan layanan-layanan penyembuhan melalui kegiatan kelompok dengan mempelajari masalah masalah manusia pada umumnya, menghilangkan ketegangan-ketegangan.
bimbingan kelompok dalam rangka membantu mengembangkan kualitas kepribadian individu yang dibimbing, membantu mengembangkan kesehatan
11Abdul Asis Ibrahim, Wawancara, Mataram 22 januari 2021.
12Ega Novia Amanda, “Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok dengan Tekhnik Informasi terhadap Minat Belajar Peserta Didik Kelas VIII Mts Al-Hikmah Bandar Lampung, (Skripsi FTK UIN Raden Intan Lampung, 2018), hlm. 14.
13Prayitno, Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta, 2018), hlm. 309.
mental klien, membantu mengembangkan prilaku-prilaku yang lebih efektif, membantu menanggulangi problema hidup dan kehidupanya secara mandiri.
Berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti tertarik mengambil judul
“Bimbingan Kelompok oleh Pengurus HMI Komisariat Dakwah Untuk Menguatkan Mental Spiritual Kader”
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana teknik pelaksanaan bimbingan kelompok untuk menguatkan mental spiritual kader di HMI Komisariat Dakwah?
2. Bagaimana bentuk-bentuk mental spiritual kader setelah mengikuti bimbingan kelompok di HMI Komisariat Dakwah?
3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat mental spiritual kader HMI Komisariat Dakwah?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berangkat dari fokus penelitian sebagaimana yang telah di kemukakan di atas maka dapat di ketahui bahwa tujuan dari penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui teknik pelaksanaan bimbingan kelompok untuk menguatkan mental spiritual kader di HMI Komisariat Dakwah
b. Untuk mengetahui bentuk-bentuk mental spiritual kader setelah mengikuti bimbingan kelompok di HMI Komisariat Dakwah.
c. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat mental spiritual kader HMI Komisariat Dakwah.
2. Manfaat Penelitian a. Secara Teoritis
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi peneliti berikutnya dan dapat mengembangkan ilmu khususnya dalam bidang psikologis dan konseling terlebih yang berkaitan dengan masalah bimbingan kelompok dan mental spiritual.
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan bisa membantu dan memberi masukan bagi HMI Komisariat Dakwah dalam meningkatkan mental spiritual kader melalui bimbingan kelompok
c. Bagi Penulis
Bagi penulis hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dan referensi untuk terus meningkatkan kapasitas diri yang berkaitan dengan masalah mental spiritual melalui teknik bimbingan kelompok baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian
Agar penelitian ini terarah dengan baik, maka peneliti membatasi ruang lingkup dari penelitian ini yaitu hanya mencakup dan membahas pada hal-hal yang berkaitan dengan fokus masalah sebagaimana telah diuraikan di atas seperti, seperti bagaimana teknik bimbingan kelompok untuk menguatkan mental spiritual kader di HMI Komisariat Dakwah,
seperti apa bentuk-bentuk mental spiritual kader setelah mengikuti bimbingan di HMI Komisariat Dakwah, dan apa saja faktor pendukung serta penghambat mental spiritual kader HMI Komisariat Dakwah.
Sehingga penelitian ini bisa berfokus pada fokus penelitian saja.
2. Setting Penelitian
Penelitian ini dilakukan di HMI Komisariat Dakwah Universitas Islam Negeri Mataram, Jalan Gajah Mada No.100 Jempong Timur, NTB, Mataram.
E. Telaah Pustaka
Telaah pustaka adalah penelusuran terhadap karya terdahulu yang berdekatan atau berkaitan topiknya dengan penelitian yang sedang dilakukan dan sebagai pedoman penelitian lebih lanjut serta untuk medapatkan data yang valid, guna untuk menghindari plagiasi, duplikasi, repetisi serta untuk menjamin keabsahan dan keaslian penelitian ini.
Berdasarkan definisi tersebut dan dari penelusuran yang telah peneliti lakukan maka peneliti mendapatkan beberapa hasil penelitian sebelumnya 1. Anggi Sarwo Edi, Judul Skripsi “Bimbingan Kelompok dalam
Meningkatkan Spiritual Santri di Pondok Pesantren Riyadus Shalihin Bandar Lampung”.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Hasil penelitian ini membahas tentang cara meningkatkan spiritual santri yang kurang bersemangat dalam melakukan ibadah yang dilihat melalui daftar evaluasi
ibadah santri. Adapun upaya peningkatan spiritual yang dilakukan di Pondok Pesantren Riyadus Shalihin Bandar Lampung yaitu melalui bimbingan kelompok dengan teknik ceramah yang berisikan materi-materi yang berguna dalam meningkatkan spiritual santri yang bermasalah dalam hal ibadah. Yang dimana kegiatan bimbingan kelompok yang diberikan kepada santri di Pondok Pesantren Riyadus shalihin menunjukan adanya pengaruh yang signifikan, hal ini dapat dilihat dari daftar evaluasi ibadah santri yang mengalami peningkatan tiap pertemuan.14
Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahalu yaitu sama-sama membahas tentang bimbingan kelompok dan spiritual. Perbedaannya adalah terletak pada subjek dan fokus masalah penelitian. Subjek dalam penelitian terdahulu adalah santri di Pondok Pesantren Riyadus Shalihin, sedangkan subjek dalam penelitian ini adalah kader HMI komisariat dakwah. Fokus permasalah penelitian terdahulu lebih berfokus pada bimbingan kelompok untuk meningkatkan spiritual santri di Pondok Pesantren Riyadus Shalihin yang bermasalah dalam hal ibadah. Sedangkan penilitian ini lebih berfokus pada bimbingan kelompok untuk menguatkan mental spiritual kader di HMI komisariat dakwah.
14Anggi Sarwo Edi, “Bimbingan Kelompok Dalam Meningkatkan Spiritual Santri Di Pondok Pesantre Riyadus Shalihin Bandar Lampung, ( Skripsi, FDIK UIN Raden Intan, Lampung, 2017).
2. Nining, Judul Skripsi “Metode Bimbingan Mental Spiritual Bagi Wanita Rawan Sosial Ekonomi (Wrse) di Balai Sosial Karya Wanita (Bskw) Mirah Adi Mataram”
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian membahas tentang bimbingan mental spiritual yang diberikan kepada wanita rawan sosial ekonomi di Balai Sosial Karya Wanita.
Adapun program bimbingan mental spiritual yang diberikan kepada wanita rawan sosial ekonomi di balai sosial karya wanita yaitu: bimbingan iqro‟
dan Al-qur‟an, bimbingan hukum agama dan fiqih, bimbingan etika dan moral, bimbingan sholat dan pengajian, bimbingan diskusi dan dinamika kelompok. Dalam penelitian ini kegiatan bimbingan mental spiritual yang diberikan kepada wanita rawan sosial ekonomi di balai sosial karya wanita menunjukan adanya pengaruh yang signifikan, hal ini dapat dilihat dari bertambahnya kemampuan membaca al-qur‟a, bertambahanya pengetahuan terkait fiqih wanita, pemahaman terkait masalah pentingnya sholat dan pengetahuan tentang etika dan moral yang baik terhadap sesama.15
Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahalu yaitu sama-sama membahas tentang mental spiritual. Perbedaannya adalah terletak pada
15Nining, “Metode Bimbingan Mental Spiritual Bagi Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE) Di Balai Sosial Karya Wanita (BSKW) Mirah Adi Mataram, (Skripsi, FDIK UIN Mataram, 2018).
subjek dan fokus masalah penelitian. Subjek dalam penelitian terdahulu adalah wanita rawan sosial ekonomi, sedangkan subjek dalam penelitian ini adalah kader HMI komisariat dakwah. Fokus permasalah penelitian terdahulu lebih berfokus pemberian bimbingan mental spiritual kepada wanita rawan sosial ekonomi di Balai Sosial Mirah Adi Mataram.
Sedangkan penilitian ini lebih berfokus pada bimbingan kelompok untuk menguatkan mental spiritual kader di HMI komisariat dakwah.
3. Ega Novia Amanda “Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok dengan Teknik Informasi terhadap Minat Belajar Peserta Didik Kelas VIII Mts Al- Hikmah Bandar Lampung”.
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Dalam penelitian ini membahas tentang pengaruh pemberian layanan bimbingan kelompok terhadap minat belajar peserta didik kelas VIII Mts Al-Hikmah Bandar Lampung. Dalam penelitian ini diketahui hasilnya minat Belajar Peserta didik dapat ditingkatkan melalui layanan bimbingan kelompok dengan teknik informasi pada siswa kelas VIII D MTs Al-Hikmah Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2017/2018. Hal ini dibuktikan dari hasil analisis data dengan menggunakan Uji T tes dimana diperoleh nilai signifikan 0.000 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0.05 maka Ha diterima dan Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa terdapat peningkatan minat belajar peserta didik yang signifikan pada subjek setelah diberi layanan bimbingan kelompok dengan teknik Informasi, sehingga dapat disimpulkan bahwa
minat belajar peserta didik dapat ditingkatkan dengan layanan bimbingan kelompok dengan teknik informasi pada peserta didik kelas VIII D MTs Al-Hikmah Bandar Lampung.16
Persamaan penelitian ini dengan penelitian terdahalu yaitu sama-sama membahas tentang Bimbingan Kelompok. Perbedaannya adalah terletak pada subjek dan fokus masalah penelitian. Subjek dalam penelitian terdahulu adalah peserta didik kelas VIII Mts Al-Hikmah, sedangkan subjek dalam penelitian ini adalah kader HMI komisariat dakwah. Fokus permasalah penelitian terdahulu lebih berfokus pada pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik informasi terhadap minat belajar peserta didik kelas VIII Mts Al-Hikmah Bandar Lampung. Sedangkan penilitian ini lebih berfokus pada bimbingan kelompok untuk menguatkan mental spiritual kader di HMI komisariat dakwah.
F. Kerangka Teori
1. Bimbingan Kelompok
a. Pengertian Bimbingan Kelompok
Menurut gazda yang dikutip oleh Prayitno dan Erman Amti dalam buku Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Bimbingan kelompok ialah layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana kelompok, dan
16Ega Novia Amanda, ”Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Tekhnik Informasi Terhadap Minat Belajar Peserta Didik Kelas VIII Mts Al-Hikmah Bandar”, (Skripsi, FTK UIN Raden Intan, Lampung, 2018).
merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok individu untuk membantu individu dalam menyusun rencana dan keputusan yang tepat.17
Bimbingan kelompok adalah bimbingan yang dilakukan secara kelompok terhadap sejumlah Individu sekaligus sehingga beberapa orang atau individu sekaligus dapat menerima bimbingan yang di maksud.18
Jadi dapat di simpulkan bahwa bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan kepada sekelompok orang secara bersama- sama untuk membahas suatu masalah yang sama dan membantu setiap individu yang terlibat dalam kelompok tersebut dalam menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Isinya bisa mencakup informasi pengetahuan, pribadi, atau sosial.
b. Tujuan Bimbingan Kelompok
Secara umum bimbingan kelompok dapat menjadi tempat pengembangan keterampilan berkomunikasi dan berinteraksi sosial setelah menerima layanan bimbingan kelompok.19 Secara lebih khusus layanan bimbingan kelompok bertujuan dalam mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang
17Prayitno, Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta, 2018), hlm. 309.
18Sitti Hartinah, Konsep Dasar Bimbingan Kelompok, (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), hlm. 4.
19W S Winkel, Sri Hastutu, Bimbingan dan Konseling di Institusi, (Yogyakarta: Media Abadi.
2004), hlm. 565.
menunjang perwujudan tingkah laku yang lebih efektif, yaitu peningkatan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal.20 Tujuan bimbingan kelompok yaitu memberikan layanan- layanan penyembuhan melalui kegiatan kelompok dengan mempelajari masalah-masalah manusia pada umumnya, menghilangkan ketegangan- ketegangan.21
Bimbingan kelompok dalam rangka membantu mengembangkan kualitas kepribadian individu yang dibimbing, membantu mengembangkan kesehatan mental klien, membantu mengembangkan prilaku-prilaku yang lebih efektif, membantu menanggulangi problema hidup dan kehidupanya secara mandiri.22
Bimbingan kelompok pada umumnya berbentuk kelas yang beranggotakan 15 sampai 20 orang. Informasi yang diberikan dalam bimbingan kelompok itu terutama di maksudkan untuk memperbaiki dan mengembangkan pemahaman diri dan pemahaman mengenai orang lain, sedangkan perubahan sikap merupakan tujuan yang tidak langsung.
Kegiatan bimbingan kelompok biasanya dipimpin oleh seorang guru pembimbing (konselor) atau guru.23
20Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, (Jakarta: Rajawali, 2009), hlm. 170.
21Wela Asweda, “Efektifitas Bimbingan Kelompok dalam Mengurangi Kecemasan Berkomunikasi pada Siswa”, Jurnal Ilmiah Konseling, Vol, 1 Nomor. 1, Januari 2012, hlm.7.
22Ibid, hlm.34.
23Mamat Supriyatna, Bimbingan dan Konseling Bernasis Kompetensi, (Jakarta: Raja Wali Pers, 2013), hlm.98.
c. Teknik Bimbingan Kelompok
Teknik bukan merupakan tujuan tertentu tetapi sebagai alat untuk mencapai tujuan. Beberapa teknik yang bisa digunakan dalam pelaksanaan bimbingan kelompok yaitu:
1) Teknik pemberian informasi dapat memberikan informasi secara lisan maupun tertulis. Sehingga, peserta didik meras terdorong dalam menyesuaikan diri, menyalurkan dorongan-dorongan mereka, dan sebagainya. Teknik ini meliputi kunjungan kelompok, orientasi, kegiatan club, organisasi siswa, diskusi kelompok. Teknik informasi disebut juga dengan metode ceramah, yaitu pemberian penjelasan oleh seorang pembicara kepada sekelompok pendengar. Pelaksanan teknik pemeberian informasi mencakup tiga hal, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, penilaian. Keuntungan teknik pemberian informai ini adalah : (a) dapat melayani banyak orang, (b) tidak membutuhkan banyak waktu sehingga efesien, (c) tidak terlalu banyak memerlukan fasilitas, (d) mudah dilaksanakan sebanding dengan teknik lain.
2) Beberapa teknik yang bisa digunakan dalam pelaksanaan bimbingan kelompok yaitu: 24
a) Komunikasi multi arah secara efektif dinamis dan terbuka.
24Hikmawati Fenti, Bimbingan dan Konseling Perspektif Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm. 34.
b) Pemberian ransangan untuk menimbulkan inisiatif dalam pembahasan, diskusi, analisis, dan perkembangan argumentasi.
c) Dorongan minimal untuk memantapkan respon dan aktivitas anggota kelompok.
d) Penjelasan, pendalaman dan pemahaman.
e) Pelatihan untuk membentuk tingkah laku yang baru yang di kehendaki.
2. Pengertian Pengurus
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) kata pengurus memiliki lima arti. Pengurus berasal dari kata dasar urus. Arti tersebut dapat kita lihat sebagai berikut: 25
a. Orang-orang yang mengurus
b. Penyelenggara (pertemuan dan sebagainya)
c. Sekelompok orang yang mengurus dan memimpin perkumpulan (partai dan sebagainya)
d. Pemimpin e. Direksi
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengurus adalah sekelompok orang yang berkumpul dalam sebuah komunitas,partai maupun organisasi yang memiliki tugas untuk mengurus serta memiliki peran sebagai pemimpin maupun penyelenggaran suatu kegiatan.
25 Lektur. Id. 29 januari 2021, 16: 52
3. Mental Spiritual a. Pengertian Mental
Secara etimologi kata “mental” berasal dari bahasa Yunani, yang mempunyai pengertian sama dengan pengertian psyche, artinya psikis, jiwa atau kejiwaan.26 Kata mental diambil dari bahasa Latin yaitu dari kata mens atau mentis yang berarti jiwa, nyawa, sukma, ruh, dan semangat.27 Dengan demikian mental ialah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Setiap perilaku dan ekspresi gerak-gerik individu merupakan dorongan dan cerminan dari kondisi (suasana) mental.28
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa mental adalah jiwa, ruh, sukma maupun semangat yang dapat mempengaruhi atau mendorong perilaku individu untuk melakukan sesuatu.
b. Pengertian Spiritual
Secara etimologi spiritual atau spiritualitas berasal dari kata
“spirit” yaitu kata yang berasal dari kata “spiritus” (latin), artinya roh,
26Moeljono Notosoedirjo, Kesehatan Mental: Konsep dan Penerapan, (Malang: Universitas Muhammadiyah, 2001), hlm. 21.
27Mulyadi, Islam dan Kesehatan Mental, (Jakarta: Kalam Mulia, 2017), hlm. 2.
28Kartini Kartono, Jenny Andari, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, (Bandung: Mandar Maju, 1989), hlm. 3.
jiwa, sukma, kesadaran diri, keberanian.29 Spiritual dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai rohani, batin, dan moral. 30
Spritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna, yaitu kecerdasan untuk menempatkan prilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan hidup seseorang memiliki makna. SQ (Spiritual Quotien) terdapat dimensi spiritual adalah landasan yang di perlukan untuk memfungsikan IQ (Intelektual Quetien) terdapat dimensi fisik dan EQ (Emotional Quatien) terdapat dimensi psikis secara efektif, bahkan SQ adalah kecerdasan tertinggi kita. Karena, Spiritual Quotien (SQ), ternyata mengikuti konsep rukun iman, rukun islam, dan ihsan yang menjadi dasar Agama Islam.31
Spiritual perspektif islam, dimensi senantiasa berkaitan secara lansung dengan realitas Ilahi, Tuhan yang maha Esa (tauhid).
Spiritualitas bukan sesuatu yang asing lagi bagi manusia, karena merupakan inti (core) kemanusiaan itu sendiri. Spiritualitas agama (religious spirituality) berkenaangan kualitas mental (kesadaran),
29 Abdul Hakim Siregar, ”Melirik Urgensitas Spritualitas pada Masyarakat Modern Dan Kaitannya Dengan Pendidikan Dalam Kehidupan”, Jurnal Ilmiah, Vol.1 Nomor 2, September 2018, Hlm. 28.
30 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka 1994), Cet. Ke-2, hlm. 857
31 Ary Ginanjar Agustian, Emotional Spritual Quotiet, (Jakarta: Arga Publishing, 2007), .hlm.
46.
perasaan, moralitas, dan nilai-nilai luhur lainnya yang bersumber dari ajaran agama. 32
Menurut Anwar Sutoyo Spiritual adalah mengarahkan individu belajar mengembangkan fitrah dan atau kembali kepada fitrah, dengan cara memberdayakan akal, iman dan kemauan yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya untuk mempelajari tuntunan Alloh SWT dan Rosul- Nya, agar fitrah yang ada pada individu itu berkembang dengan benar sesuai tuntunan Alloh SWT.33
Jadi dapat di ambil kesimpulan bahwa spiritual adalah kecerdasan yang mampu memaknai atau mengambil hikmah dari sesuatu yang sedang dialami dengan cara memberdayakan akal, iman, dan kemauan sehingga membuat seseorang lebih mawas diri dalam bertindak dan berbuat.
c. Mental Spiritual
1) Pengertian Mental Spiritual
Mental spiritual adalah cara manusia berfikir dan berperasaan dengan menggunakan nurani dan menyatukan antara jasmani dengan rohani, dengan petunjuk agama sebagai pedoman hidup.34
32Ulfah Rahmawati, ”Pengembangan Kecerdasan Spiritual Santri: Studi terhadap Kegiatan Keagamaan di Rumah Tahfizqu Desresan Putri Yogyakarta” Jurnal Penelitian, Vol. 10 Nomor 1, Februari 2016, hlm .105.
33Sutoyo Anwar.,Op.Cit,.hlm. 22
34Moeljono Notosoedirjo, Kesehatan Mental: Konsep dan Penerapan, (Malang: Universitas Muhammadiyah, 2001), hlm. 21.
Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan mental spiritual adalah suatu kecerdasan atau suatu keadaan jiwa, ruh, sukma maupun semangat yang mempengaruhi cara berpikir maupun berperasaan sehingga seseorang mampu mengambil setiap hikmah dari suatu peristiwa yang sedang di hadapi dengan cara memperdayakan akal, iman dan kemauan.
2) Kegunaan Spiritual
Kegunaan Spiritual memang sangat besar dan dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut:
a) Menghasilkan suatu perubahan, perbaikan, dan kesopanan tingkah laku yang dapat memberikan manfaat baik pada diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah atau pondok pesantren, lingkungan kerja, maupun lingkungan sosial, dan alam sekitarnya.
b) Kecerdasan spiritual menghasilkan kecerdasan spiritual pada diri individu sehingga muncul dan berkembang keiinginan untuk berbuat taat kepada Nya, ketulusan mematuhi segala perintah- Nya, serta ketabahan menerima ujian-Nya.
c) Kecerdasan spiritual, menghasilkan kecerdasan rasa (emosi) pada individu sehingga muncul dan berkembang rasa toleransi kesetiakawanan, tolong menolong, dan rasa kasih sayang.
d) Melalui kecerdasan spiritual, menghasilkan potensi Ilahiyan, sehingga dengan potensi itu individu dapat melakukan tugas-
tugasnya, sebagai khalifah dengan baik dan benar, dan dapat dengan baik menanggulangi berbagai persoalan hidup, dan dapat memberikan kemanfaatan dan keselamatan bagi lingkunganya pada berbagai aspek kehidupan.35
3) Cara Meningkatkan Mental spiritual
Menurut pendapat Zohar dan Marshall yang mengemukakan tujuh langkah untuk meningkatkan mental spiritual, yakni sebagai berikut:
a) Harus menyadari di mana dirinya sekarang.
b) Merasakan dengan kuat bahwa dia ingin berubah.
c) Merenungkan apakah pusatnya sendiri dan apakah motivasinya yang paling dalam.
d) Menemukan dan mengatasi rintangan.
e) Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju.
f) Menetapkan hati pada sebuah jalan.
g) Melangkah di jalan yang dipilih sendiri, tetapi harus tetap sadar bahwa masih ada jalan-jalan yang lain.36
35Mujib Abdul., Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 37.
36Ulfah Rahmawati, ”Pengembangan Kecerdasan Spiritual Santri: Studi terhadap Kegiatan Keagamaan di Rumah TahfizQu Desresan Putri Yogyakarta”, Jurnal Penelitian, Vol. 10, Nomor.1, Februari 2016, hlm. 109.
4. Pengertian Kader
Kader adalah orang atau kumpulan orang yang di bina oleh suatu kelembagaan kepengurusan dalam sebuah organisasi, baik sipil maupun militer, yang berfungsi sebagai pemihak dan atau membantu tugas dan fungsi pokok organisasi tersebut. Dalam hal membantu tugas dan pokok organisasi tersebut, seorang kader dapat berasal dari luar organisasi tersebut dan biasanya merupakan simpatisan yang berasal dan bertujuan sama dengan institusi organisasi yang membinanya. Pada umunya penggunaan kata kader sangat lekat pada partai politik, dengan harapan para kader tersebut kelak dapat meneruskan kepengurusan atau kepemimpinan organisasi.37
Dari perjelasan tersebut maka dapat di tarik kesimpulan, kader adalah sekelompok orang yang berkumpul dalam suatu organisasi yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dan sebagai regenerasi demi mewujudkan suatu cita-cita organisasi.
G. Metodologi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Dalam Penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Yang dimaksud dengan pendekatan kualitatif deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengumpulkan data dengan tujuan untuk
37Id.m. Wikipedia.org 29 januari 2021: 17:38
menguji atau menjawab pertanyaan mengenai status terakhir suatu objek yang diteliti.38
Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengetahui seperti apa keadaan, gambaran atau deskriptif objek yang sedang di teliti yaitu terkait proses pelaksanaan bimbingan kelompok oleh pengurus HMI komisariat dakwah untuk menguatkan mental spiritual kader. Jadi metode deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan memberikan penjelasan atau menggambarkan suatu hal yang sedang di teliti.
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian kualitatif, peneliti melakukan pengumpulkan data sampai data yang sedang di cari tahu atau di teliti dianggap memuaskan.
Adapun yang menjadi Alat pengumpulan data atau instrument penelitian dalam metode kualitatif ialah peneliti sendiri. Jadi, peneliti merupakan key instrument dalam pengumpulan data, yang dimana peneliti harus terjun langsung ke lapangan secara aktif.39 Oleh karena itu, peneliti langsung terjun sendiri ke lapangan agar dapat melihat, mencermati dan menelaah keadaan yang diteliti.
38Laxy J Meleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Roadakarya, 2010), hlm. 5.
39Husaini Usman, Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009), hlm.78.
3. Lokasi Penelitian
Lokasi yang dituju oleh peneliti sebagai tempat penelitian yaitu di HMI Komisariat Dakwah UIN Mataram Jalan Gajah Mada No. 100 Jempong Timur, NTB, Mataram.
4. Sumber dan Jenis Data a. Sumber Data
Yang menjadi sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah suatu data yang berisi kata-kata dan data yang merupakan hasil dari suatu tindakan, sedangkan data berupa tulisan, foto, dan statistik hanyalah berupa data tambahan.40 Secara umum, di dalam penelitian biasanya ada dua jenis data yang dijadikan rujukan yaitu:
1) Data Primer
Data primer adalah data yang didapatkan dan dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek peneliti dilakukan.41 Dalam peneliti ini yang termasuk dalam data primer adalah data yang didapatkan secara langsung oleh peneliti terkait objek yang sedang di teliti yaitu melalui wawancara dan observasi langsung dengan pengurus dan kader HMI komisariat dakwah tentang proses pelaksanaan bimbingan kelompok untuk menguatkan mental spiritual kader.
40Afifuddin, Beni Ahmad Saebani, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2012), hlm. 129.
41Syofiyan Siregar, Statistik Parametrik Untuk Penelitian Kuantitatif, hlm. 37.
2) Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari tangan kedua atau sumber-sumber pendukung lainnya yang telah tersedia sebelum penelitian.42 Dalam penelitian ini yang termaksud dalam data sekunder yaitu data-data yang diambil dari buku-buku, sumber dari arsip, dokumen pribadi, serta dokumen-dokumen lainnya yang dibutuhkan yang terkait dengan pemasalahan yang dikaji dalam penelitian ini tentang bagaimana proses pelaksanaan bimbingan kelompok untuk menguatkan mental spiritual kader. Adapun data sekunder yang digunakan oleh peneliti dalam penelitiaan ini adalah data seperti dokumentasi selama kegiatan bimbingan kelompok di lakukan.
b. Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif atau data yang bukan berupa angka tapi data yang berupa kata-kata atau kalimat, pendapatan (pernyataan) atau judgement yang diperoleh atau didapatkan melalui kegiatan wawancara, analisis dokumen, diskusi, atau obrsevasi lapangan.43 Data kualitatif meliputi: data tentang gambaran umum mengenai objek penelitian dan data lain yang tidak berupa angka.
42 Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial, (Bandumg: PT Refika Aditama, 2009), hlm. 289.
43Ibid, hlm. 38.
5. Teknik Pengumpulan Data a. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data. Wawancara dapat pula diartikan sebagai percakapan tatap muka (face to face) antara pewawancara dengan sumber informasi, dimana pewawancara bertanya langsung tentang sesuatu objek yang diteliti dan telah di rencanakan sebelumnya.44
Wawancara juga dapat diartikan sebagai percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Maksud mengadakan wawancara, seperti yang ditegaskan oleh Lincoln dan Guba antara lain: mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain- lain.45
Menurut S. Margono, wawancara dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut:46
44A. Muri Yusuf, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, Dan Penelitian Gabungan, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), hlm. 372.
45Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 211.
46Margono S, Metodelogi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 180.
1) Wawancara Terstruktur
Digunakan karena informasi yang di perlukan peneliti sudah pasti. Proses wawancara terstruktur dilakukan dengan menggunakan instrument pedoman wawancara tertulis yang berisi pertanyaan yang akan diajukan kepada informan. Dalam wawancara terstruktur pertanyaan yang diajukan pewawancara dilakukan secara ketat sesuai daftar pertanyaan yang telah disiapkan terlebih dahulu.
2) Wawancara Tidak Terstruktur
Bersifat lebih luwes dan terbuka. Wawancara tidak sturuktur dalam pelaksanaanya bersifat lebih bebas dibandingkan dengan wawancara terstruktur karena dalam melakukan wawancara dilakukan secara alamiah untuk menggali ide dan gagasan informan secara terbuka dan tidak menggunakan pedoman wawancara.47
Wawancara ini lebih bersifat informal. Pertanyaan-pertanyaan tentang pandangan hidup, sikap, keyakinan subjek, atau tentang keterangan lainnya dapat diajukan secara bebas kepada subjek.
Dalam penelitian ini metode wawancara yang peneliti gunakan untuk memperoleh data adalah metode interview tidak terstruktur .
47Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif:Teori dan Praktik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2017), hlm. 162-163.
b. Observasi
Observasi atau pengamatan langsung adalah kegiatan pengumpulan data dengan melakukan penelitian langsung terhadap kondisi lingkungan objek penelitian yang mendukung kegiatan penelitian, sehingga didapatkan gambaran secara jelas tentang kondisi objek penelitian tersebut. 48 adapun kegiatan observasi yang dilakukan oleh peneliti yaitu melakukan pengamatan langsung kelokasi selama kegiatan bimbingan kelompok diadakan.
c. Dokumentasi
Dokumentasi yaitu mengumpulkan dokumen dan data-data secara intens sehingga dapat mendukung dan menambah kepercayaan dan membuktikan suatu kejadian.49 Sejumlah besar fakta data tersimpan dalam bahan yang terbentuk surat, catatan harian, cendra mata, laporan, dan foto. Data atau hal-hal yang bersifat dokumenter itu berupa jumlah data baik data tertulis maupun dalam bentuk tidak tertulis yang terdapat.
Bentuk pengumpulan data melalui dokumentasi dalam penelitiaan ini yaitu data berupa foto-foto selama kegiatan bimbingan kelompok berlangsung.
48Sugiyono, Metode Penelitian Manajemen (Bandung: Alfabeta, 2014), hlm.42.
49Djam‟an Satori, Aan Komariyah, Metodologi Penelitian Kualitatif, ( Bandung: Alfabeta, 2014), hlm.149.
6. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah suatu usaha pengelompokan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang didasarkan oleh data.50
Adapun data dalam penelitian kualitatif diperoleh dari berbagai sumber, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam- macam (trianggulasi), dengan pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi data tinggi sekali.51 Dari hal tersebut maka tehnik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Data Reduction ( Reduksi Data)
Reduksi data merupakan bagian dari analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perludan mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa hingga simpulan- simpulan akhirnya dapat ditarik dan di verifikasi. Menurut Riyanto reduksi data (data reduction) artinya, data yang harus di rampingkan, dipilih mana yang penting, di sederhanakan dan abstrasikan.52
50Ibid, hlm. 145.
51Ibid, hlm. 400.
52Hardani, Dkk, Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif , (Yogyakarta: CV Pustaka Ilmu Group Yogyakarta, 2020), hlm. 164.
b. Data Display ( Penyajian Data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplay data. Penyajian yang dimaksud Miles dan Hubermen, adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan simpulan dan pengambilan tindakan. Dalam penelitian kualitatif penyajian data dapat berupa uraian singkat, bagan, hubungan antara kategori dan sejenisnya.53
c. Conlcusion drawing and verification (Penarikan Kesimpulan dan verifikasi)
Langkah ketiga dalam analisis kualitatif menurut Miles dan Hubermen adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukan masih bersifat sementara, dan akan berubah jika tidak ditemukan bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Simpulan adalah inti sari dari temuan penelitian yang menggambarkan pendapat-pendapat terakhir yang berdasarkan pada uraian-uraian sebelum atau, keputusan yang diperoleh berdasarkan metode berpikir induktif atau deduktif 54
7. Validitas Data
Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Dengan
53Ibid, hlm. 167.
54Ibid, hlm. 168.
demikian data yang valid adalah data “yang tidak berbeda: antar data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian.55
Agar temuan data yang diperoleh menjadi lebih valid, maka perlu diteliti keabsahannya. Berikut ini beberapa tehnik pemeriksaan data yang perlu dilakukan peneliti:
a. Perpanjangan Keikutsertaan
Peneliti dalam penelitian kualitatif adalah instrumen itu sendiri.
Kehadiran dan Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan pada latar penelitian. Perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti berada di lapangan sampai pengumpulan data tercapai.56 Bentuk kepanjangan keikutsertaan peneliti dalam penelitian ini adalah peneliti dalam proses kegiatan bimbingan kelompok peneliti selalu terlibat aktif dalam kegiatan tersebut.
b. Meningkatkan Ketekunan
Yang dimaksud dengan meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan yang mendalam dan teliti serta berkesinambungan. Dengan usaha tersebut maka kepastian data dan
55Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 267.
56Ibid, hlm. 327.
urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.57 Dengan meningkatkan ketekunan, maka peneliti dapat melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan salah atau tidak.
Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan maka, peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati. Bentuk ketekunan peneliti dalam penelitian ini yaitu peneliti melakukan pengamatan yang mendalam dan berkesinabungan selama proses bimbingan kelompok dilaksanakan dan berusaha untuk mencari tahu lagi sekiranya ada data yang belum jelas.
c. Triangulasi
Yakni teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data yang terkumpul untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data-data. Hal ini dapat berupa penggunaan sumber, metode penyelidik dan teori. Untuk menguji sejauh mana keabsahan data yang didapatkan oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu penelitian berusaha menggabungkan semua data baik yang didapatkan melalui wawancara, observasi dan dokomentasi.
d. Kecukupan Referensi
Adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti.58. Bentuk kecukupan refensi yang digunakan oleh peneliti yaitu selain menggunakan teori dari berbagai sumber, peneliti juga mengandalkan hasil-hasil wawancara, dokumen dan catatan-catatan penting yang ada kaitannya dengan fokus penelitian.
H. Sistematika Pembahasan
Untuk memudahkan pemahaman , maka perlu diberikan gambaran singkat yang dirumuskan dalam sistematika pembahasan. Sistematika pembahasan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penelitian ini terdiri atas empat bab.
BAB I PENDAHULUAN : Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, ruang lingkup dan seting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian, sistematika pembahasan dan rencana jadwal penelitian.
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN : Bab ini berisi tentang paparan data dan temuan baik data primer maupun data sekunder dari penelitian yang dilakukan di lapangan.
BAB III PEMBAHASAN : Pada bab ini membahas data-data yang ditemukan dilapangan apakah sesuai dengan teori yang ada.
58Ibid, hlm. 467
BAB IV PENUTUP : Bab ini akan menyampaikan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh penulis tentang bimbingan kelompok untuk menguatkan mental spiritual kader studi kasus di HMI Komisariat Dakwah.
37 BAB II
PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah HMI Komisariat Dakwah
HMI Komisariat Dakwah merupakan komisariat hasil pemekaran dari Komisariat FIISI. HMI Komisariat Dakwah didirikan pada tanggal 19 juni 2017. Ada dua factor yang melatarbelakangi berdirinya HMI Komisariat Dakwah. Faktor pertama di latarbelakangi oleh faktor kuantitas (jumlah kader) yang kian tahun semakin bertambah. penggemuka kader yang berjumlah sampai dengan 750 lebih kader yang tersebar di empat Fakultas yang wilayah teritorialnya mencakup Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dan Fakultas Syariah maka dari itu di pandang perlu untuk memekarkan Komisariat FIISI menjadi dua yang dimana FIISI berubah nama menjadi Komisariat Syariah dengan wilayah teritorialnya Febi dan Syariah, serta kemudian memekarkan Komisariat Dakwah dengan wilayah teritorialnya FDIK dan FUSA. Faktor yang kedua dilatarbelakangi oleh faktor kualitas, karna melihat Komisariat FIISI menaungi empat Fakultas sehingga mengakibatkan atensi Komisariat FIISI melemah karna harus mengontrol kader-kader HMI di masing-masing Fakultas. Selain itu juga karna melihat bagaimana melihat kemampuan setiap kader Komisariat FIISI dalam mengakomodir kepentingan HMI di masing-masing fakultas dari faktor
tersebutlah pemekaran Komisariat adalah strategi HMI dalam menghadapi kepentingan serta membawa kepentingan HMI di masing-masing Fakultas.59
2. Visi
Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi, yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi oleh Allah SWT.
3. Misi
a. Membina pribadi muslim untuk mencapai akhlaqul karimah b. Membina pribadi muslim yang mandiri
c. Mengembangkan potensi kreatifitas, keilmuan, sosial dan budaya
d. Mempelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemasalahatan masa depan umat manusia
e. Memajukan kehidupan umat dalam mengamalkan dienul islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
f. Memperkuat ukhuwah islamiah sesame umat islam se-dunia
g. Berperan aktif dalam dunia kemahasiswaan, perguruan tinggi dan kepemudaan untuk menopang pembangunan nasional
h. Ikut terlibat aktif dalam penyelesaian persoalan sosial kemasyarakatan dan kebangsaan
59Fhatur Rachman Ola, Wawancara, Mataram, 15 Maret 2021.
i. Usaha-usaha lain yang tidak bertentangan dengan ayat (1) s.d. (7) dan sesuai dengan Azas, fungsi dan peran organisasi serta berguna untuk mencapai tujuan organisasi.60
4. Nama Personalia Pengurus
a. Ketua Umum : Abdul Asis Ibrahim
b. Ketua bidang penelitiana, pengembangan dan pembinaan anngota : Ari Kuswandi Arbi
c. Ketua bidang kewirausahaan dan pengembangan proferesi : Mega Zulaikha
d. Ketua bidang pemberdayaan perempuan
: Nur Annisa Febriyanti
e. Ketua bidang perguruan tinggi, kemahasiswaan dan kepemudaan : Geger Arif Budiman
f. Sekretaris umum : Asari Mahfuz
g. Wakil sekretaris umum penelitian, pengembangan dan pembinaan
anggota : Dimas R.A.Y
h. Wakil sekretaris umum kewirausahaaan dan pengembangan profesi : Dedi Saputra
i. Wakil sekretaris umum pemberdayaan perempuan
: Juliana
60Pengurus Besar HMI , Hasil –Hasil Kongres HM I XXX, (Ambon: Pengurus Besar HMI, 2018), hlm. 60.
j. Wakil sekretaris umum perguruaan tinggi, kemahasiswaan dan kepemudaan : Teguh Maulana E
k. Bendahara umum : Dewi Asri Ulandari l. Wakil bendahara umum : Elsa Fitri Ramdani m. Departemen pendidikan dan latihan
: M. Khairul Ramdani n. Departemen penelitian anggota
: M. Ibrahim Kholidi o. Departemen pengembangan anggota
: Yusita Indriyani p. Departemen data anggota
: Nurlaeli q. Departemen kewirausahaan
: M Loksa Nuril W
r. Departemen pengembangan profesi
: M Roni Saputra s. Departemen kajian perempuan
: Dwi Cahya Ambarwati t. Departemen pembangunan sumberdaya perempuan
: Nining Karlina
u. Departemen perguruan tinggi dan kemahasiswaan : Saufan Azhari
v. Departemen pemuda : M Taufiq w. Departemen data dan pustaka
: L Iqbal Ardi Gunawa dan Sapriadi 5. Fungsi Personalia
a. Ketua umum adalah penanggung jawab dan koordinator umum dalam pelaksanaan tugas-tugas intern dan ekstern yang bersifat umum di komisariat.
b. Ketua bidang penelitian, pengembangan anggota dan pembinaan anggota adalah penanggung jawab dan coordinator kegiatan penelitian, pengembangan dan pembinaan anggota di komisariat
c. Ketua bidang perguruan tinggi, kemahasiswaan dan kepemudaan adalah penanggung jawab dan koordinator kegiatan perguruan tinggi, kemahasiswaan dan kepemudaan di tingkat komisariat
d. Ketua bidang kewirausahaan dan pengembangan profesi adalah penanggung jawab dan koordinator pembentukan fungsionali dan evaluasi dalam kewirausahaan di tingkat komisariat serta bertanggung jawab atas koordinasi dengan lembaga pengembangan profesi (LPP) tingkat cabang
e. Ketua bidang pemberdayaan perempuan adalah penanggung jawab dan koordinator kegiatan bidang kewanitaan tingkat komisariat