*TOPIK Bleeding Time*
I. Judul Praktikum
Judul dari praktikum anatomi fisiologi manusia ini adalah “Bleeding Time”
II. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan waktu perdarahan dengan teknik duke.
2. Mahasiswa dapat melakukan interpretasi terhadap hasil pemeriksaan III. Dasar Teori
Darah adalah cairan yang berisi berbagai komponen yang berfungsi dalam mengatur dan mempertahankan kesehatan tubuh. Darah terdiri dari plasma, sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Plasma adalah bagian cairan darah yang berisi protein, gula, dan elektrolit. Sel darah merah, juga dikenal sebagai eritrosit, berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh. Sel darah putih, termasuk neutrofil, eosinofil, dan limfosit, berperan dalam sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. Trombosit, juga dikenal sebagai platelet, berfungsi dalam proses pembekuan darah untuk menghentikan perdarahan (Amalia. 2022).
Komponen-komponen darah ini bekerja sama untuk menjaga keseimbangan dan fungsi tubuh. Sel darah merah membantu mengangkut oksigen dan karbon dioksida, sedangkan sel darah putih membantu melindungi tubuh dari infeksi dan penyakit. Trombosit berfungsi dalam menghentikan perdarahan dan mencegah kehilangan darah. Plasma, sebagai bagian cairan darah, berisi berbagai nutrien dan elektrolit yang diperlukan tubuh untuk berfungsi dengan baik. Menurut (Saras. 2023)darah memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan mempertahankan fungsi organ-organ tubuh.
Pembekuan darah adalah proses biologis yang terjadi ketika darah mengalami perubahan kimia dan fisik yang memungkinkan agar darah tidak mengalir lagi. Proses ini terjadi ketika darah mengalami trauma, luka, atau penyakit, sehingga darah tidak dapat mengalir dengan normal. Pembekuan darah terjadi karena adanya perubahan pH darah, suhu, dan konsentrasi ion kalsium, yang memungkinkan agar faktor pembekuan darah seperti tromboplastin dan fibrinogen berfungsi dengan baik (Sarim . 2020).
Faktor-faktor yang berperan dalam pembekuan darah antara lain adalah tromboplastin, fibrinogen, dan ion kalsium. Tromboplastin adalah enzim yang dihasilkan oleh sel-sel darah yang berada di dekat tempat luka, yang berfungsi mengaktifkan faktor pembekuan darah lainnya. Fibrinogen adalah protein yang dihasilkan oleh hati, yang berfungsi membentuk fibrin yang kemudian membentuk bekuan darah ( Firani. 2018). Ion kalsium juga berperan penting dalam pembekuan darah, karena kalsium dapat mengaktifkan enzim-enzim yang berperan dalam proses pembekuan darah. Dengan adanya peran faktor- faktor ini, pembekuan darah dapat terjadi dan darah tidak lagi mengalir, sehingga luka dapat disembuhkan dan darah tidak lagi mengalir ke tempat yang tidak diperlukan.
Pembekuan darah adalah proses biologis yang penting untuk menghentikan pendarahan setelah cedera. Namun, beberapa faktor dapat mempengaruhi proses ini. Salah satu faktor utama adalah suhu tubuh. Suhu tubuh yang tinggi dapat menghambat proses
pembekuan darah, sedangkan suhu yang rendah dapat mempercepat proses ini. Menurut (Arsi, dkk. 2022) suhu tubuh yang stabil dan normal (sekitar 37°C) sangat penting untuk memastikan proses pembekuan darah berjalan dengan normal.
Faktor lain yang mempengaruhi pembekuan darah adalah keseimbangan hormon.
Hormon seperti vitamin K, hormon tiroid, dan hormon adrenal dapat mempengaruhi proses pembekuan darah. Vitamin K, misalnya, berperan penting dalam mengaktifkan faktor pembekuan darah, sehingga defisiensi vitamin K dapat menyebabkan gangguan pembekuan darah. Menurut (Firani, dkk. 2023) beberapa obat dan kondisi medis juga dapat mempengaruhi proses pembekuan darah, seperti penggunaan obat antikoagulan dan kondisi seperti hemofilia. Oleh karena itu, penting untuk memantau faktor-faktor ini agar proses pembekuan darah berjalan dengan normal dan menghentikan pendarahan secara efektif.
IV. Metode Penelitian IV.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan dalaksanakan pada Rabu, 22 Mei 2024. Praktikum ini dilaksanakan pada pukul 16.00 – 17. 00. Praktikum ini dilaksanakan di LBM Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
IV.2 Alat dan Bahan IV.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Lancet 1 buah
2. Kertas saring 6 lembar
3. Stopwatch 1 buah
4. Alat tulis 1 set
5. Alkohol Swab 6 buah
6. Tissue secukupnya
IV.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Darah kapiler daun telinga 6 orang IV.3 Langkah Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2. Dibersihkan cuping daun dengan alkohol swab
3. Ditusuk cuping daun telinga dengan lancet hingga menegluarkan darah 4. Dijalankan stopwatch ketika darah keluar
5. Diisap tetes darah yang keluar memakai sepotong kertas saring setiap 30 detik, jagalah jangan sampai menekan kulit pada waktu menghisap darah
6. Dicatat ketika darah berhenti keluar V. Data Pengamatan
Hasil pengamatan dari praktikum ini adalah berupa tabel berikut:
N
O Nama Waktu Bleeding Time Keterangan
1 Husaeri 1 menit Normal
2 Farisi 1,5 menit Normal
3 Sulpadli 0,5 menit Tidak Normal
4 Adzkiya 2 menit Normal
5 Roghip 2 menit Normal
6 Narjun 2 menit Normal
VI. Pembahasan
Hasil dari pengamatan bleeding time terhadap 6 orang menunjukkan hasil yaitu Husaeri memiliki waktu bleeding time 1 menit yang menunjukkan normal, Farisi memiliki waktiu bleeding time 1,5 menit yang menunjukkan keadaan normal, Sulpadli memiliki waktu bleeding time 0,5 menit menunjukkan keadaan tidak normal. Adzkiya memiliki waktu bleeding time 2 menit menunjukkan keadaan normal, Roghip memiliki waktu bleeding time 2 menit yang menunjukkan keadaan normal, Narjun memiliki waktu bleeding time 2 menit yang menunjukkan keadaan normal. Rentang normal bleeding time ini adalah antara 1 sampai 3 menit. Menurut (Maleki, dkk. 2012) Nilai bleeding time normal berkisar antara 2-9 menit.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat 5 orang dalam keadaan normal dan 1 orang dalam keadaan tidak normal yaitu Sulpadli. Hal tersebut disebabkan karena bleeding time Sulpadli dibawah dari nilai rentang normal yaitu 0,5 menit. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu penyebab utama adalah adanya gangguan pada sistem pembekuan darah, seperti defisiensi faktor VIII atau IX, yang dapat menyebabkan darah tidak dapat membeku dengan baik. Faktor lainnya adalah adanya penggunaan obat-obat antiplatelet atau antikoagulan, seperti aspirin, warfarin, atau heparin, yang dapat menghambat proses pembekuan darah. Menurut (Abidin & Mardiyantoro. 2020) kondisi medis seperti trombositopenia, anemia, atau gangguan pada sistem imun juga dapat mempengaruhi bleeding time dan membuatnya menjadi lebih pendek dari normal.
Hal yang harus diperhatikan untuk menjaga kenormalan Bleeding Time (BT), perlu dilakukan beberapa langkah. Pertama, memantau penggunaan obat-obat antiplatelet atau antikoagulan dan mengontrol dosisnya dengan hati-hati. Kedua, memastikan bahwa trombosit darah berfungsi normal dengan melakukan pemeriksaan trombositopenia. Ketiga, memantau kondisi medis seperti anemia dan gangguan pada sistem imun, serta melakukan pengobatan yang tepat jika diperlukan. Keempat, Menurut (Wahyuningsih, dkk. 2021) memantau status nutrisi, seperti vitamin K, yang penting untuk proses pembekuan darah. Dengan demikian, BT dapat tetap berada dalam rentang normal dan mengurangi risiko terjadinya perdarahan yang tidak normal.
VII. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan bleeding time terhadap 6 orang, diperoleh bahwa 5 orang memiliki waktu bleeding time dalam rentang normal, yaitu antara 1-3 menit. Sulpadli memiliki waktu bleeding time 0,5 menit, yang menunjukkan keadaan tidak normal. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk gangguan pada sistem pembekuan darah,
penggunaan obat-obat antiplatelet atau antikoagulan, dan kondisi medis seperti trombositopenia, anemia, atau gangguan pada sistem imun.
Untuk menjaga kenormalan Bleeding Time (BT), beberapa langkah harus diperhatikan. Pertama, memantau penggunaan obat-obat antiplatelet atau antikoagulan dan mengontrol dosisnya dengan hati-hati. Kedua, memastikan bahwa trombosit darah berfungsi normal dengan melakukan pemeriksaan trombositopenia. Ketiga, memantau kondisi medis seperti anemia dan gangguan pada sistem imun, serta melakukan pengobatan yang tepat jika diperlukan. Keempat, memantau status nutrisi, seperti vitamin K, yang penting untuk proses pembekuan darah. Dengan demikian, BT dapat tetap berada dalam rentang normal dan mengurangi risiko terjadinya perdarahan yang tidak normal
VIII. Daftar Pustaka
Abidin, Z. Z., & Mardiyantoro, F. (2020). Diagnosis dan tata laksana perdarahan rongga mulut. Universitas Brawijaya Press.
Amalia, L. (2022). Peran Platelet-Selectin sebagai Marker Agregasi Trombosit pada Trombosis Sinus Venosus Serebral. Jurnal Neuroanestesi Indonesia, 11(3), 206-215.
Arsi, N. R., Afdhal, M. K. N. F., Saputra, M. K. N. A. U., Elviani, M. K. Y., & Keb, A. M.
(2022). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Perkumpulan Rumah Cemerlang Indonesia ANGGOTA IKAPI JAWA BARAT.
Firani, N. K. (2018). Mengenali Sel-Sel Darah dan Kelainan Darah. Universitas Brawijaya Press.
Firani, N. K., Fatonah, S., Arsana, P. M., Waafi, A. K., & Kristyoadi, S. A. (2023). Deteksi Kelainan Hemostasis pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Metode Tromboelastografi. Universitas Brawijaya Press.
Maleki, A., Roohafza, H., Rashidi, N., Aliyari, F., Ghanavati, R., Foroughi, S., ... &
Torkashvand, M. (2012). Determination of normal range of bleeding time in rural and urban residents of Borujerd, Iran: A pilot study. ARYA atherosclerosis, 8(3), 136.
Saras, T. (2023). Hormon: Pesan Keseimbangan dalam Tubuh Manusia. Tiram Media.
Sarim, B. Y. (2020). Manajemen Perioperatif pada Perdarahan akibat Atonia Uteri. Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia, 3(1), 47-58.
Wahyuningsih, N., Martaningsih, S. T., & Supriyanto, A. (2021). Makanan Sehat dan Bergizi Bagi Tubuh. Penerbit K-Media.
IX. Lampiran -lapsem -dokumentasi