• Tidak ada hasil yang ditemukan

E-Book Mengenal Lebih Jauh_Bahasa-Sastra_Indonesia.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "E-Book Mengenal Lebih Jauh_Bahasa-Sastra_Indonesia.pdf"

Copied!
160
0
0

Teks penuh

Berbagai peristiwa dan sejarah sastra dan bahasa datang dan pergi mewarnai perjalanan sastrawan di Indonesia. Dengan demikian, secara linguistik, bahasa Indonesia dan bahasa Melayu merupakan dua dialek bahasa yang sama.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

SEJARAH ILMU BAHASA DAN SASTRA

Pengantar Sejarah Bahasa

Padahal, kontroversi yang diyakini berujung pada hilangnya nyawa orang-orang yang tidak menganut ideologi suatu kelompok ini, cukup meyakinkan kita bahwa sejarah tidak bisa dipahami hanya dengan satu versi realitas.

Pengertian Sejarah Bahasa

Tentunya jika kita ingin berbicara tentang sejarah bahasa Indonesia, kita juga akan berbicara tentang bahasa Melayu sebagai sumber (akar) sejarah bahasa Indonesia. Pertanyaan pertama yang pasti terlintas di benak kita adalah kapan sebenarnya bahasa Melayu digunakan sebagai alat komunikasi.

Kedudukan dan Cakupan Sejarah Bahasa

Salah satu cara untuk terus menjaga dan mengembangkan bahasa Indonesia adalah dengan lebih sering mengadakan kongres bahasa Indonesia. Pada dasarnya kongres yang diselenggarakan merupakan wujud eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang harus terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dari masa ke masa.

Pandangan - Pandangan dalam Penulisan Sejarah Bahasa Pada zaman penjajahan Belanda pada awal abad ke-20,

Problematika Penulisan Sejarah Bahasa

  • Kongres Bahasa Indonesia I (Pertama)
  • Kongres Bahasa Indonesia II
  • Kongres Bahasa Indonesia III
  • Kongres Bahasa Indonesia IV
  • Kongres Bahasa Indonesia V
  • Kongres Bahasa Indonesia VI
  • Kongres Bahasa Indonesia VII
  • Kongres Bahasa Indonesia VIII
  • Kongres Bahasa Indonesia IX
  • Kongres Bahasa Indonesia X

Kongres Bahasa Indonesia yang pertama dilaksanakan di Kota Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 25-28 Juni 1938. Kongres Bahasa Indonesia Keenam diselenggarakan di Jakarta, tanggal 28 Oktober-2 November 1993, dan Kongres Bahasa Keenam dihadiri oleh 770 peserta. Indonesia. .

Pengantar Sejarah Sastra

Para ahli bahasa dan sastra yang meneliti dan mengembangkan bahasa Indonesia di luar negeri berkesempatan menyampaikan pandangannya pada Kongres Bahasa Indonesia IX. Dengan kata lain sejarah sastra mengkaji data berupa fakta sastra yang terjadi pada masa lampau dengan mempelajari data melalui dua media yaitu berupa fakta tertulis dan fakta lisan.

Pengertian Sejarah Sastra

Kedudukan dan Cakupan Sejarah Sastra

  • Pandangan - pandangan dalam Penulisan Sejarah Sastra Sejarah sastra dapat ditulis berdasarkan berbagai perspektif

Untuk melihat karya sastra yang menonjol dan merupakan mahakarya suatu periode sejarah sastra, maka kritik sastra harus diikutsertakan. Beberapa tulisan tentang sejarah sastra berdasarkan jenis karya sastranya antara lain Perkembangan Novel Indonesia karya Umar Yunus (1974)¸ Perkembangan Puisi Indonesia dan Melayu Modern karya Umar Yunus (1984), Perkembangan Teater Modern dan Drama Indonesia Sastra karya Jacob Sumardjo (1997).

Problematika Penulisan Sejarah Sastra

Penelitian Ernst Ulrich Kratz mencatat sebanyak 27.078 judul karya sastra dalam jurnal berbahasa Indonesia yang dimuat dalam Daftar Pustaka Karya Sastra Indonesia Terbit di Surat Kabar dan Majalah). Ketika perkembangan cerpen sedang marak pada tahun 1950-an, meskipun sastra Indonesia semakin berkembang, cerpen mulai bermunculan di berbagai media massa.

Kelahiran Bahasa dan Sastra Indonesia

Kesulitan lainnya, objek sastra selain karya sastra yang berupa genre sastra, yaitu puisi, prosa, dan drama, juga mencakup objek lain yang sangat luas, antara lain pengarang, penerbit, pembaca, pendidikan, apresiasi, esai, dan penelitian. Novel atau roman Indonesia dimulai pada tahun 1920-an, sedangkan puisi Indonesia dimulai pada tahun 1920-an.

Pengertian Bahasa dan Sastra Indonesia

Periodisasi Bahasa dan Sastra Indonesia

  • Umar Junus
  • Ajip Rosidi
  • A. Teeuw
  • Slamet Mulyana
  • Sarjana Belanda
  • Pendapat Lain

Pendapat Teeuw tentang lahirnya sastra Indonesia modern dapat dibaca dalam bukunya Sastra Baru Indonesia 1 (1980). Oleh karena itu sastra Indonesia baru ada pada masa kemerdekaan, setelah mempunyai bahasa resmi sebagai bahasa negara.

Karakteristik Periode Bahasa dan Sastra Indonesia

Ar-Raniri, bersama-sama karya sastera Melayu seperti Hang Tuah, Sejarah Melayu Bustanussalatina, Tajussalatina, dan lain-lain adalah sebahagian daripada sastera Indonesia. Sewajarnya masa itu dianggap sebagai kelahiran Kesusasteraan Indonesia Moden. kehidupan, falsafah, pemikiran dan perasaan.

BAHASA DAN SASTRA INDONESIA PERIODE 1850 —1945

Bahasa dan Sastra Indonesia Periode 1850 - 1933

Sastra Melayu Tionghoa

Sebelumnya ada Nio Joe Lan yang pada tahun 1930 telah mengusulkan agar karya sastra Melayu-Tionghoa dikaji dari bidang sejarah, sastra, dan psikologi. Karya sastra Melayu Tionghoa menggambarkan dinamika yang terjadi pada masa puncak Pax Nederlandica (masa keemasan kolonialisme Belanda) dan dekade awal kemerdekaan Indonesia.

Baca Liar

Mata Gelap harus dibaca dengan cermat, dengan mempertimbangkan fase berpikir Marco saat itu. Klaim Tjhoen Tjhioe sebenarnya berisi tiga hal dan keberatannya terhadap Mata Gelap Mas Marco.

Sastra Koran

Pertumbuhan dan peredaran surat kabar di India pada tahun 1910-1920 tertinggal dibandingkan Eropa karena lambatnya perkembangan industri percetakan. Meski demikian, surat kabar buku merupakan hal yang modern di Hindia Belanda, karena mesin cetaknya mengadakan upacara massal luar biasa yang melibatkan banyak orang.

Politik Etis dari Max Havelaar

Oleh karena itu, penguasa kolonial di India tidak mau mendatangkan guru bergaji tinggi dari Eropa. Hal lain yang juga sangat menunjang goyahnya sistem pendidikan di Hindia Belanda adalah adanya pemisahan pendidikan sekolah berdasarkan ras.

Balai Pustaka

Majalah-majalah terbitan Balai Pustaka adalah Sri Pustaka yang kemudian diberi nama Panji Pustaka dalam bahasa Melayu (1923), bahasa Jawa dalam bahasa Jawa (1926) dan bahasa Sunda dalam Parahiangan (1929). Bahwa kantor Balai Pustaka memenuhi kebutuhan yang dirasakan tidak memerlukan penjelasan; dalam percakapan kami.

Bahasa dan Sastra Indonesia Periode 1933 - 1942

Dengan demikian, Balai Pustaka menjadi pendorong kemajuan dan komunikasi antara sastrawan dan masyarakat.Mengingat adanya perbedaan pendapat yang mendukung dan menentang peran Balai Pustaka dalam perkembangan sastra Indonesia, maka tidak perlu ditentukan mana yang benar. Dalam hal ini kami secara obyektif melihat bahwa Balai Pustaka telah memberikan peluang kepada penulis dan redaksi Indonesia sebagai penerbit yang memiliki jaringan luas, sehingga para pendidik dengan jaringan luas terbuka, sehingga masyarakat Indonesia dapat menikmati pendidikan.

Pujangga Baru

  • Polemik Kebudayaan

Karya pengarang yang merupakan salah seorang pengasas majalah Pujangga Baru ialah Nyanyian Sunyi (1937), Buah Rindu (1941) dan Sastra Melayu dan Raja-rajanya (1942) dan Esai dan Prosa (1982). Seorang lagi pengarang yang juga pengasas majalah Pujangga Baru ialah Sanusi Pane yang banyak menulis lakon seperti Airlangga (1928), Eenzame Garoedavlucht (Lakon bahasa Belanda, 1929) Kertajaya (1932), Sandyakala ning Majapahit (1933) dan Manusia (1940). .

Bahasa dan Sastra Indonesia Periode 1942 - 1945

Dalam nomor peringatan Pujangga Baru, orientasi terhadap kebudayaan Barat tidak diungkapkan dalam arti sempit, melainkan “dalam arti seluas-luasnya”. Dengan demikian, pemahaman budaya Barat juga ditempatkan sebagai budaya internasional. Sutan Sjahrir yang juga menulis dalam Nomor Peringatan menekankan akibat Pujangga Baru: “gerakan Pujangga Barue hanyalah suato ropa dari kebijaksanaan universal yang ada di dunia.” Perjuangan Pujangga Baru dalam meningkatkan nilai kesatuan kebudayaan Indonesia justru berada dalam kerangka universalitas tersebut.

Masa Kependudukan Jepang

Jassin mengumpulkan karya-karya masa pendudukan Jepang yang tersebar di berbagai surat kabar dan media lain dalam Sastra Indonesia Masa Jepang (1969) dan Gema Tanah Air 1 (1992). Karya-karya yang diterbitkan dalam buku-buku sastra Indonesia pada masa Jepang pasti merupakan karya-karya yang diterbitkan antara tahun 1942-1945 atau tepatnya karya-karya yang diterbitkan sejak tanggal 8 Maret 1942 ketika Jepang masuk ke Indonesia hingga tanggal 17 Agustus 1945, ketika Indonesia merdeka.

Sastra Propaganda

Selain masalah percintaan, novel Cinta Tanah Air menggambarkan masyarakat Indonesia pada awal kedatangan bangsa Jepang. Kondisi sosial politik Indonesia yang dihadirkan dalam novel Palawija dan Cinta Tanah Air sangat kontras dengan kondisi sebenarnya.

BAHASA DAN SASTRA INDONESIA PERIODE 1945 - 1971

Bahasa dan Sastra Indonesia Periode 1945 -— 1961

Melalui Arena, para seniman yang dipimpin oleh Chairil Anwar, Asrul Sani dan Idrus berkumpul dan mewujudkan kemerdekaan serta mengisinya dengan karya-karya penting yang melahirkan generasi baru, berbeda dengan para penyair baru dan generasi sebelumnya. Pada periode inilah lahir Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang mengusung realisme sosial, berbeda dengan Generasi Arena yang mengusung humanisme universal.

Gelanggang Seniman Merdeka

Pembukaan statuta tersebut menyatakan bahwa generasi Gelanggang lahir dari pergolakan jiwa dan raga yang menciptakan kehidupan masyarakat Indonesia. Nama lain yang ditawarkan berbagai pihak adalah Pasukan Kemerdekaan, Pasukan Charil Anwar, Pasukan Setelah Perang, Tentara Pembebasan, dan Generasi Arena.

Lembaga Kebudayaan Rakyat

Lekra bekerja secara konkrit di bidang kebudayaan dan saat ini khususnya di bidang seni dan ilmu pengetahuan. Di bidang seni, Lekra mendorong inisiatif, mendorong kebenaran, dan selama ini memperjuangkan keindahan seni yang setinggi-tingginya.

Krisis Bahasa dan Sastra

Penulis Lekra seperti Pramoedya Ananta Toer, Putu Oka Sukanta dan lain-lain dipenjara bertahun-tahun oleh rezim Orde Baru tanpa pengadilan. Jassin mengajukan usulnya pada simposium sastra bertajuk “Sastra Indonesia Modern Tidak Ada Krisis” dengan bukti dari keseluruhan dokumentasi.

Majalah Kisah

Sejak tahun 1955, majalah ini menambahkan rubrik khusus bernama “Persada” untuk puisi dan esai dengan redaksi khusus Ramadhan K.H. Sedangkan penyair yang berkembang dalam majalah ini antara lain Subagio Sastrowardoyo dengan kumpulan puisinya Simphoni (1957).

Bahasa dan Sastra Indonesia Periode 1961 - 1971

Polemik ini menjadi pertanda konflik Lekra dan Manikebu belum usai, padahal Goenawan Muhammad dan Arief Budiman, tokoh Manikebu, sudah menyatakan perlunya rekonsiliasi dengan saling memaafkan dan menerima segala perbedaan. Sebab, menghargai perbedaan merupakan pembelajaran berharga yang bisa diambil generasi muda ketika menghadapi konflik Lekra dan Manikebu.

Manifestasi Kebudayaan

Konferensi pegawai yang diadakan oleh para pendukung Manifes Kebudayaan ini dihadiri lebih dari seribu orang (baik perseorangan maupun perwakilan organisasi) dari seluruh tanah air dan disponsori oleh Badan Permusyawaratan Kebudayaan Nasional (BMKN), Organisasi Penulis Indonesia ( OPI), Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI). , Badan Permusyawaratan Kebudayaan Islam (BMKI), Lembaga Kebudayaan Kristen (Lekkrindo) dan lain-lain. Atas kemauan Bung Karn, para pendukung Manifes Kebudayaan sendiri muncul yang pro dan kontra.

Majalah Horison

  • Heboh Bahasa dan Sastra

Majalah Sastra terbit pada tahun 1960-an, namun pada masa Orde Lama menjadi klub Lekra dan akhirnya terpaksa berhenti pada Maret 1964. Akibatnya, Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara menerbitkan Sastra edisi Agustus 1968 dan demonstrasi sekelompok kantor majalah Sastra di Jakarta.

BAHASA DAN SASTRA INDONESIA PERIODE 1971 – SEKARANG

Bahasa dan Sastra Periode 1971 - 1998

Eksperimen sastra didorong oleh banyaknya minat generasi muda dalam menulis karya sastra dan minimnya media kreatif karena hanya ada satu majalah sastra yaitu Horison. Persaingan dan perebutan tampil inilah yang menyebabkan timbulnya puisi mbeling yang dikenal pula dengan sebutan “puisi lugu”, “puisi awam”, “puisi pop”, “puisi setengah dewasa”, “puisi jengki” dan sebagainya.

Kepopuleran Sastra

Novel-novel pada masa itu menjadi landasan bagi novel-novel berbobot populer, sehingga terjadi peningkatan kualitas dari dekade sebelumnya. Dengan mempelajari novel populer banyak hal yang akan ditemukan; obsesi, aspirasi, ideologi, impian, sarana legitimasi sosial.

Eksperimental Sastra

Dalam karya fiksinya, penulis ini sering memperkenalkan kata-kata bahasa Indonesia kuno yang jarang digunakan. Karena kata-kata dapat mencipta sendiri, mempermainkan dirinya sendiri, dan menentukan kehendaknya sendiri.

Pengadilan Puisi

Di Pengadilan Puisi, jaksa mendakwa puisi Indonesia “tidak sehat, tidak jelas, dan brengsek”. Dalam jawabannya, Gunawan Mohammad menilai pertanyaan yang dilontarkan di gelanggang puisi di Bandung hanya sekedar pengulangan omelan lama.

Fakultas Sastra/Sastra Akademik

Namun perkembangan fakultas sastra di berbagai universitas di Indonesia sangat lambat dibandingkan fakultas lain. Mata kuliah yang dilaksanakan diantaranya adalah Peningkatan Metode Pengajaran Sastra Fakultas Sastra Indonesia pada bulan Februari 1976 yang diikuti oleh dosen USU, Universitas Padjadjaran, Undip dan Unsrat.

Bahasa dan Sastra Periode 1988 - Sekarang

Media penerbitan seperti surat kabar dan majalah telah lama memberikan ruang bagi kehidupan sastra Indonesia dalam perkembangan sastra. Keberadaan cerpen pada masa awal sastra Indonesia tidak terdeteksi bahkan diabaikan oleh para penulis sejarah sastra Indonesia.

Sastrawan Perempuan

Selain kedua novel tersebut, dalam kumpulan cerpen Sagra (2001), Oka juga mengecam tradisi Bali yang dianggap merugikan perempuan. Ketika Mas Gagah Pergi, kumpulan cerpen pertama karya Helvy Tiana, terbit pertama kali pada tahun 1997 dengan cetakan sebanyak 5.000 eksemplar terjual dalam satu bulan.

Sastra Cyber

  • Banjir Cerpen

Cerpen yang diterbitkan di surat kabar atau majalah mendahului terbitnya novel, puisi, dan drama. Setiap masa sastra Indonesia tidak pernah lepas dari kehadiran cerita pendek yang dimuat di surat kabar.

PENUTUP

Kesimpulan

Saran

Sarjana Pendidikan (Drs) di IKIP PGRI Bali pada tahun 1989 dan diangkat menjadi dosen oleh YPLP PT IKIP PGRI Bali pada tahun 1990. Jabatan yang sebelumnya dijabat sebelum dilantik menjadi rektor adalah Ketua Program Studi Keguruan TK, Wakil Rektor 2 IKIP PGRI Bali.

Referensi

Dokumen terkait