BAHASA DAN SASTRA INDONESIA PERIODE 1971 – SEKARANG
D. Pengadilan Puisi
Kunang-kunang di Manhattan Umar Kayam, dimana suasana dalam cerita ditentukan oleh (gaya) bahasa.
Kedua, upaya untuk menemukan bentuk-bentuk tekhnik penceritaan, menyangkut penokohan dan struktur/alur cerita, dimana efek-efek dramatik cerita kemudian banyak dihasilkan memalui tekhnik-tekhnik penceritaan itu. Kita bisa melihat tekhnik repetisi penceritaan pada cerpen Sukri Membawa Pisau Belati Hamsad Rangkuti atau pada cerpen “Garong” Taufik Ismail. Sementara cerpen
“Krematorium Itu Untukku”, “Laki-laki Lain” juga “Tiga Laki-laki Terhormat” Budi Darma memperlihatkan tekhnik penokohan yang
“alusif”: dimana tiap karakter seakan-akan mengacu pada karakter lainnya. Inilah teknik penceritaan dan penokohan yang kemudian banyak dikembangkan Budi Darma pada cerpen- cerpen yang ditulisnya selepas periode Orang-orang Blomington, seperti tampak pada “Gauhati”, “Derabat” atau “Mata yang Indah”.
Ketiga, pada upaya untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk
“tifografi penceritaan”, dimana elemen-lelem visual dari huruf, tanda baca sangat mempengaruhi struktur penulisan cerita, dan bagaimana cerita itu “ditampilkan secara visual”, hingga cerita bisa saja memakai elemen rupa sebagai baian strukturnya. Danrto banyak melakukan hal ini, seperti judul cerpennya yang memakai gambar panah menancap di lambang hati, atau seperti “cepen-rupa”-nya
“nguung…nggung cak cak…” itu.
Itulah periode yang begitu semangat melakukan
“eksperimentasi”. Dengan para eksponen seperti Danarto, Budi Darma, Putu Wijaya, sampai Hamid Jabbar,Yudhistira Adi Nugraha, Kurniawan Junaedi, Eddy D. Iskandar, Joko Sulistyo, Ristata Siradt, juga Arswendo Atmowiloto yang menggembangkan “cerpen-cepen dinding”-nya. Struktur dan bentuk-bentuk tifografi yang “aneh”, seperti dimungkinkan hadir karena ruang “eksperimentasi” diberikan oleh media yang menyertai pertumbuhannya.
kemapanan majalah Horison maupun kemapanan pengarang- pengarang senior adalah pengadilan Puisi. Acara yang diadakan di Bandung, 8 September 1974, untuk mengadili puisi mutakhir.
Penyelenggaranya Yayasan Arena, mengambil tempat di Kampus Universitas Parahyang. Dalam acara itu, bentindak sebagai “Hakim Ketua” : Sanento Yuliman, “Hakim Anggota : Darmanto Jt., “Jaksa” : Slamet Kirnanto, “Pembela” : Taufiq Ismail, dan “ Saksi” : Sejumlah pengarang Indonesia.
Ide mengadakan Pengadilan Puisi ini berawal dari Darmanto Jt pada 1970. Menurutnya Pengadilan Puisi perlu diadakan untuk mengesahkan hak hidup puisi di Indonesia. Ini sangat penting, sebab dengan dengan demikian penyair-penyair sudah tidak lagi dikejar- kejar pertanyaan tuntutan : relevankah kehadiran puisi di Indonesia?
Alasan lainya untuk mencegah terjadinya kerusahan-kerusuhan di dalam masyarakat, akibat adanya hal-hal yang tak perlu di puisikan—sebab efeknya terhadap masyarakat.Terakhir, pengadilan ini berhak menjatuhkan hukuman pada penyair-penyair yang suka mengacau; tentu saja hukuman mental, sebab puisi terkena hukuman ini. Sajak-sajak kotor dan menghina agama, tentu akan menyebabkan penyair dituntut.
Dalam Pengadilan puisi itu, jaksa mendakwaan bahwa kehidupan puisi Indonesia, “tidak sehat, tidak jelas, dan brensek”.
Berdasakan tuntutan Jaksa pada Pengadilan Puisi secara keseluruhan Pengadilan Puisi merupakan pemberontakan terhadap perpuisian Indonesia, dan secara khususnya pemberontakan terhadap kritikus sastra Indonesia yaitu H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung yang dianggap tidak mampu mengikuti perkembangan puisi Indonesia mutakhir, terhadap penyair yang mapan seperti Subagio Sastrowardoyo, W.S. Rendra, dan Goenawan Mohamad karena dianggap menghambat perkembangan puisi Indonesia yang wajar dan terhadap majalah sastra yaitu Horison.
Majalah Horison menurut mereka dianggap tidak menampung aspirasi orang banyak (umum), melainkan telah berubah menjadi
“keluarga majalah” atau “majalah klik”.
Setelah menolak tuntutan Jaksa serta berembuk dengan mengindahkan Kitab Undang-undang Hukum Puisi, mem- pertimbangkan Hukum Adat, Majelis Hakim memutuskan sebagai berikut :
a. Para kritikus sastra tetap diizinkan untuk menulis dan mengembangkan kegiatan serta meneruskan eksistensinya, dengan catatan harus segera mengikuti kursus penaikan mutu dalam Sekolah Kritikus Sastra yang akan segera didirikan b. Para redaktur Horison tetap diizinkan tetap memegang jabatan
mereka, selama mereka tidak merasa malu. Bila dikehendaki sendiri mereka boleh mengundurkan diri.
c. Para penyair mapan masih diberi peluang untuk berkembang terus. Begitu juga para penyair epigon dan inkarnatif, boleh menulis terus dengan kaharusan segera masuk ke dalam Panti Asuhan atau Rumah Perawatan Epigon.
d. Majalah Sastra Horison tidak perlu dicabut SIC dan SIT- nya, hanya di belakang nama lama harus diembel-embel kata
“baru”, sehingga menjadi Horison baru. Masyarakat luas tetap mendapat izin membaca sastra dan membaca puisi.
Demikian Majelis Hakim.
Jaksa Slamet Kirnanto tidak merasa puas terhadap keputusan ini, dan menyatakan naik banding ke pengadilan yang lebih tinggi Hakim menjawab, “Boleh-boleh saja, nanti kapan-kapan di kota lain.
Adapun jawaban dari “Pengadilan Puisi” berlangsung tiga belas hari kemudian, 21 September 1974, teater FSUI berlangsung suatu majelis berjudul “Jawaban Atas Pengadilan Puisi” yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa FSUI.
Majelis ini menampilkan empat pembicara utama yaitu H.B.
Jassin, M.S. Hutagalung, Gunawan Muhammad, dan Sapardi Djoko Damono. Keempat orang ini menguraikan jawaban pembelaan atas tuduhan yang dialamatkan kepada mereka. Menurut Jassin
“Pengadilan” puisi kekanak-kanakan, sambil memberikan
mengajukan argumentasi untuk membela penyair-penyair mapan yang dibelanya seperti W.S. Rendra, Gunawan Muhammad, Sapardi Djoko Damono, Subagyo Sastrowardoyo, dan Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bachri.
M.S. Hutagalung balik menuding bahwa pandangan “jaksa”
Slamet Kirnanto tidak sehat, brengsek, dan bau apak yang cukup membahayakan generasi muda, terutama penyair-penyair muda yang dibelanya.
Dikemukakan memforsir suatu pengakuan dengan teriakan keras dan tidak demokratis adalah tidak sehat bagi perkembangan sastra dan kebudayaan umumnya. Sebuah pernyataan tak ada harganya tanpa didukung bukti-bukti dan argumentasi. Dan juga tidak benar, seolah-olah perkembangan sastra dilakukan beberapa kritikus.
Dalam jawabannya Gunawan Mohammad menilai, soal yang ditampilkan dalam pengadilan puisi di Bandung hanya pengulangan dari gerutu lama. Menghantam Jassin, mengecap Horison, menabok epigonisme terhadap Barat atau lainnya...semua sudah merupaka klise.
Acara itu juga menunjukkan ciri-ciri beberapa seniman kita saat ini yang gemar mencari bentuk baru, dengan ucapan dan tingkah laku kontrovesial, untuk menarik khalayak supaya berkerumun justru karena makin sedikit yang bisa ditawarkan sebagai isi. Kesalahan selama ini, dan merupakan kesalahan mendasar dari tesis “Pengadilan Puisi” di Bandung itu, ialah melihat kehidupan puisi dengan penyair sebagai tokoh dan bukan puisi itu sebagai tokoh.
Sapardi Djoko Damono mengemukakan jawabannya, kalimat- kalimat jaksa penuntut umum Slamet Kirnanto pasti ditulis karena emosi belaka. Keseluruhan naskah tuntutan itu memberi kesan bahwa penulisnya orang yang melihat adanya hal-hal baru dalam sastra Indonesia.
Untuk maksud itu rupanya menganggap perlu untuk mencaci maki dua buah majalah. Rupanya ia tidak pernah membaca majalah itu dengan cermat, sehingga tidak mengerti bahwa pemuatan sajak
Ibrahim Sattah, Rahman Arge dan Linus Suryadi AG, adalah bukti bahwa selera para redaksinya tidak sesempit pandangan Slamet Kirnanto.