Flashback ke sebelum acara blind date. Shua patah hati. Shena tiba- tiba datang membawa usulan untuk kencan buta. Yang awalnya ditolak mereka bertiga. Shua hanya mau ikut kalau yang lain ikut. Tapi Sheya merasa enggan dan Juni cuek.
Blind date terlupakan sejenak. Lalu Juni baru pulang dari klinik, lalu mampir untuk membeli boba. Saat dia menunggu kembalian, sambil mendengarkan lagu Ebit G. Ade, matanya tertuju ke TV dan menonton berita gosip yaitu pengumuman rencana pernikahan aktor idolanya, Dimas Lukman dengan lawan main, Gabby Anastasya.
Juni langsung menumpahkan bobanya secara dramatis.
Prolog
Kanigara Juni melangkahkan kaki dengan terburu-buru di atas susunan terakota yang membawanya ke sebuah bangunan bergaya minimalis dengan dominan warna kuning. Ada standee berbentuk es krim di depannya. Sundays. Pukul lima sore. If she’s lucky, they’ll be there till sunset. How romantic for a first date!
First date. Setelah dua puluh enam tahun. Rasanya terdengar ...
seperti sesuatu yang Juni pikir tidak akan pernah dia lakukan. Gagasan itu seketika membuat tangannya berkeringat dan jantungnya berdebar- debar. Membuatnya harus mengelap tangan pada roknya sebentar sebelum memeriksa ponsel, tepatnya pada perpesanan terakhir yang mereka lakukan.
[Mas-Mas Blind Date]
Yesterday
Kalau gitu sampai ketemu di Sundays jam 5 sore.
Oke. Saya nanti pakai baju kuning. Pasti gampang ketemunya.
Haha sip.
Saya bakal pake baju putih, jins biru sama topi item.
Today
Pak!
Eh, Mas. Maaf saya kayaknya terlambat sebentar, ya. Soalnya lagi hujan.
Juni terburu-buru turun dari gojek, tepat di depan kedai es krim yang dimaksud.
“Tunggu, Mas!” katanya pada mas-mas berjaket hijau yang barusaja akan melajukan motornya kembali.
Di sisinya, Juni mencondongkan badan ke kaca spion, lalu mengamati penampilannya sekali lagi. Rambutnya yang tadi dipasangi helm sudah mulai berantakan sehingga harus dirapikan kembali.
Untungnya, lipstiknya tidak perlu dipoles ulang dan maskaranya tidak luber kemana-mana.
Juni menegakkan badan dan memperbaiki pakaiannya. Rok selutut.
Baju wool lengan panjang berwarna kuning cerah dengan topi baret berwarna senada. Ia sudah cukup presentable untuk ukuran kopi darat kasual di kedai es krim, bukan?
Ia melirik jam di ponselnya. Terlambat lima belas menit. Too much to make good impression. Pada poin itu, dia telah gagal. Tidak boleh lebih dari ini. Maka, melirik dua kali pada notifikasi ponsel, ia menyimpan ponsel ke dalam tas tangan sebelum terburu-buru setengah berlari ke pintu.
Pintu kaca itu ia dorong, tidak menimbulkan bunyi atau perhatian apa-apa. Sehingga Juni punya waktu untuk terpaku di depan sana tanpa menarik perhatian. Matanya dengan cepat berkeliling, mencari sosok dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan Mas-Mas Blind Date semalam.baju putih, celana biru, topi hitam─
Di sana. Juni akhirnya menemukannya. Duduk sendiri di pojok seolah sedang menunggu seseorang. Tidak salah lagi.
Seiring langkahnya yang berjalan mendekat, Juni menyadari beberapa hal. Mas-mas blind date itu ternyata memiliki postur tubuh yang bagus. Tegap, tidak kurus, tidak gemuk. Dia juga sepertinya tinggi, lebih tinggi dari yang Juni bayangkan, menilik dari kakinya yang tampak panjang.
Ketika Juni tiba di hadapannya, pria itu menurunkan ponsel. Juni pun, tanpa berpikir dua kali, segera menyapa.
“Mas-mas blind date?!” serunya antusias. Sepersekian detik kemudian, dia sadar bahwa itu bukan nama yang benar. “Maksudnya, Mas Budi. Hai.”
Tanpa menunggu dipersilakan, ia menarik kursi dan mendudukkan pantatnya di sana. Tas ia letakkan di atas meja sembari membenahi roknya yang tersangkut di kursi.
“Maaf banget ya, telat. Biasa, macet! Gojeknya juga lelet. Lama ya, nunggu?”
Dan sebelum pria itu menjawab, atau bahkan sebelum dia menurunkan topi dan masker yang menutupi 90% wajahnya, pelayan datang, membawakan dua buah es krim cone.
“Eh, ya, ampun! Udah pesen aja? Kok tahu saya suka cokelat oreo?”
“Anu─” Pria itu terhenti. Juni telah menjilat es krimnya dengan khidmat. Matanya terpejam, dan seketika kakinya bergerak-gerak senang.
“Enak banget. Seger. Pas banget abis macet-macetan makan es─”
“Kamu salah orang.”
“─krim.”
Juni mengerjap. Ia menatap pria di depannya dan es krim di tangannya secara bergantian.
Baju putih, celana jins hitam, topi hitam. Cocok. Juni pun mengeluarkan ponsel untuk mengecek ulang. Saat itulah, dia menyadari, ada pesan baru yang masuk.
Mas-Mas Blind Date
Maaf banget, ya. Saya kayaknya nggak jadi ketemuan sama kamu.
Mantan pacar saya ngajak balikan.
Dan nggak bohong saya masih sayang sama dia.
Maaf ya.
Nezara Viridula! Juni membekap mulutnya, terkejut. Kepanikan yang berujung pada kesialan lain. Karena detik itu juga, es krim ditangannya terlempar jatuh. Ke kemaja pria di depannya.
Chapter 1
“Ayo ikut blind date.”
Juni diajak blind date oleh Sheya dan Shua dan menggeleng.
“Gue udah menikah sama J dan punya 6 orang anak yang lucu- lucu!”
“Lo nggak ngelahirin kucing-kucing itu!”
“J bahkan nggak tahu lo hidup!”
Juni masih keras kepala menolak hingga akhirnya dia berhenti di apotik (?) dan melihat siaran TV. Lantas bertanya pada kasir.
“Obat apa tadi mbak?”
“Obat patah hati, ada?”
Pulang-pulang, Juni tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis di depan kucingnya. Nggak jadi pernikahan pakai adat Bali! Dia pun meletakkan bunga kamboja di telinga dan menangis lagi sampai-sampai Jojo menenangkan lewat telepon.
Juni patah hati karena idolanya, Joshua Arista mengumumkan pernikahan. Ia pun ke salon bersama Jo, memotong rambut demi awal yang baru dan memutuskan untuk setuju dengan blind date itu.
Sebelum blind date Juni udah ke salon dan dandan rapi. Tapi hujan, dia neduh, terus dia dihantam genangan air. Juni kesal dan mengejarnya.setelah menghentikan orang berkacamata dan bermasker itu.
“Sorry, saya buru-buru.”
“Saya juga buru-buru!”
“Itu cuma air. Nanti kering.” Ia mengeluarkan dompet, tetapi Juni segera memotongnya.
“CUMA AIR?”
Dia lalu meminjam gayung penjaga toko di sebelah, meraup genangan air dan menumpahkannya ke mobil cowok itu.
“THE HELL YOURE DOING?!”
“Cuma air. Nanti juga keriing!”
Juni buru-buru pulang dan ke kafe dimana dua sahabatnya sudah menunggu.
“Sadar nggak sih kita kayak trio bob?”
“Justru bagus!”
“Siap?”
“Enggak.”
Mereka berpelukan.
“Guys kalau ada apa-apa, kode SOS kita apa?”
“Mentega Terbang!”
Mereka mengagguk lalu bersiap.
Ingat cowok yang diaturkan blind date buat lo. Anaknya lumayan, tinggi, kerja sebagai manager di sebuah perusahaan start up seblak instan. Pake kaus biru, jaket kulit hitam, jins biru dan topi hitam.
Juni pun melihatnya dan menyemangati diri. Ayo lakukan yang terbaik dan gaet pria bergaji dua digit ini! biar dia bisa ke kondangan dan menyantap makanan-makanan enak.
Dia pun duduk di depan cowok itu dan memperkenalkan diri dengan cepat karena gugup.
“Hai, gue Juni. Kanigara Juni. Lahir bulan februari. Zodiak . Kerja di klinik hewan Cinta Ibu. Terus punya sahabat dari kecil namanya
Sheya, Shena sama Shua. Punya rekan kerja namanya Mbak Sisil sama─”
“Siapa?”
Juni tersendat. “Hah? Oh, Mbak Sisil? Dia rekan kerja─”
“Lo siapa?” cowok itu bertnaya tepat saat pesan masuk di ponsel Juni.
Maaf nggak bisa dateng. Mantan saya ngajak balikan. Maaf, ya.
Juni mendongak dan cowok itu membuka topi serta maskernya.
Juni langsung terperangah. Tanpa sengaja membuat es krim cokelat di tanganya melayang ke baju dan celana Sev. Dia ingin menghapusnya tapi malam membuat nodanya membesar. Membuat Sev kesal.
Dia ngasih kartu nama untuk ganti rugi.
***
Juni datang ke alamat Sev karena diminta. Terus liat adegan bromance aneh dan menyangka rumor bahwa Sev itu gay benar.
Karena tertangkap wartawan sama Sev, dia masuk berita disebut sebagai pacar baru. Tiba2 image Sev jadi bagus kembali dan Bangke menghubungi dia ingin menawarkan kerjasama.
Awalnya, dia menolak. Tapi karena tidak sengaja mematahkan figur mainan Sev yang sangat mahal, dia terpaksa setuju.
Mereka pura-pura pacaran agar tertangkap basah demi melawan rumor Sev gay dan Sev sad boy karena mantannya mau nikah. Tapi tidak tertangkap-tangkap juga.
Di saat kontrak berakhir mereka justru tertangkap basah dan jadi headline. Juju langsung terkenal dan dicari wartawan.
Mereka diskusi. Oh gapapa nanti bilang putus aja buat mematahkan rumor doang. Eh ternyata direstuin dan nggak boleh putus.
Sampai orangtuanya tahu jadi mereka bingung harus gimana. Kedua orangtua saling kenal dan mulai membicarakan pernikahan.
Akhirnya mereka nikah.
“Ayo menikah.”
“Hah? Kamu jangan becanda, ya! Kita lagi dalam situasi serius.”
“Saya serius.”
“Kamu... jatuh cinta sama saya?”
Sev menjentik kepalanya. “Kalau dilihat dari gengsi, karir dan keluarga, nggak ada ruginya. Kalau kita batal nikah, hubungan kita bakal dibilang gimmick, dan rumor buruk bakal terus menyebar. Terus keluarga juga pasti sedih. Nenek saya, terutama, saya nggak ingin mengambil risiko dengan penyakit darah tingginya. Jalan satu-satunya adalah kita menikah.”
“Pernikahan itu bukan buat main-main! Kalau kamu nggak butuh saya lagi terus cerain saya, saya jadi janda!”
“Dan janda lebih gampang nyari pasangan hidup sekarang.”
Juni mendelik. “Ya iya sih.”
“Dan saya akan tetap membiayai hidup kamu bahkan setelah kita berpisah.”
Juni semakin goyah.
“Kamu juga bisa tinggal di penthhouse saya.”
Juni terkesiap. Tawaran itu terlalu menggoda!
Dia berpikir-pikir. Dia bisa memamerkan Sev pada temannya yang gila itu dan membuat dia menangis tujuh turunan. Tapi apa dia bisa menikah hanya demi gengsi?
Akhirnya dia menemui Sev ingin membatalkan semua ini karena hidupnya menjadi taruhan. Eh tidak sengaja tidur bersama (tidur doang sih). Dan mau tidak mau, dia meminta pertanggung jawaban cowok itu.
Mereka menikah.
Sev merebahkannya ke tempat tidur dan melucuti pakaian. “Saya ini cowok. What do you expect?”
Tapi dia masih nanya. “Can I?”
Consent at its finest.
Juni malu-malu but yea.
Mereka beneran kayak lagi bulan madu sampai-sampai Juni harus sering mengingatkan diri sendiri bahwa pernikahan mereka saja tidak nyata. Entah cepat atau lambat, dia akan segera menjadi janda.
Di saat mereka mulai saling suka mantan malah balik karena gagal nikah. Sev goyah sesaat. Dan dia malah menyebarkan bukti kalau pernikahan Sev itu settingan belaka. Publik pun marah dan pengen mereka putus.
Juni sampai sakit karena semua tudingan itu. (padahal hamil)
Mereka telah berbohong sebanyak ini kepada jutaan orang dan sekarang tidak ada jalan kembali.
Sev menggelar konferensi pers dan menyatakan bahwa dia berniat berhenti dari dunia hiburan.
“Saya dulu menjadi aktor karena ingin mandiri, juga membantu menyekolahkan adik saya. Juga, karena saya kesepian. Sekarang, ingar bingar dunia hiburan membuat saya lupa tujuan semula. Saya sudah mendapatkan semuanya. Sekarang, saya menemukan seseorang.
Seseorang yang membuat saya berhenti kesepian. Seseorang yang membuat saya tersenyum di luar skrip film. Seseorang yang saya inginkan untuk tetap berada di samping saya meski saya telah tua dan
tidak lagi menarik.saya ingin hidup dengannya, sebagai orang biasa, sebagai seorang suami... dan suatu saat nanti, seorang ayah.”
Lalu ia turun dari panggung dan menemukan Juni.
Ia melamarnya secara resmi.
Juni mual saat dilamar. Ternyata hamil.
Pasangan KeJo ini sahabatan dari kecil tapi friendzone. Kalau ketemu selalu berantem. Panggilan sayangnya Nyet sama Bab.
Pas Jojo akhirnya jalan sama cowok (dia tomboy dan biasanya nolak cowok), Kevin akhirnya marah besar. Mereka bertengkar terus tiba-tiba Kevin kiss Jojo.
“Karena gue sayang sama lo... Lebih dari sekedar teman.”
Endingnya jadian tapi masih tonjok-tonjokan.