• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU Dasar-Dasar Hukum Pidana Suatu Pengantar (Prof. Dr. Alvi Syahrin, S.H., M.S. etc.)

N/A
N/A
risqi aprilia

Academic year: 2024

Membagikan "BUKU Dasar-Dasar Hukum Pidana Suatu Pengantar (Prof. Dr. Alvi Syahrin, S.H., M.S. etc.)"

Copied!
387
0
0

Teks penuh

Tindak pidana yang dianggap “sangat ringan” adalah yang diancam dengan pidana denda yang kecil saja (golongan I atau II). Pertanggungjawaban pidana yang dirumuskan dalam KUHP Tahun 2023 merupakan substansi penting yang beriringan dengan persoalan Peraturan Hukum Pidana.

ILMU HUKUMILMU HUKUM

PIDANA

Hukum pidana positif pada hakikatnya mengamalkan politik hukum pidana, yaitu terciptanya ius constituendum (tentang perbedaan ilmu hukum positif dan politik hukum). Ilmu hukum pidana dalam arti sempit yaitu ilmu yang membahas tentang hukum pidana.

HUKUM PIDANAHUKUM PIDANA

KUHP yang berlaku di Indonesia berasal dari Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie (Lembaran Negara 1915: 732). 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia dan Perubahan Kitab Hukum Pidana (Lembaran Negara Tahun 1958 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1660);

RUANG LINGKUP BERLAKUNYA KETENTUAN PERATURAN

PERUNDANG-UNDANGAN PIDANA

Berlakunya KUHP Menurut Waktu

Pembentukan peraturan perundang-undangan yang lebih rendah juga tidak boleh mencampuri doktrin umum hukum pidana. Oleh karena itu, jika kita jelaskan lebih rinci pengertian alinea pertama Pasal 1 KUHP Tahun 1946 memuat dua hal, yaitu: [a] Tindak pidana itu harus dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan. Kedua: Larangan menggunakan analogi untuk menjadikan suatu perbuatan pidana sebagaimana ditentukan oleh undang-undang.

Ketentuan-ketentuan yang diatur dalam ayat pertama Pasal 1 tidak mengurangi berlakunya hukum-hukum yang ada dalam masyarakat dan menentukan bahwa seseorang patut mendapat hukuman, sekalipun perbuatan itu tidak diatur dalam undang-undang ini.

Berlakunya KUHP Menurut Tempat

Ketentuan pidana dalam undang-undang berlaku bagi setiap orang di luar wilayah negara kesatuan Republik Indonesia yang melakukan tindak pidana melawan kepentingan negara kesatuan Republik Indonesia sehubungan dengan:. Pelaku tindak pidana yang diatur dalam ketentuan ini adalah setiap orang, baik warga negara Indonesia maupun orang asing, yang melakukan tindak pidana di luar wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. Ketentuan pidana dalam undang-undang berlaku bagi setiap warga negara Indonesia yang melakukan tindak pidana di luar wilayah negara kesatuan Republik Indonesia.

Tindak pidana adalah perbuatan yang diancam dengan sanksi pidana dan/atau tindakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

TINDAK PIDANA

Waktu dan Tempat Terjadinya Tindak Pidana

Kemudian tergantung pada waktu terjadinya tindak pidana, tidak dibedakan antara tindak pidana formil dan tindak pidana materiil. Tempat di mana alat atau bahan digunakan untuk menyelesaikan kejahatan, atau [c] Tempat terjadinya akibat kejahatan.

Permufakatan Jahat Melakukan Tindak Pidana

Persekongkolan untuk melakukan tindak pidana hanya dipidana dalam hal tindak pidana yang sangat berat. Pidana yang dijatuhkan kepada pelaku permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana paling banyak 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana maksimum untuk tindak pidana yang bersangkutan. Selain itu, permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, dengan pidana penjara paling lama tujuh (tujuh) tahun.

Pidana tambahan bagi permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana sama dengan pidana tambahan terhadap tindak pidana yang bersangkutan.

Persiapan Melakukan Tindak Pidana

Selanjutnya, penjatuhan pidana tambahan bagi pelanggar yang bersiap melakukan tindak pidana sama dengan pidana tambahan terhadap tindak pidana yang bersangkutan. Pidana persiapan pidana paling banyak 1/2 (setengah) dari bahaya maksimum tindak pidana. Persiapan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun.

Hukuman tambahan untuk persiapan melakukan kejahatan sama dengan hukuman tambahan untuk kejahatan yang dimaksud.

Percobaan Melakukan Tindak Pidana

Pidana yang dijatuhkan kepada pelanggar yang berupaya melakukan tindak pidana paling banyak 2/3 (dua pertiga) dari ancaman pidana maksimal atas tindak pidana yang bersangkutan. Sedangkan bagi pelaku yang mencoba melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau seumur hidup, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun. Selanjutnya pidana tambahan bagi percobaan melakukan tindak pidana sama dengan pidana tambahan atas tindak pidana yang bersangkutan.

Berdasarkan Pasal 18 KUHP-2023,10, pelaku percobaan melakukan tindak pidana yang: [a] tidak melakukan perbuatan itu dengan sukarela atas kemauannya sendiri atau [b].

Penyertaan

Sedangkan membantu melakukan suatu kejahatan hampir sama dengan ikut serta dalam suatu kejahatan. Sanksi pidana membantu melakukan tindak pidana paling banyak 2/3 (dua pertiga) dari ancaman pidana pokok maksimum untuk tindak pidana yang bersangkutan. Huruf b Dalam ketentuan ini, pemberian bantuan pada saat terjadinya tindak pidana hampir sama dengan ikut serta dalam dilakukannya tindak pidana.

Untuk membantu melakukan suatu tindak pidana, pidananya paling banyak 2/3 (dua pertiga) dari bahaya maksimum kejahatan tersebut.

Pengulangan

Sedangkan membantu melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau seumur hidup diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun. 5) Hukuman tambahan untuk membantu melakukan suatu kejahatan sama dengan hukuman tambahan untuk kejahatan yang dimaksud. Keadaan pribadi pembantu yang melakukan tindak pidana atau keadaan pelaku atau pembantu, berumur tua atau muda, mempunyai jabatan tertentu, menjalankan profesi tertentu atau mempunyai gangguan jiwa, berdasarkan Pasal 22 KUHP-2023, 14 dapat menjadi alasan untuk menghilangkan, mengurangi atau memperburuk kejahatan tersebut. Pelanggaran berulang ini termasuk pelanggaran yang diancam dengan pidana khusus berupa pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun atau lebih, atau pidana denda paling sedikit kategori III atau paling banyak lima puluh juta rupee.

Tindak Pidana Aduan

Selanjutnya, dalam hal korban tindak pidana tersebut tidak mempunyai orang tua, wali, atau saudara sedarah dalam garis lurus atau sampingan sampai dengan derajat ketiga, maka pengaduannya dilakukan oleh dirinya sendiri dan/atau atasannya. Korban pengaduan tindak pidana perwalian berdasarkan Pasal 26 KUHP-202318 yang berhak mengajukan pengaduan adalah walinya, kecuali korban pengaduan tindak pidana perwalian karena boros. 6 (enam) bulan terhitung sejak tanggal orang yang berhak mengajukan pengaduan mengetahui adanya tindak pidana, apabila orang yang berhak mengajukan pengaduan itu berada dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Indonesia; atau.

9 (sembilan) bulan sejak tanggal orang yang berhak mengadu mengetahui adanya tindak pidana, apabila orang yang berhak mengadu berada di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Alasan Pembenar

  • Tindak Pidana dalam Buku II KUHP-2023

Pertanggungjawaban Pidana dan Alasan Pemaaf

PERTANGGUNG

JAWABAN PIDANA

Pertanggungjawaban Korporasi

  • Teori Pertanggungjawaban Penggant (Vicarious Responsibility Theory)
  • Teori Pertanggungjawaban Absolut

Tindak pidana yang dilakukan oleh perusahaan, berdasarkan Pasal 46 KUHP-2023.16, adalah tindak pidana yang dilakukan oleh pengurus yang mempunyai jabatan fungsional dalam susunan organisasi perusahaan atau orang yang berdasarkan padanya. Tindak pidana yang dilakukan oleh perusahaan adalah tindak pidana yang dilakukan oleh pengurus yang mempunyai kedudukan fungsional dalam struktur organisasi perusahaan atau orang-orang berdasarkan pekerjaan atau keadaan lain yang bertindak untuk dan atas nama perusahaan atau bertindak untuk kepentingan perusahaan dalam lingkup kepentingan perusahaan. usaha atau kegiatan, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Tanggung jawab atas tindak pidana yang dilakukan oleh perseroan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 dibebankan kepada perseroan, pengurus dalam jabatan fungsional, pemberi perintah, pemegang kendali dan/atau pemilik manfaat perseroan.

Tindak pidana atau kejahatan yang dilakukan oleh pekerja atau pekerja berkaitan atau masih dalam lingkup pekerjaannya.

Strict Responsibility Theory) atau Strict Liability

Doktrin Identifikasi (The Identification Doctrine)

Korporasi atau badan usaha, untuk mencapai tujuannya, dikendalikan atau bertindak melalui pejabat atau agen senior. Perbuatan dan sikap batin seseorang diberi wewenang untuk bertindak atas nama perusahaan atau badan usaha. Pendapat Peter Gilles pada intinya menyatakan bahwa tindakan dan sikap batin para pejabat senior dianggap sebagai tindakan dan sikap batin perusahaan atau badan usaha.

Sikap dan keinginan internal pegawai tersebut tidak dianggap sebagai keinginan dan sikap internal korporasi atau badan usaha.

Doctrine of Aggregation

Doktrin agregasi ini merupakan pengembangan dari doktrin vicarious liabilitas: “Model baru ini mencerminkan proses perubahan dan perluasan yang menarik yang telah mempengaruhi doktrin vicarious liabilitas”.66 Hal ini berbeda dengan doktrin identifikasi, dimana penjatuhan pidana pertanggungjawaban korporasi didasarkan pada kesalahan individu. yaitu agen manajerial tinggi, otak dan pusat syaraf dari pejabat senior, disebut dengan directing mind atau alter ego, maka doktrin agregasi untuk mewujudkan pertanggungjawaban pidana korporasi dikondisikan oleh gabungan kesalahan beberapa orang. , baik pegawai biasa maupun yang bertindak sebagai pengurus perusahaan. Menurut Clarkson dan Keating, doktrin atribusi kesalahan pada suatu korporasi hanya didasarkan pada kesalahan satu orang, sedangkan dalam doktrin agregasi, untuk mengatribusikan kesalahan pada korporasi, terlebih dahulu harus ditentukan apakah kesalahan tersebut merupakan suatu kesalahan. kombinasi kesalahan beberapa orang. Komisi Inggris menolak penggunaan doktrin agregasi sebagai metode perluasan tanggung jawab pidana korporasi dalam menetapkan hukum pidana yang berkaitan dengan pembunuhan.

Kelemahan doktrin agregasi adalah tidak dapat digunakan ketika suatu tindak pidana memerlukan pembuktian kesalahan subjektif dan mengabaikan kenyataan bahwa hakikat perbuatan salah yang sebenarnya belum tentu bisa berupa penyatuan perbuatan salah atau penyatuan apa yang ada pada setiap orang. . siapa pun, namun kenyataannya suatu perusahaan atau korporasi tidak mempunyai struktur organisasi atau tidak mempunyai kebijakan untuk mencegah seseorang atau sekelompok orang melakukan tindak pidana. 73 Namun doktrin ini mempunyai keunggulan atau teori ini, yaitu mencegah upaya korporasi atau badan untuk menyembunyikan tanggung jawabnya dalam struktur korporasi atau badan usaha yang bersangkutan.

The Corporate Culture Model atau Company Culture Theory

Sutan Remy Sjahdeni menyatakan, suatu korporasi dapat dipertanggungjawabkan pidana apabila diketahui seseorang yang melakukan perbuatan melawan hukum mempunyai alasan yang kuat untuk meyakini bahwa anggota korporasi yang berkuasa telah memberi wewenang atau mengizinkan dilakukannya suatu tindak pidana. tindakan.77 Secara keseluruhan, masyarakat adalah pihak yang harus bertanggung jawab atas dilakukannya suatu perbuatan melawan hukum, dan yang bertanggung jawab bukan hanya orang yang melakukan perbuatan tersebut, namun juga perusahaan tempat orang tersebut bekerja.78 Dalam kasus lain Dengan kata lain, menurut budaya perusahaan, tidak perlu mencari orang yang bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut, undang-undang menyatakan bahwa perbuatan orang tersebut bertanggung jawab kepada masyarakat. Di sisi lain, pendekatan ini menetapkan bahwa masyarakat secara keseluruhanlah yang harus bertanggung jawab atas terjadinya suatu perbuatan melawan hukum, dan bukan hanya orang yang melakukan perbuatan tersebut.79. Para direksi perseroan dengan sengaja, sengaja, atau lalai melakukan tindak pidana yang bersangkutan, atau dengan tegas, tersirat, atau diam-diam membiarkan atau membiarkan dilakukannya tindak pidana tersebut.

Para petinggi perusahaan dengan sengaja, sengaja, atau ceroboh terlibat dalam tindak pidana yang dimaksud, atau secara tegas, tersirat, atau tersirat telah menyetujui atau mengizinkan dilakukannya tindak pidana tersebut.

Reaktive Corporate Fault

Perusahaan mempunyai budaya kerja yang mengarah, mendorong, memberikan toleransi atau mengakibatkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan terkait. Perusahaan tidak menciptakan (memiliki) dan memelihara budaya kerja yang mensyaratkan kepatuhan terhadap peraturan hukum.

Doktrin Peniadaan Pembebanan Pertanggungjawaban Korporasi (badan usaha)

Penetapan suatu badan usaha sebagai pelaku tindak pidana dapat didasarkan pada kriteria dalam melaksanakan tugasnya dan/atau mencapai tujuan badan usaha tersebut. Orang korporasi wajib menjadi pelaku apabila perbuatan yang dimaksud itu terbukti dilakukan dalam rangka pelaksanaan tugas dan/atau tercapainya tujuan badan hukum tersebut, termasuk dalam hal orang pribadi (pegawai badan hukum). perusahaan) yang sebenarnya melakukan hal tersebut atas inisiatifnya sendiri dan bertentangan dengan instruksi yang diberikan. Hakikatnya, badan hukum mempunyai kekuasaan untuk mengatur/mengendalikan dan/atau memerintah pihak-pihak yang memang melakukan perbuatan terlarang.

Apabila suatu perusahaan atau badan usaha dinyatakan bertanggung jawab secara pidana atas suatu tindak pidana yang dilakukan, maka pada umumnya terdapat tiga sistem pertanggungjawaban pidana perusahaan (badan usaha), yaitu: 86.

Teori Gabungan dari Sutan Remy Sjahdeini

Tindak pidana ini bersifat intra vires (dalam kekuasaan), yaitu dilakukan dalam rangka maksud dan tujuan korporasi yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar Korporasi, dan. Tindak pidana yang dilakukan oleh pengurus suatu perusahaan harus dilakukan dalam rangka tugas dan wewenang jabatan pengurus tersebut sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar atau surat pengangkatan korporasi, dan. Apabila actus reus tindak pidana tersebut tidak dilakukan oleh pengurus korporasi itu sendiri, melainkan dilakukan oleh orang atau beberapa orang lain, maka perbuatan itu harus dilakukan oleh orang atau orang lain itu atas dasar perintah, atau wewenang. dari staf pengendalian perusahaan, atau disetujui oleh staf pengendalian perusahaan.

Termasuk menyepakati jika petugas pengendali tidak mencegah atau melarang dilakukannya tindak pidana atau tidak menindak pelaku tindak pidana tersebut, dan.

PEMIDANAAN, PIDANA DAN TINDAKAN

Pemidanaan

Berat ringannya perbuatan, keadaan pribadi pelaku atau keadaan pada saat kejahatan itu dilakukan dan apa yang terjadi sesudahnya dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk tidak melakukan kejahatan atau menahan diri untuk berbuat, dengan memperhatikan aspek hukum. dan kemanusiaan. Hal ini dikenal dengan asas rechterlijke grasi atau judicial grasi, yang memberikan kewenangan kepada hakim untuk mengampuni seseorang yang bersalah melakukan tindak pidana ringan. Permintaan maaf tersebut tertuang dalam putusan hakim, dan tetap harus dinyatakan bahwa terdakwa terbukti melakukan tindak pidana yang didakwakan.

Setiap orang yang melakukan tindak pidana tidak dibebaskan dari tanggung jawab pidana berdasarkan alasan pengecualian pelanggaran tersebut, apabila orang tersebut dengan sengaja menimbulkan suatu keadaan yang dapat menjadi alasan pengecualian pelanggaran tersebut.

Referensi

Dokumen terkait