S
istem Hukum Pidana yang mengandung nilai-nilai Pancasila, tentunya hukum pidana tersebut yang berorientasi pada nilai- nilai “Ketuhanan YME”, yang ber-“Kemanusiaan yang adil dan beradab”, yang mengandung nilai-nilai “persatuan” (tidak membedakan suku/golongan/agama, mendahulukan kepentingan bersama), yang dijiwai nilai-nilai “kerakyatan yang dipimpin hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan” (mengutamakan kepentingan/kesejah-teraan rakyat, penyelesaian konflik secara bijaksana/musyawarah/ kekeluargaan), dan yang ber-“keadilan sosial”. Hal ini akan terkait juga mengenai pemidanaannya.1Tujuan Pemidanaan berdasarkan Pasal 51 KUHP-2023,2 yaitu:
1 Landasan pemikiran KUHP-1946 mengenai Pidana dan Pemidanaan, berpandangan retributif atau pembalasan atau lex talionis yang seharusnya sudah ditinggalkan. Pidana dan Pemidanaan perlu menggali nilai-nilai tradisional Indonesia sehingga hal berupa kearifan lokal (local wisdom) perlu mendapat tempat. Untuk itu, pandangan yang mengkedepankan penjara sebagai pidana yang paling tepat dan dominan dalam pemidanaannya perlu di ubah dengan membuat alternatif penjara. Perlu pendekatan yang mengketengahkan penyelesaian konflik tanpa penghukuman. Janis pidana dan tindakan tidak dapat disamakan bagi orang dewasa, anak dan korporasi. Tujuan pidana haruslah dalam rangka pencegahan, pemasyarakatan/rehabilitasi, penye-lesaian konflik, pemulihan keseimbangan dan penciptaan rasa aman dan damai serta penumbuhan penyesalan terpidana.
2 Pasal 51 KUHP-2023, berbunyi:
Pemidanaan bertujuan:
a. Mencegah dilakukannya Tindak Pidana dengan menegakkan norma hukum demi pelindungan dan pengayoman masyarakat.
b. Memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan dan pembimbingan agar menjadi orang yang baik dan berguna.
BAB VII
PEMIDANAAN, PIDANA
mencegah dilakukannya Tindak Pidana dengan menegakkan norma hukum demi pelindungan dan pengayoman masyarakat;
memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan dan pembimbingan agar menjadi orang yang baik dan berguna;
menyelesaikan konflik yang ditimbulkan akibat Tindak Pidana, memulihkan keseimbangan, serta mendatangkan rasa aman dan damai dalam masyarakat; dan menumbuhkan rasa penyesalan dan membebaskan rasa bersalah pada terpidana. Selanjutya, berdasarkan Pasal 52 KUHP-2023,3 pemidanaan tersebut bukan dimaksudkan untuk merendahkan martabat manusia.
Pemidanaan dijatuhkan dengan lebih adil, tercapainya keadilan sosial yang berlandaskan ke-Tuhan Yang Maha Esa dalam persfektif Pancasila. Pemidanaan dalam rangka kebahagiaan umat manusia, sehingga menentukan pemidanaan bagi seseorang tentunya harus mendapatkan pembenarannya dari moral, budaya dan rasio masyarakat.4 Pemidanaan melibatkan hakekat kemanusiaan, sehingga semua pihak yang terlibat dalam pemidanaan, selalu mengkaji dengan cara seksama,, dan berpangkal tolak pada pusaran keadilan. Keadilan yang berpasangan dengan kepastian dan kemanfaatan memberikan kontribusi dalam capaian kebahagiaan umat manusia.
Ketentuan Pasal 53 KUHP-2023,5 mengatur bahwa dalam mengadili suatu perkara pidana, hakim wajib menegakkan hukum
c. Menyelesaikan konflik yang ditimbulkan akibat Tindak Pidana, memulihkan keseimbangan, serta mendatangkan rasa aman dan damai dalam masyarakat, dan
d. Menumbuhkan rasa penyesalan dan membebaskan rasa bersalah pada terpidana.
3 Pasal 52 KUHP-2023, berbunyi:
Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk merendahkan martabat manusia.
4 Syaiful Bakhri, 2019, Filsafat Hukum Pidana Dalam Orbit Pemidanaan, PT. Rajawali Buana Pusaka, Depok, hlm. 175.
5 Pasal 53 KUHP-2023, berbunyi:
(1) Dalam mengadili suatu perkara pidana, hakim wajib menegakkan hukum dan keadilan.
(2) Jika dalam menegakkan hukum dan keadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan, hakim wajib mengutamakan keadilan.
Penjelasan Pasal 53 KUHP-2023, menjelaskan:
Ayat (1) Cukup jelas.
Ayat (2) Kepastian hukum dan keadilan merupakan 2 (dua) tujuan hukum yang kerap kali tidak sejalan satu sama lain dan sulit dihindarkan dalam praktik hukum. Suatu peraturan perundang-undangan yang lebih banyak memenuhi tuntutan kepastian hukum maka semakin besar pula kemungkinan aspek keadilan terdesak. Ketidaksempurnaan peraturan perundang-undangan ini dalam praktik dapat diatasi dengan jalan memberi penafsiran atas peraturan perundang-undangan tersebut dalam penerapannya pada kejadian konkret.
Jika dalam penerapan yang konkret, terjadi pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan, hakim sedapat mungkin mengutamakan keadilan di atas kepastian hukum.
dan keadilan. Dan jika dalam menegakkan hukum dan keadilan terdapat pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan, hakim wajib mengutamakan keadilan. Kepastian hukum dan keadilan merupakan 2 (dua) tujuan hukum yang kerap kali tidak sejalan satu sama lain dan sulit dihindarkan dalam praktik hukum. Suatu peraturan perundang-undangan yang lebih banyak memenuhi tuntutan kepastian hukum maka semakin besar pula kemungkinan aspek keadilan terdesak. Ketidaksempurnaan peraturan perundang- undangan ini dalam praktik dapat diatasi dengan jalan memberi penafsiran atas peraturan perundang-undangan tersebut dalam penerapannya pada kejadian konkret. Jika dalam penerapan yang konkret, terjadi pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan, hakim sedapat mungkin mengutamakan keadilan di atas kepastian hukum.
A. Pemidanaan
Hakim dalam menjatuhkan pemidanaan, berdasarkan Pasal 54 KUHP-2023,6 wajib mempertimbangkan:
1. Bentuk kesalahan pelaku Tindak Pidana.
2. Motif dan tujuan melakukan Tindak Pidana.
3. Sikap batin pelaku Tindak Pidana.
4. Tindak Pidana dilakukan dengan direncanakan atau tidak direncanakan.
5. Cara melakukan Tindak Pidana.
6 Pasal 54 KUHP-2023, berbunyi:
(1) Dalam pemidanaan wajib dipertimbangkan:
a. Bentuk kesalahan pelaku Tindak Pidana.
b. Motif dan tujuan melakukan Tindak Pidana.
c. Sikap batin pelaku Tindak Pidana.
d. Tindak Pidana dilakukan dengan direncanakan atau tidak direncanakan.
e. Cara melakukan Tindak Pidana.
f. Sikap dan tindakan pelaku sesudah melakukan Tindak Pidana.
g. Riwayat hidup, keadaan sosial, dan keadaan ekonomi pelaku Tindak Pidana.
h. Pengaruh pidana terhadap masa depan pelaku Tindak Pidana.
i. Pengaruh Tindak Pidana terhadap Korban atau keluarga Korban.
j. Pemaafan dari Korban dan/atau keluarga Korban, dan/atau k. Nilai hukum dan keadilan yang hidup dalam masyarakat.
(2) Ringannya perbuatan, keadaan pribadi pelaku, atau keadaan pada waktu dilakukan Tindak Pidana serta yang terjadi kemudian dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk tidak menjatuhkan pidana atau tidak mengenakan tindakan dengan mempertimbangkan segi keadilan dan kemanusiaan.
6. Sikap dan tindakan pelaku sesudah melakukan Tindak Pidana.
7. Riwayat hidup, keadaan sosial, dan keadaan ekonomi pelaku Tindak Pidana.
8. Pengaruh pidana terhadap masa depan pelaku Tindak Pidana.
9. Pengaruh Tindak Pidana terhadap Korban atau keluarga Korban.
10. Pemaafan dari Korban dan/atau keluarga Korban, dan/atau 11. Nilai hukum dan keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Pedoman pemidanaan tersebut sangat membantu hakim dalam mempertimbangkan takaran atau berat ringannya pidana yang akan dijatuhkan. Dengan mempertimbangkan hal-hal yang dirinci dalam pedoman tersebut diharapkan pidana yang dijatuhkan bersifat proporsional dan dapat dipahami baik oleh masyarakat maupun terpidana. Rincian dalam ketentuan ini tidak bersifat limitatif, hakim dapat menambahkan pertimbangan lain selain yang tercantum pada Pasal 54 ayat (1) KUHP-2023 ini. Ringannya perbuatan, keadaan pribadi pelaku, atau keadaan pada waktu dilakukan Tindak Pidana serta yang terjadi kemudian dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk tidak menjatuhkan pidana atau tidak mengenakan tindakan dengan mempertimbangkan segi keadilan dan kemanusiaan. Hal ini dikenal dengan asas rechterlijke pardon atau judicial pardon yang memberi kewenangan kepada hakim untuk memberi maaf pada seseorang yang bersalah melakukan Tindak Pidana yang sifatnya ringan. Pemberian maaf ini dicantumkan dalam putusan hakim dan tetap harus dinyatakan bahwa terdakwa terbukti melakukan Tindak Pidana yang didakwakan kepadanya.
Ketentuan Pasal 55 KUHP-2023,7 tidak membebaskan seseorang dari pertanggungjawaban pidana berdasarkan alasan peniadaan pidana jika orang tersebut telah dengan sengaja menyebabkan terjadinya keadaan yang dapat menjadi alasan peniadaan pidana tersebut. Yang dimaksud dengan “sengaja menyebabkan terjadinya
7 Pasal 55 KUHP-2023, berbunyi:
Setiap Orang yang melakukan Tindak Pidana tidak dibebaskan dari pertanggungjawaban pidana berdasarkan alasan peniadaan pidana jika orang tersebut telah dengan sengaja menyebabkan terjadinya keadaan yang dapat menjadi alasan peniadaan pidana tersebut.
Penjelasan Pasal 55 KUHP-2023, menjelaskan:
Yang dimaksud dengan “sengaja menyebabkan terjadinya keadaan yang dapat menjadi alasan peniadaan pidana” adalah bahwa pelaku dengan sengaja mengondisikan dirinya atau suatu keadaan tertentu dengan maksud agar dapat dibebaskan dari pertanggungjawaban pidana karena alasan pembenar atau alasan pemaaf.