• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU HUKUM KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Wahlulia Amri

Academic year: 2024

Membagikan "BUKU HUKUM KEWARGANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

PenDaHULUan

Pengantar

1Jimly Asshiddiqie, “Kewarganegaraan: Konstruksi Hukum Indonesia”, Makalah Komite Simposium Indonesia dan Kewarganegaraan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Oktober 2011, hal. Alasan atau alasan hilangnya kewarganegaraan harus menjadi faktor penting jika yang bersangkutan ingin memperoleh kembali status kewarganegaraan Indonesia.

Negara dan Kewarganegaraan

Oleh karena itu, negara dapat dikatakan sebagai kumpulan subjek hukum, sebagai kesatuan hukum antara subjek hukum dengan warga negara. Lebih jauh lagi, dalam lalu lintas hukum internasional, status kewarganegaraan dapat menjadi jembatan bagi setiap warga negara untuk menikmati manfaat hukum internasional.13.

Konsekuensi Status Kewarganegaraan

Setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap dan terhadap negara. Setiap warga negara mempunyai hak yang harus diakui, dihormati, dilindungi, difasilitasi dan dipenuhi oleh negara.

KOnSeP-KOnSeP PentIng

Hubungan Negara dengan Warga Negara

Kedua, persoalan kewarganegaraan, termasuk hak asasi manusia, merupakan salah satu pokok bahasan yang tidak akan kita tinggalkan dalam mempelajari hukum tata negara. Meskipun negara mempunyai hak mutlak untuk menentukan status kewarganegaraan seseorang, namun menurut Pasal 5 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (1948) diatur bahwa setiap orang berhak atas kewarganegaraan dan tidak seorangpun dapat dicabut kewarganegaraannya secara sewenang-wenang. atau ditolak haknya untuk mengubah kewarganegaraan.25 Dari keduanya Menurut Hest Handoyo26, konstruksi hukum internasional ini jika diterapkan akan menimbulkan konflik hak. Di satu sisi negara mempunyai kewenangan mutlak untuk menentukan status kewarganegaraan seseorang, namun di sisi lain setiap orang juga berhak atas status kewarganegaraan.

Sementara itu, setiap orang wajib dan wajib menegaskan status kewarganegaraannya melalui tata cara yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan adanya kepastian hukum mengenai status kewarganegaraan seseorang, maka akan dapat pula ditentukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang timbul sehubungan dengan status tersebut. Hak-hak warga negara begitu penting sehingga seringkali dianggap sebagai hak yang paling penting dibandingkan dengan hak-hak politik dan sosial.

Dalam bidang teori ketatanegaraan, jaminan perlindungan hak kewarganegaraan tertuang dalam konstitusi. 28 Suparman Marzuki, “Perlindungan Hak Warga Negara dalam Hukum”, dalam Sobirin Malian dan Suparman Marzuki (Eds.), 2003, Pendidikan Kewarganegaraan dan Hak Asasi Manusia, Yogyakarta: UII Press, hal.

Peristilahan yang Penting

Dalam hal ini kami ingin menegaskan bahwa yang dimaksud dengan orang asing di sini berkaitan erat dengan bidang keimigrasian, yaitu orang-orang yang bukan warga negara suatu negara dan bertempat tinggal di negara tersebut. Ketiga, orang asing yang tidak mempunyai kewarganegaraan suatu negara tertentu atau negara asalnya tidak diakui sebagai warga negara. Ulasan Arif38 terhadap orang asing juga dapat dilihat dari dua aspek lainnya, yaitu aspek keberadaannya di suatu negara dan aspek legalitas keberadaannya.

Dilihat dari segi keberadaannya di suatu negara, orang asing di negara itu terdiri atas: pertama, orang asing menetap, yaitu orang asing yang bertempat tinggal tetap di negara lain dengan hak-hak tertentu. Kedua, Orang Asing Nonresiden, yaitu orang asing yang berada di suatu negara dalam jangka waktu terbatas, seperti untuk tujuan wisata, kunjungan bisnis, sosial budaya, dan lain-lain yang keberadaannya bersifat sementara. Kedua, Orang Asing ilegal, yaitu orang asing yang keberadaannya tidak dilindungi oleh dokumen atau izin tinggal (izin imigrasi) yang sah dan masih berlaku.

Orang tersebut disebut orang asing yang masuk secara tidak sah, meskipun ia telah memperoleh izin keimigrasian yang sah dengan memberikan keterangan palsu; dan (iii) orang asing yang masuk atau kehadirannya melanggar hukum (illegal entry and unlawful stay). Arif39 mendorong kehadiran orang asing di suatu negara disebabkan oleh (i) meninggalkan negara asal karena alasan politik; (ii) mencari suaka di negara lain; (iii) mencari kehidupan yang lebih baik dibandingkan hidup di negaranya sendiri sebagai pengungsi; (iv) mengunjungi keluarga atau kenalan; (v) menjalankan bisnis di luar negaranya; (kami sedang bepergian; (vii) untuk menjalankan fungsi pemerintahan atau perusahaan; dan (viii) melakukan tugas-tugas yang tidak jelas dan tersembunyi.

Cara Menentukan Status Kewarganegaraan

Asas jus soli berarti seseorang yang lahir dalam wilayah hukum suatu negara, secara hukum dianggap mempunyai status kewarganegaraan dari negara tempat ia dilahirkan. Menurut Harsono44, asas jus soli banyak digunakan oleh negara-negara muda yang masih membutuhkan tenaga kerja yang berasal dari pendatang. Selain itu, asas jus soli cenderung digunakan oleh negara-negara imigrasi yang banyak orang asingnya yang pindah ke negara tersebut.

Jika ada masalah yang melibatkan orang asing, maka kedutaan negara tersebut berada di negara tersebut. Sebaliknya negara-negara yang merupakan negara emigrasi yang banyak warga negaranya pindah ke negara lain cenderung menggunakan asas ius sanguinus dalam menentukan kewarganegaraannya. Namun apabila kedua negara yang bersangkutan mempunyai sistem yang berbeda, maka dapat timbul keadaan yang menyebabkan seseorang mempunyai kewarganegaraan ganda (bipatride, dwi kewarganegaraan) atau sebaliknya menjadi tanpa kewarganegaraan sama sekali (apatride, stateless).

Di mana-mana tidak ada negara yang mau melindungi mereka jika terjadi hal-hal yang tidak mereka inginkan. Perjanjian tersebut antara lain menyatakan bahwa seseorang yang mempunyai lebih dari satu kewarganegaraan dapat dianggap sebagai warga negara dari setiap negara yang bersangkutan.

PerKeMBangan PengatUran

Menurut Undang Undang No. 3 Tahun 1946 Tentang

Anak yang lahir di wilayah Indonesia, yang ayah atau ibunya tidak diakui secara hukum; Selain itu, orang berkebangsaan lain yang memperoleh kewarganegaraan Indonesia melalui stelsel pasif adalah orang yang bukan merupakan keturunan seseorang dari sekelompok orang asli wilayah Negara Republik Indonesia, apabila mengakui Indonesia sebagai tanah airnya dan setia kepada Negara. negara Indonesia. Sedangkan orang berkebangsaan lain yang sah menjadi warga negara Indonesia adalah orang yang bukan termasuk golongan asal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi merupakan keturunan dari salah satu golongan tersebut yang lahir dan mempunyai tempat tinggal. bertempat tinggal tetap di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, orang-orang tersebut dikenal dengan sebutan Peranakan.

Apabila orang-orang tersebut memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam undang-undang nomor 3 tahun 1946 tanpa melakukan tindakan apa pun, tanpa mengajukan permohonan kepada Pemerintah untuk menjadi warga negara. Berdasarkan ketentuan undang-undang ini, sejak tanggal 17 Agustus 1948 diketahui dengan jelas bahwa penduduk Indonesia terdiri atas warga negara Indonesia dan warga negara asing. Sejak saat itu, setiap orang asing yang ingin menjadi warga negara Indonesia harus melalui proses kewarganegaraan (naturalisasi) berdasarkan Pasal 5 UU No. 3 tahun 1946.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa warga negara Indonesia yang sebenarnya adalah mereka yang memperoleh status tersebut sejak tanggal 17 Agustus 1945 sampai dengan tanggal 17 Agustus 1948 dan beserta keturunannya. Sedangkan warga negara Indonesia asal asing adalah mereka yang memperoleh status tersebut melalui proses kewarganegaraan (naturalisasi) yang dimulai pada tanggal 17 Agustus 1948.

Menurut Persetujuan Konferensi Meja

Warga negara Belanda yang bukan warga negara Belanda dewasa, yang pada saat penyerahan kedaulatan termasuk penduduk asli Indonesia, memperoleh kewarganegaraan Indonesia. Namun apabila mereka lahir di luar Indonesia dan tinggal di Belanda atau di luar wilayah peserta Uni Belanda-Indonesia, dalam jangka waktu dua tahun setelah penyerahan kedaulatan, mereka berhak menyatakan memilih kewarganegaraan Belanda; Namun, dalam waktu dua tahun setelah penyerahan kedaulatan, mereka berhak menyatakan memilih kewarganegaraan Belanda.

Orang asing warga negara Belanda yang bukan warga negara Belanda yang telah mencapai umur dewasa sebelum penyerahan kedaulatan dan lahir di Indonesia atau bertempat tinggal di Negara Kesatuan Republik Indonesia memperoleh kewarganegaraan Indonesia, namun mempunyai hak untuk menolaknya dalam jangka waktu tertentu. sejak dua tahun setelah penyerahan kedaulatan; Orang asing warga negara Belanda yang bukan warga negara Belanda, yang telah mencapai umur dewasa sebelum masa kedaulatan, yang tidak lahir di Indonesia, yang bertempat tinggal di kerajaan Belanda, tetap mempunyai kewarganegaraan Belanda, tetapi dalam jangka waktu tertentu. dari dua tahun. setelah penyerahan kedaulatan mereka berhak menolak kewarganegaraan Belanda dan memilih kewarganegaraan Indonesia; Orang Asing Warga Negara Belanda bukan warga negara Belanda yang berada di luar negeri, yang telah mencapai umur dewasa menjelang penyerahan kedaulatan, bertempat tinggal di wilayah peserta Persatuan Indonesia-Belanda, dan lahir di Belanda.

Namun apabila orang tuanya berkewarganegaraan Belanda karena lahir di Indonesia, maka ia berhak memilih kewarganegaraan Indonesia dengan menolak kewarganegaraan Belanda dalam jangka waktu dua tahun sejak penyerahan kedaulatan. Oleh karena itu, jangka waktu kemungkinan untuk melaksanakan hak opsi atau hak penolakan adalah dari tanggal 27 Desember 1949 sampai dengan tanggal 27 Desember 1951.

Menurut Undang-Undang No. 62 Tahun 1958

Selanjutnya, peraturan mengenai kewarganegaraan berhasil disahkan pada tahun yang sama, yang dikenal dengan UU No. Dengan demikian, mereka yang masih diakui kewarganegaraan Indonesianya berdasarkan Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 adalah mereka yang memperoleh status tersebut, khususnya berdasarkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1946 dan Perjanjian tentang Pembagian Warga Negara. Pada hakikatnya Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 mengatur tentang cara memperoleh kewarganegaraan, cara kehilangan kewarganegaraan, dan cara memperoleh kembali kewarganegaraan Indonesia.

Undang-undang Nomor 62 Tahun 1958 telah diubah dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1976 tentang perubahan Pasal 18 Undang-undang Nomor 62 Tahun 1958 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1976 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1976 dan penerapannya bersifat khusus karena hanya berlaku untuk 1 (satu) tahun yaitu berlaku bagi orang-orang dari Indonesia yang pada saat berlakunya Undang-undang Nomor 3 Tahun 1976 bertempat tinggal di Belanda, Suriname dan Antillen Belanda, yang kehilangan kewarganegaraan Indonesianya semata-mata karena perselisihan Asia Barat. Lebih lanjut, Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1980 mengatur bahwa demi kepastian hukum, bagi warga negara keturunan asing yang belum memiliki bukti kewarganegaraan Indonesia, perlu menunjukkan bukti kewarganegaraan Indonesia (SBKRI).

Menteri Kehakiman dan Menteri Dalam Negeri bertugas memberikan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI), sedangkan PANGKOPKAMTIP membantu kelancaran dan keamanan pelaksanaan instruksi tersebut. Dalam hal ini SBKRI dapat diberikan kepada orang asing yang telah menjadi warga negara Republik Indonesia dan telah dewasa, namun belum mempunyai bukti kewarganegaraan.

Menurut Undang-Undang No. 12 Tahun 2006

UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1946 menyatakan bahwa warga negara Indonesia adalah penduduk asli Indonesia dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang dengan sendirinya menjadi warga negara Republik Indonesia. Penetapan siapakah penduduk asli Indonesia sebagaimana diatur dalam Pasal 2 dan penafsirannya berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 telah memperjelas dan meneguhkan kedudukan dan kepastian hukum bagi setiap warga negara Indonesia yang sejak lahirnya telah bertempat tinggal di wilayah Negara Republik Indonesia. Indonesia, belum pernah menerima kewarganegaraan lain. Asas terbatas ius soli (hak atas tanah) adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan negara kelahirannya, yang berlaku bagi anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini.

Asas kewarganegaraan ganda terbatas merupakan asas yang menentukan kewarganegaraan ganda anak sesuai dengan ketentuan undang-undang ini. Berkaitan dengan hal tersebut, nampaknya perlu ditegaskan siapa yang dimaksud dengan warga negara Indonesia, Pasal 4 UU No. 12 Tahun 2006 menegaskan hal-hal sebagai berikut: 1. Mampu berbahasa Indonesia dan mengakui dasar negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;.

Keadaan hukum yang menyebabkan lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menunjukkan pluralisme, khususnya dalam kaitannya dengan hukum perdata. Setelah berlakunya Undang-Undang Perkawinan Nasional yaitu Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 terjadilah unifikasi dalam bidang hukum perkawinan. Namun para pembuat undang-undang tidak mengesampingkan kemungkinan terjadinya perkawinan campuran di antara penduduk negara tersebut.

Selain syarat-syarat yang ditentukan dalam Pasal 60, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan juga mengamanatkan bahwa perkawinan campuran harus dicatatkan oleh panitera yang berwenang [Pasal 61 ayat (1)].

Referensi

Dokumen terkait

Pada masa ini terjadi ketidakpastian hukum tentang status kewarganegaraan Indonesia terutama bagi warga negara Indonesia yang berasal dari Golongan Eropa dan Timur

Warga Negara Indonesia yang berada di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib melaporkan Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting yang dialaminya kepada

Pada masa ini terjadi ketidakpastian hukum tentang status kewarganegaraan Indonesia terutama bagi warga negara Indonesia yang berasal dari Golongan Eropa dan Timur

Warga negara Indonesia bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia selama 5 (lima) tahun atau lebih tidak melaporkan diri kepada perwakilan Republik Indonesia

Warga negara asing yang kawin secara sah dengan warga negara Indonesia dan telah tinggal di wilayah negara Republik Indonesia sedikitnya lima tahun berturut-turut atau sepuluh

1) Permohonan pewarganegaraan pernyataan untuk tetap menjadi Warga Negara Indonesia, atau permohonan memperoleh kembali kewarganegaraan Republik Indonesia yang telah diajukan

(1) Pemiohonan pewarganegaraan, pemyataan untuk tetap menjadi Warga Negara Indonesia, atau permohonan memperoleh kembali Kewarganegaraan Republik Indonesia yang telah diajukan

(13) SIM Internasional yang diterbitkan di negara lain sebagaimana dimaksud pada ayat (11) huruf b, berlaku di wilayah Negara Republik Indonesia berdasarkan