Karya sastra yang bermutu tinggi adalah karya yang terkonsentrasi, artinya kompak dalam isi dan bentuk, bahasa dan ekspresi. Kritik sastra merupakan salah satu cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang pemahaman, penghayatan, penafsiran, dan penilaian terhadap karya sastra.
PENGAJARAN SASTRA ANAK
Ayam-ayam itu mengikut satu sama lain ke sungai sambil membawa cacing dan rama-rama di dalam mulut mereka. Anak ayam meletakkan cacing dan rama-rama di tebing sungai dan menyelam ke dalam sungai untuk berenang.
MANFAAT DAN PENGAJARAN SASTRA
FUNGSI SOSIAL SASTRA
HAKIKAT SASTRA
HAKIKAT
DAN GENRE SASTRA
GENRE SASTRA
Ketiga, menurut ragam perwujudannya (cara penyajian puisi), karya sastra dibedakan menjadi epik, liris, dan dramatis. Keberadaannya muncul sebagai sebuah karya baru setelah pengarang (sastra) memberikan penilaian terhadap hasil karya sastra kreatif.
ليتبلي مومهلا ءاونأب على لهودس خىرأ رحلبا جومك لليو كللكب ءان وأ زاجعأ فدرأو هبلصب ىطمت امل له تلقف
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SASTRA
Misalnya, orang Arab dikenal sebagai penyair karena memiliki selera sastra yang kuat, hidup dalam kebebasan, dan selalu berpindah-pindah. Begitu pula dengan kehidupan masyarakat Yunani kuno, karena mereka mempunyai naluri yang kuat dalam bidang seni.
لفلف بح هنأك اهناعيقو اهناصرع فى مارلأا رعب ىرت
Geografi dunia Arab yang kurang mendukung dan tidak ramah dapat mempengaruhi karakter, perilaku dan cara berpikir mereka. Secara psikologis watak dan cara berpikir tersebut akan tercermin dipermukaan, salah satunya melalui media bahasa sebagai ekspresi kepribadiannya.
بذهملا لاجرلا ايأ ثعش على هملت لا اخأ قبتسمب تسلو
Kemunculan cerpen dan novel juga terjadi akibat proses peniruan karya sastra yang sudah ada. Cerpen mempunyai bentuk yang paling pendek dibandingkan dengan bentuk karya sastra prosa lainnya yaitu novel, novel atau roman.
UNSUR INTRINSIK CERITA PENDEK
CERITA PENDEK
Permasalahan yang muncul kemudian adalah bagaimana mencari tokoh utama dalam sebuah cerita yang mungkin melibatkan banyak tokoh. Jika cerita disusun dengan menceritakan kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya, maka cerita demikian disebut alur balik klimaks.
PENGALAMAN
Gaya seorang pengarang baru terlihat jika pengarang yang bersangkutan telah menciptakan atau menulis banyak karya sastra. Mendengarkan cerita sedih seringkali membuat kita emosi. Melihat seorang buta yang berjalan terhuyung-huyung mencari secuil nasi merupakan pengalaman yang mengharukan.
PEMBELAJARAN MENULIS CERITA
PENDEKATAN KONTEKSTUAL
Penilaian dalam pembelajaran diartikan sebagai proses pengumpulan berbagai informasi dan data tentang kegiatan pembelajaran yang akan dijadikan dasar penilaian. Baik : Sikap yang ditampilkan siswa pada saat mengikuti pembelajaran menulis cerpen sudah sesuai dengan pembelajaran yang dirancang siswa. Cukup: Sikap yang ditampilkan siswa pada pembelajaran menulis cerpen sudah sepenuhnya sesuai dengan pembelajaran yang dirancang siswa.
Kurang: Sikap yang ditunjukkan siswa pada pembelajaran menulis cerpen tidak sesuai dengan pembelajaran yang dirancang siswa.
MODEL
Banyak sekali perangkat pembelajaran yang memerlukan kecermatan dan kejelian dalam memilih perangkat pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Unit ini dipilih karena dapat membimbing siswa dalam menulis cerpen berdasarkan keterampilan proses. Artinya siswa dalam model pembelajaran memperoleh tahapan-tahapan dalam proses menulis cerita pendek yang baik.
Sebelum menggunakan model Synectics yang ada untuk merancang pembelajaran menulis cerpen, terlebih dahulu diadaptasikan agar dapat digunakan sebagai perangkat pembelajaran menulis cerpen berbasis keterampilan proses.
PEMBELAJARAN MENULIS KREATIF
- SINTAKMATIK
- SISTEM SOSIAL
- SISTEM PENDUKUNG
- DAMPAK INSTRUKSIONAL DAN PENGIRING
Gambaran kondisi saat ini berkaitan dengan pengalaman siswa dalam keterlibatan dalam kegiatan kebudayaan yang mengandung nilai-nilai pelestarian budaya. Mendeskripsikan dan menemukan terjadinya kondisi terkini terkait dengan pengalaman siswa terlibat dalam kegiatan kebudayaan yang mengandung nilai-nilai pelestarian budaya. Gambaran suatu kondisi berkaitan dengan pengalaman keterlibatan siswa dalam kegiatan kebudayaan yang mengandung nilai.
Mendeskripsikan suatu kondisi yang berkaitan dengan pengalaman siswa terlibat dalam kegiatan kebudayaan yang mengandung nilai.
SILABUS
PENULISAN CERPEN
KOMPONEN SILABUS
Penilaian terhadap standar kompetensi dan kompetensi inti yang memuat pembelajaran menulis cerpen berbasis pengalaman dengan pendekatan kontekstual dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:. Materi pokok pengajaran menulis cerpen pada jenjang pendidikan SMA/MA ada enam, yaitu (1) Menulis cerpen berdasarkan kehidupan seseorang, dengan penekanan pada pelaku, peristiwa, dan latar; (2) Menulis cerita pendek berdasarkan pengalaman orang lain, dengan penekanan pada pelaku, peristiwa, dan latar; (3) Menulis cerita pendek berdasarkan kehidupan orang lain, dengan penekanan pada aktor, peristiwa, dan latar; (4) Menulis cerita pendek tentang kehidupan seseorang. Kegiatan pembelajaran dalam proses pembelajaran menulis cerpen pada jenjang pendidikan SMA/MA menekankan pada pengalaman langsung menulis cerpen.
Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran menulis cerpen didasarkan pada 7 prinsip pendekatan kontekstual.
WUJUD SILABUS DALAM PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN Dari komponen-komponen yang terdapat pada silabus, berikut
Kompetensi dasar Materi pembelajaran Kegiatan pembelajaran Indikator keberhasilan Prinsip pembelajaran Penilaian Alokasi waktu Sumber/Bahan/Alat • Menghasilkan ide (topik) kreatif untuk menulis cerpen • Mengembangkan kerangka cerita • Mengembangkan kerangka cerita dalam bentuk cerita fiksi (pendek cerita). Kompetensi dasar Materi pembelajaran Kegiatan pembelajaran Indikator keberhasilan Prinsip pembelajaran Penilaian Alokasi waktu Sumber/Bahan/Alat • Menghasilkan ide (topik) kreatif untuk menulis cerpen • Mengembangkan kerangka cerita • Mengembangkan kerangka cerita dalam bentuk cerita fiksi (pendek cerita). Kompetensi dasarBahan pembelajaranKegiatan pembelajaranIndikator keberhasilanPrinsip pembelajaranPenilaianAlokasi waktuSumber/Bahan/Alat penulisan cerpen • Pengembangan kerangka cerita • Pengembangan kerangka cerita berbentuk cerita fiksi (cerpen).
Kompetensi DasarBahan PembelajaranKegiatan PembelajaranIndikator KeberhasilanPrinsip PembelajaranEvaluasiAlokasi WaktuSumber/Bahan/Alat • Memunculkan gagasan (topik) kreatif untuk menulis cerpen • Mengembangkan kerangka cerita • Mengembangkan kerangka cerita dalam bentuk cerita fiksi (cerpen).
KOMPONEN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Komponen-komponen dalam rencana pelaksanaan pembelajar-
Siswa dapat menulis garis besar cerita dengan memperhatikan pelaku, peristiwa, latar, dan lain-lain. pada pilihan kata, tanda baca, dan ejaan. RPP yang dimaksud di sini merupakan rencana yang disusun guru dalam merancang proses pembelajaran yang ditujukan kepada siswa. Mengingat RPP yang dikembangkan di lapangan ternyata bersifat global dan kurang memiliki tujuan dan fungsi, maka model pengembangan RPP dalam hal ini disusun agar dapat dioperasionalkan oleh guru dengan mudah dan efektif.
Harapannya siswa dapat menangkap dan memahami pembelajaran menulis cerpen secara komprehensif dan holistik dengan lebih menekankan pada aspek proses menulis cerpen yang baik berdasarkan model sinektik yang dikembangkan oleh Agus Nuryatin (2008).
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
WUJUD RPP DALAM PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN Berdasarkan kompoenen-komponen yang terdapat dalam
Kompetensi Dasar
Indikator Keberhasilan
Tujuan pembelajaran
Kegiatan belajar adalah kegiatan yang mengarahkan siswa untuk mengingat peristiwa-peristiwa yang pernah dialami/dirasakannya, atau peristiwa-peristiwa yang diketahuinya, dalam artian peristiwa-peristiwa yang bersangkutan belum dialami/dirasakan, tetapi diketahuinya. Kegiatan pembelajar adalah membimbing peserta didik melakukan kegiatan untuk menentukan salah satu peristiwa di antara sekian banyak peristiwa yang mereka alami/rasakan, atau ketahui. Peserta didik dapat mengurangi, menambah atau mengubah rangkaian kejadian yang telah mereka susun pada tahap ketiga dengan kejadian yang mereka inginkan.
Kegiatan pembelajar adalah membimbing pembelajar terhadap peristiwa-peristiwa yang telah ditambahkan dan/atau diubah (peristiwa fiktif), yang.
Skenario Pembelajaran
Panduan Pemilihan Acara – Siswa memberikan panduan kepada siswa untuk memilih peristiwa/kejadian yang paling mengesankan dari pengalaman pribadi. Siswa mengarahkan siswa untuk menggambarkan peristiwa/peristiwa dari pengalaman pribadi yang dipilih (pengalaman pribadi yang paling mengesankan) sesuai dengan urutan kejadiannya. Siswa membimbing siswa untuk menggambarkan peristiwa/kejadian lain yang serupa dengan peristiwa/kejadian paling mengesankan dari pengalaman pribadi.
Siswa membimbing siswa untuk melihat kembali gambaran setiap peristiwa/kejadian, baik dari suatu peristiwa/kejadian dari pengalaman pribadi atau yang serupa.
Media/Sumber Pembelajaran - Buku kumpulan cerpen
Peserta didik membimbing siswa membaca cerpen yang ditulis secara berulang-ulang hingga membuat isi cerpen tersebut sesuai dengan keinginannya. Peserta didik membimbing peserta didik untuk menyempurnakan dan mengembangkan (merevisi) cerpen yang dihasilkan jika diperlukan.
Indikator
Tujuan Pembelajaran
Siswa memberikan bimbingan kepada siswa untuk memilih peristiwa/peristiwa yang paling berkesan dari pengalaman orang lain. Siswa mengarahkan siswa untuk menulis cerita pendek berdasarkan peristiwa/peristiwa dari situasi ideal yang telah digambarkan. Siswa menuntun siswa membaca cerpen yang telah ditulis beberapa kali agar isi cerpen tersebut sesuai dengan keinginannya. - Siswa membimbing.
Siswa membimbing siswa untuk menerbitkan cerita pendek terbaiknya (di majalah sekolah, majalah sekolah, surat kabar, dan lain-lain).
Metode Pembelajaran
Materi Pembelajaran 1. Teori cerpen
Siswa membimbing siswa untuk menggabungkan peristiwa/kejadian dari kehidupan seseorang dengan sudut narasi orang ketiga yang familiar (dibaca, didengar, atau dilihat) dan paling mengesankan dengan kejadian/kejadian lain yang serupa - Siswa membimbing siswa. Siswa memberikan bimbingan kepada siswa untuk memilih peristiwa/peristiwa yang paling mengesankan dari pengalaman pribadi. Siswa mengarahkan siswa untuk menggambarkan peristiwa/peristiwa dari pengalaman pribadi yang dipilih (pengalaman pribadi yang paling mengesankan) sesuai dengan urutan kejadiannya.
Siswa membimbing siswa untuk memilih peristiwa/kejadian lain yang mirip dengan kejadian/kejadian paling mengesankan dari pengalaman pribadi.
Media/Sumber Pembelajaran - Hikayat
Siswa membimbing siswa dalam mengungkapkan spesies/bentuk kehidupan orang lain yang diketahui (dibaca, didengar, atau dilihat). Membimbing siswa dalam memilih peristiwa/kejadian dalam kehidupan orang lain yang diketahui (dibaca, didengar, atau dilihat) dan paling berdampak. Membimbing siswa dalam mendeskripsikan peristiwa/peristiwa dari peristiwa kehidupan orang lain, dipilih berdasarkan urutan peristiwa.
Siswa membimbing siswa untuk menggabungkan peristiwa/kejadian dari kehidupan orang lain yang diketahui (dibaca, didengar atau dilihat) dan paling mengesankan dengan peristiwa/kejadian lain yang serupa.
SISTEM EVALUASI
Format buku harian untuk mencatat seluruh aktivitas siswa baik persiapan, proses, dan penyelesaian pembelajaran menulis cerpen berdasarkan pengalaman dengan pendekatan kontekstual disajikan di bawah ini. Ketiga lembar observasi tersebut berupa (1) lembar observasi sikap siswa dalam belajar, (2) lembar observasi sikap dan evaluasi diri dalam proses menulis cerpen, dan (3) lembar observasi pada cerita pendek. strategi penulisan cerita. Format rubrik yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen berbasis pengalaman dengan pendekatan kontekstual disajikan sebagai berikut.
Tulislah cerita pendek dengan menggabungkan peristiwa yang Anda alami dengan peristiwa ideal.
AKUMULASI PERANGKAT
PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN DENGAN PENDEKATAN
KONTEKSTUAL
Media/Sumber Pembelajaran
- Penilaian
Siswa menginstruksikan siswa untuk mendeskripsikan peristiwa/peristiwa dari pengalaman orang lain yang telah dipilih (pengalaman orang lain yang paling mengesankan) secara berurutan. Siswa membimbing siswa untuk memilih peristiwa/peristiwa lain yang serupa dengan peristiwa/peristiwa yang paling berkesan dari pengalaman orang lain. Siswa membimbing siswa untuk menggambarkan peristiwa/kejadian lain yang serupa dengan peristiwa/kejadian yang paling mengesankan dari pengalaman orang lain.
Peserta didik membimbing peserta didik untuk membandingkan kejadian/kejadian dari pengalaman orang lain yang paling berkesan dan kejadian/kejadian lain yang serupa dengan kejadian/kejadian dari pengalaman pribadi yang paling berkesan. Peserta didik membimbing siswa untuk menggambarkan kejadian/kejadian dari kehidupan seseorang dengan menggunakan sudut narasi orang ketiga yang dipilih sesuai dengan urutan kejadiannya. Peserta didik membimbing peserta didik untuk menguraikan peristiwa/peristiwa dari kondisi ideal yang diharapkan berdasarkan kombinasi peristiwa/peristiwa tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
“Perkembangan Sastra di Era Bani Umayyah: Analisis Kritis Strukturalisme Genetik” dalam Lingua: Jurnal Bahasa dan Sastra, Bagian ii. Karya Sastra: “Mimesis, Realitas atau Mitos?” dalam Lingua: Jurnal Bahasa dan Sastra, Volume II. Hati-hati dalam memilih buku bacaan anak” dalam Alternatif 'Sekolah' untuk Anak (Sinta Ratnawati ed.).
Beliau menempuh pendidikan Magister Sastra di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FiB), Universitas Indonesia (2001).
TENTANG PENULIS
Beliau memperoleh gelar Doktor Pendidikan Bahasa dari Program Pascasarjana (PP) Universitas Negeri Semarang pada tahun 2008. Setelah menjabat sebagai Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, beliau kemudian diangkat menjadi Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia. Seni Rupa (FBS) Universitas Negeri Semarang sejak tanggal 20 Mei 2011 sampai saat ini. Sejak saat itu, ia melakukan penelitian ekstensif mengenai sastra dan pendidikan sastra, antara lain pengembangan model pembelajaran menulis cerpen berbasis keterampilan prosedural untuk siswa SMA pada program bahasa di Jawa Tengah (Tahap I) (2007), pengembangan aspek model pembelajaran bahasa Indonesia multikultural untuk meningkatkan kecerdasan emosional siswa SMA (2007) dan beberapa penelitian lainnya.