Setiap bahasa mempunyai sistem yang mengatur dan mengikat masyarakat yang menggunakannya, begitu pula dengan bahasa Indonesia. Kesempurnaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi ditentukan oleh kesempurnaan sistem bahasa masyarakat yang menggunakannya, baik yang berkaitan dengan sistem bunyi, sistem pembentukan kata, maupun sistem pembentukan kalimat. Sintaksis merupakan bidang ilmu linguistik yang membahas tentang prinsip dasar dan proses pembentukan kalimat.
Pengelompokan kalimat berdasarkan bentuk dan makna serta hubungan satuan kebahasaan yang terdiri dari frasa, klausa, dan kalimat berdasarkan struktur sintaksis dan semantiknya merupakan bagian kajian dalam buku ini. Sebagai salah satu sumber yang dijadikan acuan dalam perkuliahan sintaksis diharapkan mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan sistem yang mengatur pembentukan kalimat bahasa Indonesia dan mahasiswa juga dapat membuat aturan-aturan pembentukan kalimat bahasa Indonesia. Buku ini dapat digunakan sebagai buku ajar bagi pelajar yang mempelajari sintaksis bahasa Indonesia maupun bagi peminat bahasa sehingga dapat memperoleh penjelasan dengan mudah.
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
STUDI SINTAKSIS
DAN RUANG LINGKUPNYA
- Pengantar
- Hakikat Sintaksis
- Alat dan Satuan Sintaksis
- Alat Sintaksis
- Satuan Sintaksis
- Beberapa Pengertian dalam Kalimat
- Hubungan Antarunsur dalam Satuan Sintaksis
- Analisis Sintaksis
Padahal, jika dicermati contoh di atas, yang membedakan klausa dan kalimat adalah penggunaan tanda baca/intonasi akhir pada kalimat tersebut. Jika diperhatikan, subjek pada kalimat di atas adalah (Saya, Adik, Buku, Tas, Kami, Ibu, Ayah, Republik Indonesia). Benda yang tidak termasuk dalam kategori kata benda, misalnya pada kalimat berikut: (9) Hitam [S] adalah warna yang gelap. 10) Ucapan [S] tidak mudah [P] (ucapan yang mempunyai fungsi S adalah kata kerja).
Misalnya pada kalimat: (16) Pagi ini [Ket] saya [S] terlambat [P] ke kampus [O], dapat diubah menjadi (Saya terlambat ke kampus pagi ini atau saya terlambat ke kampus pagi ini ). Kata sifat (A) adalah kata yang memberikan keterangan khusus tentang sesuatu yang diungkapkan oleh kata benda (N) dalam sebuah kalimat. Misalnya pada kalimat: Dia telah pergi, maka kata sudah merupakan kata keterangan yang menyertai kata past (V).
FRASA
- Pengantar
- Pengertian Frasa
- Jenis Frasa Bedasarkan Distribusinya dalam Kalimat Berdasarkan distribusinya dalam kalimat, frasa
- Frasa Endosentris
- Jenis Frasa Berdasarkan Kategori
- Frasa Verbal
- Frasa Adjektival
- Frasa Preposisional
Hal ini sesuai dengan pendapat Ramlan bahwa frasa adalah satuan gramatika yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melebihi fungsi kalimat. Konstruksi kalimat di atas terdiri dari frasa-frasa yang hanya dapat memenuhi satu fungsi sintaksis. Dengan demikian, konsep frasa tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut. i) Frasa adalah satuan kebahasaan yang terdiri dari dua kata atau lebih. ii) Frasa adalah satuan kebahasaan yang dapat memenuhi salah satu fungsi dalam sebuah kalimat. iii) Frasa adalah gabungan kata yang bukan predikat. iv) Penggabungan kata-kata dalam sebuah frase tidak menimbulkan makna baru.
Kalimat endosentris apositif terdiri dari unsur-unsur yang salah satunya merupakan unsur sentral dan unsur lainnya adalah aposisi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kalimat adalah suatu konstruksi yang terdiri dari dua atau lebih unsur yang dapat menjalankan fungsi tertentu dalam suatu kalimat, tetapi tidak melebihi fungsi suatu kalimat. Kalimat adalah satuan gramatika yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melebihi fungsi suatu kalimat.
KLAUSA
- Pengantar
- Pengertian Klausa
- Analisis Klausa Berdasarkan Fungsi
- Analisis Klausa Berdasarkan Kategori
- Analisis Klausa Berdasarkan Peran
- Peran Penanggap
- Peran Pokok
- Peran Ciri
- Peran Sasaran
- Peran Hasil
- Peran Pengguna
- Peran Ukuran
- Peran Alat
- Peran Tempat
- Peran Sumber
- Peran Jangkauan
- Peran Penyerta
- Peran Waktu
- Peran Asal
- Penggolongan Klausa
Ramlan (1987) menyatakan kalimat adalah satuan gramatika yang terdiri atas subjek dan predikat, dengan atau tanpa objek, pelengkap, dan keterangan. Unsur subjek dan predikat merupakan unsur yang selalu terdapat dalam kalimat dasar. i) Klausa independen, yaitu klausa yang dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kalimat. ii) Klausa terikat, yaitu klausa yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kalimat. Klasifikasi didasarkan pada ada tidaknya kata negatif yang secara gramatikal meniadakan P. Klasifikasi didasarkan pada kategori kata atau frasa yang menempati fungsi P. 3.4.1 Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internalnya.
Klausa yang terdiri dari S dan P disebut klausa lengkap, sedangkan klausa yang tidak memuat S disebut klausa tidak lengkap. Kalimat positif adalah kalimat yang tidak mempunyai kata negatif yang secara gramatikal menegasikan P. Kata negatif adalah belum, belum, belum, belum, dan belum. Kalimat negatif adalah kalimat yang mempunyai kata-kata negatif yang secara gramatikal meniadakan P. Seperti yang telah dikemukakan di atas, kata-kata negatifnya adalah tidak, belum, belum, belum, dan belum.
Jadi jelas bahwa konjungsi memerlukan kata negatif yang tidak ada pada kalimat pendahulunya. Kata negatif no kadang disingkat no dan digunakan untuk meniadakan P yang terdiri dari kategori kata V atau frase preposisi (FPrep). Kata negatif tidak digunakan untuk meniadakan P yang terdiri dari kategori atau FV, FPrep dan Bil.
Klausa nominal adalah klausa yang P-nya terdiri atas kata atau frasa golongan N. 52) Rumah-rumah tersebut merupakan rumah dinas Kementerian Pendidikan. Dengan demikian, berdasarkan kategori verbalnya, klausa verbal dapat diklasifikasikan sebagai berikut. i) Klausa Verbal Kata Sifat (ii) Klausa Verbal Invarian (iii) Klausa Verbal Aktif (iv) Klausa Verbal Pasif (v) Klausa Verbal Refleksif 3.4.3.3 Klausa angka. Klausa bilangan atau klausa bilangan adalah klausa yang P-nya terdiri atas kata atau frasa golongan bilangan.
Klausa depan atau klausa preposisi adalah klausa yang P-nya terdiri atas frasa depan atau frasa yang diawali dengan preposisi sebagai penanda.
KALIMAT
Pengantar
Pengertian Kalimat
Kumpulan kata atau kumpulan kata dan jenis kata yang digunakan dalam suatu kalimat dapat menentukan jenis atau jenis kalimat yang dihasilkan. Dalam menentukan satuan suatu kalimat, tidak ditentukan oleh jumlah kata yang menjadi unsurnya, melainkan ditentukan oleh intonasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Ramlan (1987:5) yang menyatakan bahwa setiap satuan kalimat dibatasi oleh jeda panjang yang diikuti dengan turun atau naiknya nada akhir.
Dalam bentuk tertulis, kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.
Kalimat dan Unsur-Unsurnya
- Ciri-ciri Subjek
Dardjowijojo juga menyatakan bahwa kalimat adalah bagian terkecil dari ujaran atau teks yang mengungkapkan suatu pemikiran secara utuh secara gramatikal. Untuk menentukan subjek pada kalimat (1) dan (2) di atas dapat dicari jawaban mengenai siapa yang belajar dan apa yang telah berlalu dengan cepat.
Disertai Kata itu
Didahului Kata bahwa
Selain sebagai penanda subjek (berupa klausa) pada kalimat pasif, kata yang juga menjadi penanda subjek berupa klausa yang menggunakan kata is, is, atau are.
Memunyai Keterangan Pewatas yang
Tidak Didahului Preposisi
- Ciri-ciri Predikat
Jawaban atas Pertanyaan mengapa atau bagaimana
Kata adalah atau ialah
Penentuan predikat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. Yang menggunakan predikat adalah dan biasa disebut kalimat nominal. Predikat ada dan terutama digunakan jika subjek kalimat merupakan unsur yang panjang sehingga tidak jelas batas antara subjek dan pelengkapnya, seperti pada contoh kalimat berikut. Namun jika subjek kalimatnya unsur pendek, maka batas antara subjek dan unsur pelengkapnya sangat jelas, predikatnya digunakan atau tidak, terutama dalam bahasa lisan.
Dapat Diingkarkan
Dapat Disertai Kata-Kata Aspek dan Modalitas
Unsur Pengisi Predikat
Komplemen dan objek mempunyai kesamaan, yaitu kedua unsur kalimat ini bersifat wajib (harus ada karena melengkapi makna predikat verba kalimat tersebut); mengambil posisi setelah predikat;. Ibu saya membelikan saya kamus bahasa Jerman S P Pel Pel. 49) Kakak menceritakan kisah rusa dan buaya kepada adiknya. Informasi adalah unsur kalimat yang memberikan keterangan lebih lanjut mengenai sesuatu yang dinyatakan dalam kalimat, misalnya memberi keterangan tentang tempat, waktu, cara, sebab dan tujuan.
Informasi yang berbentuk frasa ditandai dengan kata depan di-, di-, dari, di, di, di, melawan, tentang, dari, untuk. Informasi yang berbentuk kalimat ditandai dengan kata sambung bila, karena, meskipun, demikian, jika, dan sebagainya.
Bukan Unsur Utama
Tidak Terikat Posisi
- Bagian-Bagian Kalimat
- Pembagian Kalimat
Informasi yang terletak di antara predikat dan objek juga terasa aneh jika informasi atau objek kalimatnya panjang (berupa klausa). Ada bentuk-bentuk yang terkadang muncul sebagai bagian kalimat yang tidak dapat dihapuskan; ada pula hal yang dapat dihilangkan dengan konstruksi yang tetap gramatikal dan semantik mempunyai hubungan makna yang invarian.
A/FA FAdv
- Kalimat Tunggal
- Struktur Kalimat Tunggal
- Kalimat Dasar Berpola SP
- Kalimat Dasar Berpola SPPel
- Kalimat Dasar Berpola SPO (i) Anak itu / membawa / buku
- Kalimat Dasar Berpola SPOPel
- Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif
- Kalimat Majemuk
- Kalimat Berdasarkan Modus - Makna
Karena kalimat tersebut merupakan kalimat pasif tipe 2, maka tidak ada unsur lain yang dapat disisipkan di antara kata benda pelaku dan kata kerja transitif tanpa awalan di- atau awalan me(N). Kalimat-kalimat tersebut adalah sebagai berikut. 114) Kami selalu menggunakan produksi dalam negeri. 115) Anda harus menghemat uang untuk pengeluaran. 116) Kita sudah berusaha meningkatkan ekspor nonmigas. 117) Kamu memberitahuku tentang masalah ini kemarin. Hal ini sejalan dengan pandangan Verhaar yang menyatakan bahwa kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Ciri-ciri yang menunjukkan ketidaksamaan kedudukan kalimat dalam kalimat majemuk bertingkat berkaitan dengan struktur sintaksis kalimat tersebut.
Dengan demikian, klausa bawahan tetap memegang peranan penting dalam kalimat majemuk bertingkat, meskipun berfungsi sebagai K pada klausa superior. Cara yang lebih tepat untuk menentukan klausa tinggi dan klausa bawahan adalah dengan melihat struktur fungsional yang terdapat dalam kalimat majemuk. Hal ini sesuai dengan pendapat Kridalaksana yang menyatakan bahwa kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang klausanya terhubung secara fungsional.
Dengan demikian, kedudukan klausa dalam kalimat majemuk bertingkat dapat ditunjukkan dengan diagram berikut. Salah satu klausa dalam kalimat majemuk yaitu klausa bawahan selalu menempati salah satu fungsi klausa utama. Klausa bawahan yang menempati fungsi O pada klausa utama terdapat pada kalimat majemuk bertingkat yang artikel-artikelnya dihubungkan dengan kata sambung while, while (menyatakan makna tata krama) dan ya (menyatakan makna penjelasan).
Klausa bawahan yang menempati fungsi klausa pokok Pel terdapat pada kalimat majemuk bertingkat, yang klausa-klausanya dihubungkan dengan kata sambung karena, karena (menyatakan makna sebab), jika, seandainya, bila, diduga, seharusnya (mengungkapkan makna sebab), arti dari kondisi); Jadi. Klausa bawahan yang menempati fungsi klausa utama terdapat pada kalimat majemuk bertingkat yang klausanya dihubungkan dengan sebab relatif, karena (mengungkapkan makna sebab); jika, jika, jika, jika, seandainya (menunjukkan arti dari kondisi);. Struktur sintaksis kalimat majemuk bertingkat yang dicirikan oleh struktur fungsionalnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Hubungan rujukan bersama dalam ayat majmuk berbilang peringkat juga boleh ditandai dengan kes penyingkiran, penggantian dan pengulangan juzuk. Mengikut sifatnya, terdapat perintah tetap, biasa dan halus. i) Ayat perintah tegas terbentuk daripada ayat yang tidak lengkap, biasanya dalam bentuk kata kerja dasar, disertai dengan intonasi ayat perintah. Begitu juga dengan ayat perintah, ayat larangan adalah tegas, jelas dan halus atau sopan. i) Ayat larangan ketat dibentuk oleh klausa yang bermula dengan perkataan dilarang, biasanya dengan menghilangkan subjek. ii) Ayat larangan biasanya terbentuk daripada klausa yang bermula dengan perkataan "boleh tidak" atau "boleh tidak". ditujukan terus kepada seseorang atau sekumpulan orang, maka subjek ayat tidak boleh ditinggalkan;. tetapi jika larangan itu tidak ditujukan secara langsung kepada sesiapa, maka subjek itu mesti ditinggalkan.
DAFTAR PUSTAKA
BIODATA PENULIS
Sejak sekolah dasar, penulis mengikuti orang tuanya pindah ke kota Pontianak, sehingga ia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Tanjung Pura Pontianak dan memperoleh gelar (Dra) pada tahun 1991. Selanjutnya penulis melanjutkan studi Magister Linguistik Fakultas Ilmu Budaya. Ilmu Budaya dari Universitas Indonesia pada tahun 2000 dan saat ini sedang menyelesaikan program doktor (S-3) di Universitas Negeri Jakarta. Penulis pernah menjadi dosen di Universitas Tanjungpura Pontianak dan mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah sejak tahun 2006 hingga saat ini, Prof.
Kesalahan Berbahasa pada Majalah Mimbar Untan (1991), Pelestarian Bahasa Khek oleh Komunitas Tionghoa Hakka di Singkawang Kalimantan Barat (2000), Refleksi Bahasa Anak Usia Dini Terhadap Kemampuan Nalar (2002), Kesantunan Berbahasa Siswa pada Uhamka (2005), Autisme dan Kemampuan Menggunakan Bahasa Teknik ABA (2010), sama dengan Andre Skrifter.