Nama : Bunga Cyntia Bella
NIM : 10011382227171
Kelas : IKM B
Mata Kuliah : Dinamika Kelompok
Dosen Pengampu : Eva Elfrida Pardede, S.Kep., Ns., M.K.M.
TUGAS MANAJEMEN KONFLIK
A. Kasus Konflik yang Terjadi di Masyarakat
Wayan Agustini dan satu bidan muda berjoget di belakang badan Rani (ibu hamil yang sedang merasakan pembukaan pra persalinan) dan satu bidan lagi bergoyang di depannya.
Sementara Rani yang sedang berbaring dengan posisi badan miring ke kiri, tampak tak peduli.
Kepalanya menghadap ke badan suaminya seperti menahan sakit.
Kira-kira 10 menit setelah membuat konten joget, kata bidan Wayan, air ketuban pecah dan kepala bayi mulai kelihatan. Karena ini adalah persalinan kedua Rani maka prosesnya tak terlalu lama, kata bidan Wayan. Pulang kerja, ia langsung mengunggah video itu di akun TikToknya. Esoknya, konten tersebut viral dan menjadi perbincangan warganet. Beberapa orang mencerca konten itu sebagai tidak etis, tak berempati, dan berharap si bidan dijatuhi sanksi lantaran aksinya dianggap tidak terpuji.
Sebelum kasus bidan Wayan mencuat, setidaknya ada tiga kasus serupa yang bikin heboh jagat kesehatan. Pertama, video yang memperlihatkan ekspresi muka dokter muda bernama Kevin Samuel soal 'bukaan' persalinan. Konten di TikTok itu dinilai melanggar etik dan melecehkan pasien lantaran menyebut proses tersebut sebagai 'awkward moment'. Kedua, konten seorang mahasiswi keperawatan di Yogyakarta di TikTok yang mengunggah pengalamannya memasang kateter urine kepada pasien 'pria cakep' dengan dibubuhi emotikon api. Terakhir, tenaga kesehatan di RSUD Martapura, Sumsel, menyiarkan langsung tindakan operasi di akun TikTok miliknya.
BBC News Indonesia mendapati berbagai konten pasien oleh sejumlah tenaga kesehatan tanpa sensor dan tanpa keterangan apakah sudah mendapat persetujuan dari pasien maupun keluarga pasien. Misalnya akun @umminoerr seorang bidan di Kabupaten Deli Serdang yang merekam bayi-bayi baru lahir di ruang perawatan khusus. Di video itu, kelihatan jelas wajah belasan bayi pasien yang sedang terbaring tanpa sensor sama sekali. Kemudian seorang bidan dengan akun @carinanababan29 mengunggah proses pemotongan tali pusar bayi yang baru lahir.
Lagi-lagi wajah bayi tidak disamarkan atau ditutupi. Ada pula bidan dengan akun @bd.miww yang menceritakan pengalamannya ketika pertama kali membantu persalinan di mana si ibu berteriak-teriak kencang. Di video itu, dia memperlihatkan mimik wajah heran dan sedikit kesal.
Lalu akun @serdadumaroon yang rajin sekali mengunggah video para perawat menari di tengah pasien-pasien yang sedang cuci darah. Seorang apoteker dengan akun @tiramisucoklat14 yang membagikan pengalamannya memberikan resep kepada seseorang yang diduga tengah hamil dan minta obat yang bisa menggugurkan kandungan. Tapi dia justru meresepkan obat penguat janin.
B. Manajemen Konflik yang Cocok
Pengamat kebijakan kesehatan Indonesia, Hermawan Saputra, menyebut konten-konten seperti itu jelas menabrak etika. Sebab dalam aturan yang menyangkut etika profesi dokter, perawat, bidan, maupun apoteker sama-sama menggarisbawahi soal kewajiban menjaga kerahasiaan yang berkaitan dengan privasi pasien. Bentuk privasi pasien itu mulai dari informasi medis hingga tubuh mereka yang telah dijamin oleh Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 dan Undang-Undang tentang Rumah Sakit Nomor 44 Tahun 2009. "Jadi ketika orang menyiarkan langsung, menarasikan pasien dalam bentuk visual, audio, atau grafis, etika profesi yang ditabrak," jelas Hermawan Saputra kepada BBC News Indonesia. Kalaupun tenaga kesehatan mau bikin konten tentang pasiennya, harus ada konsen dan tidak untuk kepentingan komersialisasi atau pribadi. Kedua hal itu tidak bisa dipisahkan dan dilanggar. Pengecualian hanya dibolehkan selama tujuannya untuk konsultasi atau mendiskusikan kondisi kesehatan pasien dengan rekan sejawat dokter atau perawat.
Menurut saya manajemen konflik yang cocok dalam kasus tersebut adalah tiga macam tipe metode penyelesaian konflik secara integratif. Penyelesaian secara integratif mengkombinasikan elemen dari semua metode penyelesaian konflik, yang mungkin mencakup penanganan yang mengintegrasikan pertimbangan etika, hukum, dan praktik kesehatan.
Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penyelesaian sengketa medis melalui mediasi adalah alternatif yang lebih efektif dan memuaskan daripada penyelesaian melalui peradilan. Dalam praktik sehari-hari, dokter juga dianjurkan untuk menerapkan prinsip pengambilan keputusan bersama pasien untuk mengurangi risiko ketidakpuasan. Penelitian juga menunjukkan bahwa etika antar tenaga medis membantu dalam mengatasi konflik semacam ini melalui dialog terbuka, saling menghormati, dan mencapai kesepakatan.
Pendekatan ini mencoba untuk mencari solusi yang memuaskan bagi semua pihak yang terlibat dalam konflik. Dalam konteks kasus ini, penyelesaian secara integratif akan memperhatikan kebutuhan pasien untuk privasi dan keadilan, sambil juga mempertimbangkan kebutuhan tenaga kesehatan dan institusi kesehatan. Misalnya, dengan mendorong untuk memperbaiki kebijakan privasi dan etika di tempat kerja, dan memberikan pelatihan atau pendidikan tambahan kepada tenaga kesehatan tentang pentingnya menghormati privasi pasien.