BUNGA RAMPAI (BOOK CHAPTER) PROGRAM STUDI FARMASI
PENGARAH
Dekan Fakultas MIPA Universitas Islam Bandung PENANGGUNG JAWAB
(Ketua Program Studi Farmasi) apt. Sani Ega Priani, M.Si.
KETUA REDAKSI (Dosen Program Studi Farmasi) apt. Gita Cahya Eka Darma, S.Farm., M.Si.
ANGGOTA REDAKSI (Dosen Program Studi Farmasi) apt. Vinda Maharani Patricia, M.Si.
apt. Hanifa Rahma, M.Si.
apt. Farendina Suarantika, M.S.Farm.
Alamat Redaksi
Tim Bunga Rampai (Book Chapter) Program Studi Farmasi Gedung Fakultas MIPA – Universitas Islam Bandung
Jalan Rangga Gading No. 8, Taman Sari, Bandung Wetan, Bandung – Jawa Barat (40116) Surel: [email protected] Website: https://farmasi.unisba.ac.id/
i
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmannirrahim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahi rabbil ’alamin, segala puja puji adalah Hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah melimpahkan Rahmat, Hidayah dan Bimbingan-Nya sehingga ikhtiar penyusunan buku Bunga Rampai (Book Chapter) Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Islam Bandung ini dapat berjalan dengan baik. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Baginda Rasulullah, Muhammad Shollahu’alaihi wa Salam, keluarga, sahabat dan segenap umat yang dicintai beliau hingga akhirul zaman. Insyaa Allah kita termasuk dalam barisan Baginda saat Yamul Hisab kelak. Aamiin aamiin yaa mujibas saailiin
Bunga Rampai bertemakan “MENGGALI KANDIDAT BAHAN ALAM SEBAGAI OBAT MODERN ASLI INDONESIA DAN METODE POTENSIAL DALAM PENGEMBANGAN SEDIAAN FARMASI” ini merupakan langkah konkret kami berperan aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Buku ini disampaikan dalam bentuk karya ilmiah berbasis pada bidang farmasi yang terdiri dari 4 (empat) kelompok bidang keilmuan, yaitu: (1) Farmakologi Toksikologi; (2) Farmasetika (Teknologi Farmasi); (3) Farmakokimia; dan (4) Farmasi Bahan Alam.
Buku ini bertujuan memberikan informasi dan pemahaman eduatif kepada Ummat baik khalayak maupun rekan-rekan tenaga kesehatan, tentang kandidat bahan alam dan metode potensial dalam pengembangan sediaan farmasi. Insyaa Allah kami juga mencoba untuk menyajikan perspektif Islami berlandaskan pada kaedah Islam yang berorientasi pada pemanfaatan bahan alam sebagai pengejawantahan salah satu visi misi Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Islam Bandung.
Akhirul kalam, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam terbitnya buku ini. Juga kami mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya, sebab pasti ada salah atau khilaf yang murni itu datangnya dari kami.
Sedang yang Baik dan Benar itu mutlak milik Sang Maha Guru Allah subhanhu wa ta’ala, sehingga kritik dan saran sangat kami harapkan untuk meningkatkan kualitas penulisan di masa mendatang. Jazakumullahu khoir, “Semoga kebaikan dari Allah subhanhu wa ta’ala senantiasa tercurah untuk kita semuanya”.
Billahi fii sabililhaq, Wassalamu’alaikum warahamtullahi wabarakatuh
Bandung, 09 Dzulqaidah 1443H 09 Juni 2022M
Ketua Redaksi Bunga Rampai (Book Chapter) Program Studi Farmasi,
Ttd.
apt. Gita Cahya Eka Darma, S.Farm., M.Si.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
1 Obat Kumur Alami Berbahan Aktif Daun Jambu Air: Solusi Untuk Mengatasi Infeksi Rongga Mulut yang Efektif, Aman dan Halal
Dr. apt. Suwendar, M.Si. 1
2 Khasiat Saffron (Crocus sativus) untuk Kesehatan dan Kecantikan
apt. Fetri Lestari, M.Si. 7
3 Pemanfaatan Tanaman Prebiotik dalam Penanggulangan Penyakit Diabetes Melitus Dr. apt. Umi Yuniarni, M.Si.; apt. Bertha Rusdi, M.Si., Ph.D. 12 4 Fungsionalisasi Carbon Nanotube dalam Pemanfaatannya sebagai Penghantar Obat
Aulia Fikri Hidayat, M.Si. 18
5 Kajian Sediaan Kosmetika Topikal Yang mengandung Bakuchiol Pada Penanganan Photoaging
apt. Ratih Aryani, M.Farm.; Siti Hazar, M.Si. 28
6 Potensi Oenothera biennis L. untuk Terapi Penyakit Kulit serta Meningkatkan Fungsi Kulit
apt. Farendina Suarantika, M.Si. 34
7 Potensi Pengembangan Sediaan Mengandung Minyak Argan (Argania spinosa L.) sebagai Antipenuaan
apt. Hanifa Rahma, M.Si. 39
8 Aktivitas Antifungi Fraksi Ekstrak Daun Ceremai (Phyllanthus acidus (L.) Skeels) terhadap Aspergillus niger, Candida albicans, dan Microsporum gypseum
apt. Lanny Mulqie, M.Si.; Dr. apt. Kusnandar Anggadiredja, M.Si. 46 9 Mengenal Potensi Senyawa Betalain dalam Menghasilkan Aktivitas Farmakologi
apt. Kiki Mulkiya Y., M.Si.; apt. Vinda Maharani P., M.Si.; apt. Yani Lukmayani, M.Si. 52 10 Pemanfaatan Eco-enzyme dalam Produk Kesehatan
apt. Vinda Maharani Patricia, M.Si. 60
11 Farmasi Plasma sebagai Teknologi Pengobatan Kanker
apt. Gita Cahya Eka Darma, S.Farm., M.Si. 65
12 Analisis Residu Bahan Kimia Obat (BKO) pada Produk Daging
apt. Diar Herawati E., M.Si.; Nety Kurniati, S.Si., M.Sc.; apt. Ani Mulatsih, S.Farm.; Mas
Ayuning Putri, S.Farm.; apt. Syarif Hamdani, M.Si. 75
13 The Astonishing Psychological Eminence of Fasting
Ummu Rosyidah, M.Pd.B.I. 86
14 Efektivitas Daun Sungkai (Peronema Canescens) Dalam Meningkatkan Imun Dalam Mengatasi Covid-19
Milla Putri Rizky Rahmadilla 92
PENUTUP 97
28
Kajian Sediaan Kosmetika Topikal Yang mengandung Bakuchiol Pada Penanganan Photoaging
Ratih Aryani1, Siti Hazar2
1,2 Program Studi Farmasi, Fakultas MIPA, Universitas Islam Bandung, Bandung, Jawa Barat, Indonesia
1[email protected]; 2[email protected]
Abstrak
Radiasi kronis sinar matahari menghasilkan reactive oxygen species (ROS) yang dapat mengakibatkan penuaan (photoaging). Untuk menanggulangi photoaging tersebut dapat diberikan sediaan kosmetika topikal yang mengandung bakuchiol sebagai bahan aktif pengganti retinol. Penggunaan bakuchiol menunjukkan keamanan yang baik pada kulit dan juga tidak menyebabkan iritasi pada mata. Sedangkan retinol memiliki manifestasi efek samping seperti eritema, pruritus, pengelupasan, rasa terbakar dan sensitivitas kulit. Sediaan kosmetika topikal yang mengandung bakuchiol dengan konsentrasi 0,5-1,5% terbukti menunjukkan hasil perbaikan kulit yang mengalami photoaging.
Kata kunci: Photoaging, bakuchiol, retinol, sediaan kosmetika.
Abstract
Chronic radiation from sunlight produces reactive oxygen species (ROS) which can cause photoaging. Photoaging can be treated by topical cosmetics containing bakuchiol as an active ingredient to replace retinol. The use of bakuchiol shows good safety on the skin and also does not irritate the eyes. While retinol has manifestations of side effects such as erythema, pruritus, peeling, burning, and skin sensitivity. Topical cosmetic containing bakuchiol with a concentration of 0.5 to 1.5% has been shown to improve the results of photoaging.
Keywords: Photoaging, bakuchiol, retinol, cosmoceutical.
Pendahuluan
Bakuchiol merupakan senyawa golongan fenol meroterpen yang ditemukan terutama pada biji Psoralea corylifolia (babchi), dan juga ditemukan pada tanaman lainnya seperti Psoralea glandulosa, Pimelea drupaceae, Ulmus davidiana, Otholobium pubescens, dan Piper longum (1).
Bakuchiol telah banyak digunakan dalam pengobatan India dan Cina, yaitu memiliki efek estrogenik, anti kanker, hepatoprotektif, kardioprotektif, hipoglikemik, antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, mengurangi keriput, anti jerawat dan antihiperpigmentasi kulit (2). Gambar 1 menunjukkan tanaman Psoralea corylifolia (babchi) yang mana pada bagian biji nya terdapat senyawa bakuchiol.
Gambar 1. Tanaman Psoralea corylifolia (babchi), salah satu tanaman yang banyak mengandung senyawa bakuchiol pada bagian bijinya (3)
29
Pada saat ini banyak industri kosmetik menggunakan bakuchiol sebagai bahan aktif pengganti retinol yang umum digunakan dalam sediaan topikal dalam pencegahan dan penanganan jerawat, gangguan pigmentasi seperti melasma dan hiperpigmentasi yang berkaitan dengan photodamage/photoaging (4). Walaupun secara struktur kimia tidak memiliki kemiripan, akan tetapi bakuchiol dan retinol menunjukkan dapat menginduksi ekspresi gen yang sama pada kulit yang terlibat dalam matriks ekstraseluler dan juction dermal-epidermal (5). Penggunaan retinol dan turunannya (retinoid) pada pemberian secara topikal memiliki manifestasi efek samping seperti eritema, pruritus, pengelupasan, rasa terbakar dan sensitivitas kulit. Sedangkan penggunaan bakuchiol tidak menunjukkan efek samping yang ditunjukkan pada kasus penggunaan retinol dan turunannya (6). Oleh karena itu kajian pustaka ini bertujuan untuk meninjau tentang efektivitas sediaan kosmetika yang mengandung bakuchiol dalam penanganan photoaging.
Hasil dan Pembahasan Photoaging
Kulit adalah organ yang kompleks baik secara struktural maupun fungsional. Proses penuaan pada kulit merupakan proses yang alamiah dan setiap orang akan mengalaminya, namun proses penuaan tersebut dapat terjadi lebih cepat yaitu dikenal dengan istilah penuaan dini.
Kulit memiliki tiga lapisan, yaitu epidermis, dermis dan jaringan subkutan. Pada proses penuaan kulit, ketiga lapisan kulit tersebut mengalami perubahan degeneratif, terutama pada bagian dermis. Proses penuaan pada kulit dipengaruhi oleh faktor intrinsik (penuaan kronologis) yang terkait dengan bertambahnya usia, dan faktor ekstrinsik terutama radiasi UV kronis dari sinar matahari (photoaging) (7). Secara klinis, kulit yang menua secara alami ditandai dengan kulit tampak kendur, berkerut, pucat dan menipis. Sedangkan, kulit yang menua akibat photoaging selain menunjukkan tanda-tanda klinis seperti yang telah disebutkan juga dapat terjadi dispigmentasi dan telangiektasia (8,9). Pada proses penuaan kulit terjadi penurunan kemampuan proliferasi sel-sel kulit, penurunan matriks ekstraselular kulit, dan terjadi peningkatan aktivitas enzim yang mendegradasi kolagen di lapisan dermis (7).
Kolagen merupakan komponen utama matriks ekstraselular, dengan kandungan sekitar 25- 35% dari total massa protein. Kolagen memiliki tipe yang berbeda-beda, namun kolagen tipe I dan III adalah yang paling banyak terdapat pada kulit. Kolagen tipe I ditemukan sebanyak 80-90% dari total kandungan kolagen, sedangkan kolagen tipe III terdapat sekitar 8-12%.
Kolagen tipe I dan III mempunyai peran utama bagi kekencangan dan elastisitas kulit (10).
Dalam produksi kolagen terdapat 2 regulator yaitu transforming growth factor-β (TGF-β) yang berfungsi meningkatkan produksi kolagen dan perbaikan luka pada kulit, serta aktivator protein-1(AP-1) yang berfungsi menghambat produksi kolagen dan meningkatkan pemecahan kolagen dengan meningkatkan kerja enzim matriks metalloproteinase (MMPs).
Radiasi sinar ultraviolet akan menginduksi enzim MMPs sehingga terjadi peningkatan ekspresi metalloproteinase yang dapat memicu peningkatan degradasi matriks ekstraseluler dermal, khususnya kolagen tipe I dan III. Paparan radiasi sinar ultraviolet pada kulit menghasilkan reactive oxygen species (ROS) yang berbahaya bagi kulit karena dapat menyebabkan kerusakan oksidatif pada sel, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap kerusakan kolagen. Radiasi sinar ultraviolet A (UVA) pada panjang gelombang 320-400 nm terlibat dalam pembentukan ROS secara tidak langsung yang dapat menyebabkan putusnya untaian DNA. Sedangkan radiasi sinar ultraviolet B (UVB) pada panjang gelombang 290-320
30
nm dapat menginduksi kerusakan DNA melalui interaksi langsung dengan sitokin epidermis menghasilkan mutagenesis DNA dan pembentukan dimer siklobutana (11). Mekanisme selular photoaging yang disebabkan oleh paparan sinar matahari dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Skema mekanisme selular photoaging akibar paparan sinar matahari (11)
Efektivitas Bakuchiol
Sebagai bagian terluar yang dapat terlihat, kesehatan kulit berpengaruh terhadap penampilan seseorang serta dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Sehingga upaya menjaga dan merawat kesehatan kulit terutama pada area wajah menjadi perhatian setiap orang dan juga mendorong perkembangan produk perawatan kulit. Banyak konsumen memilih produk yang berbasis bahan alam dalam mengatasi permasalahan kulit. Saat ini produk yang mengandung bakuchiol merupakan produk yang populer menjadi pilihan dalam pengobatan photoaging.
Gambar 3. Struktur Kimia bakuchiol (C18H24O) (12)
Efektivitas bakuchiol sebagai anti aging telah banyak dibuktikan pada beberapa penelitian yang dapat dilihat pada Tabel 1. Diketahui bahwa bakuchiol dan retinol keduanya secara signifikan dapat mengurangi luas permukaan kerutan dan hiperpigmentasi, namun pada penggunaan retinol dilaporkan terjadi efek samping yang tidak diinginkan seperti rasa gatal, terbakar dan tersengat (1). Sedangkan sediaan yang mengandung bakuchiol aman digunakan untuk pasien dengan kulit sensitif (5). Konsentrasi 0,5 – 1,5% bakuchiol pada sediaan dalam pengobatan photoaging menujukkan keberhasilan terapi yang baik dengan adanya perbaikan dan pengurangan tanda klinis pada penuaan kulit (1,5,6,9,13).
Penelitian penggunaan sediaan bakuchiol secara invitro pada model kulit maupun secara klinis terhadap sukarelawan manusia juga menunjukkan efektivitas pengobatan photoaging.
Paparan radiasi sinar ultraviolet A (UVA) pada Normal Human Dermal Fibroblasts (NHDFs) dapat menginduksi perubahan morfologi NHDFs yang ditandai dengan hilangnya matriks ekstraseluler dan strukturnya, menyebabkan peningkatan ekspresi IL-8 (peradangan) serta menginduksi ekspresi p16 (penuaan). Pengobatan dengan bakuchiol maupun kombinasi bakuchiol dan ekstrak Vanilla tahitensis dapat mengurangi perubahan morfologi fibroblast, mengurangi ekspresi IL-8 dan mencegah ekspresi p16. Sedangkan pengujian klinis pada manusia menunjukkan bahwa penggunaan bakuchiol maupun kombinasinya dengan Vanilla
31
tahitensis dapat mengurangi volume ptosis, mengurangi kedalaman volume deformasi kulit, dapat meningkatkan kecerahan kulit, serta berdasarkan uji toleransi (keamanan) menunjukkan keamanan yang baik pada kulit maupun mata (9).
Tabel 1. Sediaan Bakuchiol Pada Pengobatan Photoaging
Sediaan Prosedur penggunaan Hasil Pustaka
Krim bakuchiol 0,5%.
Digunakan dua kali sehari pada wajah selama 12 minggu
Setelah pengobatan selama 12 minggu, terdapat peningkatan perbaikan yang signifikan terhadap kondisi kerutan dan garis kulit, pigmentasi, elastisitas,
kekencangan dan perbaikan akibat photo-damage.
(6)
Krim Bakuchiol 0,5%
Krim Retinol 0,5%
Randomized double-blind 2 kelompok sukarelawan uji Kelompok 1 : menggunakan krim retinol 0,5% ke seluruh wajah setiap malam hari.
Kelompok 2 : menggunakan krim bakuchiol 0,5% dua kali sehari.
Krim bakuchiol
− Penurunan kerutan pada minggu ke-4 (5%), 8 (6,4%) dan 12 (19%).
− 59% sukarelawan menunjukkan perbaikan hiperpigmentasi pada minggu ke-12.
Krim retinol
− Penurunan kerutan pada minggu ke-4 (8,3%), 8 (11,1%) dan 12 (23,2%).
− Dilaporkan terjadi rasa gatal, terbakar, dan tersengat.
− 44% sukarelawan menunjukkan perbaikan hiperpigmentasi pada minggu ke-12.
(1)
Krim pelembab mengandung 1% bakuchiol.
Digunakan selama 4 minggu pada subyek yang memiliki kulit sensitif, kerutan, warna kulit tidak merata dengan peringkat 3-6 pada skala kerut dan elastosis Fitzpatrick
Hasil : tolerabilitas yang baik pada kulit sensitif dan juga menunjukkan peningkatan kehalusan, kecerahan dan anti aging setelah penggunaan selama 4 minggu.
(5)
Serum wajah mengandung 0,1% melatonin, 0,5% bakuchiol, dan 10%
ascorbyl tetraisopalmitat
Digunakan sebanyak 4-5 tetes setiap malam pada wajah, leher, selama 24 minggu pada subyek dengan fototipe kulit I - V dan penuaan kulit sedang.
Peningkatan perbaikan yang signifikan pada tekstur kulit, pigmentasi, eritema, warna kulit, garis dan kerutan setelah
penggunaan selama 24 minggu.
(13)
Krim bakuchiol Subyek menggunakan bakuchiol dua kali sehari selama 28 hari
Terdapat penurunan tingkat keparahan yang signifikan (p<0,05) pada area post-inflammatory
hyperpigmentation (PIH) yang diinduksi trichloro acetic (TCA) maupun yang diinduksi jerawat.
(12)
Serum
kombinasi 1,5%
bakuchiol dan
Subyek wanita (n=43)
menggunakan serum dua kali sehari selama 56 hari
Ptosis wajah berkurang rata-rata 11- 23%, deformasi kulit berkurang rata-rata 24-30%, dan kecerahan kulit meningkat sebesar 29%.
(9)
32
1% ekstrak Vanilla tahitensis.
Bakuchiol [1-(4-hydroxyphenyl)-3,7-dimethyl-3-vinyl-1,6-octadiene, 1] merupakan senyawa fenolik alami yang mempunyai sifat seperti retinol. Bakuchiol dapat merangsang kolagen dalam fibroblas dewasa, mengaktifkan ekspresi gen yang terlibat dalam pertahanan antioksidan, dan juga meningkatkan gen yang terlibat dalam memperbaiki ECM (Matriks ekstraselular) dan dermoepidermal juction (14,15). Bakuchiol ditemukan terutama pada biji Psoralea corylifolia (babchi). Ekstrak metanol Psoralea corylifolia mempunyai aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 DPPH sebesar 0,14 mg/L (16). Bakuchiol juga mempunyai aktivitas penghambatan terhadap kolagenase (IC50 0,1% b/b) dan elastase (IC50 1- 5 mcg/mL), sedangkan sebaliknya pada retinol tidak menunjukkan efek penghambatan pada elastase. Kolagenase merupakan enzim yang mampu mendegradasi ikatan polipeptida dari kolagen sedangkan elastase merupakan enzim yang memiliki kemampuan mendegradasi elastin (17).
Kesimpulan dan Saran
Sediaan kosmetika topikal yang mengandung bakuchiol dengan konsentrasi 0,5-1,5%
menunjukkan profil keamanan yang baik serta efektif dalam mengobati photoaging. Bakuchiol juga memiliki efek farmakologi lain sehingga bisa dikembangkan menjadi sediaan farmasi lain yang tidak hanya berkhasiat sebagai anti-photoaging, seperti misalnya antikanker atau penyembuh luka. Uji toksisitas juga diperlukan untuk mengetahui keamanan dari senyawa bakuchiol ini.
Referensi
1. Dhaliwal S, Rybak I, Ellis SR, Notay M, Trivedi M, Burney W, et al. Prospective, randomized, double-blind assessment of topical bakuchiol and retinol for facial photoageing. Br J Dermatol. 2019;180(2):289–96.
2. Jafernik K, Halina E, Ercisli S, Szopa A. Characteristics of bakuchiol - the compound with high biological activity and the main source of its acquisition - Cullen corylifolium (L.) Medik. Nat Prod Res [Internet]. 2021;35(24):5828–42. Available from:
https://doi.org/10.1080/14786419.2020.1837813
3. Alam F, Khan GN, Asad MHH Bin. Psoralea corylifolia L: Ethnobotanical, biological, and chemical aspects: A review. Phyther Res. 2018;32(4):597–615.
4. Callender VD, Baldwin H, Cook-Bolden FE, Alexis AF, Stein Gold L, Guenin E. Effects of Topical Retinoids on Acne and Post-inflammatory Hyperpigmentation in Patients with Skin of Color: A Clinical Review and Implications for Practice. Am J Clin Dermatol.
2022;23(1):69–81.
5. Draelos ZD, Gunt H, Zeichner J, Levy S. Clinical Evaluation of a Nature-Based Bakuchiol Anti-Aging Moisturizer for Sensitive Skin. J Drugs Dermatol.
2020;19(12):1181–3.
6. Chaudhuri RK, Bojanowski K. Bakuchiol: A retinol-like functional compound revealed by gene expression profiling and clinically proven to have anti-aging effects. Int J Cosmet Sci. 2014;36(3):221–30.
7. Ahmad Z, Damayanti. Penuaan Kulit : Patofisiologi dan Manifestasi Klinis. Berk Ilmu Kesehat Kulit dan Kelamin – Period Dermatology Venereol [Internet]. 2018;30(03):208–
15. Available from:
http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=850430&val=7405&title
33
=Penuaan Kulit: Patofisiologi dan Manifestasi Klinis
8. Khavkin J, Ellis DAF. Aging Skin: Histology, Physiology, and Pathology. Facial Plast Surg Clin North Am [Internet]. 2011;19(2):229–34. Available from:
http://dx.doi.org/10.1016/j.fsc.2011.04.003
9. Bacqueville D, Maret A, Noizet M, Duprat L, Coutanceau C, Georgescu V, et al. Efficacy of a dermocosmetic serum combining bakuchiol and vanilla tahitensis extract to prevent skin photoaging in vitro and to improve clinical outcomes for naturally aged skin. Clin Cosmet Investig Dermatol. 2020;13:359–70.
10. Shin JW, Kwon SH, Choi JY, Na JI, Huh CH, Choi HR, et al. Molecular mechanisms of dermal aging and antiaging approaches. Int J Mol Sci. 2019;20(9).
11. Poon F, Kang S, Chien AL. Mechanisms and treatments of photoaging. Photodermatol Photoimmunol Photomed. 2015;31(2):65–74.
12. Lyons AB, Kohli I, Nahhas AF, Braunberger TL, Mohammad TF, Nicholson CL, et al.
Trichloroacetic acid model to accurately capture the efficacy of treatments for postinflammatory hyperpigmentation. Arch Dermatol Res [Internet]. 2020;312(10):725–
30. Available from: https://doi.org/10.1007/s00403-020-02071-4
13. Goldberg DJ, Mraz-Robinson D, Granger C. Efficacy and safety of a 3-in-1 antiaging night facial serum containing melatonin, bakuchiol, and ascorbyl tetraisopalmitate through clinical and histological analysis. J Cosmet Dermatol. 2020;19(4):884–90.
14. Goldberg DJ, Robinson DM, Granger C. Clinical evidence of the efficacy and safety of a new 3-in-1 anti-aging topical night serum-in-oil containing melatonin, bakuchiol, and ascorbyl tetraisopalmitate: 103 females treated from 28 to 84 days. J Cosmet Dermatol.
2019;18(3):806–14.
15. Narda M, Brown A, Muscatelli-Groux B, Grimaud JA, Granger C. Epidermal and Dermal Hallmarks of Photoaging are Prevented by Treatment with Night Serum Containing Melatonin, Bakuchiol, and Ascorbyl Tetraisopalmitate: In Vitro and Ex Vivo Studies. Dermatol Ther (Heidelb). 2020;10(1):191–202.
16. Singh N, Gautam GK, Ved A. Antioxidant Potential of Psoralea corylifolia and Psoralea esculenta seeds: Comparative Study. J Drug Deliv Ther. 2019;9(3-s):740–3.
17. Chaudhuri RK, Marchio F. Bakuchiol in the Management of Acne-affected Skin. Cosmet Toilet [Internet]. 2011;126(7):502–10. Available from: www.CosmeticsandToiletries.com