:: repository.unisba.ac.id ::
BUNGA RAMPAI (BOOK CHAPTER) PROGRAM STUDI FARMASI
PENGARAH
Dekan Fakultas MIPA Universitas Islam Bandung PENANGGUNG JAWAB
(Ketua Program Studi Farmasi) apt. Sani Ega Priani, M.Si.
KETUA REDAKSI (Dosen Program Studi Farmasi) apt. Gita Cahya Eka Darma, S.Farm., M.Si.
ANGGOTA REDAKSI (Dosen Program Studi Farmasi) apt. Vinda Maharani Patricia, M.Si.
apt. Hanifa Rahma, M.Si.
apt. Farendina Suarantika, M.S.Farm.
Alamat Redaksi
Tim Bunga Rampai (Book Chapter) Program Studi Farmasi Gedung Fakultas MIPA – Universitas Islam Bandung
Jalan Rangga Gading No. 8, Taman Sari, Bandung Wetan, Bandung – Jawa Barat (40116) Surel: [email protected] Website: https://farmasi.unisba.ac.id/
:: repository.unisba.ac.id ::
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmannirrahim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahi rabbil ’alamin, segala puja puji adalah Hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah melimpahkan Rahmat, Hidayah dan Bimbingan-Nya sehingga ikhtiar penyusunan buku Bunga Rampai (Book Chapter) Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Islam Bandung ini dapat berjalan dengan baik. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Baginda Rasulullah, Muhammad Shollahu’alaihi wa Salam, keluarga, sahabat dan segenap umat yang dicintai beliau hingga akhirul zaman. Insyaa Allah kita termasuk dalam barisan Baginda saat Yamul Hisab kelak. Aamiin aamiin yaa mujibas saailiin
Bunga Rampai bertemakan “MENGGALI KANDIDAT BAHAN ALAM SEBAGAI OBAT MODERN ASLI INDONESIA DAN METODE POTENSIAL DALAM PENGEMBANGAN SEDIAAN FARMASI” ini merupakan langkah konkret kami berperan aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Buku ini disampaikan dalam bentuk karya ilmiah berbasis pada bidang farmasi yang terdiri dari 4 (empat) kelompok bidang keilmuan, yaitu: (1) Farmakologi Toksikologi; (2) Farmasetika (Teknologi Farmasi); (3) Farmakokimia; dan (4) Farmasi Bahan Alam.
Buku ini bertujuan memberikan informasi dan pemahaman eduatif kepada Ummat baik khalayak maupun rekan-rekan tenaga kesehatan, tentang kandidat bahan alam dan metode potensial dalam pengembangan sediaan farmasi. Insyaa Allah kami juga mencoba untuk menyajikan perspektif Islami berlandaskan pada kaedah Islam yang berorientasi pada pemanfaatan bahan alam sebagai pengejawantahan salah satu visi misi Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Islam Bandung.
Akhirul kalam, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam terbitnya buku ini. Juga kami mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya, sebab pasti ada salah atau khilaf yang murni itu datangnya dari kami.
Sedang yang Baik dan Benar itu mutlak milik Sang Maha Guru Allah subhanhu wa ta’ala, sehingga kritik dan saran sangat kami harapkan untuk meningkatkan kualitas penulisan di masa mendatang. Jazakumullahu khoir, “Semoga kebaikan dari Allah subhanhu wa ta’ala senantiasa tercurah untuk kita semuanya”.
Billahi fii sabililhaq, Wassalamu’alaikum warahamtullahi wabarakatuh
Bandung, 18 Jumadil Akhir 1443H 21 Januari 2022M
Ketua Redaksi Bunga Rampai (Book Chapter) Program Studi Farmasi,
apt. Gita Cahya Eka Darma, S.Farm., M.Si.
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
1 Review: Potensi Rambutan (Nephelium lappaceum L.) dalam Pengobatan Sindrom Metabolik
Dr. apt. Umi Yuniarni, M.Si. 1
2 Nanofiber dalam Sistem Penghantaran Obat: Sebuah Selayang Pandang
Aulia Fikri Hidayat, M.Si. 7
3 Potensi Daun Jambu Air (Eugenia aqueum (Burm. F) Alston) dalam Bidang Kesehatan yang Luput dari Perhatian Masyarakat
Dr. apt. Suwendar, M.Si. 17
4 Potensi Limbah Pertanian Sebagai Sumber Senyawa Bioaktif Antivirus
apt. Kiki Mulkiya, M.Si. 23
5 Menggali Khasiat Farmakologi Tumbuhan Langka Kupa (Syzigium polychepalum (Miq.) Merr. & L.M.Perry)
Siti Hazar, M.Si.; apt. Ratih Aryani, M.Farm.; apt. Yani Lukmayani, M.Si. 30 6 Potensi Tanaman Tembakau (Nicotiana tabacum L.) Sebagai Salah Satu
Diversifikasi Produk di Bidang Farmasi
apt. Vinda Maharani Patricia, M.Si. 36
7 Fitokimia dan Efek Farmakologi dari Tanaman Mimba (Azadirachta indica Juss.)
apt. Farendina Suarantika, M.S.Farm. 46
8 Potensi Minyak Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) Sebagai Antijerawat
apt. Hanifa Rahma, M.Si. 55
9 Farmasi Plasma sebagai Teknologi Pengobatan Tanpa Obat
apt. Gita Cahya Eka Darma, S.Farm., M.Si. 62
PENUTUP 72
:: repository.unisba.ac.id ::
30
Menggali Khasiat Farmakologi Tumbuhan Langka Kupa (Syzigium polychepalum (Miq.) Merr. & L.M.Perry)
Siti Hazar1, Ratih Aryani2, Yani Lukmayani3
1,2,3 Program Studi Farmasi, Fakultas MIPA, Bandung, Jawa Barat, Indonesia
1[email protected]; 2[email protected]; 3[email protected]
Abstrak
Tanaman kupa (Syzygium polycephalum (Miq.) Merr. & L.M.Perry) disebut juga dengan gowok adalah tanaman asli Indonesia yang termasuk dalam Famili Myrtaceae. Keberadaan tanaman ini semakin langka karena kurangnya pemanfaatan oleh masyarakat sehingga keberadaan tanaman ini semakin jarang. Beberapa penelitian telah dilakukan dan menunjukkan bahwa beberapa bagian tanaman kupa ini memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dikarenakan adanya golongan senyawa polifenol, flavonoid, dan tannin. Adanya kandungan senyawa tersebut membuat tanaman kupa (syzygium polycephalum) ini selain berpotensi sebagai anioksidan juga memiliki aktivitas farmakologi diantranya antijamur, antibakteri, antihiperurisemia dan berpotensi sebagai bahan pigmen alami.
Kata kunci: Kupa, gowok, Syzigium polychepalum, antioksidan Abstract
The kupa plant (Syzygium polycephalum (Miq.) Merr & L.M.Perry) or gowok is a native Indonesian plant that belongs to the Myrtaceae family. The existence of this plant is increasingly rare due to lack of utilization by the community so that the existence of this plant is increasingly rare. Several studies have been conducted and show that some parts of this kupa plant have high antioxidant activity due to the presence of polyphenolic compounds, flavonoids, and tannins. The presence of these compounds makes kupa plant has pharmacological activities including antifungal, antibacterial, antihyperuricemic, and potential as a natural pigment.
Keywords: Kupa, gowok, Syzigium polychepalum, antioxidant Pendahuluan
Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar kedua setelah Brazil dari segi flora dan fauna darat, bahkan tertinggi jika digabungkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di lautan (1). Kekayaan hayati khususnya flora Indonesia masih banyak yang belum tergali manfaatnya. Karena kurangnya informasi mengenai manfaat tanaman tersebut, seringkali tanaman tersebut menjadi tidak termanfaatkan untuk dikonsumsi bahkan mengalami kepunahan. Salah satu tanaman tersebut adalah kupa (Syzygium polucephalum) atau biasa dikenal dengan sebutan Gowok (3).
Hasil dan Pembahasan
Tanaman kupa (Syzygium polucephalum) merupakan tanaman Genus Syzygium yang termasuk ke dalam Famili Myrtaceae. Banyak tanaman obat yang termasuk ke dalam Famili Myrtaceae, salah satu genus yang paling banyak dan telah diteliti memiliki potensi sebagai tanaman obat adalah Genus Syzygium (2). Beberapa tanaman dari genus Syzygium yang telah diteliti dan diketahui memiliki efek farmakologi serta berpotensi sebagai tanaman obat diantaranya Syzygium aqueum, S. aromaticum, S. cumini, S. guineense, dan S. samarangense (2).
Namun, salah satu tanaman dari Genus Syzygium ini, yaitu Kupa atau Gowok (Syzygium
31
polycephalum) belum banyak ditelaah mengenai efek farmakologinya dan juga keberadaannya semakin langka. Sehingga pada artikel ini, dirangkum beberapa hasil penelitian farmakologi dari tanaman Kupa atau Gowok (Syzygium polycephalum).
Tanaman Kupa atau Gowok (Syzygium polycephalum) merupakan endemik Indonesia, terutama banyak ditemukan di daerah Jawa dan Kalimantan (3). Tanaman kupa termasuk tanaman menahun (perennial), ditemukan tumbuh secara liar di hutan sekunder dengan ketinggian antara 200-1800 mdpl, atau sudah dibudidayakan di pekarangan oleh penduduk.
Berikut ini adalah susunan tingkatan taksonomi dari tanaman kupa (Syzygium polycephallum), dimana informasi data taksonomi diperoleh dari website Plant of the World Online (https://powo.science.kew.org/).
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta Class : Magnoliopsida Order : Myrtales Family : Myrtaceae Genus : Syzygium
Species : Syzygium polycephalum (Miq.) Merr. & L.M.Perry Nama Umum : Gowok/Kupa
Habitus tanaman kupa (Syzygium polucephalum) berupa pohon dengan tinggi sekitar 8-20 m.
Bentuk daun lonjong atau lonjong-lanset. Buah berbentuk bundar, daging buah lunak berwarna putih atau ungu pink, dengan rasa manis asam. Buah berwarna ungu tua ketika matang (3). Gambar buah kupa atau gowok dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Buah kupa (Syzygium polycephalum) yang matang, berbentuk bundar berwarna ungu tua dan kulit buah mengkilat (3).
Berdasarkan studi etnofarmakologi yang telah dilakukan, diketahui bahwa kulit batang tanaman kupa (Syzygium polycephalum) biasa digunakan oleh masyarakat Suku Sunda untuk mengobati disentri (4). Kayu tanaman kupa (Syzygium polycephalum) juga dikenal kuat dan memiliki keawetan alami, yang ternyata keawetan alami ini karena adanya kandungan zat anifungi pada kayu kupa yang dapat mencegah kayu dari lapuk akibat jamur (5). Selain kayu, buah kupa juga dikonsumsi masyarakat.
Beberapa hasil penapisan fitokimia pada kupa diketahui bahwa ekstrak metanol kulit batang tanaman kupa (Syzygium polycephalum) mengandung metabolit sekunder golongan senyawa alkaloid, fenolik, flavonoid, tannin, dan saponin (6). Pada ekstrak etanol 95% daging buah dan biji kupa mengandung alkaloid, flavonoid, tannin, polifenol, steroid, terpenoid,
:: repository.unisba.ac.id ::
32
monoterpen dan seskuiterpen (7). Metabolit sekunder dihasilkan oleh tumbuhan dapat berfungsi dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, sebagai respon pertahanan dalam mempertahankan diri dari serangan hama dan penyakit serta berkompetisi dengan makhluk hidup lain di sekitarnya. Sedangkan bagi manusia, kandungan metabolit sekunder dari tumbuhan tersebut dapat digunakan dalam pengobatan (8).
Dua senyawa fenol yang telah berhasil diisolasi dari kulit batang kupa (Syzygium polycephalum) diantaranya adalah asam galat dan 3,4,3’-tri-O-methylellagic acid (9). Asam galat merupakan senyawa asam fenolat yang paling melimpah ditemukan pada tanaman.
Asam galat dapat menghambat proses oksidasi dan ketengikan pada minyak, sehingga asam galat dapat digunakan sebagai pengawet dalam industri makanan (10). Selain itu juga asam galat memiliki aktivitas farmakologi diantaranya aktivitas antioksidan, antimikroba, antiinflamasi, antikanker, kardioprotektif, gastroprotektif, dan neuroprotektif (10).
Mekanisme kerja asam galat sebagai antimikroba diantranya mampu merusak integritas dinding sel bakteri Gram-positif dan Gram-negatif, mengubah potensial membrane sel, menyebabkan hidrofobisitas, dan mengubah permeabilitas membrane sel. Asam galat juga mampu menghambat motilitas dan pembentukkan biofilm pada beberapa bakteri yaitu Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans, Chromobacterium violaceum, and Listeria monocytogenes (10).
Berikut ini adalah kajian farmakologi buah kupa yang ditinjau dari kandungan senyawa metabolit sekundernya.
Antijamur
Kandungan nutrisi dari buah kupa belum banyak diteliti dan dilaporkan. Kegunaan tanaman kupa biasanya bagian kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan (3). Kayu dari tanaman kupa ini dikenal awet dan tahan lama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu kupa (Syzygium polycephalum) memiliki sifat antijamur terhadap Schizophyllum commune Fr dan Pleurotus sp (5). Kedua jamur ini merupakan jamur yang tumbuh pada kayu dan dapat membuat kayu menjadi lapuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak n-heksan paling efektif menghambat pertumbuhan Schizophyllum commune Fr pada kosentrasi 50 ppm, dengan nilai persentase penghambatan pertumbuhan jamur berkisar 60-69%, dan ekstrak etil asetat paling efektif menghambat pertumbuhan Pleurotus sp pada kosentrasi 250 ppm, dengan nilai persentase penghambatan pertumbuhan jamur sebesar 41-69% (5).
Pada penelitian tersebut, juga dilakukan isolasi senyawa yang diduga berindak sebagai antijamur. Senyawa tersebut adalah senyawa flavonol yang rermasuk ke dalam golongan senyawa flavonoid (5). Dari hasil penelitian tersebut, memberikan informasi bahwa adanya golongan senyawa flavonoid dalam tanaman kupa mampu bertindak sebagai antijamur.
Sehingga, dapat dikembangkan penelitian antijamur dari tanaman kupa terhadap jamur penyebab infeksi pada manusia salah satunya jamur penyebab infeksi pada kulit.
Antibakteri
Senyawa asam heksadekanoat dan 3-etilpropanoat merupakan isolat yang didapatkan dari hasil isolasi daun kupa (Syzygium polycephalum Miq.) dengan menggunakan metode spektroskopi H-NMR dan GC-MS (11). Senyawa asam heksadekanoat bersifat bakterisida terhadap Salmonella thypi dan bersifat fungistatik terhadap Aspergillus flavus (12). Mekanisme kerja antibakteri dari asam heksadekanoat yaitu dengan merusak dinding sel bakteri, dimana keutuhan membran sel terganggu sehingga membran sel akan menggelembung dan akhirnya lisis. Hal ini disebabkan adanya reaksi esterifikasi antara asam heksadekanoat
33
dengan gugus hidroksi dari lipopolisakarida penyusun dinding sel bakteri (13). Penelitian lainnya menyebutkan bahwa ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol 96% buah kupa memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans pada konsentrasi 1 % dengan diameter zona hambat berturut-turut 4,15±0,07 dan 6,45±0,07 mm (14).
Antioksidan
Selain sebagai antijamur, kulit kayu kupa (Syzygium polycephalum Miq.) memiliki aktivitas antioksidan dan memiliki aktivitas penghambatan alfa-glukosidase Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit kayu kupa yang diekstraksi dengan cara refluks memiliki aktivitas antioksidan yang paling baik dengan nilai IC50 sebesar 19,325 µg/ml. Dimana, hasil penapisan fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak kulit kayu kupa mengandung flavonoid, tannin, senyawa fenol, quinon, saponin, dan steroid/triterpenoid. Sedangkan fraksi etanol kulit kayu kupa memiliki aktivitas penghambatan alfa-glukosidase paling baik, dengan nilai IC50 sebesar 2,97 µg/mL. Para peneliti tersebut menjelaskan bahwa penghambatan aktivitas alfa-glukosidase disebabkan adanya senyawa bahan alam dari golongan terpenoid, flavonoid dan senyawa fenol (15).
Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa ekstrak etanol biji kupa (Syzygium polycephalum Miq.) memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 5,246 ppm.
Sedangkan ekstrak etanol daging buah kupa (Syzygium polycephalum Miq.) memiliki aktivitas antioksidan kuat dengan nilai IC50 sebesar 60,187 ppm (7).
Antihiperurisemia
Hiperurisemia merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan kadar asam urat di atas normal yang produksinya dikatalisis oleh enzim xantin oksidase. Enzim xantin oksidase (XO) mengkatalis hidroksilasi dari hipoxantin menjadi xantin dan xantin menjadi asam urat.
Ekstrak etanol, fraksi n-Heksan, fraksi etil asetat dan fraksi etanol-air 20% daun kupa memiliki aktivitas XO dengan nilai IC50 secara berturut-turut 77,67; 241,06; 41,21; dan 62,98 µg/mL. Senyawa metabolit sekunder dalam daun kupa yang memiliki aktivitas penghambatan xantin oksidase tersebut adalah flavonoid, polifenol dan tannin (16).
Pigmen Alami
Antosianin merupakan sumber pigmen alami yang berasal dari tumbuhan. Antosianin merupakan pigmen yang memberikan warna merah, biru dan ungu pada buah dan bunga.
Ekstraksi kulit buah kupa dengan pelarut etanol yang diasamkan dengan HCl 1%
menghasilkan kandungan total antosianin sebesar 5,69 g/L dengan aktivitas antioksidan IC50
2,89 mg/L (17). Pigmen alami dari ekstrak kulit buah kupa ini telah dimanfaatkan sebagai pewarna alami pada sediaan lipstik. Berdasarkan penelitian Dwicahyani et al (2019) pada konsentrasi 10% dan 15% ekstrak kulit buah kupa dapat memberikan warna yang baik dalam sediaan lipstik dan stabil pada kondisi penyimpanan suhu ruang (25oC) selama 4 minggu (19).
Kesimpulan dan Saran
Limbah pertanian berupa bagian kulit, ternyata memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai antivirus terhadap beberapa jenis virus antara lain SARS-Cov-2, Human noroviruses, dengue virus (DENV), dan virus herpes simplex. Hal ini diduga bahwa limbah-limbah tersebut memiliki berbagai kandungan senyawa fitokimia di dalamnya antara lain hesperidin, tangeretin, hyperin, avicularin, phloridzin, dand glikosida phloretin.
:: repository.unisba.ac.id ::
34
Umumnya penelitian tersebut masih dilakukan secara in vitro sehingga sangat mungkin untuk dilanjutkan ke dalam pengujian secara in vivo.
Referensi
1. Widjaja, E.A., Y. Rahayuningsih, J.S. Rahajoe, R. Ubaidillah, I. Maryanto, E. B. Walujo dan G. Semiadi. 2014. Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia. Jakarta: LIPI Press.
2. Aung, Ei Ei, A.N. Kristanti, N.S. Aminah, Y. Takaya and R. Ramadhan. 2020.
Plant description, phytochemical constituents and bioactivities of Syzygium genus: A review.
Open Chemistry. 18: 1256 – 1281.
3. Lim, T.K. 2012. Edible Medicinal and Non-Medicinal Plants, Fruits. Volume 3. Springer Science.
4. Roosita, K. C.M. Kusharto, M. Sekiyama, Y. Fachrurozi, and R. Ohtsuka. 2007. Medicinal plants used by the villagers of a Sundanese community in West Java, Indonesia. Journal of Ethnopharmacology. 115 (72-81).
5. Jemi, R., W. Syafir, F. Febrianto, dan M. Hanafi. 2010. Sifat Antijamur Kayu Kupa (Syzygium polycephalum (Mig)). Jurnal Ilmu dan Tekmologi Kayu Tropis. Vol. 8, No. 2. Hal:
93-108.
6. Tukiran, A. P. Wardana, E. Nurlaila, A.M. Santi, dan N. Hidayati. 2016. Analisis awal fitokimia pada ekstrak metanol kulit batang tumbuhan Syzygium (Myrtaceae). Jurnal Kimia FMIPA Universitas Negeri Surabaya.
7. Nurmalasari, T., S. Zahara, N. Arisati, P. Mentari, Y. Nurbaeti, T. Lestari, dan I.
Rahmayanti. 2016. Uji aktivitas antioksidan ekstrak buah kupa (Syzygium polycephalum) terhadap radikal bebas dengan metode DPPH. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Vol.
16, No. 1. Hal 61-68.
8. Pang Z., Chen J., Wang T., Gao C., Li Z., Guo L., Xu J et al. 2021. Linking Plant Secondary Metabolites and Plant Microbiomes: A Review. Front. Plant Sci. 12(621276):
1-22.
9. Tukiran, A.P. Wardhana, N. Hidajati, K. Shimizu. 2018. Two phenolic compounds from chloroform fraction of Syzygium polycephalum Miq. stem bark (Myrtaceae). Molekul. Vol 13 No. 1, pp: 23-59.
10. Kahkeshani, N., F. Farzaei, M. Fotouhi, S.S. Alavi, R. Bahramsoltani, R. Naseri, S.
Momtaz, Z. Abbasabadi, R. Rahimi, M.H. Farzaei, and A. Bishayee. 2019.
Pharmacological effects of gallic acid in health and diseases: A mechanistic review. Iran
Journal Basic Medical Science, Vol. 22, No. 3. Pp: 225 – 237.11. Choironi N.A., Insani K.N., Parika D., Sunarto, Martinus A., Fareza M.S. 2019. Isolasi dan Characterizes Senyawa Non Fenolik dari Daun Gowok (Syzygium polycephalum Miq.). Media Pharmaceutica Indonesiana, 2(3): 140-145.
12. Sjafarenan, Johannes E., Tuwo M. 2021. Efektivitas Senyawa Asam Heksadekanoat dan β-Sitosterol Isolat dari Hydroid Aglaophenia cupressina Lamoureoux Sebagai Bahan Antimikroba Pada Bakteri Salmonella thypi dan Jamur Aspergillus flavus. Jurnal Biologi Makassar, 6(1):99-106.
13. Johannes, E. 2013. Pemanfaatan senyawa bioaktif hasil isolasi hydroid Aglaophenia cupressina Lamoureoux sebagai bahan sanitizer pada buah dan sayuran segar.
{Disertasi}. Prodi Ilmu Pertanian, Jurusan Teknologi Pangan, Program Pascasarjana, Universitas Hasanuddin.
14. Shaliha Z.A. 2021. Formulasi Sediaan Pasta Gigi Ekstrak Buah Kupa (Syzygium polycephalum (Miq) Merr & L.M.Perry) dan Uji AktivitasAntibakteri Terhadap Streptococcus mutans. Skripsi. STIKes BTH. Tasikmalaya.
35
15. Juanda, D., W. Aligita, Elfahmi, R. Hartati, and S. Musaad. 2018. Antioxidant and alpha glucosidase inhibition activity of Kupa (Syzygium polycephalum Miq.) cortex. International Journal of Pharmaceutical and Phytopharmacological Research (eIJPPR). Volume 8. Issue 3.
Page 33-38.
16. Ishmah F.Z. 2019. Uji Aktivitas Inhibisi Xantin Oksidase dari Ekstrak dan Fraksi Daun Kupa (Syzygium polycephalum (Miq.) Merr. & L.M. Perry). Laporan Tugas Akhir. Sekolah Tinggi Farmasi Bandung.
17. Irnawati., Zubaydah W.O.S., Arifah. Anthocyanin Total and Antioxidant Activity of Ruruhi (Syzygium polycephalum Merr.) Fruits. Pharmacon, 6(3): 169-175.
18. Dwicahyani U., Isrul M., Noviyanti W.O.N. Formulasi Sediaan Lipstik Ekstrak Kulit Buah Ruruhi (Syzygium polycephalum Merr.) Sebagai Pewarna. Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia, 5(2):91-103.
:: repository.unisba.ac.id ::