Judul Penelitian: WARISAN BUDAYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH DAN POTENSI WISATA EDUKASI DI KABUPATEN CILACAP. Secara teoritis, hasil penelitian dapat digunakan untuk pengembangan pendidikan sejarah dan wisata pusaka. Untuk pembelajaran sejarah, hasil penelitian dapat digunakan untuk membantu guru mengembangkan metode pembelajaran, media dan sumber daya yang memanfaatkan keberadaan warisan budaya.
Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi cagar budaya di wilayah Cilacap untuk menjadi sumber pembelajaran sejarah dan wisata edukasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Cilacap memiliki 84 potensi situs cagar budaya yang dapat dikembangkan sebagai wisata edukasi dan sumber belajar.
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Penelitian
Apa saja cagar budaya di Kabupaten Cilacap yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah dan wisata edukasi di Kabupaten Cilacap. Bagaimana strategi yang dapat digunakan untuk memanfaatkan warisan budaya sebagai sumber belajar dan wisata pendidikan di Kabupaten Cilacap. 1.Menyelidiki pemanfaatan cagar budaya sebagai sumber pembelajaran sejarah dan wisata pendidikan di Kabupaten Cilacap.
2.Untuk mengidentifikasi cagar budaya di Kabupaten Cilacap yang dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah dan wisata pendidikan di Kabupaten Cilacap. 4.Menemukan strategi pemanfaatan cagar budaya sebagai sumber belajar sejarah dan wisata pendidikan di Kabupaten Cilacap.
KAJIAN PUSTAKA
Cagar Budaya sebagai Sumber Belajar Sejarah
Kawasan Cagar Budaya adalah kesatuan ruang geografis yang memiliki dua atau lebih Situs Cagar Budaya yang letaknya berdekatan dan/atau memiliki ciri keruangan yang unik. Dengan perannya dalam pemulihan sosial, warisan budaya merupakan salah satu sumber utama yang sangat penting dalam mengasah kemampuan kritis dan analitis siswa dalam pembelajaran sejarah. Argumen ini didukung oleh keberadaan cagar budaya sebagai saksi mata peristiwa sejarah, sehingga tidak heran bila cagar budaya dijadikan sebagai sumber pembelajaran sejarah.
Pendapat senada disampaikan oleh Adiatama Nugraha Yudha (2012), bahwa pemanfaatan cagar budaya dapat lebih optimal jika guru menggunakan outdoor learning. Dengan demikian, pembelajaran sejarah dengan memanfaatkan warisan budaya akan memberikan kontribusi yang signifikan jika guru menyajikannya dengan metode yang tepat.
Konsep Wisata Edukatif
Wisata pendidikan atau Edu-tourism yang berkembang sejak tahun 1980-an merupakan program perjalanan ke suatu tempat tertentu dengan tujuan utama memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan langsung dengan lokasi yang dikunjungi (Rodger, 1998, hlm. 28). Dengan kata lain, wisata edukasi merupakan konsep wisata yang menggunakan pendidikan pengetahuan non formal bagi wisatawan yang berkunjung ke suatu objek wisata.
Cagar Budaya sebagai Wisata Edukatif
Murzyn-Kupisz dan Dzialek (2013) menawarkan keuntungan lain dari pemanfaatan cagar budaya, antara lain cagar budaya dapat berfungsi sebagai (1) “tempat komunitas”. Stetic (2012) mengemukakan bahwa bangunan bersejarah dan cagar budaya merupakan salah satu motivasi dasar seseorang untuk berwisata, bersama dengan motivasi lainnya yaitu rekreasi, ketenangan pikiran, keindahan alam, adat istiadat dan iklim yang menyenangkan. Hal ini menunjukkan bahwa cagar budaya merupakan salah satu sarana wisata yang cukup mampu menarik wisatawan jika dikelola dan dikemas dengan baik.
Benda cagar budaya yang terpelihara dengan baik akan memberikan kontribusi ekonomi secara langsung yaitu meningkatkan devisa negara melalui pariwisata. Rencana Aksi Strategis implementasi Konvensi mengintegrasikan pembangunan berkelanjutan sebagai bagian dari konservasi warisan budaya, dengan fokus pada perlindungan dan pelestarian warisan budaya, dengan mempertimbangkan kebutuhan lingkungan, sosial dan ekonomi saat ini dan di masa depan, yang kemudian dikelola dalam konsep “menghubungkan konservasi dengan masyarakat”.
METODE PENELITIAN
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Desain Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Diagram Fishbone
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder Data primer diperoleh dari wawancara dan observasi, sedangkan data sekunder diperoleh dari analisis dokumen yang mendukung data primer. Selanjutnya data yang diperoleh diuji keabsahannya dengan menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik triangulasi metode. Teknik triangulasi sumber/data memandu peneliti sehingga dalam mengumpulkan data wajib menggunakan berbagai sumber data yang tersedia.
Artinya, data yang sama atau serupa akan lebih dapat dipercaya bila diekstrak dari beberapa sumber data yang berbeda. Menurut Sutopo, teknik triangulasi ini dapat dilakukan oleh seorang peneliti dengan cara mengumpulkan data yang serupa tetapi dengan teknik atau metode pengumpulan data yang berbeda dan lebih jelasnya lagi berusaha menyasar sumber data yang sama untuk menguji kemantapan informasi tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Geografis Kabupaten Cilacap
Daerah tertinggi adalah Kecamatan Dayeuhluhur dengan ketinggian 198 M dpl dan daerah terendah adalah Kecamatan Kampung Laut dengan ketinggian rata-rata 1 M dpl. Secara administratif Kabupaten Cilacap terbagi menjadi 24 kecamatan, 269 desa dan 15. BPS Cilacap, 2016) Berikut adalah tabel letak geografis kecamatan di wilayah Kabupaten Cilacap. Lahan di wilayah Kabupaten Cilacap -tidak termasuk Pulau Nusakambangan- seluas 213.850 Ha, dimana lahan ini terbagi menjadi dua bagian yaitu sawah dan lahan kering.
Menurut sebaran penduduk menurut kecamatan pada tahun 2015, Kecamatan Majenang merupakan yang terpadat yaitu sebanyak 128.317 jiwa (7,21 persen), diikuti Kecamatan Gandrungmangu sebanyak 105.989 jiwa (5,95 persen) dan selanjutnya Kecamatan Kroya sebanyak 104.280 jiwa (5,86 persen). . ). Seiring bertambahnya jumlah penduduk, kepadatan penduduk juga meningkat, dari 830 jiwa/km2 pada data tahun 2014 menjadi 833 jiwa/km2 pada tahun 2015. Seperti tahun sebelumnya, kabupaten terpadat adalah Cilacap Selatan (8.628 jiwa/km2). km2) dan kepadatan terendah adalah Kecamatan Kampung Laut (118 jiwa/km2).
Sejarah dan Profil Cilacap
Ekspansi Mataram ke Kabupaten Galuh yang berada di bawah Kerajaan Cirebon pada tahun 1595 juga merupakan bagian penting dari penaklukan beberapa daerah yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Cilacap. Akibatnya, pada tahun 1844 Mayor Jenderal Von Gagern melakukan perjalanan keliling Jawa untuk mempelajari sistem pertahanan yang tepat. Pada tahun 1850 terjadi bencana malaria di Cilacap yang menyebabkan banyak penduduk Cilacap terjangkit penyakit ini.
Van Zoonen, tt) Hingga akhirnya pada tahun 1879 Benteng Cilacap yang terletak di sebelah utara menghadap ke pantai Teluk Penyu dianggap selesai, yang kemudian diberi nama Kusbatterj. Pada tahun 1905, Belanda kembali mendatangkan pasukan ke Cilacap - setelah wabah malaria berhasil diatasi dengan penggunaan kelambu - termasuk kompi infanteri dan pasukan artileri.
Potensi Cagar Budaya di Kabupaten Cilacap sebagai Sumber Belajar Sejarah dan Wisata
Stasiun Kroya (KYA) adalah stasiun kereta api besar tipe B yang terletak di Bajing, Kroya, Cilacap. Stasiun Maos Maos merupakan stasiun kereta api Kelas II yang terletak di Karangreja, Maos, Cilacap. Stasiun Kesugihan Kesugihan merupakan stasiun kereta api kelas III/minor yang terletak di Kesugihan, Kesugihan, Cilacap.
48 Stasiun Jeruklegi Stasiun Jeruklegi (JRL) merupakan stasiun kereta api kelas III/minor yang terletak di Jeruklegi Wetan, Jeruklegi, Cilacap. Stasiun Kawunganten (KWG) adalah stasiun kereta api kelas III/minor yang terletak di Kawunganten Lor, Kawunganten, Cilacap. Stasiun Gandrungmangun (GDM), atau lebih dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Stasiun Gandrungmangu, merupakan stasiun kereta api kelas III/minor yang terletak di Gandrungmanis, Gandrungmangu, Cilacap, tepatnya di dekat Pasar Gandrungmangu.
58 Stasiun Sidareja Stasiun Sidareja (SDR) adalah stasiun kereta api Kelas II di Sidamulya, Sidareja, Cilacap. 65 Stasiun Cipari Stasiun Cipari (CPI) adalah Stasiun Kereta Api Kelas III/Kecil di Cipara, Cipara, Cilacap. Pada tahun 2016, terdapat enam situs cagar budaya di Kabupaten Cilacap yang masuk dalam registrasi nasional (perlindungan dan perhatian langsung dari pemerintah pusat), yaitu Dinas Pariwisata Cilacap, Pemakaman Suralaka di Hong Kong, Makam Kerkhof, Lonceng Kuno, Gerbang Kantor Bupati , dan Tempat Tidur Bupati Cilacap. Cagar Budaya Regnas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Cilacap 2016).
Jumlah obyek wisata di Kabupaten Cilacap sebanyak 26 yang terdiri dari enam obyek wisata unggulan dan dua puluh obyek wisata lainnya. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Cilacap masih mengandalkan wisata alam sebagai obyek wisata unggulan. Besarnya pendapatan didominasi oleh obyek wisata Teluk Penyu (hampir 50%) sedangkan sisanya merupakan gabungan dari seluruh obyek wisata yang ada di Cilacap.
Pemanfaatan Cagar budaya sebagai Sumber Belajar dan Wisata Edukatif
Namun, situs cagar budaya yang tidak tersebar merata, melainkan berkumpul di satu tempat, seringkali menjadi alasan guru tidak memanfaatkannya. Berdasarkan hasil wawancara dan survei yang dilakukan dengan guru sejarah, masih banyak guru yang belum memanfaatkan warisan budaya secara maksimal dalam pembelajarannya. Meskipun demikian, terdapat beberapa upaya dari pihak guru untuk mengoptimalkan keberadaan cagar budaya di lingkungannya sebagai sumber belajar.
Guru sejarah di Cilacap lainnya juga mengungkapkan bahwa letak cagar budaya yang terlalu jauh dari sekolah (mengingat wilayah Kabupaten Cilacap sangat luas dan jarak antar kecamatan yang jauh) juga menjadi kendala dalam pembuatannya. pemanfaatan cagar budaya. Dengan adanya benda cagar budaya yang menjadi saksi masa lampau, hal ini tentunya akan sangat menunjang proses pembelajaran. Ya, menurut saya sangat penting menggunakan warisan budaya dalam pembelajaran karena warisan budaya adalah bukti sejarah.
Sehingga merupakan manfaat ganda yang bermanfaat bagi mahasiswa dan bagi pelestarian Benteng Pendema (Wawancara dengan Sonhaji, 2017). Menurut Unggul Wibowo (Wawancara, 2017), pemanfaatan warisan budaya melalui metode proyek juga dapat mempererat kerjasama antara siswa dan hubungan guru-siswa. Pemanfaatan cagar budaya di Cilacap belum sepenuhnya optimal, karena masih banyak guru yang belum memanfaatkan cagar budaya dalam pengajarannya.
Hal ini tentu sangat disayangkan, karena warisan budaya merupakan salah satu hal terpenting dalam membuat pembelajaran sejarah menjadi menarik. Namun, baru enam cagar budaya yang terdaftar secara nasional, sedangkan sisanya masih terdaftar dan masih dipelajari hingga saat ini. Dari enam situs cagar budaya tersebut, hanya Benteng Pendem yang dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah dan masyarakat.
Strategi Pemanfaatan Cagar Budaya sebagai Sumber Belajar dan Wisata Edukatif
Pembelajaran berbasis proyek merupakan salah satu metode yang direkomendasikan dalam kurikulum 2013 karena berbasis aktivitas siswa. Selain langkah-langkah tersebut, pada dasarnya strategi pemanfaatan cagar budaya sebagai sumber belajar dapat dilakukan melalui berbagai bentuk metode pembelajaran. Pemanfaatan cagar budaya sebagai objek wisata merupakan salah satu misi dalam mewujudkan pelestarian cagar budaya sesuai dengan undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya.
Oleh karena itu, pemerintah daerah hendaknya terus melakukan kegiatan inventarisasi, konservasi dan penelitian cagar budaya sebagai salah satu upaya mewujudkan misi pelestarian cagar budaya. Langkah-langkah tersebut sebenarnya masih harus digarap, antara lain kerjasama dengan Dinas Pendidikan, sekolah, Pusdiklat dan Panti Asuhan di wilayah Cilacap dalam pemanfaatan cagar budaya. Kerjasama ini dapat menjadi pendorong untuk meningkatkan jumlah pengunjung cagar budaya, terutama oleh pelajar dan anak sekolah.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
Jawab: “Pada kenyataannya dan ketika dipresentasikan, pelestarian cagar budaya di Kabupaten Çilacap terlihat sangat kurang. Hal ini menggambarkan bahwa kesadaran akan pelestarian cagar budaya di Kabupaten Cilacap sangat minim. Hal ini dikarenakan pengetahuan guru tentang cagar budaya di Kabupaten Cilacap masih sangat minim.
Peta Kabupaten Cilacap