BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4. Pemanfaatan Cagar budaya sebagai Sumber Belajar dan Wisata Edukatif
Keberadaan cagar budaya yang ada di Cilacap memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan sebagai sumber belajar sejarah. Berikut adalah pemetaan beberapa cagar budaya yang dapat menjadi sumber belajar sejarah SMA.
Tabel 4.8. Pemetaan Cagar Budaya di Cilacap sebagai Sumber Belajar Sejarah
Kelas Materi Cagar Budaya Lokasi
X Masa Hindu Budha
Situs Pabahan Majenang
Situs Candi Jambu Cilongkrang, Majenang
Watu Lingga Pesanggrahan
Pintu Gerbang Kantor Bupati Cilacap
Cilacap XI Kolonialisme
dan
Imperialisme
Benteng Pendem Teluk Penyu, Cilacap Benteng Karang Bolong Nusakambangan
Benteng Klingker Nusakambangan
Stasiun Kereta Api Cilacap, Maos, Kesugihan, Karangkandri, Gumilir, Jeruklegi, Kawunganten, Gandrungmangu, Sidareja, Cipari.
Kantor Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata
Sidakaya, Cilacap
Makam Kerkhof Cilacap
Kantor Afdeling Majenang
Rumah Dinas Stasiun Kroya, Maos, Kesugihan, Karangkandri, Gumilir, Cilacap, Jeruklegi, Kawunganten,
Gandrungmangu, Meluwung, Bedengan, Cipari
XI Penjajahan Jepang
Benteng Jepang Gn. Selok, Cilacap XI Masa Revolusi
Kemerdekaan
Makam Kiai Sumolangu Gn. Selok, Cilacap Sumber: Hasil olah data observasi dan wawancara
Berdasarkan hasil pemetaan beberapa cagar budaya yang resmi tercatat di BPCB dan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata, dapat disimpulkan bahwa peninggalan sejarah yang ada wilayah Kabupaten Cilacap didominasi oleh peninggalan masa Hindia Belanda. Hal ini membuktikan bahwa pada periode Hindia Belanda, Cilacap dijadikan sebagai kota penting, karena merupakan pintu keluar masuk bagi barang dagangan yang
47
akan diekspor ke Belanda. Namun, lokasi cagar budaya yang tidak tersebar merata, melainkan mengumpul di satu tempat, seringkali menjadi alasan guru untuk tidak memanfaatkannya. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan bantuan dari pemerintah dan institusi swasta untuk menyediakan sarana transportasi yang dapat mempermudah mereka untuk mengunjungi cagar budaya.
Berdasarkan hasil wawancara dan survey yang dilakukan pada guru sejarah, masih banyak guru belum sepenuhnya memanfaatkan cagar budaya dalam pembelajarannya.
Meskipun demikian, ada beberapa upaya yang dilakukan guru untuk mengoptimalkan keberadaan cagar budaya di lingkungannya sebagai sumber belajar. Beberapa alasan untuk tidak memanfaatkan cagar budaya diantaranya materi yang terlalu banyak, sehingga tidak ada waktu untuk mengunjungi cagar budaya, tempat yang terlalu jauh sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, serta banyaknya guru yang tidak tahu bahwa ada cagar budaya yang sebenarnya potensial untuk dijadikan sumber belajar sejarah. (wawancara Unggul Wibowo, 2017) Guru sejarah lain di Cilacap, juga mengungkapkan bahwa lokasi cagar budaya yang terlalu jauh dari sekolah (mengingat wilayah Kabupaten Cilacap sangat luas dan jarak antar Kecamatan jauh) menjadi hambatan pula untuk memanfaatkan cagar budaya. (wawancara Ani Muji Astuti, 2017)
Pemanfaatan cagar budaya sebagai sumber belajar sejarah sebenarnya adalah satu hal yang sangat penting, mengingat sejarah adalah ilmu yang membutuhkan visualisasi agar peserta didik mampu menghayati dan meresapi setiap peristiwa sejarah. Dengan adanya benda cagar budaya yang menjadi bukti masa lalu, tentu saja akan sangat mendukung proses pembelajaran. Seperti disampaikan oleh guru sejarah berikut ini.
Ya, saya pikir sangat penting memanfaatkan cagar budaya dalam pembelajaran, karena cagar budaya itu kan bukti sejarah. Kalau belajar sejarah dengan adanya bukti, kan akan lebih mudah, jadi anaknya tidak mengawang-awang. Dalam memanfaatkan cagar budaya, saya menggunakan metode proyek. Biasanya saya memberi tugas kelompok pada anak untuk melakukan survey mendatangi obyek wisata, mengumpulkan sumber tentang obyek itu, lalu tugas laporan itu dikumpulkan. Banyak obyek sejarah yang bisa dimanfaatkan misalnya Stasiun Kereta Api, Benteng Pendem, dan lain-lain, dengan anak menghimpun sendiri informasi tersebut, mereka akan punya daya tarik sendiri, dan saya kira akan lebih efektif. Karena ada kalanya saya membawa juga (dalam kelas) sebagai materi pembelajaran. Pernah juga kunjungan dengan saya ke obyek sejarah yang dekat dengan sekolah lalu saya beri penjelasan di sana. (Wawancara Unggul Wibowo, 2017)
48
Pendapat tersebut sejalan dengan yang disampaikan oleh narasumber lainnya bahwa pemanfaatan cagar budaya membantu mewujudkan pembelajaran sejarah yang mudah, interaktif dan menyenangkan, seperti disampaikan oleh salah satu narasumber:
Pemanfaatan bangunan Cagar Budaya adalah dengan cara mengaitkan antara pelajaran yang ada di kelas atau sekolah, misalnya mengenai kolonialisme dengan keberadaan Benteng Pendem, sehingga hal tersebut dapat mempermudah proses belajar siswa dalam memahami peristiwa sejarah. Sehingga hal tersebut bermanfaat ganda, yaitu bermanfaat bagi siswa dan bagi kelestarian Benteng Pendem (cagar budaya red.) (Wawancara Sonhaji, 2017)
Dengan demikian, guru sejarah di Cilacap lebih memilih metode proyek dalam pemanfaatan cagar budaya. Hal ini dikarenakan metode ini merupakan metode yang sangat cocok karena mengusung pendekatan student centered learning, dimana keaktifan siswa menjadi hal yang utama. Melalui metode ini, guru juga telah mengaplikasikan pendekatan saintifik yang mendorong siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri (konstuktivisme), sehingga siswa akan lebih mudah untuk mengingat materi-materi yang telah ditemukan dan dibangunnya sendiri. Menurut Unggul Wibowo (Wawancara, 2017), pemanfaatan cagar budaya dengan metode proyek juga dapat mempererat kerjasama siswa dan hubungan guru dengan siswa.
Pemanfaatan cagar budaya di Cilacap belum sepenuhnya optimal, karena masih banyak guru yang belum memanfaatkan cagar budaya dalam pembelajarannya. Kendala utamanya adalah pengetahuan dan jarak yang jauh dari lokasi sekolah. Hal ini tentu saja sangat disayangkan, mengingat cagar budaya adalah salah satu hal yang sangat penting untuk mewujudkan pembelajaran sejarah yang menarik. Oleh karena itu, perlu ada upaya agar kendala yang dihadapi guru dapat segera diatasi, salah satunya dengan melibatkan pihak Pemda melalui pengembangan potensi wisata edukatif.
4.4.2. Cagar Budaya sebagai Potensi Wisata Edukasi
Kabupaten Cilacap memiliki 84 cagar budaya yang tersebar di seluruh wilayahnya. Namun, baru enam cagar budaya yang terrregistrasi nasional sedangkan sisanya masih terdaftar dan terus diteliti hingga kini. Dari enam cagar budaya tersebut, baru Benteng Pendem yang telah dimanfaatkan dengan optimal oleh pemerintah dan masyarakat. Meskipun demikian, sebenarnya Pemda Cilacap telah memiliki strategi pengembangan cagar budaya berbasis wisata edukasi, seperti disampaikan berikut:
Kebijakan Pemerintah dalam pengelolaan bangunan cagar budaya adalah dengan menjadikannya sebagai objek wisata edukasi, sehingga bangunan cagar budaya
49
tersebut tidak hanya dibiarkan begitu saja, tetapi dimanfaatkan sebagai Objek wisata, sehingga dapat lebih bermanfaat bagi pemerintah, masyarakat, dan lainnya. (Wawancara Joko Waluyo, 2017)
Selain itu, pemerintah daerah juga terus berupaya untuk mengembangkan potensi wisata edukatif bekerjasama dengan biro travel, seperti disampaikan berikut ini:
Untuk wisata edukasi, kita (Dinas Pariwisata, red.) dibantu pemandu. Mereka membuat paket wisata untuk anak-anak sekolah di Cilacap. Dari wilayah timur, (yaitu) Kecamatan Binangun, Nusawungu, dan Kroya bisa datang ke Kota Cilacap, ketika di Kota mereka akan dilewatkan ke kawasan industri (pabrik semen, Pertamina, PLTU) terus lanjut ke kantor kabupaten, gedung dewan (DPRD), Benteng Pendem, sampai Teluk Penyu. Teman-teman pemandu wisata mencari paket yang paling murah, seolah tidak butuh produk (keuntungan, red.), tapi hanya ingin memperkenalkan wisatanya. Sedangkan yang dalam kota (Cilacap) ada paket ke luar (Kota Cilacap), mereka akan dibawa ke Museum Soesilo Soedarman dan Pantai di wilayah timur. Kalau yang dari luar kota, jika akan mengadakan studi industri, dari dinas bisa membantu, misalnya ingin masuk ke pabrik semen, pertamina, dan PLTU. (Wawancara Joko Waluyo, 2017)
Namun sayangnya, kerjasama promosi wisata edukasi ini masih insidental dan belum secara kontinyu dilaksanakan, karena masih tergantung pada “pesanan” dari pihak sekolah. Padahal sebenarnya, ada minat yang cukup tinggi untuk melakukan kunjungan ke tempat-tempat tersebut (Wawancara Joko Waluyo, 2017)
Mencermati kondisi tersebut, perlu dikembangkan strategi untuk mengoptimalkan potensi wisata edukatif ini, diawali dengan adanya kerjasama yang melibatkan pihak masyarakat, BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), TNI AD, dan kementerian Hukum dan HAM, mengingat masih banyak cagar budaya yang berada di bawah kewenangan pihak-pihak tersebut. Pemanfaatan ini menjadi satu hal yang sangat penting untuk menjaga kelestarian cagar budaya, karena saat ini banyak cagar budaya di Cilacap yang justru dialihfungsikan tidak sebagaimana mestinya, seperti misalnya salah satu pos pertahanan di area Benteng Pendem yang terletak di pemukiman, justru dijadikan sebagai kandang ayam.
50
Gambar 4.7 Salah satu sisa pos pertahanan Belanda di area Benteng Pendem yang saat ini difungsikan sebagai “kandang ayam” oleh warga setempat
4.5. Strategi Pemanfaatan Cagar Budaya sebagai Sumber Belajar dan Wisata Edukatif